Update Video News:
Source:Liputan6.com June 11/06/2008
Detik.com 11/06/2008 09.45 WIB
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=h...4171/idkanal/10
QUOTE
Jakarta: Malaysia kembali membuat ulah. Setelah kisruh Sipadan Ligitan dan perairan Ambalat, kini muncul keberadaan helipad (tempat pendaratan Helikopter) di perbatasan Malaysia-Indonesia di Kalimantan Barat. Helipad itu hanya 7 meter jauhnya dari perbatasan.
Keberadaan helipad ini dinilai perjanjian Sosek Malindo 1967. Dalam perjanjian itu, tidak diperbolehkan ada kegiatan kedua negara di sepanjang 2 kilometer dari patok batas kedua wilayah.
"Kita menemukannya sekitar pertengahan April.Ditemukan oleh petugas Taman Nasional Betung Kerihun," ujar Kepala Pusat Informasi Kehutanan Departemen Kehutanan, Masyhud saat dihubungi detik.com, Rabu(11/06/2008).
Masyud mengakui, keberadaan helipad itu memang masih di wilayah Malaysia. Namun dalam perjanjian Sosek Malindo tidak boleh ada kegiatan aktif apapun kedua negara sepanjang 2 kilometer.
"Ini tentunya melanggar perjanjian," kata Masyhud.
Masyhud mengatakan, yang paling meresahkan adalah helipad itu yg diduga milik militer Malaysia. Hal ini berdasarkan penemuan polisi hutan taman nasional betung karuhun (TNBK) yg memang bertugas mengawasi wilayah itu.
Dia mengatakan, saat ini Departemen Kehutanan masih menunggu laporan lebih lanjut dari Kepala TNBK. Dephut juga memerintahkan agar temuan itu dapat direkam dalam foto, dan menandai titik temuan tersebut, sehingga mudah ditelusuri.
Berdasarkan laporan sementara, helipad berjarak 7 meter dari patok batas kedua negara antara Kalimantan dan Serawak. Lokasinya berada di wilayah pehuluan Tanjung Lokang, kecamatan kedamin, kabupaten kapuas hulu. Diperkirakan, pembangunan helipad dilakukan 6 bulan silam. (mar/gah)
Keberadaan helipad ini dinilai perjanjian Sosek Malindo 1967. Dalam perjanjian itu, tidak diperbolehkan ada kegiatan kedua negara di sepanjang 2 kilometer dari patok batas kedua wilayah.
"Kita menemukannya sekitar pertengahan April.Ditemukan oleh petugas Taman Nasional Betung Kerihun," ujar Kepala Pusat Informasi Kehutanan Departemen Kehutanan, Masyhud saat dihubungi detik.com, Rabu(11/06/2008).
Masyud mengakui, keberadaan helipad itu memang masih di wilayah Malaysia. Namun dalam perjanjian Sosek Malindo tidak boleh ada kegiatan aktif apapun kedua negara sepanjang 2 kilometer.
"Ini tentunya melanggar perjanjian," kata Masyhud.
Masyhud mengatakan, yang paling meresahkan adalah helipad itu yg diduga milik militer Malaysia. Hal ini berdasarkan penemuan polisi hutan taman nasional betung karuhun (TNBK) yg memang bertugas mengawasi wilayah itu.
Dia mengatakan, saat ini Departemen Kehutanan masih menunggu laporan lebih lanjut dari Kepala TNBK. Dephut juga memerintahkan agar temuan itu dapat direkam dalam foto, dan menandai titik temuan tersebut, sehingga mudah ditelusuri.
Berdasarkan laporan sementara, helipad berjarak 7 meter dari patok batas kedua negara antara Kalimantan dan Serawak. Lokasinya berada di wilayah pehuluan Tanjung Lokang, kecamatan kedamin, kabupaten kapuas hulu. Diperkirakan, pembangunan helipad dilakukan 6 bulan silam. (mar/gah)
Source:
detik.com 11/06/2008 10.35 WIB
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=h...4231/idkanal/10
QUOTE
Helipad Malaysia diduga Terkait Pencurian Kayu di Kalimantan Barat
Jakarta - Keberadaan helipad Malaysia yang berada 7 meter dari perbatasan dengan Indonesia tak hanya melanggar perjanjian Sosek Malindo. Namun diduga kuat helipad ini terkait dengan aktivitas pencurian kayu dari Kalimantan Barat dengan menggunakan helikopter.
