Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Puisi Kecil si Tukang Bunga
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Weiwei
Sakit sebenarnya adalah,
saat kau mengambil masa istirahat
Dari rutinitas yang membuatmu lelah
Dan ketika kau bangun pagi ini
Mentari akan menyambutmu dengan ramah
Lelahmu pergi, kaupun sembuh.


Renita tersenyum membaca barisan kata yang ditulis pada kartu kecil yang terselip di antara bunga mawar yang baru saja dibawa Bram, tunangannya.
Dua bulan terakhir ini, sejak dia terbaring di rumah sakit karena kanker yang menggeregoti tubuhnya, Renita seolah hapal dengan puisi atau syair kecil yang selalu menyertai bunga yang dibawa Bram. Puisi kecil yang digubah oleh si tukang bunga.

Waktu itu, pertama kali Bram membawakan mawar merah dan rangkaian anggrek untuk Renita ke rumah sakit, Renita mengira syair-syair kecil itu hasil gubahan Bram. Dia sempat kaget, ketika mendapati sebait puisi di bunga yang dibawa Bram:

Cinta mungkin diawali saat kita saling tatap
Lalu kita jalani hari penuh tawa bersama
Dan kini, saat kau terbaring di rumah sakit
Semakin aku yakin, cintaku padamu tidak akan berakhir


Bait puisi itu membuat Renita tersanjung dan terharu. Dia menderita kanker darah. Mungkin tidak ada harapan hidup baginya. Tapi Bram, lelaki terkasihnya, tetap setia mendampinginya. Memompakan semangat dan membuktikan bahwa cintanya memang tidak akan berakhir, seperti puisi kecil yang terselip di bunganya.

Sebuah perahu selesai kurakit
Kutambatkan di pantai indah
Kunanti kau sembuh dari sakit
Agar dapat kita kayuh berdua


"Sejak kapan kamu jadi penyair, Bram?" tanya Renita siang itu, saat untuk yang kesekian kalinya Bram membawa bunga dengan sebuah kartu berisi puisi kecil. "Aku?" Bram mengedikkan bahunya, mencium kening Renita dengan penuh kasih. "Aku tidak pernah menjadi penyair," ucapnya. "Tapi bunga-bungamu selalu berisi bait puisi," Renita tersenyum. "Atau.. kau sengaja mengambilnya dari sebuah buku dan meminta penjual bunga menuliskannya?" "Bisa ya... bisa tidak," Bram memiringkan kepalanya sedikit. "Sebenarnya aku hanya memesannya dari seseorang." "O ya?" mata Renita membulat. "Jojo, si penjual bunga itu, ternyata selain mahir merangkai bunga, juga ahli membuat kata-kata indah, Reni. Mula-mula aku melihat beberapa orang yang meminta agar diselipkan kata-kata di kartu kecil untuk menyertai bunga mereka. Eh... aku juga memintanya. Kamu suka?" Renita hanya tersenyum. Bagaimana dia harus menjawabnya?

Tapi Bram tidak membutuhkan jawaban. Dia tahu Renita menyukai itu. Seperti juga Bram yang akhirnya merasa lebih tenang dengan adanya puisi kecil si tukang bunga. Dia memang akan bingung dan tidak tahu harus menulis apa tiap kali membawa bunga untuk Renita. Sungguh terasa kering dan basi bila setiap membawa bunga untuk Renita yang tertulis hanya kata-kata: Aku cinta kamu. Semoga cepat sembuh!.

"Keluarga?" tanya si tukang bunga, pertama kali ketika dia memesan puisi kecil itu. Jojo, si tukang bunga, yang usianya mungkin tidak beda dengan Bram, sekitar tiga puluhan, berwajah tenang, berwibawa dan ramah. Tidak terlalu tampan, tapi Bram yakin, banyak gadis yang antri untuk menjadi pendampingnya. Toko bunganya kecil saja. Lokasinya dekat persimpangan dan berjarak berapa blok saja dari kantor Bram, sebuah gedung kembar berlantai empat.

