Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Academia > Science and Technology > Everyday Technology Science
ghetooman
Sekali lagi soal permasalahan Energi di Indonesia.. Peace.gif


PLTN DIBUTUHKAN DI INDONESIA

I. Pendahuluan
Persediaan energi fosil di alam kini semakin habis. Terutama cadangan minyak bumi. Dunia mengalami krisis sejak beberapa dekade terakhir. Dan karena itu harga minyak bumi melonjak-lonjak, hampir tidak terkendali. Harga minyak menjadi demikian mahal sampai US$100 per barel. Dan lebih penting dari semua itu, cadangannya di dalam perut bumi semakin habis. Maka, kini negara-negara di dunia berebut energi untuk menjamin kelangsungan hidup bangsanya. Kalau perlu memaksa negara lain yang punya kelebihan energi untuk menjual kepadanya. Kalau tidak menjual, mereka tidak segan-segan untuk memaksa menguasainya dengan berbagai cara. Secara tersembunyi atau terang-terangan. Secara lembut atau yang kasar sekalipun. Di Indonesia, sebagian besar pengambil keputusan sudah menyadari hal ini. Sayangnya sebagian masyarakat kita masih belum menyadari situasinya. Bahkan, ada beberapa orang atau kelompok yang menutupi fakta yang krusial ini. Seakan-akan sumber energi minyak dunia termasuk di Indonesia masih sangat besar. Sehingga tidak perlu mempersiapkan masalah ini jauh-jauh hari. Kita masih merasa aman-aman saja. Sementara, kelangkaan bahan bakar energi dari ninyak sudah sedemikian membahayakan. Mengancam kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Minyak kita semakin menipis. Batubara dan gas alam belum sepenuhnya bisa diandalkan. Sumber tenaga air sedang bermasalah, karena kerusakan lingkungan di Indonesia yang demikian parah, ditambah oleh kacaunya musim penghujan. Dan sumber-sumber energi lainnya pun belum bisa diharapkan untuk memasok dalam skala besar.
Kita di Indonesia masih 'berpangku tangan' tidak segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan kepentingan bangsa ke masa depan. Kini sudah waktunya untuk mengambil semua alternatif sumber energi sebagai cadangan bagi kelangsungan hidup bangsa yang besar ini. Nuklir adalah salah satu alternatif energi masa depan yang jumlahnya berkelimpahan, yang diharapkan bisa menjadi salah satu solusi krisis energi fosil.
II. Pembahasan
II.1. Profil Energi Listrik Dunia
Pilihan sumber energi yang ada di hadapan kita tidaklah banyak. Dari data yang kita peroleh untuk rata-rata dunia, pilihan pertama adalah energi fosil, yang sekarang ini sudah dan sedang digunakan secara dominan. Pilihan yang kedua adalah tenaga air. Pilihan yang ke tiga, tenaga nuklir. Dan pilihan terakhir adalah beberapa jenis tenaga yang bisa terbarukan atau renewable. Keterangan di atas dapat dijelaskan dari Tabel 1 berikut:


II.2 Pemanfaatan Sumber Daya Alam tak Terbarukan di Indonesia
Data yang kita peroleh untuk sumber daya alam potensi sumber energi yang tidak terbarukan dan yang terbarukan dapat dibaca pada Tabel 2 dan Tabel 3 berikut:


II.2.1. Pemanfaatan Minyak.
Sumber energi yang paling banyak digunakan di Indonesia kenyataannya adalah minyak, sebenarnya ini adalah suatu pilihan yang keliru. Keliru dalam arti, kita terlalu besar bergantung kepada minyak, padahal data dari Departemen ESDM menyebutkan bahwa minyak kita bakal habis dalam waktu 18 tahun ke depan. Dan bukan hanya Indonesia yang bakal kehabisan minyak tapi dunia internasional bakal kesulitan. Secara nasional, Indonesia bergantung kepada minyak sebesar 63% dari total energi yang dikonsumsi. Sedangkan terhadap daya listriknya porsi pembangkit minyak sebesar 54,4%. Indonesia sudah menjadi negara net importer. Produksinya sekitar 1 juta barel per hari, pemakaiannya lebih dari 1,3 juta barel per hari. Maka kita harus impor lebih dari 3 ratus ribu barel per hari. Padahal kita tahu dunia sedang krisis minyak. Dengan harga minyak mentah yang tembus ke angka USD 100, tahun 2007 PLN mengalami kerugian besar. Begitu juga tahun-tahun ke depan.
Ini adalah sebuah kekeliruan yang tidak gampang dikoreksi dalam jangka dekat. Infrastruktur yang terlanjur besar, dan kebiasaan masyarakat yang terlanjur fanatik pada minyak menjadi kesulitan besar untuk merubahnya.
II.2.2. Pemanfaatan Batubara.
Pilihan berikut adalah batubara karena cadangan batubara kita bisa bertahan sampai 147 tahun. Tetapi problemnya, jenis batubara kita kebanyakan batubara muda yang kandungan kalorinya rendah. Sehingga, kurang layak untuk dijadikan bahan bakar. Apalagi jika harus dibawa ke pusat-pusat pembangkitan listrik yang kebanyakan berjarak jauh dari tambangnya, dari Kalimantan ke Jawa, misalnya. Tidak efisien. Yang terbaik adalah jika pembangkit listrik dekat dengan tambangnya, yang kebanyakan di luar Jawa. Sayangnya, kebanyakan konsumen justru berada di Jawa. Pembuatan pembangkit listrik baru di pulau Jawa juga terkendala oleh ambang batas pencemaran udara. Jika mau membangun PLT batubara di Jawa, harus diketemukan teknologinya agar tidak menambah pencemaran lingkungan yang sudah cukup berat.
Akan tetapi dengan semakin berkembangnya daerah-daerah di luar pulau Jawa, pembangunan pembangkit listrik di luar Jawa menjadi semakin layak. pemerintah sudah menandatangani kontrak pembangunan PLT batubara sebesar 10 ribu MW, yang akan dibangun di beberapa tempat di Nusa Tenggara Barat Sulawesi Utara Gorontalo Lampung dan Sumatera Utara. Kontrak kerjanya telah ditandatangani baru-baru ini.
Dalam draft pengelolaan energi nasional yang dikeluarkan kementerian ESDM, ditarget-kan pembangkit listrik batubara kita bakal menjadi 81,75 ribu MWatt di tahun 2025. Atau sebesar 32,7% dari target kapasitas 250 ribu MWatt. Ini memang tidak mudah. Karena kapasitas pembangkit batubara kita sekarang cuma sebesar 3.400 MWatt, atau 14,1% dari daya listrik total 24 ribu MWatt. Berarti kita harus bekerja keras untuk membangun PLTU batubara menjadi 25 kali lipat. Jika sekarang saja, konsumsi batubara kita sebesar 33 juta ton per tahun, maka kelak akan mengonsumsi sekitar 825 juta ton per tahun. Apakah kita mampu memenuhi produksi batubara sebanyak itu dari dalam negeri? Mungkin nanti harus diimpor.
Jika memilih batubara maka risikonya adalah, pencemaran lingkungan hidup akan terjadi dalam jumlah yang semakin besar. Gas-gas rumah kaca bakal menyelimuti Bumi lebih pekat. Dan, dampaknya sudah bisa kita duga: kondisi lingkungan Bumi semakin parah. Kekacauan iklim semakin tak terduga. Dan bencana-bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, serta sengatan udara panas-dingin bakal semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia. Permukaan air laut juga bakal naik dan menenggelamkan pulau-pulau, disebabkan mencairnya daratan es di kutub selatan maupun utara.
Proyeksi pembangunan PLTU sampai dengan 2010 yang mengutamakan batubara terlihat dalam Grafik1 di bawah ini. Namun kemungkinan bisa terealisasinya sebaiknya kita amati bersama, apakah mungkin.
Grafik 1

Catatan : batubara yang dubutuhkan adalah Low Rank Coal (nilai kalori 4.500 kkal/kg)
Sumber: Purwono Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Des 2006


