Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Antologi Puisi Dunia
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Poetry Room
gadispantai
William Butler Yeats (Nobel prize winner 1923)


(1865 - 1939)

Aedh Mengharap Kain dari Sorga

Seandainya aku punya kain sulaman sorga,
Berhiaskan cahaya perak dan keemasan,
Kain malam cahaya dan separoh cahaya
Yang biru yang suram dan yang kelam,
Akan kugelar kain itu di bawah kakimu:
Tetapi, karena miskin, aku hanya punya mimpi;
Telah kugelar mimpiku di bawah kakimu;
Lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku.
gadispantai
Rabindranath Tagore (Nobel prize winner 1913)


(1861 - 1941)

Tamu

Lama tiada tamu berkunjung ke rumah, pintu-pintuku tertutup, jendela terpalang:
kupikir malam-malamku akan sepi.
Ketika mataku kubuka kusaksikan gelap telah lenyap.
Aku bangkit dan lari kemudian kulihat batu gapura rumahku hancur, dan lewat
pintu terbuka angin dan cahayamu mengibarkan bendera-benderanya.
Dulu ketika aku jadi tawanan di rumahku sendiri, dan pintu-pintu tertutup, hatiku
senantiasa ingin melarikan diri dan pergi mengembara.
Kini aku masih saja duduk di muka gapuraku yang hancur, menunggu
kehadiranmu.
Kini kau telah mengikatku dengan kebebasanku.
gadispantai
Gunter Grass (Nobel prize winner 1999)


(1927 - )

Kebahagiaan


Sebuah bis tiada pemumpang
melaju dalam malam berlucut bintang
Mungkin supirnya sedang bernyanyi
dan penuh bahagia karena dia bernyanyi.
gadispantai
Alexandr Solzhenitsyn (Nobel prize winner 1970)


(1918 - )

(No-Title)

Kapankah masanya
Ketika kutaburkan benih-benih yang baik?
Sebab telah kulewatkan masa remajaku
Dalam nyanyian di dalam bait-Mu

Kepintaran dari buku menyala cemerlang
Menusuk otakku yang angkuh
Rahasia dunia ... ada dalam genggamanku
Nasib ... seolah lunak seperti lilin

Darah menggelegak – dan segala desir
Bersinar di hadapanku
Tanpa suara bangunan dari imanku
Runtuh di dalam hati

Tapi di sini di antara ada dan ketiadaan
Sambil tersandung-sandung dan meraih tepian
Aku memandang ke belakang dengan gentar
Dan berterima kasih atas kehidupan yang telah kujalani

Ketajaman pikiran maupun keinginan
Tidak mampu menerangi kelokan kehidupan ini
Tapi harus dengan kemilau makna yang lebih tinggi
Yang menjadi jelas bagiku kemudian

Sekarang cangkir pengukur kembali kepadaku
Untuk menciduk air kehidupan.
Tuhan alam semesta! Aku percaya lagi!
Aku telah menolakmu, tapi Engkau setia padaku!
gadispantai
Friedrich Holderlin


(1770-1805)

Dahulu dan Sekarang

Di masa mudaku, aku girang di pagi hari,
Malamnya aku menangis; kini, kala agak tua,
Dengan bimbang hariku kumulai, tapi
Kudus dan bersemangat bagiku akhirnya
gadispantai
Heinrich Heine


(1797-1856)

Peringatan

Buku-buku begitu kausuruh cetak!
Kawan budiman, kau pasti celaka!
Uang dan hormat, itu kau hendak?
Hendaklah kaupakai kata merendah.

Tidak pernah engkau kuminta
Bicara demikian di depan rakyat,
Bicara demikian tentang pendeta
Dan tentang para pemangku daulat.

Kawan budiman, kau pasti celaka!
Raja-raja jauh jengkaunya.
Para pendeta panjang lidahnya
Dan rakyat tajam telinganya.
gadispantai
Czeslaw Milosz (Nobel Prize Winner 1980)


(1911 - 2004)

Nyanyian tentang Hari Kiamat

Pada hari kiamat
Seekor lebah mengitari sekuntum bunga,
Seorang nelayan menambal jalanya kemerlapan.
Lumba-lumba bahagia berloncatan di laut,
Sekawanan burung gereja bercanda di bekas hujan,
Dan ular bersisik keemasan sebagaimana mestinya.