"Dia tunangan saya," sahut Bram. "Namanya Renita."
"Sakitnya parah?" tanya Jojo pula. Bram segan menyebutkan jenis penyakit Renita. "Tidak juga, dia hanya butuh istirahat."
"Great!" Jojo mengangguk. "Sakit sebenarnya hanya sebutan lain untuk kata istirahat," dia tersenyum, tangannya menjangkau pena. Menulis di sebuah kartu dengan tulisan tangan yang rapi dan indah. "Ini bunga Anda, dan ini puisi pesanan Anda. Tidak ada tambahan biaya untuk ini. Tunangan Anda akan sembuh. Salam dari saya." Itulah awalnya.

Dan hari selanjutnya, ketika Bram memesan bunga, tanpa diminta, Jojo pasti sudah menyelipkan sebuah puisi kecil. Sebulan berlalu ketika Bram masih mampir di toko bunga Jojo, dia tidak bisa mengelak, bahwa sakit Renita memang parah.

"Apakah Anda masih tetap mencintainya?" tanya Jojo ketika itu.
"Pertanyaan apa itu?" mata Bram memerah. "saya akan tetap mencintainya sampai kapanpun. Tidak akan pernah berakhir."
"Great!" Jojo mengacungkan jempol. "itulah cinta sejati. Ini bunga Anda. Tunangan Anda akan sembuh. Salam saya untuk dia."

Dan Bram tidak bisa tidak menyampaikan salam itu pada Renita. Renita menerima salam itu dengan anggukan dan senyum kecil. Tiba-tiba memang si tukang bunga menjadi bagian dari hidup mereka. Ketika menunggu rangkaian bunga pesanannya selesai, Bram senang mengobrol dengan Jojo. Dia menceritakan hal-hal yang kadang Bram sendiri heran, kenapa dia bisa ceritakan pada Jojo. Cerita tentang awal pertemuannya dengan Renita. Galau hatinya tentang penyakit Renita. Harapan-harapannya terhadap kesembuhan Renita.

"Hidup mati kita di tangan Tuhan, Bung Bram," kata Jojo. "Kenapa harus membebani pikiran dengan rasa takut kehilangan orang yang kita cintai? Bayangkan saja dia akan sembuh, lalu Anda berdua akan mengarungi samudera kehidupan yang luas ini bersama-sama. Daripada lelah memikirkan kapan saat dia sembuh, lebih baik Anda mulai merakit perahu untuk pelayaran Anda berdua nanti. Suatu hari nanti, yakinkan diri bahwa dialah yang paling sesuai untuk menemani Anda mengayuh perahu itu."

Saat hidup begitu singkat
Kau hadir memberi wana dalam hidupku
Seperti kembang yang tersiram air
Kau berikan kesejukan bagi hidupku,
Saat hidup penuh tanya
Maukah kau sembuh untukku?


Bram telah meninggalkan rumah sakit hampir setengah jam yang lalu. Renita mencium bunga mawar merah itu. Dia menikmati saat-saat seperti ini, mencium bunga dan membaca pesan kecil di sana. Gubahan Jojo si tukang bunga. Dr. Samsuddin, yang menangani perawatan Renita mungkin terheran-heran dengan kemajuan yang dialami Renita. "Kamu hebat, Renita. Kamu mengalami kemajuan yang berarti. Saya senang dengan pasien seperti kamu. Tetap semangat ya."

Jojo, si tukang bunga. Tidak ada yang tahu bahwa laki-laki yang tidak pernah dikenalnya itu telah memberikan gairah dan semangat baru bagi Renita. Memberinya harapan untuk menikmati hidup ini.

Bangunlah, buka matamu
Lihat keluar jendela
Begitu banyak kupu-kupu di taman
Kejar mereka,
Atau.. kamu masih betah berbaring di sana?