II.2.3. Pemanfaatan Gas Alam
Pemakaian gas alam sebagai sumber energi mempunyai keunggulan, karena lebih bersih daripada sumber energi fosil lainnya. Selain daripada itu cadangannya masih bisa bertahan sampai 61 tahun menurut data yang ada. Sayangnya pemerintah Indonesia sejak tahun 1970an tidak pernah secara serius memprioritaskan pemakaian bahan bakar gas alam untuk keperluan pembangkit listrik, atau industri, karena hanya terpaku terhadap kegiatan ekspor ke negara lain, padahal penggunaan gas alam untuk keperluan dalam negeri keekonomiannya terbukti baik ketika itu. Terbukti bahwa pembangunan PLTG tak pernah dilakukan di tengah-tengah daerah kaya gas alam, misalnya di Aceh, Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur. Beberapa PLTG akhirnya dibangun di Jawa, misalnya di Muara Karang, Muara Tawar, dan Tanjung Priok. Ketidak seriusan mementingkan keperluan dalam negeri ini terbukti dengan pembangunan terminal penerimaan gas alam cair untuk ketiga PLTG tersebut di atas, yang terkatung-katung karena belum ada kepastian pasokan gas dari Kalimantan Timur, padahal ada kontrak ekspor gas alam yang akan selesai tahun 2008 dan 2009 dari Kalimantan Timur. Yang semestinya dipersiapkan untuk mengalihkan sebagiannya ke Jawa. Mungkin alasannya adalah hasil perhitungan harga yang tidak komprihensif, sehingga keuntungan bangsa Indonesia dalam jangka panjang, tak tampak.
II.2.4 Pemanfaatan sumber daya Nuklir
Dengan semakin menipisnya sumber energi fosil dan kerusakan lingkungan yang semakin parah, energi nuklir menjadi salah satu pilihan yang menarik. Daya yang dibangkitkan sangat besar, 1g uranium akan menghasilkan energi setara dengan 1 ton batubara, pencemarannnya rendah, dan sumbernya berkelimpahan. Sumber energinya bakal tak pernah habis. Apalagi jika bisa dikembangkan ke teknologi fast breeder reactor dan reaktor fusi. Fast breeder mengubah sampah radioaktif menjadi bahan bakar kembali. Sedangkan reaktor fusi adalah berbahan bakar hidrogen yang jumlahnya di alam sangat banyak.
Di seluruh dunia perkembangan tenaga nuklir mengalami pertumbuhan sebesar 1,3% per tahun sampai tahun 2030. Dari 2.619 BKWH di tahun 2004 menjadi 3.619 BKWH di tahun 2030.
Dalam dekade terakhir ini memang tidak ada penambahan satu pun instalasi nuklir baru di Amerika Serikat. Dalam waktu yang bersamaan ada beberapa negara Eropa yang berencana meninggalkan sama sekali pemakaian energi nuklir di negaranya, yaitu Jerman dan Belgia, dikarenakan tekanan politis yang semakin besar. Akan tetapi, seiring dengan semakin tingginya harga bahan bakar fosil, menipisnya cadangan di perut bumi, serta isu lingkungan yang semakin menguat, penduduk dunia melihat bahwa nuklir adalah salah satu alternatif yang tidak bisa ditinggalkan dan menjadi pilihan yang rasional. Maka, Amerika Serikat pun sekarang menggalakkan kembali program nuklirnya.
Pada saat yang sama, negara-negara di Asia justru sedang galak-galaknya membangun pembangkit nuklir. China bertumbuh dengan kecepatan 7,7% per tahun. Sedangkan India bertumbuh dengan angka 9,1% per tahun. Bahkan Korea Selatan, Jepang, dan Prancis pun terus meningkatkan porsi pembangkit listrik nuklirnya. Korea Selatan bakal bertumbuh 100% dalam dua dekade mendatang dibandingkan kapasitas tahun 2000, dari 104 BKWH menjadi 220 BKWH, tahun 2025. Jepang juga meningkatkan kapasitasnya dari 192 BKWH menjadi 411 BKWH. Dan Prancis naik dari 394 BKWH menjadi 520 BKWH.
II.3 Sumber daya Alam Terbarukan (renewable)
Bahan bakar dari sumber-sumber yang bisa terbarukan ini sebenarnya menjadi alternatif paling baik untuk masa depan kita, akan tetapi, kapasitasnya masih sangat kecil dan harganya mahal. Karena itu, prospeknya masih agak jauh ke depan. Untuk skala massal, diperkirakan masih 2-3 dekade ke depan. Pemanfaatan sumber daya energi yang terbarukan ini, serta kapasitas terpasang-nya masih rendah sekali di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari Tabel 3 seperti tertera di atas.
II.3.1 Pemanfaatan Tenaga Air
Pembangkit listrik tenaga air bergantung kepada adanya sungai-sungai dan danau yang dalam. Sejauh ini, yang bisa dimanfaatkan adalah sungai-sungai di pulau Jawa dan Sumatra. Dan muncullah bendungan-bendungan untuk membangkitkan listrik. Di antaranya di Jawa adalah bendungan Karangkates, dan bendungan Jatiluhur. Selebihnya, kebanyakan, adalah pembangkit kecil-kecil.
Dari data departemen Energi dan sumber Daya Mineral, diketahui bahwa Indonesia memperoleh energi listrik dari sistem PLTA sebesar 30,696 juta BOE. Sementara ltu, total energi yang diproduksi di Indonesia dari berbagai jenis sumber energi adalah sebesar 1.092,609 juta BOE pada tahun 2003. (BOE = Barrel Oil Equivalent) Maka, PLTA hanya menempati sekitar 2,81% dari seluruh produksi energi nasional. Selama 13 tahun terakhir terjadi peningkatan kapasitas produksi listrik sebesar 41,6%. Yaitu bertambah dari 21,678 juta BOE di tahun 1990 menjadi 30,696 juta BOE, di tahun 2003. Namun demikian, ternyata secara persentase mengalami penurunan terhadap komposisi pasokan energi nasional. Pada tahun 1990, PLTA memberikan sumbangan sebesar 3,15 %. Tapi pada tahun 2003 hanya memberikan sumbangan sebesar 2,81 %.
Dalam Blueprint Pengelolaan Energi Nasional disebutkan bahwa sumbangan PLTA hanya sebesar 2,4% dari energi nasional. Ini menunjukkan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga air tidak bisa mengimbangi besarnya pertumbuhan kebutuhan energi nasional.
Kita sangat bergantung kepada keberadaan sungai dan danau dengan persyaratan tertentu. Padahal kita tahu, kondisi alam Indonesia mengalami penurunan. Jumlah luas hutan sebagai daerah tangkapan air semakin mengecil. Ini sangat berpengaruh pada kualitas dan debit air sungai. Selain itu, terjadi pendangkalan di bendungan-bendungan tersebut sehingga menyebabkan gangguan debit air pemutar turbin. Kita harus realistis, bahwa agaknya cukup berat untuk menambah pasokan daya listrik dari pembangkit listrik tenaga air. Kita harus mencari pembangkit jenis lain yang lebih fleksibel.
II.3.2 Pemanfaatan Panas Bumi
Berapa banyakkah cadangan panas Bum Indonesia yang memiliki banyak gunung bera ini? Diperkirakan ada sekitar 27 GWatt. Ini merupakan 40 persen dari cadangan panas bumi dunia yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Sampai sejauh ini, kapasitas yang terpasang baru 0,8GWatt. Hanya sekitar 3 persen saja. Menurut data yang lebih konservatif, cadangan panas bumi di Indonesia pada tahun 2003 sekitar 24 GWatt. Itu tersebar di berbagai pulau Indonesia.
Terbesar ada di Sumatera sekitar 12,5 GWatt, disusul Jawa-bali sekitar 7GWatt, NTB-NTT sekitar 1,200 GWatt, Sulawesi sekitar 1.750 MWatt, Maluku sekitar 530 MWatt, Papua dan Kalimantan masing-masing 50 MWatt.
Jadi masih begitu banyaknya potensi yang belum tergarap. Sayang kalau tidak digunakan. sebab panas bumi ini akan terus menurun seiring dengan waktu, karena panas tersebut keluar terus melalui air / uap dari tanah.
Karena potensinya yang cukup ini, maka dalam proyeksi produksi listrik jangka menengah Pembangkit Listrik tenaga Panas Bumi ini diproyeksikan di atas pembangkit tenaga air. Karena pembangkitan dengan tenaga air mengalami kendala lingkungan hidup yang semakin besar. Namun demikian, kapasitas pembangkitan tenaga panas bumi ini masih dibawah batubara dan BBM. Karena kapasitas cadangannya yang memang lebih kecil.
II.3.3 Pemanfaatan Mini Hydro
Sumber daya Mikro Hydro ini walaupun bisa diterapkan di daerah-daerah pedesaan, dengan cara memanfaatkan aliran sungai kecil-kecil, dan mungkin membuat swadaya listrik di suatu daerah pedesaan, potensinya dan pemanfaatan di Indonesia kecil sekali dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Yaitu potensinya 0,458 GWatt dan pemanfaatannya baru 84 MWatt.
II.3.4 Pemanfaatan Bio Energi / Bio Massa / Bio Fuel
Bioenergi temasuk dalam kategori energi yang bisa diperbarui. Sumbernya adalah dari berbagai jenis tanaman, atau zat-zat yang terkandung di dalam makhluk hidup. Kebanyakan tanaman-tanaman yang bisa menghasilkan pati atau gula yang kemudian diubah menjadi alkohol. Karena berasal dari tanaman, maka kita bisa melakukan perhitungan produksi yang seimbang dengan kebutuhan konsumsinya. Problem dasar penggunaan bioenergi ini memang pada tidak seimbangnya kecepatan produksi dan konsumsi.
Menanam pohon dan proses produksinya memerlukan waktu berbulan-bulan. Tapi, menghabiskannya bisa hanya dalam waktu beberapa hari saja. Karena itu, butuh lahan yang sangat luas untuk mengimbangi kecepatan konsumsi tersebut.
Penggunaan teknologi bioenergi atau biomassa ini diarahkan hanya kepada pema-kaian-pemakajan skala rendah. Misalnya untuk skala rumah tangga, atau penggunaan-peng-gunaan pada teknologi transportasi, atau teknologi tepat guna. Potensinya diperkirakan 49,8GWatt, tetapi kapasitas terpasang yang sudah ada adalah 302 MWatt. Ini juga kecil sekali dibanding sumber energi lainnya.
II.3.5 Pemanfaatan Tenaga Surya (Matahari)
Tenaga matahari juga tersedia secara melimpah di Indonesia. Tidak ada masalah jika ini mau dikembangkan dalam skala lebih besar. Masalahnya bukan pada tidak tersedianya tenaga matahari, melainkan efisiensi sel matahari agar bisa diaplikasikan dalam pembangkitan berskala besar. Selama ini, penggunaan solar sel hanya ditujukan untuk penggunaan dalam skala kecil saja. Karena jika ingin menggunakan dalam skala lebih besar, diperlukan luasan solar sel / panel yang luas sekali dan ini tidak efisienm atau tiddak mungkin.
II.3.6 Pemanfaatan Tenaga Angin
Salah satu negara yang paling banyak memanfaatkan energi angin adalah Belanda. Maka ia terkenal sebagai negeri kincir angin. Sumber energi yang tidak ada habis-habisnya itu digunakan untuk menghasilkan listrik yang menghidupkan pompa-pompa air untuk keperluan mengeringkan daratan mereka yang berada di bawah permukaan air laut.
Penyatuan sejumlah kincir angin bisa menghasilkan daya listrik yang cukup besar. Indonesia bukanlah tempat yang mempunyai aliran angin yang besar dan konstan, oleh karena itu jumlah dan daya yang dibangkitkannya mungkin tidak bisa terlalu besar. Potensinya di Indonesia kira-kira hanya 9,3 Gwatt dan kapasitas terpasang baru 0,5 Mwatt. Besarnya tak seimbang dengan kebutuhan kita secara nasional.