Pada hari kiamat
Ibu-ibu melintasi padang dengan payung di tangan,
Seorang pemabuk mengantuk di tepi rumputan,
Penjual sayur berteriak di sepanjang jalan,
Dan sebuah perahu layer-kuning menghampiri pulau,
Suara biola bergetar di udara tenang
Dan menyusup ke malam berbintang.

Dan mereka yang mengharapkan kilat dan guruh
Pasti kecewa.
Dan mereka yang mengharapkan perlambang dan terompet malaikat
Tak percaya apa yang terjadi kini.
Selama matahari dan bulan di atas sana,
Selama lebah menghampiri mawar,
Selama bayi-bayi sehat dilahirkan,
Tak ada yang mempercayai apa yang terjadi kini.

Hanya seorang lelaki berambut putih, yang mestinya rasul,
Namun bukan rasul – sebab ia terlampau sibuk bekerja,
Berkata berulang kali sambil mengikat tomat-tomatnya:
Tak akan ada hari kiamat lain,
Tak akan ada hari kiamat lain.
gadispantai
Karl Marx


(1818 - 1883)

Untuk Jenny

I

Jenny! Dengan manja mungkin kau 'kan bertanya
Mengapa sajak-sajakku selalu ditandai "Untuk Jenny"
Kala diketahui, hanya untukmu jantung ini berdegup cepat
Kala diketahui, hanya buatmu sajak-sajakku mendendangkan rindu
Kala diketahui, hanya driimu kidung-kidungku mendapatkan ilhamnya
Kala setiap huruf melantunkan namamu
Kala setiap penggal kata mendapatkan iramanya darimu
Kala setiap tarikan nafas tak pernah lepas dari Sang Dewi?

Karena nama itu begitu manis terdengar,
Karena mengucapkannya memberi makna begitu dalam
Begitu penuh, begitu merdu di telinga,
Bagai Jiwa merekah di kejauhan
Bagai senar-senar emas sebuah Kecapi penuh harmoni
Bagai sosok agung nan menakjubkan.

II

Lihatlah! Dapat saja kupenuhi kitab ribuan lembar
Hanya dengan menulis "Jenny" di setiap baris,
Namun tetap saja akan ada sejuta isi hati tersembunyi,
Tindakan abadi dan Kehendak yang kokoh,
Bait-bait indah yang rindu menunggu,
Segala kerlip dan sinar cahaya
Segala kepedihan dan kegembiraan ilahi
Segala Kehidupan dan Pengetahuan yang kumiliki.
Dapat saja aku membacakannya
Pada bintang-bintang yang berkelip di atas sana
Namun dari Zefir semuanya 'kan kembali padaku,
Dari gemuruhnya dentuman ombak ganas.
Sungguh, 'kan kutulis kata-kata ini sebagai bait pengulangan,
Sepanjang segala jaman -
CINTA ADALAH JENNY,
JENNY ADALAH NAMA DARI CINTA
fitriah
wah...mrk(gbr2na) sdh tua2 yach....smile.gif
gadispantai
Ryunosuke Akutagawa


(1892 - 1927)

(nukilan dari Kappa)

Di semak bunga-bunga, di antara rumpun bambu,
Sang Budha tertidur lelap

Dengan pohon ara yang layu di tepi jalan,
Kristus, juga telah mati.

Tapi kita semua perlu beristirahat -
Meskipun di depan panggung

Ketika kalian melihat di belakang panggung
Kalian hanya akan menemukan kanvas yang
compang-camping
eiger
terjemahan sendiri bro ? wink.gif
gadispantai
semua puisi di atas saya ambil dr berbagai buku2 antologi puisi dunia terbitan indonesia. Jadi bukan terjemahan saya om, tapi untuk beberapa puisi saya udah menerjemahkan tapi blom brani di share...malu om kualitas terjemahannya masih jelek...hehehe...maklum om nerjemahin puisi itu butuh ketangkasan, ketepatan, keluasan dan kecerdasan yang khusus...tapi om sebenarnya salah satu maksud dr thread ini yaitu supaya kawan2 bluefame sedikit belajar dan berani mempublikasikan puisi2 terjemahan sendiri. ok om....thx
gadispantai
Robert Louis Stevenson


(1850-1894)

Requiem

Di bawah langit luas bertabur bintang
Kau gali kubur dan biar aku telentang
Girang aku hidup dan mati aku girang,
Dan kurebahkan diri bersama satu amanat.

