Help - Search - Members - Calendar
Full Version: UAV
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Academia > Science and Technology > Human Engineering
jojo8228
Unmanned Aerial Vehicles (UAVs)



Kendaraan Udara Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicles=UAVs) adalah pesawat yang dikendalikan dengan remote atau “self-piloted” (mengendalikan diri sendiri) yang dapat membawa kamera, sensor, peralatan komunikasi atau peralatan lainnya. Mereka digunakan untuk peran pengintaian dan pengumpulan data intelejen sejak 1950an, dan peran lebih menantang juga diharapkan, termasuk misi pertempuran. Sejak 1964 Departemen Pertahanan AS telah mengembangkan 11 UAV berbeda, walaupun karena kesulitan pengembangan, hanya 3 yang akhirnya diproduksi. AL AS telah mempelajari kelayakan dari pengoperasian UAV versi VTOL (Vertical Take-Off and Landing) sejak awal 1960an, “QH-50 Gyrodyne torpedo-delivery drone” merupakan contoh awalnya. Akantetapi, tingginya biaya dan keterbatasan teknologi membuat sistem operasional UAV VTOL terhambat.
Pada awal 1990an DOD mencari UAV untuk memuaskan kebutuhan pengintaian pada kategori Jarak Sangat Dekat, Jarak Dekat atau Daya Tahan. Jarak Sangat Dekat didefinisikan sebagai 50km, Jarak Dekat didefinisikan dengan 200km dan Daya Tahan pada kondisi apapun. Pada akhir 1990, kategori Jarak Sangat Dekat dan Jarak Dekat dikombinasikan, dan kategori Kapal diumumkan. Untuk saat ini, pesawat ini di-kelas-kan pada kategori Daya Tahan dan UAV Taktis.
Pioneer: Dikeluarkan pada awal 1985 sebagai sebuah UAV interim, menghasilkan intelejen imagery untuk komando taktis di daratan dan mempunyai jarak jangkau hingga 185 km. Saat ini sudah tidak berada pada inventaris AD AS, telah dikembalikan ke AL AS pada 1995.
UAV Taktis: Didesain untuk mendukung komando taktis dengan “near-real-time imagery intelligence” yang mempunyai jarak jangkau 200km. Program Outrider Advanced Concept Technology Demonstration (ACTD) dihentikan. Solusi untuk bahan T-UAV (UAV Taktis) dicari melalui kompetisi yang dikontrak pada tahun 1999.
Joint Tactical UAV (Hunter): Dikembangkan untuk angkatan darat dan maritime dengan “near-real-time imagery intelligence” dan jarak jangkau 200km; dapat ditambah menjadi lebih dari 300km dengan menggunakan Hunter UAV lain sebagai relay udara.
Medium Altitude Endurance UAV (Predator): Advanced Concept Technology Demonstration sekarang bertransisi menjadi Low-Rate Initial Production (LRIP). Menghasilkan imagery intelligence untuk memuaskan Joint Task Force dan Theater Commanders sampai jarak 500 mil laut. Sekarang teknologi ini ditransfer ke AU AS.
High Altitude Endurance UAV (Global Hawk): dikeluarkan untuk misi yang membutuhkan long-range deployment and wide-area surveillance (EO/IR and SAR) atau sensor panjang yang mengintai area target. Teknologi ini dikembangkan oleh AU AS.
Tactical Control Station (TCS): TCS adalah software dan jaringan komunikasi yang dibutuhkan untuk mengontrol TUAV, MAE-UAV, dan UAV masa depan yang lain. TCS juga menghasilkan konektivitas dengan sistem C41.
Micro Unmanned Aerial Vehicles (MAV): Program DARPA untuk mengeksplor relevansi militer Micro Air Vehicles untuk operasi masa depan, dan untuk mengembangkan dan mendemonstrasikan teknologi yang dapat menerbangkan pesawat yang sangat kecil (Kurang dari 15cm/6inci pada semua dimensi).



Peace....
jojo8228
Berikut contohnya:

AQM-34N Firebee


Pada pertengahan 1960an, Ryan Aeronautical Co. menjawab kebutuhan untuk sistem pengintaian dan pengumpulan data intelejen tanpa menempatkan anggota pasukan dalam bahaya. Jawaban itu berupa lebih dari 20 variasi berbeda dari model “unmanned subsonic target drone” 147 Firebee. Model 147H (diberi nama AQM-34N) dioperasionalkan dengan unit pengintaian Strategic Air Command pada akhir 1960an. Dengan sebuag bentang sayap yang lebih besard dari Firebee asli, pesawat ini dapat beroperasi di atas 60,000 kaki. Pesawa ini menjadi keluarga Model 147 pertama uang membawa bahan bakar di sayapnya (“wet wings”) yang menghasilkan jarak jangkau hingga 2.400 mil. Beberapa alat elektronik, manuverabilitas, dan sistem observabilitas rendah (seperti stealth) termasuk di dalamnya untuk mengurangi tingkat deteksi dari pesawat interseptor dan misil permukaan-ke-udara. Antara Maret 1967 dan Juli 1971 misi dengan AQM-34N diluncurkan dari pesawat DC-130 dan terbang di bawah “preprogrammed control in and out” pada daerah musuh. Beberapa hilang di China dan ditampilkan dalam foto propaganda saat itu.

SPECIFICATIONS
Span:32 ft.
Length: 30 ft.
Height: 6 ft. 8 in.
Weight: 3,830 lbs. maximum
Armament: None
Engine: J69-T-41A turbojet with 1,920 lbs. thrust
PERFORMANCE
Maximum speed: 420 mph
Range: More than 2,400 miles
Service Ceiling: 65-70,000 ft.

Peace smile.gifsmile.gif
xavios
cool... nice info.. thx bro BigGrin.gif
clarkX
Cooooooolllll!!!!! Nice post.... Keep posting
B_doT InsIde
woooow.......keren amat tuh,
makin canggih aja nih buatan orang
indonesia kapan ya???

jojo8228
Artikel pendek... smile.gifsmile.gif

COMPASS ARROW



Compass Arrow "Ryan-Built" Model Firefly 154 yang merupakan UAv generasi kedua yang pertama, didesain sebagai alat pengintai high-altitude dan detektabilitas-rendah. Pesawat ini dapat terbang dengan ketinggian 78.000 kaki dan menggunakan banyak teknik "stealth". Pesawat ini dapat terbang dengan jarak 2000 mil dan terbang secara otomatis (self-navigated) dengan menggunakan sebuah sistem pandu Doppler Inertial dan komputer on-board. Sebanyak 28 pesawat ini telah dibuat, tetapi setelah adanya pendekatan dari China pada awal 1970 yang mengakhiri penerbangan pengintaian di wilayahnya, pesawat ini tidak jadi dioperasikan.

Peace all.. smile.gifsmile.gif
prawira
Kereen juga untuk spy .....
regtnt
@jojo8228 ak minta tugas yang pernah diemban pesawat spy ini apa aja n kapan terjadi n misinya sukses ga ?????
Thanks
kakekgirang
ehh gw pernah lihat di TV indonesia juga buat UAV lho? ada yg tau ga? dan mungkin picturenya!!
uwid
wah berarti kaya remote kontrol gitu y bro???
keren kali ni,,
kayanya indonesia butuh ni buat dijadiin matamata,,
buat memata-matain malaysia,,,


hehehe
jojo8228
@retnt n kakekgirang... ditunggu ya... maaf nih aku lagi konsen di pesawat militer dulu...
moga nantinya ada info yang bisa diposting... hehehehe
jojo8228
Northrop Grumman / Ryan Aeronautical RQ-4 Global Hawk


(wuihhh ternyata guedeee) smile.gifsmile.gif


Global Hawk adalah pesawat tanpa awak (UAV) yang dikembangkan oleh AU dan AL AS untuk pengumpulan data intelijen dan pengintaian pergerakan dan posisi musuh. Walaupun merupakan salah satu UAV terbesar yang pernah dibuat, tetapi sistem UAV ini beroperasi pada jarak yang lebih jauh dan lebih lama dari UAV sebelumnya sebagai kelebihannya. UAV ini dapat sangat berperan dalam rangka pencarian atau pertempuran terhadap musuh yang susah ditemukan dan selalu bergerak tanpa membahayakan pilot sendiri dalam bahaya.