III. Kesimpulan dan Saran
Dari uraian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa:
1. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan batubara adalah merupakan alternatif terbaik diantara semua pemanfaatan sumber energi yang tak terbarukan maupun yang terbarukan, jika mempertimbangkan ketersediaannya di Indonesia yang besar dan masih dapat lebih dari 140 tahun. Akan tetapi mengingat pencemaran lingkungan yang serius jika dikembangkan secara besar-besaran, maka pengembangan PLTA batubara besarannya perlu ada batasnya, sehingga mungkin tak akan bisa memenuhi Target Pemerintah 32,7% tahun 2025 (lihat Grafik 2 di bawah)
2. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan minyak jelas akan mengalami kesulitan yang serius ditahun-tahun yang akan datang mengingat kelangkaan di seluruh dunia dan harganya yang tinggi, dan akan naik terus. Sehingga dikhawatirkan Target Pemerintah 26,2% tahun 2025 tak bisa dipenuhi (lihat Grafik 2 di bawah).
3. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan Gas Alam (gas bumi) merupakan alternatif Energi yang paling bersih, namun tampaknya Pemerintah sejak waktu yang lampau sampai sekarang, tidak serius mengembangkannya, karena pertimbangan ekspor ke luar negeri bagi bangsa lain mungkin dianggap lebih menguntungkan atau sukar untuk dirubah. Dengan demikian Target Pemerintah 30,6% tahun 2025 disangsikan bisa terpenuhi (lihat Grafik 2 di bawah)
4. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan air, tak bisa banyak dikembangkan lagi karena rusaknya ekologi di Indonesia yang menjadi lebih parah dari waktu ke waktu.
5. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan panas bumi masih dapat dikembangkan sampai batas maksimal potensinya, walaupun besarannya nanti hanya berkisar 6 persen dari seluruh Pembangkit Tenaga Listrik, tetap tak akan dapat mencukupi kebutuhan kita tahun 2025 nanti.
6. Pembangkit tenaga Listrik menggunakan energi terbarukan yang lain yaitu Mini Hydro, tenaga Angin, Bio Massa dan Tenaga Surya, sumbangannya akan terlalu kecil walaupun nanti dikembangkan secara maksimal
Saran-saran yang dapat kami kemukakan adalah:
1. Oleh karena alasan–alasan tersebut di atas Pembangkit Tenaga Listrik Nulir tidak boleh tidak harus dikembangkan dan dibangun di Indonesia, karena sifat-sifatnya: daya yang dibangkitkan sangat besar, pencemarannnya rendah, dan sumbernya berkelimpahan, dan bakal tak pernah habis. PLTN ini harus segera dibangun, mengingat skedul pembangunanya yang lama, yaitu 10 tahun mulai dari keputusan membangun sampai operasinya (sesuai Roadmap yang ada dalam Blueprint Pengelolan Energi Nasional 2005-2025).
2. Jika pembangunan lebih dari satu unit di lokasi yang sama tak mungkin, harus segera dibangun di lokasi lain.
3. Pentargetan Pemerintah Indonesia dalam Blueprint Pengelolan Energi Nasional 2005-2025 untuk PLTN hanja 1,993% di tahun 2025, seperti terlihat dari Grafik 2 tersebut di bawah, diperkirakan tidak cukup besar bagi pemenuhan seluruh tenaga listrik di Indonesia pada tahun 2025 nanti.
4. Rencana Pemerintah mengenai Energy-Mix yang digambarkan dengan Grafik1 sampai dengan 2010 dan Grafik 2 untuk 2025 tampak tidak konsisten, sehingga koreksi dalam perencanaan dan pelaksanaanya perlu dilakukan.




