Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Begini cara kerja Bintang
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Academia > Science and Technology > Space and Astronomy
IZRO'IL
Gravitasi dan Tekanan Gas

Tiga orang astronom, Carl Hansen, Steven Kawaler, dan Virginia Trimble, dalam buku teks terbaru mereka tentang struktur bintang, berjudul Stellar Interiors: Physical Principles, Structure, and Evolution (Interior Bintang: Prinsip Fisis, Struktur, dan Evolusi), menulis, “Jika Anda ingin tahu bagaimana bintang bekerja, pergilah keluar dan lihatlah mereka selama beberapa malam. Apa yang mereka lakukan hanyalah bersinar dengan stabil sepanjang waktu.” Secara historis ini betul. Mari kita lihat Matahari sebagai contoh. Penemuan-penemuan fosil menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi sudah ada paling tidak semenjak 3 milyar tahun lalu. Studi tentang kandungan kimiawi pohon-pohon tertua dan fosil-fosil tersebut juga menunjukkan bahwa Bumi tidak mengalami perubahan besar yang disebabkan oleh ketidakstabilan matahari. Apa yang dilakukan matahari kita “hanyalah” bersinar begitu lama!

Matahari masih satu-satunya bintang yang dapat kita pelajari dengan detail

Sinar matahari yang kita nikmati sekarang sama dengan sinar matahari yang dinikmati nenek moyang kita di zaman dahulu, bahkan sama pula dengan yang dinikmati dinosaurus puluhan juta tahun lalu. Dalam rentang waktu jutaan tahun, matahari relatif stabil. Tentu timbul pertanyaan: kenapa matahari bisa begitu stabil? Pertama-tama, mari kita coba hitung massa matahari. Kita sekarang tahu bahwa jarak Bumi kita ke Matahari adalah 150 juta km, sementara waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari adalah 1 tahun yaitu 365.25 hari. Anggap saja Bumi mengelilingi matahari dalam orbit berbentuk lingkaran, sehingga kecepatan Bumi mengelilingi matahari adalah 100 000 km/jam.

Matahari dan objek-objek yang mengitarinya menaati Hukum Gravitasi

Karena kita tahu bahwa gerakan Bumi berasal dari tarikan gravitasi Matahari, maka dapat kita simpulkan dari Hukum Gravitasi bahwa gaya gravitasi Matahari dihasilkan oleh massa sebesar 2 x 10^30 kg! Ini kira-kira sama dengan 330 000 kali massa Bumi.
Kenapa massa yang begitu besar ini tidak runtuh ke pusatnya? Sebuah gedung tinggi punya massa besar dan tetap berdiri karena ada pilar-pilar kerangka yang menopang seluruh massa gedung. Namun bila pilar-pilar ini diledakkan oleh pakar peruntuh gedung, seluruh bangunan akan runtuh secara bersamaan ke bawah, ke arah pusat Bumi. Demikian pula dengan matahari, bila tidak ada “sesuatu” yang menopang seluruh massa tersebut, maka matahari akan runtuh ke arah pusatnya dalam waktu kurang dari setengah jam! Karena kita tidak pernah melihat hal itu terjadi, berarti ada sesuatu yang menopang struktur matahari.
Kita anggap saja bahwa Matahari adalah sebuah bola gas yang berpijar. Bila hal itu betul, kita dapat anggap gas di dalam matahari sebagai sebuah gas ideal yang memancarkan radiasi elektromagnetik. Hukum Gas ideal mengatakan bahwa gas yang dimampatkan akan menghasilkan tekanan yang melawan pemampatan itu. Bila gas tersebut memancarkan radiasi elektromagnetik, maka Matahari juga menghasilkan tekanan radiasi yang arahnya ke luar permukaan matahari.

Lapisan yang lebih dalam mengalami tekanan gravitasi yang lebih besar, oleh karena itu untuk mengimbanginya tekanan radiasi juga harus sama besarnya.

Bila suhu di pusat matahari kita ketahui dengan pemodelan teoritik, maka suhu di permukaan matahari kita ketahui melalui pengamatan. Apabila kita melewatkan sinar matahari pada prisma, maka kita akan melihat bahwa sinar matahari yang berwarna putih tersebut akan terbagi-bagi menjadi sinar dengan berbagai warna, dari warna merah hingga warna ungu. Warna-warna yang berbeda ini adalah tanda bahwa cahaya terbagi-bagi atas sinar dengan energi yang berbeda-beda. Artinya radiasi elektromagnetik merentang dari energi tinggi hingga energi rendah (sinar Gamma dan sinar-X adalah contoh radiasi energi tinggi, sementara sinar inframerah, gelombang Radio, dan gelombang mikro (microwave) adalah contoh radiasi energi rendah), dan radiasi yang kasat mata kita namakan sebagai cahaya.

Dengan spektroskopi kita dapat membagi cahaya menurut tingkat-tingkat energinya, dan menelaah sifat-sifat pembangkit cahaya tersebut.

