Help - Search - Members - Calendar
Full Version: [ask] mesin mesin tempur nazi
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah > Sejarah Dunia
hisigi
masa kejayaan nazi jerman tidak lepas dari alutista yang mumpuni
om tante ada yang punya jelasin ato bisa kasi tw (klo bisa gbr nya) macam2nya nama dll deh pokoknya?
happy.gif
kurang-piye
waduh....kemaren pnya,cuman dah terlanjur tak DEL......
sorry ya BRO.......
Donatian
Ini ada gambar bro, tapi kayanya ga mencakup Jerman doang

Barbaric
sejarah eropa nih ceritanya BigGrin.gif BigGrin.gif BigGrin.gif
regtnt
@barbatic mana ceritanya
mohon dipost ulang
thanks
darmomunyuk
wah ya banyak bos...kalo pake gambar bisa penuh...
ini sebagian yang gwe ambil dari berbagai sumber :

* Feldkanone (FK): Field gun
o FK 38: 75 mm field gun
o FK 97(f): 75 mm field gun of French origin
o FK 231(f): 75 mm field gun of French origin
* Flugzeugabwehrkanone (FlaK): Antiaircraft gun
o FlaK 18: 88 mm antiaircraft gun
o FlaK 30: 20 mm antiaircraft gun
o FlaK 36: 37 mm antiaircraft gun
o FlaK 37: 37 mm antiaircraft gun
o FlaK 38 (2 cm): 20 mm antiaircraft gun
o FlaK 38 (10.5 cm): 105 mm antiaircraft gun
o FlaK 40: 128 mm antiaircraft gun
o FlaK 41 (5 cm): 50 mm antiaircraft gun
o FlaK 41 (8.8 cm): 88 mm antiaircraft gun
o FlaK 43 (3.7 cm): 37 mm antiaircraft gun
* Flugzeugabwehrkanone vierling (FlaK v): Quad antiaircraft gun
o FlaK v 38: Quad 20 mm antiaircraft gun
* Gebirgsflugzeugabwehrkanone (GebFlaK): Mountain antiaircraft gun
o GebFlaK 38: 20 mm mountain antiaircraft gun
* Haubitze (H): Howitzer
o H 503®: 203 mm howitzer of Russian origin
o H 520(i): 210 mm howitzer of Italian origin
o H M.1: 355 mm howitzer
* Kampfwagenkanone (KwK): Tank gun
o KwK 30: 20 mm L/55 vehicle gun
o KwK 34(t): 37 mm L/40 tank gun
o KwK 36: 88 mm tank gun
o KwK 38: 20 mm L/55 vehicle gun
o KwK 38(t): 37 mm L/48.7 tank gun
o KwK 39: 50 mm L/60 tank gun
o KwK 43: 88 mm L/71 tank gun
* Kanone (K): Gun/cannon
o K 3: 240 mm gun
o K 4: 240 mm gun
o K 18 (15 cm): 150 mm gun
o K 18 (17 cm): 170 mm gun
o K 39: 150 mm gun
o K 331(f): 105 mm gun of French origin
o K 333(b): 105 mm gun of Belgian origin
o K 433®: 152 mm gun of Russian origin
o 105 mm Schwerer Kanone 18: 105 mm gun on same carriage as 15 cm sFH 18|sFH 18
* leichte Feldhaubitze (leFH): Light field howitzer
o leFH 18: 105 mm L/28 light field howitzer
* leichter Granatwerfer (leGrW): Light mortar
o 5 cm leichter Granatwerfer 36: 50 mm light mortar
* Maschinengewehr (MG): Machine gun
o MG 13: 7.92 mm machine gun
o MG 34: 7.92 mm machine gun
o MG 42: 7.92 mm machine gun
* Mörser (Mrs): Mortar
o Mrs 18: 210 mm mortar
* Panzerabwehrkanone (PaK): Antitank gun
o PaK 35/36: 37 mm antitank gun
o PaK 36®: 76.2 mm L/51.5 antitank gun of Russian origin
o PaK 38: 50 mm antitank gun
o PaK 40: 75 mm antitank gun
o PaK 43: 88 mm antitank gun
o PaK 44: 128 mm antitank gun
o PaK 97/38: 75 mm antitank gun
* Raketenpanzerbüchse (RPzB): Antitank rocket launcher
o RPzB 43: 88 mm antitank rocket launcher
o RPzB 54: Antitank rocket launcher
* schwere Feldhaubitze (sFH): Heavy field howitzer
o sFH 18: 150 mm heavy field howitzer
o sFH 37(t): 150 mm heavy field howitzer of Czech origin
o sFH 443®: 152 mm heavy field howitzer of Russian origin
* schwerer Granatwerfer (sGrW): Heavy mortar
o sGrW 34: 81 mm heavy mortar
o sGrW 43: 120 mm heavy mortar
* schweres Infanteriegeschütz (sIG): Heavy infantry gun
o sIG 33: 150 mm L/11 heavy infantry gun
hisigi
sankyuu,,,,,,,,,,
sahaweatuh
sorry, cuma 1 aja. kalo mau lengkapnya tentang senjata2 tempo doeloe.
ada di situs nie

CODE
http://www.landships.freeservers.com/


Feldkanone


Specifications
Calibre 77mm
Length of barrel 2080mm
Maximum recoil 1270mm
Weight of barrel 335 kg
Elevation -12° to +15°
Traverse 4°
Axle width 1530mm
Wheel size 1360mm
Weight of carriage 635 kg
Weight limbered 1910 kg
Weight emplaced 1020 kg
Weight of shell 6.85 kg
Muzzle velocity 465 kg
Maximum range (theoretical) 7.800 meters
Maximum range (without digging) 5.000 meters


upilwangi
Sebagai tambahan referensi, di majalah Angkasa Edisi koleksi ada topiknya mengenai Nazi Jerman. Dari sejarah berdirinya partai Nazi, pasukan khususnya hingga alutista yg di punyai dan yg digunakan jerman dalam PD II....semuanya ada tiga buku, berseri. Dan ada lagi topiknya mengenai kapal selam ( judul bukunya "Silent Warrior") , disitu juga dibahas macam2 kapal selam yg dipakai Jeman ( terutama U-boat yg legendaris). Coba cek di gramedia masih ada buku tsb. speak_cool.gif
bakti
Coba aja search di www.ebookee.com
Cari di section militer & history
papatole
Coba di www.achtungpanzer.com
Lengkap!
El_Tuerto