Source:
Paper - Ir. Nanang S. Soetadji, IPM
Diskusi Panel “Persimpangan Jalan Pembangunan PLTN di Indonesia”
Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan
Jakarta, 28 November 2007

DEDEZ
kalau melihat paparan diatas memang seharusnya PLTN sudah mulai dipikirkan oleh bangsa ini sebagai energi alternative. mengapa di Amerika malah ditinggalkan karena itu tadi ada sisi politisnya . perusahaan2 minyak disana menekan pemerintahnya untuk meninggalkan energi ini.
widizty
yap bro... setubuh dengan itu...

namung alangkah baiknya sebelum kita membangun PLTN di atas...
mengingat mental orang indonesia yang sukanya korupsi hal ini harus ditangani secara serius dan penuh pengawasan dari berbagai pihak baik pemerintah maupun masyarakat sendiri....

karena apa...?? apabila terjadi kesalahan sedikit saja maka dampak dari PLTN ini akan sangat besar dan akan merugikan pemerintah... bukan pemerintah bahkan masyarakat pun bisa menjadi korbannya...
selama ini memang banyak masyarakat yang menentang adanya PLTN ini dikarenakan masyarakat takut akan dampak nuklir / radiasi nuklir yang berbahaya itu...

lha wong bangun jembatan aja duit dikorupsi, jatah semen dikurangin separoh baru 2 taon jembatan dibangun dah ambruk...apalagi PLTN...???coba bayangkan...

dan untuk tempatnya pemerintah itu ya mikir... untuk membangun PLTN tu ya jangan di daerah yang dekat dengan akses masyarakat...Indonesia ini kan negara kepulauan, masi banyak pulau" yang tidak berpenghuni yang bisa dimanfaatkan untuk membangun PLTN,bener gak..??
jadi masyarakat tidak perlu kawatir untuk dampak nuklir, dan berpandangan negatif terhadap reaktor nuklir yang saya bilang dapat memenuhi kebutuhan listrik negara ini...
saya hanya mahasiswa yang menyampaikan ide dan pendapat saya...
saya ngga suka demo sana, demo sini malahan bisa bikin ribut...

sekian dari saya maaf kalo ada salah kata dari saya yg menyebabkan sesuatu yg negatif...

salam...
ghetooman
@DEDEZ & widizty

Gw pribadi juga setuju banget ama PLTN di Indonesia. Cuman masyarakat masih ketakutan dengan efek yang ditimbulkan oleh PLTN. Masyarakat masih sangsi akan kemampuan Pemerintah untuk membangun PLTN terutama masalah efek PLTN ke lingkungan sekitar.
Persoalan paling mendasar saat ini yang harus dihadapi untuk mewujudkan PLTN adalah bagaimana kelompok-kelompok pro-nuklir (baik kelompok masyarakat maupun pemerintah) dapat menciptakan suatu strategi untuk memenangkan persepsi publik berkenaan dengan penggunaan tenaga nuklir sebagai salah satu sumber energi.
Sebagaimana umum diketahui bahwa saat ini persepsi publik masih cenderung negatif terhadap penggunaan tenaga nuklir (dalam hal ini PLTN) di Indonesia. Persepsi negatif bukan hanya datang dari masyarakat Indonesia sendiri, namun juga dapat muncul dari masyarakat Internasional. Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasari bagi munculnya kecemasan terhadap penggunaan tenaga nuklir di Indonesia:
1). Security issue berkenaan dengan keselamatan reaktor. Tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat bahwa keamanan dan keselamatan sebuah reaktor nuklir akan dapat dijamin meskipun kita menggunakan teknologi pengamanan reaktor nuklir generasi ke empat, yang lebih canggih dalam mengurangi resiko-resiko bahaya kecelakaan (kebocoran), baik akibat faktor teknologi, human error, maupun bencana alam.
Sulitnya meyakinkan publik berkenaan dengan penggunaan energi nuklir karena selalu diperhadapkan dengan dampak persepsi (percieved impact), perasaan terancam dan kecemasan yang tidak dapat kita ukur secara kuantitatif. Persepsi publik yang merasa terancam dengan keberadaan PLTN muncul karena trauma dari beberapa peristiwa kecelakaan reaktor nuklir di negara-negara pengguna energi nuklir, seperti peristiwa Chernobyl (Rusia) dan Three Mile Island Nuclear Generating Station, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Persepsi publik terhadap keberadaan sebuah reaktor nuklir (PLTN), sangat bergantung pula pada bagaimana tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahan kita. Sebagai contoh kasus yang akrab dalam kehidupan keseharian masyarakat adalah tentang buruknya pengelolaan sampah di TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) di Bojong, Jawa Barat, serta di Bantargebang, Bekasi, Sukolilo Surabaya dan TPA (tempat pengolahan akhir) di daerah-daerah lainnya.
Tentu saja, pengelolaan kategori sampah (limbah) antara industri dan rumah tangga dengan limbah nuklir akan sangat jauh berbeda penanganannya, buangan nuklir (radioaktif) mempunyai prosedur yang lebih ketat dalam pengelolaannya. Namun bukankah ini merupakan persoalan dampak yang dipersepsikan (percieved impact), di mana masyarakat lebih cenderung melihat apa yang telah terjadi di depan mata ketimbang apa yang masih mungkin terjadi. Dalam persepsi publik melihat bahwa untuk mengurus sampah (limbah) biasa saja kita masih belum beres dalam mengelolanya, apalagi dalam hal pengelolaan limbah nuklir yang sangat sensitif. Persepsi publik ini bukan soal benar dan salah, hitam dan putih, namun persoalan bagaimana kita mampu menampilkan fakta-fakta real yang dapat diterima oleh masyarakat.
Selain itu, kita tidak hanya harus memperhatikan persepsi publik di dalam negeri, tetapi juga persepsi dari masyarakat di kawasan regional dan masyarakat internasional. Betapa di mata negara tetangga (seperti Malaysia dan Singapura, misalnya) sebagai bagian dari kawasan regional, kita dianggap tak cukup mampu menangani kebakaran hutan, apalagi bila kita mengelola sebuah rektor nuklir. Tak pelak, kita hanya dipandang sebagai seorang anak kecil yang diberi ijin untuk mengemudikan mobil balap Formula Satu (F-1) yang akan mencelakai orang lain disekitarnya haha.gif axehead.png . Kekhawatiran negara-negara tetangga di kawasan regional itu memang layak dan oleh karenanya patut mendapatkan perhatian bila kita secara serius ingin mewujudkan PLTN.
Persepsi masyarakat internasional terhadap kepatutan Indonesia untuk mengelola sebuah reaktor nuklir juga secara signifikan bergantung pada variabel perkembangan politik di dalam negeri kita. Indonesia harus dapat meyakinkan dunia internasional bahwa masa depan sistem demokrasi kita akan tetap stabil, sehingga kecurigaan akan penyalahgunaan energi nuklir bagi kepentingan persenjataan rezim non-demokratik dapat dieliminir.

2). Isu lingkungan berkenaan dengan pembuangan limbah nuklir (radioaktif) yang tergolong sebagai limbah beracun dan berbahaya, serta dampak radiasi yang diakibatkannya.
Radiasi yang berasal dari bahan radioaktif dapat menimbulkan kontaminasi terhadap manusia dan biosfer.
Masyarakat secara umum belum mendapat informasi yang cukup memadai tentang dampak-dampak sosial dan ekologis yang ditimbulkan oleh keberadaan sebuah reaktor nuklir. Persoalannya kemudian adalah bagaimana masyarakat pro-nuklir dapat mensosialisasikan informasi-informasi yang berimbang terhadap hal itu untuk merebut persepsi publik tentang manfaat energi nuklir di Indonesia.
Secara fair, kita harus mampu melihat dan menimbang berbagai keberatan-keberatan masyarakat tersebut, karena – sebagaimana kelompok masyarakat yang pro-nuklir – masyarakat yang mengkhawatirkan keberadaan reaktor nuklir juga berdiri di atas argumen yang real berangkat dari pengalaman-pengalaman negara lain, yang notabene lebih maju teknologinya dari negara Indonesia.
Fakta bahwa penggunaan energi nuklir juga dapat mengurangi fenomena global warming, atau meningkatnya kebutuhan masyarakat akan energi listrik yang terus kian menanjak sehingga dibutuhkan energi alternatif lain seperti misalnya nuklir (selain kompetitor jenis energi alternatif lain seperti biofuel, geothermal yang baru 5% dimanfaatkan, fuel cell dan lain-lain). Selain itu, bila kita dapat mewujudkan penggunaan energi nuklir, maka profile Indonesia di mata dunia internasional juga akan naik. Dengan demikian maka posisi tawar Indonesia di kawasan regional maupun internasional akan lebih tinggi, tetapi dengan potensi resistensi akan juga makin keras.
Masyarakat pro-nuklir juga harus bersiap diri untuk memenangkan kompetisi dengan kehadiran energi alternatif lainnya seperti biofuel, geothermal, dan fuel cell yang telah pula menawarkan kehadirannya kepada publik Indonesia. Jadi, bukan hanya harus memenangkan persepsi publik tentang penggunaan energi nuklir, namun juga bagaimana memenangkan persepsi terhadap para penganjur energi alternatif lainnya.
Kompetisi untuk memenangkan persepsi publik inilah yang menjadi kunci dari hadir atau tidaknya keberadaan sebuah PLTN di Indonesia pada masa depan. Dengan demikian maka strategi pemenangan untuk merebut persepsi positif dari masyarakat tentang penggunaan energi nuklir perlu dirumuskan secara baik bila kita ingin mewujudkan hadirnya PLTN di Indonesia, dengan juga memanfaatkan momentum dimana energi alternatif dan terbarukan sedang mengemuka karena –antara lain- tingginya harga minyak dan dampak lingkungan dari perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia.