Walaupun harganya yang terbilang sangat mahal ($123 juta), harapannya dalam perang masa datang, UAV ini dapat dibuat lebih efisien dan lebih aman dengan adanya mata-mata di udara. Global Hawk mempunyai sensor yang dibuat oleh Raytheon, sistem sensor oleh Hughes dan unit ini beroperasi melalui sebuah sateli dengan “data-link”. Koneksi data ini memungkinkan transfer informasi penuh dalam bentuk video dan foto. Seperti UAV modern lain, Global Hawk melacak posisi-nya dengan GPS.



Bersama dengan AU dan AL AS, sistem Global Hawk juga dipertimbangkan akan dipakai oleh sekutu AS termasuk Australia, Kanada dan Korea Selatan. ((wah Australia nih... Jangan-jangan buat mata-matain kitee.... sad.gifsad.gif )). UAV ini juga akan dijual ke Eropa dengan nama EuroHawk. Model ini akan dilengkapi dengan alat intai EADS. UAV ini telah membuat sejarah aviasi dengan terbang menyeberangi Samudera Pasifik dari AS sampai Australia.

Specifications:
Model: Northrop Grumman / Ryan Aeronautical RQ-4 Global Hawk
Length: 43.96 ft; 13.40 m
Width: 115.81 ft; 35.30 m
Height: 15.09 ft; 4.60 m
Engine(s): 1 x Allison Rolls Royce AE3007H turbofan engine developing 7,050lbs of thrust.
Empty Weight: 8,488 lbs; 3,850 kg
MTOW: 25,600 lbs; 11,612 kg
Max Speed: 404 mph; 650 km/h; 351 kts
Max Range: 13,809 miles; 22,224 km
Ceiling: 65,000 ft | 19,812 m; 12.3 miles
Climb Rate: Not Available
Hardpoint: 0
Armament Payload of 2,000 lbs.
Crew: None
Operators the United States of America



ant_
wah spy for what"
semoga aja bermanfaat wat kebaikan umat di duniaya
Indonesia ayo jangan mau ketinggalan donk.......(
jojo8228
@regtnt.... UAV berikut dipakai AS dalam invasi ke Irak.. smile.gifsmile.gif

Boeing ScanEagle



ScanEagle adalah sebuah UAV produksi bersama oleh Boeing dan Insitu Group. Secara keseluruhan, program ini berdasarkan UAV SeaScan milik Institu yang dikembangkan sistem penerbangannya oleh Boeing. ScanEagle sudah melakukan lebih dari 10.000 jam terbang. ScanEagle dilengkapi dengan alat pengintaian dan percari target semua cuaca dengan kemampuan jelajah luar biasa.

ScanEagle dapat dilengkapi dengan kamera infrared ataupun kamera tipe elektro-optik. Situasi lingkungan diperlihatkan dan dilaporkan secara real time dan UAV ini dapat terbang selama lebih dari 24 jam. Peluncuran UAV ini dilakukan secara otomatis dengan sebuah sistem ketapel. Pendaratan dilakukan dengan pendekatan “skyhook”- dalam prakteknya ScanEagle “menangkap” sebuah tali yang terpasang pada tiang setinggi 50kaki dengan posisi tertentu.

Penerbangan pertama ScanEagle dilakukan pada 2002 dan sistem ini semakin kuat. Saat ini UAV ini dipakai Marinir dan AL AS sebagai pendukung operasi di Irak.

Specifications:
Length: 3.94 ft ; 1.20 m
Width : 10.01 ft ; 3.05 m
Engine(s): 1 x Propeller
Ceiling: 16,001 ft ; 4,877 m ; 3.0 miles
Climb Rate: Not Available
Hardpoints: 0
Armament: None.
Crew: None
Operators: the United States of America


jojo8228
General Atomics MQ-9 Reaper


MQ-9 "Reaper"("M" = multiperan; "Q" = Pesawat tanpa awak; "9" = kode seri) menawarkan AU AS senjata udara tanpa awak level tinggi yang mampu melakukan penyerangan instan dan akurat. Dari luar, UAV ini mirip dengan UAV seri Predator, tetapi lebih besar, mempunyai tenaga lebih besar dan mempunyai kemampuan pengiriman amunisi. Sistem MQ-9 sangat portabel dan dapat mendarat pada medan yang sulit seperti halnya pesawat Lockheed C-130.



MQ-9 diresmikan pada 2004 dan mempunyai peran penting bagi AS dalam usaha "War on Terrorism". Reaper mampu membawa dan mengirimkan amunisi dari dua hardpoint eksternal yang dapat berisi misil anti-tank Hellfire dan bom seri JDAM GBU-12 dan GBU-38. Pada intinya, Reaper difungsikan sebagai “huter/killer”, mempunyai kemampuan setara dalam misi pengintaian di stratosfer dan dalam misi penyerangan pada target yang dibutuhkan.



Pengoperasian MQ-9 dilakukan dengan menggunakan peralatan darat dan stasiun perlengkapannya. Seorang yang terkualifikasi menerbangkan Reaper dengan menggunakan kontrol joystik dengan bantuan kamera-hidung warna dan sistem pelaporan penerbangan lain yang dimiliki Reaper. Sampai saat ini ada 9 MQ-9 Reaper yang beroperasi untu AU AS.


Specifications: General Atomics MQ-9 Reaper

Dimensions:
Length: 36.09ft (11.00m)
Width: 65.94ft (20.10m)
Height: 36.09ft (11.00m)

Performance:
Max Speed: 230mph (370kmh; 200kts)
Max Range: 1,878miles (3,022km)
Climb Rate: Not Available
Ceiling: 50,000ft (15,240m; 9.5miles)

Structure:
Crew: 0
Hardpoints: 4
Empty Weight: 3,695lbs (1,676kg)
MTOW: 10,494lbs (4,760kg)

Power:
Engine(s): 1 x Honeywell TPE331-10GD turboprop engine generating 900shp.

Weapons Suite:
Mission-specific ordnance can include any combination of the following:
2 x AGM-114 Hellfire anti-tank missiles
2 x GBU-12 Joint Direct Attack Munitions (JDAM)
2 x GBU-38 Joint Direct Attack Munitions (JDAM)


jojo8228
IAI / TRW RQ-5 Hunter


Hunter adalah UAV besar yang diperkenalkan pertama kali pada 1996 dengan jumlah terbatas dengan angkatan bersenjata AS. UAV ini menunjukkan performa yang luar biasa dalam Operasi Sekutu di Kosovo di mana penggambaran lingkungan dan komunikasi secara real time miliknya memberikan peran yang vital. UAV ini didesain oleh Israel dipergunakan oleh militer AS, Belgia dan Perancis.