Ingin rasanya Renita melompat keluar. Dia sudah bosan di sini. DIa harus bangun dan mengerjakan banyak hal di luar sana. Dia ingin kembali bekerja sebagai sekretaris eksekutif seperti sebelumnya. Dia ingin nonton di bioskop berdua dengan Bram, dia ingin menghabiskan malam Minggu dengan kekasihnya, nonton Liga Calcio, dia ingin memancing dengan Bram, dia ingin...... Dia ingin sembuh. Harus.

"Kamu tidak bawa bunga lagi, Bram?" Tanya Renita dengan nada heran. "Toko bunga Jojo masih tutup?"
"Ya," Bram mengangguk. Memperbaiki letak selimut Renita. "Dia pulang ke Palembang, Reni."
"Aku tahu, tapi berapa lama?"
"Minggu depan kembali."
"Oh..." Renita mengangguk. Kecewa. "Minggu lalu kam bilang dia cuma pulang dua hari saja, Bram."
"Ada urusan keluarga katanya, Reni. Adik perempuannya menikah. Oya.. kalau kamu mau, aku akan membelikanmu bunga di..."
"Nggak usah," Reni menggeleng. "Tunggu Jojo saja."

Bram mengangguk. Membuang pandangnya ke halaman rumah sakit lewat jendela. Membiarkan juga galau hatinya terbang, kalau bisa.

"Renita masih di rumah sakit?" tanya Jojo ketika untuk yang kesekian kali Bram membeli bunga di toko bunga Jojo. Bram tidak kaget ketika Jojo menyebut nama Renita dengan begitu akrab. Dia telah banyak bercerita tentang Renita. Dan Jojo pernah berkata, "saya merasa dekat dengannya."
"Ya," Bram mengangguk.
"Saya..." Jojo menggeleng. "Saya ingin sekali bisa menjenguknya."

Bram terperanjat mendengar kata-kata Jojo. Dia seperti mendengar suara Renita beberapa hari yang lalu.

"Bram.. maukah kau meminta agar... agar... Jojo menjengukku?"
Bram seperti salah dengar. Tapi ketika dia mengangkat kepalanya dan menatap mata Renita, dia bisa melihat kalau Renita tidak sedang bergurai. Si cantik itu sedang memegang bunga yang tadi dibawa Bram.
"Kau ingin bertemu dengannya?" Bram berusaha agar suaranya terdengar riang dan ringan. Gila, dalam keadaan begini pun dia masih cemburu bila Renita membicarakan pria lain.
"Aku hanya ingin berterimakasih padanya," Renita tersenyum kecil, "dia telah memberikan semangat pada diriku. Pada kehidupanku, di saat aku sendiri tidak yakin bisa bertahan."
"Jangan berkata begitu!" Bram memeluk Renita. "Kau akan sembuh." Bram meyakinkan. "Aku tidak tahu persis apa Jojo punya waktu, tapi aku akan memintanya menjengukmu."
"Apa dia mau?"
"Aku akan mencoba memintanya. Aku akan menyeretnya bila dia menolak."

Renita terkekeh. Tapi Bram tidak. Dia tidak menyampaikan keinginan itu pada Jojo. Dia tidak tahu bagaimana 'meminta' pada Jojo agar mau menjenguk Renita, tapi dia juga tidak bisa memungkiri hatinya, bahwa dia cemburu. Aneh memang, Jojo dan Renita tidak pernah saling kenal. Dan keduanya, tanpa dikomando ingin bertemu. Bram menggelengkan kepalanya.

"Saya tahu... tidak mudah menjenguk pasien yang sedang dalam perawatan khusus," Jojo tersenyum. "Sudahlah, sampaikan saja salam saya. Katakan bahwa saya ingin dia sembuh."

"Sudah kuduga," Renita tersenyum, kecewa. "Dia pasti tidak ingin menjengukku."
"Dia belum sempat saja, Reni. Mungkin kalau dia punya waktu."
"Ya," Renita mengangguk.

