
Kejayaan Laut Nusantara Cerita yang Terlupakan
Negara Maritim Nusantara, Jejak Sejarah yang Terhapus
Penulis : Nasruddin Anshory CH. dan Dwi
Penerbit : Tiara Wacana, Mei 2008
Tebal : 313 halaman hal
“Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra. Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa.”
Itulah sepenggal lagu kanak-kanak yang ditulis seorang seniman yang tidak dikenal namanya. Sepertinya, tidak berlebihan memang bila sang seniman menyebut bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut-pelaut handal.
Dari berbagai belahan penjuru Nusantara tersebar banyak bandar atau pelabuhan besar. Juga banyak peninggalan budaya yang melukiskan kegagahan nenek moyang orang Indonesia sebagai pelaut. Sejarah pun telah menyebutkan bahwa bersatunya Nusantara adalah karena kebesaran armada maritim.
Pada masa lalu di era kerajaan Sriwijaya, Majapahit hingga Demak, Indonesia adalah negara besar yang disegani di kawasan Asia, bahkan mungkin di seluruh dunia.
Berbagai negara mulai dari Tumasik, Pasai, hingga Campa tunduk oleh kegagahan armada kapal Sriwijaya dan cetbang (meriam api) Majapahit. Kejayaan masa ini dilukiskan secara indah oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya, Arus Balik.
Namun sayang, kini kejayaan masa lalu bangsa Indonesia ini tidak lagi banyak dikenang. Kejayaan tersebut seakan tertutup oleh potret kemiskinan yang melanda rakyat Indonesia, dan tenggelam dalam riuh demonstrasi menentang naiknya BBM.
Bangsa ini seakan tidak lagi menampakkan sisa-sisa kebesarannya, seperti halnya lagu “nenek moyangku orang pelaut” juga tidak lagi banyak dinyanyikan oleh anak-anak di negeri ini.
Kini, negara-negara lain memandang dengan sebelah mata kepada bangsa ini, seperti yang tersirat dari cara mereka memperlakukan para TKI. Kebesaran Indonesia sebagai negara maritim yang pernah jaya seakan menjadi jejak sejarah yang terhapuskan.
Buku ini bermaksud me-review kembali jejak sejarah tentang kejayaan maritim Nusantara. Dalam buku ini dikupas secara tuntas mengenai sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara lama yang jaya kekuatan maritimnya. Serta beberapa kota bandar atau pelabuhan yang berpengaruh dalam peta perdagangan.
Dimulai dari Sriwijaya, sebuah kerajaan di pulau Sumatera yang ternyata memiliki kekerabatan erat dengan kerajaan Syailendra di tanah Jawa. Bahkan Balaputeradewa, salah satu raja besar Sriwijaya, merupakan anak dari Prabu Samaratungga, raja Syailendra. Kekerabatan ini tertulis dalam prasasti Balitung. Pengaruh Sriwijaya sangat luas hingga mencapai Malaya, Siam dan sebagian Filipina.
Kemudian diulas pula tentang Majapahit, kerajaan yang meneruskan kebesaran kekuatan maritim Sriwijaya dibawah pimpinan raja Hayam Wuruk dan Patih Gajahmada. Dengan Gresik dan Surabaya sebagai kota pelabuhan, Majapahit menguasai perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Selepas runtuhnya Majapahit, kejayaan maritim diambil-alih oleh Demak, dengan kota Juwana sebagai bandar pelabuhannya. Pada masa Demak inilah pengaruh Islam mulai muncul.
Selain kerajaan-kerajaan besar tersebut, ada beberapa kota pelabuhan lain yang juga turut mewarnai sejarah Maritim nusantara. Kota-kota seperti Pati, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, Pasuruan, dan Madura juga turut mewarnai kancah pedagangan di kawasan Asia.
Walaupun kota-kota tersebut bukanlah kerajaan, namun daerah-daerah tersebut merupakan daerah otonom yang didukung letak yang strategis di sepanjang pantai utara. Masing-masing kota tersebut mengalami pergulatan sendiri-sendiri, yang diulas secara apik dalam buku ini.
Membaca buku ini, pembaca serasa diajak menikmati kemegahan Nusantara masa lalu. Pertanyaannya, kapankan kemegahan dan kejayaan tersebut akan kembali kepada bumi Nusantara? Hanya Tuhan yang tahu. ***
Penulis, Awinullah, pekerja buku
