Etika Menggunakan Klakson di AcehKLAKSON merupakan perlengkapan standar sebuah mobil atau motor. Dengan adanya klakson Anda lebih nyaman dalam berkendaraan. Penggunaan klakson erat kaitannya dengan sopan santun di jalan. Cara mengemudi mobil yang ugal-ugalan dan penggantian klakson agar lebih "nyaring", bukan melahirkan simpati, tetapi umpatan.
Selain bunyi, bentuk klakson yang manis menjadi pertimbangan si empunya untuk memasangnya di bagian luar kendaraan, guna menambah keindahan tampilan keseluruhan mobil. Untuk hal ini, klakson tentu saja berubah fungsi, sebagai bagian aksesori. Untuk itu, bunyinya pun bisa beragam. ada yang meniru salak anjing, kokok ayam, sirene, atau bunyi alarm.
Jaman dulu, klakson belum menggunakan sistem elektrik. Bentuknya seperti terompet, dengan pijatan dari karet bulat. Saat karet dipencet, akan menimbulkan tekanan angin, dan melahirkan bunyi, to...et, to...et, seperti digunakan beberapa penjual bakwan.
Mengenai penggunaan klakson, hingga kini memang belum ada aturan tertulis. Namun bagi para pengemudi, ada semacam tata krama dalam menggunakan klakson, agar suasana di jalan raya menjadi lebih nyaman.
Ada orang asing di Aceh, kenalan saya, berkata bahwa bunyi klakson sangat erat kaitannya dengan tingkat moral seseorang. Orang yang sering membunyikannya saat berkendaraan cenderung memiliki sifat binatang. Tidak seperti kita, orang asing ini berani berkata seperti itu :-). Dan memang ada buktinya. Pada saat saya sedang bersepeda motor di kota Banda Aceh, ada orang tua yang sedang berjalan di pinggir jalan, kaget dan bahkan hampir pingsan setelah dikejutkan oleh bunyi klakson yang ditekan seorang pengendara mobil.
Saya langsung mengumpat, dasar supir tak punya etika. Mentang-mentang ia bermobil, kuma karep (seenaknya saja) saya pikir. Di Aceh suara klakson ini hampir setiap menit berbunyi, baik klakson mobil maupun motor. Bunyi klakson ini menjadikan kota Banda Aceh berpolusi suara. Hebatnya lagi, bunyi klakson ini tidak hanya terjadi di siang hari, malam hari pun terdengar. Saya pernah berkunjung ke beberapa kota di Indonesia, namun di Acehlah yang paling sering saya dengar suara klakson.
Rendahnya nilai moral bangsa ini dapat dilihat dari carut-marutnya jalan raya di kota-kota besar di Indonesia. Ya, jalan merupakan etalase dari sikap warga kotanya. Bercampurnya kendaraan motor dengan mobil, saling menyalip, penyalahgunaan trotoar sebagai jalan motor dan tempat berjualan menunjukkan betapa tidak beretikanya warga.
Di negara maju, meskipun jalannya lebar-lebar, setiap pengendara motor harus berjalan di belakang mobil atau menyalip sekalian. Motor-motor ini tidak boleh sejajar dengan mobil seperti yang terjadi di Indonesia, khususnya di Aceh. Sudah jalannya sempit, trotoar jalan dipake pula, tambah semrawut jadinya.
Di luar negeri, Singapura misalnya (kata mertua saya karena beliau pernah ke sana), klakson hanya dibunyikan apabila keadaan sudah terpaksa. Misalnya untuk mengusir binatang yang sedang berada di tengah jalan. Binatang tersebut, kenyataannya hanya kaget sebentar saat mendengar bunyi klakson yang kita pencet dan membiarkan kita lewat. Apakah kita mau disamakan dengan binatang? :-}
Bunyi klakson di Singapura lebih berfungsi sebagai indikator kemarahan supir, atau terkadang juga sebagai alat penegur jika sopir melihat mobil lain melakukan manuver yang membahayakan. Jarangnya klakson berbunyi bukan semata karena lalulintas yang tertib, tapi lebih mungkin karena tangan orang Singapura tidak segatal orang kita yang sebentar-sebentar membunyikan klakson.
