exgelo
Jul 18 2008, 03:24 AM
Kondisi lingkungan dan sumber daya alam Aceh belum rusak?anda percaya? Eit.. Jangan percaya dulu! Apabila anda pernah naek pesawat terbang,pasti akan terlihat gunung2 di aceh telah banyak yg botak. 10 thn silam pemandangan aceh dr aerial view begitu memesona.hijau bagai hamparan permadani. Tapi lihat sekarang..gunung2 di aceh begitu gersang dan tandus..serasa berada di Ethiopia.. Lalu apakah ini efek tsunami? Jawabannya: no fishing way! Survei menunjukkan bahwa tsunami menghancurkan coastal area,ga ada relevansi dgn kebotakan hutan di saree, bener meriah, nagan, singkil, blangkeujren.. Lalu kemana hutan geutanyoe? Jawabnya, hilang dan rusak akibat napsu manusia. Jadi gak mengherankan klo skrg banyak gajah dan harimau 'turun gunung'.semua karena habitatnya di rusak,mereka susah dapat makanan. Permasalahan lingkungan di aceh memang blom serumit di Jawa,tp ga ada yg menjamin lingkungan kita ga bakalan spt jawa. Masalah2 yg mungkin akan timbul terkait kondisi aceh skrg: bencana alam rutin spt kemarau/banjir,pencemaran air di perkotaan,kerusakan ekologis,pencemaran udara/debu,hygene dan sanitasi. Semuanya akan bermuara pada keadaan yg dpt membahayakan kehidupan kita sendiri.
Vermont
Jul 18 2008, 08:28 AM
Aku jg pernah baca msl harimau yg ngamuk,trus gajah ma buaya.ini merupakan pertanda telah terjadi gangguan ekosistem di aceh. Pembalakan liar,penggusuran lahan, merupakan sebab akibat. Harusnya pemda bisa mengatasi hal ini.jgn cuma menuntut persen dr pusat.sikat habis penjahat lingkungan!
Falculus
Jul 18 2008, 03:40 PM
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Direktur Wahana
Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh Bambang Antariksa
mengatakan, proses rehabilitasi dan rekontruksi
pascatsunami di Aceh banyak berdampak buruk
terhadap lingkungan.
Ia mencontohkan terjadinya penebangan hutan,
penggalian C untuk material di sungai-sungai dan juga
pembukaan jalan baru. "Namun banyak kasus tersebut
yang belum tersentuh proses hukum," kata dia dalam
sebuah diskusi di Banda Aceh, Kamis (27/12).
Padahal dari data mereka, ada beberapa kasus
perusakan lingkungan yang sedang terjadi di Aceh saat
ini. Misalnya kasus pembangunan jalan Jantho -
Keumala, pembangunan Markas Brimob di lembah
Selawah dan galian C untuk bahan material
pembangunan di Aceh. “Ini bisa jadi bom waktu nantinya
terhadap kerusakan lingkungan Aceh, apakah itu banjir
atau abrasi,” kata Bambang.
Ia berharap, agar semua kasus yang terkait perusakan
lingkungan bisa diusut tuntas oleh aparat penegak
hukum. Sangat disayangkan untuk membangun Aceh
kembali lebih baik pascatsunami, harus mengorbankan
lingkungan Aceh
Falculus
Jul 18 2008, 03:43 PM
Catatan Penutup Tahun Aceh
Sepanjang tahun 2005 dan 2006, setelah bencana gempa dan tsunami tercatat berbagai keambiguan yang dilakukan oleh pemerintah dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, keambiguan ini bahkan cenderung menjadi self-driver oleh BRR Aceh-Nias dalam menentukan kebijakan pembangunan melalui otoritas “Politik Anggaran” yang dipunyai BRR, sehingga Pemerintah Provinsi cenderung didikte oleh kebijakan BRR.
Kecelakaan dalam penggunaan Anggaran untuk membiayai project rekonstruksi, berimplikasi terhadap keberlangsungan ekologi atau lingkungan, pembangunan markas satuan Brimob di seulawah (kawasan Taman Hutan Raya), pembukaan jalan jantho – keumala (Kawasan Cagar Alam), merupakan contoh ketidak jelasan BRR Aceh-Nias dalam menentukan project yang patut didanai.
