http://kompas.com/read/xml/2008/08/09/0412...n.pasukan.rusia
1.400 Warga Sipil Tewas di Tangan Pasukan Rusia
QUOTE
MOSKWA, SABTU - Sekitar 1.400 warga sipil tewas Sabtu (9/8) saat pasukan Rusia melancarkan invasi ke wilayah yang dipertikaikan di South Ossetia, Georgia. Lebih dari 150 tank dan kendaraan tempur Rusia telah dikerahkan menuju Georgia saat pemberontak South Ossetia digempur oleh pasukan Georgia.
Sumber militer Rusia menyebutkan pasukan artileri dan tank mereka telah dikerahkan untuk menghadapi pasukan Georgia di sekitar ibukota South Ossetia, Tskhinvali. Rusia mengambarkan operasi militer tersebut sebagai serangan balas dendam setelah beberapa personil militernya yang ditempatkan di Georgia tewas terbunuh.
Georgia mengerahkan hingga 26.000 personil pasukannya untuk menghadapi serangan militer Rusia. Sekitar 2.000 personil pasukan Georgia juga telah ditarik dari misi di Irak untuk memperkuat pasukan di dalam negeri.
Namun, Presiden Georgia yang pro-Barat Mikhail Saakashvili menyebut operasi militer Rusia itu sebagai 'deklarasi perang' yang telah lama direncanakan. Mikhail Saakashvili telah memohon bantuan ke Amerika Serikat.
"Tank-tank Rusia terus memasuki wilayah kami," seru Mikhail Saakashvili seraya memohon bantuan AS. "Rusia terus melancarkan pemboman ke wilayah kami...terutama yang ditujukan ke penduduk sipil."
"Saya melihat jenazah bergelimpangan di jalan, sekitar bangunan yang roboh, serta beberapa kendaraan," kata Lyudmila Ostayeva (50) yang melarikan diri dengan keluarganya ke Dzhava, seorang dusun dekat perbatasan dengan Rusia.
"Saat ini sulit untuk menghitung jumlah korban tewas. Hampir tak tersisa lagi jumlah bangunan yang tidak rusak di South Ossetia," jelas kantor berita Rusia Interfax. (dailymail.co.uk)
JIM
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
Sumber militer Rusia menyebutkan pasukan artileri dan tank mereka telah dikerahkan untuk menghadapi pasukan Georgia di sekitar ibukota South Ossetia, Tskhinvali. Rusia mengambarkan operasi militer tersebut sebagai serangan balas dendam setelah beberapa personil militernya yang ditempatkan di Georgia tewas terbunuh.
Georgia mengerahkan hingga 26.000 personil pasukannya untuk menghadapi serangan militer Rusia. Sekitar 2.000 personil pasukan Georgia juga telah ditarik dari misi di Irak untuk memperkuat pasukan di dalam negeri.
Namun, Presiden Georgia yang pro-Barat Mikhail Saakashvili menyebut operasi militer Rusia itu sebagai 'deklarasi perang' yang telah lama direncanakan. Mikhail Saakashvili telah memohon bantuan ke Amerika Serikat.
"Tank-tank Rusia terus memasuki wilayah kami," seru Mikhail Saakashvili seraya memohon bantuan AS. "Rusia terus melancarkan pemboman ke wilayah kami...terutama yang ditujukan ke penduduk sipil."
"Saya melihat jenazah bergelimpangan di jalan, sekitar bangunan yang roboh, serta beberapa kendaraan," kata Lyudmila Ostayeva (50) yang melarikan diri dengan keluarganya ke Dzhava, seorang dusun dekat perbatasan dengan Rusia.
"Saat ini sulit untuk menghitung jumlah korban tewas. Hampir tak tersisa lagi jumlah bangunan yang tidak rusak di South Ossetia," jelas kantor berita Rusia Interfax. (dailymail.co.uk)
JIM
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
Source: Kompas.com Sabtu, 9 Agustus 2008 | 18:07 WIB
http://kompas.com/read/xml/2008/08/09/1807...600.orang.tewas
Georgia Umumkan Keadaan Perang, 1.600 Orang Tewas
QUOTE
JAVA, SABTU - Presiden Georgia Mikheil Saakashvili mendeklarasikan "keadaan perang" Sabtu. Sementara itu, pasukannya terlibat pertempuran dengan tentara Rusia di provinsi Ossetia Selatan yang memisahkan diri itu.
