Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Anggapan-anggapan Keliru Mengenai Jerman Nazi
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah > Sejarah Dunia
El_Tuerto
Anggapan Keliru Mengenai Jerman Nazi


Siapa yang ngga tahu Jerman Nazi? Sebuah negara dengan partai tunggal yang terkenal totaliter dengan Adolf Hitler sebagai pemimpinnya. Sebuah nama yang menuai banyak kutukan dan hinaan, tapi juga mampu membangkitkan decak kagum yang lainnya.

Cerita-cerita tentang Jerman Nazi memang bisa dibilang sangat banyak, tapi sebenarnya ada beberapa cerita keliru mengenai Jerman Nazi ini yang terjadi akibat misinformasi. yaitu antara lain :

1. Swastika adalah Jerman Nazi, Jerman Nazi adalah Swastika

Ini mungkin salah satu dari sekian kekeliruan yang kerap terjadi. Jerman Nazi memang berlambang swastika, tapi swastika tidak serta-merta hanya dimiliki oleh Jerman Nazi. Swastika sendiri diperkirakan telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, pertama kali diperkenalkan di India dalam penyebaran agama Hindu — dan kemudian Buddha — di Asia sekitar tahun 3000 SM. Kemudian swastika mulai memasuki region Eropa sekitar tahun 400-350 SM dan mulai dikenali sebagai simbol keagamaan maupun animisme-dinamisme sebelum agama Kristen mendatangi kawasan Eropa.

Setelah agama Kristen menjadi agama mayoritas di Eropa, keberadaan swastika perlahan-lahan memudar hingga hilang sepenuhnya, sebelum dia kembali muncul lagi pada abad ke-19. Puncaknya, lambang swastika ini diadopsi oleh Adolf Hitler sebagai lambang Jerman Nazi dengan dan sejak itu menimbulkan stigma di kalangan dunia. Istilah yang digunakannya kala itu adalah Hakenkreuz, yang berarti “salib berkait”, searti dengan istilah yang digunakan Jepang dengan sebutannya yaitu Kagi juuji.

Mengenai alasan Hitler sendiri mengapa ia memilih swastika sebagai lambangnya adalah karena ia melihat swastika sebagai simbolisasi keberhasilan ras Arya (mengingat ras Arya pertama kali datangnya dari India), dan juga lambang kreatifitas serta anti-Semitik — seperti yang sudah dijelaskan Hitler dalam bukunya berjudul Mein Kampf. Swastika dalam partai Nazi juga dikenali sebagai simbol yang membuat dan menjalani kehidupan (das Symbol des schaffenden, wirkenden Lebens) serta pelambangan ras Jermanisme (Rasseabzeichen des Germanentums).


2. Naziisme adalah Komunisme

Ini salah satu miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakat, terutama dalam masyarakat Indonesia. Mungkin gara-gara kemiripan Naziisme yang bersifat totalitarian, juga ketakutan masyarakat Indonesia terhadap komunisme hingga sekarang, sampai akhirnya muncul anggapan begini. Saya tegaskan dengan sangat, Nazisme itu sama sekali bukan komunisme.

Dilihat dari latar belakangnya, Adolf Hitler justru membenci komunisme (dan Yahudi) karena menganggap mereka sebagai penghianat bangsa Jerman dan penyebab kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I karena adanya konspirasi antara mereka dengan yang lain.

Dari ideologi dasarnya sendiri pun sebenarnya dapat dilihat perbedaan yang cukup jelas. Nazisme adalah ideologi politik sayap kanan atau right wing, bentuk konservatif yang mendasar pada keseragaman. Sementara komunisme adalah ideologi politik sayap kiri atau left wing, bentuk radikalis yang konon lebih cenderung ke perseteruan dan konflik. Meskipun Hitler memulai pendirian partai Nazi sebagai pemegang kekuasaan dengan percobaan kudeta (yang kurang berhasil), hal itu tidak serta merta membuatnya sebagai partai komunis. Hitler dalam Mein Kampf menyatakan dengan jelas bahwa Nazisme adalah anti-komunisme.


3. Keseluruhan Jerman Nazi adalah Sekumpulan Maniak Sadis

Mendengar kata Jerman Nazi mungkin identik dengan 3 kata: fasis, sadis, dan rasis. Dan yang paling sering didengungkan adalah sadis. Padahal tidak sepenuhnya seluruh Jerman Nazi begitu. :| Serdadu-serdadu Jerman Nazi juga masih manusia; mereka pada dasarnya juga masih menyukai kehidupan harmonis bersama. Saya rasa ini masih merupakan generalisasi yang terlalu cepat untuk menganggap keseluruhan Jerman Nazi sebagai noda hitam kelam; mungkin rada mirip dengan menganggap invasi Amerika Serikat ke Irak itu adalah kesalahan seluruh rakyatnya, dan kemudian dengan serta-merta membenci Amerika Serikat secara total dan memberinya label-label buruk yang mengerikan. :?

Padahal kalau mau ditilik lebih jauh, banyak tokoh Jerman Nazi yang kurang setuju atas beberapa keputusan yang diambil pejabat kalangan atas semisal Himmler atau Goebbels. Sebut saja yang paling terkenal, Erwin Rommel, yang menurut saya pribadi tindakannya justru lebih strategis dan lebih bijak dibanding pejabat kalangan atas lainnya. Kemudian ada Heinz Guderian, Otto von Stuepnagel, juga Claus von Stauffenberg yang menjadi kunci dalam plot 20 Juli menentang Hitler — meskipun menurut saya sendiri mungkin plot itu masih agak terlalu terburu-buru.

Oke, mungkin dalam kemiliterannya sendiri Jerman Nazi memang memiliki The Snipers 10 Commandments yang cukup berbau fanatis. Tapi itu tidak serta merta membuat mereka sebagai setan sadis yang maniak dan haus darah, ‘kan? Justru menurut saya itu bisa menjadi alat picu bagi dorongan moral sang prajurit. :mrgreen:


4. Schutzstaffel adalah Unit Tentara Secara Sepenuhnya

Bicara soal peran Schutzstaffel — yang biasa disingkat dengan SS — dan Waffen-SS serta perannya dalam kekuatan militer Jerman, diperlukan pengetahuan mengenai sejarah organisasi ini terlebih dahulu.

