Sepertinya kamu belum terdaftar. Coba deh klik disini untuk menjadi Member BlueFame!

IPB
BintangBola.com

Welcome Guest ( Log In | Register )


4 Pages V   1 2 3 > »   
Reply to this topicStart new topic
> Pembantaian Massal PKI di Indonesia
Tragedi Gelap Sejarah Indonesia
Tragedi gelap sejarah Indonesia harus diungkap
Setuju, karena... [ 75 ] ** [94.94%]
Tidak setuju, karena... [ 4 ] ** [5.06%]
Total Votes: 79
Guests cannot vote 
VoltusX
post Feb 14 2008, 01:11 AM
Post #1


Mungkin Satpam BlueFame
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.179
Joined: 18/08/06

From: Dapur Tetangga
Member No.: 22.175






Sejarah kelam bangsa kita nih bro.. crying_anim.gif

Pertarungan memperebutkan penguasaan sumber daya alam di bumi menyangkut minyak dan emas, bersamaan dengan saling ancam bom nuklir antara Blok Barat dan Blok Timur dalam Perang Dingin telah membuat ketegangan merembet ke Indonesia segera setelah kemerdekaannya pada 1945. Di bawah pemerintahan Soekarno, republik ini bertekad menabuh genderang perang melawan kolonialisme dan imperialisme. Indonesia tidak sendirian. Sebagian besar pimpinan negeri-negeri bekas jajahan yang pernah disebut sebagai Dunia Ketiga, seperti Jawaharlal Nehru, Kwame Nkrumah, Patrice Lumumba, dan Fidel Castro, bergandengan tangan menyatakan ingin mandiri dan membangun kekuatan ekonomi dan politik yang bebas dari ekspansi kapitalisme internasional.

Negara-negara bekas jajahan Eropa Barat, Jepang, dan perampok yang datang belakangan, Amerika Serikat, segera melihat bahwa negara-negara yang mencanangkan kemandirian mereka di Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 semakin dekat ke Blok Sosialis, yaitu Uni Soviet dan RRC. Indonesia sebagai salah satu negeri terbesar di Asia, dengan jumlah penduduk nomor 4 terbanyak di dunia, menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan mereka. PKI memperoleh suara terbanyak ke 4 pada Pemilu 1955 dan sepenuhnya mendukung politik nasionalis-kerakyatan Soekarno. Dua tahunan sesudahnya dalam Pemilu Daerah 1957, PKI sudah menjadi partai terbesar di Pulau Jawa. Kampanye-kampanye anti Amerika dan Inggris, yang dianggap biang dari Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme) senantiasa diramaikan oleh gerakan massa yang secara langsung pun tidak diorganisir oleh PKI. Pecah pula konfrontasi dengan Malaysia, agen Neo Kolonialisme Inggris, untuk membebaskan Kalimantan Utara. Poros Jakarta –

Beijing pun dibangun. Menyaksikan bagaimana Vietnam sudah diserbu dan diduduki oleh Amerika Serikat pada awal 1960-an itu, pembicaraan antar pemerintahan telah sampai pada rencana pembelian puluhan ribu pucuk senjata dari RRC.
Indonesia bahkan menyatakan keluar dari keanggotaan PBB dan memprakarsai adanya Conefo (Conference of the New Emerging Forces), konferensi negara-negara sosialis atau gerakan Non Blok se-dunia. Kepentingan Amerika dan Inggris pun terancam. Lewat berbagai upaya infiltrasi, CIA mendorong terjadinya pemberontakan di Sumatra Barat dan Sulawesi Utara, PRRI/Permesta 1957/1958, membuktikan dengan jelas sekali bahwa AS dan Inggris berusaha memecah belah Indonesia untuk menguasai sumber alam dan jalur laut strategis. Kaum imperialis ini juga membangun hubungan erat dengan intelektual dan politisi Indonesia, baik dari kalangan sipil maupun militer, yang bertentangan dengan Soekarno, yang tidak rela kehilangan kenikmatan yang mereka peroleh selama jaman kolonial Belanda. Setelah gagal mensponsori pemberontakan PRRI/Permesta, AS mulai merangkul sebagian pimpinan AD waktu itu. Sejak 1958 ribuan perwira AD kemudian dilatih di AS. AS menyebarkan banyak issue tentang PKI yang akan
mengambil alih pemerintahan.

Lalu, terjadilah peristiwa 30 September 1965. Dewan Revolusi, mengambil alih kekuasaan Presiden Soekarno. Dipimpin oleh Letkol Untung, salah satu komandan pasukan pengamanan presiden Cakrabirawa saat itu, dengan sejumlah pasukan tentara bersenjata lengkap menculiki dan membunuh 6 jendral TNI-AD dan satu perwira pertama. Operasi Militer itu digerakkan oleh beberapa perwira AD yang percaya pada isyu bahwa sudah terbentuk suatu Dewan Jendral di bawah pimpinan Menteri Panglima Angkatan Darat, Letnan Jendral Ahmad Yani, yang akan mengambil alih pemerintahan apabila Soekarno –waktu itu sedang menderita sakit parah—meninggal dunia.

Kemudian, Letkol Untung (belakangan diketahui adalah “orang binaan” Soeharto) menggerakkan beberapa batalion yang mereka namakan Gerakan 30 September. Operasi Militer G30S dipersiapkan secara rahasia, tetapi setelah bergerak mereka tampil secara terbuka. Lalu mereka membentuk Dewan Revolusi dan kemudian melaporkan semua gerakan yang dilakukan pada pagi buta 1 Oktober kepada Bung Karno, Panglima Tertinggi waktu itu (Soekarno menyebutnya sebagai Gestok). Bung Karno memerintahkan G30S untuk menghentikan gerakannya dan Letkol Untung dkk menaati perintah Panglima Tertinggi, lalu membubarkan diri. Gerakan 30 September kemudian dituduh oleh Pangkostrad Mayjen. Soeharto sebagai gerakan yang sudah lama dipersiapkan oleh PKI untuk mengambil alih kekuasaan. Maka diciptakanlah sebutan G30S/PKI. Letkol Untung pun –untuk penghilangan jejak- dibunuh oleh pasukan Jendral Soeharto, di Jawa Tengah. Para pelaku G30S beberapa dibawa ke pengadilan yang tidak adil dan segera dieksekusi
untuk menghilangkan jejak. Sementara hanya satu pimpinan Comite Central PKI, Sudisman, yang diadili. Yang lain dieksekusi tanpa pengadilan atau hilang tak tentu rimbanya.