Pesawat-pesawat tempur Rusia membom dan menghancurkan sebuah pelabuhan penting Georgia dan menghantam sebuah kota lain. Pemerintah Ossetia Selatan, yang didukung Moskow mengatakan 1.600 orang tewas di ibukota Tskhinvali.
"Saya telah menandatangani satu keputusan mengenai keadaan perang. Georgia berada dalam keadaan agresi penuh militer," kata Saakashvili dalam satu pertemuan dewan keamanan nasionalnya yang disiarkan televisi.
Kementerian pertahanan Rusia membantah bahwa jet-jet tempurnya membom daerah-daerah sipil dan membenarkan dua pesawatnya telah ditembak jatuh di daerah Georgia. Tbilisi mengatakan enam pesawat Rusia telah ditembak jatuh.
Georgia dan pemerintah di Ossetia Selatan saling klaim menguasai Tskhinvali sejak Jumat pagi. Tetapi Rusia, Sabtu mengatakan pihaknya telah "membebaskan" ibukota wilayah yang memisahkan diri itu setelah pasukan payung diterjunkan ke kota itu.
"Batalyon-batalyon taktis telah membebaskan sepenuhnya Tskhinvali dari pasukan militer Georgia," kata Jendral Vladimir Boldyrev , kepala pasukan darat Rusia , yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Rusia mendukung pemerintah Ossetia Selatan dan mengirimkan tank-tank dan pasukan, Jumat untuk menanggapi operasi militer Georgia yang pro Barat itu untuk menguasai kembali provinsi yang memisahkan diri awal tahun 1990-an itu.
Pemerintah Ossetia Selatan mengatakan lebih dari 1.600 orang tewas dalam pertempuran yang menimbulkan kekuatiran internasional akan terjadi perang seperti tahun 1990 di wilayah Kaukausus yang kacau itu.
Saat jumlah pasukan diperkuat dan bentrokan senjata meningkat, seorang pejabat senior militer mengatakan Georgia berencana akan menarik seluruh 2.000 tentaranya dari Irak dalam tiga hari ke depan.
"Kami sedang bersiap-siap untuk berangkat pulang," kata Kolonel Bondo Maisuradze, kepala operasi militer Georgia di Irak kepada AFP.
AS dan Uni Eropa mempersiapkan satu delegasi gabungan untuk mengusahakan gencatan senjata tetapi Presiden Ruisia Dmitry Medvedev mengatakan negaranya melancarkan operasi militer "untuk mendesak Georgia melakukan perundingan perdamaian."
Georgia mengatakan satu pemboman Rusia telah "merusak seluruh pelabuhan Poti di Laut Hitam dalam serangan-serangan yang menurut PBB tampaknya seperti "satu invasi militer berskala penuh".
Poti adalah sebuah pelabuhan penting dalam pengiriman minyak dan energi lainnya dari Laut Kaspia ke Barat.
Pesawat-pesawat tempur Rusia juga membom kota Gori, Georgia menewaskan para warga sipil, kata TV Publik Georgia. Para pejabat Georgia mengatakan pesawat-pesawat tempur Rusia, Jumat membom sasaran-sasaran militer di seluruh negara itu serta perlintasan kereta api dan satu bandara.
Georgia hanya mengonfirmasikan 30 orang tentaranya tewas sementara Rusia mengatakan tiga lagi tentaranya tewas Sabtu, sehingga jumlah korban tewas di pihak pasukan Moskow itu menjadi 15 orang.