Beginilah sanjak bagiku kaucantumkan:
Di sini ia berbaring di tempat ia idamkan;
Telah pulang nelayan, pulang dari lautan,
Dan pemburu telah turun dari bukit.
BatmaИ
thanks and keep on posting
BatmaИ
thanks and keep on posting
archus
Thank's for share boz great post!
predianto
very good! thanks
kamandaka007x
makasih ya udah bikin terjemahannya
gadispantai
Friedrich Nietzsche


(1844 - 1900)

(Nukilan dari Thus spoke Zarathustra)

O Manusia! Perhatikan!
Apa yang dikatakan oleh suara tengah malam yang dalam?
"Aku tiduri tidurku,
"Dan kini terbangun pada ujung mimpi:
"Dunia itu dalam,
"Lebih dalam daripada yang bisa dipahami oleh siang.
"Dalamlah kemalangannya,
"Kegembiraan - lebih dalam daripada kepedihan hati:
"Kemalangan berkata: Pudar! Pergi!
"Tetapi semua kegembiraan menginginkan keabadian,
"Menginginkan keabadian yang dalam, dalam, dalam!"
gadispantai
Octavio Paz (Nobel Prize Winner 1990)


(1914-1998)

Titik Mula Puisi

Kata, suku kata, kelompok kata
adalah bintang-bintang yang berputar
menuju pusat abadi.

Dua tubuh, banyak wujud
datang bersama dalam satu kata.
Kertas terbungkus tinta tak terhapus
yang tak seorang pernah mengucapkannya
tak seorang pernah mencatatnya.
Jatuh di halaman buku, menyala
membakar dan mengigau di sana.

Maka puisi pun ada. Dan cinta terwujud.
Bahkan jika aku tak lahir
Puisi harus ada
Sebab apa yang puisi persiapkan
adalah suatu keharusan cinta.

Saya melihat seorang lelaki-matahari
dan seorang perempuan-bulan.
Yang lelaki menggunakan tenaga tubuh
yang perempuan menggunakan tenaga kata.
Dan cinta yang tak terkalahkan
menorah secercah cahaya pada kegelapan.
Setiap keadaan menyediakan jalan lewat
bagi rajawali-rajawali cahaya.

Puisi adalah puncak pencapaian derita penyair.
Tiba tengah hari, pohon-pohon raksasa berdaun lebat
tak terkalahkan. Dalam gedung lelaki dan perempuan
menyanyikan lagu matahari
menawarkan benda-benda tembus cahaya.
Tubuhku terbungkus
buih ombak berwarna kuning.
Dan tak ada lagi milikku
akan bicara melalui suaraku.

Ketika sejarah tidur, ia akan bicara dalam mimpi:
di dahi orang-orang tidur puisi adalah sebuah rasi darah.
Ketika sejarah terjaga, khayal diterjemahkan ke dalam tindakan.
Puisi ambil bagian. Puisi mulai bertindak.

Dan apa yang kauimpikan
itu yang kaudapatkan.
Steve Austin
Download ebook Khalil Gibran
http://www.ziddu.com/download/2171694/KhalilGibran.pdf.html
Download ebook 100 Sajak terbaik
http://www.ziddu.com/download/2125005/100g...tpoems.pdf.html
gadispantai
@steve Austin thengkyu yah atas apresiasi dan partisipasinya...tp tolong liat judul threadnya "Khusus untuk puisi2 terjemahan", jadi tidak menerima puisi dalam bahasa asing selain bahasa Indonesia. Dan alangkah lebih baik lagi kalau puisi2 tersebut langsung diposting agar langsung bisa dibaca, jadi tidak sekedar mencantumkan link2 saja...oke terima kasih...mmuach
pendexs00
made indonesia mana ya? PAK CHAIRIL?
masih di situkah engkau?
mr. ego
Kereeen pooolll
gadispantai
Frederico Garcia Lorca


(1898-1936)

Perpisahan

Jika aku mati,
biarkan balkon terbuka.