Segera setelah G30S diperintahkan untuk membubarkan diri oleh Bung Karno, kekuasaan militer diambil alih oleh Soeharto. Semua koran dilarang terbit kecuali beberapa koran yang dikuasai oleh Soeharto dkk melalui Departemen Penerangan di bawah pimpinan Mayjen. Achmadi. Lalu disebarlah fitnah dan propaganda bohong serta keji lewat televisi, radio, koran-koran milik Angkatan Darat dan CSIS, sebuah lembaga penelitian milik Jendral Ali Moertopo (yang sebelumnya bersama Jendral Yoga Soegomo dan Jendral Benny Moerdani telah mendapatkan pendidikan intelejen dari CIA Amerika Serikat). Media massa sepenuhnya dikontrol oleh Angkatan Darat. Koran-koran militer seperti Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha dipenuhi berita-berita sensasional bahwa para jendral dan perwira korban pembunuhan G30S dibawa ke Lubang Buaya, dibuang ke sumur setelah sebelumnya disiksa dan disayat-sayat dalam pesta seksual “Harum Bunga” yang diadakan para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat.

Foto-foto buram yang diambil di Lubang Buaya ditampilkan untuk membakar kemarahan masyarakat. Fitnah itu dengan sengaja disebarkan karena Soeharto dkk sudah tahu bahwa itu sama sekali tidak benar. Dan nyatanya kisah-kisah tentang penyiksaan terhadap para perwira ini bohong belaka. Di kemudian hari seorang pakar sejarah dari Universitas Cornell, Ben Anderson, menemukan hasil laporan dokter ahli forensik yang memeriksa kondiri jenazah para jendral dan menyatakan bahwa mereka meninggal akibat luka tembakan dan tidak ada bagian tubuh yang dimutilasi. Dokumen hasil otopsi yang harus disampaikan ke masyarakat pada saat itu sengaja ditumpuk di pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa

Propaganda bohong melalui media massa segera memicu kemarahan dan kebencian massa organisasi-organisasi yang sebelumnya memilih politik yang berseberangan dengan PKI dan ormas-ormas kiri pada umumnya. Terutama mereka yang mempunyai kepentingan yang berbeda, seperti dalam pelaksanaan Landreform pada awal tahun 60-an. PKI mendukung Landreform tapi banyak kekuatan politik yang menentang Reformasi Pertanahan pada waktu itu. Ini masih ditambah dengan penyebaran isu-isu bohong bahwa PKI sudah lama berencana mengambil alih pemerintahan yang sah dan membuat daftar nama ulama dan tokoh masyarakat yang akan dibunuh setelah mereka menang. Situasi panas ini dimanfatkan sebaik-baiknya oleh golongan keagamaan, terutama NU, Muhammadiyah dan Partai Katolik untuk membentuk Komite Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu), di bawah pimpinan Subchan Z.E. dan Harry Tjan Silalahi. Partai-partai lain, berikut ormas-ormas yang selama ini bersaing dengan PKI untuk memperoleh dukungan massa, seperti PSII, Partai Kristen Indonesia, bahkan PNI yang menjadi tumpuan Soekarno, bergabung dalam aksi pengganyangan ini, secara langsung maupun tidak. KAP Gestapu mengadakan demonstrasi-demonstrasi panas menghujat PKI, menghancurkan Universitas Res Publica (sekarang Universitas Trisakti), dan rumah-rumah para pimpinan PKI di Jakarta.
Atas perintah “mengucilkan” PKI, pasukan-pasukan Angkatan Darat, terutama pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, menggalang milisi-milisi terutama dari organisasi-organisasi keagamaan seperti Banser NU, Pemuda Muhammadiyah, di Jawa, dan Pemuda Marhaen atau Tameng di bawah PNI di Bali, untuk memusnahkan anggota, simpatisan, bahkan anggota keluarga yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Para pemuda dipersenjatai, dilengkapi dengan alat komunikasi dan transportasi, dan didorong untuk melakukan tindakan-tindakan keji dan brutal terhadap orang-orang yang masih belum jelas apa salahnya, tidak tahu pula apa yang terjadi di Jakarta. Banyak korban jatuh justru setelah mereka ‘diamankan’ di kantor-kantor polisi, militer atau institusi-institusi negara lainnya, seperti kecamatan atau kelurahan.

Api menyala. Darahpun tumpah. Ketika kemarahan dan kebencian sudah meluas pembunuhan massal diorganisir dan terjadi secara sangat sistematis, seiring dengan pergerakan RPKAD ke seluruh Jawa dan Bali. Mulai Jawa Tengah pada bulan Oktober, lalu menyebar ke Jawa Timur di bulan Nopember dan kemudian menyebar ke Bali di bulan Desember 1965.

Di Jawa Barat, pembunuhan massal juga terjadi, tetapi dalam skala yang jauh lebih kecil karena militer di Jawa Barat cukup patuh pada perintah Presiden Soekarno untuk tidak saling membunuh. Tapi basis-basis PKI di Subang, Indramayu, dan Cirebon tetap diluluhlantakkan, dibumi-hanguskan dan dihancurkan. Puluhan ribu orang mati dibunuh hanya dalam tempo dua bulanan. Di Boyolali, 21 Oktober 1965, menjadi awal pembantaian massal, ribuan orang ditembaki dan digorok secara biadab. Kuburan massal hasil galian paksa para korban tercipta mendadak. Orang-orang yang menolak membunuh atau menggali kuburan, diancam akan ikut dibunuh. Tubuh-tubuh tanpa kepala bergelimpangan di desa dan kampung perkotaan sekitar Solo, Blora dan Prambanan. Di Blora sendiri tak kurang 5000 orang dibantai dengan sadis. Sungai Bengawan Solo, Kali Wedi Klaten, dan Sungai Brantas di Jawa Timur penuh dengan mayat bertubuh tak utuh. Kali jadi merah. Orang ketakutan. Tak jelas siapa kawan, siapa kawan.