Di saat kondisi jalan tidak memungkinkan saling berpapasan, malah pengemudi pada berhenti dan seolah berlomba saling memberi lampu panjang, nge-dim istilah orang Bandung. Arti nge-dim di sini ternyata untuk memberi tahu pengemudi dari arah berlawanan untuk jalan duluan. Dan supir yang telah diberi jalan, cukup melambaikan tangan yang cukup dibalas dengan senyuman. Lalu bagaimana di Aceh? Di Aceh orang berlomba membunyikan klakson minta didahulukan :-). Malah, saat saya berkendara lurus di jalan, pengendara motor dari tikungan nyalip dan mendahului saya, saya kaget dan sedikit membelokkan setir ke arah kanan, untung di samping kanan saya tidak ada kendaraan yang melaju. Kalau ada, entahlah apa yang terjadi. Bangsa kita terutama orang Aceh memang doyan membunyikan klakson. Bangsa yang suka sekali menyuruh manusia lain untuk minggir.
Etika berkendaraan menurut saya lebih penting ketimbang isu-isu khalwat seperti dalam konteks penerapan syariat Islam di Aceh. Saya pikir lebih baik klakson diarahkan untuk mereka yang sedang berkhalwat, untuk para pejabat Aceh yang korupsi, atau para anggota dewan yang tertidur saat sedang sidang, agar mereka terkejut, setidaknya agar kuping mereka sedikit noise. Betul, daripada kita mengagetkan para pejalan kaki atau pengemis di pinggir jalan.
Saran bagi pengguna kendaraan:
1. Klakson tidak dibunyikan pada malam hari. Hal ini wajar, karena dari sinar lampu, sebenarnya orang sudah mengetahui ada mobil akan lewat.
2. Pada siang hari, banyak pejalan yang menyeberang di sembarang tempat sehingga mengganggu pengemudi. Gangguan itu kadang diatasi dengan klakson. Hasilnya, sering melahirkan umpatan. Memang, ada penyeberang yang tidak mengetahui Anda akan lewat. Ketika klakson dibunyikan, si penyeberang kaget, lalu ragu-ragu, maju atau mundur. Keadaan ini sungguh berbahaya, apalagi bila Anda berjalan dalam kecepatan tinggi. Khusus di daerah perumahan, situasi lalu lalang orang yang tak beraturan, membuat Anda harus sering membunyikan klakson.
3. Untuk mendahului mobil lain, cukup bunyikan klakson sekali saja. Dengan berulang kali menekan klakson, justru bisa mengundang kejengkelan pengemudi di depannya. Sikap masa bodoh karena jengkel itu bisa terwujud dengan tidak memberi kesempatan kepada Anda untuk mendahului. Bahkan ada sebagian pengemudi yang karena jengkel, lalu memainkan kemudi ke arah mobil Anda. Bila Anda dan pengemudi di depan sama-sama bertemperamen tinggi, bisa muncul ekses yang lain. Kejadian seperti ini bukan hal aneh dan bisa dijumpai di jalan raya. Maka, agar terhindar perselisihan dan perjalanan lancar, Anda perlu bersabar.
4. Ketika Anda mendapat kesempatan untuk mendahului mobil lain, sebagai rasa terima kasih, saat mobil sejajar, Anda boleh membunyikan klakson "setengah" kali pada bunyi yang lebih lembut. Umumnya, Anda akan mendapat jawaban dengan bunyi klakson juga.
5. Seringkali kita temui pengemudi membunyikan klakson sekali di malam hari, di tempat tertentu. Biasanya ini dihubungkan dengan angkernya suatu tempat, akibat pernah atau sering ada kecelakaan. Diharapkan roh halus menyingkir. Ini bisa dimengerti, karena semua pengemudi menginginkan keselamatan. Namun, kebiasaan ini kadang mengundang pertanyaan, apakah roh halus akan menyingkir bila mendengar klakson? :-)
sumber:
Klik