Anthology Updated Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi.
#1
Posted 18 July 2009 - 03:06 PM
di masa dendam jadi lantunan do'a
aku menyerah pada-Mu
dalam tobat yang usai
dosa yang tidak berulang
pemberontakan padam
keangkuhan luruh
ketidakpercayaan sirna
paripurna hingga kusiap untuk-Mu
dan aku gembira, jika Kau
tak mengganggapnya terlambat
tak peduli aku tempat
satu yang ingin ku ucap
Cinta, akhirnya cintaku hanya untuk-Mu.
Remukkan Kenangan
kini jarak kita adalah kesunyian
huruf-huruf yang kau lukis dalam warna
adalah kalimat yang dibekukan
bisu dalam patahan makna
dan hari ini tak akan menjadi 4 tahun
malam ini ku remukkan kenanganmu
pada malam yang berkarat keheningan

#2
Posted 18 July 2009 - 03:13 PM
Nihil jiwa
tak berarti kata-kata
menjamur
pada batu-batu dunia penuh noda
airmata hanya pengantar
melembabkan penyesalan yang terlalu dalam
dan kesedihan tetap saja terselip dalam diam
remuk redam tak tertelan
sebutlah,
ini peringatan
dan tempat mengadu hanyalah TUHAN.
A Price Of Betrayal
Pengkhianatan,
berlipat-lipat
berulang-ulang,
kesakitan dalam cinta yang cacat.
Pengkhianatan,
bersimpang-simpang
bercabang-cabang,
keyakinan dalam dusta yang sesat.
Pengkhianatan,
tak akan terbayar,
walau airmata diteteskan.
#3
Posted 18 July 2009 - 03:16 PM
seperti menutup mata dari indahnya sang nirwana
ketika rambutmu yang kelam berkibaran
di depan wajahku
wangi yang menyihir
bibir merah merekah
dan tiba-tiba kau sudah dipelukku
mengikut gelombang hitam
nafsu yang dibangkitkan
vokal dan konsonan
hampa makna
sungguh madu kehidupan yang terhisap
adalah timah panas
Pohon Kegetiran
sebuah pohon kegetiran
telah tumbuh di dalam dadaku
akarnya merambah
ke seluruh arah
daun-daunnya berguguran
kemudian hanyut memenuhi jantung
menumpuk busuk menjadi pupuk
bagi sperma masa depan
kini pohon itu berkembang
menguasai pergerakan daging
membangun kerajaan
mengendalikan tubuhku dengan
mimpi-mimpi yang mengerikan
#4
Posted 18 July 2009 - 03:18 PM
aku ini pujangga asing yang membawa
hati sebagai senjata dan otak kanan sebagai perisai
dan keduanya pun menyanggupinya sebagai teman
dalam kembara kata.
demikianlah maka aku selalu takut dan merasa
waswas pada saat lengah dan lemah tak berdaya
sebab hati dan otak kanan berubah wujud serigala buas
dan ular ganas, bila meminta kata-kata.
Bla Bla Bla...
dimana harus kusimpan
kemayaaanmu
sebab tak lagi kuat
dada menyimpan bentukmu
dan aspal hitam
hanya bisa menggambar
fatamorgana
jadi kucipta
keranda kesenyapan
tempatmu tinggal
dan bayangmu lepas
demikianlah sementara
pertanyaanku usai
dalam bla bla bla...
#5
Posted 18 July 2009 - 03:22 PM
tapaki kepastian ditengah kegalauan di padang jelai
yang hijau dan menguning sebagai perlambang
ah, dunia. sebentar lagi segala tiba.
dan sepi-sepiku masih berjelaga
dalam jarak yang tak terukur jauhnya
berkutat dalam kubangan
dan aku bosan!
kepalaku terbelah
kata-kataku musnah
dan tubuh
jadi pembelaanku
Membunuh Rutin
rasanya ingin aku bunuh rutinitas ini
aku bunuh langsung seketika itu juga
dan bebaslah aku dari kungkungan
lalu aku pergi
menjumpai sepi
berkelana di tempat semayamnya kata-kata
dan aku tuliskan jadi bara
menyala!