Bocah cilik nikmati jeruk.
(dari balkon aku bisa melihatnya.)

Buruh panen memanen gandum.
(dari balkon aku bisa mendengarnya.)

Jika aku mati,
biarkan balkon terbuka!
expressless
versi aslinya ada boss?..linknya ga bs lg tu..
gadispantai
Pablo Neruda (Nobel Winner 1971)


(1904 - 1973)

Tiada Selain Kematian

Adalah kuburan yang kesepian,
makam yang penuh dengan tulang belulang yang tak berbunyi,
hati yang berjalan melalui sebuah terowongan,
seperti bangkai kapal kita akan mati memasuki diri kita sendiri,
seakan-akan kita tenggelam dalam hati masing-masing
seakan-akan kita hidup lepas dari kulit kedalam jiwa.

Dan adalah mayat-mayat,
kaki yang terbuat dari tanah liat yang dingin dan lengket,
kematian ada di dalam tulang-tulang,
seperti gonggongan dimana tiada anjing-anjing,
keluar dari bel entah di mana, dari makam entah di mana,
tumbuh di dalam udara lembab seperti tangisan hujan.

Terkadang aku melihat sendiri,
peti mayat yang sedang berangkat,
dimulai dengan kepucatan kematian, dengan wanita yang memiliki rambut mati,
dengan tukang-tukang roti yang seputih malaikat,
dan gadis-gadis muda yang termenung menikah dengan notaris publik,
peti mati melayari vertikal sungai kematian,
sungai berwarna ungu gelap,
menyusuri hulu dengan layar-layar yang berisikan suara-suara kematian,
berisikan suara kematian yang merupakan diam.

Kematian datang dengan semua suara itu
seperti sebuah sepatu tanpa kaki di dalamnya, seperti sebuah jas tanpa seorang laki laki di dalamnya,
datang dan mengetuk, menggunakan sebuah cincin tanpa batu di dalamnya, tanpa jari di dalamnya,
datang dan berteriak tanpa mulut, tanpa lidah, tanpa kerongkongan.
namun langkah-langkahnya bisa didengar
dan pakaiannya membuat suara keheningan, seperti sebuah pohon.

Aku tidak yakin, aku mengerti cuma sedikit, aku tidak bisa begitu melihat,
tetapi sepertinya untukku nyanyiannya memiliki warna kelembaban bunga violet,
dari bunga violet yang berada di rumah di dalam bumi,
karena wajah kematian adalah hijau,
dan muka yang diberikan kematian adalah hijau,
dengan penetrasi kelembaban dari sehelai bunga violet
dan warna muram dari musim dingin yang menyakitkan hati.

Tetapi kematian juga melewati dunia berbaju seperti sebuah sapu,
menyapu lantai, mencari tubuh-tubuh mati,
kematian ada di dalam sapu,
sapu adalah lidah dari kematian yang mencari mayat-mayat,
adalah jarum dari kematian yang mencari benang.

Kematian ada di dalam tempat tidur gantung yang terlipat,
yang menghabiskan hidupnya tidur di atas matras-matras lambat,
di dalam selimut-selimut hitam, dan tiba-tiba melepaskan nafas:
meniupkan suara ratapan yang membengkakkan seprai,
dan tempat-tempat tidur pergi berlayar menuju pelabuhan
dimana kematian sudah menunggu, berpakaian seperti seorang laksmana.
gadispantai
T.S. Elliot (Nobel Winner 1948)


(1888 - 1965)

Pada Sepoi Malam: Sebuah Rhapsody

Pukul dua belas, tepat.
Sepanjang rengkuhan jalan
Bertahan pada sintesa bulan,
Bisik mantra-mantra bulan
Mengabur lantai kenangan
Dan segala relasi jelas kini,
Segala memisah, mempertegas diri,
Setiap lelampu jalan yang kulintas
Berdentum bagai tambur kematian,
Tengahmalam menyentak lepas kenangan
Bagai lelaki marah mencabut kering geranium.

30 menit dari pukul satu,
Lelampu jalan memercik
Lelampu jalan berkata,
"Beri hormat itu perempuan
Yang menggamangkanmu ke sinar pintu itu
pintu yang membuka padanya seperti seringai.
Kau lihat, ujung gaunnya
koyak berlumur pasir
dan kau lihat sudut matanya
mengerling bagai lencana yang dipakai miring.