Jendral Soemitro, Pangdam Brawijaya mengatakan bahwa “1 orang nyawa Jendral harus ditebus 100 ribu nyawa PKI”. Ia pun mengiringi pembantaian massal di berbagai wilayah di Indonesia. Dia pula lah yang memimpin penangkapan, penggorokan, penembakan ratusan massa sekaligus dan membuang mayat mereka ke dalam lobang yang digali oleh para korban itu sendiri. Diperkirakan 250.000 korban mati atau hilang di Jawa Timur.
Di Bali, pembantaian massal dimulai setelah RPKAD mendarat pada awal Desember 1965. Mereka menggalang milisi-milisi binaan PNI yang disebut Tameng. Mereka juga datang bersama segerombolan milisi Jawa-Madura yang berasal dari Banyuwangi. Pola pembantaian pun kurang lebih sama biadab dengan di Jawa, bahkan mungkin lebih menggila karena ketegangan antara PNI dengan PKI merasuk sampai ke ranah-ranah pribadi di dalam keluarga-keluarga besar. Dengan memanfaatkan adat dan ritual, di beberapa tempat terjadi pembantaian seluruh garis keluarga dengan anggapan akan menghilangkan dendam turunan. Laki-laki berusia 17 tahun ke atas, apalagi kalau ia pandai, tak bakal selamat.

Bali harus dibersihkan dari malapetaka, diupacarai dengan banjir darah agar Pulau Dewata suci kembali. Mayat-mayat pun dipotong, dipisahkan tangan, kaki dan kepala dari badan dan dibuang di berbagai tempat supaya unsur-unsur jahat tak bersatu. Rumah demi rumah di suatu desa dibakar, kadang-kadang dengan penghuninya secara hidup-hidup. Kuburan massal yang berisi ratusan mayat bertebaran hampir di seluruh bagian pulau cantik ini. Terkirakan sekitar 80.000-100.000 jadi korban pembantaian.
Team Pencari Fakta yang dibentuk oleh Bung Karno mencatat laporan resmi para penguasa, antara 80.000-100.000 jiwa telah menjadi korban di Jawa dan Bali. Tetapi di balik itu, para penguasa sendiri menduga korbannya 10 kali lebih besar dari yang mereka laporkan (Memoar Oey Tjoe Tat).
Di seluruh Indonesia, dalam waktu beberapa bulan dari mulai Oktober 1965 sampai 3 bulan pertama 1966, menurut perkiraan umum ada sekitar 800 ribu sampai sejuta orang dibunuh dengan berbagai cara. Digorok, disiksa, dipenggali dan kepalanya ditancapkan pagar rumah korban, dibantai dan ditembaki secara massal, dibakar hidup-hidup bersama rumah dan kampungnya, dibuang ke jurang, sungai dan lautan. Tanah dan harta para anggota PKI atau golongan kiri pun dijarah dan dikuasai oleh tentara dan milisi-milisi ciptaannya macam KAMI, KAPI, KAPPI dst. Kebencian rasialpun dikobarkan. Kantor, sekolah, rumah, tanah dan daerah pertokoan yang dimiliki kaum etnis Tionghoa, baik yang tergabung dalam BAPERKI atau tidak, direbut kemudian diduduki sebagai markas tentara, rumah Jendral, kantor Golkar atau markas milisi Orba, sampai sekarang. Puluhan ribu orang dipekerjakan di Pulau Buru dan Nusakambangan, memenuhi kebutuhan hidup mereka sebagai orang buangan, dan kebutuhan para perampok kehidupan mereka.

Setelah Pembunuhan Massal di desa-desa, aksi menggulingkan Bung Karno dilancarkan di kota-kota selama bulan Januari dan Februari. Di Jakarta, aksi-aksi mahasiswa yang kemudian dikenal dengan Angkatan ’66 berlanjut, menghujat Soekarno, menuntut pembubaran PKI dan pembubaran kabinet. Mereka mengatasnamakan “Amanat Penderitaan Rakyat”, sementara rakyat dianiaya dan dibunuhi di seluruh penjuru Indonesia. Dicetuskanlah TRITURA pada Januari 1966. Mereka yang tergabung dalam KAMI, KASI, KAPPI, Laskar ARH, dst., berdemonstrasi di siang hari, berpesta-pora di malam hari, dengan minuman keras dan kegiatan seksual bebas. Ketika Kolonel Sarwo Edhie Wibowo kembali dari tugas “pembersihan” di luar Jakarta, mereka mengadakan arak-arakan menyambut kedatangan Sang Penjagal. “3 juta orang telah dibantai,” katanya dengan bangga!

Jarang yang tahu organisasi utama penggalang aksi-aksi ini, KAMI, dibentuk oleh tentara melalui tangan Menteri Pendidikan Brigjen. Sjarif Thajeb; bahwa untuk melancarkan aksi-aksi mereka, ada hubungan terus-menerus antara pimpinan-pimpinannya dengan Kepala Staf Kostrad, Brigjen. Kemal Idris; bahwa jaket-jaket kuning yang dibangga-banggakan para mahasiswa dibiayai oleh pemerintah AS, melalui orang-orang penghubung dengan CIA, melalui perusahaan-perusahaan Amerika di Indonesia. Tujuannya satu: gulingkan pemerintahan Soekarno demi masuknya modal asing ke Indonesia.

Baru setelah kekuatan massa PKI dan ormasnya dihancurkan, teror dan ketakutan ditebar, para penentang dibungkam selama-lamanya, Jendral Soeharto mengirimkan Jendral Basuki Rachmat, Jendral Amir Machmud dan Jendral Wirahadikusumah ke Istana Bogor untuk memaksa Soekarno, lewat todongan pistol, untuk menekan Bung Karno agar menyerahkan kekuasaan pada Soeharto. Bung Karno tidak bersedia. Tetapi dia memerintahkan Soeharto untuk “Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu, untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya Revolusi.” Surat itulah yang kemudian disebut dengan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966), yang sekarang tak ketentuan rimbanya. Satu lagi penghilangan bukti sejarah.

