Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Sekolah-sekolah Swasta Mulai Bangkrut
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Academia > Education Talk
OhYesOhNo
Source: Kompas.com Kamis, 17 Juli 2008 | 20:04 WIB
http://kompas.com/read/xml/2008/07/17/2004....mulai.bangkrut

QUOTE
MALANG, KAMIS- Sekolah-sekolah swasta di Kota Malang tahun 2008 ini mulai merugi. Satu persatu guru tidak tetap mulai diberhentikan, dan jika itu belum cukup maka sekolah tersebut akhirnya ditutup.

Demikian dituturkan sekitar 70 guru swasta dan elemen pendidikan di Kota Malang, Kamis (17/7), di hadapan DPRD Kota Malang. Mereka sengaja datang ke DPRD untuk mengadukan ketidakadilan pendidikan yang dirasakan oleh sekolah-sekolah swasta di Kota Malang.

Rombongan guru tersebut menamakan dirinya Aliansi Peduli Pendidikan (APP) Kota Malang. Mereka terdiri dari elemen Forum Komunikasi Sekolah Swasta (FKSS), Musyawarah Bersama Perguruan Swasta (MBPS), Komite Sekolah Swasta, Yayasan Sekolah, PGRI, dan Education Corruption Watch (ECWA), FOKUS Guru, dan PGTTI.

"Kami datang ke sini untuk mengadukan bahwa model penerimaan siswa baru (PSB) di sekolah negeri yang dibuat Dinas Pendidikan Kota Malang yang tidak membatasi jumlah murid yang mendaftar, telah membinasakan sekolah-sekolah swasta tempat kami bernaung. Ini karena kebijakan dinas mengatakan PSB di sekolah negeri yang tidak terbatas atau unlimited. Sekolah dilarang menolak siswa," tutur Koordinator APP John Nadha Firmana.

Menurut Jhon, dengan larangan menolak siswa dari Dinas Pendidikan itu, maka sekolah-sekolah negeri akhirnya menerima siswa meski melebihi daya tampungnya.

"Akibatnya, lihat saja semua SMKN di Kota Malang saat ini mengalami over siswa baru. Akhirnya mereka semuanya memberlakukan sekolah pagi dan sore. Di zaman modern seperti ini, apa masih layak ada sekolah pagi dan sore karena ruang kelas yang tidak tersedia?" tutur Kepala SMK Pradnya Paramita tersebut.

Sistem penerimaan siswa baru (PSB) di sekolah-sekolah negeri tahun 2008 ini menurut Jhon terdiri dari berbagai jenis mulai dari PSB pramandiri, PSB mandiri I, PSB online, PSB Mandiri II, PSB online tahap II. "Bahkan PSB pra mandiri itu membuka peluang bagi siswa yang ingin mendaftar meskipun belum ada kelulusan," ujar Jhon.

Akibat pagu PSB bagi sekolah negeri yang tidak terbatas, maka Jhon mengatakan setidaknya dari 36 sekolah swasta di Kota Malang sekitar 40 persen terancam gulung tikar.

"Bahkan telah ada satu sekolah yaitu SMA Maarif yang tutup gara-gara tidak ada murid yang mendaftar. Ini bagaimana? Selama ini kalau tingkat ketidaklulusan tinggi seperti tahun ini, sekolah swasta seperti kami ini yang disalahkan. Akan tetapi dalam pembinaan, kami tidak pernah merasa dibina sama sekali oleh pemerintah. Nasib kami ini lebih parah dari anak tiri. Kami tidak diakui anak oleh pemerintah, namun ketika tingkat ketidaklulusan tinggi kami ikut disalahkan," ujar Jhon.

Padahal daripada mendirikan sekolah baru seperti sekolah standar nasional (SSN), sekolah bertaraf internasional (SBI), Jhon mengatakan lebih baik membina sekolah swasta untuk distandarkan sesuai diinginkan pemerintah.

Ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Malang, Rahmad Basuki menambahkan bahwa dengan kondisi tersebut maka guru-guru di sekolah swasta tersebut terancam kehilangan pekerjaannya. "Bahkan SMK Salahudin sudah mulai memecat tiga orang gurunya karena jumlah siswa yang sedikit, jam mengajar menjadi pendek, sehingga tidak dibutuhkan banyak pengajar," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, puluhan guru-guru tersebut juga meminta agar Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, M.Shofwan diganti, karena ia sudah belasan tahun menjadi kepala dinas pendidikan di Kota Malang.

DIA
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Peace.gif peace Peace.gif
ZoDAK
maksudnya tuh sekolah" swasta yg biasa" j kan ini???

cz setau ane, skul swasta yg emang punya kualitas walo baru buka skrg ini pd maju...
Bang Bill
Bravo untuk Aliansi Peduli Pendidikan kota Malang. Saya yakin jika si Shofwan diganti, pendidikan di kota Malang akan lebih maju. Tidak ada diskriminasi, antara anak-anak orang miskin dan anak orang-orang kaya. Coba saja dilihat, anak-anak dari kelas sosial mana yang bisa masuk ke sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta yang maju ? Sebagian besar adalah anak-anak orang kaya.