Sumber radiasi elektromagnetik adalah sebuah pemancar sempurna yang kita namakan benda hitam. Lagi-lagi benda hitam, sebagaimana gas ideal, hanyalah objek khayal. Namun sifat-sifat radiatif matahari dapat didekati bila kita menganggap matahari sebagai sebuah benda hitam.

Benda hitam yang memancarkan energinya pada suhu tertentu akan memiliki kurva distribusi energi yang spesifik pada temperatur tersebut. Sumber: Wikipedia

Eksperimen menunjukkan bahwa sebuah benda hitam memancarkan energinya dalam bentuk radiasi elektromagnetik dan energinya dipancarkan pada seluruh panjang gelombang. Namun intensitas energi pada setiap panjang gelombang tidak sama, dan setiap benda hitam yang memiliki temperatur tertentu memiliki panjang gelombang di mana intensitas energinya paling tinggi. Semakin tinggi temperatur sebuah benda hitam, semakin pendek panjang gelombang di mana energi paling tinggi memancar (lihat gambar kurva benda hitam). Dengan demikian, benda hitam yang memancarkan energinya pada suhu tertentu akan memiliki kurva intensitas energi yang unik. Untuk mengetahui bentuk kurva ini, kita dapat memecah cahaya pancaran benda hitam ini ke dalam spektrumnya masing-masing. Permukaan Matahari dapat kita anggap sebagai sebuah benda hitam, dan oleh karena itu bentuk sebaran energi matahari dapat didekati dengan kurva pancaran benda hitam. Dengan melakukan pengamatan spektroskopi pada matahari, kita dapat mengetahui seperti apa spektrum matahari dan dengan demikian dapat diketahui pula temperatur permukaannya yaitu 5800 Kelvin.
Pengamatan spektrum bintang-bintang lain ternyata menunjukkan perilaku yang sama: bintang juga merupakan sebuah benda hitam dan memancarkan radiasi elektromagnetik. Namun, temperatur permukaan bintang berbeda-beda. Ada yang lebih panas dari matahari, ada pula yang lebih dingin dari matahari. Walaupun demikian, semua bintang yang kita amati berlaku seperti sebuah benda hitam. Dari pengamatan spektrum matahari dan bintang-bintang lain inilah kita dapat menyimpulkan bahwa bintang-bintang yang kita amati di langit malam itu sebenarnya adalah matahari-matahari lain yang letaknya teramat sangat jauh sehingga sinarnya demikian redup bila dibandingkan dengan matahari yang lebih dekat. Karena sekarang kita sudah tahu bahwa bintang adalah objek yang sama dengan matahari kita, maka bintang-bintang lain pun dapat kita anggap pula sebagai sebuah bola gas yang berada dalam kesetimbangan hidrostatik. Apa yang kita ketahui tentang kesetimbangan matahari dapat kita terapkan pula pada bintang!


Sumber energi Bintang

Pada abad 19, dua orang fisikawan besar, Lord Kelvin dari Inggris dan Hermann von Helmholtz dari Jerman secara terpisah mencoba menjawab persoalan ini: Bagaimana jika energi matahari berasal dari pengerutannya? Anggaplah pada masa lalu ukuran matahari jauh lebih besar daripada ukurannya yang sekarang. Lalu perlahan-lahan, matahari mengerut karena tarikan gravitasi dari massanya. Pengerutan ini akan membebaskan energi potensial yang dapat diubah menjadi energi panas atau energi termal. Berapa energi potensial yang dibebaskan Matahari? Seandainya matahari di masa lalu memiliki jari-jari yang jauh besar daripada jari-jarinya yang sekarang, maka pengerutan Matahari telah membebaskan energi potensial sebesar 4 x 10^48 erg. Menurut teorema virial, bila sebuah sistem gravitasi (seperti Matahari) mengubah kesetimbangannya, maka setengah dari energi potensialnya akan diubah menjadi energi termal, sementara setengah lagi akan dipancarkan. Dengan demikian, energi yang dipancarkan matahari adalah 2 x 10^48 erg. Energi ini sangat besar, namun inikah sumber energi matahari?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui berapa energi yang dipancarkan matahari setiap detiknya. Ini dapat dihitung apabila kita, sekali lagi, mengandaikan matahari sebagai sebuah benda hitam sempurna yang berpijar. Dengan pengandaian ini, maka kurva sebaran energi sebuah benda hitam dapat kita gunakan untuk menghitung keluaran energi benda hitam tersebut di seluruh panjang gelombang, lalu menjumlahkan seluruh energi pada panjang gelombang yang berbeda-beda tersebut. Dari prosedur ini, kita akan memperoleh sebuah hukum yang bernama Hukum Stefan-Boltzmann, yang menyatakan bahwa total energi setiap detik yang dipancarkan dari setiap satuan area permukaan sebuah benda hitam ternyata hanya tergantung pada suhunya. Karena kita tahu berapa luas permukaan Matahari (anggap Matahari berbentuk bola dengan jari-jari 700.000 km) dan juga suhu permukaannya yaitu 5800 K, maka dapat dihitung total energi yang memancar dari seluruh permukaan Matahari pada saat ini adalah 3.8 x 10^33 erg setiap detiknya! Ini sama dengan 3.8 x 10^26 Watt. Bayangkan berapa jumlah rumah yang dapat diterangi oleh energi Matahari apabila setiap rumah membutuhkan daya 1000 Watt. Tentu saja energi ini memancar ke segala arah dan hanya 1400 Watt per meter persegi yang sampai ke Bumi.
Sekarang kita sudah tahu bahwa Matahari memancarkan energi 3.8 x 10^33 erg setiap detiknya, dan bahwa total energi yang dihasilkan dari pengerutan gravitasi adalah 2 x 10^48 erg. Andaikan selama ini matahari memancarkan energinya secara konstan dan tidak berubah, maka pengerutan gravitasi ini telah berlangsung selama kira-kira 17 juta tahun. Dari tanda-tanda kehidupan di Bumi, kita telah menyadari kehidupan telah berlangsung selama 3 milyar tahun, sementara pengerutan Kelvin-Helmholtz hanya sanggup menghasilkan energi yang sebanding dalam skala puluhan juta tahun. Jadi, harus ada sumber energi lain yang dapat menghasilkan energi dalam skala 10^33 erg selama milyaran tahun.