tersibak gelap dan
kulihat kau juga disana
dengan tatapan yang tak setiap orang mau memandangnya
jalang dan nanar
rasanya kau membunuh rutinitas yang sama
#6
Posted 18 July 2009 - 03:27 PM
sejak acuh mendarat di ideologi
maka aku terdoktrin
membunuhmu adalah harus
perlahan agar kau
rasakan kesakitan
dalam detiknya dendam
tak akan kudengarkan
lagi permohonan
ampunan bukan keinginan
aku dilatih untuk menyiksa
matimu dalam tulisan
Fermentasi Singkat
kemudian kutahu ramah itu habis
meski menunggu
malam ini tak menyelipkan sekeping
denting darimu
mungkin pagi sedikit datang terlambat
dan hal-hal sentimental
lebih lama bersembunyi bersama bulan
di hutan kesepian
segala yang kucoretkan dimatamu
tak lagi sekedar sapa
tak juga sebuah pertemuan
kita kandas dalam api menyala
justru setelah hujan
menggoreskan cerita tentang
fermentasi singkat
#7
Posted 18 July 2009 - 03:28 PM
hawa pagi ini cacat
sebagai hari
tanpa rokok
kopi jadi sendiri
bak mandi sunyi
memaksa
masturbasi?
lalu genap birahi
ahhh komplit aku
dalam frustasi
sebab janji tak kau tepati
penantian jadi basi
rindunya membuat anomali
tentang aku
tak butuhkanmu lagi
well babe!
terapiku adalah
inspirasi imajinasi
lalu puisiku bermasturbasi
muncrat kesana kemari
Refrain Masa Depan
maka kuburlah aku
dalam lirih kemarau yang kau simpan
dan episode ini akan cepat berlalu
duhai,
lenguh kita bergantung pada selembar udara
di seutas luka
lalu pada refrain masa depan
kita tak lagi gersang
menghitung bulir mimpi
yang tak pernah tersembur
mengapa dan entah yang terlanjur
baru saja membujur
#8
Posted 18 July 2009 - 03:33 PM
begitu nyata bentuk kesepian.
dan aku merindukan-Mu dalam diam.
________________________________
dendam belum usai.....
Roman Mawar Merah
usai sebuah perjalanan
apalagi yang kau ingat
selain serial petualangan
berbumbu gairah
kehilangan tak sanggup
meretakkan ubun-ubun
yang kau junjung
tak juga pengakuan muncul
menenangkan geletar angin
yang dibawa hujan
dengan apa cinta ini
kuberi nama
roman mawar merah
atau picisan berdarah?
#9
Posted 18 July 2009 - 03:34 PM
kemudian semburkan
di tengah tawa iblis-iblis
berbaju coklat dan safari
ayo tuangkan lagi
dan lagi
jack daniels lalu martini
tenang saja ini party
ow ia manis!
jangan lupa
terakhir nanti
sesuai janji
arsenik kontrak mati
sebagai pembalasan
dari ibu yang berjuang sendiri
Tepat di Dahi
kukandung banyak sajak tidak jadi
kata-kata saling mengintimidasi
bertransaksi,
semburat kusut harga diri.
hai tikus
bawa sini itu belati
ku asah dengan hati
untuk kuhujamkan lagi
tepat di dahi!
tepat di dahi!
#10
Posted 18 July 2009 - 03:38 PM
pukulan sapu yang kau kebutkan
punggungku bergambar
diagram tulang ikan
merah berdarah
lukanya bisa disembuhkan
kenangannya merasuk
tak terlupakan
ahhh meski aku tak dendam
perlakuanmu melekat
dan anakku adalah korban
berikutnya
sapu itu berbicara lagi
ah kelembutan rupanya
bersembunyi dibalik awan
berarak bersama teladan
Jejak Purba
hanya tinggal jejak purba
sedangkan pikiran melayang entah kemana
kenangan menumpuk dibawah tempat tidur
bunga-bunga mawar
bermekaran di langit kamar
dan keringatpun melimpah
diantara khayalan membatu
mengalir menuju lembah
tak bertepi didalam hatimu
#11
Posted 18 July 2009 - 03:40 PM
terpuji dalam kenang anak manusia
menggelapkan pandangku
ke rumahNya
tersesat di hutan lambang
pada sebidang kanvas
dalam sapuan
biru gelap
status palsu
dan kini ku tangkap
makna maut
senyap bersambung
dalam takut
Cinta pada Laju
henti sejenak.
aku kembali
pada percakapan kita semalam
kuncup-kuncup bermekaran
Kau bilang.
