PLTN DIBUTUHKAN DI INDONESIA
I. Pendahuluan
Persediaan energi fosil di alam kini semakin habis. Terutama cadangan minyak bumi. Dunia mengalami krisis sejak beberapa dekade terakhir. Dan karena itu harga minyak bumi melonjak-lonjak, hampir tidak terkendali. Harga minyak menjadi demikian mahal sampai US$100 per barel. Dan lebih penting dari semua itu, cadangannya di dalam perut bumi semakin habis. Maka, kini negara-negara di dunia berebut energi untuk menjamin kelangsungan hidup bangsanya. Kalau perlu memaksa negara lain yang punya kelebihan energi untuk menjual kepadanya. Kalau tidak menjual, mereka tidak segan-segan untuk memaksa menguasainya dengan berbagai cara. Secara tersembunyi atau terang-terangan. Secara lembut atau yang kasar sekalipun. Di Indonesia, sebagian besar pengambil keputusan sudah menyadari hal ini. Sayangnya sebagian masyarakat kita masih belum menyadari situasinya. Bahkan, ada beberapa orang atau kelompok yang menutupi fakta yang krusial ini. Seakan-akan sumber energi minyak dunia termasuk di Indonesia masih sangat besar. Sehingga tidak perlu mempersiapkan masalah ini jauh-jauh hari. Kita masih merasa aman-aman saja. Sementara, kelangkaan bahan bakar energi dari ninyak sudah sedemikian membahayakan. Mengancam kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Minyak kita semakin menipis. Batubara dan gas alam belum sepenuhnya bisa diandalkan. Sumber tenaga air sedang bermasalah, karena kerusakan lingkungan di Indonesia yang demikian parah, ditambah oleh kacaunya musim penghujan. Dan sumber-sumber energi lainnya pun belum bisa diharapkan untuk memasok dalam skala besar.
Kita di Indonesia masih 'berpangku tangan' tidak segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan kepentingan bangsa ke masa depan. Kini sudah waktunya untuk mengambil semua alternatif sumber energi sebagai cadangan bagi kelangsungan hidup bangsa yang besar ini. Nuklir adalah salah satu alternatif energi masa depan yang jumlahnya berkelimpahan, yang diharapkan bisa menjadi salah satu solusi krisis energi fosil.
II. Pembahasan
II.1. Profil Energi Listrik Dunia
Pilihan sumber energi yang ada di hadapan kita tidaklah banyak. Dari data yang kita peroleh untuk rata-rata dunia, pilihan pertama adalah energi fosil, yang sekarang ini sudah dan sedang digunakan secara dominan. Pilihan yang kedua adalah tenaga air. Pilihan yang ke tiga, tenaga nuklir. Dan pilihan terakhir adalah beberapa jenis tenaga yang bisa terbarukan atau renewable. Keterangan di atas dapat dijelaskan dari Tabel 1 berikut:

II.2 Pemanfaatan Sumber Daya Alam tak Terbarukan di Indonesia
Data yang kita peroleh untuk sumber daya alam potensi sumber energi yang tidak terbarukan dan yang terbarukan dapat dibaca pada Tabel 2 dan Tabel 3 berikut:

II.2.1. Pemanfaatan Minyak.
Sumber energi yang paling banyak digunakan di Indonesia kenyataannya adalah minyak, sebenarnya ini adalah suatu pilihan yang keliru. Keliru dalam arti, kita terlalu besar bergantung kepada minyak, padahal data dari Departemen ESDM menyebutkan bahwa minyak kita bakal habis dalam waktu 18 tahun ke depan. Dan bukan hanya Indonesia yang bakal kehabisan minyak tapi dunia internasional bakal kesulitan. Secara nasional, Indonesia bergantung kepada minyak sebesar 63% dari total energi yang dikonsumsi. Sedangkan terhadap daya listriknya porsi pembangkit minyak sebesar 54,4%. Indonesia sudah menjadi negara net importer. Produksinya sekitar 1 juta barel per hari, pemakaiannya lebih dari 1,3 juta barel per hari. Maka kita harus impor lebih dari 3 ratus ribu barel per hari. Padahal kita tahu dunia sedang krisis minyak. Dengan harga minyak mentah yang tembus ke angka USD 100, tahun 2007 PLN mengalami kerugian besar. Begitu juga tahun-tahun ke depan.
