Beberapa abad yang lalu, di sebuah kota kecil, hiduplah seorang filsuf jerman keturunan Yahudi bernama Moses Mendelssohn. Di mata umum, Moses adalah seorang pemuda yang cerdas dan baik hati kepada setiap orang. Hanya satu kekurangannya : ia berbadan bungkuk. Suatu hari moses jatuh cinta kepada Gretchen, seorang gadis yang cantik dan menarik, putri seorang bankir kaya.
Beberapa waktu Moses menyimpan perasaannya itu. Lalu pada suatu hari dia memberanikan diri minta izin kepada bankir itu untuk menemui putrinya dengan alasan bahwa dia mau mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Bankir itu memberinya izin . Maka Moses menemui gadis itu.
Mereka mengobrol. Namun selama percakapan itu, mata gadis itu tidak pernah mau menatapnya. Akhirnya percakapan mereka sampai pada topik perkawinan. Gretchen bertanya kepada Moses: apakah dia percaya kepada peribahasa lama yang mengatakan bahwa perkawinan itu sudah ditakdirkan di surga.
“Tentu saja. Saya percaya.” Jawab Moses. “ Ada sebuah cerita. Konon 30 tahun yang lalu, ketika ada seorang anak laki-laki lahir ke dunia, para malaikat mengumumkan hal itu agar semua orang bisa mengetahuinya. Kata malaikat itu juga, sebagai takdirnya – yang tak seorangpun dapat mengubah sesuka hatinya – anak itu kelak akan menikah dengan seorang gadis. Namun sayang – malaikat itu sejenak berhenti bicara – calon istrinya adalah seorang gadis yang bungkuk.” Mendengar hal itu si anak spontan berteriak di hadapan isi surga. ”Oh Tuhan, jangan! Seorang gadis yang bungkuk akan sangat mudah tesiksa dan terluka hatinya karena akan menjadi sasaran gurauan banyak orang. Jangan Tuhan! Gadis itu harus cantik. Tuhan, saya mohon, biarlah saya saja yang bungkuk, dan biarkan dia tetap cantik dan tak bercacat.”
”Tahukah Gretchen, Tuhan mendengar doa anak kecil itu. Anak kecil itu aku dan kamulah gadis itu.
Untuk pertama kalinya Gretchen melihat Moses secara berbeda. Akhirnya Gretchen menjadi istri Moses yang setia dan penuh kasih.