Desain Hunter mempunyai sebuah aransemen “twin-boom” unik dan ujung yang lurus membuatnya mirip dengan pesawat observasi dua-awak di era Vietnam Rockwell OV-10 Bronco yang dibuat pada beberapa dekade sebelumnya. Desain unik lainnya adalah penggunaan mesin kembar, satu di pasang di bagian depan dan yang satu di belakang bodi pesawat yang beroperasi dalam lingkungan “push-pull”, mengingatkan pada desain pesawat yang gagal pada era PD II. Desain sayapnya monoplane lurus dan terpasang pada bagian belakang-tengah bodi pesawat.”Twin-boom” berhubungan di bagian belakang dengan sebuah plane horizontal dan mempunyai sirip ekor vertikal kembar. Bagian bawah pesawat (undercarriage) terpasang secara statis.

Hunter lahir karena kebutuhan angkatan bersenjata AS dalam program UAV gabungan pada akhir 1980an. TRW dan Israeli Air Industries ditunjuk untuk pembuatan desain dan produksi dalam jumlah terbatas untuk pengembangan operasional yang dimulai dengan 7 UAV. Seperti halnya UAV sebelumnya, Hunter awalnya diperkenalkan sebagai UAV observasi dan pengintaian yang menghasilkan penggambaran lingkungan secara real-time, pencarian target, penyesuaian artileri, dan survey area pada medan perang modern. Tetapi kemudaian dikembangkan untuk misi yang lebih ofensif.

Hunter yang relatif berukuran kecil dan dibuat dengan compang-camping dapat beroperasi pada permukaan aspal atau semi-aspal. Rocket assistance (RATO) dapat dipakai untuk kemampuan short take-off and landing jika dibutuhkan. Tenaga standarnya dihasilkan dari mesin kembar Moto-Guzzi bertenaga 60 hp. Pendaratan juga dapat dilakukan dengan kabel-penangkap. Fitur yang dimiliki oleh Hunter termasuk sebuah GPS, FLIR inframerah menghadap-depan, pelacak laser, komunikasi UHF/VHF dan countermeasures elektronik. Operasi UAV ini dilakukan dengan GCS-3000 Ground Control Station (GCS) yang berada di daratan, dioperasikan oleh dua operator, satu untuk mengontrol penerbangan dan yang lain mengontrol fungsi sistem lain (payload system). Sebuah Remote Video Terminal (RVT) dapat beroperasi secara independen dari GCS atau pun melalui sebuah direct link up.

Hunter “yang diperbesar” didesain agar menghasilkan ketinggian lebih, enduransi lebih dari konsep Hunter awal. Hunter versi ini dapat terbang hingga 20.000 kaki, mempunyai bentang sayap yang dua kali lebih lebar, dan jaraknya yang bertambah. B-Hunter mempunyai sistem pendaratan otomatis. B-Hunter dioperasikan oleh Belgia yang membeli 6 unit beserta 2 GCS-nya pada 1998.

Hunter telah dioperasikan pada krisis Macedonia/Kosovo, di mana satu di antaranya hilang karena tertembak musuh. Walaupun diproduksi dalam jumlah terbatas, Hunter dipergunakan oleh AS di perbatasan bagian selatan dengan Meksiko pada 2004.

Specifications: IAI / TRW RQ-5A Hunter

Dimensions:
Length: 22.31ft (6.80m)
Width: 28.87ft (8.80m)
Height: 5.58ft (1.70m)

Performance:
Max Speed: 127mph (204kmh; 110kts)
Max Range: 162miles (260km)
Climb Rate: Not Available
Ceiling: 15,000ft (4,572m; 2.8miles)

Structure:
Crew: 2
Hardpoints: 0
Empty Weight: 0lbs (0kg)
MTOW: 1,603lbs (727kg)

Power:
Engine(s): 2 x Moto-Guzzi 4 stroke, 2-cylinder pusher-puller gasoline engines of 64hp each.

Weapons Suite:
Payload of up 200lbs consisting of observation, communications and countermeasures equipment.
1 x GBU-44/B "Viper Strike" munition (MQ-5A/B)

Operators:
France, Belgium, Philippines and the United States of America.

Variants:
Hunter - Original UAV Design
Extended Hunter - increased sized and capabilities over original Hunter design.
RQ-5A - US Military UAV Designation
B-Hunter - Belgium Hunter UAV produced by IAI; incorporated automatic landing and take-off (ATLND) system.
MQ-5A/B - Armed Version with Northrop Grumman GBU-44/B "Viper Strike" munition.



Peace All smile.gifsmile.gif
jojo8228
IAI RQ-2 Pioneer

Designation: IAI RQ-2 Pioneer
Classification Type: Reconnaissance, Surveillance, and Targeting Aquisition Unmanned Aerial Vehicle
Contractor: AAI Corporation - USA / Pioneer UAVs, Incorporated / Israel Aircraft Industries (IAI) - Israel
Country of Origin: Israel
Initial Year of Service: 1986
Number Built: 20



Seri UAV RQ-2 Pioneer merupakan salah satu UAV pertama yang beroperasi untuk militer AS. Dalam bentuk awalnya, UAV ini melayani kapal perang dengan spotting artileri, tetapi kemudian dirubah perannya untuk observasi udara pada medan perang. Walaupun tidak secepat dan sekuat UAV generasi baru, Pioneer menjadi dasar pembuatan UAV lain bagi AS.

Desain RQ-2 mempunyai bodi yang mirip dengan pesawat terbang dengan peralatan terpasang di depan dan satu mesin piston gasoline Sachs 2-stroke, 2-cylinder menghasilkan 26 tenaga kuda. Sayapnya terpasang tinggi dan berada di bagian belakang bodi pesawat dengan “twin-boom” memanjang ke arah belakang yang terhubung dengan papan horizontal dan sirip vertikal kembar. Bagian bawah UAV ini dipasang secara statis.



Pioneer dikembangkan berdasarkan perjanjian bersama antara Israel Aircraft Industries (IAI) dan AAI Corporation. UAV ini dirancang untuk melakukan berbagai macam misi suvey dan pengintaian dan dapat diluncurkan melalui ketapel maupun landasan pacu (runway) di daratan dan dengan ketapel maupun roket di lautan. Sedangkan pendaratannya dilakukan dengan kait atau jaring penangkap. Lama penerbangan bervariasi tergantung pada beban yang dibawa, tetapi beberapa jam penerbangan dapat dilakukannya. Kekuatan Pioneer terletak pada kemampuannya untuk mengirimkan informasi real-time melalui video melalui sebuah line-of-sight (LOS) data link.

UAV Pioneer pernah beroperasi Perang Teluk Persia pada 1991, Somalia, Kosovo dan Irakdi bawah kendali Angkatan Bersenjata AS. UAV ini juga diketahui beroperasi untuk Israel dan Singapura.

Specifications: IAI RQ-2 Pioneer

Dimensions:
Length: 13.12ft (4.00m)
Width: 17.06ft (5.20m)
Height: 3.28ft (1.00m)

Performance:
Max Speed: 124mph (200kmh; 108kts)
Max Range: 115miles (185km)
Climb Rate: Not Available
Ceiling: 15,092ft (4,600m; 2.9miles)

Structure:
Crew (Controller): 2
Hardpoints: 0
Empty Weight: 0lbs (0kg)
MTOW: 452lbs (205kg)

Power:
Engine(s): 1 x Sachs 2-stroke, 2-cylinder gasoline piston engine developing 26hp.



Peace smile.gifsmile.gifsmile.gif
jojo8228
Bombardier CL-327 "Guardian"


CL-327 “Guardian” adalah pengembangan dari CL-227 “Sentinel”. Sentinel berpartisipasi dalam program MAVUS AL pada pertengahan 1990an, dengan beberapa demonstrasi di laut, mendarat di USS Vandegrift dan membuat beberapa pendekatan otomatis. Sentinel yang dimodifikasi, yang dikenal dengan “Puma”, diusulkan kepada pihak militer AS untuk program TUAV pada 1996.