Maraknya penggunaan kayu illegal di Banda Aceh (Operasi Tim terpadu Illegal logging provinsi NAD, 26/11/06), juga memperlihatkan bahwa dua tahun proses rekonstruksi masih diwarnai penggunaan kayu illegal, bahkan aksi penggunaan kayu illegal ini juga dilakukan oleh NGO International yang tertangkap pada 30/05/06 di pelabuhan Ule Lheu Banda Aceh.
Sampai dengan tahun 2006 ini, Lembaga yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto ini masih belum mempunyai Visi dan Strategi yang efektif dalam memperhatikan dampak rekonstruksi terhadap lingkungan. Jika persoalan ini tidak segera diantisipasi oleh BRR dan Pemerintah Provinsi di Tahun 2007, maka masyarakat akan kembali dirugikan akibat dampak project rekonstruksi yang mengundang “Bencana Ekologis”.
eskalasi kasus Illegal Logging masih tetap tinggi, ada tiga hal yang menyebabkan kasus Illegal Logging tetap sustain, pertama lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku atau cukong besar, wilayah penegakan hukum illegal logging masih bermain pada wilayah pelaku lapangan, kedua, masih banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan menebang hutan, ketiga, proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang masih membutuhkan bahan baku kayu dan ketidakjelasan standart legalitas penggunaan kayu oleh BRR.
Penyebab utama banjir bandang yang kerap terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah akibat rusaknya relasi antara tutupan hutan dan Daerah Aliran Sungai, berkurangnya luas tutupan hutan selain dari konversi peruntukkan lahan juga berasal dari pembalakan liar yang terjadi didorong oleh kebutuhan kayu untuk proses rekonstruksi.
Carut-marut pengelolaan Sumber Daya Alam ini juga diikuti oleh carut-marutnya penyusunan Tata Ruang Provinsi dan Kabupaten/Kota yang seharusnya mampu meminimalkan daya rusak lingkungan akibat Eksploitasi yang berlebihan.
Kondisi Tahun 2007
Banjir bandang diikuti tanah longsor akan tetap mengintai pada wilayah-wilayah dengan kondisi tutupan hutan dan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah rusak diatas 50 persen. Sementara itu, angka kasus pencurian kayu (illegal logging) akan semakin meningkat di hutan alam aceh seiring dengan kebutuhan kayu untuk proses rehablitasi dan rekonstruksi Aceh yang belum mempunyai standart legalitas kayu.
Kebijakan yang diambil oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh (BRR) akan tetap memberikan effect domino yang besar terhadap kehancuran Ekologi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pembangunan fisik dan pembukaan jalan di wilayah kawasan hutan, akan tetap mewarnai proses Rekonstruksi di tahun 2007.
Wilayah pesisir dan laut yang telah rusak akibat tsunami akan tetap mengalami tekanan konversi, rencana industrialisasi tambak di Pantai utara dan timur Provinsi NAD seluas kurang lebih 100 ha kian memperparah kondisi pesisir dan laut.
Eksploitasi industri keruk (tambang mineral) di tahun 2007, akan menandai cepatnya laju kerusakan lingkungan, terbukanya arus investasi di Aceh mempercepat masuknya perusahaan-perusahaan industri keruk di wilayah pantai barat-selatan dan wilayah tengah. Eksploitasi dengan system open pit (penambangan terbuka) akan lebih berbahaya melebihi kerusakan hutan yang dilakukan oleh pembalak liar.
Laju Kerusakan lingkungan yang terjadi pada tahun 2007, juga didukung oleh penataan ruang di wilayah provinsi dan kabupaten/kota yang lebih mengedepankan kepentingan ekonomi, tanpa mampu menjamin tiga hak dasar masyarakat yang sangat penting, pertama, Hak untuk bebas dan terhindar dari Bencana Ekologis, kedua, Hak untuk bebas berusaha secara ekonomi atau bebas dari penggusuran, ketiga, Hak untuk bebas berinteraksi sosial dan berkebudayaan.
Untuk mengurangi laju kerusakan lingkungan yang kian meningkat, prasyarat utama adalah melakukan perubahan paradigma kebijakan yang integral antara paradigma pembangunan dan perlindungan (protected area), perubahan paradigma ini tidak saja dilakukan terhadap regulasi atau kebijakan setingkat Undang-Undang sampai Qanun, tetapi juga diperlukan Visi, Misi, strategi dan implementasi yang efektif dan efisien.