Ini adalah sebuah kekeliruan yang tidak gampang dikoreksi dalam jangka dekat. Infrastruktur yang terlanjur besar, dan kebiasaan masyarakat yang terlanjur fanatik pada minyak menjadi kesulitan besar untuk merubahnya.
II.2.2. Pemanfaatan Batubara.
Pilihan berikut adalah batubara karena cadangan batubara kita bisa bertahan sampai 147 tahun. Tetapi problemnya, jenis batubara kita kebanyakan batubara muda yang kandungan kalorinya rendah. Sehingga, kurang layak untuk dijadikan bahan bakar. Apalagi jika harus dibawa ke pusat-pusat pembangkitan listrik yang kebanyakan berjarak jauh dari tambangnya, dari Kalimantan ke Jawa, misalnya. Tidak efisien. Yang terbaik adalah jika pembangkit listrik dekat dengan tambangnya, yang kebanyakan di luar Jawa. Sayangnya, kebanyakan konsumen justru berada di Jawa. Pembuatan pembangkit listrik baru di pulau Jawa juga terkendala oleh ambang batas pencemaran udara. Jika mau membangun PLT batubara di Jawa, harus diketemukan teknologinya agar tidak menambah pencemaran lingkungan yang sudah cukup berat.
Akan tetapi dengan semakin berkembangnya daerah-daerah di luar pulau Jawa, pembangunan pembangkit listrik di luar Jawa menjadi semakin layak. pemerintah sudah menandatangani kontrak pembangunan PLT batubara sebesar 10 ribu MW, yang akan dibangun di beberapa tempat di Nusa Tenggara Barat Sulawesi Utara Gorontalo Lampung dan Sumatera Utara. Kontrak kerjanya telah ditandatangani baru-baru ini.
Dalam draft pengelolaan energi nasional yang dikeluarkan kementerian ESDM, ditarget-kan pembangkit listrik batubara kita bakal menjadi 81,75 ribu MWatt di tahun 2025. Atau sebesar 32,7% dari target kapasitas 250 ribu MWatt. Ini memang tidak mudah. Karena kapasitas pembangkit batubara kita sekarang cuma sebesar 3.400 MWatt, atau 14,1% dari daya listrik total 24 ribu MWatt. Berarti kita harus bekerja keras untuk membangun PLTU batubara menjadi 25 kali lipat. Jika sekarang saja, konsumsi batubara kita sebesar 33 juta ton per tahun, maka kelak akan mengonsumsi sekitar 825 juta ton per tahun. Apakah kita mampu memenuhi produksi batubara sebanyak itu dari dalam negeri? Mungkin nanti harus diimpor.
Jika memilih batubara maka risikonya adalah, pencemaran lingkungan hidup akan terjadi dalam jumlah yang semakin besar. Gas-gas rumah kaca bakal menyelimuti Bumi lebih pekat. Dan, dampaknya sudah bisa kita duga: kondisi lingkungan Bumi semakin parah. Kekacauan iklim semakin tak terduga. Dan bencana-bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, serta sengatan udara panas-dingin bakal semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia. Permukaan air laut juga bakal naik dan menenggelamkan pulau-pulau, disebabkan mencairnya daratan es di kutub selatan maupun utara.
Proyeksi pembangunan PLTU sampai dengan 2010 yang mengutamakan batubara terlihat dalam Grafik1 di bawah ini. Namun kemungkinan bisa terealisasinya sebaiknya kita amati bersama, apakah mungkin.
