Help - Search - Members - Calendar
Full Version: [cerpen] MayBe
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
1sty
I wrote this story sekitar akhir tahun 2002-an. Cerita aslinya sih panjang banget, tapi diedit sesingkat mungkin. Mudah-mudahan masih up to date. Tapi masalah percintaan sih kayaknya gak bakalan pernah basi ya? hehe..
PS. yg namanya Andre, jgn geer yaaa namamu kupake! hehehe.. (asli ini tulisan gak aku edit lagi sejak 2002 itu)


Maybe

"Aaargh!" May mendengus kesal. Dia menggenggam kuat-kuat HPnya. Baru saja dia menutup telepon dari kekasihnya, Beno. Mau marah rasanya! Lagi-lagi, Beno menolak diajak keluar. Padahal ini hari Sabtu. Seharusnya ini weekend yang bisa dinikmati bersama. Akhirnya, May menelepon Tia. "Hai 'Ya! Lunch. Platinum. Pelangi. Sekarang!" May nyerocos begitu Tia mengangkat panggilan teleponnya. Di seberang sana, Tia tertawa geli. "Loe lagi bete ya, girl? Okay, I'll be right away," kata Tia menutup pembicaraan. Beruntung, May memiliki sahabat sebaik Tia. Tanpa banyak bicara, Tia mengerti sifat May. Demikian pula sebaliknya.

Di Platinum, May malah tidak bisa makan sama sekali. "I don't think I can digest anything right now," ujarnya. Dia hanya memesan minuman dingin. Tia menggeleng-geleng. "Soal Beno lagi ya?" tanya Tia. May tidak bereaksi. Tapi Tia tahu. Beno adalah seorang pria mandiri yang sedang merintis usahanya. Beno rajin sekali mengurus bisnisnya. "May, sabar aja kali. Harusnya loe ngedukung kan? Dia bekerja kan untuk masa depan kalian juga! Ngejar setoran, gitu!" hibur Tia. "Iya, tau. Udah ah, gue malas ngebahas!" May mengibaskan tangan kanannya, tanda tidak ingin dibantah lagi. Untuk sesaat, mereka hanya terdiam sambil menunggu pesanan mereka datang.

"Sebenarnya gue suntuk banget! Sebel tau. Tadinya gue mau ngajak Beno nonton malam ini. Kan malam minggu, 'Ya! Eeh, dia kabur lagi!"
"Kaburnya juga kan untuk kerjaan.." Tia menetralisir.
"Iya sih. Gue cuma kuatir aja ama jadwal dia. Cari uang boleh aja, tapi nggak ada salahnya kan ambil break dikit untuk hiburan. Soalnya, efeknya jadi tegang terus ke hubungan kita," tutur May.
"Tegang gimana?"
"Sekarang dia jadi serius banget. Dikit-dikit ngomongin bisnis."
"Ya, mungkin karena loe pacarnya, jadi dia mau share ama loe kan?" kata Tia bijak.
"Sebenernya gue ngerti. Tapi kan gue juga masih mau dong dia kayak dulu lagi. Rasanya udah lama banget dia nggak ngerayu gue!" dengus May.
"Hah? Emangnya Beno bisa ngerayu?" Tia terbelalak, "yang gue tau, Beno kan cowok terdingin di dunia!"
"Dingin kan dari luar aja. Nggak tau aja loe, di dalamnya dia. Cuma gue dong yang tau," May tersenyum. Ah. First smile of the whole day!

"Sebelum dia gila kerja gini, dia masih sering bilang 'I love you' gitu. Sikapnya juga masih mesra. Bahkan kita sering surat-suratan..."
"Surat-suratan?" potong Tia, "hari gini?" May mengangguk sambil memanyunkan bibir. "Yah, walaupun cuma sepotong memo yang ditulisin 'have a nice day, baby. I love you' gitulah," jelas May. "Ceilaaah. Ternyata kalian mesra bener, ya?" Tia terkekeh. Walaupun May sahabatnya, dia jarang cerita tentang Beno selain hal-hal umum. Memang ada teritori yang tidak bisa ditembus sebagai sahabat sekalipun. Tapi, karena mereka saling menghargai privacy masing-masing, hal itu tidak menjadi kendala. Justru malah membuat mereka lebih akrab.

"Terus, Andre gimana?" Tia memecah keheningan. Alis May terangkat. "Andre?" Tia mengangguk. "Bukannya loe dekat juga ama dia? Sori nih, bukan maksud gue ngajarin loe selingkuh, gue tau loe paling anti selingkuh. Tapi diliat-liat, Andre lebih perhatian deh sama loe, daripada Beno?" ujar Tia. May terpekur. Untuk sesaat, pikiran May melayang.

