Kedua bola mata itu terus memandangi keranjang bunga yang terletak di pinggiran jendela kamar rawat inap yang telah sebulan resmi menjadi ‘rumah’ barunya. Berpuluh puluh kuntum bunga mawar yang sedang menunggu nasib menanti ajalnya. Mawar-mawar merah yang telah layu termakan usia, seperti bunga bangkai yang masih menjadi pajangan di museum, diabadikan di pinggir jendela. Entah untuk apa pemandangan seperti itu dilihat, bukankah bunga yang busuk tak lagi mempertunjukkan aura keindahannya? Ya, mungkin senasib dengan perempuan itu yang kini hidup dalam kesenduan, bersatu dengan si mawar layu itu, yang seolah menjadi panutan hidupnya di kala ia jatuh kini.
Sebulan lamanya ia tertidur di ranjang kaku dengan infus dan berbagai alat bantu napas yang menjadi tumpuan harapannya untuk dapat terus hidup. Untuk terus dapat melihat mawar layu itu di pojokkan jendela, satu-satunya hiburan yang tersisa bagi gadis itu. Walau tak lagi tercium bau semerbak layaknya mawar segar yang terpampang di balik kaca toko bertuliskan ’florist’, terkadang ia masih menggenggam beberapa kuntumnya, berharap menemukan keajaiban disana. Karena ia pun menunggu keajaiban dari sang Pencipta, seperti sang mawar yang menanti keajaiban untuk dapat kembali segar lagi.
Sekeranjang mawar yang diletakkan oleh Milton sebelum ia pergi meninggalkan Nissa yang saat itu terbaring di rumah sakit, tak membawa perubahan banyak. Ia bukanlah obat, ataupun aromaterapi yang niscaya dapat menyembuhkan penyakit. Itulah yang membuat keadaan berteriak memohon keajaiban bagi ruangan yang tak lagi berjiwa itu. Tak lagi ada kobaran semangat disana, tak ada pula sinar yang memancarkan kebahagiaan di hati Nissa.
Tak terhitung sudah berapa kali kepanikan melanda karena gadis itu sering tak sadarkan diri dan tergolek di lantai, bukan di ranjangnya lagi. Membuat para perawat bertanya-tanya dalam kebingungan mereka, mengira-ngira gambaran yang masih mungkin terjadi, sambil memunguti beberapa tangkai mawar yang telah berserakkan kelopaknya di lantai. Tak ada saksi mata disana... para perawat terlalu sibuk untuk dapat meluangkan waktu, menjaganya secara intensif 24 jam. Hanya mawar-mawar yang nyaris menjadi bangkai itulah yang menyaksikan dan menyimpan rahasia sesungguhnya.
Dua minggu telah berlalu, menandakan gadis itu telah 1,5 bulan dirawat disana tanpa ada kemajuan ataupun kabar baik mengenai kondisi tubuhnya. Ia tetaplah gadis yang sama seperti saat ia pertama menempati ruang itu. Yang berubah hanyalah perasaannya, suara hatinya, dan dirinya yang kian tak berdaya di tengah keputus asaannya. Berhari-hari ia menunggu, menunggu keajaiban... menunggu kepulangan Milton untuk menjenguknya, menunggu keluarganya yang hilang ditelan tsunami untuk kembali ditemukan.
Ia terlalu banyak menunggu, sementara tak ada yang menunggunya. Tak ada yang menaruh simpati padanya, menghiburnya, mendoakannya, mengucapkan ”cepat sembuh” padanya. Ia bukan siapa-siapa, dan tak punya siapa-siapa kini. Ia hanya hidup dalam kesendiriannya. Berdoa dan menanti penuh harap dalam kehancurannya.
Di tengah malam, dalam rintikkan air hujan, semua orang tengah tertidur lelap dengan iringan musik alam itu. Tapi, tidak dengan Nissa, yang menciptakan hujan tersendiri di balik kedua bola matanya yang telah berkaca-kaca. Perlahan dan dengan hati-hati ia lepaskan kabel-kabel yang selama ini melilit tubuhnya, berjalan tertatih-tatih menuju pojokkan jendela. Ia segera menghampiri keranjang coklat yang masih menyisakan satu tangkai mawar di dalamnya untuk Nissa. Satu buah kenangan terakhir dari Milton yang akan selalu ia kenang.
Sayang, sebelum tangannya sempat menyambar tangkai yang terakhir itu, ia terjatuh dan tergolek di lantai, dan untuk kesekian kalinya ia mencoba, selalu saja berakhir dengan dirinya berada di ruang UGD. Tapi, tidak dengan yang kali ini, ruang UGD bukanlah tempat yang tepat untuk menyelamatkan jiwanya kembali.
Satu tangkai mawar yang tersisa di keranjang, tak berhasil di sentuhnya. Satu harapan terakhir yang tak berhasil diraihnya. Satu kenangan terakhir Milton yang tak pernah ia miliki. Dan satu keajaiban yang telah terjadi, mengubah nasib gadis itu selamanya, menanggalkan jiwanya yang telah mati, membuka matanya saat terang memenuhi jiwanya dengan kebahagiaan yang selama ini ia dambakan, dan kini ia nikmati dirinya dengan halusinasi yang menjadi kenyataan. Ia dapat membayangkan keluarganya disana, tersenyum untuknya terakhir kali. Itu sudah cukup.
Dan sesaat kemudian,
Hujan pun turun. Tak lagi dalam wujud gerimis.
07/10/08