Grafik 1

Catatan : batubara yang dubutuhkan adalah Low Rank Coal (nilai kalori 4.500 kkal/kg)
Sumber: Purwono Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Des 2006
II.2.3. Pemanfaatan Gas Alam
Pemakaian gas alam sebagai sumber energi mempunyai keunggulan, karena lebih bersih daripada sumber energi fosil lainnya. Selain daripada itu cadangannya masih bisa bertahan sampai 61 tahun menurut data yang ada. Sayangnya pemerintah Indonesia sejak tahun 1970an tidak pernah secara serius memprioritaskan pemakaian bahan bakar gas alam untuk keperluan pembangkit listrik, atau industri, karena hanya terpaku terhadap kegiatan ekspor ke negara lain, padahal penggunaan gas alam untuk keperluan dalam negeri keekonomiannya terbukti baik ketika itu. Terbukti bahwa pembangunan PLTG tak pernah dilakukan di tengah-tengah daerah kaya gas alam, misalnya di Aceh, Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur. Beberapa PLTG akhirnya dibangun di Jawa, misalnya di Muara Karang, Muara Tawar, dan Tanjung Priok. Ketidak seriusan mementingkan keperluan dalam negeri ini terbukti dengan pembangunan terminal penerimaan gas alam cair untuk ketiga PLTG tersebut di atas, yang terkatung-katung karena belum ada kepastian pasokan gas dari Kalimantan Timur, padahal ada kontrak ekspor gas alam yang akan selesai tahun 2008 dan 2009 dari Kalimantan Timur. Yang semestinya dipersiapkan untuk mengalihkan sebagiannya ke Jawa. Mungkin alasannya adalah hasil perhitungan harga yang tidak komprihensif, sehingga keuntungan bangsa Indonesia dalam jangka panjang, tak tampak.
II.2.4 Pemanfaatan sumber daya Nuklir
Dengan semakin menipisnya sumber energi fosil dan kerusakan lingkungan yang semakin parah, energi nuklir menjadi salah satu pilihan yang menarik. Daya yang dibangkitkan sangat besar, 1g uranium akan menghasilkan energi setara dengan 1 ton batubara, pencemarannnya rendah, dan sumbernya berkelimpahan. Sumber energinya bakal tak pernah habis. Apalagi jika bisa dikembangkan ke teknologi fast breeder reactor dan reaktor fusi. Fast breeder mengubah sampah radioaktif menjadi bahan bakar kembali. Sedangkan reaktor fusi adalah berbahan bakar hidrogen yang jumlahnya di alam sangat banyak.
Di seluruh dunia perkembangan tenaga nuklir mengalami pertumbuhan sebesar 1,3% per tahun sampai tahun 2030. Dari 2.619 BKWH di tahun 2004 menjadi 3.619 BKWH di tahun 2030.
Dalam dekade terakhir ini memang tidak ada penambahan satu pun instalasi nuklir baru di Amerika Serikat. Dalam waktu yang bersamaan ada beberapa negara Eropa yang berencana meninggalkan sama sekali pemakaian energi nuklir di negaranya, yaitu Jerman dan Belgia, dikarenakan tekanan politis yang semakin besar. Akan tetapi, seiring dengan semakin tingginya harga bahan bakar fosil, menipisnya cadangan di perut bumi, serta isu lingkungan yang semakin menguat, penduduk dunia melihat bahwa nuklir adalah salah satu alternatif yang tidak bisa ditinggalkan dan menjadi pilihan yang rasional. Maka, Amerika Serikat pun sekarang menggalakkan kembali program nuklirnya.
Pada saat yang sama, negara-negara di Asia justru sedang galak-galaknya membangun pembangkit nuklir. China bertumbuh dengan kecepatan 7,7% per tahun. Sedangkan India bertumbuh dengan angka 9,1% per tahun. Bahkan Korea Selatan, Jepang, dan Prancis pun terus meningkatkan porsi pembangkit listrik nuklirnya. Korea Selatan bakal bertumbuh 100% dalam dua dekade mendatang dibandingkan kapasitas tahun 2000, dari 104 BKWH menjadi 220 BKWH, tahun 2025. Jepang juga meningkatkan kapasitasnya dari 192 BKWH menjadi 411 BKWH. Dan Prancis naik dari 394 BKWH menjadi 520 BKWH.