Guardian mulai diproduksi terbatas pada 1996, satu di antaranya sekarang beroperasi untuk Royal Australian Army. Guardian adalah salah satu dari tiga UAV yang dipilih untuk berpartisipasi dalam program demonstrasi UAV VTOL (Vertical Take Off Landing) Angkatan Laut AS pada 1998. Lebih dari 50 jam penerbangan telah dilakukan, walaupun terjadi kecelakaan pada Juni 1998 ketika tangki bahan bakarnya terpisah dari pesawat yang menyebabkan pesawat kekurangan bahan bakar dan akhirnya hilang. Beberapa masalah terjadi saat pengembangannya, menyebabkan penundaan pengujian di atas kapal pada 1999. Karena dianggap tidak memenuhi spesifikasi, akhirnya Guardian dikeluarkan dari kompetisi VTUAV AL pada September 1999.

CL-327 “Guardian” mempunyai sebuah mesin turboshaft Williams WTS117-5 yang menghasilkan 125 shp, yang memutar rotor “counter-rotating” 3,96m. Berat Take Off kotor-nya adalah 350 kg, dengan berat kosong 150kg. Daya tahan terbang (untuk sekali terbang) adalah 6,25 jam, dan kecepatan maksimumnya adalah 155 km/jam.



CL-327 Specification

Country of Origin: Canada
Missions: Surveillance; Reconnaissance; Communications relay; Environmental inspection; Border patrol; Drug enforcement operations; Target acquisition / designation; Battle damage assessment; EW platform

Engine: 1 Williams International WTS-125 turboshaft 125 shp flat rated at 100 shp
Height: 6 ft 0 in 1.84 m
Rotor diameter: 13 ft 1 in 4.00 m
Gross takeoff mass: 770 lbs. 350 kg
Empty weight: (no payload, no fuel) 330 lbs. 150 kg
Payload carrying capacity: 220 lbs. 100 kg
Maximum endurance: 6.25 hours
Time on station at 100 km: 4.75 hours
Maximum speed: 157 km/h / 85 kts
Climb rate: 7.6 m/sec / 1,500 ft/min
Ceiling: 5,500 m / 18,000 ft

Sensor: Combined EO/IR; Communications relay; Active ESM payload; Synthetic Aperture Radar (SAR)

Datalink: Primary (C-Band), Directional, Omni-directional; Back-up (L-Band), Omni-directional, used for launch & recovery

Guidance and navigation: GPS and inertial; Automatic flight patterns; Autonomous flight
Reversionary modes; Waypoint navigation; Automatic target tracking

Image Exploitation: Geo-location; Target location error <60 m (GPS accuracy dependent); Freeze, pan, rotate images; Automatic target tracking

Peace All smile.gifsmile.gif
jojo8228
SAIC/ATI Vigilante





Ikut berpartisipasi dalam demonstrasi VTOL UAV AL pada 1998, Vigilante dimulai sebagai optionally piloted vehicle (OPV) yang dapat diterbangkan dengan tiga mode, yaitu diawaki, remote pilot atau sistem kontrol misi/autopilot pintar. Dikembangkan secara bersama oleh SAIC (Science Applications International Corporation) dan ATI (Advanced Technologies Inc.), Vigilante didasarkan pada desain helikopter ekperimental Ultrasport Model 496 (dikembangkan oleh divisi American Sportscopter milik ATI), dua tempat duduk dengan sebuah mesin Hirth 95hp yang mampu mengangkut beban 260 kg. Pada awalnya, pesawat ini dibuat untuk Ballistic Missile Defense Organization (BMDO) dan Jet Propulsion Laboratory (JPL) yang menghasilkan pesawat tanpa awak stabil untuk memonitor pengujian misil anti-balistik. Diberi kode Vigilante 496, setelah dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan AL.

Karena banyaknya masalah kendali penerbangan pada Vigilante 496 di tahun 1998, ATI dan SAIC melakukan pengembangan pada UAV ini dengan kode baru Vigilante 500, model dengan kendali penerbangan yang disempurnakan, dengan bodi yang lebih kecil untuk mengurangi “drag” (gaya seret), perbaikan efisiensi dan untuk mengurangi cross section pada radar. Mesin berbehan bakar besar yang dibutuhkan AL juga sedang direncanakan, dan pesawat ini diberi nama ulang menjadi Vigilante 600. Vigilante diharapkan mempunyai ketahanan terbang selama 16 jam, dengan radius operasi 925 km dan kecepatan maksimal 250 km/jam. SAIC akhirnya memutuskan untuk tidak menandatangani proposal untuk kompetisi VTUAV karena jumlah kontrak yang terlalu kecil. Akan tetapi Vigilante akan digunakan sebagai pesawat demonstrasi terbang NASA untuk menguji penerbangan helikopter “swashplateless" dan memperoleh penghargaan dalam program Revolutionary Concepts (REVCON).



Peace All smile.gifsmile.gif
jojo8228
AQM-34L COMPASS BIN [FIREBEE II]




Drone intai AQM-34L dikembangkan dari drone target subsonic bermesin jet BQM-34A yang diproduksi pada 1960. Pesawat ini adalah seri remotely piloted vehicles (RPV) yang digunakan untuk pengintaian selama Perang Vietnam. Ryan memodifikasi Firebee standar agar dapat terbang secara otomatis, ter-pre-program dan mampu melakukan misi pengintaian jarak jauh. Dua puluh delapan varian dengan tujuan spesifik telah dikembangkan untuk mengumpulkan informasi inteligen fotografis, inframerah dan elektronik; untuk membawa peralatan electronic countermeasures dan berperan sebagai decoy untuk menyelidiki pertahanan musuh.

AQM-34L diluncurkan dan dikontrol dari pesawat direktor DC-130 dan terbang pada ketinggian rendah untuk memfoto daerah Vietnam Utara. Setelah misi selesai, UAV ini diarahkan ke tempat aman dan didaratkan dengan parasut. Selama konflik Vietnam, lebih dari seribu UAV milik Ryan diluncurkan dan membuat 3,435 misi dengan jarak jangkau total 1.400 nm. Misi-misi-nya didukung oleh para teknisi dan spesialis Ryan.

SPECIFICATIONS
Span: 12 ft. 11 in.
Length: 22 ft. 11 in.
Height: 6 ft. 7 in.
Weight: 2,062 lbs. loaded
Armament: None
Engine: Continental J69-T-29 of 1,700 lbs. thrust

PERFORMANCE
Maximum speed: 580 mph.
Stalling speed: 203 mph.
Range: 600 miles
Service Ceiling: 51,300 ft.



Peace all smile.gifsmile.gif
jojo8228
COMPASS COPE - YQM-94A/YQM-96A



COMPASS COPE adalah kompetisi AU untuk pengembangan remotely piloted vehicle (RPV) altitude-tinggi, jarak-jauh, yang didesain untuk pengintaian fotografis dan misi survey elektronik enduransi-panjang. Dikendalikan dari daratan, RPV menerima sinyal kendali melalui jalur radio. Sebuah TV dan peralatan elektronik lain yang ada di Compass Cope mengirimkan data penerbangan kembali kepada pilot yang berada di darat. Tidak seperti kebanyakan RPV, yang diluncurkan dari darat atau udara dan di”tangkap” dari udara, Compass Cope didesain untuk take-off dan mendarat dari landasan konvensional.