PzKpfw III Ausf G/H in Russia, 1941


Panzer IV


A7V


A7V/U Sturmpanzerwagen


K-Wagen

MachVelocy
nambahin... yang tokcer2 aja yach

Luftwaffe(AU)
Messerschmit/Bayerrische Flugzeugwerke-109, pesawat fighter nomer 1 dalam urusan frag di ww2,
Messerschmitt Me-262, pesawat jet tempur pertama di dunia, kill ratio, 5-1, kebanyakan Me-262 yg jatoh itu gara2 kena tembak gunner pesawat bomber, bukan fighter musuh. gambare liad sig ane....
Gotha/Horten 229a, pesawat jet siluman pertama di dunia, prototype sukses, tapi gak sempet on-service... keburu di gerebek pabrik nya ama uni sovyet

ini gambar Ho-229dari MS Combat Flight Simulator3

Kriegsmarine(AL)
Pocket Battleship, ukuran emang kecil tapi meriamnya sama gede kaya yang punya amrik
Untersee-Boote (U-Boat) bisa nyelam 2x lebih dalam dari subs2 nya negara2 sekutu, kartu as jerman di awal2 pd2...

Heer/Wehrmacht(AD)
MaschinenGewehr-42 (MG-42) senapan mesin dengan rate-of-fire 1600 peluru per menit, sampe2 bunyinya jadi mirip gergaji mesin, 2000an tentara sekutu yg mendarat di omaha mati kena ginian
Panzer VI Tiger, semua veteran perang amrik bilang, "klo tank ini muncul kita harus panggil pesawat ground attack", tank amrik ga ada yg sanggup mecahin armornya ni tank...
Hummel(Bumblebee), mobile artilery (tipe howitzer) berkaliber paling gede (150mm)
Flak-88, anti pesawat tokcer!!!, ngancurin tank pun lebih tokcer!!!
Schwerer Gustav, artilery raksasa kaliber 800mm, digerakin di rel kereta
El_Tuerto
Tiger Tank Sang Legenda

SPECS:
Armor: baja pelat dgn ketebalan 25-110 mm
Berat: 54 ton
dimensi: 9 x 3,5 x 3 meter
Kru: 5 orang (komandan, navigator, loader, gunner, turretcontroller)
Mesin: Maybach 700 hp
Jarak Jelajah: 150-200 km (terrain dependant)
TopSpeed: 36kph

GUNS:
primary: 88mm KWK36
coaxial: 7,92mm MG38/13mm RheinmetallBorsig Mk131
turret top: 7,92 mm MG42















LEGENDA Jerman yang identik dengan kekuatan pasukan tank atau panser pada PD II, sampai kini masih melekat. Salah satunya, tim sepak bola Jerman pun dijuluki "tim panser". Kekuatan pasukan tank Jerman pada PD II, semakin dikenal setelah diperkuat tank Tiger dan tank King Tiger.

Produksi tank Tiger dimulai tahun 1939, memenuhi kebutuhan angkatan darat NAZI Jerman atas tank berbobot 45 ton yang membawa meriam kaliber 88 mm, sebagai senjata paling ampuh untuk melumpuhkan kekuatan tank Uni Soviet. Prototipenya muncul bersamaan ulang tahun pemimpin NAZI Jerman, Adolf Hitler pada 20 April 1942, di mana tank Tiger versi sudah disempurnakan (kemudian dikenal sebagai Tiger I) ditunjukkan di Rastenburg.

Tank Tiger I menjadi tank tempur pertama Jerman mempunyai suspensi handal dan stabil untuk segala medan, yang membuat membuat pasukan Uni Soviet kocar-kacir karena berbagai tank mereka dihancurkan dengan mudah. Selama aksinya, tank Tiger I mencatat hasil mencengangkan, baik di Front Barat maupun Front Timur Eropa.

Pada 18 Oktober 1943, sebuah tank Tiger yang dikomandani Sepp Rannel,
menghancurkan 18 tank Uni Soviet. Rekannya, Michael Wittman,
melumpuhkan 119 buah tank, termasuk hasil besar di Pantai Normandi,
Prancis, usai pendaratan D-Day 6 Juni 1944 (menghancurkan 25 tank
Inggris dan 28 kendaraan lapis baja).

Namun tank Tiger I hanya diproduksi selama dua tahun (Agustus 1942 s.d.
Agustus 1944), setelah itu tertandingi tank-tank baru keluaran Inggris.
Tank Tiger I mempunyai kelemahan, sering mudah macet saat rantainya
dipenuhi salju musim dingin. Kondisi ini, dimanfaatkan pasukan Uni Soviet untuk melumpuhkannya, pada saat pagi-pagi sekali sebelum salju
meleleh.

Generasi berikutnya adalah tank Tiger II yang dijuluki King Tiger, yang terlihat pertama kali beraksi di Front Timur pada Mei 1944 dan di Front Barat pada bulan Agustus. Berbobot 68 ton berkekuatan 690 tenaga kuda dengan kapasitas bahan bakar lebih besar, membuat King Tiger menjadi senjata dasyat, walau Jerman tengah kesulitan pasokan bahan bakar, akibat berbagai tangki bahan bakarnya dan pabrik hancur dibom pasukan sekutu.

Hanya sedikit King Tiger dapat diproduksi, di mana 100 unit di antaranya
digunakan pada pertempuran di Ardennes Belgia (dikenal sebagai Battle
of the Bulge) pada musim dingin 1944-1945. Untuk mengimbanginya,
pasukan AS kemudian menghadirkan M-4 Sherman dan penghancur tank
Typhoon, sedangkan Uni Soviet mengembangkan meriam kaliber 100 mm dan 152 mm untuk "membunuh" tank-tank Tiger dan King Tiger.

