Help - Search - Members - Calendar
Full Version: puisiii...
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Poetry Room
zeplin_experience
SEBARIS GERIMIS

Sebaris gerimis
membasahi kembara panjang
Seorang tualang menjelang petang
belum juga mabuk mereguk waktu
dalam sepi meniti jarak
dan menggali mimpi lagi. Masuk
ke pintu rindu dengan mata menyala-nyala. Buta
Ketika sukma menembus sela-sela hujan
Bisu pun beku
Aku berlari menyelimuti dingin
dan kembali mencari-cari
ke dalam hati, ke dalam jantung
Malam. Pun hamparan kisah menghampiri
Sebaris-sebaris. Tinggal
nama yang terbaca dalam kabut dinihari. Nanti
Aku ingin kembali


BEGITULAH

Begitulah. Setiap senja aku selalu menunggu. Ditemani
secangkir teh dan membebaskan diri dari kejaran waktu. Di sini
tidak ada negosiasi - Boleh terjadi transaksi demi transaksi
mengoyak-ngoyak kehidupan. Biarkan di lapangan terjadi
Bukan di sini!
Begitulah. Setiap senja aku selalu menunggumu. Menatap
ke kolam kecil dengan riak air di beranda. Senyap
Kini segala topeng lepas. Kita bisa bicara
Apa saja. Tanpa tema tanpa paksa
Namun langkah belum juga sampai ...
Begitulah. Ditemanimu - Makan siang - melupakan sangsai
karena melahap kesempatan yang datang menggoda
Kita duduk dan kau mengemil emping. Cuma mata
banyak berkata. Kita bukan siapa-siapa
Sebab hari tidak akan pernah kembali,
begitu kan? Menatapmu - Sambil mencuri-curi dari balik menu
seperti remaja cinta pertama mau bercumbu
Padahal kita manusia perkasa yang bisa menghitung
rugi-laba sampai ke masa datang
dan selalu tepat mengambil risiko. Berani
Begitukah? Secangkir teh semakin dingin. Langkahmu belum
Terdengar. Ikan mas di kolam beranda sudah enggan menari
Aku masih menunggu. Menunggumu.


TERKURUNG

Sebelas tahun aku terkurung di ruangan ini
Ruangan yang pengap dan kotor
Yang sudah lupa akan jati dirinya
Yang penuh dengan kedustaan semata
Mengapa ruangan ini dipenuhi tabung?
Bertumpuk-tumpuk tabung penuh cairan yang dipaksa kuminum
Akupun tak tahu cairan apa itu
Hanya kata "kenyang" yang kutahu
Aku tak mengenal waktu di ruangan ini
Seakan waktu sudah tak berarti lagi
Karena waktu sudah termakan dusta
Karena waktu sudah tertindas derita
Aku berteriak!
Namun suaraku terambil dinding dingin itu
Kutendang dia!
Namun aku hanya jatuh tersungkur, dalam tangis kekesalan
Ingin kucintai ruangan ini
Yang membesarkanku dalam sebelas tahun
Tapi aku tak sanggup
Setahun lagi pintu ini terbuka
Selangkah di luar ruangan aku 'kan menengok
Aku hanya dapat tersenyum dalam desah
Atas kekacauan di dalam sana


VIOLENCE

Membiarkan burung-burung diledakkan kepalanya
Menjadi puing, berserakkan, di depan telapak kaki kita
Membiarkan tubuh-tubuh para mahasiswa menggelepar
Diterjang peluru, di depan hidung kita
Membiarkan perempuan-perempuan disayat kemaluannya
Dengan pisau peradaban, tanpa sempat menjerit
Tanpa sempat berurai air mata, dalam foto-foto
Yang dinikmati keluarga kita dalam santap malam
Membiarkan ibu-ibu bunting, tanpa suami, tanpa bapa bagi
Benih di perutnya, yakni benih suci nusantara
Membiarkan anak-anak negeri berlarian pontang-panting
Di bawah barikade tombak devide et impera
Dalam chaos perebutan kekuasaan atas sebuah bangsa
Yang belum lagi lolos dari busung lapar dan perebutan harta
Membiarkan bayi-bayi peradaban terpanggang, terpenggal-penggal
Sebagai sarapan pagi kita dan keluarga
Bunga-bunga kedamaian yang ranum dan kuntumnya
Dihanguskan para algojo dan pejagal
Yang terus menari-nari dalam tango, salsa dan blues
Membiarkan kekerasan sebagai matapencaharian dalam surga
Saudara,
kita tengah disiapkan menjadi algojo !