Perubahan paradigma kebijakan hingga ke Strategi dan Implementasinya mutlak dilakukan oleh Pemerintah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pemerintah Kabupaten/Kota, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias sebagai pemangku kepentingan yang berperan besar dalam pembangunan kembali Aceh. (selesai)
Sumber: Dewa Gumay | Penggiat Lingkungan
Falculus
Jul 18 2008, 03:47 PM
SAVE OUR ENVIRONMENT
SAVE OUR FUTURE
SAVE ACEH
Falculus
Jul 18 2008, 03:51 PM
Dampak Lingkungan Dari Industri PertambanganPELAKU bisnis pertambangan, pemerintah, dan para pengamat ekonomi sangat jeli dalam membingkai dan membungkus investasi pertambangan, baik tambang mineral maupun minyak dan gas. Mulai dari bungkus kepentingan devisa, penyediaan lapangan kerja, mempercepat pertumbuhan ekonomi, hingga bungkus mengurangi angka kemiskinan. “Framming” yang begitu sempurna, tapi betulkah industri pertambangan akan membawa kemakmuran bagi rakyat?.
Ada sebuah olok-olok yang kerap dilontarkan oleh kelompok pro pertambangan ketika menanggapi sikap kritis masyarakat yang menolak hadirnya industri pertambangan di daerahnya, kurang lebih begini, “Jika tak setuju dengan pertambangan, kembali saja ke zaman batu. Juga tak usah lagi menggunakan alat-alat yang menggunakan bahan dasar mineral”. Olok-olok ini mereka lakukan sebagai bunuh diri filsafat, atas ketidakmampuan mereka menjelaskan hubungan antara pertambangan dan kemakmuran rakyat yang sebenarnya tidak pernah berkorelasi positif.
Aceh tak lama lagi akan memasuki fase rezim industri tambang mineral atau rezim industri keruk, menggantikan rezim hidrokarbon di Aceh Utara yang telah gagal menjawab arti kemakmuran bagi rakyat Aceh, padahal hasil minyak dan gas lapangan arun selama bertahun-tahun menjadi penopang APBN Indonesia di era orde baru.
Tanda-tanda akan munculnya rezim industri tambang mineral terutama emas dan batubara di Aceh telah tampak di depan mata. Di Departemen Kehutanan telah antri sepuluh perusahaan tambang, menunggu izin alih fungsi hutan untuk kegiatan eksplorasi pertambangan. Di Kabupaten Nagan Raya, PT Surya Kencana telah selangkah lebih maju menapakkan kukunya, mengeksplorasi emas dan batubara, belum lagi di Aceh Tengah dan pantai timur Aceh.
Industri pertambangan merupakan industri yang tidak berkelanjutan karena tergantung pada sumberdaya yang tidak terbarukan. Jika kemudian kelompok pro pertambangan begitu yakin bahwa industri tambang mineral di Aceh akan membawa kemakmuran. Bagaimana dengan dampak lingkungan yang akan di wariskan industri pertambangan, terutama setelah beroperasi?. Justru akan lebih memiskinkan masyarakat di sekitar areal pertambangan.
Pengelolaan lingkungan hidup dalam operasi pertambangan seharusnya meliputi keseluruhan fase kegiatan pertambangan tersebut, mulai dari fase eksplorasi, fase produksi, hingga pasca penutupan tambang. Belajar dari catatan operasi penutupan pertambangan yang dilakukan oleh PT Barisan Tropical Mining (milik Laverton Gold Australia) di Sumsel, PT Indo Moro Kencana (milik Aurora Gold Australia), PT Newmont Minahasa Raya (milik Newmont Amerika Serikat), PT Kelian Equatorial Mining (milik Rio Tinto Inggris-Australia). Seharusnya Aceh telah bersiap diri dan banyak belajar dari kasus-kasus pertambangan di wilayah lain di Indonesia.
Fenomena yang terjadi pada industri pertambangan di Indonesia, justru perusahaan tambang tersebut memiliki kekebalan untuk tidak mentaati aturan-aturan lingkungan hidup dan dapat dengan bebas melakukan pencemaran tanpa takut mendapatkan sanksi. Perilaku lainnya adalah praktik pembuangan limbah pertambangan dengan cara-cara primitif, membuang langsung limbah tailing ke sungai, danau, dan laut.