Akhir perang, banyak tank modern dibuat dengan mengembangkan rancangan dasar dari Tank Tiger maupun King Tiger. Di antaranya, tank M26 Pershing buatan Amerika dan disamping M1/M1A1/M1A2 Abrams, Challenger Inggris, dan lain-lain, yang sebagian mengambil desain Super Tank Jerman. Sementara Uni Soviet, membuat T-55, T-62, dan lain-ain terutama pada era kepemimpinan Josep Stalin.
El_Tuerto
Arado Ar E.561
The Arado Ar E.561 was a complicated design best left to the imagination.







The Arado Ar E.561 was on the drawing boards as early as 1937. Classified as a heavy fighter, the type would have lived and died via its combination of firepower and performance. World War 2 brought about the need for purpose-built bomber destroyers and heavy fighters capable of bringing down most anything in the skies. The Ar E.561 was envisioned to be just that, however, a complicated engine arrangement no doubt stalled the project to the point that it became one of many of the Luftwaffe's aircraft creations throughout the war - nothing more than an intriguing paper airplane design.

The Arado Ar E.561 was designed around a stout fuselage which contained seating accommodation for three of the four crew (the fourth crewmember was a gunner manning the lower-rear machine guns). Though the E.561 gave the appearance of having two engines - one per wing - in extended nacelle positions, the engines were actually placed within in the center portion of the fuselage. The variable-pitch propellers were to be operated by these rear-mounted engines via shafts running across the wing roots and into the pseudo-nacelles extending beyond the leading edges. The idea behind this type of arrangement lay in the thinking that should one engine experience failure whilst in flight, then the single operational engine would be able to switch over and run both propellers - basically allowing the aircraft to continue to fly without the total loss of any one engine. This arrangement was, however, only limited to the operation of both engines at half-speed which would have deteriorated performance of the large aircraft substantially. The rear-mounted, shaft-controlled propeller system design idea was only operationally attempted (with modest success) in the underpowered Bell P-39 Airacobra product - that being a single-seat lightweight fighter type. The tail section of the E.561 followed suit with that as found on the Messerschmitt Bf 110 "Destroyer" - and aircraft to which the E.561 would have shared some similarities to - featuring two vertical tail surfaces across a large spanning horizontal plane.

Armament was a combination of offensive and defensive systems. 4 x MG 151 20mm cannons would have been arranged just under the cockpit seating area for a devastating forward offensive punch. The rear of the craft would have been defended by a pair of 13mm heavy caliber machine guns - two controlled from a rear-facing dorsal cockpit position and the other from a ventral downward rear-facing gun position at rear.

Due to its "drawing board-only" existence, no performance data of the E.561 was available. In any case, it most likely would have been a bloated "tweener" design without the performance specs to take on the nimble single-seat fighters of the Allies but might have been a formidable bomber-destroying platform. The attempt at ingenuity in having the engines mounted in the fuselage allowed for a more streamlined shape would have presented a very complicated internal working for engineers to devise effectively given the constraints of a wartime Germany.
El_Tuerto
Arado Ar E.560
The Arado E.560 would have been an impressive machine had it been completed and flown before the end of the war.





Specifications: Arado Ar E.560/2
Dimensions:
Length: 62.66ft (19.10m)
Width: 59.06ft (18.00m)
Height: 0.00ft (0.00m)
Performance:
Max Speed: 553mph (890kmh; 481kts)
Max Range: 1,553miles (2,500km)
Climb Rate: Not Available
Ceiling: 0ft (0m; 0.0miles)

Structure:
Accommodation: 2
Hardpoints: 0
Empty Weight: 0lbs (0kg)
MTOW: 41,447lbs (18,800kg)
Power:
Engine(s): 2 x BMW 803 double radial engines developing 4,000hp each.

Weapons Suite:
E.560/2:
Up to 5,12lbs of internal ordnance.

E.560/4:
Up to 6,614lbs of internal ordnance.

E.560/7:
Up to 8,818lbs of internal ordnance.

E.560/8:
Up to 6,614lbs of internal ordnance.

E.560/11:
2 x MG 151 20mm cannons in fixed-forward nose position
2 x MG 151 20mm cannons in fixed-rear aft position
1 x MG 151 20mm cannon in remote-controlled tail position (periscope)
Up to 8,818lbs of internal ordnance.
El_Tuerto
Arado Ar E.581.4
The proposed E.581.4 featured a single turbojet engine with an split-intake mounted in the lower fuselage.







The Arado Ar E.581.4 was conceived of as a single-seat jet fighter utilizing a delta-wing shape. The system was not a "true" flying wing design in that it made use of twin vertical tail surfaces at the trailing edges. The system was identifiably different by the design of the lower fuselage - itself a deep, hull-like construction featuring large split intake openings just under the cockpit with the exhaust located at the extreme aft. The single HeS 0111 turbojet engine would have made up most of the internal workings of the fuselage underside. Vertical surface systems were located to either side of the engine exhaust on the high-mounted main wing elements. The position of the cockpit was to have allowed for good all-around vision though downward views would have suffered significantly no doubt due to the large wing [surface area. Proposed armament consisted of a pair of Mk 108 30mm cannons mounted at both wing roots. The undercarriage was intended to be of a tricycle arrangement with the main gears folding up into the wings themselves and the nose gear recessing into the fuselage underside. Entry into the cockpit was a hinged door making up the largest canopy portion, opening from left to right.
El_Tuerto
Messerschmitt Bf 109







Messerschmitt Bf 109 adalah pesawat tempur Jerman di Perang Dunia ke II yang dirancang oleh Willy Messerschmitt pada tahun 1930-an. Pesawat itu termasuk salah satu pesawat tempur modern pada jamanya dengan konstruksi metal, kokpit tertutup, dan roda pendaratan yg bisa dibuka-tutup. Bf 109 diproduksi sebanyak 30.573 unit (dalam kurun waktu dari September 1939 s/d May 1945) yg merupakan 47% dari seluruh jumlah pesawat Jerman yg diproduksi. Bahkan 1.000 unit lebih masih diproduksi setelah perang.

Bf 109 adalah tulang punggung dari Luftwaffe pada masa Perang Dunia ke II walaupun perannya mulai digantikan oleh Focke-Wulf Fw 190 sejak tahun 1941. Bf 109 m****ang rekor sebagai penghancur pesawat terbanyak di Perang Dunia Ke II.