II.3 Sumber daya Alam Terbarukan (renewable)
Bahan bakar dari sumber-sumber yang bisa terbarukan ini sebenarnya menjadi alternatif paling baik untuk masa depan kita, akan tetapi, kapasitasnya masih sangat kecil dan harganya mahal. Karena itu, prospeknya masih agak jauh ke depan. Untuk skala massal, diperkirakan masih 2-3 dekade ke depan. Pemanfaatan sumber daya energi yang terbarukan ini, serta kapasitas terpasang-nya masih rendah sekali di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari Tabel 3 seperti tertera di atas.
II.3.1 Pemanfaatan Tenaga Air
Pembangkit listrik tenaga air bergantung kepada adanya sungai-sungai dan danau yang dalam. Sejauh ini, yang bisa dimanfaatkan adalah sungai-sungai di pulau Jawa dan Sumatra. Dan muncullah bendungan-bendungan untuk membangkitkan listrik. Di antaranya di Jawa adalah bendungan Karangkates, dan bendungan Jatiluhur. Selebihnya, kebanyakan, adalah pembangkit kecil-kecil.
Dari data departemen Energi dan sumber Daya Mineral, diketahui bahwa Indonesia memperoleh energi listrik dari sistem PLTA sebesar 30,696 juta BOE. Sementara ltu, total energi yang diproduksi di Indonesia dari berbagai jenis sumber energi adalah sebesar 1.092,609 juta BOE pada tahun 2003. (BOE = Barrel Oil Equivalent) Maka, PLTA hanya menempati sekitar 2,81% dari seluruh produksi energi nasional. Selama 13 tahun terakhir terjadi peningkatan kapasitas produksi listrik sebesar 41,6%. Yaitu bertambah dari 21,678 juta BOE di tahun 1990 menjadi 30,696 juta BOE, di tahun 2003. Namun demikian, ternyata secara persentase mengalami penurunan terhadap komposisi pasokan energi nasional. Pada tahun 1990, PLTA memberikan sumbangan sebesar 3,15 %. Tapi pada tahun 2003 hanya memberikan sumbangan sebesar 2,81 %.
Dalam Blueprint Pengelolaan Energi Nasional disebutkan bahwa sumbangan PLTA hanya sebesar 2,4% dari energi nasional. Ini menunjukkan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga air tidak bisa mengimbangi besarnya pertumbuhan kebutuhan energi nasional.
Kita sangat bergantung kepada keberadaan sungai dan danau dengan persyaratan tertentu. Padahal kita tahu, kondisi alam Indonesia mengalami penurunan. Jumlah luas hutan sebagai daerah tangkapan air semakin mengecil. Ini sangat berpengaruh pada kualitas dan debit air sungai. Selain itu, terjadi pendangkalan di bendungan-bendungan tersebut sehingga menyebabkan gangguan debit air pemutar turbin. Kita harus realistis, bahwa agaknya cukup berat untuk menambah pasokan daya listrik dari pembangkit listrik tenaga air. Kita harus mencari pembangkit jenis lain yang lebih fleksibel.
II.3.2 Pemanfaatan Panas Bumi
Berapa banyakkah cadangan panas Bum Indonesia yang memiliki banyak gunung bera ini? Diperkirakan ada sekitar 27 GWatt. Ini merupakan 40 persen dari cadangan panas bumi dunia yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Sampai sejauh ini, kapasitas yang terpasang baru 0,8GWatt. Hanya sekitar 3 persen saja. Menurut data yang lebih konservatif, cadangan panas bumi di Indonesia pada tahun 2003 sekitar 24 GWatt. Itu tersebar di berbagai pulau Indonesia.
Terbesar ada di Sumatera sekitar 12,5 GWatt, disusul Jawa-bali sekitar 7GWatt, NTB-NTT sekitar 1,200 GWatt, Sulawesi sekitar 1.750 MWatt, Maluku sekitar 530 MWatt, Papua dan Kalimantan masing-masing 50 MWatt.
