![]() ![]() |
May 7 2008, 01:43 PM
Post
#61
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Panduan Mendapat Beasiswa Luar Negeri dari DIKTI e-Book Panduan Beasiswa ke Amerika Buku Panduan Beasiswa ke Jepang e-Book Panduan Beasiswa ke Jerman e-Book Panduan Beasiswa Inggris Buku Panduan Beasiswa Prancis Link |
|
|
|
May 7 2008, 01:44 PM
Post
#62
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Panduan Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) DIKTI Pelaksanaan Kegiatan PHKI 2008 Implementasi PHKI 2008 Link |
|
|
|
May 7 2008, 01:44 PM
Post
#63
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Info & Formulir Beasiswa Dalam Negeri Luar Negri Asia Top Universities Ranking Beasiswa Pendidikan S2 S3 Dalam Negeri dari DIKTI Beasiswa Habibie Center Link |
|
|
|
May 7 2008, 01:45 PM
Post
#64
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Australia Beasiswa ADS Beasiswa ADS Australia Pengumuman Lolos Seleksi Beasiswa ADS 2008 Info Penempatan Semester 1 2008 Link |
|
|
|
May 7 2008, 01:46 PM
Post
#65
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Info Stuned Beasiswa S2 STUNED Beasiswa S2 STUNED untuk Luar Jawa Beasiswa Stuned Short Course 1 Maret Beasiswa Stuned Short Course 1 Oktober Info Beasiswa Stuned Belanda Formulir Beasiswa STUNED Belanda Link |
|
|
|
May 7 2008, 01:46 PM
Post
#66
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Soal-soal Ujian & Kunci Jawaban Beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho) 2007 Program Sarjana S1 (Undergraduate) Tes Bahasa Jepang (A) Tes Bahasa Jepang (B) Tes Bahasa Jepang © Tes Bahasa Inggris Tes S1 Matematika (A) Tes S1 Matematika (B) Tes S1 Fisika Tes S1 Kimia Tes S1 Biologi Tes S1 Sejarah Dunia Kunci Jawaban Soal Beasiswa Jepang S1 Program Beasiswa untuk Research Students Soal s2 s3 Bahasa Jepang (A) Tes S2 S3 Bahasa Jepang (B) Tes S2 S3 Bahasa Jepang © Kunci Jawaban dalam Bahasa Inggris Link |
|
|
|
May 7 2008, 01:47 PM
Post
#67
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Info Pendidikan Jerman Undergraduate Group Visits to Germany by Foreign Students beasiswa s1 One-Semester Study Scholarships (specific subjects) German Industry Scholarships Graduates (S1 S2) Short-term Research Grants Link |
|
|
|
May 7 2008, 01:47 PM
Post
#68
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Info Pendidikan Prancis Mengapa Studi di Prancis Beasiswa Prancis 2008 Formulir Aplikasi Beasiswa Prancis Link |
|
|
|
May 11 2008, 02:32 PM
Post
#69
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 486 Joined: 16/03/08 From: Green City Member No.: 148.920 |
Ada beasiswa Pemda Aceh Utara bagi mahasiswa yg berasal dari aceh utara....