YQM-96A R-Tern (Model 235) Compass Cope-R merupakan pesawat riset jarak-jauh, altitude-tinggi Teledyne-Ryan yang didesain untuk pengintaian enduransi tinggi. UAV ini take-off dan mendarat di landasan konvensional. Hanya dua yang dibuat. Satu membuat rekor lama penerbangan pada 1974 selama 28 jam 11 menit untuk penerbangan tanpa awak dan tanpa pengisian bahan bakar ulang di udara.

Boeing Aerospace Co. membuat B-Gull YQM-94A pada 1972 untuk kompetisi “fly-off” dengan Teledyne-Ryan YQM-96A yang didesain agar sama spesifikasinya. Purwarupa pertama YQM-94A membuat penerbangan pertamanya pada Juni 1973, tetapi hancur dalam kecelakaan 4 Agustus 1973. Purwarupa kedua akhirnya dibuat dan terbang pertama kali pada 2 November 1974. Test selanjutnya termasuk keberhasilan penerbangan hingga 17 jam 24 menit pada ketinggian lebih dari 55.000 kaki. Setelah AU AS memutuskan untuk tidak membeli versi produksinya, YQM-94A yang masih ada dipensiunkan dan disimpan di Museum AU AS pada September 1979.




SPECIFICATIONS
Span: 90 ft.
Length: 40 ft. (including nose probe)
Height: 12 ft. 8 in.
Weight: 14,400 lbs. max.
Armament: None
Engine: One General Electric J97-GE-100 of 5,270 lbs. thrust
Crew: None
PERFORMANCE
Maximum speed: 390 mph.
Cruising speed: 330 mph.
Endurance: Over 24 hrs.
Range: 9,000 miles
Service Ceiling: Over 55,000 ft.

Peace All smile.gifsmile.gif
kira_yamato
nice post bro, terusin ya.... BigGrin.gif
jojo8228
Lanjuut, tapi maaf nih, info-infonya semakin minim n susah carinya.
Tapi tak usahakan cari info selengkap-lengkapnya smile.gifsmile.gif


AQM-34A COMPASS DAWN [FIREBEE I]


Drone intai AQM-34A dikembangkan dari drone intai target bertenaga jet BQM-34A (awalnya bernama Q-2-C) yang pertama kali diproduksi pada 1960. Pesawat ini merupakan seri pesawat yang dikendalikan dengan remote kontrol (RPV) yang digunakan untuk pengintaian selama Perang Vietnam.



Peace All Peace.gifPeace.gifPeace.gifPeace.gif
jojo8228
Condor





Condor buatan Boeing adalah pesawat yeng beroperasi dengan kendali jarak jauh bermesin ganda, mempunyai sayap yang lebih lebar (200 kaki) dari Boeing 747 dan dapat beroperasi sampai di atas ketinggian 65.000 kaki selama beberapa hari. Condor mencapai ketinggian maksimal 67.028 kaki pada tahun 1988. Ketinggian ini adalah rekor ketinggian untuk pesawat baling-baling yang tidak terpecahkan hingga 1997, ketika UAV Pathfinder milik NASA mencapai ketinggian 67.350 kaki. Biaya pembuatan Condor mencapai sekitar $20 juta. Tetapi dengan kemampuan terbang kada ketinggian dan lama waktu terbang seperti itu, UAV ini mempunyai jarak jangkau global, dan dapat digunakan untuk melakukan misi survey militer hingga pengiriman obat.

Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) mendukung uji terbang Condor dalam konfigurasi militer. Konsumen potensial melihat UAV ini sebagai satelit murah dengan waktu terbang lama. Dengan $20 juta, Condor dapat menjadi sistem satelit suatu negara yang murah.



Peace All
jojo8228
RQ-3A DarkStar Tier III Minus




UAV Tier III Minus, yang lebih deikenal dengan julukan DarkStar, adalah satu dati dua UAV altitude dan enduransi tinggi yang sedang dikembangkan untuk DARO (Defense Airborne Reconnaissance Office) oleh Advanced Research Projects Agency (ARPA). Departemen Pertahanan AS membatalkan progran UAV DarkStar pada Februari 1999 karena pemotongan anggaran. Diberi pilihan antara stealth atau jarak, AU AS lebih memilih Global Hawk (jarak) dari pada Darkstar (stealth).

Program Tier III Minus adalah program pertama yang dilakukan di bawah "Section 845 Authority". Otoritas ini melancarkan jalan kolaborasi antara industri-pemerintah yang sebelumnya belum pernah dilakukan dengan mengesampingkan peraturan pengadaan/procurement Dewan Pertahanan. Tier Three Dark Star datang dengan spesifikasi dalam satu halaman yang menunjukkan kehebatan altitude, enduransi dan penjejakan (stealth) untuk dengan biaya $10 juta (tahun fiskal 1994) untuk 11-20 unit.

Sistem DarkStar adalaj UAV dengan altitude dan enduransi tinggi yang dikembangkan untuk pengintaian pada area dengan pertahanan ketat. Secara fisik, bentang sayapnya sedikit lebih lebar dari setengah bentang sayap Global Hawk dan panjangnya hanya sepertiganya. Stasiun operator daratnya dikembangkan oleh Raytheon/E-Systems yang mengkombinasikan perencanaan misi, komando dan kontrol, komunikasi dan kontrol kualitas penggambaran area ke dalam sebuah dua stasiun yang dapat berpindah tempat. Dikembangkan tingkat stealth tinggi, tujuan operasional DarkStar adalah agar dapat berhasil dan selamat dalam melakukan penetrasi ke wilayah dengan pengamanan ketat. Melengkapi Tier II Minus, Tier II Plus akan dikembangkan untuk UAV jarak jauh dalam operasi pengintaian dengan tingkat pengamanan rendah-medium. Kedua UAV ini dapat lepas landas, terbang dan mendarat secara otomatis penuh, dan dapat diganti misinya secara dinamis selama dalam penerbangan. Tier II Minus dapat beroperasi hingga 500 mil laut dari tempat lepas landas dan dapat terbang selama 8 jam dengan ketinggian 45.000 kaki, dengan membawa beban sensor radar bidik kamera sitetis atau elektro-optik. DarkStar dapat mengangkut beban 1.000 pound.





Sistem sensornya mirip dengan Global Hawk, kecuali lebih sedikit bandwith-nya karena kebutuhan jaringan komunikasi dalam jarak yang lebih pendek. Sebagai tambahan DarkStar dapat membawa beban radar atau EO, tidak seperti Global Hawk yang mampu membawa keduanya sekaligus.

Sebuah team dari Lockheed/Boeing memimpin pengembangan sistem Tier III Minus. Setiap perusahan bertanggung jawab terhadap 50 persen program. Boeing Military Aircraft Division, Seattle, bertanggung jawab untuk pengembangan dan uji sayap dan subsistem sayap. Lockheed Martin Skunk Works, Palmdale, bertanggung jawab pada desain dan pengembangan bodi pesawat dan subsistemnya, perakitan akhir, integrasi dan uji sistem. Sebuah mesin turbo-fan, yang disediakan oleh Williams International, menghasilkan tenaga untuk UAV ini.

DarkStar melakukan penerbangan pertamanya pada Maret 1996. Pada penerbangan kedua terjadi kecelakaan karena kesalahan modelling aerodinamis. Pada 22 Desember 1996, Wakil Menteri Pertahanan untuk Akuisisi dan Teknologi, Paul G Kaminski, menyetujui revisi terhadap program UAV DarkStar. Revisi program ini merupakan hasil dari review independen atas kecelakaan yang terjadi tersebut.