Pada masa aktifnya, Bf 109 m****ang multi peran/ fungsi seperti pesawat tempur, pesawat pengawal, pesawat penangkal sampai pesawat intai.

3 Top Aces dari Perang dunia ke II, Erich Hartmann, top score fighter ace sepanjang waktu dengan 352 kemenangan resmi, Gerhard Barkhorn dengan 301 kemenangan, and Günther Rall dengan 275 kemenangan. Ketiganya tergabung dalam Jagdgeschwader 52, unit yang eksklusif menerbangkan Bf 109 dan dikenal telah membukukan lebih dari 10.000 kemenangan.


Tipe: Fighter

Perakitan: Bayerische Flugzeugwerke Messerschmitt

Desiner: Willy Messerschmitt

Penerbangan Perdana: 28 May 1935

Diperkenalkan: 1937

Status: Pensiun pada tahun 1945 di Luftwaffe dan 1965, di Spanyol

Pengguna: Luftwaffe (Jerman),Hungarian Air Force,Italian Social Republic, Romanian Air Force

Jumlah produksi: lebih dari 33,000

Variants Avia S-99/S-199 & Hispano Aviacion Ha 1112



Nama Messershcmitt adalah legenda. Utamanya buat Luftwaffe (AU Nazi Jerman), Negara Jerman sendiri, bahkan untuk dunia sekalipun. Ibarat pahatan emas namanya tak lekang karena waktu. Kiprahnya di ajang pertempuran udara adalah momok bagi pemburu lain maupun pesawat-pesawat pembom hingga akhir PD II.



Di hari-hari pertama The Battle of Brittain (1940) ia adalah lawan tangguh yang sulit dirontokkan bagi Hawker Hurricane dan Supermarine Spitfire RAF. Inggris benar-benar kewalahan menghadapinya. Kecepatan terbang Bf 109 tinggi sekali. Pemburu itu sangat liar dan ulet. Belum lagi hamburan peluru dari dua senapan mesin MG 17 kaliber 7,9 mm dan dua kanon MG FF/M di dua pod sayapnya, sangat deras dan sulit dibendung.

Hurricane memang punya delapan senapan mesin di sayap jumlah yang lebih besar. Tapi pada saat itu pilot-pilot Luftwaffe telah mengantongi pengalaman di perang saudara Spanyol, invasi ke Polandia dan perang di Perancis. Meski harus pula diakui Luftwaffe, menggempur Inggris bukanlah perkara mudah. Karena serdadu udara Swastika harus menyeberangi selat Inggris yang lebar untuk mencapai lokasi sasaran.

Itu pula sebabnya kondisi geografis Britania akhirnya menguntungkan RAF di akhir pertempuran. Pilot-pilot Messerschmitt banyak yang terperangkap saat kehabisan bahan bakar atau terhunus semua pelurunya lalu tercebur di selat sebelum sampai kembali ke Pangkalannya. Lain dengan pilot-pilot RAF yang bisa ‘loncat’ menyelamatkan diri pada saat kritis dan terjun di daratannya.

Bayerische Flugzeugwerke
The man behind the machine, Wilhelm "Willy" Emil Messerschmitt, mungkin tak pernah bermimpi bila kelak di kemudian hari ia akan menjadi orang besar setelah membuat penempur legendaris yang terkenal di seluruh dunia khususnya dalam era PD II. Anak pedagang anggur yang lahir di tanah merah Frankfurt-am-Main pada 26 Juni 1898 itu tumbuh sebagai anak biasa saja layaknya anak-anak pedagang anggur lainnya.

Yang membedakannya, karena Emil remaja sudah punya rasa ketertarikan yang tinggi untuk mendalami ilmu tentang pesawat. Hingga tiga tahun setelah kelulusannya dari Munich Institute of Technology dengan mengantongi ijazah Dipl.Ing (1923), Willy kemudian bergabung dengan Bayerische Flugzeugwerke di Augsburg sebagai kepala desainer merangkap enjinir. Kepiawaiannya dalam merancang pesawat, dibuktikan Willy dua tahun sebelum prosesi wisuda. Ketika ia membuat pesawat tak bermesin, glider.

Bmesserschmitt

Pada awal kariernya, Willy memang lebih tertarik pada glider dan pesawat amfibi. Empat belas tahun sebelum merancang pemburu monumentalnya Bf 109, pun ia lebih banyak berkutat dalam perancangan pesawat sipil. Lebih-lebih iklim pada saat itu memang masih terikat panas oleh perjanjian Versailles (Treaty of Versailles) usai PD I pada 1919 yang merestriksi pembangunan pesawat-pesawat perang.

Diluar Bayerische Flugzeugwerke, Willy sebenarnya membangun industri sendiri. Namanya Messerschmitt Flugzeugbau. Di perusahaannya ia menjual rancangan-rancangan pesawat sipil empat hingga sepuluh penumpang. Dan atas prakarsa pemerintah akhirnya kedua perusahaan itu dilebur menjadi Bayerische Flugzegwerke Allgemeine Gesselschaft (BFW) bermarkas di Augsburg-Haunsletten. Pesawat sipil rancangan Willy pun diproduksi dengan kode M.18, M.20, M.24 dan M.28.

Hingga musim semi 1934 pun BFW masih mengeluarkan pesawat sipil, Yakni M.37. Prototipe yang kemudian menjadi Bf 108 Taifun ("Typhoon"). Pesawat transpor ringan empat penumpang ini dilombakan dalam international tourist aircraf competition. Rancangan Willy kali ini memang bisa disebut gagal karena tidak banyak dipesan. Tapi banyak orang mengagumi desain cantilever sayap rendah dan roda lipatnya yang impresif.

Dan, semua berubah. Ketika pada tahun yang sama terdengar kabar yang berhembus dari Reichsluftfahrtministerium (RLM Kementrian Udara). Isinya; Adolf Hitler akan segera membangun kesatuan udara Nazi Jerman! Dan ia menginginkan sebuah pemburu ringan yang dapat diandalkan sebagai kekuatan utama.