|
|
|
|
May 11 2008, 02:33 PM
Post
#70
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 486 Joined: 16/03/08 From: Green City Member No.: 148.920 |
50 Promising Indonesian Universities - Ahmad Dahlan University : www.uad.ac.id - Airlangga University : www.unair.ac.id - Atma Jaya Catholic University Jakarta : www.atmajaya.ac.id - Atma Jaya University Yogyakarta : www.uajy.ac.id - Bandung Polytechnic for Manufacturing : www.polman-bandung.ac.id - Bandung State Polytechnic : www.polban.ac.id - Bina Nusantara University : www.binus.ac.id - Bogor Agricultural University : www.ipb.ac.id - Brawijaya University : www.brawijaya.ac.id - Diponegoro University : www.undip.ac.id - Gadjah Mada University : www.ugm.ac.id - Indonesian Institute of the Arts, Jogja : www.isi.ac.id - Indonesian Institute of the Arts , Denpasar : www.isi-dps.ac.id - Indonesian Institute of the Arts , Surakarta : www.stsi-ska.ac.id - Institut Teknologi Bandung : www.itb.ac.id - Institute Teknologi Sepuluh Nopember : www.its.ac.id - Jakarta Institute of the Arts, The : www.ikj.ac.id - Jember University : www.unej.ac.id - Jenderal Soedirman University : www.unsoed.ac.id - Maranatha Christian University : www.maranatha.edu - Merdeka University – Malang : www.unmer.ac.id - Muhammadiyah University of Malang : www.umm.ac.id - Muhammadiyah University of Surakarta : www.ums.ac.id - Padang State Polytechnic : www.polinpdg.ac.id - Padang State University : www.unp.ac.id - Padjadjaran University : www.unpad.ac.id - Palangkaraya University : www.upr.ac.id - Pancasila University : www.univpancasila.ac.id - Parahyangan Catholic University : www.unpar.ac.id - Pasundan University : www.unpar.ac.id - Pelita Harapan University : www.uph.ac.id - Sanata Dharma University : www.usd.ac.id - Satya Wacana Christian University : www.uksw.edu - Sebelas Maret University : www.uns.ac.id - Soegijopranata Catholic University : www.unika.ac.id - Sriwijaya University : www.unsri.ac.id - State University of Malang : www.malang.ac.id - State University of Medan : www.unimed.ac.id - Supra School of Bussiness and Computer : www.supra.ac.id - Tadulako University : www.untad.ac.id - Telkom School of Engineering : www.stttelkom.ac.id - Udayana University : www.unud.ac.id - University of 17 Agustus 1945, The : www.untag-sb.ac.id - University of Bengkulu : www.unib.ac.id - University of Indonesia : www.ui.ac.id - University of Mataram : www.unram.ac.id - University of Surabaya : www.ubaya.ac.id - Widyagama University of Malang : www.widyagama.ac.id - Windya Mandala Catholic University Surabaya : www.wima.ac.id - Yogyakarta State University : www.uny.ac.id Sumber: http://spmb.com/2007/12/13/50-promising-in...sities/#more-22 |
|
|
|
May 11 2008, 02:54 PM
Post
#71
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 486 Joined: 16/03/08 From: Green City Member No.: 148.920 |
SEPUTAR SPMB 2008 Soal IPA Terpadu 1995-2005 Download Soal Matematika Dasar Download soal matematika IPS 2005 Soal Kunci Jawaban Soal Matematika 2006 Download Sumber: various |
|
|
|
Jun 5 2008, 02:58 PM
Post
#73
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 692 Joined: 06/10/07 From: Motherland Member No.: 89.295 |