Pemimpin Rusia itu melakukan pertemuan mendadak di Kremlin mengenai konflik itu. "Pasukan pemeliharaan perdamaian kami dan satuan yang dibawah koordinasi mereka kini melakukan operasi untuk mendesak pihak Georgia melakukan perdamaian," kata Medvedev yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Di jalan-jalan Tskhinvili yang berpenduduk sekitar 20.000 jiwa, tank-tank tampak terbakar dan wanita serta anak-anak berlarian untuk mencari perlindungan.
Seorang wartawan AFP di Ossetia Selatan melihat wanita, anak-anak dan orang tua naik bus menuju perbatasan Rusia untuk menghindari pertempuran itu.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan rumah-rumah sakit di Tsskhinvali dipenuhi para korban. Di bidang diplomatik, AS-- yang mendukung usaha Georgia untuk menjadi anggota NATO, menyerukan gencatan senjata segera dan penarikan mundur pasukan Rusia.
"Kami menyerukan Rusia menghentikan serangan-serangan pesawat tempur dan rudal ke Georgia, menghormati integritas wilayah Georgia dan menarik pasukan tempurnya dari wilayah Georgia," kata Menlu AS Condoleezza Rice dalam sebuah pernyataan.
Uni Eropa dan NATO juga menyerukan penghentian permusuhan itu. Dewan keamanan PNB akan bersidang kembali Sabtu waktu setempat (Minggu WIB) untuk menyetujui satu usul gencatan senjata segera setelah perundingan Jumat gagal.
Ossetia Selatan memisahkan diri dari Georgia awal tahun 1990. Sejak itu wilayah itu menjadi sumber pertikaian antara Georgia dan Rusia , yang menentang apsirasi Tbilisi bergabung dengan NATO dan mendukung kelompok separatis Ossetia Selatan tanpa mengakui kemerdekaan mereka di provinsi Ossetia Selatan yang memisahkan diri itu.
Pesawat-pesawat tempur Rusia membom dan menghancurkan sebuah pelabuhan penting Georgia dan menghantam sebuah kota lain. Pemerintah Ossetia Selatan, yang didukung Moskow mengatakan 1.600 orang tewas di ibukota Tskhinvali saja.
"Saya telah menandatangani satu keputusan mengenai keadaan perang. Georgia berada dalam keadaan agresi penuh militer," kata Saakashvili dalam satu pertemuan dewan keamanan nasionalnya yang disiarkan televisi.
Kementerian pertahanan Rusia membantah bahwa jet-jet tempurnya membom daerah-daerah sipil dan membenarkan dua pesawatnya telah ditembak jatuh di daerah Georgia. Tbilisi mengatakan enam pesawat Rusia telah ditembak jatuh.
Georgia dan pemerintah di Ossetia Selatan saling klaim menguasai Tskhinvali sejak Jumat pagi. Tetapi Rusia, Sabtu mengatakan pihaknya telah "membebaskan" ibukota wilayah yang memisahkan diri itu setelah pasukan payung diterjunkan ke kota itu.
"Batalyon-batalyon taktis telah membebaskan sepenuhnya Tskhinvali dari pasukan militer Georgia," kata Jendral Vladimir Boldyrev , kepala pasukan darat Rusia , yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Rusia mendukung pemerintah Ossetia Selatan dan mengirimkan tank-tank dan pasukan, Jumat untuk menanggapi operasi militer Georgia yang pro Barat itu untuk menguasai kembali provinsi yang memisahkan diri awal tahun 1990-an itu.
Pemerintah Ossetia Selatan mengatakan lebih dari 1.600 orang tewas dalam pertempuran yang menimbulkan kekuatiran internasional akan terjadi perang seperti tahun 1990 di wilayah Kaukausus yang kacau itu.
Saat jumlah pasukan diperkuat dan bentrokan senjata meningkat, seorang pejabat senior militer mengatakan Georgia berencana akan menarik seluruh 2.000 tentaranya dari Irak dalam tiga hari ke depan.
"Kami sedang bersiap-siap untuk berangkat pulang," kata Kolonel Bondo Maisuradze, kepala operasi militer Georgia di Irak kepada AFP.