SS pertama kali dibentuk pada tahun 1925, ketika Nazi waktu itu masih berupa partai yang bersaing dengan partai lainnya, sebagai unit pengawal pribadi Adolf Hitler yang hanya beranggotakan 8 orang. Seiring dengan menguatnya kekuatan partai Nazi saat itu, maka kuantitas dalam SS ditambah hingga membentuk organisasi dengan skala yang lebih besar. Akhirnya, pada tahun 1933 — ketika Nazi sudah memegang kendali sebagai partai politik tunggal — SS sudah beranggotakan lebih dari 100.000 orang, dan kemudian mulai mencoba menyingkirkan organisasi Sturmabteilung (SA) hasil bentukan Ernst Roehm yang berisi anggota-anggota masyarakat kelas menengah ke bawah, karena SS masih dianggap sebagai organisasi second-class yang berkedudukan dibawah SA.

Tahun 1934, SS berhasil menggantikan SA dengan menyingkirkan mereka dalam suatu insiden yang dikenal dengan nama “Malam Pisau Panjang” atau Night of the Long Knives (dalam operasi militer, dikenal juga dengan nama Operation Hummingbird). Sejak peristiwa ini, pengorganisasian SS mengalami perubahan besar. SS terhitung sebagai deretan eksekutif politik, juga di saat bersamaan bertanggung jawab atas pengurusan kamp-kamp konsentrasi dengan nama Waffen-SS (Schutzstaffel bersenjata). Barulah nantinya, seiring dengan panasnya Perang Dunia II, SS diperhitungkan sebagai organisasi militer yang keberadaannya bisa dibilang mampu mengimbangi — bahkan menyaingi — Wehrmacht, angkatan bersenjata Jerman.

Jadi bisa disimpulkan bahwa SS tidak langsung muncul sebagai unit militer, namun diawali dengan organisasi kecil yang dibuat untuk kepentingan politik sebagai pengawal pribadi Hitler.


5. Jerman Nazi Hanya Beranggotakan Ras Jerman Murni

Mengingat sikap Jerman Nazi yang cukup rasis, serta kebanggaan besarnya terhadap ras Arya, mungkin menimbulkan anggapan bahwa di dalam Jerman Nazi hanya terdiri atas ras-ras Arya Jerman murni. Tapi pada kenyataannya, terutama dalam struktur militer Jerman Nazi, secara ras dan agama anggotanya cukup bersifat heterogen dan bukannya homogen.

Logikanya ini bisa terjadi karena untuk mewujudkan angkatan bersenjata solid dan kuat yang hanya berisi ras Arya saja dalam keadaan Perang Dunia dirasa cukup sulit. Dari sisi logistik dan kekuatan moral juga mungkin susah untuk diwujudkan. Maka dari itu pada akhirnya ras-ras selain Arya juga diperbolehkan bergabung dalam angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht), bahkan unit khusus Waffen-SS yang pada awalnya hanya berisi orang-orang tertentu.

Dalam perkembangannya, berbagai negara yang bahu-membahu dengan Jerman sebagai sukarelawan dalam Perang Dunia II juga bisa jadi penyebab timbulnya heterogenitas dalam kekuatan militer Jerman. Sebut saja dari India, Rusia, Ukraina, maupun Bosnia yang mayoritas berisi Muslim yang tidak betah situasi kacau saat itu.


6. Propaganda Joseph Goebbels yang Membenarkan Kebohongan

Sebarkan berita kebohongan secara terus menerus, kemas dengan cara yang terbagus, niscaya ia akan menjadi kebenaran.

Mungkin ada yang pernah dengar mengenai kutipan yang datang dari Joseph Goebbels, menteri propagana Jerman Nazi, yang ini. Versi Inggrisnya, “If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it.” Dari sini kesannya Goebbels seperti membenarkan bahwa cara untuk meyakinkan orang itu bisa datang dari kebohongan. Tapi sebenarnya, kutipan itu masih bersifat setengah-setengah. Dalam artian, Goebbels tidak membenarkan cara itu.

Sebenarnya kutipan Goebbels ini justru sedang menyindir Winston Churchill yang memberikan kebohongan-kebohongan tanpa bukti melalui New York Times mengenai situasi saat itu, dan bukannya justru sedang membicarakan tekniknya dalam berpropaganda. Kalau teknik propaganda itu sendiri ia justru lebih menekankan bagaimana cara persuasif untuk bisa meyakinkan orang apa yang dipropagandakan; the point of a political speech is to persuade people of what we think right. )

Jadi bisa dibilang kalau Goebbels itu sedang menggunakan gaya bicara satir untuk menyindir Churchill, dan praktisi “taktik kebohongan” itu justru sebenarnya Winston Churchill. Bukannya Joseph Goebbels.


7. Adolf Hitler adalah Seorang Occult

Sebagian pemimpin Jerman Nazi, terutama Heinrich Himmler, mempunyai keyakinan lebih kepada hal-hal yang berbau gaib dan mistik dibandingkan keyakinan mereka terhadap agama. Hal ini dapat terlihat dalam ekspedisi Himmler mencari tradisi dan kultur ras Arya hingga ke Tibet, pemasangan tradisi-tradisi mistik yang rada aneh, dan lain sebagainya. Singkatnya, sebagian dari Jerman Nazi memang menunjukkan adanya gejala-gejala occultism di dalamnya — meskipun hal itu memang diakui hanya sebagai aspek minor dan bukan mayor dalam perkembangannya.

Tapi sebenarnya Hitler sendiri tidak terikat dengan berbagai macam ide-ide esoteris semacam itu, yang mana sering disalahperkirakan karena Himmler membentuk organisasi esoteris dengan membawa nama Hitler. Hitler lebih tepat kalau disebut sebagai seorang relijius yang kritis; kurang menyukai Kristen konservatif namun tetap mempercayai Kristus serta tradisi-tradisi keagamaan Kristen Jerman.

Pernah juga suatu ketika Hitler mengaku menaruh kekaguman terhadap tradisi militer Islam kepada Albert Speer. Jadi dia bukan seorang yang lebih percaya kepada hal-hal mistik semacam Himmler, tapi bisa jadi dia cukup menghargai kultur-kultur dan budaya masa lalu — terlihat dengan ketertarikannya pada Holy Roman Empire.


