……. Kita tidak pernah menyadari betapa indahnya sesuatu yang kita miliki yang kita punyai, sampai sesuatu atau apa yang kita punya itu hilang atau tidak berada di dekat kita lagi ……….
Dua bulan sudah aku melangkah di jalan yang sama, seperti halnya hari ini. Mentari seakan enggan menampakkan sinar garangnya yang selama ini cukup memberikan kernyitan pada dahi akan panasnya. Yach…… dua bulan. Bukan waktu yang panjang dan bukan pula waktu yang pendek. Entahlah dari sudut mana aku memandang lamanya waktu. Terngiang dalam benak kutipan tulisan Armyn Pane tentang Sandhyakala Ning Majapahit, “…….. ingatlah bahwa waktu itu tidak ada, yang ada hanyalah pembedaan-pembedaan yang dibuat oleh manusia…..”
Dua bulan aku menyusuri hidup tanpa kamu yang biasanya selalu memberikan kesejukan dengan senyummu yang selalu merekah …. Dari bibir yang merah itu mengalir lantunan pemberi semangat kala jiwa ini patah, dan dari bibir itu selalu mengalir kata-kata manja yang selalu bisa membuat diri ini lupa akan semua masalah yang sedang kuhadapi.
Aku lupa, matamu pun begitu gemintang, seakan memberikan cahaya pada gelapnya langit kelam. Mata yang selalu memberikan keteduhan kala aku ingin berlindung dari panasnya amarah. Mata yang selalu berkata, “ Aku bersamamu selalu dan selalu……”. Mata yang selalu aku dambakan setiap kali usai kulakukan semua aktifitas duniawi agar hilang semua penat yang melanda sekujur raga ini.
Masih aku menyusuri jalan yang sama ini sambil sesekali kutengok jejeran pinus di kaki bukit yang masih mencondongkan badannya, seakan tetap menyapa kepada kita berdua. Hmmm… mungkinkah ia bertanya kemanakah pasangan yang selama ini selalu bersamaku. Hmmm…. Bertanyakah engkau atau sedang mengejekku karena aku sedang tidak berdua ??? Seringaikah itu atau senyum simpati kepadaku yang sedang sendiri ???
Tibaku di sudut danau itu aku melihat ternyata bangku kayu yang sama masih tetap berdiri sambil mencoba bertahan dari kelapukan akibat gigitan-gigitan kecil alam melalui panas hujan ditambah beberapa gelintir lumut yang asyik menggerogotinya. Bangku yang menjadi saksi bisu atas semua yang pernah terjadi antara kita. Aku masih ingat dan membayangkan disana aku mengendus harum lembut rambutmu, dimana aku melumat pelan bibirmu yang ranum. Dimana aku mengikrarkan disaksikan oleh tenangnya danau ini, ikrar cintaku kepadamu yang kau balas dengan mempertontonkan deretan mutiara putih gigimu. Sayang, lesung pipitmu yang cuma sebelah itu selalu membuat aku tergila-gila ingin membuat satu lagi lesung pipit di pipimu yang lain untuk memeberikan keseimbangan kataku.
Yach, ikrar itu telah aku ukir dalam dada, dan ku pahatkan dalam jiwa ini. Aku ingin mengabadikannya pada batu itu, tapi betapa naifnya aku harus merusak alam yang ada demi kesenangan egoku. Tidak, aku akan membiarkan ibu yang membesarkanku tetap dengan warna dan bentuknya. Sayang, janji itu masih terpatri cinta, tertanam rapi dan kuat serta mengakar pada sukma batinku,…………. Bahkan setelah dua bulan ini…….
Sulur sukma yang terpaut itu tidak langsung menyambung tanpa ada proses. Aku masih ingat betapa lambatnya ia merambati hati dan perasaan kita berdua, mencoba menjajaki setiap ruang dan tempat yang ada pada jiwa kita. Mencoba menempati setiap asa dan rasa kita tepat pada posisinya. Mencoba menutupi semua kosong dan hitamnya murka serta ego kita, kemudian menghancurkan bebatuan dan kebekuan diantara kita.
Pada saat semua bertaut, pada saat jiwa menyatu, tatapan mata kitalah yang menandakan itu semua. Jendela hati yang selama itu tertutup, terbukalah. Betapa indah swarga dunia ini kala kunikmati setiap jengkal dari cinta dan cerita kita. Betapa tak inginnya aku untuk melepaskan semua dari ingatanku. Betapa tak relanya aku untuk kehilangan sedetikpun desahan asmara yang menghiasi nuansa kita berdua. Sungguh aku tak rela, sampai dua bulan terakhir ini …………..
Dua bulan terakhir ini, aku masih tetap mempercayai bahwa sudah menjadi guratan tangan kita akan berdua selamanya. Kamu adalah rusukku yang hilang dan akan dipersatukan kembali dengan tubuhku. Aku adalah pasangan jiwa yang kau telah lelah kau cari selama ini. Kamu juga mempercayainya. Betapa aku sangat besyukur kepada Yang Maha dari Yang Maha, bahwa kita adalah Rama dan Sinta dalam hikayat Ramayana. Yang tidak akan pernah menyerah pada takdir, yang tidak akan pernah menyerah pada semua gangguan yang akan mencoba merusak semua milik kita.
Dua bulan terakhir ini, aku masih memiliki kamu, bahkan merasa semakin memiliki kamu jauh sebelum dua bulan terakhir ini. Kamu yang begitu berarti mengisi setiap langkah yang aku buat, menyertai setiap kali aliran darah didalam nadiku, menyatu dalam setiap tarikan hembusan nafas kehidupanku. Kamu selalu hadir didalam mimpiku, didalam anganku dan didalam asaku. Dan dua bulan terakhir ini, bahkan kamu selalu menghantui diriku kemanapun aku pergi dan melangkah. Terkadang diriku melangkah tanpa diiringi jiwaku yang masih melayang untuk menemani sukmamu yang kini ……….arghh…..
Ingin kulengkingkan jeritan kalbuku yang selama ini kupendam, ingin kuteriakkan rintihan luka yang selama ini kusimpan dan kutimbun dengan segala macam topeng untuk menutupi wajah penuh luka dan derita.
……………..
Dua bulan sudah kamu meninggalkan aku untuk menyusuri jalan ini sendiri, tanpa pernah kudapatkan alasan mengapa kamu meninggalkan aku dalam kegamangan yang tak pernah mendapatkan kejelasan.
Dua bulan sudah kamu membiarkan aku terlunta-lunta di jalan ini sendiri sambil mencoba meraba dan menyusuri jejak-jejak kenangan yang mungkin masih tersisa di sepanjang jalan ini.
Dua bulan sudah kamu kamu lepaskan aku terseok-seok menyusuri jalan ini sendiri sambil bertatih-tatih untuk mencari jalan keluar dari himpitan duka yang terus menekan dada ini, yang setiap saat siap untuk meledakkan dada, karena semua nelangsa yang hadir dan datang penuhi rasa ini.
Dua bulan lalu, saat kau akan menyeberang jalan ini,…….. dua bulan lalu saat kau lambaikan tanganmu padaku…. Dua bulan lalu saat kau teriakkan namaku dalam kepasrahan……. Dua bulan lalu saat truk keparat itu menghantam tubuh suci malaikat manisku untuk menghantam jalan ini…….
ARGHHHHHHHHHH…………………………………
KENAPA ???????????
KENAPA TUHANKU ???????????????
KENAPA KAU TIMPAKAN ITU SEMUANYA PADAKU ?????