AS dan Uni Eropa mempersiapkan satu delegasi gabungan untuk mengusahakan gencatan senjata tetapi Presiden Ruisia Dmitry Medvedev mengatakan negaranya melancarkan operasi militer "untuk mendesak Georgia melakukan perundingan perdamaian."
Georgia mengatakan satu pemboman Rusia telah "merusak seluruh pelabuhan Poti di Laut Hitam dalam serangan-serangan yang menurut PBB tampaknya seperti "satu invasi militer berskala penuh".
Poti adalah sebuah pelabuhan penting dalam pengiriman minyak dan energi lainnya dari Laut Kaspia ke Barat.
Pesawat-pesawat tempur Rusia juga membom kota Gori, Georgia menewaskan para warga sipil, kata TV Publik Georgia. Para pejabat Georgia mengatakan pesawat-pesawat tempur Rusia, Jumat membom sasaran-sasaran militer di seluruh negara itu serta perlintasan kereta api dan satu bandara.
Georgia hanya mengonfirmasikan 30 orang tentaranya tewas sementara Rusia mengatakan tiga lagi tentaranya tewas Sabtu, sehingga jumlah korban tewas di pihak pasukan Moskow itu menjadi 15 orang.
Pemimpin Rusia itu melakukan pertemuan mendadak di Kremlin mengenai konflik itu. "Pasukan pemeliharaan perdamaian kami dan satuan yang dibawah koordinasi mereka kini melakukan operasi untuk mendesak pihak Georgia melakukan perdamaian," kata Medvedev yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Di jalan-jalan Tskhinvili yang berpenduduk sekitar 20.000 jiwa, tank-tank tampak terbakar dan wanita serta anak-anak berlarian untuk mencari perlindungan. Seorang wartawan AFP di Ossetia Selatan melihat wanita, anak-anak dan orang tua naik bus menuju perbatasan Rusia untuk menghindari pertempuran itu.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan rumah-rumah sakit di Tsskhinvali dipenuhi para korban. Di bidang diplomatik, AS-- yang mendukung usaha Georgia untuk menjadi anggota NATO, menyerukan gencatan senjata segera dan penarikan mundur pasukan Rusia.
"Kami menyerukan Rusia menghentikan serangan-serangan pesawat tempur dan rudal ke Georgia, menghormati integritas wilayah Georgia dan menarik pasukan tempurnya dari wilayah Georgia," kata Menlu AS Condoleezza Rice dalam sebuah pernyataan.
Uni Eropa dan NATO juga menyerukan penghentian permusuhan itu. Dewan keamanan PNB akan bersidang kembali Sabtu waktu setempat (Minggu WIB) untuk menyetujui satu usul gencatan senjata segera setelah perundingan Jumat gagal.
Ossetia Selatan memisahkan diri dari Georgia awal tahun 1990. Sejak itu wilayah itu menjadi sumber pertikaian antara Georgia dan Rusia , yang menentang apsirasi Tbilisi bergabung dengan NATO dan mendukung kelompok separatis Ossetia Selatan tanpa mengakui kemerdekaan mereka. (AFP)
Sumber : Ant
Pesawat-pesawat tempur Rusia membom dan menghancurkan sebuah pelabuhan penting Georgia dan menghantam sebuah kota lain. Pemerintah Ossetia Selatan, yang didukung Moskow mengatakan 1.600 orang tewas di ibukota Tskhinvali.
"Saya telah menandatangani satu keputusan mengenai keadaan perang. Georgia berada dalam keadaan agresi penuh militer," kata Saakashvili dalam satu pertemuan dewan keamanan nasionalnya yang disiarkan televisi.
Kementerian pertahanan Rusia membantah bahwa jet-jet tempurnya membom daerah-daerah sipil dan membenarkan dua pesawatnya telah ditembak jatuh di daerah Georgia. Tbilisi mengatakan enam pesawat Rusia telah ditembak jatuh.
Georgia dan pemerintah di Ossetia Selatan saling klaim menguasai Tskhinvali sejak Jumat pagi. Tetapi Rusia, Sabtu mengatakan pihaknya telah "membebaskan" ibukota wilayah yang memisahkan diri itu setelah pasukan payung diterjunkan ke kota itu.