Warisan Industri PertambanganIndustri pertambangan pada pasca operasi akan meninggalkan banyak warisan yang memiliki potensi bahaya dalam jangka panjang, antara lain; Lubang tambang (Pit), Air asam tambang (Acid Mine Drainage), dan Tailing.
Lubang Tambang. Sebagian besar pertambangan mineral di Indonesia dilakukan dengan cara terbuka. Ketika selesai beroperasi, perusahaan meninggalkan lubang-lubang raksasa di bekas areal pertambangannya. Lubang-lubang itu berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang, terutama berkaitan dengan kualitas dan kuantitas air.
Air lubang tambang mengandung berbagai logam berat yang dapat merembes ke sistem air tanah dan dapat mencemari air tanah sekitar. Potensi bahaya akibat rembesan ke dalam air tanah seringkali tidak terpantau akibat lemahnya sistem pemantauan perusahaan-perusahaan pertambangan tersebut. Di pulau Bangka dan Belitung banyak di jumpai lubang-lubang bekas galian tambang timah (kolong) yang berisi air bersifat asam dan sangat berbahaya.
Air Asam Tambang. Air asam tambang mengandung logam-logam berat berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dalam jangka panjang. Ketika air asam tambang sudah terbentuk maka akan sangat sulit untuk menghentikannya karena sifat alamiah dari reaksi yang terjadi pada batuan. Sebagai contoh, pertambangan timbal pada era kerajaan Romawi masih memproduksi air asam tambang 2000 tahun setelahnya.
Air asam tambang baru terbentuk bertahun-tahun kemudian sehingga perusahaan pertambangan yang tidak melakukan monitoring jangka panjang bisa salah menganggap bahwa batuan limbahnya tidak menimbulkan air asam tambang. Air asam tambang berpotensi mencemari air permukaan dan air tanah. Sekali terkontaminasi terhadap air akan sulit melakukan tindakan penanganannya.
Tailing. Tailing dihasilkan dari operasi pertambangan dalam jumlah yang sangat besar. Sekitar 97 persen dari bijih yang diolah oleh pabrik pengolahan bijih akan berakhir sebagai tailing. Tailing mengandung logam-logam berat dalam kadar yang cukup mengkhawatirkan, seperti tembaga, timbal atau timah hitam, merkuri, seng, dan arsen. Ketika masuk kedalam tubuh mahluk hidup logam-logam berat tersebut akan terakumulasi di dalam jaringan tubuh dan dapat menimbulkan efek yang membahayakan kesehatan.
Celakanya, tidak ada aturan di Indonesia yang mewajibkan perusahaan pertambangan melakukan proses penutupan tambang secara benar dan bertanggungjawab. Kontrak karya pertambangan hanya mewajibkan perusahaan pertambangan melakukan reklamasi, dalam pikiran banyak pelaku industri ini adalah penghijauan atau penanaman pohon semata. Jauh panggang dari api.
Pemerintah Aceh tak ada salahnya belajar dari kasus-kasus dan potret pertambangan di wilayah lain dalam menghadapi invasi rezim industri keruk yang telah masuk ke Aceh. Investasi pertambangan tidak harus serta-merta dilihat dari dimensi ekonomis dengan mengabaikan persoalan lingkungan yang bersifat jangka panjang dan laten. Belajar dari banyak kasus hadirnya pertambangan di daerah yang miskin, kemakmuran bagi rakyat hanyalah ilusi, ditambah sebuah warisan jangka panjang bernama pencemaran lingkungan.