Ingin Kuliah Lagi? Rencanakan Dana Secara Matang KEWAJIBAN menuntut ilmu tak memiliki batasan baik umur, jenis kelamin, maupun status seseorang. Tak terkecuali bagi orang yang telah bekerja maupun sudah menikah atau berkeluarga. Sebab, menuntut ilmu bukan saja terkait penambahan pengetahuan tapi bisa juga menjadi poin dalam meningkatkan karir atau mempertahankan posisi dalam status pekerjaannya. Sebut saja melalui sejumlah kursus pendidikan seperti CEO atau meningkatkan gelar kependidikan seperti strata 2 (S2) atau bahkan gelar doktoral. Seiring perkembangan waktu, biaya pendidikan yang dibutuhkan untuk mengikuti kursus atau mendapatkan gelar dengan strata yang lebih tinggi dari S1 tidak sedikit. Di Indonesia, untuk mendapatkan gelar S2 dibutuhkan biaya sekitar Rp 25 juta hingga 50 juta. Sementara kursus seperti kursus CEO biaya yang dibutuhkan antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta untuk sekali kursus. Bagi orang yang dibiayai perusahaan atau pemerintah, biaya tentunya bukan masalah yang besar. Yang dibutuhkan hanya pengaturan waktu dan konsentrasi saja agar sukses dalam menempuh pendidikannya. Lain halnya bila seseorang harus menyediakan sendiri anggaran yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan lanjutan. Mengingat status yang tak lagi lajang pastinya pengaturan anggaran untuk melanjutkan pendidikan harus dikompromikan dengan kebutuhan lain yang juga penting untuk dianggarkan. "Bila keputusan menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi menggunakan dana pribadi, sebaiknya melalui pertimbangan matang terkait alokasi dana yang akan digunakan. Sehingga kedepannya tidak mengganggu anggaran lain,"ungkap Riginoto Widjaya, Pengamat Keuangan Keluarga kota Batam. Tak hanya itu, penghitungan anggarannya pun harus dipertimbangkan hingga pendidikan selesai. Termasuk kebutuhan pendukung. Misalnya buku dan keperluan lainnya. Dengan begitu, pendidikan bisa selesai tanpa perlu takut terkendala biaya. "Jika anggaran tidak disiapkan secara matang dikhawatirkan pendidikan akan terhenti di tengah jalan hanya gara-gara kekurangan biaya. Kondisi tersebut justru mendatangkan kerugian. Sudah habis banyak dana tapi tak dapat apa-apa,"jelasnya. Sementara bila pendidikan tetap ingin diteruskan dengan keterbatasan anggaran yang ada, dikhawatirkan akan ada pos yang dikorbankan untuk menutup kekurangan dana pendidikan yang dibutuhkan. Sehingga, cara paling bijak adalah memperhitungkan besarnya dana yang dibutuhkan sekaligus perencanaan dari mana dana tersebut akan didapatkan. (*) Rencanakan Lima Tahun Sebelumnya BANYAK cara yang bisa ditempuh untuk mempersiapkan dana anggaran pendidikan lanjutan. Namun yang terpenting hendaknya dana disiapkan atau direncanakan minimal lima tahun sebelumnya. "Mengingat biaya yang dibutuhkan tidak sedikit dan harus diambil dari anggaran keluarga, sebaiknya perencanaan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dipersiapkan jauh-jauh hari,"kata Riginoto Widjaya. Dengan perencanaan minimal lima tahun sebelumnya, seseorang memiliki keleluasaan dalam menyisihkan dana yang dibutuhkan dari anggaran keluarga. Sehingga, saat akan menempuh pendidikan S2 yang hanya dua tahun bisa dilakukan dengan lebih tenang. "Dalam proses pengumpulan dana, seseorang bisa memanfaatkan jasa asuransi yang banyak menawarkan asuransi pendidikan," ungkap dosen Universitas Internasional Batam ini. Selain asuransi pendidikan, asuransi berjangka yang biasa disebut asuransi multiguna juga dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan dana yang dibutuhkan. Selain dapat diperhitungkan secara tepat, penggunaan asuransi juga relatif lebih aman dari kemungkinan terpakainya anggaran untuk kebutuhan lain. "Bagi yang ingin menyisihkan anggaran dengan cara menabung sendiri bisa membuat pos khusus dalam anggaran keuangan keluarga. Pembentukan pos khusus tersebut memudahkan pengalokasian anggaran yang akan digunakan untuk menempuh pendidikan lanjutan,"ungkapnya. (*) Siasati dengan Beasiswa MEMILIKI keterbatasan anggaran bukan berarti mematikan peluang melanjutkan pendidikan setelah bekerja dan berkeluarga. Sebab, ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk merealisasikan impian tersebut. "Saat ini cukup banyak perusahaan atau kedutaan besar yang menawarkan beasiswa