Surat Herman Goring
Saat Hitler benar-benar mengumandangkan pembentukan Luftwaffe 1 Maret 1935, perjanjian Versailes perlahan mulai luntur. Terlebih ketika ia berpidato lagi di hari keenambelas pada bulan yang sama: "Jerman harus dipersenjatai!" ungkapnya. Seketika industri militer pun tumbuh lagi, menggulingkan pengembangan pesawat sipil yang sudah mulai menemukan platform-nya. Bahkan dapat dikatakan kebangkitan Jerman dalam dalam menorkan pesawat perang pada era ini adalah yang tercepat dan tersubur dibanding negara-negara lain.

Ketika nominasi industri pesawat yang boleh ikut berkompetisi untuk membuat pesawat yang diinginkan Hitler akan diputuskan, hampir saja BFW tidak disertakan oleh kementerian udara. Seorang pejabat di kementerian, Erhard Milch, yang memendam sentimen pribadi kepada Willy menilai BFW tidak bakal becus membuat penempur. Tapi Herman Goring yang memegang jabatan tertinggi sebagai menteri udara mengirim surat khusus kepada Willy untuk segera menyiapkan rancangannya dan ikut berlomba.

Hasilnya luar biasa. Musim gugur 1936, Bf 109 rancangan Willy dinyatakan menang menyisihkan Heinkel He 112, Arado Ar 80, dan Focke-Wulf dengan Fw 159. Dan Willy membuat Bf 109 dari desain Bf 108 yang kurang dilirik pembeli itu.

Namun, belum lagi Bf 109 menghela nafas setelah masuk jajaran luftwaffe, Juli 1936 Spanyol dilanda perang saudara. Kubu AD sayap kanan (Nasionalis Konservatif) pimpinan Jenderal Francisco Franco y Bahamonde melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Republik yang dianggap korup dan tidak efektif. Jerman menyokong Bahamonde yang sangat minim mesin perang udaranya untuk melumat pemburu Nieport-Delage NiD.52 yang sudah ketinggalan zaman milik pemerintahan Republik. Namun tanpa diduga kubu sayap kiri Republik juga dilindungi Soviet. Terciptalah ajang pertempuran pesawat-pesawat Jerman dengan pesawat Soviet, Polikarpov I-15 yang bersayap ganda, I-16 yang lebih setaraf dengan Bf 109 hingga pembom SB2.

Bf 109 tipe awal V4 yang diturunkan Hitler, memang sedikit kedodoran menghadapi pilot-pilot Polikarpov. Tapi untunglah varian kedua Bf-109B-1 "Bertha" sudah rampung. Bertha ikut merangsek. Pertempuran jadi makin sengit.

I-16 memang lawan paling seimbang bagi Bf 109B. Dua-duanya punya keunggulan. Meski Bf 109 kalah dalam hal manuverabilitas dan kecepatan menanjak, Tapi I-16 tak berdaya ketika harus bertempur di atas ketinggian 3.000 meter. Kecepatan level flight dan kemampuan menukik Bf 109 jauh lebih hebat. Tak salah bila Bf 109 mampu melumat Polikarpov dari atas atau membokongnya dari belakang secara tiba-tiba.

Hanya, pasukan Nazi Jerman pun bukan tanpa korban. Unteroffizier Guido Honess adalah tumbal pertama pilot Luftwaffe di medan perang. Tapi sebelum dijemput ajal, dalam operasi Brunnet ini Honess bersama Letnan Rolf Pingel berhasil menjatuhkan dua pembom SB-2 Soviet di kubu Republik. Mereka adalah pelukis udara pertama bagi pilot Luftwaffe. Honess menambahnya dengan menembak dua Aero A-101 serta tiga I-16 oleh Pingel, Feldwebel Adolf Buhl dan Feldwebel Petter Boddem. Pihak Republik memang mengklaim bahwa satu SB-2 bukan dijatuhkan "Bertha" melainkan oleh Fiat C.R.32 dari fasis Italia yang juga bergabung di kubu Nasionalis.

Dalam penyerangan kedua di The Battle of Ebro antara Juli hingga Oktober 1938, Komandan Jagdgruppe (grup tempur) 3 Staffel 3.J/88 Oberleutnant, Werner Molders mengangkat Bf 109 dalam pola serang baru dengan nama Vierfingerschwarm atau formasi empat jari. Konsep penggabungan dua rotte dengan dua elemen dasar dalam satu Staffel. Formasi yang bisa berubah secara mendadak menjadi berbagai penyerangan yang tak terduga musuh.

Tak salah bila Molder pribadi menjadi Ace di Condor Legion setelah meraih empat belas kemenangan. Dia pula lah yang menjadi pilot tempur pertama yang meraih angka 100 "kill". Ibarat dahaga yang tak pernah luruh, Bf 109 terus terlibat dalam perambahan perang udara. Semua medan perang di belahan Eropa disapunya dengan ganas. Hitler makin menjadi-jadi. Invasi terus dilakukan; ke Belgia, Polandia, Denmark, Norwegia, Inggris, Belanda hingga invasi terakhir ke negara beruang merah menjelang akhir PD II dalam operasi Barbarosa.

"Toni" di Graf Zeppelin
Saat pulang dari ajang laga The Battle of Ebro tahun 1938, versi "Emil" Me-109E mulai diproduksi. Melanjutkan pengembangan versi prototipe, "Bertha", "Clara" dan "Dora". Disinilah mulai terlihat perbedaan pemakaian prefiks Bf dan Me untuk Satu-kosong-Sembilan. Bahkan dalam beberapa dekade pada era tersebut para historian masih sempat beradu argumen tentang hal ini. Karena sejak versi "Emil" dan seterusnya penulisan Satu-Kosong-Sembilang kadang menggunakan prefiks Me atau Bf.

Entah karena "apa" pula, sejak tahun 1938 Willy memang lebih senang memberi kode Me untuk pesawat 109 rancangannya. Tapi yang jelas seiring waktu itu Willy memang memegang puncak pimpinan tertinggi di BFW dan kemudian hari mengakuisisinya menjadi Messerschmitt.