Oleh Soeharto perintah yang isinya jelas itu, “menjamin kestabilan jalannya Pemerintahan dan Revolusi,” disalahgunakan. Dia pakai untuk merebut kekuasaan dari Bung Karno selangkah demi selangkah. Berbekal Supersemar yang kemudian disalahgunakan, Jendral Soeharto melempangkan jalan menuju pengambilan kekuasaan pemerintahan sepenuhnya. Ia memerintahkan penangkapan dan penahanan paling tidak 100 anggota DPR-GR/MPRS dan 15 menteri dari kabinet yang sedang berkuasa. Lewat tekanan Jendral Suhardiman, Wakil Sekber Golongan Karya yang dibentuknya, memaksa Jendral Nasution sebagai pimpinan MPRS/DPRGR untuk melaksanakan sidang umum. Lahirlah kemudian TAP MPRS 25/1966 yang intinya membubarkan PKI, menyatakannya sebagai organisasi terlarang, serta melarang penyebaran ideologi Marxisme dan Leninisme di seluruh Indonesia. Bung Karno ditangkap dan ditahan atas tuduhan TERLIBAT G30S/PKI. Betapa, seorang Presiden dituduh ikut mendalangi kudeta terhadap pemerintahan dirinya sendiri! Sesuatu hal yang tak masuk akal.

Sidang Istimewa MPRS pun menetapkan Jendral Soeharto sebagai Presiden RI yang berkuasa penuh pada 1967. Kudeta yang merangkak itupun tercapai. Undang-undang pertama di bawah pemerintahan Soeharto yang disahkan adalah UU No.1/1967 tentang Penanaman Modal Asing. Jalan bagi penjarahan, perkosaan, pembunuhan dan perbudakan rakyat Indonesia akhirnya terbuka lebar, sampai SEKARANG!

Sebuah tragedi kemanusiaan terjadi. Di atas tanah yang kita pijak, di atas gedung-gedung pemerintah dan perusahaan multinasional bertumpuk tulang-belulang dari orang-orang yang tak berdosa. Kuburan-kuburan massal tanpa batu nisan membuka mata dunia bahwa peradaban Indonesia telah dibuka dengan banjir darah, perampokan mimpi dan harapan serta penjarahan massal. Kita berhutang kepada para martir yang memperjuangkan kemandirian dan kebersahajaan bangsa dan negeri ini. Kita berhutang kepada para korban dan keluarganya yang masih berdiri tegak, tampilkan kemanusiaannya, di tengah kebejatan moral para jagal dan maling pengikut Orde Baru. Buat para individu maupun organisasi-organisasi perlawanan terhadap kapitalisme global, buat para pejuang dari berbagai latar belakang: Agamis, Nasionalis, Sosialis, Komunis, maupun Anarkis; bersatulah. Kenalilah musuh sebenarnya, yaitu dajjal Neo-Liberalisme yang sudah menancapkan kuku-kukunya di seluruh penjuru dunia.

Perjuangan terus berlanjut…

Sumber : Mass Grave in Indonesia
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
VoltusX
post Feb 14 2008, 01:23 AM
Post #2


Mungkin Satpam BlueFame
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.179
Joined: 18/08/06

From: Dapur Tetangga
Member No.: 22.175






Genosida yang terjadi pada partai komunis adalah suatu bentuk pelanggaran HAM,mungkin saja bila PKI hanyalah sebagai kambing hitam karena bila sja PKI masih berkuasa mungkin kaum kapitalis akan gerah dibuatnya karena pastinya buruh2 tidak akan dibayar murah
angry.gif

Memang pengungkapan atas kasus yang terjadi taon 65.. siapa yang harus bertanggung jawab atas pembunuhan para jendral harus di ungkap. tapi saya pribadi tetap tidak setuju jika memperbolehkan faham komunis tumbuh untuk mengungkap kasus tersebut. kasus ya kasus. faham ya faham. jangan dicampur adukkan. dan jika memang PKI mendalangi pembunuhan para jendral... akan tambah kuat alasan RI untuk berkata tidak kepada KOMUNISME. dan saya yakin PKI tetap ada hubungannya dengan kejadian taon 65. bukan sekedar insting. tapi jika kalian hidup dimasa itu... pasti akan langsung menunjuk PKI sebagai dalang pembunuhan para jendral. pokoknya cari dulu dalam pembunuhan jendral dan pembantain simpatisan PKI. meskipun saya bukan KOMUNIS, tapi mereka yang memang tidak bersalah harus diperbaiki nama baiknya dan pemerintah harus meminta maaf kepada mereka. tapi untuk yang bersalah, jangan sekali2 memperbaiki nama baik mereka. kalo perlu buat buku nama orang yang paling dibenci di Indonesia ini. dan tetep... Tolak KOMUNISME!!!!
................................................. cigar.gif
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
Mothing
post Feb 14 2008, 03:25 AM
Post #3


mungkin tukang tipu
Group Icon

Group: Super Moderator
Posts: 7.850
Joined: 10/08/06

Member No.: 21.926






ane mah..mo dibilang masabodo dengan sejarah bangsa ini..bisa juga..mo dibilang enggak ya enggak juga..
kalo ditanya mo usut..ya usut saja..mo enggak ya enggak usah..tooh enggak ada ngaruhnya...buat rakyat kecil yg kadang makan kadang enggak..
sudah terlanjur kan??bagi ane..
masabodoh dengan sejarah..yg penting rakyat enggak hidup susah
masabodoh dengan faham..mo komunis..mo kapitalis..mo sosialis..yg penting rakyat tentram dan aman
masabodoh dengan negara ini..yg penting ane bisa makan..hari ini..besok dan seterusnya..

kalo ditanya ane pilih faham apa??untuk ekonomi ane pilih komunis...untuk sosial ane pilih liberalis..untuk politik ane pilih demokrasi rakyat(bukan demokrasi duit kayak negara ini)

trus untuk TS..kok enggak ada pilihan lain??selain iya dan tidak??
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
b4rb4r
post Feb 14 2008, 03:49 AM
Post #4


Youth BlueFame
***

Group: Members +
Posts: 191
Joined: 27/01/08

From: bimasakti nan bumi
Member No.: 127.909






wuih,, sulit banget deh klw nelusuri sejarh dengan bukti2 yg simpang siur,, tapi klw dugaan awak,, CIA ada campur tangan neh,, klw ingat gerak-gerik Soekarno, yg terang2an berani "nantang" amerika. berni keluar PBB karena merasa PBB gk murni aspirasi bangsa2 di dunia tertampung,(mengingat adanya hak veto).

