baliant
Sep 25 2008, 09:53 AM
Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.
Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.
”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.
”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.
Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.
Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.
Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.
”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.
Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.
”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.
Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.
”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.
Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia
Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.
”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.
Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya
nice_peeniz
Sep 26 2008, 12:37 PM
Woow.... keren bo', gwa salut neeh ama orang tionghoa yg satu ini, walopun bkn warga pribumi asli tp rasa kebangsaannya tinggi, daripada orang pribumi asli tapi jd budak bangsa asing (kayak pejabat2 kita tuhh..)
boy1007
Sep 26 2008, 01:03 PM
Salut untuk Pak Liem... Sayang tidak ada pejabat Indonesia yang peduli ama pioner..
nakajima
Sep 26 2008, 06:11 PM
namanya juga "itulah indonesiaaaa...."
Ordinary People
Sep 26 2008, 06:17 PM
oom liem balik kesini doonk,tapi harus mau di gaji pas-pasan

potensi orang jenius di indonesia gw pikir yg tertinggi di asia tenggara,tul gaK??
inDeNaTioN
Sep 26 2008, 08:12 PM
wah bro ternyata punya banyak stok untouch facts tentang indonesia...
gue miris banget dengan pemerintah kita karena putra-putra bangsa yang pada hebat-hebat justru dimanfaatkan oleh bangsa lain. mereka di beri segala fasilitas yang membuatnya bertambah kreatif.
miris benar negara ku ini..
m3t4l
Sep 26 2008, 11:18 PM
kalau Oom Liem tinggal di Indonesia, pasti tiap kali menemukan barang baru langsung dijadikan komoditas politik
bulcomb
Sep 29 2008, 08:54 AM
[quote name='baliant' date='Sep 25 2008, 09:53 AM' post='1059396004']
Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.-
------
Wah kalo bisa diaplikan ke KOHUDNAS kita asyik banegt nih...tapi katanya radar kita sudah banayk yang tidak berfungsi dengan baik ya? hanya yang di sekitar Natuna dan Makassar aja yang OK
Yang dipiara di Indonesia mah cuman orang yang Ahli Korupsi, Ahli Ngejilat, Ahli Adu domba, dsb, yang ahli2nya positif mah di buang ke luar negeri....... nasib
Ken Arok
Oct 6 2008, 05:21 PM
QUOTE (m3t4l @ Sep 26 2008, 11:18 PM)

kalau Oom Liem tinggal di Indonesia, pasti tiap kali menemukan barang baru langsung dijadikan komoditas politik
Setuju bro,bisa - bisa parpol "berkendaraan" radar,memang itulah Indonesia.
cikosenzki
Oct 7 2008, 02:29 AM
hm,mmm rugi balik ke indo ngapain untuk makan juga katynya nga cukup
upilwangi
Oct 7 2008, 04:29 PM
Top..salut ya kalo liat masih ada orang yg sangat cinta dgn negara indonesia ini...( jadi terharu )
henndri
Oct 11 2008, 03:30 PM
QUOTE (baliant @ Sep 25 2008, 09:53 AM)

Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.
Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.
”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.
”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.
Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.
Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.
Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.
”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.
Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.
”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.
Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.
”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.
Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia
Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.
”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.
Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya
Nggak disangka ada putra bangsa indonesia yang hebat ............ bereputasi kelas dunia ..... Salut
ritz
Oct 16 2008, 11:45 AM
Putra Indonesia yang hebat selalu ada...
muhacakep
Oct 18 2008, 09:01 PM