8. Seluruh Anggota Jerman Nazi Telah Diadili Dengan Seadil-adilnya Dengan Hukuman Mati Setelah Perang Dunia II

Melalui Nuremberg Trials atau Pengadilan Nuremberg, katanya. Tapi kalau mau bicara konsep “seadil-adilnya,” sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Rata-rata pengadilan yang dilakukan masih berdasarkan pada Siegerjustiz, dimana para pemenang perang lah yang dijadikan acuan dalam menentukan konsep keadilan. Beberapa hal lainnya, seperti pengadilan tidak seimbang atas kejahatan terhadap kemanusiaan bagi para opsir yang hanya menuruti perintah atasan juga bermasalah. Namun, memang, bicara masalah keadilan ini memang masih multi-tafsir. Oleh karenanya saya tidak akan membahasnya secara lebih spesifik lagi.

Mari beralih ke poin yang diusung sebagai kata keterangan dalam pendapat diatas, yaitu, “…dengan hukuman mati.” Sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya tepat. Sebagian opsir Jerman Nazi yang berhasil tertangkap dan akan diproses dalam Pengadilan Nuremberg justru mengakhiri hidupnya sendiri dengan racun sianida. Contohnya yang paling mudah adalah Heinrich Himmler; terkenal dengan kutipan terakhirnya yang berbunyi, “Ich bin Heinrich Himmler!”

Lalu juga tidak semuanya dengan serta-merta diproses ke hukuman mati. Beberapa anggota Jerman Nazi yang beruntung mendapat pengadilan yang adil, diberikan kompensasi dalam Pengadilan Nuremberg dan tidak perlu mengakhiri nyawanya dalam derita penjara yang menyedihkan maupun diakhiri nyawanya di lapangan eksekusi. Mereka dapat menikmati indahnya hidup dalam sisa umur mereka. Misalnya saja Kurt Waldheim, mantan serdadu Wehrmacht, yang di kemudian hari sempat menjadi diplomat Austria dan Sekjen PBB — meskipun memang menuai banyak kritik.

Selain itu, mengacu pada nasib para mantan Jerman Nazi setelah Perang Dunia II, ada beberapa dari mereka yang mampu melarikan diri. Salah satu faktor penyebabnya bisa jadi karena ODESSA, organisasi bentukan Otto Skorzeny, mantan petinggi Waffen-SS yang sempat jadi agen Mossad, yang membantu para mantan anggota Jerman Nazi untuk melanjutkan hidup mereka — entah berusaha kabur dari kejahatan perang atau untuk menghindari prasangka buruk dari dunia internasional padahal mereka tidak bersalah. Meskipun begitu, sebenarnya ratlines (istilah yang merujuk ke jalur kabur para anggota negara fasis di PD II) yang digunakan para mantan anggota Jerman Nazi ini justru kebanyakan bukan dibentuk oleh ODESSA, melainkan atas bantuan dari pemerintah negara-negara tertentu dan institusi internasional.

Jadi, dengan ini bisa disimpulkan bahwa tidak semua anggota Jerman Nazi dihukum mati setelah Perang Dunia II, namun ada yang bunuh diri dan masih hidup — entah dengan jalan legal maupun ilegal. Pengadilan Nuremberg, ODESSA, Amerika Serikat, Timur Tengah, Otto Skorzeny, dan Mossad hanya sebagian dari yang mempengaruh nasib para mantan anggota Jerman Nazi.

***


Nah, itulah sedikit dari anggapan-anggapan keliru yang bisa menimbulkan stigma bagi Jerman Nazi dan segala komponen-komponen semisal anggota dan identitasnya sendiri yang sering berkembang di masyarakat — terlepas itu merupakan rumor yang disebarkan oleh negara pemenang perang, penelitian yang kurang akurat, atau misinformasi.

Dikutip dari : http://deathlock.wordpress.com/2007/12/16/...ai-jerman-nazi/
ghetooman
QUOTE
2. Naziisme adalah Komunisme


Kalo itu mah sudah jelas salah. Nazi= Fasisme..
Blazing Arrows
@Ghetooman

Memang bukan Tounge.gif kan ada keterangannya bawahnya Tounge.gif
Hardcore
nazi goreng aja, lebih maknyusssss
modern_boyz
thx TS...berguna bgt infonya

emang bagi negara yang kalah perang selalu di cap jelek
bagi yang menang perang akan di cap pahlawan

itu dah pasti bowwwwww BigGrin.gif
Sopholore
sumber beritanya bisa dipercaya ya bro??
lumayan buat perbandingan nih
ghetooman
QUOTE (Argetlam @ Jul 22 2008, 09:15 PM) *
@Ghetooman

Memang bukan Tounge.gif kan ada keterangannya bawahnya Tounge.gif


@Argetlam
Maksud gw gini bro, dari 8 hal Anggapan Keliru Mengenai Jerman Nazi, poin yang ke-2 gw ga setuju. Belum pernah gw temuin orang yang beranggapan bahwa Nazisme adalah Komunisme. Rata2 pada tau kok kalo Nazi = Fasis. Sampe tetangga gw yang tukang becak aja tau (gw juga heran kok dia bisa tau Confused.gif joged.gif ). Kalo 7 poin lainnya gw setuju2 aja, kayak Propaganda Goebels, trus Ras murni jerman and hitler pengikut occoult (jadi inget film Hell Boy axehead.png ). Sebelumnya mang anggepann gw kayak gitu, jadi tau deh sekarang kalo itu salah (kecali poin 2, gw dah tau kalo itu salah joged.gif chaong.gif )
Donatian
Thats Right, Nazi itu Fasisme berat, thanks for the info, denger2 Nazi juga pernah mengirim ekspedisi buat nyari sisa-sisa peradaban Atlantis dengan kapal selam, tapi pas mereka berhasil ndapetin info, eh kapal selam mereka ditenggelamkan pihak sekutu(gw lupa baca di buku mana gitu).