"Batalyon-batalyon taktis telah membebaskan sepenuhnya Tskhinvali dari pasukan militer Georgia," kata Jendral Vladimir Boldyrev , kepala pasukan darat Rusia , yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Rusia mendukung pemerintah Ossetia Selatan dan mengirimkan tank-tank dan pasukan, Jumat untuk menanggapi operasi militer Georgia yang pro Barat itu untuk menguasai kembali provinsi yang memisahkan diri awal tahun 1990-an itu.
Pemerintah Ossetia Selatan mengatakan lebih dari 1.600 orang tewas dalam pertempuran yang menimbulkan kekuatiran internasional akan terjadi perang seperti tahun 1990 di wilayah Kaukausus yang kacau itu.
Saat jumlah pasukan diperkuat dan bentrokan senjata meningkat, seorang pejabat senior militer mengatakan Georgia berencana akan menarik seluruh 2.000 tentaranya dari Irak dalam tiga hari ke depan.
"Kami sedang bersiap-siap untuk berangkat pulang," kata Kolonel Bondo Maisuradze, kepala operasi militer Georgia di Irak kepada AFP.
AS dan Uni Eropa mempersiapkan satu delegasi gabungan untuk mengusahakan gencatan senjata tetapi Presiden Ruisia Dmitry Medvedev mengatakan negaranya melancarkan operasi militer "untuk mendesak Georgia melakukan perundingan perdamaian."
Georgia mengatakan satu pemboman Rusia telah "merusak seluruh pelabuhan Poti di Laut Hitam dalam serangan-serangan yang menurut PBB tampaknya seperti "satu invasi militer berskala penuh".
Poti adalah sebuah pelabuhan penting dalam pengiriman minyak dan energi lainnya dari Laut Kaspia ke Barat.
Pesawat-pesawat tempur Rusia juga membom kota Gori, Georgia menewaskan para warga sipil, kata TV Publik Georgia. Para pejabat Georgia mengatakan pesawat-pesawat tempur Rusia, Jumat membom sasaran-sasaran militer di seluruh negara itu serta perlintasan kereta api dan satu bandara.
Georgia hanya mengonfirmasikan 30 orang tentaranya tewas sementara Rusia mengatakan tiga lagi tentaranya tewas Sabtu, sehingga jumlah korban tewas di pihak pasukan Moskow itu menjadi 15 orang.
Pemimpin Rusia itu melakukan pertemuan mendadak di Kremlin mengenai konflik itu. "Pasukan pemeliharaan perdamaian kami dan satuan yang dibawah koordinasi mereka kini melakukan operasi untuk mendesak pihak Georgia melakukan perdamaian," kata Medvedev yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Di jalan-jalan Tskhinvili yang berpenduduk sekitar 20.000 jiwa, tank-tank tampak terbakar dan wanita serta anak-anak berlarian untuk mencari perlindungan.
Seorang wartawan AFP di Ossetia Selatan melihat wanita, anak-anak dan orang tua naik bus menuju perbatasan Rusia untuk menghindari pertempuran itu.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan rumah-rumah sakit di Tsskhinvali dipenuhi para korban. Di bidang diplomatik, AS-- yang mendukung usaha Georgia untuk menjadi anggota NATO, menyerukan gencatan senjata segera dan penarikan mundur pasukan Rusia.
"Kami menyerukan Rusia menghentikan serangan-serangan pesawat tempur dan rudal ke Georgia, menghormati integritas wilayah Georgia dan menarik pasukan tempurnya dari wilayah Georgia," kata Menlu AS Condoleezza Rice dalam sebuah pernyataan.
Uni Eropa dan NATO juga menyerukan penghentian permusuhan itu. Dewan keamanan PNB akan bersidang kembali Sabtu waktu setempat (Minggu WIB) untuk menyetujui satu usul gencatan senjata segera setelah perundingan Jumat gagal.