"Informasi yg kita terima 3 tahun belakangan ada aktivitas illegal logging yang menggunakan helikopter. Diduga kuat kayu itu diambil dari Taman Nasional Betung Kerihun di KalBar, " kata Yuyun Kurniawas, Deputi Direktur Yayasan Titian (LSM di Kalbar), saat dihubungi detik.com, Rabu (11//06/2008).
Yyun mengatakan, aktifitas pencurian kayu dengan menggunakan helikppter ini disebut dengan "Tebang Bilon" oleh masyarakat setempat. Kayu ditebang di wilayah RI kemudian diangkut memakai helikopter untuk dipindahkan ke Malaysia.
"Baru setelah di wilayah Malaysia dianggkat menggunakan truk," ujar Yuyun, yang juga aktivis Lembaga Pengkajian Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR) Kalimantan Barat ini.
Yuyun mengakui, untuk membuktikan aktifitas ini memang sulit. Perlu waktu 15 hari perjalanan dari Putusibau, salah satu kota di Kalimantan Barat yg berada di perbatasan Kalimanta Barat-Malaysia."Dari Putusibau perlu 15 hari ke lokasi. Itu dilakukan dengan naik perahu dan berkjalan kaki," ungkap Yuyun.
Kepala perwakilan World Wild Fund for Nature (WWF) Kalimantan Barat, Hemayani Putera, mengatakan keberadan helipad di wilayah Malaysia tersebut patut mendapatkan perhatian lebih, Sebab hak ini terkait dengan pencurian kayu bakar.
Hasil investivigasi WWF belum lama ini, banyak sekali peralatan berat milik Malaysia yang patut diduga sudah masuk ke wilayah Indonesia.
Jakarta - Keberadaan helipad Malaysia yang berada 7 meter dari perbatasan dengan Indonesia tak hanya melanggar perjanjian Sosek Malindo. Namun diduga kuat helipad ini terkait dengan aktivitas pencurian kayu dari Kalimantan Barat dengan menggunakan helikopter.
"Informasi yg kita terima 3 tahun belakangan ada aktivitas illegal logging yang menggunakan helikopter. Diduga kuat kayu itu diambil dari Taman Nasional Betung Kerihun di KalBar, " kata Yuyun Kurniawas, Deputi Direktur Yayasan Titian (LSM di Kalbar), saat dihubungi detik.com, Rabu (11//06/2008).
Yyun mengatakan, aktifitas pencurian kayu dengan menggunakan helikppter ini disebut dengan "Tebang Bilon" oleh masyarakat setempat. Kayu ditebang di wilayah RI kemudian diangkut memakai helikopter untuk dipindahkan ke Malaysia.
"Baru setelah di wilayah Malaysia dianggkat menggunakan truk," ujar Yuyun, yang juga aktivis Lembaga Pengkajian Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR) Kalimantan Barat ini.
Yuyun mengakui, untuk membuktikan aktifitas ini memang sulit. Perlu waktu 15 hari perjalanan dari Putusibau, salah satu kota di Kalimantan Barat yg berada di perbatasan Kalimanta Barat-Malaysia."Dari Putusibau perlu 15 hari ke lokasi. Itu dilakukan dengan naik perahu dan berkjalan kaki," ungkap Yuyun.
Kepala perwakilan World Wild Fund for Nature (WWF) Kalimantan Barat, Hemayani Putera, mengatakan keberadan helipad di wilayah Malaysia tersebut patut mendapatkan perhatian lebih, Sebab hak ini terkait dengan pencurian kayu bakar.
Hasil investivigasi WWF belum lama ini, banyak sekali peralatan berat milik Malaysia yang patut diduga sudah masuk ke wilayah Indonesia.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sipadan-ligitan, ambalat, trus ngaku2 punya batik, ngaku2 punya reog ponorogo, nyiksa TKW, kalau lagi panas, pake bahasa damai kamuflase , "kita kan negara serumpun", ...kaga tahu malu
Ahh, busuk banget dah, kalau mental maling, ya emang susah, bentar lagi keknya Monas juga diaku tu ma Malingsialan,