Radioaktivitas

Penelitian Pierre dan Marie Curie menunjukkan fenomena radioaktivitas yang membebaskan energi dalam jumlah besar

Alternatif lain untuk menjawab problem ini adalah melalui fenomena radioaktif. Pada tahun 1896, Henri Becquerel menemukan fenomena radioaktivitas. Atom berat seperti Uranium memiliki sifat radioaktif, dan atom ini memancarkan energi berjumlah besar dalam bentuk radiasi. Mengapa bisa demikian? Tidak ada yang mengerti. Suami-istri Pierre dan Marie Curie-lah yang mencoba menjawab pertanyaan ini dan membayarnya dengan nyawa mereka. Interaksi keduanya dengan bahan-bahan radioaktif begitu dekat, dan pada waktu itu, bahaya radiasi nuklir belum disadari. Catatan-catatan riset mereka menjadi begitu bersifat radioaktif setelah bertahun-tahun terekspos radiasi Radium, sehingga sampai saat ini, catatan-catatan itu harus disimpan dalam kotak berlapis timah. Marie Curie meninggal akibat leukemia, setelah bertahun-tahun meneliti fenomena radioaktivitas dan bersentuhan dengan radiasi. Bagaimanapun, pengorbanan Pierre dan Marie yang bereksperimen di dalam laboratorium sempit mereka di Paris menunjukkan adanya sumber energi yang luar biasa besar di dalam atom.
Bagaimana sumber energi ini dapat dihasilkan? Tidak ada yang memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam atom. Pada akhir abad 19, para fisikawan membayangkan atom hanya seperti bola sederhana yang bermuatan positif dan di dalamnya elektron yang bermuatan negatif tersebar secara merata dan menetralisir muatan positif proton. Model seperti ini misalnya adalah model kue kismis J.J. Thomson. Namun struktur ini tidak mampu menjelaskan fenomena radioaktivitas. Percobaan-percobaan selanjutnya yang dilakukan Ernest Rutherford serta Hans Geiger dan Ernest Marsden menunjukkan bahwa seluruh proton dalam atom terkonsentrasi dalam nukleus/inti bermuatan positif, dan nukleus ini dikelilingi oleh elektron. Yang paling mengejutkan dari eksperimen Rutherford adalah bahwa diameter nukleus ini 100 000 kali lebih kecil daripada diameter atom. Bila kita bayangkan sebuah inti atom berukuran bola ping pong, maka elektronnya akan mengorbit inti atom tersebut sekitar 500 meter dari bola ping pong tersebut! Ini sangat luar biasa. Segala hal yang dapat kita raba, pegang, dan rasakan, ternyata tersusun atas … ruang kosong!

Rutherford bereksperimen dengan partikel alpha untuk meraba-raba struktur atom


Inti atom yang terdiri atas Proton dan Neutron dikelilingi oleh Elektron dalam jumlah yang sama. Meskipun tidak terlalu akurat, namun model ini dapat menjelaskan fenomena radioaktivitas.

Elektron terikat oleh inti atom karena adanya gaya listrik tarik-menarik antara muatan negatif yang terkandung dalam elektron dengan inti yang bermuatan positif. Rutherford menunjukkan bahwa inti atom terdiri atas proton yang bermuatan positif, serta setiap atom memiliki jumlah proton dan elektron yang sama. Dengan demikian, jumlah muatan totalnya adalah nol dan dapat kita katakan bahwa atomnya bersifat netral. Di kemudian hari, murid Rutherford, James Chadwick, menemukan bahwa di dalam inti atom juga terdapat neutron yang tidak bermuatan.
Dengan adanya pemahaman tentang struktur atom ini, fisikawan mulai dapat memahami fenomena radioaktivitas yang ditemukan Becquerel, Pierre Curie, dan Marie Curie. Sebuah unsur bisa berubah menjadi unsur lain karena adanya perubahan jumlah proton dan elektron di dalam atomnya. Dalam setiap atom terkandung jumlah proton dan elektron yang spesifik hanya dimiliki oleh atom tersebut, dan bila proton dan elektron dipertukarkan, maka sebuah inti atom dapat berubah menjadi inti atom lain.