pendidikan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Jika kita berhasil mendapatkan beasiswa berarti banyak dana yang bisa dihemat untuk meraih impian," jelas Riginoto. Untuk mendapatkan beasiswa tersebut tentu saja dibutuhkan kualifikasi dan kompetensi yang lebih. Sebab, dalam proses pencapaian beasiswa seseorang harus melewati seleksi dengan sejumlah tes yang wajib dilalui. "Yang dibutuhkan untuk mendapatkan beasiswa tersebut adalah menyiapkan diri untuk kualifikasi. Terutama bagi yang ingin mengambil pendidikan lanjutan dengan bidang yang berbeda dengan pendidikan sebelumnya. Misalnya S1 elektro ingin memperluas pengetahuan di bidang marketing,"katanya. Sebab, dalam persaingan dunia kerja saat ini dibutuhkan pekerja yang multitalent atau memiliki kemampuan di banyak bidang. Sehingga memperluas pengetahuan di bidang lain akan menjadi nilai plus sekaligus investasi di masa mendatang. "Sekarang ini sistem yang digunakan adalah lifetime employability atau selalu mengikuti perubahan yang ada. Dengan kesiapan tersebut seseorang akan selalu siap ditempatkan di bidang apapun termasuk bidang-bidang baru,"jelas Riginoto. (*) sumber: link |
|
|
|
Jun 5 2008, 03:05 PM
Post
#74
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 692 Joined: 06/10/07 From: Motherland Member No.: 89.295 |
Potret Buram di Perguruan Tinggi BHMN Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama lagi, ratusan ribu orang bakal calon alumnus SLTA se- Indonesia mulai berfikir panjang. Bagaimana tidak, mereka sudah mulai merencanakan untuk memasuki ”alam baru dunia akademis” yang dianggap bergengsi dan memberikan secercah harapan tentang masa depan, yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNM PTN). Yah, setelah sekian lama berlangsung dan mengalami metamorfosis sejak bernama SKALU (Sekretariat Kerja sama Antar Lima Universitas) yang pertama kali diadakan secara serentak oleh Lima Perguruan Tinggi Negeri pada tahun 1976 yang selanjutnya diperbaiki dan berganti istilah menjadi Proyek Perintis. Pada tahun 1983 dengan cara mengadopsi sistem Proyek Perintis 1 dan 2 secara nasional serta menghapus Proyek Perintis 3 dan 4, diterapkanlah Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru). Pada tahun 1989, Sipenmaru berubah menjadi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang berlangsung hingga tahun 2001, sejak tahun 2001 UMPTN berganti nama kembali dengan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan mulai tahun 2008 ini dikenallah istilah SNM PTN. Setelah sekilas kita mengingat sejarah perkembangan nomenklatur penerimaan mahasiswa baru, barulah kemudian kita mulai memikirkan bagaimana anak-anak, adik, diri dan keluarga dan generasi muda penerus bangsa kita bisa mengenyam pendidikan di bangku PTN! Sejak diberlakukannya Undang-undang 20 Tahun 2003 jo UU 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, semakin terasa, bahwa hak-hak warga masyarakat di bidang pendidikan, ”sepertinya” tidak lagi mendapatkan jaminan dari negara. Mengapa? Karena sesuai dengan Pasal 24 (2 dan 3) UU tersebut dijelaskan bahwa Perguruan Tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, kemudian perguruan tinggi dapat memperoleh sumber dana dari masyarakat yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip akuntabilitas publik. Dengan dalih untuk meningkatkan daya saing, Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) 61 tahun 1999 membuka kemungkinan mengubah status PTN menjadi Badan Hukum dimana Perguruan Tinggi merupakan Badan Hukum Milik Negara yang bersifat nirlaba. Kelahiran PP ini ternyata mendapat respons dari beberapa PTN, yang diawali dengan pemberian status BHMN, kepada empat PTN, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang saat ini terus