Dia memang baru dua bulan mengenal Andre. Cowok yang aneh, menurut May. Dia kenal Andre justru di toko buku. May kaget sekali, waktu itu tiba-tiba Andre mendekatinya dan memperkenalkan diri. "Hai, saya Andre. Itu kalau Anda tertarik mengetahui nama saya," kata Andre waktu itu. May melotot. "Jangan takut, saya nggak jahat kok. Hanya ingin kenal gadis cantik seperti Anda," Andre menundukkan kepala hormat. May masih menatapnya, bingung. Cowok ini lumayan manis, gagah. Style-nya casual tapi tampak dewasa dan berwibawa. Meski begitu, May merasa kurang suka.

"Maaf, saya nggak berpikir anda ini cewek gampangan," kata Andre buru-buru, melihat May hendak melangkah pergi. "Saya hanya cowok nekat dengan pede tinggi yang berpendapat kalau Anda adalah cewek yang menarik, sehingga membuat saya ingin mengenal Anda!" May tercengang dengan kengototan Andre dan ketegasan di suaranya. Pria ini pasti bukan pria sembarangan! Untuk pertama kali dalam hidupnya May merasa gentar. "Maaf kalau saya tidak menemukan cara lain untuk berkenalan, tapi saya bukan cowok nakal. Hanya nekat, itu aja!" Suaranya tegas namun tetap ramah.

"Saya nggak akan maksa. Hanya saja, lebih menyenangkan kalau Anda bersedia menerima saya sebagai teman," kilah Andre. "Apakah begitu penting untuk menjadikan saya teman?" tanya May agak judes. "Tentu saja! Karena saya sangat tertarik pada Anda, siapa tahu Anda bisa jadi pacar saya," ucap Andre blak-blakan. May terbelalak. "Keberatan?" tanya Andre, lebih lunak sambil menyodorkan tangan. Setelah berpikir sejenak, May menyambut tangan Andre, "Malida." Pria itu tersenyum hangat. Dalam hati May mengakui, dia agak grogi menghadapi Andre yang berwibawa ini. Padahal biasanya May percaya diri dan tidak pernah ragu-ragu.

Setelah itu, Andre rajin menelepon May, berkunjung ke tempat kostnya, bahkan mengantar dan menjemput May ke kantor. Sikap May yang awalnya bermusuhan, akhirnya jadi luluh. Bahkan May merasa takjub. May melihat ketulusan sikap Andre. Karena, Andre tidak pernah macam-macam padanya. Tapi, mau tidak mau May merasa bersalah pada Beno. Bagaimanapun Beno masih kekasihnya. Di lain sisi, May tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia senang diperhatikan dan diperlakukan seperti Andre memperlakukannya. Rasanya sudah berabad-abad sejak terakhir ada pria yang membawakan sebuket bunga ke tempat kostnya, pagi-pagi buta. May tersenyum sendiri mengingat hari itu. Dia sempat memegang bat baseball-nya, mengira ada orang berniat jahat mengetuk pintu kamarnya pada pukul 4 pagi. Ternyata Andre-lah yang ada di balik pintunya. Tersenyum manis, menyodorkan buket bunga sedap malam yang cantik dan harum pada May. Andre tertawa melihat bat baseball di tangan May. "Woww.. Woww.. Ampuuun.. Aku bukan maling!"

"Kaget! Kirain siapa.. What do you think you're doing?" May melotot pada Andre. Pria itu malah membungkuk sambil mengangkat buket bunganya, "Ampun, tuan puteri. Saya hanya ingin memberi bunga ini!" May memandang Andre dengan perasaan campur aduk. Ada apa dibalik semua ini, apakah Andre punya maksud tertentu? May masih terpaku di depan pintu. "Tolong diterima, Mbak.." Andre membuyarkan prasangka May. Agak gugup, May menerima bunga itu. "Nah, sudah diterima. Tugasku udah selesai. Aku pulang ya.. Bye.." Dengan santai Andre berbalik dan melenggang pergi. Tinggal May yang terbengong-bengong kaget, "Eh, hey, tunggu! 'Ndre!" Andre menoleh, "Kenapa?" Kenapa? Kok kenapa? I can't believe this guy! May takjub dalam hati.

Bagaimana ia harus mengartikan sikap Andre ini? Kelihatannya Andre ada hati padanya, sangat perhatian padanya, tapi begitu santai dan acuh. Ia jadi bingung. "Ehm.. Thank you.." hanya itu yang mampu May ucapkan. "Hey, anytime!" Andre tersenyum manis sekali, lalu melangkah pergi. May hanya termangu mendengar pintu mobil ditutup dan deru mesin perlahan menjauh. May betul-betul bingung.

May juga bingung dengan sikap Beno ketika menemukan buket bunga itu di meja kamarnya. Beno yang biasanya cemburuan kali ini hanya melihat tak acuh pada bunga itu. "Bagus! Beli?" Hanya itu komentarnya! May tak percaya! Biasanya Beno mencecarnya dengan pertanyaan, dari siapa? Apa maksudnya? Dan lain-lain. Tapi kali ini... May sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Beno sudah jarang
menemuinya, menelepon pun dengan nada terpaksa. May mencoba bersabar.