Peluruhan Radium menjadi Radon adalah fenomena radioaktivitas yang diamati Pierre dan Marie Curie. Radium meluruh menjadi Radon sambil memancarkan radiasi dalam bentuk partikel Alfa

Salah satu contoh adalah Radium yang dipelajari oleh Pierre dan Marie Curie. Radium memiliki 88 buah proton dan 138 neutron. Jumlah ini cukup besar dan cenderung tidak stabil serta dapat berubah menjadi unsur lain. Dalam hal Radium, 2 buah proton dan 2 buah neutron dapat dilepaskan sehingga ia berubah menjadi Radon yang memiliki 86 proton dan 136 neutron. Gabungan 2 proton dan 2 neutron ini disebut dengan partikel Alfa. Inilah radiasi yang perlahan-lahan membunuh Marie Curie. Reaksi pemecahan sebuah unsur besar menjadi unsur kecil ini disebut reaksi fisi dan merupakan mekanisme kerja di balik bom atom ataupun reaktor nuklir. Atom-atom berat seperti Radium relatif tak stabil dan akan melepaskan partikel alfa dengan sendirinya melalui fenomena yang disebut dengan peluruhan.
Mungkinkah reaksi sebaliknya , yaitu penggabungan 2 atom yang kecil, bisa menghasilkan energi? Hidrogen hanya memiliki 1 proton dan merupakan atom yang paling sederhana dari segi susunan proton dan elektronnya. Secara teoretis, penggabungan 2 atom Hidrogen menjadi Helium yang memiliki 2 proton adalah mungkin. Ini disebut dengan reaksi fusi. Melalui pengamatan spektroskopi, kita mengetahui bahwa Hidrogen dan Helium adalah dua unsur paling berlimpah di dalam bintang. Jadi, mungkinkah Matahari menghasilkan energinya melalui reaksi fusi?
Hidrogen adalah atom yang relatif stabil, oleh karena itu—tidak seperti atom berat yang meluruh—reaksi fusi tidak terjadi dengan sendirinya. Harus ada sebuah kondisi yang teramat ekstrem. Dalam kondisi tersebut, Hidrogen dapat melebur menjadi Helium. Kondisi ekstrem ini membutuhkan suhu dan tekanan yang teramat tinggi. Pada bagian pertama kita sudah mengetahui bahwa ada tekanan gravitasi yang besarnya semakin tinggi apabila kita semakin mendekati pusat bintang. Mungkinkah di pusat bintang, tekanan gravitasi dan suhunya luar biasa besar sehingga reaksi fusi dapat terjadi?
Diatas kita sudah mengandaikan Matahari berada dalam kesetimbangan antara tekanan gravitasi dengan tekanan radiasi, sebuah kesetimbangan yang kita sebut dengan kesetimbangan hidrostatik. Berbekal asumsi ini, kita dapat menghitung tekanan gravitasi yang terjadi di pusat matahari, yaitu 3.4 × 10^{11} atm atau kira-kira 340 milyar kali tekanan atmosfer kita! Bila kita andaikan bahwa gas di pusat matahari adalah gas ideal, maka hukum gas ideal memungkinkan kita menghitung suhu di “tungku” matahari apabila kita mengetahui berapa besar tekanan di pusat matahari. Suhu di “tungku” matahari dengan demikian kira-kira adalah 15 juta Kelvin!

Reaksi fusi yang sederhana terjadi dengan menggabungkan 4 atom Hidrogen menjadi 1 atom Helium

Suhu dan tekanan ini amat tinggi dan memungkinkan terjadinya reaksi fusi. Berapa energi yang dibebaskan oleh reaksi ini? Dari eksperimen, diketahui bahwa massa 1 atom Helium sedikit lebih ringan daripada massa 4 atom Hidrogen. Ada massa yang hilang sebanyak 0.7% massa 4 atom Hidrogen, artinya setiap 1 kg Hidrogen akan berubah menjadi 0.993 kg Helium, dan sisa massa yang hilang sebanyak 0.007 kg ini akan diubah menjadi energi. Berapa jumlah energi yang dibebaskan oleh 0.007 kg massa ini? Ketika Enstein meneliti efek-efek relativitas khusus, dia menemukan bahwa energi (E) dan massa (m) ternyata ekivalen dan dapat saling berubah melalui persamaan yang amat terkenal itu, E = mc^2, dengan c adalah kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya adalah 300 000 km per detik (3 x 10^{8} meter per detik), sebuah kecepatan yang amat tinggi. Dengan demikian sejumlah kecil massa dapat diubah menjadi energi yang jumlahnya sangat besar, karena faktor konversi c^2 yang sangat besar. Melalui rumus Enstein yang amat terkenal ini, kita dapat menghitung bahwa reaksi 1 kg Hidrogen menjadi 0.993 kg Helium akan membebaskan massa sebesar 0.007 kg yang ekivalen dengan energi sebesar 0.007 x (3 x 10^8)^2 = 6.3 x 10^{14} Joule energi. Ini sebanding dengan energi yang dihasilkan oleh pembakaran 100 000 ton batubara!
Cukupkah energi sebesar ini untuk menghidupi Matahari? Kita mengetahui bahwa jumlah Hidrogen dalam Matahari kurang lebih adalah 75% dari total massa Matahari. Kita dapat menghitung, berapa jumlah energi yang akan dibebaskan andaikan 10% dari Hidrogen ini dilebur menjadi Helium:

Energi = 0.007 x 0.75 x 0.1 x (2 x 10^{30}) kg x (3 x 10^{8} m/s)^2 = 9.4 x 10^{43} Joule = 9.4 x 10^{50} Erg.

Sebuah energi yang luar biasa besar, hampir seribu kali lipat energi yang dibebaskan oleh pengerutan gravitasi! Berapa lamakah reaksi nuklir ini dapat menghidupi Matahari? Sebagaimana kita ketahui, energi yang dipancarkan Matahari adalah 3.8 x 10^26 Joule setiap detiknya. Ini artinya Matahari dapat bersinar sepanjang 7.5 Milyar tahun!
Angka ini cukup konsisten dengan apa yang kita ketahui. Diduga, Matahari dan tata surya kita terbentuk antara 4 hingga 5 milyar tahun lalu. Perhitungan modern yang lebih teliti menyimpulkan bahwa daerah di dalam Matahari yang cukup panas untuk dapat menghasilkan reaksi nuklir hanyalah daerah yang mencakup 10% dari total Hidrogen dalam Matahari, sebagaimana perhitungan kita di atas. Lebih lanjut, lama waktu pembakaran Hidrogen menjadi Helium ini adalah kira-kira 10 milyar tahun. Jadi, Matahari yang saat ini usianya 5 milyar tahun berada dalam usia paruh baya dan masih akan bersinar hingga 5 milyar tahun lagi.
Dengan demikian, pada bagian ini kita telah menyimpulkan bahwa Matahari menghasilkan energinya dari reaksi fusi. Reaksi fusi adalah reaksi yang menggabungkan atom kecil menjadi atom besar, dalam hal ini adalah peleburan 4 atom Hidrogen menjadi 1 atom Helium. Perhitungan kita atas tekanan dan suhu di bagian inti Matahari juga menyimpulkan bahwa tekanan dan suhu di bagian inti cukup panas dan padat untuk dapat memicu reaksi fusi.
Namun demikian, seperti apakah persisnya reaksi ini? Kondisi ekstrem yang dapat menghasilkan reaksi fusi sangat sulit diciptakan di Bumi. Membuat simulasi inti matahari dengan tekanan ratusan milyar kali tekanan atmosfer Bumi dan suhu 15 juta Kelvin amatlah sulit. Satu-satunya cara untuk meraba detail-detail reaksi nuklir di dalam “tungku” Matahari adalah dengan cara perhitungan teoretis, kemudian membandingkannya dengan apa yang kita amati pada permukaan Matahari.

Sumber : Tri_L.Astraatmadja@langitselatan.com
musixart
wihhh.. keren banget..
lengkap lg..
bisa buat bahan ngajarin anak2 nih..
selama ini gw ga ngerti, sekarng dapet ilmu baru..
thanks banget bro...

ternyata ada teori atomnya jg ya..
yg gw takjub dan heran,
kok bentuk orbit planet di galaksi mirip orbit atom ya??
ada pusat sm ada yg mengitarinya..
atom aja punya gravitasi walaupun kecil bngt..

planet sama ky elektron..

apa nanti planet jg bisa pindah2 seperti elektron yg bisa pindah (listrik statis)??? Thinking.gif
Hideto_Takarai
sorry OOT
menanggapi reply mas mus HeHe.gif gw sempat berpikirran juga kalo bentuk alam semesta mirip seperti elektron dalam inti atom,dimana intii atom sebagai pusat peredaran elektron.hal ini sama dengan peredaran planet dalam bintang dan tata surya.
terkait dengan thread yg di bikin oleh oom OYOn mengenai bentuk alam semesta,saya pikir kita ini adalah mahkluk yang menghuni elektron(dalam hal ini planet) yang mengelilingi inti atom (bintang) dan bentuk alam semesta ini tidak lain tidak bukan adalah sebuah benda padat yang kita tidak tahu (dan tidak akan pernah tahu) massanya.

itu cuman opini saya lho...boleh kan....??
bozan
gue setuju ama bro @atasgw memang kita ngga akan pernah tau massa semesta ini, walaupun ada ilmuwan2 yang menyelidiki bentuk/materi alam semesta ---> yang kebanyakan masih teori yang belum pasti [terus berubah mengikuti perkembangan jaman]

seperti galaxy2 yang kita ketahui aja masih bagian kecil dari semesta.

lebih jauh mengenai bintang

QUOTE
Evolusi Bintang

Bintang-bintang generasi pertama dilahirkan sekitar 13 miliar tahun lalu, ketika galaksi kita mulai memadat dari proses pemuaian jagat raya. Sebagian besar diantaranya masih terbuat dari hidrogen dan helium. Kedua unsur ini memang merupakan satu-satunya elemen yang terbentuk dalam jumlah besar selama proses dentuman besar (big bang) yang diyakini menandai awal terciptanya alam semesta.