Ossetia Selatan memisahkan diri dari Georgia awal tahun 1990. Sejak itu wilayah itu menjadi sumber pertikaian antara Georgia dan Rusia , yang menentang apsirasi Tbilisi bergabung dengan NATO dan mendukung kelompok separatis Ossetia Selatan tanpa mengakui kemerdekaan mereka di provinsi Ossetia Selatan yang memisahkan diri itu.
Pesawat-pesawat tempur Rusia membom dan menghancurkan sebuah pelabuhan penting Georgia dan menghantam sebuah kota lain. Pemerintah Ossetia Selatan, yang didukung Moskow mengatakan 1.600 orang tewas di ibukota Tskhinvali saja.
"Saya telah menandatangani satu keputusan mengenai keadaan perang. Georgia berada dalam keadaan agresi penuh militer," kata Saakashvili dalam satu pertemuan dewan keamanan nasionalnya yang disiarkan televisi.
Kementerian pertahanan Rusia membantah bahwa jet-jet tempurnya membom daerah-daerah sipil dan membenarkan dua pesawatnya telah ditembak jatuh di daerah Georgia. Tbilisi mengatakan enam pesawat Rusia telah ditembak jatuh.
Georgia dan pemerintah di Ossetia Selatan saling klaim menguasai Tskhinvali sejak Jumat pagi. Tetapi Rusia, Sabtu mengatakan pihaknya telah "membebaskan" ibukota wilayah yang memisahkan diri itu setelah pasukan payung diterjunkan ke kota itu.
"Batalyon-batalyon taktis telah membebaskan sepenuhnya Tskhinvali dari pasukan militer Georgia," kata Jendral Vladimir Boldyrev , kepala pasukan darat Rusia , yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Rusia mendukung pemerintah Ossetia Selatan dan mengirimkan tank-tank dan pasukan, Jumat untuk menanggapi operasi militer Georgia yang pro Barat itu untuk menguasai kembali provinsi yang memisahkan diri awal tahun 1990-an itu.
Pemerintah Ossetia Selatan mengatakan lebih dari 1.600 orang tewas dalam pertempuran yang menimbulkan kekuatiran internasional akan terjadi perang seperti tahun 1990 di wilayah Kaukausus yang kacau itu.
Saat jumlah pasukan diperkuat dan bentrokan senjata meningkat, seorang pejabat senior militer mengatakan Georgia berencana akan menarik seluruh 2.000 tentaranya dari Irak dalam tiga hari ke depan.
"Kami sedang bersiap-siap untuk berangkat pulang," kata Kolonel Bondo Maisuradze, kepala operasi militer Georgia di Irak kepada AFP.
AS dan Uni Eropa mempersiapkan satu delegasi gabungan untuk mengusahakan gencatan senjata tetapi Presiden Ruisia Dmitry Medvedev mengatakan negaranya melancarkan operasi militer "untuk mendesak Georgia melakukan perundingan perdamaian."
Georgia mengatakan satu pemboman Rusia telah "merusak seluruh pelabuhan Poti di Laut Hitam dalam serangan-serangan yang menurut PBB tampaknya seperti "satu invasi militer berskala penuh".
Poti adalah sebuah pelabuhan penting dalam pengiriman minyak dan energi lainnya dari Laut Kaspia ke Barat.
Pesawat-pesawat tempur Rusia juga membom kota Gori, Georgia menewaskan para warga sipil, kata TV Publik Georgia. Para pejabat Georgia mengatakan pesawat-pesawat tempur Rusia, Jumat membom sasaran-sasaran militer di seluruh negara itu serta perlintasan kereta api dan satu bandara.
Georgia hanya mengonfirmasikan 30 orang tentaranya tewas sementara Rusia mengatakan tiga lagi tentaranya tewas Sabtu, sehingga jumlah korban tewas di pihak pasukan Moskow itu menjadi 15 orang.
Pemimpin Rusia itu melakukan pertemuan mendadak di Kremlin mengenai konflik itu. "Pasukan pemeliharaan perdamaian kami dan satuan yang dibawah koordinasi mereka kini melakukan operasi untuk mendesak pihak Georgia melakukan perdamaian," kata Medvedev yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.