berkembang hingga menjadi sedikitnya sembilan PTN, yaitu Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Airlangga (UNAIR) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS). Namun, keberadaan status sebagai BHMN bukanlah kemudian membuat ”iklim dunia PT” menjadi lebih baik, malah mereka membuat kebijakan yang cenderung diskriminatif. Demi mewujudkan otonomi dunia kampus, alasan kekurangan anggaran yang disebabkan berkurangnya berbagai subsidi dari pemerintah, memaksa mereka untuk ”berfikir keras” untuk menghimpun dana. Layaknya istilah pendidikan di masa lampau, pihak PTN ini juga mengajukan permintaan sumbangan pendidikan yang nyaris tidak ada bedanya dengan BP3. Kemudian ibarat ”peserta koor”, hampir semua PT itu semakin ”terlatih dan mandiri” mencari dana karena mereka memiliki kebebasan untuk mencari dana operasional pendidikannya masing-masing. Akibatnya, mereka melakukan berbagai terobosan, antara lain, penerimaan mahasiswa baru dengan menggunakan ”jalur khusus”. Karena jalur khusus ini, beberapa PT yang telah berubah menjadi BHMN semakin menjadi sorotan. Masyarakat mengkritik, perubahan status menjadi BHMN hanya memberatkan masyarakat dan meninggikan biaya pendidikan. Kampus dituding telah meninggalkan misi sosialnya dan berubah menjadi sebuah usaha komersial. Perguruan tinggi menjadi semakin rakus mencari uang dan pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab sebagaimana yang diamantkan pada Pasal 31 UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan, seolah hanya slogan belaka... Seperti dilansir oleh salah satu media nasional beberapa waktu yang lalu, untuk mengikuti jalur khusus Program Prestasi dan Minat Mandiri UI, sumbangan yang harus dikeluarkan untuk kuliah di Fakultas Hukum yang paling murah saja mencapai Rp 25 juta, masih ditambah Rp 7,5 juta per semester untuk SPP-nya, begitu juga dengan beberapa jurusan lain seperti Ilmu Komunikasi, dimana calon mahasiswa berusaha untuk merogoh kocek lebih dalam, hingga mencapai angka Rp 60 juta, belum lagi fakultas teknik dan kedokteran......tentu akan mencapai angka yang lebih fantastis! Nah ...bagi pihak PTN yang berstatus BHMN tentu saja hal ini menguntungkan dengan alasan bahwa untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, perlu biaya besar dan mahal. Sebaliknya, bagi kalangan ekonomi lemah, hal ini merupakan awal malapetaka. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah istilah yang paling tepat ditujukan kepada para calon mahasiswa, karena PT BHMN semakin ”kebablasan”, buktinya rencana penerimaan mahasiswa baru di beberapa PT BHMN melalui jalur SNMPTN tahun 2008 ini semakin menurun. Seperti contoh IPB yang menyediakan hanya 20 persen dari total 2.270 kursi yang ada. Begitu juga UGM yang hanya akan menerima 5 % mahasiswa dari jalur SNM PTN dari total mahasiswa yang diterima UGM. Sementara ITB berencana untuk hanya menerima 1.080 mahasiswa dari total 2.615 mahasiswa yang akan diterima. Melihat semakin menurunnya kuota bagi penerimaan mahasiswa reguler oleh masing-masing PT BHMN tersebut, bagaimana nasib calon-calon mahasiswa yang kurang beruntung dari segi finansial? Apakah mereka harus terus memaksakan diri untuk ”menjual harga diri”? Karena memang sudah tidak ada lagi ”property” yang harus dijual? Bersiaplah untuk berkhayal dan bermimpi untuk melanjutkan pendidikan ke PT BHMN. Mahalnya biaya pada dunia pendidikan, sesungguhnya memang bukanlah kesalahan pihak PT BHMN semata, karena apabila ditilik dari besaran anggaran yang diterima oleh pihak Universitas, hanya dapat menutupi rata-rata sekitar 30 % anggaran, yang antara lain diperuntukkan untuk anggaran rutin seperti pembayaran gaji dosen dan karyawan, serta anggaran pembangunan. Sehingga memaksa pihak kampus