Bintang-bintang seperti halnya Matahari lahir secara berkelompok dalam kompleks-kompleks awan besar yang termampatkan yang disebut nebula. Salah satu nebula yang terkenal yang menjadi tempat kelahiran banyak bintang adalah sebuah bercak samar di rasi Orion yang dikenal sebagai Nebula Orion. Dilihat dari luar, sebuah nebula nampak gelap dan suram, namun di bagian dalamnya mereka teriluminasi dengan cemerlang oleh bintang-bintang yang baru lahir. Setelah itu, bintang-bintang muda itu akan melanglang keluar dari tempat kelahirannya di galaksi induknya.


Gambar 1: Nebula Orion

Ke arah bintang Deneb di rasi Cygnus ada suatu gelembung super yang sangat besar dari gas yang sangat panas yang mungkin dihasilkan oleh ledakan sebuah supernova di dekat pusat gelembung itu. Pada tepiannya, materi antar bintang dimampatkan oleh gelombang supernova dan memicu keruntuhan awan dan pembentukan bintang. Dari segi ini, sebagaimana kehidupan manusia, bintang juga memiliki orangtua. Dan seperti yang kadang-kadang kita alami, orangtua juga dapat mengalami kematian ketika melahirkan anaknya.

Dalam periode remajanya, sebuah bintang biasanya masih diselubungi oleh berkas nebula gas yang berpendar, sisa-sisa dari proses pembentukan yang secara gravitasional masih melekat padanya. Contoh bintang semacam ini bisa kita lihat pada bintang-bintang di rasi Pleiades.

Mirip seperti yang dialami manusia, bintang-bintang yang beranjak dewasa berkelana jauh dari rumah, dan saudara-saudara sekandung jarang saling bertemu. Bisa jadi di suatu tempat di galaksi Bimasakti ada bintang-bintang, mungkin lusinan jumlahnya, yang merupakan saudara sekandung dari Matahari kita. Mereka terbentuk dari nebula yang sama sekitar 5 milyar tahun lalu. Tapi kita tidak tahu bintang yang manakah itu. Mereka bisa saja berada di sisi lain dari galaksi kita, atau mungkin menjadi salah satu dari bintang kecil tak berarti yang kita lihat berkelap-kelip di langit malam.

Dalam proses kelahiran sebuah bintang, tumbukan molekul gas dalam interior awan memanaskannya hingga pada akhirnya tiba ke titik dimana atom-atom hidrogen mulai bergabung menjadi helium: empat atom hidrogen bersatu untuk membentuk satu inti helium. Proses ini diikuti dengan pelepasan foton sinar gamma. Foton tersebut mengalami alternasi emisi dan absorpsi oleh materi yang terhampar, yang secara berangsur-angsur berupaya mencapai permukaan bintang.

Dalam perjalanannya, foton terus menerus mengalami kehilangan energi. Butuh waktu hingga sejuta tahun bagi foton untuk mencapai permukaan bintang dan dipancarkan ke ruang. Sang bintang kini telah menyala. Keruntuhan gravitasional awan pra-bintang telah terhenti. Beban lapisan-lapisan terluar bintang sekarang didukung oleh suhu dan tekanan tinggi yang dihasilkan di bagian interior reaksi inti. Matahari berada pada kondisi stabil seperti itu selama 5 milyar tahun terakhir. Reaksi termonuklir seperti yang terjadi pada bom hidrogen memberikan tenaga kepada matahari dalam ledakan yang kontinyu dan berwadah, mengubah sekitar 4 juta ton hidrogen tiap detiknya. Ketika kita menengadahi langit malam dan memandang kelap-kelip bintang, semua yang kita lihat bercahaya karena adanya penggabungan inti hidrogen di kejauhan.

Akhir Hidup Bintang

Proses fusi dalam bintang-bintang ini terus mengubah hidrogen menjadi helium. Ketika persediaan hidrogen habis, maka helium mulai terbakar untuk membentuk elemen yang lebih berat. Reaksi penyatuan ini akan terus berlangsung untuk memberi tenaga kepada bintang sampai seluruh intinya berubah menjadi besi. Besi tidak dapat melewati proses fusi untuk membentuk elemen yang lebih berat sehingga bahan bakar nuklir di bintang itu pun habislah.