Kenangan melambung, tinggi dan kering
Kerumun dari yang terpintal-terjalin
Jalinan cecabang di senarai pantai
Terasa hambar dan berkilau
Seperti yang dunia serahkan
Rahasia tulang kerangka
putih dan keras
Selingkar pegas di halaman pabrik
Karat yang merekat, tak lagi ada kuat
Keras melengkung, siap didentang-dentang.

Aku melihat ada kosong di lorong mata bocah itu.
Aku sudah melihat mata di jalan itu
Menatap tajam menembus benderang jendela,
Dan seekor ketam, satu sore, di genang kolam,
Seekor ketam tua, kepah di punggungnya,
Mencengkeram ujung tongkat yang kugenggam.

Pukul tiga, tiga puluh menit,
Lelampu memercik,
Lelampu memberengut dalam gelap.

Lelampu yang bergumam:
"Beri hormat bulan itu,
La lune ne garde aucune rancune,
Bulan mengerdip, matanya redup,
Bulan tersenyum, ke pencil sudut-sudut.
Bulan mengelus lembut rambut-rambut rumput.
Bulan yang telah kehilangan kenangan.
Parut cacar mengacau wajah bulan,
Tangan bulan menata mawar kertas,
yang menebar aroma debu dan Cologne apak,
Bulan sendiri, dengan seluruh aroma malam
Yang saling bersilang di sisi seberang pikir bulan.
Kenangan pun tiba-tiba tiba
Dari Geranium yang kering di teduh matahari,
Dan menabur di celah karang,
Aroma chesnut menebar di jalan-jalan
Dan aroma perempuan di kedap ruang
Dan sengak rokok di koridor
Dan uap koktail di bar."

Lelampu berkata,
"Pukul empat,
Inilah nomor pintu itu,
Kenangan!
Engkau punya kuncinya,
Lampu kecil menebar lingkar sinar di tangga,
Menaik.
Ranjang membuka; sikat gigi menggantung di dinding,
Lepaskan sepatu di depan pintu, tidurlah,
bersiap untuk hidup esok lagi."

Hunus terakhir sang pisau.
gadispantai
Charles Baudelaire


(1821 - 1867)

Malam-Malam di Sorga Tak Lebih Cantik

Malam-malam di sorga tak lebih cantik
Ketimbang dirimu, kekasih, tenang dan duka cita
Bejana tangisku; dan ketika kau berpaling
Cintaku tumbuh makin kuat. Malam mengubah hari,
Aku mencintamu untuk sebuah ikatan ironi
Tempatmu di antara langit dan pembelaanku

Aku merangkak susuri tubuhmu layaknya sekumpulan
Cacing menyusuri sebuah mayat. O binatang buas, pujaan
Semakin kau perlihatkan padaku, untuk memperbesar rasa sakitku
Kebaikan dan hinaanmu yang keras kepala
gadispantai
James Joyce


(1882 - 1941)

(nukilan dari A Potrait of the Artist as a Young Man)

Adalah masa muda dan kebodohan
Yang membuat pria muda ke perkawinan,
Jadi di sini, kasih, kutinggalkan pendirian.
Apa yang tak dapat disembuhkan, tentu,
Mesti diderita, tentu,
Jadi 'ku akan pergi ke Amerika.

Kekasihku, gadis itu rupawan,
Kekasihku dia menawan:
Ia seperti whiski bagus waktu baru disajikan;
Tapi saat sudah lama sekali
Dan menjadi dingin
Ia pudar dan mati seperti embun gunung tinggi.
gadispantai
Derek Walcott (Nobel Winner 1992)


(1930 - )

Dunia Baru

Setelah Firdaus,
adakah sesuatu yang mengejutkan?
Tentu saja ya, keheranan Adam
pada manik-manik keringat pertama.

Sejak itu, daging
harus ditaburi garam,
agar menghayati batas musim,
kekhawatiran dan panen,
rasa gembira yang sulit,
namun yang, akhirnya, menjadi milik sendiri.

Ular? Ia tak akan berkarat
di pohon bercabang itu.
Ular mengagumi kerja,
ia tak akan meninggalkan Adam sendirian.