Di jalan-jalan Tskhinvili yang berpenduduk sekitar 20.000 jiwa, tank-tank tampak terbakar dan wanita serta anak-anak berlarian untuk mencari perlindungan. Seorang wartawan AFP di Ossetia Selatan melihat wanita, anak-anak dan orang tua naik bus menuju perbatasan Rusia untuk menghindari pertempuran itu.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan rumah-rumah sakit di Tsskhinvali dipenuhi para korban. Di bidang diplomatik, AS-- yang mendukung usaha Georgia untuk menjadi anggota NATO, menyerukan gencatan senjata segera dan penarikan mundur pasukan Rusia.
"Kami menyerukan Rusia menghentikan serangan-serangan pesawat tempur dan rudal ke Georgia, menghormati integritas wilayah Georgia dan menarik pasukan tempurnya dari wilayah Georgia," kata Menlu AS Condoleezza Rice dalam sebuah pernyataan.
Uni Eropa dan NATO juga menyerukan penghentian permusuhan itu. Dewan keamanan PNB akan bersidang kembali Sabtu waktu setempat (Minggu WIB) untuk menyetujui satu usul gencatan senjata segera setelah perundingan Jumat gagal.
Ossetia Selatan memisahkan diri dari Georgia awal tahun 1990. Sejak itu wilayah itu menjadi sumber pertikaian antara Georgia dan Rusia , yang menentang apsirasi Tbilisi bergabung dengan NATO dan mendukung kelompok separatis Ossetia Selatan tanpa mengakui kemerdekaan mereka. (AFP)
Sumber : Ant
Source: Kompas.com Sabtu, 9 Agustus 2008 | 18:28 WIB
http://kompas.com/read/xml/2008/08/09/1828...ak.ingin.perang
Lavrov: Rusia tak Ingin Perang
QUOTE
LONDON, SABTU - Rusia tidak ingin melakukan perang besar-besaran dengan Georgia, dan hanya berusaha memulihkan situasi di Ossetia Selatan dalam konflik pekan ini, kata Menlu Rusia, Sergei Lavrov, kepada stasiun televisi BBC.
Lavrov menuduh Presiden Georgia Mikheil Saakashvili sengaja membesar-besarkan ancaman Rusia dengan menyatakan Moskow memiliki ambisi wilayah lebih luas di bekas wilayah-wilayah Sovyet.
Menjawab pertanyaan apakah Rusia bersiap untuk melancarkan perang besar-besaran terhadap Georgia, ia mengatakan: "Tidak, tidak, tidak, tidak" dan menambahkan, "Tuan Saakashvili tetap mengatakan kami ingin merebut wilayah Georgia," kata Lavrov.
"Ia juga mengatakan ini bukan tentang Georgia, ini adalah tentang masa depan Eropa karena ia mengatakan Rusia juga adalah mengklaim wilayah negara-negara lain termasuk negara-negara Baltik. Dan, itu adalah omong kosong," tambahnya.
Pernyataan dalam satu wawancara televisi BBC dilakukan ketika Saakashvili mendeklarasikan "keadaan perang " setelah menuduh Moskow membom daerah-daerah sipil Georgia, dan mengatakan negaranya "berada dalam agresi militer total."
Rusia mendukung pemerintah separatis Ossetia Selatan dan mengirim tank-tank dan pasukan, Jumat untuk menghadapi operasi militer Georgia yang pro Barat itu dengan tujuan menguasai kembali provinsi yang memisahkan diri awal tahun 1990-an itu.
Lavrov mengatakan Georgia mengingkari satu perjanjian perdamaian yang ia katakan telah disetujui untuk sementara satu setengah tahun lalu, yakni Georgia setuju untuk tidak menggunakan kekuatan militer dalam sengketa di Ossetia Selatan itu.(AFP/BBC)
Sumber : Ant
Lavrov menuduh Presiden Georgia Mikheil Saakashvili sengaja membesar-besarkan ancaman Rusia dengan menyatakan Moskow memiliki ambisi wilayah lebih luas di bekas wilayah-wilayah Sovyet.
