Tragedi hilangnya Adam Air tidak perlu berlarut-larut andai saja teknologi anyar Automatic Dependant Surveilance Broadcast (ADS-B) sudah dijalankan di seantero Indonesia. Sayang, implementasinya baru bersifat uji coba.
Masih harus menunggu setidaknya lima tahun lagi untuk memastikan tidak akan ada pesawat “lenyap” dari udara. Saat itu di seluruh dunia termasuk Indonesia akan diberlakukan standar dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) yang mengharuskan mengganti sistem radar dengan teknologi Automatic Dependant Surveilance Broadcast (ADS-B).
“Teknologi ini mampu mendeteksi keberadaan pesawat sampai ke titik koordinat, jadi lebih akurat dibandingkan dengan radar yang kini ada. Setiap pesawat yang mengudara akan diketahui posisi lintang dan bujurnya, ditampilkan dengan titik-titik koordinat di layar komputer stasiun penerbangan terdekat,” ungkap Marzan Azis Iskandar, Deputi Teknologi Informasi Energi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kepada SH di Jakarta, belum lama ini.
Kalaupun pesawat jatuh ke air, tetap dapat diketahui data terakhir sekian detik sebelum pesawat masuk ke air.
Akurat
Setiap pesawat terbang yang mengudara selama ini dideteksi oleh radar stasiun terdekat agar diketahui posisinya. Tapi dengan Teknologi ADS-B, pesawatlah yang mengirimkan datanya ke stasiun penerbangan terdekat begitu tinggal landas.
Sejauh ini, BPPT telah menghasilkan kajian, konsep, dan contoh implementasi di negara lain.
Beberapa modul perangkat lunak dan keras yang dibutuhkan untuk pembangunan ground station ADS-B juga telah berhasil diselesaikan.. Dengan teknologi ini, pesawatlah yang terus-menerus mengirim data ke sistem receiver di bandara secara broadcast.
Performa teknologi ADS-B lebih baik dan akurat dari sistem radar yang tak mampu mendeteksi pesawat yang terhalang awan, selain itu harga juga lebih ekonomis. Performa teknologi ADS-B lebih baik dan akurat dari sistem radar yang tak mampu mendeteksi pesawat yang terhalang awan, selain itu harga juga lebih ekonomis.
Nasrullah membandingkan biaya pembangunan tiang radar yang menghabiskan angka ratusan juta dibanding dengan perlengkapan peranti ADS-B yang bisa sepersepuluhnya.
Lima Tahun
“Kelak semua bandar udara akan menggunakan teknologi ADS-B ini. Untuk Indonesia, kami tengah menguji coba teknologi tersebut di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, yang meliputi 29 penerbangan dari lima rute internasional," kata Nashrullah Taufik MSc, peneliti Pusat Teknologi Informasi dan Elektronika BPPT pada kesempatan berbeda.
Selain di Pangkalan Bun, uji coba juga akan dilakukan di Batam, Jakarta, NTT, dan Bali. Di Bali uji coba dilakukan oleh Australia dengan teknologi yang dikembangkan Australia sendiri.
Uji coba teknologi ini adalah kerja sama BPPT dengan Dirjen Perhubungan Udara Dephub, PT Angkasa Pura-1 dan UPT Bandara Iskandar Pangkalan Bun.
”Masalahnya untuk melakukan migrasi dari sistem radar ke ADS-B memakan waktu agak lama. Harus dilakukan satu demi satu. Setidaknya lima tahun lagi teknologi ini baru bisa diimplementasikan di seluruh stasiun penerbangan Indonesia