Selanjutnya, penting untuk ditelaah dalam pendekatan kewilayahan, apakah penggunaan energi nuklir di Indonesia dapat menjawab berbagai kebutuhan akan energi di tingkatan lokal (bahkan bila memungkinkan sampai kepada pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia). Juga sampai sejauh mana batasan penerapan energi nuklir dapat kompatibel dalam skala yang lebih kecil, sehingga masyarakat secara luas dapat benar-benar merasakan manfaatnya. Dalam era yang serba tidak terpusat seperti saat ini, penerapan energi nuklir semestinya dapat berjalan seiring dengan konsep desentralisasi tersebut, sehingga pemenuhan akan kebutuhan energi dalam mayarakat dalam lebih luas jangkauan dan penyebarannya.

Just like bro widizty bilang, kita concern dulu ke mental aparat Pemerintah. Kalo masalah skill (SDM) gw yakin Indonesia mampu menyaingi negara2 luar. Cuman ya itu, jangan sampai ada "penyunatan" dana pas pembangunnanya, bisa mleduk ntar reaktornya Laughing.gif
Coil
QUOTE (ghetooman @ Aug 31 2008, 01:22 AM) *
@DEDEZ & widizty

Gw pribadi juga setuju banget ama PLTN di Indonesia. Cuman masyarakat masih ketakutan dengan efek yang ditimbulkan oleh PLTN. Masyarakat masih sangsi akan kemampuan Pemerintah untuk membangun PLTN terutama masalah efek PLTN ke lingkungan sekitar.
Persoalan paling mendasar saat ini yang harus dihadapi untuk mewujudkan PLTN adalah bagaimana kelompok-kelompok pro-nuklir (baik kelompok masyarakat maupun pemerintah) dapat menciptakan suatu strategi untuk memenangkan persepsi publik berkenaan dengan penggunaan tenaga nuklir sebagai salah satu sumber energi.
Sebagaimana umum diketahui bahwa saat ini persepsi publik masih cenderung negatif terhadap penggunaan tenaga nuklir (dalam hal ini PLTN) di Indonesia. Persepsi negatif bukan hanya datang dari masyarakat Indonesia sendiri, namun juga dapat muncul dari masyarakat Internasional. Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasari bagi munculnya kecemasan terhadap penggunaan tenaga nuklir di Indonesia:
1). Security issue berkenaan dengan keselamatan reaktor. Tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat bahwa keamanan dan keselamatan sebuah reaktor nuklir akan dapat dijamin meskipun kita menggunakan teknologi pengamanan reaktor nuklir generasi ke empat, yang lebih canggih dalam mengurangi resiko-resiko bahaya kecelakaan (kebocoran), baik akibat faktor teknologi, human error, maupun bencana alam.
Sulitnya meyakinkan publik berkenaan dengan penggunaan energi nuklir karena selalu diperhadapkan dengan dampak persepsi (percieved impact), perasaan terancam dan kecemasan yang tidak dapat kita ukur secara kuantitatif. Persepsi publik yang merasa terancam dengan keberadaan PLTN muncul karena trauma dari beberapa peristiwa kecelakaan reaktor nuklir di negara-negara pengguna energi nuklir, seperti peristiwa Chernobyl (Rusia) dan Three Mile Island Nuclear Generating Station, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Persepsi publik terhadap keberadaan sebuah reaktor nuklir (PLTN), sangat bergantung pula pada bagaimana tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahan kita. Sebagai contoh kasus yang akrab dalam kehidupan keseharian masyarakat adalah tentang buruknya pengelolaan sampah di TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) di Bojong, Jawa Barat, serta di Bantargebang, Bekasi, Sukolilo Surabaya dan TPA (tempat pengolahan akhir) di daerah-daerah lainnya.
Tentu saja, pengelolaan kategori sampah (limbah) antara industri dan rumah tangga dengan limbah nuklir akan sangat jauh berbeda penanganannya, buangan nuklir (radioaktif) mempunyai prosedur yang lebih ketat dalam pengelolaannya. Namun bukankah ini merupakan persoalan dampak yang dipersepsikan (percieved impact), di mana masyarakat lebih cenderung melihat apa yang telah terjadi di depan mata ketimbang apa yang masih mungkin terjadi. Dalam persepsi publik melihat bahwa untuk mengurus sampah (limbah) biasa saja kita masih belum beres dalam mengelolanya, apalagi dalam hal pengelolaan limbah nuklir yang sangat sensitif. Persepsi publik ini bukan soal benar dan salah, hitam dan putih, namun persoalan bagaimana kita mampu menampilkan fakta-fakta real yang dapat diterima oleh masyarakat.
Selain itu, kita tidak hanya harus memperhatikan persepsi publik di dalam negeri, tetapi juga persepsi dari masyarakat di kawasan regional dan masyarakat internasional. Betapa di mata negara tetangga (seperti Malaysia dan Singapura, misalnya) sebagai bagian dari kawasan regional, kita dianggap tak cukup mampu menangani kebakaran hutan, apalagi bila kita mengelola sebuah rektor nuklir. Tak pelak, kita hanya dipandang sebagai seorang anak kecil yang diberi ijin untuk mengemudikan mobil balap Formula Satu (F-1) yang akan mencelakai orang lain disekitarnya haha.gif axehead.png . Kekhawatiran negara-negara tetangga di kawasan regional itu memang layak dan oleh karenanya patut mendapatkan perhatian bila kita secara serius ingin mewujudkan PLTN.
Persepsi masyarakat internasional terhadap kepatutan Indonesia untuk mengelola sebuah reaktor nuklir juga secara signifikan bergantung pada variabel perkembangan politik di dalam negeri kita. Indonesia harus dapat meyakinkan dunia internasional bahwa masa depan sistem demokrasi kita akan tetap stabil, sehingga kecurigaan akan penyalahgunaan energi nuklir bagi kepentingan persenjataan rezim non-demokratik dapat dieliminir.