ditambah ku juga blum lahir tuh di jaman itu,,

but,, klw baca novelnya Nick Carter the killmaster n spychiller,, awak gk heran,, klw si Amerika suka ikut campur,, dan dengan mudah mengendalikan negara lain tanpa menunjukan wujudnya A.K.A di balik layar

who knows?

au ah,, tu cuma dugaan awak,, gk usah ditanggepin serius ya.. hihihihihi Tounge.gif
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
Heil Cяew
post Feb 14 2008, 06:08 AM
Post #5


Hail to the Chief
Group Icon

Group: The Crew
Posts: 17.340
Joined: 22/07/05

From: Washington, D.C.
Member No.: 2






bagus bro.. udah lama gw tunggu2 yang bahas pembantaian massal orang2 PKI..
anyway.. Mass Grave itu apa?
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
hoshino
post Feb 14 2008, 08:45 AM
Post #6


bluefame spamer
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 1.396
Joined: 21/11/06

From: anime world
Member No.: 29.646






@Crew

Kalo diterjemahin harafiah bukannya berarti Kuburan Massal?? (Mass=orang banyk/massal Grave=kuburan) iya kan??

Wellsetelah baca thread ini,g jadi emrasa kasihan sama org2 PKI dulu,dah dibohongi,dibantai,difitnah pula,sampai puluhan tahun malah banyak org2 awam yg membenci mereka,padahal belum tentu mereka yg salah kan,apalagi terbukti jenderal2 itu ga disiksa sesadis yg dilukiskan,jangan2 rumah gelap di monumen Lubang Buaya itu juga isinya kosong,dibilang sengaj digelapkan karena banyak darah bekas siksaan itu juga bohong,who knows (wkt sekolah g pernah darmawisata kesana n dibilang begitu sama guidenya,kalo rumah yg dikacain itu dalamnya banyak bekas2 penyiksaan para jenderal)
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
VoltusX
post Feb 14 2008, 01:06 PM
Post #7


Mungkin Satpam BlueFame
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.179
Joined: 18/08/06

From: Dapur Tetangga
Member No.: 22.175






tambahan.. nerd.png

Orang (yang Dituduh) PKI Tak Perlu Dimaafkan
Oleh HD. Haryo Sasongko


Belakangan ini ada seorang jenderal bintang satu yang menulis di suratkabar, pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 dan pemberontakan G-30-S/PKI tahun 1965 adalah sejarah, bukan legenda, bukan hikayat, dan bukan dongeng. Rekonsiliasi dengan memaafkan orang-orang eks PKI dan memberikan hak sama, bukannya disambut dengan kesadaran atas kesalahan mereka di masa lalu, melainkan justru dimanfaatkan oleh mereka untuk bisa eksis kembali (kutipan selesai). Sebelum muncul tulisan tersebut, juga ada tulisan yang menegaskan, pihak TNI/AD sudah memaafkan kesalahan orang-orang PKI. Tetapi kenapa mereka terus mendendam?

Tulisan-tulisan tersebut sekilas terkesan indah dan mulia, karena mengemukakan pernyataan mau memaafkan kesalahan pihak lain. Tetapi di sini timbul pertanyaan. Memang betul, peristiwa tersebut suatu sejarah, bukan legenda, bukan hikayat dan bukan dongeng. Tetapi, setelah terjadinya peristiwa 1 Oktober 65, muncul tragedi kemanusiaan berupa pembantaian orang (atau yang dituduh) pengikut PKI dalam jumlah ratusan ribu hingga jutaan jumlahnya terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara dan Sumatera Barat serta banyak lagi di tempat lain, dan semua itu juga peristiwa sejarah, bukan legenda, bukan hikayat dan bukan dongeng. Saksi hidup masih banyak, kesaksiannya dimuat di banyak buku.

Karena itu, mereka adalah korban pembantaian, bukan pembantai. Mungkin saja mereka ("orang PKI") juga melakukan pembantaian, baik dalam bentuk penyerobotan tanah atasnama UUPA dan UUPBH dalam "aksi sepihak", sehingga terjadi clash dengan aparat keamanan (peristiwa Bandar Betsy, Jengkol, Boyolali dan lain-lain), termasuk upaya menyusun kekuatan kembali (disertai latihan bersenjata) dalam kasus Blitar Selatan. Tetapi jumlah korban yang jatuh apakah sampai mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang? Berapa ribu jenderal yang dibunuh orang PKI? Lalu kenapa musti dimaafkan? Apanya yang dimaafkan? Kata dimaafkan bermakna kesalahan orang telah "diputih"kan. Seperti hutang di bank juga ada "pemutihan". Tetapi dalam hal ini, pembantai malah mau memaafkan yang dibantai. Apakah tidak terbalik?

Ini salah satu bentuk pemutarbalikan fakta dan bila dibiarkan, akan menimbulkan kesesatan opini, bahwa PKI memang bersalah karena telah membunuh banyak orang dan karena itu dalam rangka rekonsiliasi perlu dimaafkan. Berapa gelintir yang dibantai orang PKI dan berapa ratus ribu yang dibantai aparat keamanan (termasuk yang pinjam tangan massa)? Digalinya banyak kuburan massal (mass grave) dan ditemukannya bekas proyektil di tengkorak para korban, itu bukan dongeng, bukan legenda, juga bukan hikayat. Itu fakta sejarah. Ada saksi, ada foto.

Dalam tragedi kemanusiaan 1 Oktober 65, PKI jelas bersalah. Pengakuan Njono (orang pertama CDB PKI Jakarta) dalam mahmillub menegaskan, tidak ada pemberontakan dalam G-30-S. Itu gerakan pembersihan terhadap militer yang dianggap tidak loyal pada Presiden Soekarno, yang diduga pengikut Dewan Jenderal yang akan melakukan perebutan kekuasaan. Lepas dari benar tidaknya pengakuan ini, tetapi ini jelas menunjukkan bahwa PKI tahu akan terjadi tragedi 1 Oktober 65, apakah itu masuk kategori pembersihan atau pemberontakan. Dan yang "dibersihkan" mati semua sehingga tak bisa ditanya apa salahnya. Ini hanya salah satu bukti, PKI terlibat (atau dilibatkan). Tetapi banyak pihak lain juga bersalah dan terlibat. Fakta-fakta baru yang terungkap harus kita terima sebagai masukan sekaligus melengkapkan sejarah (saya tak akan memakai istilah "pelurusan sejarah"). Yang penting, jangan berpegang teguh pada satu kebenaran yakni sejarah versi Orde Baru. Sejarah hari kemaren bisa terkoreksi oleh fakta baru yang ditemukan hari ini.