Thanks for the info BigGrin.gif
moja
infonya bermanfaat bro
limu
Wah Info yang bagus tuh
makasi Bro
mas_master
makasihnya...
baru tahu nih..
noraq
Nice ... memang menarik bahasannya ...
super_six
Nazi memang ga smuanya jahat smile.gif
MrFz
wah makasih buat infonya~

bnar" menambah wawasan~
aboerdy
thanks bro info nya
die4ever
wah thax infonya
eiger
heemm..
bahasan yang menarik bro,
makasih Hug.gif

lanjutkan aja kalo masih ada ..
niceman
jadi begitu ya ceritanya. makasih bro atas infonya. satu pengetahuan yang baik
israstamaniac
wah top deh infonya
kaythree
sebenarnya gw setuju dengan haluan besar partai nazi, yaitu membangkitkan semangat nasionalisme dengan diikuti dengan kesejahteraan sosialis.. tapi kayaknya sekarang sudah tidak bisa diterapkan lagi, dimungkinkan oleh senjata barus amerika yaitu "EKONOMI" dan paham LIBERAL
m3t4l
kamsia buat infonya bro....
FREAK
great info..

i really appreciate it bro. .. .
Soul
QUOTE (modern_boyz @ Jul 23 2008, 01:12 PM) *
thx TS...berguna bgt infonya

emang bagi negara yang kalah perang selalu di cap jelek
bagi yang menang perang akan di cap pahlawan

itu dah pasti bowwwwww BigGrin.gif


Jerman di bawah HITLER emang jelek dan jahat tuh..!
zfuady
thks infonya..
comandante simone
gua setuju dgn "el_tuerto" nazi bukan fasis n kaga jaat nazi kan hanya anti yahudi doank bukan bangsa laen.
btw yahudi kan jaat.
nice pos bro
kalo ttg swastika perlu gua lurus kan asal usulnya.
kalo swastika nazi=searah jarum jam
kalo swastika buddha=berlawanan dgn arah jarum jam.
hitler=salah satu org hebat n idola gua tuh.
ada pepatah yg mengatakan "manusia mati meninggalkan nama"
emank nama hitler di cap jelek itu krn propaganda lawan politiknya,kalo kita open mind pasti kita bisa berpikir rasional n kaga ter propoganda ama musuh2 politik hitler.
nyeplesinnyamuk
NAZI=FASIS.....
hummy
Really nice post bro....... segala sesuatu yg berlebihan memang tidak baik
bay's
menambah pengetahuan bro Peace.gif
JOYRIDER
thanks infonya bro, mayan nambah lagi ilmu gw
miemie88
Note: Russia (Soviet Union) not on the same side with German/Italy/Japan/etc (Fascism)

SovietUnion terang2an adl penganut Communism/Socialism.

nimbrung nih, opini gw sih BIG POWER TENDS to CORRUPT, dalam artian, bangsa atau orang yang sukses/kuat/superior, cenderung sombong.
mungkin ini juga yang menyebabkan paham Fasisme dipercaya German, Italia, dan Jepang (yg lain kurang tau).
Kejelekan Fasisme ini adalah kekerasan untuk mencapai tujuan, terbukti dengan mudah menggerakkan Genocide terhadap etnis yang dianggap inferior.

German thd Yahudi.
Jepang thd China.
dsb,

rijs
makasih infonya yg menambah wawasan.
semakin meyakinkan gw kalo jerman di bawah hitler adalah jerman paling barbar di sepanjang sejarah (bahkan tidak se-barbar era germania).
dan hitler adalah penjahat perang kolokan yang tidak tahu terima kasih kepada jenderal-jenderal super-jenius, yg udah kasih full support eh.. balasannya malah dieksekusi..
orang-orang jerman saat ini sangat malu bila kita angkat topik soal hitler, mereka ingin melupakan nama itu. kalo fenomena neo-nazi dan anti-semit akan selalu ada karena motifnya kecemburuan ekonomi dan ketidaksiapan bersaing dengan yahudi or imigran-imigran pekerja keras di jerman seperti turki, maroko dan tunisia.
wadefak
setuju!! dari semua literatur tentang NAZI yang pernah gw baca emang mirip dengan rangkuman anda!!
tapi kurang tentang pembantaian yahudi di auchwitz,polandia sob!
pengen tau yang sebenernya gw,,soalnya mamang ahmadinejad bilang itu cuma rekayasa??
El_Tuerto
QUOTE (wadefak @ Oct 14 2008, 12:28 AM) *
setuju!! dari semua literatur tentang NAZI yang pernah gw baca emang mirip dengan rangkuman anda!!
tapi kurang tentang pembantaian yahudi di auchwitz,polandia sob!
pengen tau yang sebenernya gw,,soalnya mamang ahmadinejad bilang itu cuma rekayasa??


Artikel ini mungkin bisa cukup membantu bro,

Pakar dan Rabbi Yahudi Berkumpul di Tehran, Cari Kebenaran Soal Holocaust


Kalangan akademisi dan Rabbi Yahudi menilai positif konferensi Holocaust yang digagas Iran. Mereka menyatakan, konferensi yang baru pertama kalinya diselenggarakan di dunia itu, merupakan bagian dari kebebasan berpendapat seperti yang selama ini didengung-dengungkan Barat.

Konferensi Holocaust itu berlangsung pada Senin (11/12) di ibukota Iran, Tehran dan membahas apakah Holocaust benar-benar terjadi atau cuma mitos belaka. Iran sendiri menuai kecaman Barat, Eropa dan Israel karena menggagas konferensi tersebut, karena selama ini Barat terlanjur meyakini bahwa Holocaust benar-benar menimpa bangsa Yahudi.

Namun sejumlah akademisi dan Rabbi Yahudi berpandangan lain. Akademisi asal AS dan mantan senator dari Partai Republik wilayah Lousiana, David Duke menyatakan, apa salahnya membahas Holocaust dengan bebas, karena itu adalah bagian dari kebebasan berpendapat.

"Apalagi selama ini Holocaust sudah membuat mata masyarakat dunia buta akan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina," kata Duke.

"Saya pikir Ahmadinejad (Presiden Iran-red) adalah orang yang sangat berani untuk mengangkat isu-isu ini," sambungnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki dalam pidato pembukaan mengatakan, tujuan konferensi adalah bukan untuk mengakui atau menolak Holocaust tapi untuk memberikan kesempatan bagi para pemikir yang tidak bisa mengungkapkan pandangannya dengan bebas tentang Holocaust di Eropa dan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tentang Holocaust yang dilontarkan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad.

"Pertanyaan sederhana Presiden Iran: 'jika Holocaust adalah peristiwa sejarah, mengapa Holocaust tidak bisa diteliti?' memicu tuduhan terhadap Iran tanpa berusaha mencari jawaban yang logis," ujarnya.

Ia menyatakan, Iran akan mengakui Holocaust jika para cendikiawan dalam konferensi itu menyimpulkan bahwa Holocaust benar-benar terjadi.

Konferensi bertema "Review of the Holocaust: Global Vision" berlangsung selama dua hari dan dihadiri pakar sejarah Barat terkemuka antara lain Profesor Robert Raurisson dari Perancis dan Fredrick Toeben, sejarawan kelahiran Jerman berkewarganegaraan Australia.

