
Setiap orang akan merasakan cinta , cinta yang indah dan suci namun apakah itu berlaku padaku. Usiaku sudah 20 tahun saat ini. Namun cinta tak pernah datang kepa daku, apa salahku. Semua orang memanggilku dengan nama jumbo. Ya itu wajar sebab berat badanku untuk seoaran wanita cukup tidak berimbang 80kg saat ini dengan tinggi 165cm.
Aku bagaikan seorang gajah diantara rusa rusa di kampusku, namun aku tidak pernah berkecil hati menunggu janji cintaku, walau terkadang merasa iri dengan semua sahabatku bercerita kisah cintanya. Sahabatku Dina mungkin yang tercantik diantara kami. Dia bagaikan bintang bersinar terang yang pancaranya membuat pria bertekuk lutut. Namaku maria , nama yang kudus kata orang tuaku. Aku bukan tidak malu dikatakan jumbo oleh temanku.apa daya usaha diet sudah kucoba namun setiap kali aku mencium bau harum masakan, perutku langsung merasa tak tertahankan untuk mencicipi, Dari sesendok menjadi dua sendok berakhir dengan 2 piring nasi beserta lauk pauk.
Pernahkan kalian melihat iklan sebuah pasta gigi tentang seorang gadis gemuk yang berjanji bertemu dengan seorang pangeran dengan kata kata
“aku pakai baju merah ya..” menurutku gadis itu mempermalukan kaum jumbo seperti aku, liat bertapa terhinanya ketika sang pangeran ketika melihatnya langsung kocar kacir seperti melihat hantu.
Aku berharap hal itu tidak pernah terjadi padaku dan siapapun. Aku juga bukan gadis yang bodoh banget hingga bisa dipermainkan. Nilai ku disetiap mata kuliah selalu bagus.
Tak pelik aku bagaikan superstar juara Indonesia idol ketika ujian yang selalu disorot setiap sobatku bagaikan menanti setiap bocoran. Ya begitulah nasibku, walau berakhir dengan iming iming makan bakso di kantin. Aku selalu membantu mereka dengan ikhlas karena aku percaya ketika kita baik pada orang lain kelak kita akan mendapat kebaikan dari orang lain pula, namun bila kita jahat maka kita akan dijahatin pula.
Mimpiku berkencan dengan seorang pangeran bak menjadi nyata ketika suatu ketika seorang pria bernama wen wen mengajakku kencan. Apakah ini sebuah mimpi, tidak dia meneleponku malam itu.
“halo.. Maria ya.. ehm.. besok ada waktu ga untuk bertemu?”
“hah.. siapa ya?” tanyaku
“ini Wen.. anak TI. Inget yang pernah ketemu di seminar..” jelasnya
“oh ya.. Wen yang dari perkalongan itu ya..!”
“tepat sekali.. besok kalau ada waktu aku pengen ajak kamu keluar jalan bisa..!”
“wah.. wah..( aku terdiam) boleh aku piker-pikir bentar nanti aku sms balik deh gimana!” ujarku berlaga jual mahal padahal pengen banget
“ok .. aku tunggu ya.. besok kalau jadi kita ketemu di citraland.!”
“ok Wen.. aku kabarin secepatnya..!!”
aku melompat kegilangan bagaikan baru saja mendapatkan undian 1 miliar. Ya Tuhan ini adalah kencan pertamaku. Apa yang harus aku lakukan. Sungguh tak kupikir apa yang harus aku lakukan. Aku berlari menuju kamar ku memperhatikan cermin dan bertanya tanya.. apa yang membuat Wen mau berkencan dengan gadis gemuk dan jelek seperti aku. Tapi ini nyata bagaimana bisa kupercaya Wen murid ganteng dari TI yang terkenal seperti seorang Tou ming se bintang F4.
Kuhubungin Dina sahabatku untuk mendapatkan tips kencan darinya. Dan kami pun berbicang banyak, Dina sungguh luar biasa beberapa pengalaman kudapatkan darinya kini yang harus aku lakukan adalah menjalankan semua ajaran Dina padaku Langkah petama yang aku lakukan adalah mencari ukuran baju pas untuk kencan petamaku. Tidak berpakaian merah seperti iklah pasta gigi. Aku ingin berpakaian ungu dan kalau perlu aku pergi ke salon tetangga hehe.
Aku membalas ajakan Wen dan tempat sudah kami tentukan , menunggu hari esok sungguh membuatku tak bisa tidur. Bayang bayang kencan pertamaku membuat aku terlihat ingin secepatnya pamer kesemua sobat sobatku.
Hari yang ku tunggu telah tiba. Dengan sebuah taksi aku menuju lantai 4 di sebuah mal Citraland disekitar kampusku. Berjalan bak bintang menuju tempat sebuah tempat makan di fast foods. Wen telah duduk disana menungguku.

