Reptil tersebut mungkin hidup di dalam tanah sehingga banyak meninggalkan liang. Akar tumbuh-tumbuhan dan serangga menjadi makanan sehari-harinya.
"Kami menemukan bukti-bukti yang kuat bahwa liang-liang tanah ini dibuat reptil daripada udang karang," ujar Christian Disor, ketua peneliti dari Universitas Washington, AS. Sayangnya, tak satu pun fosil yang ditemukan di antara liang-liang tanah tersebut dan hanya lubang-lubang berisi lumpur yang membatu.
Para peneliti memperkirakan di Zaman Triasik Awal, banjir menerjang kawasan tersebut sehingga air mengisi lubang-lubang tanah. Reptil yang hidup di sana mungkin lebih dulu pergi ke daratan yang lebih tinggi sehingga tak ada yang tertinggal.
"Liang-liang tersebut dibuat miring dan di ujungnya menggunung sehingga menjadi tempat berlindung saat itu," ujar Molly Miller, peneliti lain dari Universitas Vanderbilt. Lubang terbesar yang berukuran panjang 35 centimeter, lebar 16 centimeter, dan dalam 9 centimeter berusia 245 juta tahun.
Sembilan liang lainnya yang berukuran lebih kecil berusia lebih muda. Lubang terakhir yang ditemukan berisi fosil hewan berkaki empat dan bertulang belakang, namun hanya berusia 15 juta tahun.
Meski tak ada fosil hewan lebih tua, bentuk dan ukuran liangnya mirip sarang reptil yang hidup di Afrika Selatan. Reptil mirip mamalia yang diberi nama Trinaxodon liorhinus itu juga hidup di Zaman Triasik.

Reptil purba seukuran kucing yang sejenis dengan Thrinaxodon di Afrika Selatan mungkin menghuni Antartika 245 juta tahun lalu.