Sejak hari itu Bram tidak pernah mampir ke toko bunga Jojo lagi. Tidak ada lagi puisi kecil si tukang bunga.

Bram terpaku melihat toko bunga itu benar-benar tutup. Beberapa hari ini dia memang berbohong pada Renita, mengatakan kalau toko Jojo tutup. Jojo pulang ke Palembang. Memang kampung Jojo di Palembang, tapi Jojo tidak sedang pulang ketika itu. Tokonya juga tidak tutup. Bram hanya tidak ingin mampir lagi ke sana. Dia tidak ingin Renita tergantung pada puisi-puisi Jojo. Namun ketika dia melihat kondisi Renita kian parahm Bram memarahi dirinya sendiri, betapa egoisnya dia. Dia harus menemui Jojo, memintanya --atau malah meluluskan keinginan si tukang bunga itu -- untuk bertemu Renita. Kali ini Bram bersumpah, bahwa dia akan menyeret Jojo bila laki-laki itu berpaling hati dan menolak keinginan Renita. Tapi dia tidak menyangka kalau toko Jojo benar-benar tutup.

"Kok tutup, Bang?" tanya Bram pada penjual koran yang biasa mangkal dekat toko bunga Jojo. "Jojo kemana?" tanya Bram akrab. Dia juga sudah kenal baik dengan penjual koran ini, karena selalu bertemu tiap kali Bram ke toko Jojo.
"Ya, Tuhan!" tukang koran ini menggamit lengan Bram. "Abang tidak tahu?"
"Apa?"

Bram pucat ketika mendengar cerita si tukang koran. Dia menggeleng berulang kali untuk menyangkal cerita itu. "Tidak mungkin!"
"Itulah kenyataannya, Bang. Empat hari yang lalu kejadiannya. Terjadi begitu cepat. Sebenarnya Bang Jojo mau menyelamatkan Ibu dan anaknya yang akan menyeberang, tapi mobil yang datang dari arah berlawanan tidak bisa dikendalikan. Kepalanya membentur trotoar," si tukang koran itu menggeleng. Tubuhnya agak menggigil.
Bram terus menggeleng. Dia mendengar kecelakaan di persimpangan yang terjadi empat hari yang lalu, tapi dia tidak tahu kalau korbannya adalah Jojo.

Bram menundukkan kepalanya. Gundukan tanah tempat Renita terbaring masih basah. Diangkatnya kepalanya menatap langit yang hitam, berusaha agar airmatanya tidak sampai jatuh lagi. Telah banyak airmatanya tumpah.
Dia berbalik pulang.
Selamat jalan, Renitaku. Sayang aku tidak mampu merangkai kata puitis buatmu. Andai Jojo ada di sini, dia pasti bisa membuatkan kalimat indah buatmu. Tapi keindahan itu adalah dirimu, Renita. Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi keinginan terakhirmu untuk bertemu dengan Jojo. Tapi mungkin di dunia lain, kau bisa bertemu. Betapa indah pertemuan itu. Ah, tidak terlukiskan dengan kalimat seindah dan sepuitis apapun, karena si perangkai kata telah berlalu.
Andaikan......




---- by Risnawati Tambunan
anak_cecil
indah nya kekuatan cinta... tapi nasib sudah terukir,,

nice post bro..
otnayidra
Roman yang menarik. Saling tergantung, saling mengisi, tapi tak pernah memiliki
brenk
sedih hatiku......
anakharamonline
nice bro... menyentuh banget
kafka
keren neh cerita...
ketika siapa mencintai siapa dan dicintai siapa...
archus
Nice Post Boz Menyentuh Banget!
4nt4
Cry.gif Cry.gif ...keren...
madotzilla
menyentuh bgt .... thx bro
Eric Mathews
Keren, thanks yo...
benqwick
betapa serangkai kata bisa memberi semangat.
selamat tinggal renita, selamat tinggal jojo

ceritanya sangat menyentuh
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.