untuk mencari sumber dana ”lain”, seperti melaksanakan kerjasama di bidang penelitian dengan Institusi Pemerintah/dunia usaha, kontrak bagi hasil dan lain-lain, bahkan secara ekstrim memacu para dosen untuk ”nyambi di luar” yang pasti mengakibatkan terjadinya ”distorsi” proses pembelajaran. Berkaitan dengan PT BHMN, mantan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas RI Satryo Soemantri Brodjonegoro pernah mengungkapkan bahwa di kalangan PT BHMN masih terdapat beberapa perbedaan pemahaman / salah tafsir mengenai BHMN, yang disebabkan antara lain : a. Perubahan status menjadi BHMN masih rancu karena adanya benturan kepentingan sebagian personil perguruan tinggi. b. Bahwa otonomi diberikan kepada perguruan tinggi negeri agar dapat berperan sebagai kekuatan moral, dan hal ini merupakan salah satu aspek penting dalam reformasi pendidikan tinggi yang saat ini sedang dijalankan. Namun pengertian “kekuatan moral” tersebut masih abstrak dan perlu penterjemahan dalam bentuk rambu/panduan pelaksanaan untuk tiap perguruan tinggi. Tanpa adanya kejelasan tersebut, dikhawatirkan terjadinya penterjemahan otonomi secara bebas oleh setiap pihak yang berkepentingan yang disesuaikan dengan kepentingan pribadi masing-masing. Otonomi fiskal mungkin diterjemahkan oleh para dosen sebagai kenaikan gaji, yang kemudian dapat berakibat kepada kenaikan SPP mahasiswa. Otonomi bagi mahasiswa mungkin diterjemahkan sebagai kebebasan mahasiswa untuk bertindak bebas termasuk misalnya menolak kenaikan SPP. Departemen Keuangan mungkin menterjemahkan otonomi sebagai lepasnya tanggung jawab untuk pendanaan perguruan tinggi yang dapat berakibat kepada hilangnya fungsi pemerintah untuk menyelamatkan tugas mulia yang harus diembannya. Tidak adanya konsensus ataupun kesamaan persepsi mengenai otonomi tersebut akan menyebabkan terjadinya kondisi yang tidak menentu. Oleh karena itu saat ini dibutuhkan suatu pemahaman secara nasional yang utuh mengenai otonomi yang dapat menggalang peran seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholders), di mana setiap kelompok harus bersedia sedikit berkorban. Sesungguhnya, dari berbagai polemik tentang PT BHMN, yang menjadi persoalan adalah pengertian nirlaba itu sendiri, karena menjadikan PT BHMN sebagai suatu lembaga "jasa" pendidikan yang tidak berorientasi keuntungan. Pada dasarnya BHMN adalah milik Pemerintah karena melakukan tugas yang diberikan oleh Pemerintah. Apabila BHMN tersebut kemudian juga melakukan kegiatan “swasta” di samping tugas utamanya yang dari Pemerintah, maka Pemerintah harus memastikan bahwa ada dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, kegiatan “swasta” tersebut harus konsisten dan komplemen dengan misi utama perguruan tinggi dalam hal pendidikan dan penelitian. Ke dua, kegiatan “swasta” tersebut harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kegiatan yang didanai Pemerintah - artinya dana Pemerintah tidak digunakan untuk mensubsidi kegiatan “swasta”. Hal ini berarti bahwa kegiatan “swasta” tersebut harus sepenuhnya dibiayai oleh peserta/pelaku - termasuk di sini biaya untuk utilitas dan perawatan serta administrasi. Menurut Dosen IPB Winarso Widodo, Dasar otonomi yang dikaitkan dengan kebebasan menghimpun dana ini, bila ditinjau dari substansi PP No 61/1999, masih patut dipertanyakan karena bagaimana cara menghimpun dana dari masyarakat dan konsumen PT, yaitu keluarga mahasiswa, tidak jelas tertulis. Bahkan, cara "memperoleh" mahasiswa baru pun tidak tertulis, kecuali Pasal 19 Ayat (2) tertulis, "Tata cara pengelolaan keuangan Perguruan Tinggi diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan Perguruan Tinggi dengan memperhatikan efisiensi, otonomi, dan akuntabilitas". Memang ada hak berotonomi