Kecepatan bintang membakar persediaan nuklir tergantung pada massanya. Sebagai bintang bermassa sedang, Matahari kita masih belum sampai separuh jalan dalam fase pertama evolusi bintang. Matahari telah membakar hidrogen selama 5 milyar tahun dan masih akan berpijar mantap hingga 5 milyar tahun berikutnya. Sebaliknya, bintang-bintang bermassa besar (sekitar 10 kali massa matahari) akan membakar persediaan hidrogennya dengan kecepatan hingga 1000 kali kecepatan proses serupa pada bintang sekelas Matahari. Bintang semacam ini akan menghabiskan bahan bakarnya dalam tempo kurang dari 100 juta tahun.

Nasib yang disediakan bagi masing-masing tipe bintang ini di akhir hidupnya juga berbeda. Bintang sekelas Matahari akan mengakhiri hidupnya dalam sebuah proses evolusi yang lambat. Ketika persediaan hidrogennya mulai berkurang, teras bintang akan menyusut. Penyusutan itu akan menghasilkan lebih banyak energi yang menyebabkan terhentinya penyusutan, dan bintang bersangkutan akan mulai mengembang. Bintang itu akan terus membengkak hingga menjadi sebuah bintang raksasa merah (red giant).

Helium yang terbentuk dalam proses fusi bintang itu semasa hidupnya akan membeku dan membuatnya lebih mengembang. Menjelang habisnya helium, bintang tersebut akan menjadi labil. Ia akan melepas lapisan luarnya dan sisanya akan runtuh kedalam. Bintang itu akan mulai berkontraksi dan menjelma menjadi bintang kerdil putih (white dwarfs), yang berukuran kira-kira sebesar Bumi namun dengan kerapatan yang sangat tinggi. Bintang tersebut akan mengalami tahapan ini sampai suatu saat produksi energi benar-benar terhenti dan bintang itu akan menemui ajalnya sebagai sebuah bintang mati yang dingin dan gelap.

Bintang-bintang bermassa besar akan mengakhiri hidupnya secepat ia membakar persediaan hidrogennya.Dalam tempo beberapa detik setelah bahan bakar nuklirnya habis, sebuah reaksi nuklir yang lebih eksotik segera berlangsung untuk mengantarkannya sebagai sebuah supernova.

Supernova

Proses terbentuknya supernova biasanya berawal dari pembangkitan pusat besi yang masif oleh fusi silikon. Dibawah tekanan yang sangat tinggi, elektron bebas didalam interior bintang dipaksa untuk menyatu dengan proton inti besi, dimana muatan listrik yang sama dan berlawanan saling meniadakan. Bagian dalam inti bintang akan berubah menjadi suatu nukleus atom raksasa tunggal, mengisi volume yang jauh lebih kecil daripada elektron dari inti besi sebelumnya. Pusat itu meledak ke dalam dengan kuatnya, bagian eksterior menyatu kembali dan suatu ledakan supernova dihasilkan. Supernova dapat lebih cemerlang daripada keseluruhan cahaya yang dihasilkan oleh semua bintang lain dalam galaksi dimana supernova terbentuk.

Terbentuknya supernova temasuk fenomena yang jarang terjadi. Pada umumnya, terjadinya supernova dalam sebuah galaksi adalah berkisar sekali dalam satu abad. Sepanjang hidup sebuah galaksi -- sekitar 10 milyar tahun -- 100 juta bintang akan meledak. Ini jumlah yang sangat banyak, tetapi itu baru berarti hanya satu diantara 1000 bintang yang akan berakhir sebagai sebuah supernova.

Salah satu supernova yang terkenal dicatat oleh para astronom China pada 4 Juli 1054. Dalam catatan itu disebutkan bahwa sebuah bintang baru -- mereka menyebutnya "bintang tamu" -- yang sebelumnya tidak pernah terlihat mendadak muncul di rasi Taurus dan bersinar dengan sangat terang. Konon sinarnya begitu terang sehingga dapat terlihat di siang hari, sementara di malam hari orang bisa membaca hanya dengan mengandalkan sinarnya. Objek ini terlihat hingga tiga bulan sebelum akhirnya lenyap begitu saja. Sisa-sisa peristiwa itu masih dapat kita lihat saat ini melalui teleskop sebagai sebuah nebula yang dikenal sebagai Nebula Kepiting (Crab Nebula).


Gambar 2: Nebula Kepiting, sisa ledakan supernova tahun 1054

Astronom lain dari beberapa kebudayaan, termasuk diantaranya astronom Arab, juga mencatat kejadian ini. Satu hal yang menarik bahwa peristiwa ini tidak tercatat pada semua kronik Eropa barat masa itu. Hal ini mungkin bisa dipahami mengingat dogma gereja masa itu menyatakan bahwa langit bersifat kekal dan tidak pernah berubah. Karenanya, bagi astronom Eropa masa itu melaporkan hal-hal yang bertentangan dengan pandangan gereja mengandung resiko dikenakan tuduhan bidah yang diancam dengan hukuman berat.