WAHAI MENTARI

wahai mutiara emas diatas sana,
aku memujamu dibawah sini
aku, kelereng biru kusam tak berharga
maukah engkau melihatku menari?
semua nyawaku adalah milikmu
segala angin dan badaiku,
lautanku yang bergejolak adalah karenamu
tetumbuhan yang menghunjam dalam ke tubuhku
tumbuh dan mekar dengan geloramu
dan lihatlah gurunku terbakar dengan oleh semerbak aromamu
wahai mutiaraku, aku memujamu
aku memuja mahkotamu yang menyapa pagi hariku
aku memuja bintik hitam di permukaanmu
aku memuja partikelmu yang menikam atmosfirku
semua senyawaku bereaksi untukmu, cahayaku
dan aku hanya bisa disini, terberangus dalam orbitku
kita pernah satu, ingatkah engkau?
dan kini perihelionku pun masih terlalu jauh,
kini aku berputar berkisar
..terdampar
lihatlah aku menari
wahai
mentari


DIANA

Angin menyapaku di ruang kerja
mengingatkan pada satu sosok
ialah Diana ibu dari suksma
Sehelai rambutmu tiba diantara lipatan-lipatan rindu
adalah titian makna di kerak kalbu
wajahmu pun kubaca di kaca cermin, Diana
mengajakku tuk segera menulis sajak
“bukan untaian kata indah atau intan permata yang kuharap darimu
tapi titian makna dan kerendahan hati
bukan “karena” atau “Jika” yang membuatku mencintaimu
kelebihan dan kekurangan adalah manusiawi
pemahaman akan diri yang bisa menjawabnya”
bisikan cinta direlung hati membuatku terus berlari walau
kaki smakin papa, langkahku terseok-seok, tersaruk maruk menncarimu, Diana
dimana….dimana
kala malam datang angin mendatangkan sehelai rambutmu di atas lipatan-lipatan bukuoh Diana! Jadilah suksma bersarang dan berdiam dalam ketenanganku aku kini bisa tertawa, tumpukan kerja yang melelahkan, semuanya untukmu kulakukan , oh Diana dewi hatiku, engkaupun ta8 dunia yang menjeratku telah ku tinggalkan, karna ku tau engkau tak ingin laraku menjadi laramu sekarang ak tlah siap menjadi tangkai kemawaranmu.


GUSAR SIAG HARI

Aku. Kilat marah; Mata liar 210 juta
rakyat melihat negeri ini dicabik-cabik
dan sejumlah anak negeri ditembak
atau terbakar; dijadikan mainan kekuasaan
di antara sepatu boot dan seribu janji
politik; Mulut kami dibuat tak bersuara !
AKu. Gelegak resah : Mata marah
mahasiswa denyut jantung rakyat yang sakit
karena harkat diinjak-injak dan teror
tercipta dimana-mana
kau. Buta tuli : Sendiri. Buka hutang
kemana-mana dengan menggadaikan negeri ini.
Kemudian rakyat menderita dan harus
membayarnya. Raung 201 juta rakyat
akan diredam lewat barisan seragam
loreng dan tank-tank !
Mahasiswa. Adik-adik kami. Buka mata
pasang telinga : Kibaran harga-harga
melambung-lambung. Enggan turun
dan harga keringat rakyat semakin
tak berarti di negeri ini. 210 juta rakyat
menggelepar. Eh, kau masih senyum ramah
dengan wajah tanpa dosa mengeksekusi
setiap orang di antara kami yang berani
berseberangan angkat bicara !
mahasiswa. Adik-adik kami. Membaca
dan merasa; Negeri ini semakin papa.
Hutan terbakar dimana-mana. Minyak bumi
dan barang tambang semakin terkeduk,
klantas masuk ke saku-saku tertentu. Eh,
kunyah mulutmu masih penuh bau retorika
dan menutup 210 juta pasang mata,
lantas semakin jadi kuda beban
dengan tak sanggup lagi merintih.
Aku dan mahasiswa dan 210 juta rakyat.
Kami : Semakin jauh darimu
seperti matahari dengan hati !
Kami. Menyimpan resah gelegak 210 juta
anak negeri yang kau bayar dengan
bahasa darah, tembakan senjata dan
membuka pintu sel lebar-lebar.
Tidak !
Kami punya tangan. Kami punya cakar
Kami mengelinding bersama-sama.
kau masih punya nyali ?
cindil
we we we ... bikin aku nangis ...
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.