Help - Search - Members - Calendar
Full Version: cukup kita berdua
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
misscla
Pertama, kau harus tahu. Di kota ini tak ada lagi yang namanya toleransi, apapun bentuk dan wujudnya. Sejak diberlakukannya peraturan terbaru itu, mata tak lagi sempat melihat kemana perginya becak becak, sepeda ontel yang dikayuh si Abang, juga delman yang biasanya hilir mudik di depan pasar Maestro.

Ya, itu baru sekilas gambaran mengenai kota ini. Kota tempat ku dibesarkan. Belum lama aku menetap disini, setelah lama tak kembali dari negeri kangguru untuk menuntut ilmu. Ahh.. kangen sekali rasanya setiap bertemu para penjual itu menyajikan makanan khas daerah ini.

Aku melirik jam tangan ku. Pukul sebelas siang. Agaknya, kawanku ini sedikit telat dan molor dari perjanjian. Sepuluh menit sudah berlalu. Aku mulai menunggu dengan gelisah. Kalimat kalimat yang tadi telah tersusun rapi di otakku mulai lepas dari ingatan satu per satu. Apa adanya saja lah. Toh tak perlu terlalu formal bukan untuk menyambut kedatangan seorang teman yang lama tak bersua.

Tidak sedetik pun mataku terlepas dari gang bakmie si Akang. Harusnya, temanku sudah muncul dari gang itu dua puluh menit yang lalu. Baru saja akan kuraih ponselku untuk menghubunginya, sebelum sosok itu keluar sambil melambaikan tangan padaku. Entah apa maksudnya, yang jelas aku tahu dia telah berdiri disana.

Pertemuan kami memakan waktu yang tidak terlalu lama. Ia harus pergi ke rumah ibunya, dan minta kuantarkan pula. Sebenarnya, bukankah belum cukup lama pertemuan kita Ri? Tak tahukah kau betapa ku menanti hari ini? Tetapi, aku tak ingin mengawali siang ini dengan kericuhan, maka kuputuskan untuk mengiyakan saja kemauannya.

”Baiklah, Ri. Kau tahu aku tak pandai menolak.” ucapku diselingi tawa.

”Itu gunanya jadi orang pintar, kan? Karena aku tahu kamu, sayang.”

Sesampai di tujuan, aku bermaksud untuk langsung pamit. Tapi, Rino sudah keburu menarik aku masuk ke dalam. Kuamati sejenak, rumah itu cukup besar, dengan ukiran seni khas bali yang membuat ruang tamu terlihat agak ’jreng’ di mata. Belum lagi dengan lampu remang remang di berbagai sudut ruangan yang bukannya membuat suasana terasa nyaman, namun lebih menonjolkan aspek ’mistis’ dari sang empunya.

”Sudah, Ri. Aku pulang saja. Banyak urusan.” aku mulai beralasan. Biasanya jurus yang satu ini cukup ampuh di telinga Rino. Tapi, sepertinya kali ini tidak.

”Apa? Mana bisa sih? Ini kan hari penting. Kamu harus bertemu ibuku.”

Oh, Tuhan.. tak ada yang bisa kujadikan alasan lagi sekarang. Rino bermaksud memperkenalkan kekasihnya ini pada Ibunya. Apa kata orang nanti? Kudengar ibunya sudah dua kali terkena serangan jantung. Dan kurasa, saat ini bisa menjadikannya tiga kali setelah ia mendengar langsung pengakuan dari si anak yang akan segera melangsungkan pernikahan sesama jenis ini.

”You know, she’ll never walk you to the aisle, dear.”

“Well, I’ll try, honey. I know you really want this.” ucapnya sambil tersenyum.



Pembicaraan itu terakhir kalinya kubersama Rino. Ibunya memang tak pernah menyetujui hubungan kami. Ya, kurasa ibu manapun di dunia ini tak ingin anaknya menjadi seorang gay. Tentunya, mereka tak pernah mengharapkan anaknya terlahir seperti itu.

Kini, aku masih tetap sendiri. Walau kata orang ini semua klise. Tapi itulah faktanya yang tak pernah bisa kuubah. Pertengkaran hebat di rumah Ibu Rino saat itu tak pernah kubayangkan akan begini jadinya. Rino pergi dan tak pernah kembali.

Malam itu hujan terus turun. Tak kalah derasnya dengan mataku yang telah sembap dihujani air mata yang tak henti hentinya mengalir. Aku benar benar menyesali kepergian Rino malam itu. Walau orang orang selalu menghiburku dengan dalih untuk kebaikan kita berdua. Tapi aku tahu, karena aku merasakannya. Aku tak pernah merasa ada yang salah dengan keberadaan kita. Sekalipun dikatakan itu adalah dosa, tapi dosa tetaplah dosa. Dan tak akan ada yang bisa mengukur sejauh apa dosa itu.

Aku tak melanggar aturan. Aku tak merugikan orang lain. Karena hanya aku dan Rino yang merasakan betapa pedihnya hidup dalam jeratan yang digunjingkan masyarakat.

Dan kini, setelah 6 tahun berlalu. Aku tak pernah merasakan badai endorfin yang sama, seperti saat aku bertemu dengan Rino untuk pertama kalinya.

Jika saja aku masih dapat memutar balik waktu dan berkata,

”Kau tak perlu meminta pada Ibumu. Cukup kita berdua saja.”
~Lee Hom~
Sebuah Cinta Yang Terlarang smile.gif sering Kali Kita Menghina Mereka Tapi Ga Tau Bagaimana Perasaan Mereka smile.gif
Biarlah Cinta Itu Cukup Mereka Berdua Yg Menjalankan Yang Tahu smile.gif
boyandi
cinta hanyalah untuk berdua karena cinta kita yang menjalani bukan orang lain tongue.gif tongue.gif
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.