Kalau dilihat dari bentuknya..... jangan-jangan ini adalah salah satu dari "UFO" ya....
Yah siapa tau, teknologi manusia mungkin sebenarnya sudah seperti "UFO" hanya saja masih dirahasiakan oleh pihak-pihak tertentu.

Peace All smile.gifsmile.gif
jojo8228
Eagle Eye UAV




UAV Bell Eagle Eye mempunyai penampilan seperti pesawat konvensional pada umumnya dengan rotor di setiap ujung sayapnya yang memungkinkan manuver naik atau turun dan melayang. Bell Helicopter Textron Incorporation (BHTI) mulai terlibat dalam program UAV dengan membuat gorong-gorong angin untuk model V-22, menggunakan suku cadang helikopternya seperti mesin, as gardan, gear box dll, dan membuat UAV rotor miring Eagle Eye.

Eagle Eye mempunyai bentang sayap 15.2 kaki, panjang 17.9 kaki dan tinggi 5.7 kaki, dengan berat 2.000 pound (tergantung beban yang dibawa). Uji terbang pertama (hanya melayang) dilakukan di fasilitas BHTI di Dallas, Texas, pada 1992.

Setelah berhasil dalam uji terbang pertama (melayang), team pemerintah dan kontraktor pindah ke Yuma Proving Grounds (YPG) untuk uji terbang lanjut di kuartal ketiga 1993. Uji terbang tersebut berhasil dan Eagle Eye terbang dengan mode helikopter, diubah melalui mode transisi ke mode pesawat. 35 penerbangan telah dilakukan dengan total lama terbang 15 jam. Kecepatan maksimal yang dapat dicapai adalah 159 knots pada ketinggian 1.550 kaki di atas rata-rata permukaan laut.

Pemerintah tidak lagi membutuhkan UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL) dan kemudian membatalkan perjanjian seluruh demonstrasi/pengambangan UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL). BHTI melanjutkan pengembangan Eagle Eye bersama dengan R&D.

Pada musim semi 1998, pemerintah kembali menginginkan demonstrasi UAV VTOL dan mengontrak BHTI untuk mendemonstrasikan kualitas dan performa penerbangan Eagle Eye. Demonstrasi ini dilakukan dalam dua fase. Fase Pertama berupa demonstrasi penerbangan dengan landasan terbang darat dan Fase Kedua berlandasan laut (kapal laut). Fase kedua berhasil dilaksanakan pada April 1998 di Yuma Proving Ground.. UAV ini terbang lebih dari 43 kali dengan 55.5 jam terbang dan berhasil mencapai kecepatan 200 knots, dengan ketinggian 14.600 kaki. Fase Kedua dilaksanakan pada 1999 dan dilakukan di sebuah kapal perang kecil. Purwarupa pertama hancur dalam sebuah kecelakaan, tetapi purwarupa kedua berhasil melalui program uji ini.

Keberhasilan dalam program uji ini membuat UAV ini masuk dalam program “Deepwater” pada 2002 dan pembuatan UAV dengan ukuran sebenarnya, dan disebut dengan TR918, dengan mesin turboshaft Pratt & Whitney Canada P200/55.

Bell telah mempromosikan Eagle Eye selama satu dekade untuk mendapatkan pembeli, dan pada musim panas 2002 penjaga pantai AS memesan UAV ini sebagai bagian program Deepwater.

AL dan Korps Marinir AS juga menunjukkan ketertarikan dan beberapa dari negara lain. Di musim panas 2004, Bell berhasil membuat hubungan dengan Sagem di Perancis dan Rheinmetall Defense Electronics di Jerman untuk menjual varian Eagle Eye di Eropa. Bell akan menyediakan suku cadang mentahnya, sementara partner di Eropa akan menyediakan “payload” dan suku cadang lain sesuai dengan kebutuhan konsumen, dan kemudian Bell akan melakukan integrasi sistem.



Specifications
Manufacturer: Bell Helicopter - Textron, Texas
AV Type: Tilt Rotor
Length: 17.9/5.46 (ft/m)
Height: 5.7/1.73 (ft/m)
Wingspan: 15.2/4.63 (ft/m)
Rotospan (diameter): 9.5/2.90 (ft/m)
Take-Off Gross Weight: 2250/1020 (lbs/kg)
Empty Weight: 1300/590 (lbs/kg)
Fuel Weight: 750/340 (lbs/kg)
Payload Weight: 200/90 (lbs/kg)
Speed (kts): Max 200+, Cruise 0-200
Altitude: 20,000/6,100 (ft/m)
Endurance: 8 hours
Radius of Operation: 110/200 LOS (nm/km)
Engine: Allison 250-C20 GT 420 shp
Fuel: Heavy.JP
Landing Gear: Wheeled/Retractable
Flight Control: Automated/Dual Redundant
Take Off/Landing: VTOL/STOL
AV Data Link(s): S-Band/UHF (TCDL future)
Payload: FLIR - EO/IR - SAR

Peace All smile.gifsmile.gif
Elite_Cadre
Wah sama nih kyk di Battlefield 2 UAV dibuat untuk ngelacak posisi dan jenis musuh

btw keep posting
san_andreas
QUOTE (B_doT InsIde @ Jun 12 2008, 03:31 PM) *
woooow.......keren amat tuh,
makin canggih aja nih buatan orang
indonesia kapan ya???


sebagai informasi aja di indonesia sudah ada pengemabangannya, dan ini lagi di kerjakan. terus tambahan bahwa lead programer uav di us army dulu adalah orang indonesia lho lulusan dari Institut ternama diindonesia jadi jangan kuatir indonesia bisa kok cuma tinggal dukungan pemerintah saja


salam
Mr Yoe
keren bro, coba gw punya mainan kayak gini.. haha
jojo8228
BQM-147A Exdrone
Dragon Drone






Exdrone adalah UAV intai dengan biaya operasional rendah yang dirancang untuk mendukung pasukan resimen dan komando brigade. UAV ini memiliki platform sayap a delta landasan dengan panjang 5 kaki dan memiliki lebar sayap 8 kaki. UAV ini memiliki satu mesin berukuran kecil berpendingin-udara dua-siklus satu-silinder dengan propeler. Sistem kontrol penerbangannya terdiri dari penerima uplink UHF yang terhubung ke Global Positioning System (GPS) berbasis AutoPilot. AutoPilot merupakan sistem yang dikotrol oleh microprocessor 16-bit yang mampu mengarahkan pesawat hingga 5-tujuan yang diprogram sebelumnya. UAV ini distabilkan giro dan mampu terbang secara terprogram mandiri. UAV ini memakai gelombang mikro untuk mengirimkan informasi ke stasiun kontrol permukaan.

Ketika bertugas, Exdrone diluncurkan dari daerah yang aman di belakang Forward Line of Own Troops (FLOT). Dia memiliki berat peluncuran 89pound dan kapasitas angkut 25pound. UAV ini diluncurkan dengan rel pneumatik. Setelah mengudara, pilot peluncuran menerbangkan UAV ini pada ketinggian jelajah. Ketunggian maksimum operasiolan UAV ini adalah 10.000 kaki, namun biasanya ketinggian misi antara 3000 - 4000 kaki di atas permukaan tanah. UAV ini memiliki tiga modus operasi: penerbangan manual, AutoPilot override manual, atau otomatis penuh.

Exdrone dimulai sebagai usaha penelitian dan pengembangan untuk membuat drone biaya rendah yang mampu membawa jammer komunikasi VHF. UAV telah dimodifikasi dengan berbagai beban untuk melakukan misi intai. Salah satu bebannya adalah kamera TV warna mengarah-bawah Pulinex TM-7i. Kamera ini merupakan kamera warna komersial yang menyediakan resolusi baris 570 dan enam kekuatan zoom lensa. Kamera ini memiliki national imagery interpretability rating scale (NIRS) 4 (empat) pada 3000-4000 kaki di atas tanah. Beban lainnya termasuk sebuah Intensifier gambar, dan kamera Forward Looking Infared (FLIR).