Curhat pada Tia? Tidak. May tidak tega merusak ketenangan rumah tangga Tia. Sahabatnya itu baru menikah beberapa bulan sebelumnya. Pastinya, Tia dan suami tengah bahagia-bahagianya. Lalu, meski tau ini bukan langkah yang bijak, May mulai cerita pada Andre. Mengeluarkan unek-uneknya. May betul-betul tidak tahu lagi harus bagaimana, sedangkan beban di hatinya semakin menghimpit.

"Sabar sajalah," begitu nasehat Andre selalu. "Kalau kamu memang begitu mencintainya, bersabarlah. Kupikir dia bukan jenis pria yang bisa terpecah konsentrasinya. Sekarang ia sedang fokus pada pekerjaannya, jadi cobalah dukung dia, jangan malah membebani dia. Kali ini kamulah yang harus terus memberikan
perhatian." May menuruti semua nasehat Andre. Tapi, begitulah. Semakin May memperhatikan, Beno semakin merasa risih. "Kalau begitu, coba berikan dia waktu sendirian. Mungkin egonya sedang muncul. Biarkan dia mengatasi semuanya sendiri." May kembali menuruti nasehat itu. Dan itu sering membuat May merasa
lebih kesepian.

Meski May memiliki banyak teman dan kesibukan dalam pekerjaannya, tapi tetap saja hanya Benolah yang ia dambakan. Bila perhatian itu bukan dari kekasihnya, tidak akan berarti apa-apa baginya.

Sampai akhirnya May merasa tidak tahan, "Ben, coba jujur padaku. Apa ada wanita lain?" mereka saat itu sedang dinner bersama. Beno memandang May tajam, "Pertanyaan itu lagi? Sudahlah!" "Aku serius, Ben!" May meletakkan gelas minumannya, matanya lekat pada Beno, mencari kejujuran. Wajah Beno terlihat mengeras, dingin. Tidak ada dusta. Tidak ada petunjuk. Tidak ada apa pun. May malah merasa sudah tidak mengenal Beno lagi. "Untuk ke sekian kalinya aku jawab, tidak ada, May! Tolong hentikan kekonyolan ini!" Beno memperlihatkan sikap malas meneruskan makannya. May tertunduk. Ia tahu, semua ini akan berujung pada pertengkaran lagi. Seperti biasanya.

"Semua sikap kamu itu yang bikin aku bingung, Ben! Cobalah tolong aku, buatlah aku mengerti alasannya kenapa kamu menjauh dari aku akhir-akhir ini?" May tidak tahan lagi menahan hatinya. "Tidak ada alasan apa-apa! Aku hanya sedang asyik bekerja, itu aja! Aku harus membuat alasan apa lagi? Apa yang ingin kamu dengar?" Beno berusaha tetap memelankan suaranya. "Kejujuran. Hanya kejujuran!" tubuh May mendekat pada meja, ke hadapan Beno. "Aku sudah mengungkapkan kejujuranku. Tidak ada wanita lain. Jangan mikir yang tidak-tidaklah! Lagipula aku udah capek bertengkar terus, May!"

......bersambung...... smile.gif
shankz
woi...woi......bro....sambungannya donk.......
1sty
hehehe.. sabar yaaa.. nanti akuw tulis lagi klo mood-nya udah keluar lagi. Ok?

btw, aku bukan bro. aku sis. BigGrin.gif
shankz
sori2 dah manggil bro......
wah.....wah.......dah 1 bulan blom keluar ya sis moodnya???
s4mu3l
wah bagus banget Tounge.gif lanjutan donk
bukan cerpen nih Tounge.gif cerbung Tounge.gif cerita bersambung

^^

apa yg terjadi nih ma may , beno n andre Tounge.gif cinta segitiga kah Tounge.gif
Jackyboy
bagus bro...

keep posting...
Bonks
love story nigh

thx sis

keep posting yah
debest
ga ada sambungannya ya??hiks2
dezagga
2 tahun berlalu,

belum keluar jg sambungannya

kan kasian, cerita bagus begini...

perlu dibantuin cari mood?
manrebale
pengarangnya lupa menyambung ceritanya nih...
aku aja yang sambung ahhh...


Karena May tidak diperhatikan lagi sama beno, May memutuskan bunuh diri. Dia naik ke atas monas dan melompat ke bawah.
setelah kematian May, Beno menyesal telah kecanduang kerja sehngga melupakan May. Untuk menebus kesalahannya, Dia mengikuti jejak May. Naik ke atas Monas, lompat ke bawah dan Mati.

TAMAT
apatis
bukan gitu cerita di tokokh cerita di dalem ini aja si penulis...
jadi dia nunggu kekasih nya apa kelanjutan nya.....
sementara di pending dolo deh ....
wkwkwkwkwkkw
richisamudra
klu mau lanjutannya, mesti beli ya...
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.