Dan bukan karena kebetulan bila versi "Emil" menjadi varian yang paling kesohor dari 33.000 Bf(Me) 109 yang berhasil diproduksi termasuk yang diproduksi di luar Jerman. Padahal setelah "Emil" masih banyak varian lain. mulai dari "Franz", "Gustav", "Toni" hingga "Zwilling" untuk Me-109Z. "Toni" adalah sebutan untuk versi angkatan laut Me-109T (Tragger kapal induk) yang dibuat dengan konfigurasi sayap lebih lebar dan dilengkapi arrester hook. Pemburu ini ditempatkan pada geladak Graf Zeppelin.

Kisah pemburu One-Oh-Nine memang tak cukup diceritakan dalam uraian singkat. Bagaimana pula ceritanya hingga ia bisa melahirkan Kanone (istilah untuk Ace di Jerman) terbesar sepanjang sejarah, Erich Hartmann yang mampu menggasak 352 lawan di udara dengan pemburu ini. Kemengangan pertamanya ketika ia menembak jatuh pemburu Soviet Il-2 Sthurmovik. Pemburu terbanyak yang pernah dibuat, melampaui angka 33.000 Bf 109
El_Tuerto
U-BOAT








El_Tuerto
Schwerer Gustav



Type Railway artillery
Place of origin Nazi Germany

Service history
In service 1941-1945
Used by Wehrmacht
Wars World War II

Production history
Designer Krupp
Designed 1934
Manufacturer Krupp
Unit cost 7 million Reichsmark
Produced 1941
Number built 2

Specifications
Weight 1,350 tonnes
Length 47.3 m
Barrel length 32.48 m (L/40.6)
Width 7.1 m
Height 11.6 m
Crew 250 to assemble the gun in 3 days (54 hours),
2,500 to lay track and dig embankments. 2 Flak
battalions to protect the gun from air attack.

Caliber 800 mm
Elevation Max of 48°
Rate of fire 1 round every 30 to 45 minutes or typically 14 rounds a day
Muzzle velocity 820 m/s (HE); 720 m/s (AP)
Maximum range 48 km (HE); 38 km (AP)
El_Tuerto
Mörser Karl (Gerät 040/041)




Karl dengan laras 54 cm


Karl dengan laras 60 cm

Mörser Karl (Gerät 040/041)
adalah mortar buatan Jerman. Karl mortar dibuat tahun 1937 (sebelum WW2), dengan kaliber 60 cm (Gerät 040). Lalu tahun 1942, guna meningkatkan jangkauan tembak dibuat laras 54 cm (Gerät 041) yang dapat dilepas-pasang dengan yang 60 cm.
kecepatan jelajah Karl hanya 10 km/jam. untuk jarak yang lebih jauh digunakan rel (rel ganda).

Type of weapon : Self-propelled gun carriage
Manufacturer : Rheinmetall
Caliber : 60 cm
Total mass : 124 t
Length : 11.15 m
Width : 3.16 m
Height : 4.78 m
Maximum speed : 10 km/h
Engine power : 427 kW
Armoring : 12 mm
Ammunition : High-explosive grenade/Concrete grenade
Projectile mass :
-High-explosive grenade = 1.7 t
-Concrete grenade = 2.2 t
Muzzle speed
-High-explosive grenade = 280 m/s
-Concrete grenade = 220 m/s
Maximum range
-High-explosive grenade = 6.6 km
-Concrete grenade = 4.3 km
El_Tuerto
Land Cruiser P-1000 dan P-1500 Ratte.





On June 23,1942, Dir. Dip. Ing. Grote (along with Dr.Hacker) from the Ministry of Armament, who was responsible for the production of U-Boots suggested the development of a tank with a weight of 1,000 tons. Hitler himself expressed interest in this project and allowed Krupp to go ahead with it. The project was designated as the Krupp P.1000 (Ratte - Rat). This behemoth "land cruiser" would be 35 meters long, 14 meters wide and 11 meters high. P.1000 would be equipped with 3.6 meters wide tracks per side made of three 1.2 meters tracks, similar to those used in excavators working in coalmines. It was planned to power P.1000 with two MAN V12Z32/44 24 cylinder Diesel marine engines with total power of 17,000hp (2 x 8,500hp) or with eight Daimler-Benz MB501 20 cylinder Diesel marine engines with total power of 16,000hp (8 x 2,000hp). According to the calculations, this would allow the P.1000 to travel at maximum speed of 40 km/h. P.1000 would be armed with a variety of weapons such as: two 280mm gun (naval gun used in Scharnhorst and Gneisenau warships), single 128mm gun, eight 20mm Flak 38 anti-aircraft guns and two 15mm Mauser MG 151/15 guns!!!

In December 1942, Krupp created the new design of a 1500 ton tank - P.1500. Its frontal armor would be 250mm thick and it would be armed with the 800mm super heavy barrel "Dora" type and possibly two 150mm artillery pieces. P.1500 would be powered by two to four submarine diesel engines for travel. In early 1943, Armaments Minister Albert Speer cancelled both projects. The P.1000 turret ended up at a coastal defense battery (Batterie Örlander) near Trondheim, Norway.

Prior to both the P.1000 and P.1500, in 1939, Krupp began working on other similar projects for a projected series of self-propelled coastal guns for the Kriegsmarine. The series was to include fourteen different platforms designated from R1 to R14. Armament was to range from 150mm to 380mm and they were to be mounted on fully traversable turntables on tracked carriages. One of the designs was the R2 coastal gun armed with a 280mm gun. The series never left drawing boards for obvious reasons.
El_Tuerto
Junkers Ju 87 Stuka: Pembom Tukik Legendaris



Sturzkampfflugzeuge atau Stuka nama kecilnya. Dalam Bahasa Jerman berarti pembom tukik. Nama ini kemudian disandang oleh pembom berukuran kecil milik Luftwaffe (AU Jerman), Junkers Ju 87. Dibuat pada masa jeda perang (1935), Ju 87 menjadi kunci kemenangan pola serangan kilat Jerman, Blitzkrieg, dalam masa PD II. Pembom ini juga terkenal karena suara peluit kematiannya sebelum menjatuhkan bom.