Holocaust Cuma Mitos?

Ensiklopedi Britannica menyebutkan, Holocaust adalah "pembunuhan secara sistematis terhadap orang-orang Yahudi baik laki-laki, perempuan dan anak-anak yang dilakukan Nazi Jerman dan sekutunya atas sepengetahuan negara selama Perang Dunia II." Jumlah orang Yahudi yang menjadi korban pembunuhan itu disebut-sebut mencapai angka enam juta orang.

Holocaust kembali hangat dibicarakan ketika Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad menyatakan ragu dengan kebenaran Holocaust dan menyebutnya hanya sebagai mitos. Ahmadinejad juga meragukan jumlah enam juta orang Yahudi yang disebut menjadi korban Holocaust.

Sebelumnya, beberapa pakar sejarah dan kalangan intelektual juga sudah mempertanyakan kebenaran Holocaust. Di antara mereka adalah seorang penulis asal Perancis Roger Garaudy dan Georges Thiel serta sejarawan asal Inggris, David Irving. Irving bahkan dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun karena menolak Holocaust. Hal serupa juga dialami Thiel karena dalam tulisannya, ia meragukan tragedi Holocaust.

"Orang-orang Yahudi dianiaya, itu betul. Mereka dideportasi, itu benar. Tapi tidak ada pembunuhan di kamp-kamp-tidak ada ruang gas," kata Thiel dan menyebut Holocaust sebagai "kebohongan besar."

Di beberapa negara di Eropa termasuk Austria, Belgia, Republik Chechnya, Perancis, Jerman, Lithuania, Polandia, Slovakia dan Swiss berlaku kebijakan; meragukan Holocaust adalah tindak kriminal. Tak heran kalau dua Irving dan Thiel itu diadili dan dijebloskan ke penjara karena membantah Holocaust.

Pendapat Rabbi Yahudi
Konferensi Holocaust di Tehran juga dihadiri oleh kalangan Yahudi dari Eropa dan AS, termasuk lima Rabbi untuk memberikan pandangan dari pihak Yahudi Ortodoks tentang Holocaust.

"Kami tentu saja mengatakan bahwa Holocaust itu ada, kami mengalami Holocaust itu. Tapi dengan alasan apapun Holocaust tidak bisa digunakan sebagai pembenaran atas tindakan yang tidak adil terhadap rakyat Palestina," kata Rabbi Ahron Cohen dari Inggris.

Selain Cohen, juga hadir Rabbi Yisrael David Weiss yang memimpin delegasi dari gerakan Yahudi Neturei Karta, organisasi Yahudi anti-Zionis yang berbasis di New York. Gerakan ini meyakini, pendirian negara Palestina dan pemindahan Israel akan membawa perdamaian di Timur Tengah.

Kalangan Yahudi yang ikut serta dalam konferensi itu mengenakan pakaian khas berupa jas panjang dan topi berwarna hitam. Seorang peserta menempelkan pin bertuliskan "Orang Yahudi, bukan Zionis."

Belum diketahui apa kesimpulan dari konferensi tersebut, apakah Holocaust benar-benar terjadi atau memang cuma mitos belaka seperti yang dikatakan Presiden Iran. (ln/iol)

http://eramuslim.com/berita/dunia/pakar-da...l-holocaust.htm

Karl Haushofer, Tokoh Yahudi Dibalik Tragedi Holocaust




Seorang Profesor Yahudi ternyata punya andil andil besar dalam kasus pengejaran dan pembunuhan orang-orang Yahudi yang dilakukan Nazi-Jerman dalam Perang Dunia II. Profesor Karl Haushofer namanya.

Karl Ernst Haushofer lahir di Munich, Bavaria (Jerman), pada 27 Agustus 1869. Dia terlahir dari keluarga Yahudi Jerman, dari pasangan Max Haushofer, seorang ekonom, dan Frau Adele Haushofer. Lulus dari sekolah atas, Karl muda mendaftar sebagai tentara Bavaria. Karir di dinas ketentaraan, Karl menamatkan pendidikan di Lembaga Pendidikan Ketentaraan Bavaria (Kriegschule), Akademi Artileri (Artillerieschule), dan Bavarian War Academy (Kriegsakademie). Tahun 1896 Karl muda menikah dengan Martha Mayer Doss, juga seorang Yahudi.

Haushofer meneruskan pendidikannya hingga menjadi perwira tinggi dan berdinas di Angkatan Perang Kerajaan Jerman dan karirnya melejit hingga menduduki jabatan sebagai Staff Corp di tahun 1899. Bahkan pada tahun 1903, Karl Haushofer diangkat menjadi tenaga pengajar di Bavarian Kriegsakademie.

Tahun 1908, Haushofer dikirim ke Jepang guna mempelajari sistem ketentaraan di negeri Matahari Terbit itu. Di Jepang, Haushofer juga didaulat menjadi instruktur resimen artileri tentara Nippon. Dari Jepang, Haushofer yang menguasai banyak bahasa asing selain Jerman, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia, ditugaskan melawat ke beberapa negara Timur Jauh seperti Korea, India, Tibet, Cina, dan lain-lain.

Selama bertugas di Timur Jauh inilah, Haushofer yang memang telah lama tertarik dengan ajaran-ajaran mistis dari Timur melanjutkan penelitiannya. Dia juga menerjemahkan beberapa literatur Budhisme dan Hindu. Menurut sejumlah peneliti, ketertarikan Haushofer terhadap ajaran mistis-esoteris bukan tanpa sebab. Latar belakang keluarganya dipercaya memang telah bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Haushofer merupakan salah satu tokoh dari sebuah persaudaraan mistis pemuja setan (Kabbalah).

Dari perjalanannya keliling Timur Jauh inilah, Haushofer kemudian memperkenalkan sebuah Teori Geo-Politik yang dinamakan “The Heartland Theory” yang intinya berbunyi: “Siapa pun yang bisa menguasai Heartland maka ia akan mampu menguasai World Island”.