Eksperimen dan tes dilakukan terus untuk beban tambahan. Beban ini termasuk jammer komunikasi, relay komunikasi, deception decoys, kemampuan deteksi tambang, dan set deteksi nuklir, biologi dan kimia udara.

Unit Exdrone yang terdiri dari sepuluh peralatan udara, dua stasiun kontrol permukaan, sebuah peluncur pneumatik, peralatan permukaan pendukung terkait, dan awak enam orang. Sistem ini cukup kecil sehingga dapat diangkut ke dalam dua High Mobility Multipurpose Wheeled Vehicles (HMMWV), atau diterbangkan oleh satu pesawat kargo C-130. 101 Airborne Division dan 1st Cavalry Divisi saat ini memakai UAV ini.

Ketika UAV sudah diluncurkan dan mencapai ketinggian jelajah, pilot peluncuran mengaktifkan AutoPilot yang akan memegang kendali dan mengarah ke area target misi. UAV memiliki kecepatan tertinggi 100 mil per jam dan ketahanan misi terbangnya sekitar dua setengah jam. UAV dikendalikan oleh tim misi jika daerah penerbangancukup dekat dan terlihat dari stasiun kontrol tanah (biasanya sekitar 50 kilometer). Untuk memperluas jangkauan operasional, tim kontrol depan dilengkapi dengan Ground Control System dapat diposisikan dekat dengan tujuan dan memperluas jangkauan. Setelah mencapai daerah target, AutoPilot diprogram untuk berkeliling, melacak target, melakukan pengintaian terhadap titik target dengan tim kontrol depan mengarahkan penerbangan, atau melakukan pengintaian dengan kontrol pilot peluncuran.

Setelah menyelesaikan misi, AutoPilot memandu UAV ke pendaratan yang telah ditentukan dimana pendaratan dilakukan dengan parasut. Jika waktu yang diperlukan lebih, UAV lain diluncurkan dan dikirim ke tujuan sebelum kembalinya UAV pertama. Ground Control System dapat mengendalikan dua UAV secara bersamaan.

Exdrone memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, ia memiliki jangkauan yang dekat karena dibatasi oleh kontrol visual. Langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan jangkauan. Kedua, kontrol frekuensi UHF sering digunakan untuk komunikasi taktis. Jika frekuensi koordinasi yang benar tidak dibuat, maka Exdrone dapat di”jam” oleh pasukan sendiri. Jika pasukan sendiri tidak sengaja, maka tampaknya jika oleh pasukan musuh, itu merupakan tindakan yang disengaja. Terakhir, UAV ini memiliki kapasitas beban yang sangat kecil, memberikan keterbatasan yang parah untuk membawa peralatan dan sensor.

Dragon Drone dikembangkan dari Exdrone dan berhasil melakukan misi Advanced Warfighting Experiment Hunter Warrior di 29 Palms, California. Drone ini pada awalnya dirancang dengan ukuran kecil dan murah, tetapi sangat mampu untuk mengakomodasi pengiriman sensor ke unit di bawahnya. Namun, Dragon Drone kemampuan melebihi tujuan desain aslinya. Marines tanpa UAV berpengalaman dalam melakukan misi mampu melakukan survey video real-time dari medan perang ke ECOC di Camp Pendleton.

Tambahan kemampuannya termasuk: transmisi gambar FLIR malam dengan pencari-jarak laser, transmisi gambar warna siang dengan pencari-jarak laser, identifikasi dan lokasi target dalam jarak 50 meter, pengiriman senjata non-letal, dan survey untuk operasi pencarian dan penyelamatan.

Saat ini, 10 Dragon Drones ditugaskan untuk setiap komando berikut: I Marine Expeditionary Force, Camp Pendleton, Calif.; II Marine Expeditionary Force, Camp Lejeune, NC; Marine Expeditionary Force replacements; and the Marine Corps Warfighting Lab untuk pengembangan teknologi lanjut.

Marine Corps Warfighting Laboratorium (MCWL) memiliki tugas untuk membuat beban (payoad) Reconnaissance / Surveillance And Target Acquisition (RSTA) untuk program Dragon Warrior. Dragon Warrior adalah drone Vertikal Take Off dan Landing (VTOL) eksperimental sedang dalam pengembangan di bawah kontrak nomor M67854-99-C-2081. Dalam tahun-tahun sebelumnya, MCWL telah membuat 21payloads terdiri dari kamera Pan, Tilt, Zoom (PTZ) siang digabungkan dengan kamera laser pencari-jarak dan 14 kamera pan-ayun Forward Looking Infrared (FLIR) digabungkan dengan kamera laser pencari-jarak. Tugas ini meliputi pembuatan dan pengujian beban Dragon Warrior RSTA memanfaatkan Government Furnished Equipment (GFE) yang ada, jika biaya yang mungkin.

Dibandingkan dengan payload Dragon Drone, payload Dragon Warrior akan berbeda dalam cara sebagai berikut:
• Payload Dragon Warrior RSTA akan memiliki kamera stabil-secara digital, kamera siang yang bisa disesuaikan zoom-nya, sebuah kamera FLIR dengan lensa disesuaikan, sebuah laser pencari-jarak dan motor pan-ayun terintegrasi dalam sebuah payload. Dragon Drone mempunyai payload terpisah antara siang dan malam.
• Payload Dragon Warrior RSTA, jika Pemerintah menyetujui maka akan trstabilisasi otomatis. Payload Dragon Drone tidak terstabilisasi secara otomatis.




Specifications

Wing Span: 8 feet 2 inches
Weight: 90 lbs with payload; 65 lbs without payload
Maximum speed: 100 mph
Range: 80 nautical miles
Service Ceiling: 10,000 feet
Flight Time: 2.5 hours
No. in Inventory: 40


Peace All smile.gifsmile.gif
Yking
keren.... trus pabrik kita yg di bandung buat ga...? coba bosnya tetep habibi.
Sy and Unknown
QUOTE (Elite_Cadre @ Dec 19 2008, 03:33 PM) *
Wah sama nih kyk di Battlefield 2 UAV dibuat untuk ngelacak posisi dan jenis musuh

btw keep posting

hehe, anak BF2 bro ? HeHe.gif

tapi emang UAV bisa dibilang alat mata" tanpa awak yang efektif
jojo8228
General Atomic GNAT-750 Lofty View




GNAT-750 merupakan sistem UAV pendukung dan intai tahan lama taktis yang telah terbang sejak tahun 1989. Predator merupakan perkembangan dari versi GNAT-750. Sistem GNAT menawarkan kombinasi dari daya tahan lama, kapasitas angkut besar, kemudahan penggunaan dan biaya pemeliharaan, sehingga membutuhkan biaya per-jam terbang sangat rendah. GNAT-750 dapat terbang hingga selama 48 jam tanpa perlu mendarat untuk pengisian bahan bakar. Memiliki keringgian operasional maksimal 25.000 kaki dan kecepatan naiknya 1100 kaki per menit. Badan pesawatnya 16 kaki, berat lepas landas kotor, termasuk beban 330 lbs dan bahan bakar, adalah 1.140 pound.