Baru pada 1572, Tycho Brahe, seorang astronom Eropa melaporkan adanya sebuah supernova lain. Ia menyebutnya nova stella, yang artinya "bintang baru". Supernova lainnya tercatat pada 1604 oleh Johannes Kepler. Sayangnya, tidak ada supernova yang teramati di galaksi kita sejak penemuan teleskop, dan selama berabad-abad para astronom dibuat penasaran oleh pencarian terhadap objek ini.

Nova

Dua buah bintang dengan massa yang hampir sama akan berevolusi hampir secara sejajar. Tetapi bintang yang lebih masif akan lebih cepat menghabiskan bahan bakar nuklirnya, lebih cepat menjadi raksasa merah, dan menjadi yang pertama mencapai kemunduran akhir kerdil putih. Karenanya, seharusnya ada banyak (dan kenyataannya memang demikian) kasus bintang ganda dimana satu komponennya adalah bintang raksasa merah, dan pasangannya berupa kerdil putih.

Sejumlah pasangan semacam itu sedemikian dekatnya hingga bersentuhan. Sebagian atmosfer mengalir dari bintang raksasa merah yang bengkak ke kerdil putih yang masif lewat suatu daerah tertentu dari permukaan kerdil putih. Hidrogen menumpuk menekan hingga tekanan dan suhunya terus meninggi karena gravitasi yang kuat dari kerdil putih. Demikian seterusnya hingga sejumlah atmosfer yang "dicuri" dari raksasa merah mengalami reaksi termonuklir, dan kerdil putih meletup sesaat menjadi lebih cemerlang.

Bintang ganda semacam itu biasa disebut sebagai nova. Secara umum, nova memiliki asal-usul yang berbeda dari supernova. Nova hanya terdapat pada sistem bintang ganda dan dimotori oleh fusi hidrogen, sedangkan supernova terjadi pada bintang tunggal dan dimotori oleh peleburan silikon.

Kembali ke Asal

Sepintas supernova merupakan tahap akhir dari kehidupan sebuah bintang. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa bintang-bintang dan planet pengiringnya juga dilahirkan dari keruntuhan gravitasional awan gas dan debu antar bintang. Dengan demikian, supernova selain merupakan akhir dari riwayat sebuah bintang, di sisi lain juga merupakan pemicu tahapan evolusi bintang yang melahirkan bintang-bintang baru.

Banyak dari elemen-elemen berat yang dihasilkan selama hidup sebuah bintang atau setelah meledak menjadi sebuah supernova tersebar di ruang antar bintang. Sebagian dari "debu bintang" ini bergabung dengan gas yang runtuh dan membentuk bintang lain di suatu tempat. Miliaran tahun kemudian, generasi bintang-bintang berikutnya pun terlahir.

Masing-masing bintang bisa dikelilingi oleh lingkaran gas dan debu yang dapat menyatu dan membentuk planet berisi elemen-elemen berat seperti kalsium, karbon, dan besi. Adalah kenyataan yang menakjubkan bahwa kita semua tersusun dari elemen-elemen itu. Nitrogen dalam DNA kita, kalsium dalam tulang dan gigi kita, dan besi dalam darah kita, semua atom yang membentuk tubuh kita, terbentuk milyaran tahun yang lalu di perapian yang berasal dari keruntuhan sebuah bintang. Kita semua terbuat dari materi bintang.




pixie_gage
Iya emang luar angkasa itu misteri yang ga akan pernah terpecahkan...

karena kita cuma sebagian kecil dari semuanya itu.....

itulah kenapa gue suka science...masih penuh dengan misteri BigGrin.gif
IZRO'IL
@all thx tuk komenny.
@bozan.. thx bro dah ikut tambahin artikel.. bagus tuh thumbsup_anim.gif
QUOTE (bozan @ Jul 5 2008, 08:59 AM) *
QUOTE
Mirip seperti yang dialami manusia, bintang-bintang yang beranjak dewasa berkelana jauh dari rumah, dan saudara-saudara sekandung jarang saling bertemu. Bisa jadi di suatu tempat di galaksi Bimasakti ada bintang-bintang, mungkin lusinan jumlahnya, yang merupakan saudara sekandung dari Matahari kita. Mereka terbentuk dari nebula yang sama sekitar 5 milyar tahun lalu. Tapi kita tidak tahu bintang yang manakah itu. Mereka bisa saja berada di sisi lain dari galaksi kita, atau mungkin menjadi salah satu dari bintang kecil tak berarti yang kita lihat berkelap-kelip di langit malam.



untuk bintang yg berkelana, bisa dibaca posting ane yg berjudul Hyper Velocity Star. terdapat beberapa bintang pelarian dari galaksi tetangga, seperti bintang HE 0437-5439 berasal dr Galaksi Awan Magellan Besar .
zoids01
gw suka banget tenteang science......

ternyata kita adalah sebutir pasir di samudera ankasa yg sangat luas.

suatu saat gw pengen menjelajah ke ruang angkasa.
<mode mimpi : on>
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.