Dan keduanya akan menyaksikan daun-daun
memutihkan pohon adler,
pohonan ek menguningkan Oktober,
semua jadi uang.

Dan ketika Adam dibuang
ke Firdaus Baru kita, dalam perut bahtera,
ular itu pun melingkar di sana
sebagai sahabat; itu memang maunya.

Adam punya gagasan.
Ia dan ular itu akan berbagi keuntungan
atas hilangnya Firdaus.
Jadi keduanya menciptakan Dunia Baru. Dan tampaknya bagus.
gadispantai
Wilhelm Busch


(1832-1908)

Buku Hidup

Dendam itu minus dan percuma.
Baik coret dari buku hidup
Hanyalah cinta satu-satunya
Positif tercatat di buku hidup.
Apa minus atau plus sisanya
Bagi kita, kentara akhirnya.
gadispantai
Alfredo García Valdez

Pintu

Di mana pun kauberada: di dasar laut, di pucuk bintang, di rongga pepohonan, di dasar batu prasasti, pun di bola mata perempuan, pintu terbuka dan tertutup. Hujan kerinduan atau tegangan hasrat sanggup membukanya. Pasir mimpi menumpuk di ambangnya. Dan di atas pintu, nama sejatimu terukir dengan garam. Di baliknya ‘kan kaujumpai ia yang lain, sosok sejati, yang pergi berkeluyuran selagi kaumenangis, tidur atau bercinta.

Pintu lambangkan perjanjian yang mengikatmu dengan dunia kematian, pun dengan alam kehidupan. Di baliknya tiada selir ataupun perpustakaan: ini bukan ilmu tentang aksara atau daging. Pintulah engsel yang satukan surga dan neraka; pintulah piston yang pompakan lautan teduh, jua berbadai; dan pintulah rongga pengatur alur nafasmu sebagai orang mati, pun sebagai orang hidup.

Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang langkahi ambang pintu dan lanjutkan permainan mengasyikkan. Sang kekasih simak cakapmu penuh sabar dan mencari jejak-jejak kata wasiat, mengelusmu di tidurmu dan temukan kunci di antara tulang-belulangmu. Bila ia sanggup lewati pintu itu, ia bakal menjelma jadi sosok utuh, yang berjalan-jalan selagi kaumenderita, bekerja atau tertawa.

Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang nekat mengusik si macan diam.


(pnrjmh: Yohanes Manhitu)
gadispantai
Paul Verlaine


(1844-1896)

Kidung Musim Gugur

Sedu mengalun
Dawai biola
Musim gugur
Menyayat kalbu
Dengan lara
Menjemukan.

Segala sesak dada,
Pucat wajah, tatkala
Lonceng bendentang,

Kuterkenang
Hari-hari silam
Bercucuran air mata;

Dan kupergi
Terseret badai
Melayang-layang
Kian ke mari,
Bagai sehelai
Daun kering.
gadispantai
Gabriela Mistral (nobel winner 1945)


(1889-1957)

Ulurkan Tanganmu

Ulurkan tanganmu dan ‘kan berdansa kita,
ulurkan tanganmu dan ku’kan kau cinta.
Berdua ‘kan serupa sekuntum bunga
serupa sekuntum bunga, itu saja…

Berdua ‘kan senandungkan satu syair,
dalam irama yang sama kau ‘kan berdansa.
Bagai sebutir gandum ‘kan bergelinding kita,
bagai sebutir gandum, itu saja…

Namamu Mawar dan aku Harapan,
tapi namamu ‘kan lepas dari ingatanmu,
sebab kita ‘kan berpadu, satu dansa
di bukit dan itu saja…
keroro
keren2 boss

bisa minta referensi bukunya g?
klo boleh itu juga
gadispantai
William Shakespeare


(1546-1616)

Akankah Kubandingkan Kau Dengan Musim Panas

Akankah kubandingkan kau dengan musim panas?
Kau lebih lembut dan lebih jelita
Angin kasar yang menggugurkan mei dan tunas-tunas,
Dan yang hari-harinya berlangsung sebentar saja

Kadang begitu panas bola mata yang di angkasa
Dan kadang pula sinar emasnya meredup
Dan keindahan demi keindahan pun sirna
Begitu saja atau karena alam berhenti berdegup