kyakna TNI wajib rekrut ni orang yach
bendot20
Oct 24 2008, 09:04 AM
Kayaknya pemerintah harus bisa memanfaatkannya
semisal utk ngerancang radar yang akan dipakai ama TNI
kan bagus, biar kita nggak tegantung trus ama luar
Arvianto
Oct 24 2008, 09:16 AM
bung, bung baliant, terima kasih infonya
oh ya yang bikin petronas juga orang Indonesia loh,,,
ngapain malingsia bangga yah....
kita punya banyak yang membanggakan cuma jarang dipublikasikan
mungkin pemerintah harus memeperhatikan
travianista
Feb 17 2009, 10:18 AM
nice artikel bos...
doublefun
Feb 18 2009, 09:18 AM
Banyak orang pinter di Indonesia, tapi sayang jarang yang dihargai...akhirnya lari deh ke negeri tetangga
rekti_badut
Apr 8 2009, 02:59 PM
kenapa ya orang2 indonesia yg pinter malah pd nyari gawe di luar nagri??
tanya kenapa??
dodger
Apr 8 2009, 08:31 PM
di luar negeri penghasilannya setimpal m ilmu yang dia tularin, di Indonesia hanya d hargai m piagam atau penghargaan aja, g jamannya lg kyk gitu, jgn dulu balik deh om, salut buat om Liem yg masih ngingat tanah kelahirannya...
dodger
Apr 8 2009, 08:31 PM
di luar negeri penghasilannya setimpal m ilmu yang dia tularin, di Indonesia hanya d hargai m piagam atau penghargaan aja, g jamannya lg kyk gitu, jgn dulu balik deh om, salut buat om Liem yg masih ngingat tanah kelahirannya...
blovotec
Apr 13 2009, 05:08 PM
Karena low mrka di indonesia gajix cma ckup wat bli lotek doank,trus jasa mrka paling digunain wat yang negatif2 doank....makanya mrka lebih milih di luar,karena di luar mrka menghargai orng2 yang berbakat,meskipun itu bukan warga negaranya
syendri
Apr 13 2009, 07:12 PM
salut buat orang seperti om liem....
bagai ma aapa bila orang seperti dia bekerja dan mengajarkan ilmu a kepada masyarakat indonesia pasti hasilnya sangat baik buat bangsa kita..
tapi sayang orang seperti om liem bakal susah kalau ada di Indonesia
karena pemerintah dan kita orang indonesia jarang yang bisa menghargai orang seperi beliau...
aq yakin itu yang menyebabkan BJ. Habiebie hengkang dari Indonesia..
wasgone
Apr 16 2009, 05:10 PM
salut buat om liem
manukoto
Apr 16 2009, 07:30 PM
proud to be Indonesian
alunk
May 7 2009, 10:52 PM
hebat doi..low profile...kenapa banyak skali anak bangsa yang pintar tapi tak dipergunakan untuk memajukan negeri ini malah pejabat terkesan membodohi rakyat demi kekuasaan...bedebah!!
Lee Oskar
May 7 2009, 11:20 PM
namanya agak2 chinese gt yah?
ada nama Jawa nya ga mas? misalnya Sumanto gt... ;)
gasspoll
May 8 2009, 12:58 AM
... Indonesia memang punya banyak SDM yang hebat... Salut om Liem.
seamber
May 8 2009, 01:03 AM
@Lee Oskar
itu mah lain dari yang lain,wokwokwo,di luar negri juga gak ada mak erot... coba indo... hahaha
endos_gandos
May 13 2009, 01:09 AM
Pernah liat wawancaranya di metro,nie orang pinter abis..pernah inget kata2nya"Sebenarnya banyak penemu2 dunia yg berasal dari Indonesia,tetapi sayangnya Indonesia tidak memberi respect terhadap dunia Iptek.Itulah sebabnya mengapa banyak penemu2 kita yg pindah keluar negeri.Karena disana mereka jauh dihargai"Bener juga sih kata beliau,gw prnh dikasih tau ma guru Bhs.Jerman gw,klo Pak habibi di jerman sana terkenalnya ampun2nan+katanya anaknya pak habibi ketja di NASA(bener gak??)Oiya sekedar info tambahan aja,Buat yg pake NOKIA,kan ada fitur AIR NOKIA kan?Nah itu yg nemuin juga orang indonesia,skrg dah pindah di singapore.Aduh INDONESIA,hargai donk temuan2 putra-putrimu
xraylite
Jul 2 2009, 07:05 PM
even not native but born in indo
mariorpl
Jul 8 2009, 05:33 PM
bangga q jd warga indonesia
udinputrakelana
Jul 10 2009, 03:45 PM
kenapa selama ini kurang di expos ya orang indonesia yang ahli di bidangnya..?
radityz
Jul 19 2009, 06:00 AM
saluut ama om liem
smoga tambah banyak orang kayak om liem
cahbiroe
Aug 1 2009, 12:35 PM
cm satu kata bwt negeriku..IRONIS..!!
PISS...
Valendino
Aug 2 2009, 04:18 PM
kereeen..
sfjr07
Aug 4 2009, 11:46 PM
indonesia bisa
yanno
Aug 6 2009, 03:01 PM
wahhh...napa ga dijadiin mentri aja yack....
Crusader90
Aug 14 2009, 05:50 PM
seandainya semua orang indo seperti om lim yg chinese ini pasti maju negara tercinta kita
aikbj
Sep 1 2009, 12:08 AM
wah-wah...mangstab juga rupanyah. Thks bro inponyha
unta di balik bukit
Sep 1 2009, 06:55 PM
Wong Lawu
Sep 13 2009, 10:12 PM
Sodara2 benar n bro baliant info yg bagus
Kalo saja pemerintah mau dikit aja nengok putra-putri bangsa yg punya kepintaran, kemudian bersama-sama dg mereka membangun indonesia raya tercinta ini, kaya'nya sudah cukup.
Panggil pulang mereka, berikan tempat bagi mereka utk berkarya seluas mungkin.
Indonesia ga' perlu import senjata, pesawat tempur/komersil, peralatan pendukung pertahanan keamanan dll.
beruang99
Sep 20 2009, 09:31 PM
slut buat pak liem rasa kebangsaanya luar biasa!!
financebbs
Sep 22 2009, 10:39 AM
Sayangnya di negeri kita yang tercinta ini, kemampuan kurang begitu dihargai, sehingga banyak putra bangsa kita yang justru mencari makan di negeri orang
ardaluz
Oct 1 2009, 11:37 AM
dua jempol buat om liem.....
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please
click here.