General Atomic GNAT-750 mungkin adalah salah satu UAV yang paling lama teruji di lapangan saat ini. Beberapa GNAT-750 telah diluncurkan ke Bosnia, Kroasia, Albania dan untuk memantau pangkalan udara, pertahanan, tempat persembunyian pasokan dan gerakan pasukan. Sukses ini dinodai oleh kebutuhan untuk relay data dari UAV ke pesawat berawak RG-8 Schweitzer yang hanya bisa tinggal di stasiun selama sekitar dua jam pada suatu waktu. Meskipun RG-8 memiliki waktu 8 jam penerbangan, 6 dari tiap 8 jam telah digunakan untuk relay data. Sementara GNAT-750 memiliki daya tahan terbang 24-30 jam, pesawat relay-nya sangat membatasi efektivitas keseluruhan dari sistem.



CIA mengoperasikan GNAT 750-45 Lofty View yang dilaporkan dapat membawa 450-500 pound beban yang terdiri dari sebuah radar aperture sintetis dengan resolusi satu kaki, tiga EO atau sensor IR di turret dagu dan antena data-link satelit band-luas. SAR, dengan azimut 150 derajat dan elevasi 40 derajat, dapat meng-cover 8000-petak kaki di ketinggian 25.000 kaki. Kombinasi waktu jelajah yang panjang, sebuah susunan sensor multiple, dan kemampuan data-link memungkinkan untuk mengirimkan data secara real-time dalam bentuk video bergerak.


Characteristics:

Length, ft: 17.5/20.75/21
Wing Span, ft: 35.3/42.2/42
Gross Weight, lbs: 1131/1650/1650
Payload Weight, lbs: 143/510/650
Fuel Capacity, lbs: 426/500/500
Fuel Type: AVGAS
Engine: Make 1xRotax 582/912/912; Power, hp 64.4/80/80
Structure: Fiberglass
Guidance: Navigation
Data Link(s): 5250-5475 MHz dn; 5625-5850 MHz up Data Rate(s)


Performance:

Endurance, hrs: 30/42/42
Radius, nm: 1075/1475/1475
Max Speed, kts: 110/135/149
Stall Speed, kts: 59/51/56
Altitude, ft: 16,000/20,000/20,000
Takeoff Means Conventional: (2450/2200/2200 ft runway reqd)
Navigation: Preprogrammed (points)/autonomous/direct control


Sensor(s): Versatron EO/IR


Peace All smile.gifsmile.gif
jojo8228
Model 324 UAV





Model 324 Scarab milik Northrop Grumman telah dirancang sebagai tanggapan dari kebutuhan Angkatan Udara Mesir. Model 324 merupakan UAV serbaguna, mudah dioperasikan untuk pengintaian. UAV memiliki jarak jelajah 1400 mil dan dengan kecepatan Mach 0,8.

Sayapnya terpasang-rendah di badan pesawat, tertekuk ke belakang, dan meruncing. Mesin turbojet-nya tersembunyi di kompartemen perut belakang. Bodi pesawatnya rata di bagian bawahnya dengan hidung runcing dan punuk di bagian belakang atas bodi pesawat. Dua sirip tertekuk-ke-belakang dan meruncing terpasang pada unequally tapered flat (ekor).





Specifications

Builder:NORTHROP GRUMMAN
Role: Day and night reconnaissance
Wing Span: 11 ft (3.35 m)
Length: 20 ft, 1 in (6.12 m)
Weight: 2,384 Pounds
Engine: TCAE 373-8
Cruising speed: Mach 0.8
Range: 1,400 miles
Sensors: Either the D-500 IRLS (Honeywell/LIRIS) or the KS-153A 24” FL Photo Camera (Recon Optical), Both Wet Film Technology Systems
Crew: Deployable and Operable by a Three Man Crew

User Countries: Egypt
• Total of 56 Produced and Delivered. Approximately 50 Remain Flight Worthy
• l Unit Based in Kom Oshim Air Base, 80 km South of Cairo


Peace All smile.gifsmile.gif
jojo8228
SR200 VTOL UAV





Features:

•121cc 8.7 HP Gasoline 2-stroke Engine
•up to 20kg /50 lbs Payload Capacity
•WAAS differential included
•Ready-to-Fly
•Safety/Manual Aircraft Controller & Transmitter
•802.11-based Telemetry System
•Stable hover (Patent Pending)


Options:
•Camera Turret Mount
•Numerous video display and downlink options available
•Long-endurance fuel tanks (4 hours of flight time)
•Onboard generator: various sizes available
•Numerous GPS upgrades available for better absolute accuracy
•Fiber Glass canopy

Peace All smile.gifsmile.gif
jojo8228
SR100 VTOL UAV





Features:

•Gasoline, diesel, alcohol and electric power plant options available.
•up to 7 kg / 18 lbs Payload Capacity
•WAAS differential included
•Ready-to-Fly
•Safety/Manual Aircraft Controller & Transmitter
•802.11-based Telemetry System
•Stable hover (Patent Pending)


Options:

•Camera Turret Mount
•Numerous video display and downlink options available
•Long-endurance fuel tanks (up to 2 hours)
•Onboard generator: various sizes available
•Numerous GPS upgrades available for better absolute accuracy




Peace All
jojo8228
Walaupun berita dah lama,

Ternyata Indonesia juga mengembangkan UAV: http://www.kapangila.com/a/puna-pesawat-ni...-dari-bppt.html


QUOTE
PUNA, Pesawat Nir Awak Dari BPPT

Selasa, 16 Januari 2007 10:00

kapangila.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) untuk berbagai keperluan pemantauan dari udara, seperti pemetaan, pemantauan kebakaran hutan, mitigasi bencana, pencarian korban hingga keperluan militer.

"Prinsipnya PUNA mampu membawa terbang berbagai peralatan seperti kamera, alat pengintai dan sejenisnya hingga seberat 20kg," kata Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Surjatin Wirjadidjaja di Jakarta, Senin (15/01).

Menurut dia, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah yang sangat luas dan memerlukan suatu wahana terbang yang mempunyai risiko kecil, hemat biaya, dan efektif dalam pengoperasiannya.

Harga pesawat nir awak sejenis buatan negara lain, ia menyebutkan, harganya sekitar ratusan juta rupiah. Nilai tersebut bertambah tergantung dari peralatan yang dibawanya.

Kegiatan pengembangan PUNA diawali dengan pembuatan wahana sasaran tembak atau Target Drone yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan prajurit Pusenart (Pusat Senjata Artileri) TNI-AD dalam menembak presisi, kata Surjatin.

Seiring dengan keberhasilan itu, kemudian dikembangkan PUNA doubleboom pada 2002, disusul PUNA dengan singleboom pada 2004 dengan desain rangka udara dan pembuatan prototipe yang kemudian dilanjutkan dengan pengembangan sistem telemetri dan mission payload, ujarnya.

PUNA singleboom dengan konfigurasi T-Tail itu, lanjut dia, dirancang mempunyai kecepatan jelajah 80 knot dengan jangkauan terbang mencapai 30 km di ketinggian sekitar 7.000 kaki.

Pada 2006, lanjut dia, pengembangan PUNA telah mencapai tahap pengembangan sistem telemetri dan otonomous dan diharapkan segera bisa disertifikasi untuk diproduksi.

Dengan dana DIPA sebesar Rp1,3 miliar, disebutkan, BPPT bekerjasama dengan UKM Djubair dan P.T Aviator telah berhasil mengembangkan dua prototipe PUNA 'Wulung', yaitu prototipe singleboom dengan TTail juga prototipe single boom dengan Inverted VTail.

Selain itu dikembangkan pula dua sistem telemetri onboard untuk dua buah pesawat dan "Ground Control Station" yang menampilkan data transfer dari onboard system telemetry secara langsung, katanya. (*/rit)



Sekarang bagaimana kabarnya ya??
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.