Jadi masih begitu banyaknya potensi yang belum tergarap. Sayang kalau tidak digunakan. sebab panas bumi ini akan terus menurun seiring dengan waktu, karena panas tersebut keluar terus melalui air / uap dari tanah.
Karena potensinya yang cukup ini, maka dalam proyeksi produksi listrik jangka menengah Pembangkit Listrik tenaga Panas Bumi ini diproyeksikan di atas pembangkit tenaga air. Karena pembangkitan dengan tenaga air mengalami kendala lingkungan hidup yang semakin besar. Namun demikian, kapasitas pembangkitan tenaga panas bumi ini masih dibawah batubara dan BBM. Karena kapasitas cadangannya yang memang lebih kecil.
II.3.3 Pemanfaatan Mini Hydro
Sumber daya Mikro Hydro ini walaupun bisa diterapkan di daerah-daerah pedesaan, dengan cara memanfaatkan aliran sungai kecil-kecil, dan mungkin membuat swadaya listrik di suatu daerah pedesaan, potensinya dan pemanfaatan di Indonesia kecil sekali dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Yaitu potensinya 0,458 GWatt dan pemanfaatannya baru 84 MWatt.
II.3.4 Pemanfaatan Bio Energi / Bio Massa / Bio Fuel
Bioenergi temasuk dalam kategori energi yang bisa diperbarui. Sumbernya adalah dari berbagai jenis tanaman, atau zat-zat yang terkandung di dalam makhluk hidup. Kebanyakan tanaman-tanaman yang bisa menghasilkan pati atau gula yang kemudian diubah menjadi alkohol. Karena berasal dari tanaman, maka kita bisa melakukan perhitungan produksi yang seimbang dengan kebutuhan konsumsinya. Problem dasar penggunaan bioenergi ini memang pada tidak seimbangnya kecepatan produksi dan konsumsi.
Menanam pohon dan proses produksinya memerlukan waktu berbulan-bulan. Tapi, menghabiskannya bisa hanya dalam waktu beberapa hari saja. Karena itu, butuh lahan yang sangat luas untuk mengimbangi kecepatan konsumsi tersebut.
Penggunaan teknologi bioenergi atau biomassa ini diarahkan hanya kepada pema-kaian-pemakajan skala rendah. Misalnya untuk skala rumah tangga, atau penggunaan-peng-gunaan pada teknologi transportasi, atau teknologi tepat guna. Potensinya diperkirakan 49,8GWatt, tetapi kapasitas terpasang yang sudah ada adalah 302 MWatt. Ini juga kecil sekali dibanding sumber energi lainnya.
II.3.5 Pemanfaatan Tenaga Surya (Matahari)
Tenaga matahari juga tersedia secara melimpah di Indonesia. Tidak ada masalah jika ini mau dikembangkan dalam skala lebih besar. Masalahnya bukan pada tidak tersedianya tenaga matahari, melainkan efisiensi sel matahari agar bisa diaplikasikan dalam pembangkitan berskala besar. Selama ini, penggunaan solar sel hanya ditujukan untuk penggunaan dalam skala kecil saja. Karena jika ingin menggunakan dalam skala lebih besar, diperlukan luasan solar sel / panel yang luas sekali dan ini tidak efisienm atau tiddak mungkin.
II.3.6 Pemanfaatan Tenaga Angin
Salah satu negara yang paling banyak memanfaatkan energi angin adalah Belanda. Maka ia terkenal sebagai negeri kincir angin. Sumber energi yang tidak ada habis-habisnya itu digunakan untuk menghasilkan listrik yang menghidupkan pompa-pompa air untuk keperluan mengeringkan daratan mereka yang berada di bawah permukaan air laut.
Penyatuan sejumlah kincir angin bisa menghasilkan daya listrik yang cukup besar. Indonesia bukanlah tempat yang mempunyai aliran angin yang besar dan konstan, oleh karena itu jumlah dan daya yang dibangkitkannya mungkin tidak bisa terlalu besar. Potensinya di Indonesia kira-kira hanya 9,3 Gwatt dan kapasitas terpasang baru 0,5 Mwatt. Besarnya tak seimbang dengan kebutuhan kita secara nasional.