Sumber:
Dewa Gumay
Falculus
Jul 18 2008, 03:53 PM
Sudah 22 Investor Tambang Masuk Aceh
Pasca kesepakatan damai (MoU) RI-GAM yang melahirkan UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan disusul kemudian sukses pilkadasung yang mengukuhkan Irwandi-Nazar sebagai gubernur/wakil gubernur Aceh, telah membawa dampak positif bagi penanaman modal di daerah ini. Menurut informasi yang diterima Serambi, hingga akhir Februari 2007, jumlah investor tambang yang telah masuk dan mendapat izin kuasa pertambangan (KP) dari Dinas Pertambangan dan Energi Aceh mencapai 22 perusahaan. Delapan di antaranya akan meneliti (eksplorasi) deposit dan sekaligus memproduksi (eksploitasi) tambang emas.Kepala Dinas Pertambangan Aceh, Aka Jauhari didampingi Kasubdin Penataan Wilayah dan Konservasi Pertambangan, Ira Pria Utama kepada Serambi, Minggu (4/3) mengatakan, pascakesepakatan damai RI-GAM yang telah melahirkan UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, dan terlaksanakanya pemilihan kepala daerah secara langsung dan demokratis pada akhir tahun lalu, telah memberikan dampak positif bagi penanaman modal di Aceh.Sebelum damai (1994-2004), sebut Ira, ada sembilan perusahaan yang telah mendapat izin Kuasa Pertambangan (KP). Semuanya berstatus penanaman modal asing (PMA). Dari jumlah itu, sampai menjelang terjadi bencana gempa dan tsunami, 26 Desember 2004, tinggal satu perusahaan lagi yang bertahan ingin melanjutkan izin KP-nya, yaitu PT Woyla Aceh Mineral.Setelah damai dan suksesnya pemilihan Gubernur Aceh plus 19 bupati/walikota, hampir setiap bulan, ungkap Ira, investor tambang nasional dan luar negeri mendatangi Kantor Dinas Pertambangan dan Energi Aceh untuk minta izin KP terhadap bahan tambang yang akan dieksplorasi dan eksploitasi. Begitu juga dari kabupaten/kota ada saja surat permohonan izin kuasa pertambangan yang masuk untuk minta izin serupa.
Sampai akhir bulan lalu, sebut Ira, jumlah pengusaha tambang yang telah mengajukan permohonan izin kuasa pertambangan sudah mencapai 34 perusahaan lebih. Tapi, yang telah mendapat izin kuasa pertambangan eksplorasi (penelitian) sudah 22 perusahaan, delapan di antaranya akan melakukan penelitian emas di sejumlah kabupaten/kota. Di antaranya, PT Bintang Agung Maining, PT Mulia Kencana dan Multi Mineral Utama. Perusahaan ini akan melakukan penelitian emas di Aceh Selatan.
PT Gold Mine Sejati, Kencana Mineral Mulia, PT Sari Gold Murni, PT Hasil Tambang Lestari, dan PT Tradisi Tirta Kencana akan meneliti emas di Nagan Raya, dan masih banyak lainnya yang belum dilapor oleh pihak kabupaten/kota ke provinsi. Misalnya, lanjut Ira, di Aceh Tengah, Pidie, dan Aceh Barat.
Tertariknya sejumlah investor dari luar ingin menambang emas di Aceh, menurut Ira, karena di Aceh terdapat dua sumber potensi tambang emas, yaitu tambang emas primer dan emas sekunder. Tambang emas primer adalah emas yang terdapat dalam batuan. Untuk mendapatkannya, terlebih dahulu harus menhancurkan lapisan batuannya. Contohnya, yang ditambang rakyat secara tradisional di Manggamat, Aceh Selatan.
Sedangkan yang dimaksud dengan emas sekunder adalah emas butiran kecil-kecil yang terdapat dalam sungai yang ditambang rakyat secara tradisional seperti yang dilakukan selama ini di empat lokasi, yaitu Krueng Cut dan Krueng Nila di Kabupaten Nagan Raya, serta Krueng Meurebo, dan Sungaimas di Aceh Barat.
Selain emas, ungkap Ira, masih banyak lagi bahan tambang yang menarik di Aceh. Di antaranya batubara, bijih besi, timah hitam dan lainnya. Untuk batu bara, sudah ada investor yang akan mengeksploitasi atau memproduksinya, yaitu PT Mifa Bersaudara. Perusahaan ini dikabarkan akan mengeksploitasi batu bara di Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat.
Sumber: Serambi Indonesia | 5 Maret 2007
Falculus
Jul 18 2008, 03:55 PM
Asal Usul Perubahan Iklim
SEMUA kejadian di muka bumi mempunyai asal usul, tak terkecuali kejadian berubahnya iklim di muka bumi. Asal-usul atau sebab-akibat perubahan iklim secara sederhana dapat dilakukan dengan merunut tahapan-tahapan hingga terjadinya perubahan tersebut.