Anak-anak dari keluarga miskin sekolah dimana ? Di sekolah-sekolah sawsta pinggiran yang relatif tidak maju. Mengapa mereka masuk ke sekolah2 yang tidak maju ? Karena mereka tidak punya dana cukup untuk memasuki sekolah-sekolah bermutu. Memang ada sih bantuan untuk anak2 dari keluarga miskin dari subsidi silang, tapi jumlahnya hanya beberapa biji saja. Bisa dikatakan hanya sebagai lip service saja supaya tidak terlalu kentara kalau kebijakan diknas Malang lebih mengarah ke bisnis oriented ketimbang mencerdaskan bangsa.

Barangkali ini sebabnya mengapa ketidaklulusan unas kemarin banyak dihasilkan oleh sekolah-sekolah swasta di kota Malang ini. Bukankah ini bisa dimaklumi karena sekolah-sekolah swasta tersebut kurang memiliki dana untuk melakukan pengembangan. Dana yang diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan sebagian besar mengandalkan iuran dari siswa-siswanya. Nah, kalau siswa-siswanya berasal dari orang-orang miskin dan jumlah muridnya sedikit lagi, bagaimana mereka bisa menjadikan sekolah-sekolah mereka bermutu ? ( nb: anak-anak keluarga gaya sebagian besar habis terserap sekolah-sekolah negeri yang terus menambah jumlah kelas baru ).

Selain itu, input sekolah-sekolah swasta itu adalah anak-anak yang memang lemah kemampuannya, yang tersisih dalam persaingan memasuki sekolah-sekolah negeri atau swasta yang bermutu. Dengan input seperti itu mestinya mereka perlu upaya yang lebih sungguh-sungguh untuk menjadikan input-input yang kurang baik ini menjadi insan-insan yang punya prestasi. Upaya ini membutuhkan pendanaan yang lebih besar daripada mendidik anak-anak yang memang sudah memiliki kemampuan lebih baik.

Dengan kenyataan itu, mestinya si Shofwan ( kadiknas kota Malang ) memberi perhatian yang lebih kepada sekolah-sekolah swasta itu. Sekolah-sekolah itu harus 'dibantu' untuk mendidik anak-anak yang sebagaian besar memiliki kemampuan di bawah rata-rata itu. Ini kan tanggung-jawab diknas.

Tapi kenyataannya, kebijkan-kebijakan si shofwan justru bisa menyulitkan sekolah-sekolah swasta ini. Misalkan, dengan menambah pagu sekolah-sekolah negeri sampai sebesar-besarnya. Alasannya, untuk meningkatkan Angka Partisipasi Khusus dan mensukseskan wajib belajar 9 tahun di Malang. Kalau alasan shofwan untuk itu, kan tidak harus menambah kelas-kelas baru di sekolah negeri atau memaksa sekolah-sekolah negeri memasukkan siswanya sore hari ( karena kelasnya tidak cukup ) ?

Harusnya si shofwan itu melihat bahwa sangat banyak sekolah-sekolah swasta yang kekurangan murid. Harusnya shofwan memberi kesempatan sekolah-sekolah ini untuk mendapatkan murid lebih banyak sehingga pemasukkan mereka meningkatkan. Dengan pemasukan yang meningkat, mereka akan bisa meningkatkan mutunya.

Kebijakan shofwan lain yang tidak tepat adalah lebih mengucurkan dana-dana bantuan pemerintah ke sekolah-sekolah negeri yang fasilitasnya sudah lengkap, guru-gurunya digaji negara, muridnya pinter-pinter dan kebanyakan dari keluarga kaya. Alasannya, pengucuran dana tersebut sudah sesuai prosedur. Cara shofwan selalu bersembunyi di balik alasan sesuai dengan prosedur adalah gaya khas pejabat-pejabat orba yang jarang menggunakan otak dan nuraninya.

Masak sekolah-sekolah yang sudah bisa membiayai sendiri ( karena dana dari pemerintah dan dari murid yang kebanyakan berasal dari keluarga kaya ) malah dikucuri dana bantuan. Sedangkan sekolah-sekolah swasta yang kurang bermutu, yang murid-muridnya levelnya di bawah kemampuan rata-rata justru tidak pernah digubris. Padahal, jika ditotal, jumlah murid-murid yang berada di sekolah-sekolah ini jumlahnya ribuan. Kalau shofwan itu punya kepedulian terhadap anak-anak muda yang jumlahnya ribuan ini, mestinya dia juga memikirkan pendidikannya. Tapi, barangkali shofwan berpikir 'salah sendiri kenapa jadi anak orang miskin' atau shofwan takut ketularan miskin kalau memperhatikan mereka.

Sebagai akhir tulisan ini, saya mendukung Aliansi Peduli Pendidikan kota Malang yang menuntut shofwan mundur atau diundurkan dari jabatannya. Kalau tidak, anak-anak miskin di kota Malang semakin sulit memperoleh pendidikan yang baik.
BRAVO ALIANSI PEDULI PENDIDIKAN !!!!!!!!!!!!
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.