Sebagai contoh, berita surat kabar sudah beredar luas tentang dicungkilnya mata serta dipotongnya kelamin para jenderal. Rakyat marah. Berita itu menyulut terjadinya pembantaian besar-besaran. Kemudian ditemukan visum dokter forensik yang menyatakan tidak ada pencungkilan mata dan pemotongan kelamin. Apakah fakta ini (pernyataan dokter ahli yang kompeten dan telah disumpah) harus dikalahkan oleh berita koran? Dan kita tetap lebih percaya pada berita koran daripada visum para dokter ahli? Ini sekadar contoh bahwa dalam duapuluh empat jam, "fakta" bisa berubah duapuluh empat kali. Karena setiap menit bisa saja ditemukan fakta baru. Hasil visum ini ternyata diabaikan. Amuk massa terus berjalan. Ratusan ribu orang menjadi korban korupsi sejarah.

Pihak (keluarga) orang-orang PKI sendiri memang ada yang bersifat provokatif. Menulis buku dengan judul provokatif. Anak-anak muda bikin kaos bergambar palu arit. Untuk apa berbuat begitu? Resikonya, ibarat menabur angin, mereka harus menuai badai. Kita masih menderita penyakit kekanak-kanakan. Kapan rekonsiliasi dapat berjalan ketika masing-masing pihak hanya merasa menang sendiri, benar sendiri? Benar kata Pram, tidak ada rekonsiliasi. Pembantai harus diadili dulu. Rekonsiliasi tanpa menegakkan keadilan sama artinya dengan mengakui ketidakadilan. .Keluarga orang PKI yang menjadi korban pembantaian seharusnya tidak hanya marah kepada aparat atau massa yang melakukan pembantaian, tetapi juga marah pada pimpinan partainya (di tingkat CC), yang oleh Bung Karno disebut "keblinger". Akibat "keblinger" itulah kalangan akar rumput menderita terinjak-injak.

Para korban (dan keluarganya) memang telah mendapat perlakuan tidak adil, mendapat stigmatisasi sepanjang hayat, dikucilkan, mengalami penahanan dan penyiksaan tanpa pernah diadili, dan kehilangan hak-haknya sebagai sesama warganegara. Semua itu pelanggaran HAM berat yang harus menjadi tanggungjawab pemerintah untuk menyelesaikannya. Namun di sisi lain, mari kita mempelajari penyebabnya secara holistik. Bukan sepotong-sepotong. Karena itu pula, tidak layak kalau orang PKI dimaafkan. Seolah-olah hanya PKI sajalah yang bersalah. Bahkan "kesalahan" itu pun masih terus diuji dengan temuan fakta baru. Juga kata "pemberontakan". Siapa yang memberontak? Jangan belum apa-apa sudah memaafkan yang berarti memvonis yang dimaafkan itulah pemberontaknya. Sekali lagi, ini pemutarbalikan opini yang menyesatkan. Penelitian sejarah belum selesai.

TS: ...... Sejarah kelam negeri ini harus terkuak agar rakyat Indonesia tahu betapa pahitnya pembodohan yg selama ini terjadi, supaya kedepan tidak terulangi lagi hal-hal semacam ini yg dapat merusak mental bangsa dan akibatnya selamanya bangsa Indonesia akan semakin terpuruk nerd.png
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
bocahgembul
post Feb 14 2008, 02:06 PM
Post #8


Mungkin Tukang Makan
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.689
Joined: 08/05/07

From: Somewhere only we know..
Member No.: 55.963






Kalo menurut gw yah...ini opini pribadi gw berdasarkan pengamatan dan cerita dari sesepuh keluarga gw yang sempet ngalamin langsung masa2 itu..., jadi mohon maaf kalo salah...

PKI ga sepenuhnya korban disini..emang bener ko mereka juga dulu agresif..contohnya ya peristiwa madiun itu...emang bener mereka juga kadang suka bunuh orang, terus menteror, dll... dan kadang ini dilakukan bukan oleh anggota resmi partainya, tapi oleh anggota ormas2 dibawahnya, karena mereka merasa besar kepala soalnya PKI kan waktu itu lagi naik daun, jadi mereka pikir bisa seenaknya...
Nah, klo kaya gini bener yang dibilang diatas tadi, mereka udah nabur benihmya, jadi yang mereka dapet adalah hasilnya...orang2 udah pada panas ama ulah mereka, dan begitu ada G30S langsung dapet momentum untuk bales dendam...bahkan orang yang ga ada kaitannya ama PKI secara langsung (misalnya jadi anggota karena diajak saodranya ato tetangganya, padahal dianya sendiri gak tau apa-apa) pun akhirnya jadi korban...(kalo soal ini, ada di keluarga gw yang nasibnya kaya gini, jadi anggota ormasnya PKI karena diajak ama tetangganya, akhirnya sampe sekarang gak ketauan nasibnya)
Masa itu tuh situasi kacau banget, bisa aja kalo loe ga suka ato dendam ama orang, loe sebarin aja isu klo orang itu PKI, orang ga banyak tanya langsung maen tangkap (ato malah langsung dibunuh) tanpa diperiksa dulu apa bener dia emang PKI...
AD tau bener situasi kayak gini, makanya akhirnya dimanfaatin deh...