Kecil, sekilas mirip pesawat tempur pada zamannya yang condong ringan dan praktis. Tapi banyak yang mengatakan bentuk pesawat ini ugly (jelek) dan tidak lincah. Dengan mesin Jumo 210 Ca (versi Anton) berkekuatan 640 Tenaga Kuda, kecepatan terbangnya pun lambat, hanya 285 km/jam. Senjata pertahanannya juga terbilang minim. Yakni satu senapan MG 17 kaliber 7,92 mm di sayap. Dalam beberapa hal, satu senapan manual MG 15 kaliber 7,92 mm digunakan gunner (penembak) di kokpit belakang.

Pada versi G (Gustav) senjata ini diganti dengan sepasang kanon Flak 18 (BK 3,7) 37 mm, 12 peluru. Maka jadilah Ju 87G sebagai pembom dan penghancur tank yang mujarab. Oleh karenanya, julukan sebagai Kanonenvogel atau Canonbird maupun Panzernacker (pembelah tank) disandang pula oleh pembom yang masuk ke jajaran kekuatan udara Luftwaffe tahun 1937 ini. Bukti konkritnya, dalam Battle of Kursk (rangkaian penyerbuan Jerman ke Soviet, 1943-1944), Hans-Ulrich Rudel yang terbang dengan pembom ini sebanyak 2.530 sorti (meskipun tertembak jatuh 30 kali hingga sebelah kakinya harus diganti dengan kaki besi) berhasil memporak-porandakan 519 buah tank pasukan tentara Beruang Merah itu. Hasil yang jelas menakjubkan.


Peluit kematian

Oleh karenanya banyak sejarahwan penerbangan kagum dan menggolongkan pembom buatan firma Junkers Jerman ini sebagai yang legendaris. Bila di udara ibarat sebuah predator yang mengerikan. Jalannya yang pelan tiba-tiba bisa berubah menjadi sebuah tukikan burung besi yang mengantarkan bom-bom SC 250 kg sambil melengkingkan suara khas, "peluit kematian" dari terompet Jerricho yang dipasang para penerbangnya di batang roda utama. Tentara musuh yang menjadi sasaran hanya terbengong-bengong sebelum menyadari makhluk aneh baru di angkasa.

Salah satu sejarahwan yang memberikan komentarnya terhadap Ju 87 adalah William Green dengan mengatakan Stuka sebagai "An evil looking machine with something of the predatory bird in its ugly contours." Selain itu, dalam buku Warplane of the Luftwaffe (1994) disebutkan, Junkers Ju 87 adalah pesawat yang menenggelamkan kapal dan tank terbanyak dalam sejarah PD II untuk semua jenis pesawat. Kecuali tidak menyaingi Ilyushin Il-2 Shturmovik buatan Soviet. Dapat dimaklumi memang, karena Il-2 merupakan pesawat yang diproduksi terbanyak dalam sejarah yakni sekitar 35.000 sementara Stuka hanya dibuat sejumlah 5.700 buah saja.

Kehebatan Ju 87 dalam melakukan pemboman tidak diragukan banyak kalangan saat itu. Dalam sejarah penerbangan, dua pembom lain yang disebut mampu menandingi keefektifannya adalah SBD Dauntless dan Pembom Aichi D3A Val Jepang.

Kiprah pertama Ju 87 dimulai manakala pembom ini ditugaskan AU Jerman dalam legion condor untuk menyokong kekuatan front Nasionalis dalam Perang Sipil (civil war) di Spanyol (1936-1939). Dalam ajang perang melawan pasukan tentara sosialis Republik sayap kiri yang ditopang kekuatan Uni Soviet ini, Ju 87 membuka cakrawala baru diantara seliweran pesawat tempur di udara seperti Heinkel He 51, Fiat CR.32, Messerschmitt Bf 109D (Nasionalis), Hawker Fury, Polikarpov I-16 (Republik) maupun pembom lain yakni Savoia Marchetti, Junkers Ju 52/3m (Nasionalis) dan Tupolev SB-2 (Republik). Tentara Republik berhasil dipukul mundur, dan nama Stuka melambung ke permukaan.


Gempur Warsawa

Kesuksesan Stuka berlanjut dan mencapai momentumnya dalam penyerangan kilat Jerman ke Polandia sekaligus menandai dibukanya PD II di belahan Eropa pada 1 September 1939. Sebanyak sembilan Stukagruppen (grup pembom Stuka) atau 366 pesawat bergantian menutupi angkasa Polandia melengkapi pengiriman 300 pembom berat Heinkel He 111 dan pembom medium Dornier Do 17. Bahkan, dengan Stuka juga genderang perang terhadap Polandia dikumandangkan Hitler sebelas menit setelah tiga pembom ini terbang dari Elbing menuju sasarannya yakni Jembatan Dischau di atas Vistula pada pukul 04.36 pagi.

Ibukota Warsawa dibombardir. Begitupun dengan Pangkalan Udara Krakow dan Lemburg yang dihuni penempur tua PZL P.11c dan P.7, Pangkalan Angkatan Laut Putzig/Rahmel serta industri pesawat tempur PZL sendiri diberangus tanpa ampun.

Polandia melakukan perlawanan dengan pembom ringan PZL P.23b Karas. Namun usahanya masih terlampau kecil untuk mengimbangi kekuatan Jerman. Pasukan darat Nazi Jerman terus merangsak dan mengepung wilayah-wilayah militer Polandia. Maka dalam tempo 10 hari saja sebanyak dua belas divisi tempur di Kutno berhasil diisolasi tentara Nazi. Polandia mendapat dukungan Inggris dan Perancis, namun terlambat sebelum akhirnya bertekuk.

Dengan peran dan fungsinya inilah, tidak heran, Stuka yang muncul dan menggemparkan musuh ini disebut sebagai pembuka jalan dan tulang punggung (backbone) bagi kekuatan darat tentara Nazi. Jerman makin mendapat angin dan terus melakukan invasi di negara-negara Eropa. Begitupun dalam penggempuran ke Kota Rotterdam, Belanda (Mei 1940), Stuka tak jua dapat dibendung. Pembom ini adalah monster baru bagi musuh-musuh Hitler.