Namun musim semimu yang kekal tak akan layu
Dan takkan pernah lenyap keelokanmu
Maut pun tak akan mampu menyeretmu ke kubur sebab
Kau tumbuh dalam keabadian waktu
gadispantai
Jalaluddin Rumi


(1207-1273)

Sesaat Setelah Mengalami

Sesaat setelah mengalami kisah cinta
Pertamaku
Aku pun mencarimu
Tanpa tahu
Bahwa itu tak perlu

Sepasang kekasih tidak perlu bertemu di
Tempat tertentu
Sebab yang satu ada dalam yang lain
Sepanjang waktu
gadispantai
Imam Khomeini


(1902-1989)

Lunglai Pemabuk

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kujadi debu di jalannya
Saat kutinggalkan hidup deminya
Saat jadi pencinta-sejatinya kuhanya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat segelas ramuan jiwa
Kut'rima dari tangan-lembutnya
Dan, dalam lupa dua dunia
Terantai di untaian rambutnya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kepalaku di telapaknya
Ciuminya hingga hidup usai saja
Dan jadilah aku, hingga kiamat tiba
Mabuk dari gelasnya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kuterbakar bagai pencinta
Selalu saja deminya, dan nanar
oleh wajah-manisnya
dalam bengongnya si pemabuk

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kumabuk kepayang
Dalam lunglai si pemabuk
Dan jadilah kutahu semua
Rahasia-rahasia- tersembunyinya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kudapati di ujung-ranjangku
Yusuf penyejuk-mataku
Dan jika tidak, seperti Ya'kub
Dibuai bau-harumnya
gadispantai
Kahlil Gibran (1883 - 1931)



Penyair

Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,
Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung ‘nightingale’
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan
Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh

Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang
dan kemanusiaan menyuburkannya

Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia
pada zamannya,
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka? yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa? org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam? kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel…

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)
gadispantai
John Hartley Williams (1942)



ELEGI

Dalam kesedihan seorang lelaki
yang telah menebang pohon terakhirnya
ada tempat kosong
di mana naungan tumbang, dan kursi-kursi
dan meja, dan orang-orang hilang
merasa sejuk sebelumnya, terlindung dari sinar mentari.

Anehnya, lelaki itu tidak sedih.
Dia telah memusatkan pikiran pada dua hal utama :
melanjutkan, dan meluaskan
Semua ini membuatnya seperti sepasang sarung tangan.
Sementara istrinya
mewaspadai kegelapan, sejenak para pengunjung menyimak.

hanya di antara kami yang tahu
apa lelaki itu tadinya, atau masih,
meneguk kesedihan itu dari cangkir-cangkir kecil,
duduk di belakang jendela. Lebih baik kami pergi.
Itu seolah-olah semua bukan pohon-pohon kami, mengingat.
Itu seolah-olah kami tidak pernah di sini, bahkan meski kami pernah.


(terjemahan Wahyu Barata)
gadispantai
Seamus Heaney (Nobel prize 1995)


(1939)

POHON RINDANG

Dia takkan pernah bangkit lagi tetapi dia siap.
Mengawali serupa dicerminkan pagi,
Dia menatap ke luar jendela besar, ajaib
Tak peduli hari cerah atau mendung.

Mengintai dari lantai atas ke seluruh negri.
Terutama truk-truk susu, terutama asap, gumpalannya, pohon
Di kelembaban yang meruah di atas pagar-pagar tanaman
Dia melakukannya sendiri, dia seperti prajurit jaga

Terlupakan dan tak bisa mengingat
Alasan-alasan dan sebab-sebab mengapa dia pergi dari kekayaan lingkungannya,
Beranjak mengendurkan posisi penjagaannya,
Terlepas bagai debur gelombang.

Sejalan kepalanya terang oleh cahaya, tangan kurus keringnya
Meraba-raba dengan putus asa dan mendapati bayangan dahan
Pohon rindang dalam genggamannya, yang mengukuhkannya.
Sekarang dia telah menemukan yang dirabanya dia dapat memijak buminya

Atau memiliki tongkat kayu seperti dahan perak dan
Melangkah lagi di antara kami : juri yang menghargai
(Telah menghempaskan lelaki yang lebih baik terlindung dari
pagar tanaman)
Tuhan mungkin berpikiran sama, mengingat Adam.
gadispantai
Stuart Henson



SKETSA DI BAWAH TANAH

Tetapi untuk gerakan kepalanya yang paling ringan,
kedipan mata, berseri dan terang lagi
itu dan getaran-getaran kecepatan pena pada bantalan buku catatan,
tersembunyi pada guncangan laju kereta…

Ini caranya – untuk membayar waktu
yang tak terpetakan perhatiannya, untuk menghindari kekosongan,
dan apa yang dunia akan sebut luar biasa,
mencari batu loncatan agar bisa menguasai diri.