Lagian juga itu si cuma masalah waktu aja..PKI juga gw yakin sebenernya mao ada move buat ambil kekuasaan, cm dia ketikung aja...

gt bro, sekali lagi ini cm berdasarkan yang gw tau aja, kalo ada yang lebih paham mohon pencerahannya...thanks..
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
VoltusX
post Feb 14 2008, 02:25 PM
Post #9


Mungkin Satpam BlueFame
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.179
Joined: 18/08/06

From: Dapur Tetangga
Member No.: 22.175






gw setuju ma pendapat ente bro @bocahgembul
terlebih mengenai betapa congkaknya PKI pada jaman itu, bahkan waktu itu sesepuh gw pun termasuk salah satu target karena terlalu keras berdakwah soal islam dan menentang aliran komunisme sehingga bikin mereka (PKI) menjadi gerah.. dan sempet pintu rumah kakek gw disilang dengan cat putih sebagai target yg hendak diculik, untungnya blom sempet terjadi saat itu meletus G30S/PKI dan PKI keburu udah di bredel duluan..
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
VoltusX
post Feb 14 2008, 02:33 PM
Post #10


Mungkin Satpam BlueFame
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.179
Joined: 18/08/06

From: Dapur Tetangga
Member No.: 22.175






tapi tetep aja.. bisa dikatakan sampai saat ini aja generasi muda Indonesia mungkin hanya 30 % doank yg tahu kenyataannya pernah terjadi pembantaian massal di Indonesia.. sad01_anim.gif
Sebegitu "KEJI" nya suatu Pemerintahan yg sanggup mencuci otak bangsanya sendiri dengan tirani besi, klo udah begini, rakyat harus berpegang dan berlindung sama siapa? Apa selamanya cuma jadi kambing congek yg dipecut terus nurut aja??............................... Cow.gif

Tanya Kenapa?! ShameOnYou.gif

Cuppa.gif Cuppa.gif Cuppa.gif Cuppa.gif Cuppa.gif
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
bocahgembul
post Feb 14 2008, 03:07 PM
Post #11


Mungkin Tukang Makan
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.689
Joined: 08/05/07

From: Somewhere only we know..
Member No.: 55.963






Setuju banget gw bro @om hitler... Applause.gif Applause.gif Applause.gif

demi menutupi kebusukan dan kebobrokannya sendiri mereka rela membiarkan bangsanya jadi bodoh dan dicuci otaknya...

memang rezim mereka benar2 KEJI dan BIADAB demi kepentingannya sendiri mereka injak2 orang lain, bahkan sampai ke generasi2 mendatang...
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
nugros
post Feb 14 2008, 04:00 PM
Post #12


Youth BlueFame
***

Group: Members +
Posts: 274
Joined: 31/01/08

Member No.: 129.141






emang ini merupakan suatu pengalaman sejarah pahit buat Indonesia, tapi yang lebih penting lagi di jaman sekarang and yang akan dateng, gimana cara membrantas korupsi yang kaga ade abis-abisnye di muka bumi yang kita sebut Indonesia.

sebetulnye negare kite nih kudunye dah musti masuk ke jajaran negara tetangga yang udeh pade makmur, makenye kite dianggep negara underdog trus ma nyang laen, soalnye para warganye mudeh kena hasut..apalagi yang ngasut ade duwitnye...mmhh..paling cepet dah rakyat kite...
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
kroco amatir
post Feb 16 2008, 11:15 PM
Post #13


BlueFame ABG
**

Group: Members
Posts: 31
Joined: 20/01/08

Member No.: 125.569






Ikudan nimbrung yak. Kalo liat polingnya kok gak lengkap ya, boz? Minta alasan tapi kok tiada tempat buat ngisinya. Ato reply ini jadi alasan? Kalo ya, alasannya sih: kenapa harus ditutupi? BigGrin.gif Lagian katanya kan bo'ong itu dosa; ditutupi bo'ong gak ya? Peace.gif
Satu lagi: mo nanya nih, kok diskusinya mulai melebar ya? Poin sebenarnya tuh apaan, bos? Biar nyambung gitu.
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
manstein
post Feb 18 2008, 10:00 PM
Post #14


Jenderal Kecil BlueFame
******

Group: Members +
Posts: 2.317
Joined: 19/06/07

From: Республика Индонезия (Джака́рта-Depok), Москва
Member No.: 63.186






gw setuju2 aja diungkap...
tapi gimana ya bro caranya... bukti-bukti yang ada udah diberangus oleh rezim terdahulu
semua tergantung pemerintahnya.. mau apa nggak...
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
Satria ZX
post Feb 20 2008, 02:35 AM
Post #15


BlueFame Racer
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 3.395
Joined: 03/10/07

From: somewhere out there
Member No.: 88.414






ane stuju...karena sampai detik ini...banyak sejarah kita yang ga ada bukti konkret...Supersemar salah satu contohnya Peace.gif

untuk kasus PKI ini...kalo nonton film dokumenter 'Mass Grave', kita bisa tau kekejian yang dilakukan oleh ORBA pada masa awal pemerintahannya.

sekalian menjawab pertanyaan Om @Crew...Mass Grave itu kuburan massal orang2 "yang dianggap" pengikut PKI yang dituduh melakukan pembantaian G30S. letaknya disekitar perbatasan Jawa Tengan dan Jawa Timur.

Padahal sepengetahuan ane, G30S direncanakan oleh bakal ORBA untuk menutupi Supersemar, karena PKI itu partai yang pro ke Soekarno. hal itu juga diceritakan dalam film tersebut. jadi kalo boleh diambil kesimpulan, PKI disini hanya sebagai boneka belaka.

namun bukan berarti ane menulis ini ane jadi meng-amini perbuatan PKI yang kejam. mungkin dibalik event2 itu semua, ada suatu kekuatan besar yang tak terlihat yang mengatur skenario tersebut Peace.gif

tuk yang lain, kalo ane udah dapet film nya ntar di posting di sini deh Peace.gif ane ngliat film itu staun yg lalu pas ikut kelas kewarganegaraan pas kuliah. (ane juga dah janji lumayan lama ama salah satu BFers tuk posting film nya, tapi dosen itu susah banget diketemuin Doh.gif )
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
bocahgembul
post Feb 22 2008, 11:11 AM
Post #16


Mungkin Tukang Makan
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 2.689
Joined: 08/05/07

From: Somewhere only we know..
Member No.: 55.963






@satria ZX...

wew, mohon dcariken bos filemnya...

thanks..
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
The Skywatcher
post Feb 22 2008, 01:40 PM
Post #17


Virtuoso
Group Icon

Group: Elite Member
Posts: 1.346
Joined: 09/09/07

Member No.: 82.561






SETUJU
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
yuli sri
post Feb 22 2008, 07:38 PM
Post #18


BlueFame ABG
**

Group: Members
Posts: 39
Joined: 08/08/07

Member No.: 72.751






pki kalo bener2 kudeta bro,lom tentu abrid sini rpkad menag ,krna waktu itu kuat2nya uni sovyet so pasti kan di bantu persenjataan dan semuanya but apa pernah ad pki wkatu itu punya senjata?
so soeharto lah di belakang kudeta g30 s itu
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
kroco amatir
post Feb 23 2008, 08:03 AM
Post #19


BlueFame ABG
**

Group: Members
Posts: 31
Joined: 20/01/08

Member No.: 125.569






QUOTE (yuli sri @ Feb 22 2008, 07:38 PM) *
so soeharto lah di belakang kudeta g30 s itu

Apa gak terlalu cepat kesimpulan ini?