Tahapan pertama dimulai dengan meningkatnya jumlah gas rumah kaca di langit kita, gas rumah kaca antara lain berupa uap air, karbondioksida, metana, nitrogen oksida, dan gas lainnya. Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia.
Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca, yaitu kejadian dimana permukaan bumi menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Jumlah uap air berubah secara regional, dan aktifitas manusia tidak secara langsung mempengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.
Tanpa disadari, aktivitas manusia memicu peningkatan jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara. Misalnya, ketika manusia membakar bahan bakar fosil, membuang limbah padat, memakai kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan, dan menghasilkan listrik. Padahal, jumlah pepohonan yang berfungsi menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.
Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, namun kemampuannya kalah cepat dari aktivitas manusia.
Sekadar contoh, pada 1750 terdapat 281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul udara atau sekitar 281 ppm. Jumlahnya kemudian naik menjadi 383 ppm pada Januari 2007, atau meningkat 36 persen.
Gas pemicu efek rumah kaca lain adalah metana. Ia mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi.
Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, seperti sapi. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat.
Nitrogen oksida dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa sebelum dimulainya industrialisasi.
Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran ber-flourinasi dihasilan dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan.
Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media pendingin, selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Selama abad ke-20, gas-gas ini telah terakumulasi di atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal tentang substansi yang Menipiskan Lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas ini mulai makin sedikit dilepas ke udara.
Pada tahun 2000 para ilmuwan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara signifikan di atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida. Gas ini masih tergolong langka karena sumber penghasilnya belum teridentifikasi. Tapi ilmuwan menemukan jumlah gas ini meningkat sangat cepat. Bahayanya, gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya.
Pemanasan Global
Gas rumah kaca yang mengumpul di udara menjadi awal terjadinya perubahan iklim. Secara perlahan, gas ini akan menjadi faktor pemicu, apa yang kita kenal dengan pemanasan global. Peristiwa ini dipengaruhi oleh kenaikan suhu atau temperatur di atmosfer, alut, dan daratan bumi.
Proses pemanasan global dapat diterangkan secara sederhana, yakni panas yang diserap sebagian dan memantulkan kembali sisanya ke bumi. Sebagian dari panas ini mengandung radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi, akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Jika konsentrasi gas-gas tersebut terus meningkat di atmosfer, maka akan semakin banyak panas yang terpantul ke bumi.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup yang ada di bumi. Tanpa efek rumah kaca, planet ini akan menjadi sangat dingin mencapai minus 18 derajat celcius hingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Tetapi, karen jumlah gas-gas efek rumah kaca telah berlebih di atmosfer, maka terjadilah pemanasan global.
Sejauh ini isu perubahan iklim dan dampaknya mengacu pada laporan para ilmuwan yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel antarpemerintah tentang perubahan iklim.
Panel ini didirikan pada tahun 1988 oleh organisasi PBB, World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP). Tujuannya untuk mengevaluasi resiko perubahan iklim akibat aktifitas manusia, dengan meneliti semua aspek berdasar literatur teknis dan ilmiah.
Salah satu kesimpulan penting panel tersebut adalah perubahan iklim berubah cepat karena aktivitas manusia, terjadi sejak pertengahan abad ke-20. Laporan IPCC tahun 2001, misalnya menyatakan bahwa temperatur udara bumi telah meningkat 0,6 derajat celsius sejak 1861. Mereka juga memprediksi kenaikan temperatur rata-rata bumi meningkat 1,1- 6,4 derajat celcius hingga 2100.
Sumber Emisi Pemanasan Global
Lembaga-lembaga yang peduli pada isu perubahan iklim menyebut Amerika Serikat, Cina, Indonesia, Brazil, Rusia, dan India merupakan negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Masing-masing menyumbang 6.005, 5.017, 3.014, 2.316, 1.745, dan 1.577 juta ton karbon dioksida ekuivalen (MtCO2e). Sumber emisi tersebut berasal dari sektor energi, pertanian, kehutanan, dan sampah.
Sektor energi merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar 12.628 MtCO2e, diikuti sektor kehutanan 4.479 MtCO2e, sektor pertanian 2.912 MtCO2e, dan dari sampah sebesar 635 MtCO2e. Total gas rumah kaca yang dihasilkan empat sektor tersebut mencapai 20.654 MtCO2e disumbangkan negara tersebut.