Ahhh aku tak hendak
membuatMu cemburu
sebab aku
masih cinta pada laju,
menumpuk dosa.
#12
Posted 18 July 2009 - 03:44 PM
didalam sebuah pejam
aku menyusup jauh
ke rongga hatimu
disitu aku diam
lama mencari kata
yang urung kau ucapkan
"ya aku maafkan!"
namun tak juga kutemukan
aku takkan lama lagi.
kemana gerangan kata itu kau simpan
keluarkan! maafkan!
jangan kau buat aku tertahan.
Terbelit Getir
tertusuk cinta pada sebuah senja
warna pupus
bayangmu mengendap
pada desir-desir halus
pernah coba ku tebus
tapi jalan tak pernah putus
sama kejamnya dengan waktu
tak kumengerti
mengapa?
hingga akhir terbelit getir.
#13
Posted 18 July 2009 - 07:13 PM
Lirikmu berbau hujan
dingin menyegarkan
ah tak kutemukan sedikitpun
kejanggalan! kecuali kini
aku tak melingkarkan benci
dan manisku, kuyakinkan padamu itu bukan siklamat basi.
meski pagi ini, tiba-tiba menyeruak tanpa permisi.
lagu yang tak pernah kudengarkan lagi
picisan picisan
jadi belati
sepi
Kata
kata itu hancur dalam tidak setia
dusta yang meraja
menimbulkan kerusakan yang luar biasa
kesakitan yang parah
penderitaan yang teramat sangat
sungguh menyesakkan dada
dendam, aku dendam, pada kata
cinta.
#14
Posted 19 July 2009 - 10:51 AM
Sebab kedalaman perasaan
tak terjangkau
maka sambutlah
buklet kata-kata
tentang waktu yang terbelah
muram menempel disudut kelam
mungkin ini akhirku
atau awal buatmu
pun disini selalu ada
berkepul-kepul penantian
dalam jarak yang tersimpan, diam.
Tenggelam
kuminum secangkir nafsu
teguk demi teguk terhabiskan
dan melebih kelam
pada sekarat kata-kata
ketelanjangan yang nyata
dari kemandulan rasa
ku panggil cinta
pesan-pesan pun
mengalir ke telaga alasan
tenggelam tak bersuara
dan hilang di ceruk waktu
#15
Posted 20 July 2009 - 08:18 PM
momen itu
ketika pagi mulai menua
pada hiruk pikuk di tepi jalan
terantuk kakiku memberat
tertumbuk pandang pada..... nya
perempuan muda berparas letih
peluh dan debu nan akrab melekat
lalu lalang bingar seakan melambat di antara ku dan... nya
aneh,kian aneh bagi dua indera penglihatanku
tatap menatap dlm jarak menetap
gerangan lorong apa nan tlah ia tembus
kosong.... melompong kerling matanya
terkesiap bingung dengar buah hatinya menangis
belasan kali lampu berganti...merah,kuning,hijau
yakin ku masih tergugu
"dia terlalu muda,mengapa terseok sebegitu rupa membawa 2 bocah tampan'
entah berbekal apa ia
ku rasa tak di sini ia berasal
ku merasa datang dari tempat yang angkuh
"kemana lelakinya
dimana sanak keluarganya"
anak perawan hanyut terbuang
di hadapku namun tak terjangkau
dan... sang surya pun membenamkan diri
diantara kenangan yang pernah menjelma
#16
Posted 20 July 2009 - 08:20 PM
lelah menampung larikan kata2 lapuk
dengan wujud nan memudar
tinta tulus itu berkata-kata
seperti hendak berkaca-kaca
mengapa tak ku remas saja
lalu robek seribu bagian
atau bakar dengan beringas
ow, atau mungkin ku timbun di tempat yg jauh dan terpencil
ah,mengapa... mengapa
meski telah ku menghardik gundah
tergeletak saja tak musnah
tuna wicara
tuna rungu
kilapkan netra nan teramat syahdu bening
dirinya...ya, dirinya
yakinku pipi lembut itu baru usai membasah
deras di curahkan mata cantik itu
mata nan senantiasa ingin berbicara
hingga redup lalu sayu,isyarat terakhir pada lentik jemari
dan...