Istilah pembom tukik, dimana pesawat melakukan gerakan tukik dan membom (dive and bombing), sebenarnya sudah tercetus dalam masa PD I. Bahkan, disebutkan, para perancang Jerman sebenarnya mempelajari teknik ini dari Angkatan Laut Amerika yang akhirnya diwujudkan dalam sayembara tahun 1933 dan dimenangkan Junkers Ju 87 Stuka (1935). Junkers sendiri sebenarnya mulai mengotak-atik teknik membom tukik ini tahun 1920, yakni dengan mengeluarkan pembom bersayap ganda K-47, yang duabelas buah diantaranya pernah dijual ke Cina (1928).

Kemampuan menukik dan keluar kembali dari lintasan tukik adalah kelebihan tersendiri dari pembom bersayap camar terbalik (inverted-gull) Ju 87. Selain untuk mengakuratkan pemboman juga karena mekanisme ini dikendalikan secara otomatis atau auto pilot. Penerbangnya hanya men-set altimeter serta sudut tukik yang diinginkan. Setelah itu tinggal menurunkan bilah rem (brake) dibawah sayap dan pesawat akan bergerak sendiri.

Sejak dibuat tahun 1935 Stuka terus mengalami berbagai penyempurnaan dan versi khusus. Dari versi Anton hingga Gustav seperti disinggung di depan (meskipun untuk versi G ini sebenarnya terjadi pergeseran peran dimana kemampuan tukiknya hilang, akibat bilah rem di sayap bawah untuk tukik dihilangkan bagi sempurnanya penempatan pod kanon penghancur tank).

Versi lain misalnya adalah Stuka model C (Clara) yang dibuat untuk mengisi kapal induk Graf Zeppelin. Pembom ini dilengkapi tail hook (pengait tali), sayap lipat (folding wing) dan kemampuan batang roda yang jettisonable (bisa dilepaskan) untuk pendaratan (ditching) di laut. Namun versi ini hanya 12 unit saja dibuat, menyusul dihentikan pengembangan kapal induknya. Versi lain adalah pembawa bom torpedo yakni Ju 87D (meski dalam kenyatannya fungsi pembom torpedo ini masih jauh lebih baik dilaksanakan oleh pesawat berkemampuan terbang lebih cepat dan berkapasitas muatan besar yakni Henschel He 11H dan Ju 88A). Versi jarak jauh Ju 87R dengan penambahan kapasitas fuel tank serta versi latih Ju 87H.

Versi Berta dikembangkan dalam beberapa versi lain. Misalnya versi Trop yang digunakan oleh korp Afrika. Versi B juga digunakan di Front Timur oleh negara lain yakni Slovakia, Rumania, Bulgaria, Hungaria dan oleh Regia Aeronautica Italia.

Selepas versi A penambahan kemampuan senapan ditingkatkan. Yakni dengan pemasangan dua senapan mesin Rheinmetall MG 17 7,92mm, kanon 20mm MG 151/20 (Ju 87D-5, D-8), dan kapasitas bom yang lebih dari satu ton. Begitupun dengan penggantian mesinnya agar menambah kecepatan terbang.

Namun, bukan berarti Stuka tak bisa dilumpuhkan dalam sejarah pertempurannya. Hal ini sebenarnya sudah mulai terasa dalam peperangan besar dengan negara tetangga Inggris. Dalam Battle of Brittain sebanyak 280 Ju 87 diterbangkan untuk menyerang Inggris. Dalam perang ini meski Stuka meraih kemenangan dengan menjatuhkan pesawat tempur RAF, namun pada babak-babak berikutnya Stuka berguguran. Tidak lain hal ini akibat pengepungan yang dilakukan dua pemburu cepat nan tangguh Supermarin Spitfire dan Hawker Hurricane. Versi B, yang turun dalam peperangan menyeberang Selat Inggris ini sering diolok-olok sebagai sitting duck (sasaran empuk) di udara bagi pesawat tempur Inggris. Bayangkan, dalam enam hari peperangan, 60 Ju 87 dijatuhkan pihak lawan.

Oleh sebab itu, guna menyiasati bergugurannya Stuka dalam pertempuran berikutnya yang masuk dalam medan lebih ganas, Ju 87 sering dikawal oleh fighter. Disamping pada perkembangan berikutnya dibuat pula sebagai pembom malam (night bomber).

Dalam Battle of Kursk (1943-1944) Ju 87 pun mulai menemukan petanding yang lebih hebat. Tidak lain dia adalah pesawat serang darat Il-2 Shturmovik. Gerak langkah Ju 87 yang dikawal Bf 109G dan Fock-Wulf Fw 190A dimatikan oleh pesawat tempur taktis Lavochkin La-5FN dan Yakovlev Yak-9 yang bersenjatakan senapan mesin kaliber 12,7 mm 200 peluru dan kanon shVAK 20 mm 120 peluru. Dalam pertempuran hebat ini, dua pihak memang saling memukul. Namun Jerman kehilangan pesawat lebih banyak yakni 900 buah dibanding Soviet yang kehilangan 600 pesawat. Dua Ace Jerman Heinz Schmidt (173 kemenangan) dan Max Stotz (189 kemenangan) juga tamat riwayatnya dalam perang besar ini.

Selepas tahun ini, peran pembom tukik Ju 87 yang terasa menua akhirnya bergeser menjadi pesawat pendukung dekat (close support) atau Schlachtflugzeug, yakni dimulai pada versi D-5. Alasannya jelas, mengingat Ju 87 tidak bisa terus menerus dikawal fighter.

Bahkan, lebih dari itu, akhirnya Stuka juga digunakan untuk menarik glider.

Ada kemenangan, ada kekalahan. Namun dalam PD II Ju 87 Stuka tentu adalah fenomena tersendiri. Apalagi pembom ini dikenang sebagai pembom legendaris. Berkaitan langsung atau tidak, pembom ini disebut-sebut mengilhami pembuatan pesawat serang darat penghancur tank A-10 Thunderbolt (Warthog) milik AS, yang kejayaannya sempat kita saksikan dalam Perang Teluk 1991. (ron)

udey
gw palingg demen ama machine gun standar pasukan nazi...
jadi inget jamankecil.. dulu..
udey
gw palingg demen ama machine gun standar pasukan nazi...
jadi inget jamankecil.. dulu..
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.