finansial, tetapi untuk itu PT BHMN dituntut mengelola secara efisien dan dapat dipertanggungjawab. Tuntutan yang lebih penting adalah akuntabilitas yang menghendaki transparansi, keterbukaan PT BHMN dalam mengelola keuangan, terutama pengelolaan dana yang dihimpun dari masyarakat. Ini menjadi penting karena sebenarnya semangat PT BHMN adalah bertumpu pada aspek akuntabilitas dan transparansi yang disemangati prinsip pengelolaan sumber daya yang berasas pengelolaan yang profesional. Ini merupakan tujuan keempat penyelenggaraan PT BHMN, yang tertulis pada PP No 61/1999 Pasal 3 huruf d, berbunyi, "mencapai keunggulan kompetitif melalui penerapan prinsip pengelolaan sumber daya sesuai dengan asas pengelolaan yang profesional". Pengelolaan finansial yang profesional tentunya harus berpegang pada asas akuntabilitas dan transparansi. Dengan penggunaan jalur khusus pada penerimaan mahasiswa baru, dikhawatirkan pihak PT BHMN akan kehilangan ”hati nurani”, betapa tidak apabila terdapat sepuluh orang saja seorang calon mahasiswa yang bersedia memberikan ”sumbangan dana pendidikan” sebutlah mencapai angka Rp. 100 juta, maka pundi-pundi yang berhasil diterima oleh PT tersebut sudah mencapai angka Rp. 1 milyar, nah.. sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah pihak PT mampu mempertahankan idealismenya, dengan tetap konsisten mempertahankan hasil tes sang calon mahasiswa? Apabila konsistensi ini luntur, maka hal ini justru menjadi langkah awal bagi mundurnya dunia akademis kita. Kekhawatiran terhadap jalur khusus ini juga diungkapkan oleh Suryadi dari Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), disebutkan bahwa hal ini justru akan menyedot peminat PTS ke PTN, pasalnya dengan biaya yang hampir sama dengan PTS maka calon mahasiswa pasti lebih memilih PTN favorit dibandingkan PTS. Bahkan berdasarkan pengamatannya telah ada indikasi penurunan minat calon mahasiswa untuk kuliah di PTS hingga 20 persen. Menanggapi hal itu, pengamat pendidikan Darmaningtyas menegaskan, pemerintah harus segera mengambil langkah agar akses pendidikan bagi kalangan miskin tidak tertutup masuk PTN. Dia prihatin dengan langkah sejumlah PTN mengurangi jatah penerimaan mahasiswa lewat jalur reguler yang memungkinkan mahasiswa dari keluarga miskin bisa terjaring. Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah memang berkewajiban membuat kebijakan yang memihak rakyat. Salah satunya adalah kebijakan kontrol terhadap biaya kuliah agar terjangkau semua lapisan anak bangsa. Jika tidak, mahalnya biaya pendaftaran dan biaya kuliah, dan hal itu membuat diskriminasi terhadap kaum papa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Ternyata paradigma pendidikan yang murah, layak dan berkualitas untuk semua rakyat Indonesia sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Kita hanya bisa berdoa agar PT BHMN yang ada tetap pada komitmennya, yaitu memberi pendidikan berkualitas yang terjangkau seluruh masyarakat. Semoga… sumber |
|
|
|
Jun 8 2008, 10:23 PM
Post
#75
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
|
|
|
|
Jun 9 2008, 02:19 PM
Post
#76
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 486 Joined: 16/03/08 From: Green City Member No.: 148.920 |
|
|
|
|
Jun 12 2008, 03:58 PM
Post
#77
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 427 Joined: 22/03/08 From: Kota Kembang Member No.: 151.747 |
sebentar lagi ada beasiswa stuned dari Belanda...siap2 aja bro...
|
|
|
|
Jun 15 2008, 02:35 PM
Post
#78
|
|
![]() Youth BlueFame ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 229 Joined: 08/06/08 From: Auckland, NZ Member No.: 178.316 |
kuliah di australia asik dan santai bos..............cari aja info beasiswa sebanyak2nya...Insya Allah berhasil....