Perempuan itu begitu menyendiri dalam pikiran
begitu menyadarkannya, dan perempuan itu hanya
mencurigai jendela dan rambutnya yang mengelabu.
Ia tahu in akhir waktu ujian
seni – untuk jeda jatuh tempo.

Perempuan itu akan berlalu di pemberhentian satu, atau berikutnya.


gadispantai
Selima Hill


(1945)

SUARA-SUARA BULGARIA

Ia menemukan beruang seukuran ibunya
dan melangkah seolah ruang kamar menghentikannya.
Ia memanggilnya Marigold. Dengan kuping berbulu tebal

Ia mendengar laut kuning di bawah jendela
mengalun pasir - meringkih bagai kuda
berbaring di tepinya, tak bisa berdiri;

atau seperti burung kakak tua yang tertidur di sampingnya
ia menyelimutinya dengan syal begitu ikhlas padanya,
menjaganya agar tetap hangat, walau kemudian burung itu mati…

tangan beratnya menopang gaun si betina
menghimpit bungkamnya tidur si betina akar-akar yang memutih
di bawah salju, di samping villa kecil,

di mana suara-suara misterius Bulgaria yang hilang
terdengar di antara kawanan kelinci, bernyanyi sunyi…
Ia merajuk dan menyimpulkan rambutnya.

cairan-cairan minyak membutiri Marigold
tengah kembali tertahan begitu lama tercurah
seperti emas dan butiran permata : Marigold, cintaku!
gadispantai
Michael Horovitz (1935)



DAUR ARUS BALIK

. .
. .
. .
Aku terjaga
dan perlahan
mengerti
bagaimana dini – hari
setelah – hujan
menetes
dengan tepat
pada susunan

yang teratur
Dari pinggiran tebing curam
Cabang
Dan saluran pipa
- berputar perlahan
memasang ruji-ruji
roda jam
berdetak salah
- catatan-catatan ini
pengganti
dalam kumpulan
kilauan

di antara jarak
dan kesunyian
- seperti puisi
- seperti musik
- seperti hujan
turun
(dari
tempat
yang tidak
kita
ketahui)
berdaur

ke

tanah

. .

. .

. .
. .
. .
. .

gadispantai
Fernando Pessoa


(1988-1935)

OTOPSIKOGRAFI

Penyair adalah peniru ahli
Yang amat canggih di bidangnya.
Ia mampu memalsu nyeri
Dari perih di dalam dadanya.

Dan mereka yang membaca
Kata-katanya yang terjalin
Tak mendapati kedua derita
Selain satu kepedihan lain.
gadispantai
Guillaume Apollinaire


(1880-1918)

GENTA

Jipsiku yang tampan buah hatiku sayang
Dengarkanlah gentang yang berdentang
Sedangkan kita berdua saling menyayang
Kepercayaan adalah urusan orang-seorang
Tapi pesembunyian kita tak padan, malangnya
Genta-genta yang meronda
Dari ketinggiannya memandang kita
Dan menuturkan kepada semua
Besok Cyprien dan Henri
Marie Ursula dan Catherine
Tukang roti dan suaminya
Lalu Gertrude saudara kandungku
Menyenyumiku kala kulalu
Menaruh muka aku tak tahu
Dan kaupun jauh yang membuatku tersedu
Boleh jadi mati lebih baik bagiku

(Dari kusanjak Alkohol)

Alihbasa: JJ. KUSNI
financebbs
Puisi memang hanya sebuah tulisan
Yang tercoret bagai sebuah catatan
Yang kadang berisi roman picisan
Tapi setidaknya mewakili sebuah jeritan

Lanjutkan untuk meneruskan karya-karya dari para pujangga wahai gadispantai smile.gif
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.