Peristiwa 1965 yang mengakibatkan pembunuhan massal orang-orang pro Soekarno 1966-1970 tidak bisa lepas dari sejarah dunia. Perang dingin paska perang dunia II membuat negara-negara baru di Asia dan Afrika yang ingin lepas dari kolonialisme Eropa merupakan "lahan" luas bagi perang ideologi. Para pendiri negara-negara baru ini, yang merasakan sendiri akibat buas kapitalisme, secara tidak langsung, baik sadar maupun tidak sadar, mengikuti Marxisme. Bahkan tidak sedikit yang juga mengikuti Leninisme. (Catatan: Komunisme merupakan gabungan dari Marxisme dan Leninisme tetapi karena ketidaktahuan banyak yang menganggap Marxisme = Leninisme = Komunisme). Di satu sisi, ketakutan Amerika akan kedekatan Uni Sovyet dengan Soekarno membuat Amerika mendukung pemberontakan (jika dapat disebut demikian) yang menolak Komunisme (terutama pada peristiwa PRRI/Permesta). Di sisi lain, Uni Sovyet yang mendapat dukungan Soekarno tentu saja menolak dominasinya di Indonesia berkurang. Amerika kemudian mendukung TNI Angkatan Darat (khususnya yang bersekolah di sana), Uni Sovyet mendukung PKI dan ormas-ormas yang berada di bawahnya.

Kembali kepada pembantaian massal 1966-1970. Sepertinya, (maaf sebelumnya) bro Hitler sendiri sudah tertipu saat memposting ini. Memang korban terbesar pada saat itu merupakan anggota PKI tetapi bukan semua korban anggota PKI.. Sebagai contoh, tidak sedikit anggota BTI yang bangga menyebut dirinya BTI tetapi menolak jika disebut PKI. Demikian juga dengan anggota-anggota ormas-ormas lain di bawah PKI yang menolak jika disebut PKI tetapi bangga dengan keanggotaan mereka dalam ormas yang mereka ikuti. Sebenarnya lebih tepat jika disebut Pembantaian massal di Indonesia. Dengan kondisi politik yang kacau saat itu, mayoritas korban tidak mengerti politik tetapi menjadi korban politik; bahkan para korban sesungguhnya adalah Soekarnois.

Lalu bagaimana posisi Soeharto? Soeharto memang berperan tapi dia belum secerdas itu. Bahkan dapat dikatakan ia memanfaatkan keadaan. Dia mengetahui ada rencana penculikan para jenderal (lihat buku-buku pledoi Oemar Dhani, Soedisman, dan Abdoel Latif) tetapi tidak berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Posisi Soeharto tidak sekuat posisi Nasution saat ia memberontak 2 kali terhadap Soekarno sehingga kecil kemungkinan Soeharto untuk menggalang kekuatan. Tetapi, pembunuhan Jenderal-jenderal senior membuatnya memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan kudeta karena hanya dialah yang kemudian menjadi jenderal paling senior yang memungkinkan (walaupun pernah disidang karena "korupsi" dalam penyelundupan bawang saat masih di Semarang).
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post
kadalmania
post Mar 5 2008, 09:23 PM
Post #20


BlueFame Hotter
****

Group: Members +
Posts: 604
Joined: 14/02/08

From: lobang buaja, pinggir sungai.
Member No.: 134.701






yg jd pertanyaan kok knp pada saat penculikan jendral, dua jendral pemegang komando pasukan yaitu pangkostrad dan panglima perang kodam jaya umar w tdk skalian disikat. dan lagi pusat komando RPKAD yg jaraknya cuman 3 km dr halim tdk ada upaya penguasaan. lah ini sama aja gali kuburan sendiri. sedangkan kolonel latief pemegang komando brigif I jaya raya yg merupakan kelompok untung jg tdk berusaha menghabisi umar. sbg catatan saat itu di jkt ada 60000 pasukan AD dan kelompok untung hanya memiliki 2500 prajurit yg terdiri dr cakra, brigif I jaya raya, batalyon 454 srondol (jateng) dan 530 (JATIM) dan pemuda rakyat yg hanya dilatih terbatas oleh AURI.
bbrp bln sebelumnya cakra sempat membuat heboh jkt dgn melakukan manuver upaya penguasaan jkt dgn mengungsikan presiden ke halim. para staff AD kaget, alasan cakra mrk mendengar ada upaya pembunuhan presiden.
ada beberapa kesimpulan:
1. gerakan untung mrpkn tindakan penyelamatan presiden dr dewan jendral
2. PKI memang dalang dr gerakan 30 september 30 dan untung pelaksananya
3. gerakan 30 september adalah inisiatif prsiden sendiri dlm upaya menghabisi para jendralnya yg ingin meghabsi dirinya dengan asumsi semua pasukan penculik adlh dr elemen cakra birawa
4. or Whew.gif AD yg telah bekerjasama dgn CIA memang mengorbankan jendralnya untuk mengkudeta presiden sekaligus menghabisi PKI agar asia tenggara tdk jatuh ke tangan komunis

sbg catatan keterlibatan AURI tdk dipublikasikan dmn AURI mempunyai sejarah persaingan dgn AD, dan kol suherman pemimpin pemberontak dr kodam diponegoro jg tdk dipublikasikan, kol suherman tewas dlm operasi militer bln nov 65 di salatiga.
sori klo ada pendapat gw yg kurang pas
Go to the top of the page
 
Bookmark this post:Post to BlinkBitsPost to BlogMarksPost to Del.icio.usPost to DiggPost to FacebookPost to FurlPost to GooglePost to StumbleUponPost to TechnoratiPost to YahooMyWeb
+Quote Post

4 Pages V   1 2 3 > » 
Reply to this topicStart new topic

 




RSS Lo-Fi Version Time is now: 21st November 2009 - 09:53 AM

BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

Best view with Mozilla Firefox at 1024 x 768 resolution

BlueFame DMCA Policy