Heartland (jantung bumi) merupakan sebutan bagi wilayah Asia Tengah, dan World Island mengacu pada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan itu merupakan kawasan kaya minyak bumi dan juga gas. Teori ini sesungguhnya bukan otentik dari Haushofer, namun adaptasi dari Sir Alfrod McKinder (1861-1947), seorang pakar geopolitik asal Inggris terkemuka abad ke-19. Nicholas Spykman, seorang sarjana Amerika, menambahkan teori ini dengan mengatakan, “Siapa pun yang bisa menguasai World Island, maka ia menguasai dunia.” (Di Milenium ketiga, teori ini dianut oleh Gedung Putih sehingga Bush berambisi menguasai Afghanistan, Irak, dan negeri-negeri sekitarnya).

Haushofer dikenal dekat dengan perwira-perwira Jerman, bahkan berkawan akrab dengan dua tokoh Nazi, Adolf Hitler dan Sekretarisnya, Rudolf Hess. Kepada Hitler, Haushofer menyodorkan teori geopolitik dan juga teori ras unggul bangsa Arya. Buku karangan Hitler yang diasisteni Hess berjudul “Mein Kampf” (Perjuanganku, 1926)—buku ini menjadi buku suci Partai Nazi—dilatarbelakangi teori yang dikemukakan Haushofer. Menurut Haushofer, agar bangsa Jerman bisa menjadi bangsa terkuat di dunia, maka ras Arya harus memurnikan dirinya dan menyingkirkan semua orang Jerman yang bukan berasal dari ras ini. Teori Charles Darwin—juga Yahudi—pun dikemukakan oleh Haushofer sehingga Adolf Hitler menjadi semakin jatuh dalam pengaruhnya.

Berkat pengaruh dari Haushofer inilah, ketika Nazi berkuasa, maka dilakukan pemurnian ras Arya secara besar-besaran. Semua orang Jerman yang bukan berasal dari ras ini dikejar-kejar dan dihancurkan, secara khusus orang Yahudi yang memang banyak mendiami wilayah Jerman menjadi target utama. Masa lalu Hitler yang memiliki hubungan yang buruk dengan orang Yahudi menambah kebenciannya terhadap bangsa yang satu ini. Secara diam-diam Haushofer memprovokasi Hitler agar terus mengejar dan mengusir orang-orang Yahudi dari Jerman dan kawasan sekitarnya.

Mengapa seorang Haushofer yang juga Yahudi Jerman berbuat seperti ini? Jawabannya bisa ditemukan dalam sebuah pertemuan rahasia 13 keluarga berpengaruh Yahudi di Judenstaat, Frankfurt, Bavaria, di kediaman Sir Mayer Amschell Rothschild pada tahun 1773. Saat itu Rotshchild melontarkan dua rencananya. Pertama, menyusun 25 program penguasaan dunia yang kemudian kita kenal sekarang sebagai Protokolat Zionis. Yang kedua, Rotshchild menyebut nama Adam Weishaupt—seorang mantan Yesuit—untuk mendirikan dan memimpin organisasi konspiratif modern bernama Illuminati. Pertemuan Frankfurt ini menyepakati, mereka harus menemukan kembali harta karun King Solomon yang mereka yakini terbenam dalam reruntuhan Haikal Sulaiman yang ada di bawah Masjidil Aqsha di Yerusalem. Caranya adalah dengan merebut Yerusalem dari tangan bangsa Palestina yang sudah ribuan tahun mendiaminya.

Seorang tokoh Yahudi bernama Theodore Hertzl ditugaskan menemui Sultan Abdul Hamid II yang kala itu menjadi Khalifah Turki Utsmaniyah agar mau menyerahkan Tanah Palestina bagi bangsa Yahudi. Sultan menolak mentah-mentah permintaan ini walau kemudian Hertzl mengiming-imingi Sultan dengan harta berlimpah. Sultan tidak bergeming sedikit pun. “Selama jantungku masih berdetak dan darahku masih mengalir, aku haramkan Tanah Palestina bagi kalian wahai Yahudi, ” demikian jawaban dari Sultan. Akibatnya Hertzl dan petinggi Yahudi geram dan membuat satu strategi untuk meruntuhkan khilafah dengan memunculkan seorang Turki Muda bernama Mustafa Kemal Attaturk. Sultan Abdul Hamid II pun tersingkir. Kekhalifahan Turki Utsmani dibubarkan, dan Mustafa Kemal Attaturk menjadi pemimpin Turki dan mensekulerkan negeri itu. Satu penghalang telah tumbang. Walau demikian Yerusalem belum bisa diduduki.

Theodore Hertzl kemudian menyelenggarakan Kongres Internasional Zionisme (1897) yang diselenggarakan di Basel, Swiss. Kongres ini menyepakati bahwa seluruh Yahudi-Diaspora, istilah bagi orang-orang Yahudi yang masih terserak di seluruh dunia, agar secepatnya melakukan imigrasi ke Promise Land atau yang menurut mereka Kota Suci Yerusalem. Seruan Kongres Internasional Zionis ini tidak ditanggapi dengan antusias. Banyak keluarga Yahudi yang sudah mapan di Eropa dan Amerika enggan pindah ke Yerusalem. Meraka menolak seruan itu walau para ketua Zionis memaksanya.

Akhirnya tidak ada jalan lain, imigrasi Yahudi ke Palestina harus melalui jalan paksaan. Harus ada satu kondisi yang memaksa orang-orang Yahudi-Diaspora agar mau pindah ke Palestina. Akhirnya Haushofer berhasil dengan gemilang mendekati Hitler dan kemudian—tanpa disadari—ulah Nazi mengejar-ngejar orang Yahudi mengakibatkan banyak orang Yahudi yang kabur dari negerinya dan berbondong-bondong ke Palestina.

Seperti yang telah dikemukakan oleh Norman Finkeltstein dalam “The Holocaust Industry” atau Frederich Toben, peristiwa Holocaust sesungguhnya didalangi oleh kaum Zionis-Yahudi guna memaksa orang-orang Yahudi lainnya agar mau pindah ke Palestina, lewat tangan Hitler. Bahkan Norman Finkelstein yang juga berdarah Yahudi menentang cara-cara kotor Zionis ini. Dalam bukunya, Finkelstein membongkar mitos holocaust dan menyebutnya sebagai proyek pemerasan yang dilakukan Zionis terhadap negara-negara Eropa dan juga dunia, dengan mengorbankan kaum Yahudi Eropa yang sebenarnya enggan untuk ke Palestina.