Sementara itu, sektor kehutanan menempati peringkat kedua penyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 4.479 MtCO2e. Emisinya dihasilkan dari deforestrasi dan konversi lahan. Penyumbang emisi ini berasal dari negara yang memiliki tutupan hutan cukup luas, yakni Indonesia dan Brazil. Masing-masing 2.563 dan 1.372 MtCO2e.
Emisi sektor pertanian didominasi Cina, sebesar 1.171 MtCO2e diikuti Brazil dan India. Sedangkan emisi gas rumah kaca berasal dari sampah sebagian besar didominasi Amerika Serikat, Cina, dan India.
Pada awal 1896, para ilmuwan membuat sebuah hipotesis atau dugaan sementara bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dibuktikan tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.
Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Awalnya, para ilmuwan hanya bisa menduga iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan lokasi berbeda. Mereka sampai mengamati iklim bertahun-tahun untuk memperoleh data-data yang jelas.
Sampai pada akhir 1980-an, pengamatan memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, tetapi data statistik ini masih belum dapat dipercaya. Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan.
Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan.
Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan bumi benar-benar terjadi. Pada akhir abad 20, selama seratus tahun terakhir kondisi terhangat terjadi setelah tahun 1980. Tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dan kondisi yang paling panas terjadi setelah 1998.
IPCC memprediksi konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100. Namun, mereka memperingatkan iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya.
Karbondioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad 22.
Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah bumi. Manusia akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang sangat besar, dan kejadian ini akan lebih mengerikan
Falculus
Jul 18 2008, 04:00 PM
Curtin
Jul 22 2008, 04:09 AM
Bumi bukan milik kita tp warisan utk anak cucu kita..ingat..ingat..!
Bangai
Jul 22 2008, 07:06 AM
pemerintah yang harus concern maslah ini bukan kita yang gak ada kekuasaan...
AndyDeris
Jul 23 2008, 03:44 AM
QUOTE (Bangai @ Jul 22 2008, 07:06 AM)

pemerintah yang harus concern maslah ini bukan kita yang gak ada kekuasaan...
Setidaknya kta masi mo mikir ttg lingkungan di nad..
Bangai
Jul 24 2008, 04:27 AM
Gunung di aceh emang udah pd botak,tanya kenapa!
Falculus
Jul 26 2008, 10:25 PM
QUOTE (Vermont @ Jul 18 2008, 08:28 AM)

Aku jg pernah baca msl harimau yg ngamuk,trus gajah ma buaya.ini merupakan pertanda telah terjadi gangguan ekosistem di aceh. Pembalakan liar,penggusuran lahan, merupakan sebab akibat. Harusnya pemda bisa mengatasi hal ini.jgn cuma menuntut persen dr pusat.sikat habis penjahat lingkungan!
klo dah menyangkut masalah lingkungan terutama hutan, semua orang akan berlomba-lomba menjadi penjahat...karena harga kayu yg semakin melambung... coba perhatikanb kasus Adelin Lis, si bangsat jahanam yang menghancurkan hutan lindung di SUMUT...backing-nya dari mulai MS Kaban sampe lurah... ckk..ckk...
AndyDeris
Jul 28 2008, 01:24 AM
Nafsu sesaat dan perusakan lingkungan yg abadi.. maling berkedok pengusaha..indonesia,what a pity country
Bangai
Jul 28 2008, 05:53 PM
biar bapedal, bappeda dan kehutanan yang mikir masalah ini...gitu aja kok repot!
Falculus
Aug 3 2008, 11:21 PM
kita juga harus mikirin karena kita sebagai khalifah yang dititipkan oleh Tuhan bumi beserta isinya...
exgelo
Aug 8 2008, 01:48 AM
Save aceh's environment selagi sempat!
Curtin
Aug 9 2008, 03:06 AM
Hana can sagai kondisi uteuen di nanggroe lawet nyoe
Curtin
Aug 9 2008, 03:09 AM
QUOTE (Bangai @ Jul 24 2008, 04:27 AM)

Gunung di aceh emang udah pd botak,tanya kenapa!
Sama kayak kepala botak pejabat dan maling kayu
AndyDeris
Aug 10 2008, 05:33 AM
ayo ta seulamatkan bumoe aceh.............................
Falculus
Aug 12 2008, 03:36 AM
hutan sebagai sumber cadangan air yang berguna bagi rakyat nanggroe..mari kita lestarikan!