2). Isu lingkungan berkenaan dengan pembuangan limbah nuklir (radioaktif) yang tergolong sebagai limbah beracun dan berbahaya, serta dampak radiasi yang diakibatkannya.
Radiasi yang berasal dari bahan radioaktif dapat menimbulkan kontaminasi terhadap manusia dan biosfer.
Masyarakat secara umum belum mendapat informasi yang cukup memadai tentang dampak-dampak sosial dan ekologis yang ditimbulkan oleh keberadaan sebuah reaktor nuklir. Persoalannya kemudian adalah bagaimana masyarakat pro-nuklir dapat mensosialisasikan informasi-informasi yang berimbang terhadap hal itu untuk merebut persepsi publik tentang manfaat energi nuklir di Indonesia.
Secara fair, kita harus mampu melihat dan menimbang berbagai keberatan-keberatan masyarakat tersebut, karena – sebagaimana kelompok masyarakat yang pro-nuklir – masyarakat yang mengkhawatirkan keberadaan reaktor nuklir juga berdiri di atas argumen yang real berangkat dari pengalaman-pengalaman negara lain, yang notabene lebih maju teknologinya dari negara Indonesia.
Fakta bahwa penggunaan energi nuklir juga dapat mengurangi fenomena global warming, atau meningkatnya kebutuhan masyarakat akan energi listrik yang terus kian menanjak sehingga dibutuhkan energi alternatif lain seperti misalnya nuklir (selain kompetitor jenis energi alternatif lain seperti biofuel, geothermal yang baru 5% dimanfaatkan, fuel cell dan lain-lain). Selain itu, bila kita dapat mewujudkan penggunaan energi nuklir, maka profile Indonesia di mata dunia internasional juga akan naik. Dengan demikian maka posisi tawar Indonesia di kawasan regional maupun internasional akan lebih tinggi, tetapi dengan potensi resistensi akan juga makin keras.
Masyarakat pro-nuklir juga harus bersiap diri untuk memenangkan kompetisi dengan kehadiran energi alternatif lainnya seperti biofuel, geothermal, dan fuel cell yang telah pula menawarkan kehadirannya kepada publik Indonesia. Jadi, bukan hanya harus memenangkan persepsi publik tentang penggunaan energi nuklir, namun juga bagaimana memenangkan persepsi terhadap para penganjur energi alternatif lainnya.
Kompetisi untuk memenangkan persepsi publik inilah yang menjadi kunci dari hadir atau tidaknya keberadaan sebuah PLTN di Indonesia pada masa depan. Dengan demikian maka strategi pemenangan untuk merebut persepsi positif dari masyarakat tentang penggunaan energi nuklir perlu dirumuskan secara baik bila kita ingin mewujudkan hadirnya PLTN di Indonesia, dengan juga memanfaatkan momentum dimana energi alternatif dan terbarukan sedang mengemuka karena –antara lain- tingginya harga minyak dan dampak lingkungan dari perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia.

Selanjutnya, penting untuk ditelaah dalam pendekatan kewilayahan, apakah penggunaan energi nuklir di Indonesia dapat menjawab berbagai kebutuhan akan energi di tingkatan lokal (bahkan bila memungkinkan sampai kepada pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia). Juga sampai sejauh mana batasan penerapan energi nuklir dapat kompatibel dalam skala yang lebih kecil, sehingga masyarakat secara luas dapat benar-benar merasakan manfaatnya. Dalam era yang serba tidak terpusat seperti saat ini, penerapan energi nuklir semestinya dapat berjalan seiring dengan konsep desentralisasi tersebut, sehingga pemenuhan akan kebutuhan energi dalam mayarakat dalam lebih luas jangkauan dan penyebarannya.

Just like bro widizty bilang, kita concern dulu ke mental aparat Pemerintah. Kalo masalah skill (SDM) gw yakin Indonesia mampu menyaingi negara2 luar. Cuman ya itu, jangan sampai ada "penyunatan" dana pas pembangunnanya, bisa mleduk ntar reaktornya Laughing.gif


Setuju.......
SpeckoL
QUOTE (ghetooman @ Aug 31 2008, 12:22 AM) *
@DEDEZ & widizty

Gw pribadi juga setuju banget ama PLTN di Indonesia. Cuman masyarakat masih ketakutan dengan efek yang ditimbulkan oleh PLTN. Masyarakat masih sangsi akan kemampuan Pemerintah untuk membangun PLTN terutama masalah efek PLTN ke lingkungan sekitar.
Persoalan paling mendasar saat ini yang harus dihadapi untuk mewujudkan PLTN adalah bagaimana kelompok-kelompok pro-nuklir (baik kelompok masyarakat maupun pemerintah) dapat menciptakan suatu strategi untuk memenangkan persepsi publik berkenaan dengan penggunaan tenaga nuklir sebagai salah satu sumber energi.
Sebagaimana umum diketahui bahwa saat ini persepsi publik masih cenderung negatif terhadap penggunaan tenaga nuklir (dalam hal ini PLTN) di Indonesia. Persepsi negatif bukan hanya datang dari masyarakat Indonesia sendiri, namun juga dapat muncul dari masyarakat Internasional. Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasari bagi munculnya kecemasan terhadap penggunaan tenaga nuklir di Indonesia:
1). Security issue berkenaan dengan keselamatan reaktor. Tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat bahwa keamanan dan keselamatan sebuah reaktor nuklir akan dapat dijamin meskipun kita menggunakan teknologi pengamanan reaktor nuklir generasi ke empat, yang lebih canggih dalam mengurangi resiko-resiko bahaya kecelakaan (kebocoran), baik akibat faktor teknologi, human error, maupun bencana alam.
Sulitnya meyakinkan publik berkenaan dengan penggunaan energi nuklir karena selalu diperhadapkan dengan dampak persepsi (percieved impact), perasaan terancam dan kecemasan yang tidak dapat kita ukur secara kuantitatif. Persepsi publik yang merasa terancam dengan keberadaan PLTN muncul karena trauma dari beberapa peristiwa kecelakaan reaktor nuklir di negara-negara pengguna energi nuklir, seperti peristiwa Chernobyl (Rusia) dan Three Mile Island Nuclear Generating Station, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Persepsi publik terhadap keberadaan sebuah reaktor nuklir (PLTN), sangat bergantung pula pada bagaimana tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahan kita. Sebagai contoh kasus yang akrab dalam kehidupan keseharian masyarakat adalah tentang buruknya pengelolaan sampah di TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) di Bojong, Jawa Barat, serta di Bantargebang, Bekasi, Sukolilo Surabaya dan TPA (tempat pengolahan akhir) di daerah-daerah lainnya.
Tentu saja, pengelolaan kategori sampah (limbah) antara industri dan rumah tangga dengan limbah nuklir akan sangat jauh berbeda penanganannya, buangan nuklir (radioaktif) mempunyai prosedur yang lebih ketat dalam pengelolaannya. Namun bukankah ini merupakan persoalan dampak yang dipersepsikan (percieved impact), di mana masyarakat lebih cenderung melihat apa yang telah terjadi di depan mata ketimbang apa yang masih mungkin terjadi. Dalam persepsi publik melihat bahwa untuk mengurus sampah (limbah) biasa saja kita masih belum beres dalam mengelolanya, apalagi dalam hal pengelolaan limbah nuklir yang sangat sensitif. Persepsi publik ini bukan soal benar dan salah, hitam dan putih, namun persoalan bagaimana kita mampu menampilkan fakta-fakta real yang dapat diterima oleh masyarakat.
Selain itu, kita tidak hanya harus memperhatikan persepsi publik di dalam negeri, tetapi juga persepsi dari masyarakat di kawasan regional dan masyarakat internasional. Betapa di mata negara tetangga (seperti Malaysia dan Singapura, misalnya) sebagai bagian dari kawasan regional, kita dianggap tak cukup mampu menangani kebakaran hutan, apalagi bila kita mengelola sebuah rektor nuklir. Tak pelak, kita hanya dipandang sebagai seorang anak kecil yang diberi ijin untuk mengemudikan mobil balap Formula Satu (F-1) yang akan mencelakai orang lain disekitarnya haha.gif axehead.png . Kekhawatiran negara-negara tetangga di kawasan regional itu memang layak dan oleh karenanya patut mendapatkan perhatian bila kita secara serius ingin mewujudkan PLTN.
Persepsi masyarakat internasional terhadap kepatutan Indonesia untuk mengelola sebuah reaktor nuklir juga secara signifikan bergantung pada variabel perkembangan politik di dalam negeri kita. Indonesia harus dapat meyakinkan dunia internasional bahwa masa depan sistem demokrasi kita akan tetap stabil, sehingga kecurigaan akan penyalahgunaan energi nuklir bagi kepentingan persenjataan rezim non-demokratik dapat dieliminir.