Di akhir Perang Dunia II, Haushofer ditangkap oleh pasukan Sekutu. Pada tanggal 13 Maret 1946, Haushofer dan isterinya melakukan bunuh diri di Pähl, Jerman Barat. Mengikut jejak Adolf Hitler dan Eva Braun yang melakukan bunuh diri saat Berlin jatuh ke tangan Sekutu setahun sebelumnya

http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/k...i-holocaust.htm
buset666
Threadnya keren bro Applause.gif Applause.gif
informatif skali
ternyata ada jg org AS n yahudi lainnya yg ga setuju ama tindakan Israel ke Palestina kabbalah adalah aliran pemuja setan, klo gitu madona pemuja setan dunk
parah dah

cmiiw
El_Tuerto
untuk mengetahui ttg Holocaust, buku The Holocaust Industry mungkin bisa memberi penceraham. resensinya bisa lihat disini : http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=143488
El_Tuerto
DI BALIK KENYATAAN HOLOCAUST

Ketika Ahmadinejad mengatakan bahwa Holocaust hanya merupakan sebuah mitos, bangsa barat bereaksi sangat keras bahkan PM Inggris Tony Blair langsung berkomentar bahwa Holocaust hanya bisa dimengerti bila melihat secara langgsung sisa-sisa dari ghetto-ghetto (kamp konsentrasi) yang tersebar di Eropa.

Holocaust sudah dijadikan semacan hal yang sangat sakral bahkan ketika orang menyangsikan kebenarannya akan langsung di hukum seperti yang terjadi pada Manfred Rouder, Fred Louchter, dan Bruno Gelinsh. Bahkan Frederick Toben harus di penjara karena ia meneliti mengenai Auschwitz. Yahudi seolah-olah ingin menghalang-halangi pengunkapan fakta mengenai tragedi yang menimpa kaumnya. Lalu apa yang sebenarnya menimpa kaum Yahudi pada Perang Dunia II? Sejauh ini, ada 3 versi mengenai Holocaust, yakni, Holocaust tersebut definitif terjadi, lalu Holocaust yang sebenarnya tidak sedasyat yang diberitakan oleh orang-orang Yahudi dengan kata lain Yahudi menggembar-gemborkan apa yang terjadi pada bangsa mereka puluhan tahun silam, kemudian yang terakhir bahwa Holocaust merupakan kejadian yang fiktif yang tidak pernah terjadi.

1. Holocaust definitif terjadi

Dari ringkasan penuturan Joel Brand dalam buku Advocate for The Dead karya Alex Weisberg, Brand menceritakan bagaimana ia melakukan jual-beli jiwa Yahudi,

“Nah, saya bersedia menjual kepada Tuan satu juta orang Yahudi. Tidak seluruh orang Yahudi—sebab untuk itu Tuan tidak akan mampu mengumpulkan cukup uang. Tapi untuk satu juta Tuan masih sanggup. Darah dibayar uang. Uang kontan untuk darah.”

Orang yang mengeluarkan kata-kata tersebut adalah wakil Himmler untuk melikuidasi kaum Yahudi di Eropa. Ia bicara sebagai wakil dari pemerintahnya, dan dia bicara selagi asap masih mengepul dari cerobong-cerobong kamar gas dan krematorium Auschwitz dan Treblinka, tempat orang Yahudi dimatikan dengan gas atau dibakar hidup-hidup.” (kutipan penuturan Joel Brand: Advocate for The Dead )

Buku tersebut ingin membuktikan bahwa pembunuhan secara sistematis oleh Nazi memang benar-benar terjadi, bahkan nyawa Yahudi dengan mudah dapat diperjual belikan “Darah dibayar uang. Uang kontan untuk darah” jika dilihat dari perkembangan perang antara Jerman dengan Sekutu tahun 1944 merupakan detik-detik terakhir kekalahan Jerman, dimana Jerman telah bertempur habis-habisan dan membutuhkan banyak biaya untuk keperluan perang terlebih pusat-pusat industri berat Jerman mengalami pemboman yang hebat. Seperti yang dikatakan acc Jerman Adolf Galland, mulai tahun 1941 Jerman mengalami pemboman, puncaknya berada pada tahun 1943 yakni Jerman di bom selama 24 jam non-stop. Galland sendiri menamakan hal ini Twenty four hour attacks, round the clock bombing. Maka Jerman membutuhkan dana segar untuk keperluan pertempuran di Front Timur dan barat. Jadi mungkin saja jual-beli ini benar-benar terjadi.

Lalu 50 tahun kemudian setelah Holocaust berlalu, World Jewish Congress (Kongres Yahudi se-dunia) meminta ganti rugi kepada Swiss atas klaim mengenai tindakan Swiss yang bekerja sama dengan Nazi dalam hal pembelian emas Yahudi serta penolakan terhadap para pengungsi Yahudi pada Perang Dunia II. Swiss kemudian membentuk komite khusus yang dipimpin oleh Paul Volcker untuk menyelidiki kasus ini. Walaupun pada akhirnya Swiss menanggung ganti rugi sebesar 1,25 milyar dollar sebelum komite Volcker menyelesaikan tugas-tugasnya. Yang perlu diperhatikan adalah temuan dari komite ini ialah,

1. Swiss dan AS menerima masing-masing sekitar 20.000 Yahudi pada era-Holocaust.
2. Selain Swiss, AS juga merupakan tempat penyimpanan aset orang-orang Yahudi di Eropa pada era-Holocaust.

Dari melihat pengakuan Joel Brand serta temuan komite Volcker bisa dikatakan memang pembantaian skala luas memang definitif terjadi pada perang Dunia II. Holocaust tidak sedasyat pemberitaan dari yahudi

Banyak ahli yang menyangsikan mengenai apa yang terjadi di balik Holocaust. Kesangsian tersebut dikarenakan angka korban yang terkesan terlalu berlebihan, yaitu korban Yahudi yang dibunuh sebanyak 6 juta jiwa. Pembunuhan 6 juta jiwa merupakan hal yang sangat sulit walaupun dikatakan Jerman melakukan pembantaian secara sistematik yang dikenal dengan Nazi Final Solution, tetap saja hal tersebut sulit untuk dilakukan.

Dalam buku Diary of Anne Frank yang mengidentifikasikan bahwa ukuran dari Ghetto yang paling terkenal buruknya, Auschwitz, sangatlah kecil, dengan hanya dihuni oleh 11.000 orang bahkan kebanyakan bukan orang Yahudi (Gipsi, dan orang cacat). Kemudian jika jutaan orang Yahudi dihabisi secara sistematik, 11.000 orang merupakan jumlah yang kecil. Jadi Jerman harus memiliki ratusan kamp agar bisa menghabisi 137 orang per jam supaya 6 juta orang Yahudi dapat dihabisi dalam kamp-kamp seperti Auschwitz, kenyataannya Jerman hanya memiliki setengah lusin kamp di seluruh Eropa.