inilah segala aksara beku darimu
di ringkih kertas kumal ini
seluruh suara yang tersumbat di rongga tenggorok mu
peri kecilku... sayang
ku percaya
tulisan ini masih utuh
karena itu adalah...
desir suaramu di pelupuk dini asmara kita mewangi
manja pintamu ketika rindu masih enggan melayang
ocehan rapatmu saat banyak yg kan kau kisahkan
juga omelanmu pada si bengal ini
serta do'a ikhlasmu tuk kita... tuk cinta ini
peri kecil
elok
meski mulut dan telinga sudah mengalah
#17
Posted 20 July 2009 - 08:22 PM
omelan,perintah,ceramah tanpa contoh konkret
himpit lalu gerus sukma kami
kan ku bangun kerajaan kecil
altar impian generasiku
secepat kilat kita melesat ke sana
kuatkan kepal
teruskan hujaman lantang
menggema bersahutan hantam rantai itu
malam hari
kami kan bersenang-senang
terbahak apa adanya
ooo,bernyanyi
hanya kami yg mengerti
berdo'a cukup sendiri dgn illahi
#18
Posted 20 July 2009 - 08:25 PM
ku datang
tak perlu dijelang
menderu angkat tinggi gelombang
ha ha ha
ini,keparat yg slalu usik hari2 santun mu
mimpi berakhir bahagia mu segera habis
ini,begundal perobek segala yg berunsur palsu
aku bukan binatang jalang aku sang tombak pengikis
ilalang2 norma butut ditengah semua riak laku manis
bila seluruh badut2 banci itu hanya julurkan keluh kesah
aku akan iringi kau menari dalam tangga nada yg sama
walau manusia2 cengeng di sana terus meraung akan ketidakpuasan pribadinya
diriku tentu temani kau melagu pada debu2 kosmik,menembus selaksa periode
meski bocah2 manja mengepak ngepakkan panji2 kebesaran leluhurnya
daku tetap angkat gelas bersulang tuk anti kemapanan bersama dikau
biarpun dunia sangat tak sesempurna surga
pasti ku selalu berdzikir di belakangmu dalam tiap sesi berjamaah,pada tiap penghujung rakaat
jadi
biar ku atur dulu hela nafas ini
mungkin lu suka dgn yg ini
#19
Posted 20 July 2009 - 08:46 PM
urung berjalan
ajal berbisik di balik awan
tentang sisa masa tuk ajarkan
kreasi naratif
sebungkus lauk segar
terlupa edukatif
suarakan lolongan propaganda hambar
kami
tangisi
panutan sejati
yang telah lama mati
generasi generasi
sembah tren2 terpampang paling anyar
balutan2 modis jadi bahan diskusi
asupan otak hanya bau-bau hedon tersasar
syahwat
kekerasan
syahwat
kekerasan
harga diri
coreng moreng di dahi
kulit keriput ayah bunda
tak torehkan kesan dalam di dada
generasi generasi
bocah bocah congkak keroaki galaksi
penghuni lantai dasar
zaman khilaf melebar
era dimana...
sayap malaikat patah lalu hangus
iblis berdansa meriah
pahlawan tewas tak bernisan
dan orang baik tak pernah berhasil lalui fajar
#20
Posted 20 July 2009 - 09:04 PM
jgn sampai kurang
untaian dr seberantak huruf ini
tak ingin lampaui batas
jgn sampai kurang dari kadar
kata2 magis beraroma puitis ini
harus ku tunggu 7 purnama dlm lingkar roda waktu
tuk paparkan mutiara aksara ini
tuk raih nuansa yg tepat
agar kelak sejarah mencatat sebagai
gubahan terelok sang begawan bodoh ini
lalu kupaketkan sekeranjang basa basi
sebagai hidangan pencuci mulut
pabila puisiku ternyata busuk
hingga kau tak sampai mual
ku tak ingin mulut mungilmu jd bau krn semburkan muntah
ku jaga bibir lembutmu senantiasa indah
sebab
ku tau tutur katamu selalu bagai sabda pujangga
dan aku hny manusia kasar nan bertutur amarah

Help




MultiQuote