2). Isu lingkungan berkenaan dengan pembuangan limbah nuklir (radioaktif) yang tergolong sebagai limbah beracun dan berbahaya, serta dampak radiasi yang diakibatkannya.
Radiasi yang berasal dari bahan radioaktif dapat menimbulkan kontaminasi terhadap manusia dan biosfer.
Masyarakat secara umum belum mendapat informasi yang cukup memadai tentang dampak-dampak sosial dan ekologis yang ditimbulkan oleh keberadaan sebuah reaktor nuklir. Persoalannya kemudian adalah bagaimana masyarakat pro-nuklir dapat mensosialisasikan informasi-informasi yang berimbang terhadap hal itu untuk merebut persepsi publik tentang manfaat energi nuklir di Indonesia.
Secara fair, kita harus mampu melihat dan menimbang berbagai keberatan-keberatan masyarakat tersebut, karena – sebagaimana kelompok masyarakat yang pro-nuklir – masyarakat yang mengkhawatirkan keberadaan reaktor nuklir juga berdiri di atas argumen yang real berangkat dari pengalaman-pengalaman negara lain, yang notabene lebih maju teknologinya dari negara Indonesia.
Fakta bahwa penggunaan energi nuklir juga dapat mengurangi fenomena global warming, atau meningkatnya kebutuhan masyarakat akan energi listrik yang terus kian menanjak sehingga dibutuhkan energi alternatif lain seperti misalnya nuklir (selain kompetitor jenis energi alternatif lain seperti biofuel, geothermal yang baru 5% dimanfaatkan, fuel cell dan lain-lain). Selain itu, bila kita dapat mewujudkan penggunaan energi nuklir, maka profile Indonesia di mata dunia internasional juga akan naik. Dengan demikian maka posisi tawar Indonesia di kawasan regional maupun internasional akan lebih tinggi, tetapi dengan potensi resistensi akan juga makin keras.
Masyarakat pro-nuklir juga harus bersiap diri untuk memenangkan kompetisi dengan kehadiran energi alternatif lainnya seperti biofuel, geothermal, dan fuel cell yang telah pula menawarkan kehadirannya kepada publik Indonesia. Jadi, bukan hanya harus memenangkan persepsi publik tentang penggunaan energi nuklir, namun juga bagaimana memenangkan persepsi terhadap para penganjur energi alternatif lainnya.
Kompetisi untuk memenangkan persepsi publik inilah yang menjadi kunci dari hadir atau tidaknya keberadaan sebuah PLTN di Indonesia pada masa depan. Dengan demikian maka strategi pemenangan untuk merebut persepsi positif dari masyarakat tentang penggunaan energi nuklir perlu dirumuskan secara baik bila kita ingin mewujudkan hadirnya PLTN di Indonesia, dengan juga memanfaatkan momentum dimana energi alternatif dan terbarukan sedang mengemuka karena –antara lain- tingginya harga minyak dan dampak lingkungan dari perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia.

Selanjutnya, penting untuk ditelaah dalam pendekatan kewilayahan, apakah penggunaan energi nuklir di Indonesia dapat menjawab berbagai kebutuhan akan energi di tingkatan lokal (bahkan bila memungkinkan sampai kepada pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia). Juga sampai sejauh mana batasan penerapan energi nuklir dapat kompatibel dalam skala yang lebih kecil, sehingga masyarakat secara luas dapat benar-benar merasakan manfaatnya. Dalam era yang serba tidak terpusat seperti saat ini, penerapan energi nuklir semestinya dapat berjalan seiring dengan konsep desentralisasi tersebut, sehingga pemenuhan akan kebutuhan energi dalam mayarakat dalam lebih luas jangkauan dan penyebarannya.

Just like bro widizty bilang, kita concern dulu ke mental aparat Pemerintah. Kalo masalah skill (SDM) gw yakin Indonesia mampu menyaingi negara2 luar. Cuman ya itu, jangan sampai ada "penyunatan" dana pas pembangunnanya, bisa mleduk ntar reaktornya Laughing.gif


gw sih stuju-stuju aja...btw knp mesti takut?di jepang aja, pusat pembangkitnya berada di tengah-tengah kota, tapi ampe sekarang ga ada berita tuh kalo ada efek sampingnya, selama itu dikelola oleh pihak profesional dan yang berpengalaman gw rasa aman2 aja koq digunakan di indonesia, malah lebih bagus karena di kalimantan aja banyak cadangan uranium tuk PLTN.....

selain murah, hemat lagi....listrik bisa jadi lebih murah, rakyat senang pemerintah pun senang.....



PLTN di indonesia..?Why not....
lfd12
setubuh..
porsinya perlu diperbesar pula!!
soul1t@ire
Ada baiknya PLTN dijadikan alternatif kedua setelah PLTPB (Panas Bumi) karena cadangan yang dipunyai Indonesia masih sangat melimpah, paling tidak bisa memenuhi kebutuhan listrik nasional sekarang ini.
Bayangkan, menurut penelitian ternyata Indonesia punya cadangan panas bumi sebesar 40% dari cadangan panas bumi global atau sekitar 20000 MW, bahkan ada yang bilang sampe 27000MW.
Apa gak dibilang sinting kalo ternyata kita malah masih berkutat dengan krisis listrik.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0701/03/ipt01.html

PLTN itu barang mahal dan relatif berbahaya. Dibilang mahal karena biaya pemeliharaan tinggi, bahan baku utk 'bahan bakar' nuklir juga gak murah, belum lagi untuk limbahnya nanti juga pasti ribet ngolahnya.
squish
klo memang PLTN itu baik utk dikembangkan...ya pemerintah kita harusnya jgn terlalu lama dlm bertindak, ketinggalan trus nih ama negara orang...kebanyakkan mikir kali ya??
lfd12
QUOTE
PLTN itu barang mahal dan relatif berbahaya. Dibilang mahal karena biaya pemeliharaan tinggi, bahan baku utk 'bahan bakar' nuklir juga gak murah, belum lagi untuk limbahnya nanti juga pasti ribet ngolahnya.


setau gw mahalan panas bumi bro..gw lupa angka pastinya..
tp yg jelas "sen-per-sen"nya mahalan PLTPB banget
geothermal sendiri dapet porsi yg lumayan gede koq..5% dari suplai energi..
bukan ga diliat sama sekali..even geothermal jadi salahsatu tulangpunggung malahan..
smart dick
ane ga setuju bro,
kalo emang terpaksa mo di bangun juga paling hanya bisa berharep ga di bangun di propinsi ane,
maklum takut,
wong pln ngurusin listrik yang gampang aja sering mati lampu, gimana kalo pake teknologi nuklir,
Shocked.gif
jadi inget kejadian tabung gas meledak di mac d Peace.gif

menurut ane untuk pltn sumber daya manusia indonesia belom cukup untuk mampu mengaplikasikan teknologi ini Peace.gif
Ordinary People
gw percaya sama SDM indonesia bisa mengelola dan menjaka sekuritas reaktor itu sendiri.

cuman disini permasalahannya adalah ke tidak mengertian dan ketidak percayaan masyarakat kita terhadap hal seperti ini.

pemerintah mengelola tabung LPG aja banyak yg meleduk apalagi reaktor nuklir? hal ini pasti banyak di pikirkan oleh kebanyakan masyarakat kita,termasuk saya.

kalo pun ter realisasikan,lakukan dulu penyuluhan² kepada masyarakat,dan jangan terlalu "memangkas" anggaran untuk pembangunan PLTN.

Peace.gif
smart dick
mari kita floor kan masalah PLTN

loyalitas dan kualitas kerja insinyur kita masih meragukan,
sementara modal yang di kucurkan persentase nya tidak mencukupi karena alasan korupsi,
yang menjadi pertanyaan saya adalah pembangunan teknologi PLTN ini akan jatuh ke tangan siapa? ,
siapakah yang akan mengawasi pekerjaan ini?
sementara krisis kepercayaan masyarakat kita disebabkan oleh kesalahan pemimpin kita sendiri
Peace.gif
lfd12
QUOTE
mari kita floor kan masalah PLTN

loyalitas dan kualitas kerja insinyur kita masih meragukan,
sementara modal yang di kucurkan persentase nya tidak mencukupi karena alasan korupsi,
yang menjadi pertanyaan saya adalah pembangunan teknologi PLTN ini akan jatuh ke tangan siapa? ,
siapakah yang akan mengawasi pekerjaan ini?
sementara krisis kepercayaan masyarakat kita disebabkan oleh kesalahan pemimpin kita sendiri
Peace.gif


gw ragu klo dibilang insinyur kita meragukan..wong buktinya kita dibrain drain terus..sayang gw bukan tukang insinyur
trus.. klo gara2 korupsi kita jadi takut n set back berhenti membangun dan berinovasi berarti korupsi itu udah bener2 sukses..menang telak tanpa perlawanan

siapa yang ngebangun..(sayangny) jelas perusahaan asing yang berlisensi..lokal cuma kebagian 20% pembangunan yang gak krusial

siapa yang ngawasin udah ada pakemnya: lokal Bapeten.. internasional IAEA
NITrOXgen
Buat gw sih OK2 aja asal ga sampe kaya Chernobyl.....
So, bisa ngasih saran utk tindakan preventif?
lfd12
QUOTE
Buat gw sih OK2 aja asal ga sampe kaya Chernobyl.....
So, bisa ngasih saran utk tindakan preventif?


klo smp kaya chernobyl si amit2 deh bro..
tp setau gw reaktor2 sekarang udah nerapan negative pressure coefficient
jadi klo meledak or bocor..arahnya kedalem alias kesedot
CMIIW..
teko
setuju ma PLTN
kenapa ngga setuju?


standar reaktor nuklir kan dindingnya haru tahan dibom sampe sekian MegaTon
klo ngga standar ngga bakal boleh operasi ma lembaga nuklir dunia kan?


trus limbah nulir bukannya bisa disimpen trus dipake lagi???
setelah 10 tahun buangan nuklir tuh bisa dimasukin ke rekator n bikin energi lagi?