|
|
|
|
Jun 24 2008, 03:59 PM
Post
#79
|
|
![]() BlueFame Hotter ![]() ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 330 Joined: 24/04/08 From: Aceh Capital City Member No.: 165.545 |
Kuliah di Australia, keren nggak ya? Wah keren ya….. bisa kuliah di luar negeri? Tunggu dulu sobat…. Memangnya kuliahnya dimana? Kuliah di luar negeri tentunya dambaan menjadi bagi kita semua. Tak terkecuali jika bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi di Australia. Namun, apakah jika kuliah di perguruan tinggi di Australia terus bisa dibilang keren? Jawabnya nggak juga. Pandangan secara umum bahwa semua universitas di Australia bermutu bagus tidak benar. Diantara puluhan perguruan tinggi di Australia hanya beberapa yang memiliki kualitas yang yahuud. Kalau dilihat dari fasilitas di kampus, rata-rata memang mereka jauh lebih maju daripada perguruan tinggi di Indonesia. Sebut saja misalnya fasilitas IT, perpustakaan dan prasarana kuliah, mereka dua tiga langkah lebih maju daripada Indonesia. Namun kita tentunya nggak mau yang biasa-biasa khan. Sekalian kalau mau kuliah di luar negeri kita pastinya juga harus mempertimbangkan kualitas universitasnya. Mengidentifikasi baik buruknya universitas mudah…..lihat saja dari saringan masuknya. Persis sama dengan yang ada di tanah air. Jika mereka mempersyaratkan nilai bahasa (IELTS) dan Indeks Prestasi yang tinggi maka bisa dijamin universitas tersebut mutunya bagus. Jika kita ingin yang terbaik maka mending sekalian basah saja…… maksudnya kita harus konsekwen dengan proses akademis secara ketat dan menuntut kita untuk bekerja extra keras. Namun kita juga harus secara spesifik lagi karena beberapa perguruan tinggi sangat kuat dalam beberapa program studinya, sebut saja misalnya untuk jurusan Economic dan studi Asia Pacific di ANU, Engineering di UNSW, Kedokteran di Melbourne dan UQ, Jurusan law di Melbourne, Agriculture di UQ, dan Bisnis di Monash. Seperti layaknya di tanah air, selain ada universitas yang bagus ada juga perguruan tinggi di sini yang menerima semua lulusan siswa dari sekolah menengah tanpa embel-embel apapun. Perguruan tinggi ini bisa kita masukin meski nilai IELTS kita maupun IP kita kurang bagus, asalkan kita mampu bayar. Untuk universitas yang bagus biasanya mensyaratkan standar masuk yang lebih tinggi. Oleh karenanya para lulusan terbaik dari sekolah menengah masuknya ke perguruan-perguruan tinggi ini. Sekedar untuk pengetahuan kita bersama bahwa perguruan tinggi di Australia yang terkemuka dan memiliki kualitas bagus itu kebetulan tergabung dalam group eight (G8), Suatu istilah yang pada mulanya untuk menyebut group lobby berupa networknya para rektor (vice-chancellor) di beberapa perguruan tinggi pada tahun 1994. Istilah ini kemudian melembaga pada tahun 1999. Nah, biasanya perguruan tinggi yang tergabung dalam G8 inilah yang biasa dapat funding research dari pemerintah maupun lembaga-lembaga donor lainnya. Oleh karena itu wajar saja jika perguruan tinggi di G8 ini memiliki fasilitas research yang luar biasa canggih. Uniknya G8 sealu identik dengan sandstone, kecuali ANU, UNSW dan Monash. Sandstone adalah jenis dinding dari batu pasir berwarna putih dan semi brown yang biasa menghiasi bangunan kampus. Daftar G8 berdasarkan ranking di Australia tahun 2007 (plus tahun berdirinya): Australian National University, 1946 University of Melbourne, 1853 University of Sydney, 1850 University of Queensland, 1909 University of New South Wales, 1949 Monash University, 1958 University of Western Australia, 1911 University of Adelaide, 1874 So bagi yang mau kuliah di luar negeri, pertimbangkan masak-masak daftar di atas. Kalau mau perguruan tinggi yang berkualitas dan anda merasa mampu dari segi akademik dan sanggup menjalani proses yang ketat di dalam maka nggak ada salahnya memilih satu dari delapan di daftar di atas. Keuntungannya yang pasti adalah kita akan direcognize oleh calon employer karena kita kuliah di tempat yang bergengsi tinggi. |
|
|
|
Jun 24 2008, 10:51 PM
Post
#80
|
|
![]() Youth BlueFame ![]() ![]() ![]() Group: Members + Posts: 214 Joined: 27/03/08 From: Burlington - USA Member No.: 154.471 |
menurut info, kuliah di India murah banget dan kualitas lulusannya sangat di akui disini (USA)
|
|
|
|
![]() ![]() |
|
Lo-Fi Version | Time is now: 22nd November 2009 - 03:35 PM |
BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified
BlueFame Part Division
BlueFameStyle |
BlueFame Upload |
BlueFame Radio | BlueFameMail |
Advertise here!