Dr. Marion C. Diamond adalah pembedah otak Einstein. Waktu mempelajari otak Einstein, dia membandingkan otak Einstein dengan sebelas otak manusia lain. Otak yang dijadikan otak pembanding itu adalah otak milik orang-orang yang, secara intelektual, dinilai rata-rata dan meninggal pada usia yang relatif sama dengan Einstein, 76 tahun.
Apa yang ditemukan oleh Dr. Diamond adalah bahwa, secara fisik, tidak terdapat perbedaan yang berarti antara otak Einstein dengan sebelas otak lainnya. Hanya, ada satu pengecualian yang sangat menarik. Bagian yang sangat menarik itu adalah adanya sejenis sel yang berjumlah amat banyak di daerah otak tertentu.
Daerah itu kemudian disebut Area 39 dan terletak di lobus parietal inferior (bagian dari neokorteks yang terletak di sebelah atas belakang otak manusia). Menurut Dr. Diamond lebih jauh, Area 39 ini merupakan area otak milik Einstein yang sangat berkembang. Dia dan para peneliti otak lainnya percaya bahwa area ini merupakan area yang paling canggih di dalam otak.
Jika ada kerusakan pada bagian ini, orang akan mengalami kesulitan dalam pencitraan abstrak, mengingat, menaruh perhatian, dan sadar-diri. Secara garis besar, mereka akan kesulitan membaca, mengenali huruf, mengeja, atau menghitung. Mereka juga akan kesulitan dalam menyatupadukan masukan yang diperoleh melalui penglihatan, pendengaran, atau perbuatan.
Pendeknya, jika Area 39 ini rusak atau tidak berkembang, orang akan banyak kehilangan potensi intelektualnya.
Einstein mengembangkan Area 39 ini secara luar biasa sehingga dia memiliki apa yang disebut sebagai ”kecerdasan cair”. ”Kecerdasan cair” adalah ukuran efisiensi kerja otak bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya. Kejeniusan Einstein tampaknya bukan merupakan hasil anugerah dari Tuhan saja, yaitu berupa ”kecerdasan cair” yang ada di dalam otaknya, melainkan juga merupakan hasil dari upaya Einstein dalam memperkaya otaknya.
Itulah catatan menarik yang dapat Anda baca di halaman 237-241 buku Belajar Cerdas karya Jalaluddin Rakhmat.
Bagaimana agar seorang anak dapat memperolah ”kecerdasan cair” atau otak yang mengolah dan bukan otak yang hanya menampung fakta? Mungkinkah, salah satunya, adalah menulis? Menulis dapat membantu seorang anak untuk mempekerjakan otaknya agar mengolah fakta yang masuk ke dalam dirinya. Menulis adalah kegiatan yang membuat fakta itu diungkapkan kembali sesuai dengan yang dipahami oleh seorang anak. Menulis akan membangun otak seorang anak menjadi otak yang memiliki ”kecerdasan cair”? Inikah efek-dahsyat menulis? Inikah yang akan terjadi ketika anak-anak itu menulis....[]
www.mizan.com