Kenapa orang2 selalu bilang berbahaya?
emangnya klo PLTU meledak (klo PLTN melt down) ngga berbahaya???
emangnya limbah dari fossil fuel ngga berbahaya????
emangnya kemungkinan "Chernobyl" tuh berapa banding berapa?

Kenapa si koq chernobyl tu meledak?
selain alesan engineer yang ngga berpengalaman, supervisi yang ngga bagus, pelatihan yang kurang, pengertian apa yang harus dilakukan apabila terjadi kenaikan suhu seperti yang terjadi disana, konstruksi bangunan yang bagus karena sedang UniSovyet sedang mempertahankan kedigdayaannya yang hampir hancur dimata dunia????


emangnya Biofeul (yang ngehasilin CO2 dan untuk membuatnya kita juga menghasilkan CO2) bisa mengurangi global warming?

emangnya fuelcell (yang buat bikinnya perlu energi besar [hasilnya CO2 lagi donk?], mahal dan sangat susah untuk dikontrol reaksinya) itu bisa menggantikan fossil fuel ato nuklir?

Geothermal tuh kapasitas terbesarnya berapa si? perlu berapa gunung yang harus diobrak abrik? (pointnya: gunung banyak pohon yang bisa mengurangi CO2)



emang ada negara yang mengelola nulir tanpa pengawasan dari bada atom dunia?



Correct Me If I'm Wrong

makasih
san_andreas
Kalau menurut aku sendiri dari kacamata orang elektro nich :
Aku setuju saja dibangunnya pltn ini, karena sumber energi listrik kita sering terjadi kerisis, dulu pernah terjadi pemadaman bergilir karena bahan bakar yang digunakan menipis kemudian terjadi kerusakan antar pembangkit jawa-bali (sistem interkoneksi), dengan menggunakan nuklir ini diharapkan bisa membuat sumber energi listrik menjadi lebih baik sehingga diharapkan ke depan tidak ada namanya pemadaman bergilir.

namun ada sisi buruknya kalau dibangun di negara indonesia dimana sdm yang ada belum memenuhi persayaratan, dalam pltn ini dituntut dengan sikap disiplin yang tinggi, nah itu kendala orang kita dimana suka seenaknya saja (benar gak sich?), jika sikap disiplin itu sudah tercapai saya rasa akan aman-aman saja jika pltn itu dibangun di indonesia.

kalau banyak orang demo mengenai pltn di muria saya rasa itu karena masalah ganti rugi aja yang kurang cocok, dan mahasiswa yang demo menolak pltn muria itu juga kurang fair, harus nya mereka selain menolak juga memberikan solusi mengenai energi listrik ini jadi saran buat mahasiswa sebelum demo bikin riset terlebih dahulu, kemudian saat demo bawa prototype riset untuk di demokan juga kan lebih bagus tu
kamprett0
to atas:
jangan terlalu stereotipe dulu sama orang indonesia smile.gif there are a lot of good people out there.
mungkin stereotipe ini ditujukan kepada pegawai-neger*, memang sih selama saya hidup, mereka selalu
fit ke dalam stereotip masyarakat yg terbentuk selama ratusan tahun mengenai mereka.

but then again, this is a whole new business, masih ada yang peduli di pemerintah2 kita yang hatinya murni
yang mau bekerja secara profesional sesuai dengan tanggung jawab dan imbalan yg diterima.

imho, ketika PLTN ini terealisasi, pasti akan dimulai dengan pertimbangan yg matang dan sumber daya manusia
yang kompeten. kecuali ada kepentingan politik didalamnya, sehingga orang2 partai juga tiba2 jadi main disana.
tapi eksekutif kita engga bodoh, mereka udah tahu apa resikonya, di chernobyl yg paling ekstrim.
Mr Yoe
gw setuju aja, asal pengelolaannya dihandle secara profesional dan mengukitu prosedur yang ada.. pasti aman deh..
c3rb3ru5
kalo masalah listrik sih sebetulnya Indonesia sangat memerlukan PLTN lo, dilihat dari ketersediaan SDA non hayati (minyak, batubara n gas alam) yang makin tipis. Kenapa harus takut ? Jepang aja yang pernah kena bom atom malah bangun PLTN di dekat lingkungan penduduk dan kalo ga salah sekitar 30 % listrik Jepang dan sekitar 40% lebih listrik negara di Eropa (yang maju) dari sumber nuklir. Mungkin yang perlu jadi pertimbangan adalah menguji kelayakan reaktor fusi (bukan fisi sepeti sekarang). Indonesia pasti mampu koq, optimis dong broo . . . . .
aldebar@N
yang pnting dikelola dgn baik
doublefun
Berat y materi TS nya...lama2 malah kyk skripsi tuh pake pendahuluan sgala Just Kidding.gif Just Kidding.gif
Nice topik bro...keep posting ye
kurdtanshori
membangun PLTN di Indonesia??? gimana ya??? Ngeliat suasana politik, sisttem pemerintahan, keprofesionalitasan yang kacau balau di Indo ini,,kliatannya ane sangsi ama adanya rencana pembangunan PLTN di Indo....

ntar ane yakin dalam beberapa tahun setelah pembangunan PLTN, ntar ga bakal keurus lagi tuh PLTN-nya, wong untuk urusan yang kecil aja pemerintahan GAK BECUS apalagi untuk hal yang benar2 makro seperti ini....
w4h4b
Kalau gw sih setuju2 saja PLTN dibangun di indonesia. Karena dengan mulai terbatasnya sumber daya alam sekarang, maka perlu dipertimbangkan alternatif ini sebagai penggantinya. Tapi tentunya harus benar2 didukung oleh sumberdaya manusia yang profesional dan teknologi yang benar2 maju.
Bukannya merendahkan bangsa sendiri, tapi ini kenyataan yang ada di negara kita. Banyak orang indonesia yang pintar otaknya tapi prilakunya yang kurang bagus.
Bila sampai PLTN jadi dibangun di indonesia tentunya akan sangat membantu cadangan listrik negara, karena satu PLTN saja bisa membangkitkan tenaga listrik yang jauh lebih besar dari pembangkit2 listrik yang ada sekarang.
Teknologi yang pernah ada di PLTN juga masih perlu lebih safety lagi apalagi jika akan dikelola oleh sumber daya orang2 indonesia. Di luar negeri termasuk jepang yang memiliki teknologi canggih dan sumber daya yang lebih canggih dari kita saja masih bisa terjadi kebocoran reaktor nuklirnya. Bagaimana bila kita yang mengoperasikannya??? Thinking.gif
roniaxel
PLTN sebaiknya dibangun di pulau Madura. Agar lebih produktif, .Madura dijadikan Power Island.
son2
Yah gw setuju2 aj, soalnya gw jg sadar nih kebutuhan listrik makin meningkat tajam. Tp kl bisa tu reaktor dikasi ke negara jiran aj. Deket2 ma mereka yg suka ngaku2in pny budaya...wekekekek...
san_andreas
Listrik dari PLTN sebaiknya dikelola sama pihak swasta aja. gimana?
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.