Menjawab pertanyaan apakah Rusia bersiap untuk melancarkan perang besar-besaran terhadap Georgia, ia mengatakan: "Tidak, tidak, tidak, tidak" dan menambahkan, "Tuan Saakashvili tetap mengatakan kami ingin merebut wilayah Georgia," kata Lavrov.
"Ia juga mengatakan ini bukan tentang Georgia, ini adalah tentang masa depan Eropa karena ia mengatakan Rusia juga adalah mengklaim wilayah negara-negara lain termasuk negara-negara Baltik. Dan, itu adalah omong kosong," tambahnya.
Pernyataan dalam satu wawancara televisi BBC dilakukan ketika Saakashvili mendeklarasikan "keadaan perang " setelah menuduh Moskow membom daerah-daerah sipil Georgia, dan mengatakan negaranya "berada dalam agresi militer total."
Rusia mendukung pemerintah separatis Ossetia Selatan dan mengirim tank-tank dan pasukan, Jumat untuk menghadapi operasi militer Georgia yang pro Barat itu dengan tujuan menguasai kembali provinsi yang memisahkan diri awal tahun 1990-an itu.
Lavrov mengatakan Georgia mengingkari satu perjanjian perdamaian yang ia katakan telah disetujui untuk sementara satu setengah tahun lalu, yakni Georgia setuju untuk tidak menggunakan kekuatan militer dalam sengketa di Ossetia Selatan itu.(AFP/BBC)
Sumber : Ant
Source: Kompas.com Sabtu, 9 Agustus 2008 | 20:01 WIB
http://kompas.com/read/xml/2008/08/09/2001....situasi.bahaya
Bush: Georgia-Rusia dalam Situasi Bahaya
QUOTE
BEIJING, SABTU - Presiden Amerika Serikat George W. Bush Sabtu menyatakan sangat prihatin terhadap pertempuran antara tentara Georgia dan Rusia dalam krisis di Ossetia Selatan. "Serangan-serangan yang terjadi di wilayah-wilayah Georgia jauh dari zona konflik di Ossetia Selatan. Mereka menunjukkan eskalasi yang berbahaya dalam krisis ini," kata Bush, yang berbicara di ibukota China Beijing, saat dia menghadiri upacara pembukaan Olimpiade.
Bush menyerukan kepada kedua pihak untuk memecahkan masalah regional itu secara damai. Ia menambahkan, bahwa Georgia adalah negara yang berdaulat yang itegritas wilayahnya perlu dihormati. Dia secara khusus menyerukan kepada Rusia untuk menghentikan aksi pembomannya dan agar ’kembali kepada status quo 6 Agustus.’
Politisi AS juga mengatakan bahwa negaranya akan bekerjasama dengan mitra-mitranya di Eropa untuk menengahi penyelesaian konflik. AS mengumumkan bahwa pihaknya telah mengirimkan seorang utusan untuk membantu melakukan gencatan senjata dalam konflik di Ossetia Selatan, yang memisahkan diri. Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice juga telah melakukan kontak dengan sejumlah pejabat luar negeri untuk meminta segera mengakhiri permusuhan itu. (DPA)
Sumber : Ant
Bush menyerukan kepada kedua pihak untuk memecahkan masalah regional itu secara damai. Ia menambahkan, bahwa Georgia adalah negara yang berdaulat yang itegritas wilayahnya perlu dihormati. Dia secara khusus menyerukan kepada Rusia untuk menghentikan aksi pembomannya dan agar ’kembali kepada status quo 6 Agustus.’
Politisi AS juga mengatakan bahwa negaranya akan bekerjasama dengan mitra-mitranya di Eropa untuk menengahi penyelesaian konflik. AS mengumumkan bahwa pihaknya telah mengirimkan seorang utusan untuk membantu melakukan gencatan senjata dalam konflik di Ossetia Selatan, yang memisahkan diri. Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice juga telah melakukan kontak dengan sejumlah pejabat luar negeri untuk meminta segera mengakhiri permusuhan itu. (DPA)
Sumber : Ant