Bangai
Aug 13 2008, 01:27 AM
QUOTE (AndyDeris @ Aug 10 2008, 05:33 AM)

ayo ta seulamatkan bumoe aceh.............................
hana meupeu gabuek....
emang ada dana/anggaran??
Bangai
Aug 14 2008, 05:47 AM
ho dile ureung dum?
Xeparath
Aug 15 2008, 03:28 AM
QUOTE (Bangai @ Aug 14 2008, 05:47 AM)

ho dile ureung dum?
nyo pat lon tuan
AndyDeris
Aug 15 2008, 05:15 AM
QUOTE (Bangai @ Aug 13 2008, 01:27 AM)

QUOTE (AndyDeris @ Aug 10 2008, 05:33 AM)

ayo ta seulamatkan bumoe aceh.............................
hana meupeu gabuek....
emang ada dana/anggaran??
e hai apa ta'a....perangai hana meuganto meubacut
Vermont
Aug 16 2008, 03:02 AM
The world,the place that does'nt create twice!
AndyDeris
Aug 16 2008, 05:07 AM
yang cah..cah laju..yang peuseulamat saket ulee..........
exgelo
Aug 18 2008, 05:26 AM
QUOTE (Bangai @ Aug 14 2008, 05:47 AM)

ho dile ureung dum?
kah meunyo hana ureung mumang tapi meunyo na ureung habeh kateunak mandum...pakiban dile?
Curtin
Aug 23 2008, 02:50 AM
Klo bukan kita,siapa lg yg mo melindungi tanah indatu kita!
harboy
Aug 24 2008, 05:33 AM
lestarikan alam,,
jangan hannya celoteh belaka,,,
Falculus
Oct 5 2008, 06:36 AM
exgelo
Oct 13 2008, 03:33 AM
selamatkan hutan...hutan tempat gam berjuang...
AndyDeris
Nov 4 2008, 06:18 AM
QUOTE (exgelo @ Oct 13 2008, 03:33 AM)

selamatkan hutan...hutan tempat gam berjuang...

hahaha....makanya pmerentih RI rajin nebang hutan di aceh ya bang....
AndyDeris
Nov 4 2008, 06:19 AM
QUOTE (Falculus @ Oct 5 2008, 06:36 AM)

so si dara nyoe...mameh that...
Ceunti_Leumiek
Nov 5 2008, 11:18 PM
Butuh waktu lama untuk memulihkan tapi sangat cepat waktu untuk merusak lingkungan. Gw rutin lewat lintas geumpang-tutut yang dulunya rimbun dan anggun dalam setahun belakangan ini botak dihajar tangan2 yang hanya mengejar keuntungan sendiri (asebudok).
Efeknya udah mulai terasa kan...iklim di aceh ga stabil, angin berhembus tanpa kontrol dengan kecepatan yang sukar diprediksi, daratan jadi panas...hujan udah pasti berujung pada banjir...
itu kawasan Panton Reu jarang tersentuh banjir,nah sebulan lalu udah terendam......
Moratorium pak gubernur nampaknya belum jadi mo2k buat tangan2 cabak perusak hutan....
silaiga
Dec 4 2008, 12:06 PM
QUOTE (Ceunti_Leumiek @ Nov 5 2008, 11:18 PM)

Butuh waktu lama untuk memulihkan tapi sangat cepat waktu untuk merusak lingkungan. Gw rutin lewat lintas geumpang-tutut yang dulunya rimbun dan anggun dalam setahun belakangan ini botak dihajar tangan2 yang hanya mengejar keuntungan sendiri (asebudok).
Efeknya udah mulai terasa kan...iklim di aceh ga stabil, angin berhembus tanpa kontrol dengan kecepatan yang sukar diprediksi, daratan jadi panas...hujan udah pasti berujung pada banjir...
itu kawasan Panton Reu jarang tersentuh banjir,nah sebulan lalu udah terendam......
Moratorium pak gubernur nampaknya belum jadi mo2k buat tangan2 cabak perusak hutan....
lon dukung gata @Ceunti_Leumiek.....
Falculus
Feb 19 2009, 04:06 AM
Ayo dukung bro exgelo selamatin hutan aceh.. Kayaknya ada ambisi bakal jadi menhut ni..;)