Kemudian pada 13 Juli 1994, dokomen tentang kehidupan Charles A. Lindbergh menyatakan bahwa ketika Lindbergh mengunjungi salah satu dari sedikit kamp itu di Jerman selama PD II, dikatakan padanya bahwa 25.000 orang mati dalam 1,5 tahun. Sederhananya 25.000 di kali setengah lusin kamp tidak sama dengan 6 juta bahkan tidak sama dengan 600.000.

Enam juta bukanlah angka yang sedikit. Di waktu perang tentu Nazi sangat memerlukan gas, lalu mengapa mereka harus membuang sedemikian banyak gas untuk membunuh Yahudi? Lagi pula belum tentu jumlah orang yahudi di Eropa waktu itu sebesar 6 juta orang. Sekarang saja jumlah mereka di seluruh dunia sekitar 20 juta jiwa (Smith Alhadar, 2000).

Jelas tidak ada yang tahu persis berapa banyak orang yang terbunuh dalam suatu perang, tapi gagasan yang bahwa 6 juta Yahudi di bunuh oleh Nazi secara sistematik tidak di dukung oleh data yang ada ataupun akal sehat (Smith Alhadar, 2000).

3. Holocaust hanya sebuah cerita fiktif

Pada tanggal 19 Desember, Mehr News Agency melakukan wawancara dengan Dr. Fredrick Toben untuk menanyakan mengapa negara-negara Barat begitu marah ketika Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad yang mengatakan bahwa Holocaust hanya mitos.

“Holocaust adalah sebuah kebohongan karena tak satupun dari tiga pilar utama yang bisa mendukung keyakinan itu secara faktual benar atau terbukti. Pertama, soal Jerman-Hitler yang secara sistematis memusnahkan Yahudi Eropa. Tidak ada bukti yang kuat untuk klaim ini, yang ada adalah perpindahan orang-orang Yahudi. Bersama-sama dengan Yahudi Zionis, Yahudi Jerman tiba di Palestina dengan harta benda mereka. Yahudi lainnya pindah ke luar wilayah Jerman dan Auschwitz adalah sebuah kamp tempat transit. Kedua, soal pembunuhan besar-besaran yang dilakukan di kamar-kamar eksekusi dengan menggunakan gas kimia. Secara teknis, hal itu tidak mungkin terjadi karena bisa anda coba berapa lama waktu yang dibutuhkan, misalnya untuk membunuh satu juta orang --jumlah yang sama dengan penduduk Adelaide—tanpa seorangpun yang menemukan tentang hal itu. (Dalam hal ini ia membandingkan kebohongan Bush tentang invasi ke Irak) Dunia dengan cepat tahu bahwa Presiden Bush berbohong tentang senjata pemusnah massal di Irak-kebohongan itu bahkan tidak berakhir dalam satu tahun. Ketiga, katanya ada 6 juta Yahudi yang dibunuh-angka ini cuma dongengan-dan meskipun pada satu waktu jumlah Yahudi yang dibunuh di Auschwitz diklaim sebanyak 4 juta orang, kemudian turun menjadi 1-1,5 juta dan sekarang malah disebut sekitar 500 ribu orang, tapi angka 6 juta masih tetap diyakini. Mengapa?”

Toben sendiri pernah dipenjara di Mannheim karena ia melakukan riset mengenai Holocaust. Yang perlu di perhatikan adalah temuannya ketika ia mengunjungi kamp Auschwitz. Pada saat ia mengunjungi Auschwitz dan liang-liang yang ada di bawah kamar-kamar yang diduga digunakan sebagai kamar gas. Di sana, ia tidak menemukan empat lubang di atap yang disebut-sebut untuk mengalirkan gas ke dalam ruangan. Seperti yang selama ini banyak diceritakan Yahudi yang selamat dari Auschwitz.

Kemudian kritikan lainnya datang dari Gemar Rudolf yang menulis laporan dalam The Rudolf Report. Isinya menyangkal klaim bahwa pembunuhan dengan gas itu terjadi di Auschwitz. Beberapa orang lainnya juga sudah menerbitkan laporan serupa. Fritjof Meyer dari kelompok sayap kiri di Jerman menyatakan bahwa Auschwitz itu sendiri bukan sebuah kamp pembunuhan atau peng-gas-an, tapi pembunuhan dengan menggunakan gas beracun itu terjadi di dua rumah di tanah pertanian di luar kamp Auschwitz-Birkenau.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu yang pasti ada di pikiran kita semua, jika dirangkum dari ketiga pendapat tadi bisa di tarik suatu benang merah yang menghubungkan ketiganya. Yakni pembunuhan skala besar yang sistematis sebenarnya tidak pernah terjadi yang ada hanyalah kerja paksa yang di lakukan Nazi terhadap Yahudi.

Melihat temuan Volcker mengenai perpindahan secara besar-besaran menunjukkan bahwa pada PD II memang “ada hal” yang menimpa Yahudi di Eropa. Kemudian ketika tidak diketemukannya lubang-lubang untuk memasukkan gas di Auschwitz mengacu bahwa tidak ada pembunuhan dengan menggunakan gas. lalu untuk apa didirikan kamp konsentrasi? Kemungkinan besar adalah untuk melakukan kerja paksa.

Hal ini dikuatkan lagi oleh pendapat Smith Alhadar yang mengemukakan bahwa Jerman hanya membuang percuma sedemikian banyak gas jika hanya untuk membunuh Yahudi. Bukankah lebih baik gas-gas tersebut digunakan pada medan perang?.

Mungkin semua pendapat ini hanya merupakan analisis belaka dan masih memerlukan jalan panjang untuk mencapai kebenaran. Pastinya selama Holocaust masih di jadikan alat politik pencapaian kebenaran tersebut masih akan menemui rintangan. Semoga saja suatu saat nanti apa yang terjadi di balik tabir Holocaust dapat terungkap.

Sumber : http://moronez.blogspot.com/2008/04/di-bal...-holocaust.html
El_Tuerto
Kebohongan Holocaust orang Yahudi


Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.

http://spikecursed.blogsome.com/2008/09/16...t-orang-yahudi/
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.