III. Kesimpulan dan Saran
Dari uraian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa:
1. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan batubara adalah merupakan alternatif terbaik diantara semua pemanfaatan sumber energi yang tak terbarukan maupun yang terbarukan, jika mempertimbangkan ketersediaannya di Indonesia yang besar dan masih dapat lebih dari 140 tahun. Akan tetapi mengingat pencemaran lingkungan yang serius jika dikembangkan secara besar-besaran, maka pengembangan PLTA batubara besarannya perlu ada batasnya, sehingga mungkin tak akan bisa memenuhi Target Pemerintah 32,7% tahun 2025 (lihat Grafik 2 di bawah)
2. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan minyak jelas akan mengalami kesulitan yang serius ditahun-tahun yang akan datang mengingat kelangkaan di seluruh dunia dan harganya yang tinggi, dan akan naik terus. Sehingga dikhawatirkan Target Pemerintah 26,2% tahun 2025 tak bisa dipenuhi (lihat Grafik 2 di bawah).
3. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan Gas Alam (gas bumi) merupakan alternatif Energi yang paling bersih, namun tampaknya Pemerintah sejak waktu yang lampau sampai sekarang, tidak serius mengembangkannya, karena pertimbangan ekspor ke luar negeri bagi bangsa lain mungkin dianggap lebih menguntungkan atau sukar untuk dirubah. Dengan demikian Target Pemerintah 30,6% tahun 2025 disangsikan bisa terpenuhi (lihat Grafik 2 di bawah)
4. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan air, tak bisa banyak dikembangkan lagi karena rusaknya ekologi di Indonesia yang menjadi lebih parah dari waktu ke waktu.
5. Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan panas bumi masih dapat dikembangkan sampai batas maksimal potensinya, walaupun besarannya nanti hanya berkisar 6 persen dari seluruh Pembangkit Tenaga Listrik, tetap tak akan dapat mencukupi kebutuhan kita tahun 2025 nanti.
6. Pembangkit tenaga Listrik menggunakan energi terbarukan yang lain yaitu Mini Hydro, tenaga Angin, Bio Massa dan Tenaga Surya, sumbangannya akan terlalu kecil walaupun nanti dikembangkan secara maksimal
Saran-saran yang dapat kami kemukakan adalah:
1. Oleh karena alasan–alasan tersebut di atas Pembangkit Tenaga Listrik Nulir tidak boleh tidak harus dikembangkan dan dibangun di Indonesia, karena sifat-sifatnya: daya yang dibangkitkan sangat besar, pencemarannnya rendah, dan sumbernya berkelimpahan, dan bakal tak pernah habis. PLTN ini harus segera dibangun, mengingat skedul pembangunanya yang lama, yaitu 10 tahun mulai dari keputusan membangun sampai operasinya (sesuai Roadmap yang ada dalam Blueprint Pengelolan Energi Nasional 2005-2025).
2. Jika pembangunan lebih dari satu unit di lokasi yang sama tak mungkin, harus segera dibangun di lokasi lain.
3. Pentargetan Pemerintah Indonesia dalam Blueprint Pengelolan Energi Nasional 2005-2025 untuk PLTN hanja 1,993% di tahun 2025, seperti terlihat dari Grafik 2 tersebut di bawah, diperkirakan tidak cukup besar bagi pemenuhan seluruh tenaga listrik di Indonesia pada tahun 2025 nanti.
4. Rencana Pemerintah mengenai Energy-Mix yang digambarkan dengan Grafik1 sampai dengan 2010 dan Grafik 2 untuk 2025 tampak tidak konsisten, sehingga koreksi dalam perencanaan dan pelaksanaanya perlu dilakukan.

Source:
Paper - Ir. Nanang S. Soetadji, IPM
Diskusi Panel “Persimpangan Jalan Pembangunan PLTN di Indonesia”
Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan
Jakarta, 28 November 2007