“hei.. selamat datang ..” ujar pangeran bernama Wen
“iya..maaf aku terlambat..” berusaha menutupi sudah datang 1 jam sebelum itu menunggu di wc untuk menyusun kata kata.
“mau makan apa..” ajak Wen
“hm..mau makan apa ya.. kayaknya ga deh soalnya tadi uda makan..minum aja jus orange” menolak tawaran makan supaya ga keliatan rakus hehe
“ok. Tunggu aku pesanin ya..” wen pergi menuju tempat jual jus dan aku duduk sambil tak sabar menunggu kata kata selanjutnya.
Minuman datang dan aku perlahan menikmati suasana kami berbincang mulai dari mata kuliah dan aktifitasku, namun ada yang aneh setiap kalimat yang ia tanyakan selalu berakhir dengan kata Dina.
“biasa sama Dina makan dimana? Biasa sama Dina jalan kemana?” oh my god mengapa ada Dina pikirku dalam hati dan berusaha tidak berpikir macem macem dan menjawab secara diploma.
Kami berbincang banyak ntah mengapa setiap kata Dina terjawab wen merasa sangat puas dengan jawabanku , dia tidak bertanya mengapa aku begini dan begitu. Agak sedikit bosan namun aku hanya berpikir suasana ini wajar ketika kencan pertama.
“oh ya Maria aku mau kasih kamu sesuatu?” tanya Wen
“oh ya apa tuh hehe..?” tanyaku
“hm.. ini.. ( sebuah kalung emas putih..)” Wen memberiku sebuah kalung
“Oh my God kamu baik banget.. mau kasih aku kalung hehe”
“eh… hm.. ?” wen terdiam seperti malu
“kok kamu tau sih aku suka kalung emas putih hehe..” aku mengambil mencoba memperhatikan kalung dengan liontin symbol love
“hm.. maria maaf ya..kalau..!” ujar wen terdiam
“haha ga lagi ini uda cukup kok buat aku.. muat pasti dileher aku” ujarku mencoba memuji puas padahal belum tentu ini muat dileherku hehe
“bukan.. bukan itu maksudku..” ujar wen ulang
“lalu…?” tanya ku tersenyum bingung
“itu bukan buat kamu… itu buat Dina ..boleh aku titip kamu kasih ke dia!!”
“ hah…” aku berpura pura bego
“itu kalung buat Dina.. lu kan temen baik dia.. maksud gua mau nitip ini kasih ke dia.. gua ga pede untuk ngasih langsung tapi kalau melalui lu pasti bisa..!” jelasnya.
“oh..” aku berusaha menutupi rasa kecewa dengan senyuman palsu
“ini.. buat Dina.. hm.. ya udah nanti aku kasih ya kalau ketemu!”
“kalau bisa secepatnya ya.. aku pengen dia pakai ini!!” paksa Wen
“iya wen.. secepat…nya” aku terdiam berusaha menutupi rasa sedih di hatiku
“kalau gitu aku mesti pergi neh mar.. soalnya ada kerjaan .. ini uda gua bayar.. jadi sekali lagi thks ya…!” ujar wen pamitan
“iya wen.. makasih ya makan nya..” ujarku dengan wajah tersenyum palsu
Ketika Wen pergi begitu saja . hatiku seolah tertusuk panah beribu ribu kali. Aku mencoba menahan tangis ketika dia ada disini karena tidak mau terlihat bodoh dan lemah. Namun kali ini sungguh aku merasa malu dan terhina. Dia hanya mengajakku ku berkencan untuk sebuah kalung yang hendak di berikan kepada Dina..
Sepanjang perjalanan air mataku berlinang tiada henti . semua mata mungkin tertuju kepada gadis jumbo yang cengeng dan tidak tau malu ini. Sudah gemuk berharap mendapat cowok ganteng. Aku lupa berkaca dirumah lebih lama siapa aku. Hanya gadis gemuk yang bermimpi menjadi Britney spears. Air mata ini bagaikan sebuah kepahitan yang menimpaku. Aku tak lain sama dengan gadis gemuk yang ditinggalkan berkencan seperti iklan pasta GIGI. Mungkin inilah nasib setiap wanita jumbo seperti aku. Sungguh tidak adil.
Aku tidak peduli aku berada dimana. Didalam bus aku terus menangis berusaha menahan tangis pun percuma ntah bertapa malunya aku terhadap semua sahabatku ketika tau aku tidak berkenca tapi hanya seorang tukang pos kilat. Setiap orang di dalam busway melihatku menangis mereka seolah ikut mengejekku
“hei gadis gemuk tau diri uda gemuk bermimpi dapat cowok?” mungkin kata kata itu tersirat dari wajah mereka.
Hingga sebuah tissue tiba tiba muncul di depanku.