INILAH KEHIDUPANKU
Kilauan cahaya sang mentari pagi membangunkanku dari tidur, tidur yang dipenuhi oleh mimpi-mimpi indah, membuat yang merasakan dibuat terlena seakan tak mau pergi dari dunia bawah sadar itu. Sungguh mimpi indah dengan sejuta kemegahan dan kebahagiaan yang tak akan kudapatkan dari dunia nyata. Sang cahaya dapat masuk kekamarku, seperti seorang pencuri tanpa permisi mengendap-ngendap ingin mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. dari lubang-lubang dinding kamar bagaikan sebuah kamar terkena tembakan oleh serdadu amerika karena diduga menyembunyikan bom pembunuh massal didalamnya.
Aku sungguh-sungguh malas untuk beranjak bangun, ingin terlelap kembali melanjutkan mimpi indah yang terusik oleh sinar mentari yang tidak mengerti perasaanku ini. Tak hilang akal aku bergeser ke kanan dari posisi semula walaupun dibibir ranjang asal tidak kena cahaya matahari tidak masalah.
Ayah disampingku berkosentrasi menyetir mobil, pandangannya tertuju kedepan dengan teliti memperhatikan jalan, memakai jas hitam dengan dasi terpasang rapi, rambut pendeknya tersisir dengan rapi, bau harumpun menyelimutinya. Aku sedang asik memainkan game terbaru di handphone dan sekaligus mendengarkan lagu favorit melalui headset. Tak beberapa lama kemudian sampailah mobil kami didepan sekolahku, kucium tangan ayah dan ia mencium keningku lalu kuucapkan salam, ayah membalasnya kemudian tersenyum padaku. Kubuka pintu mobil, setelah aku turun dari mobil. ayah melaju bersama mobilnya meninggalkanku menuju kantornya
Mengapa sekolahan hari ini terasa hening sekali, apakah aku sudah terlambat aku bertanya Tanya sendiri dalam hati, ku lihat jam yang terpasang dilengan kiriku masih menunjukkan pukul 07.00 wib, seharusnya masih ada 15 menit lagi, tak ambil pusing kulangkahkan kakiku menuju pintu gerbang sekolahan, kulihat pak Parjo satpam sekolah kami duduk dengan kepala menunduk, apa Pak Parjo masih mengantuk tanyaku dalam hati, tapi selama ini dia tak pernah berbuat demikian. Pak Parjo selalu berdiri didepan pintu gerbang dengan ramah senyumnya beliau menyapa kami dan menyuruh kami cepat-cepat masuk apabila jam sudah menunjukkan pukul 07.10 wib. Mungkin saja pak Parjo sedang ada masalah dengan keluarganya, fikiranku yang lain timbul untuk menjawabnya.
Melangkah maju di keheningan suasana sekolah, kulihat segerombolan anak-anak perempuan berdiri melingkar, badan mereka kaku menatap kebawah seakan ada keajaiban yang sungguh menghipnotis mereka tepat di depan kaki mereka sendiri, kulihat beberapa anak baik yang aku kenal maupun tidak tau namanya hanya berdiri mematung melihat kebawah, seakan dunia ini berhenti berputar. Apa gerangan yang terjadi?? kulihat jam tangan mahalku masih normal berputar seperti biasa, dan sekolah sebenarnya belum masuk kenapa suasana hening begini dan para siswa hanya berdiri mematung. Dengan perasaan yang kacau kuterus langkahkan kakiku, pemandangan serupa menghiasi seluruh sekolahan. didepan sana dekat tangga disamping kelas 3d kulihat Anton, teman baikku berdiri. Tanpa membuang waktu lagi kubergegas menghampirinya,
“ Ton ada apa ini?” tanyaku padanya dengan nada tinggi memberikan ekspresi perasaan takut luar biasa, perlahan-lahan dia mengangkat kepalanya lalu menatapku, aku sungguh terkejut luar biasa tak tergantikan oleh kata-kata, dia menatapku dengan tajam seakan mempunyai hasrat besar untuk memcincangku hidup-hidup, matanya merah dan ditepi-tepi matanya meneteskan darah segar. Dengan secepat kilat ku berlari menaiki tangga menuju ruang kelasku di lantai dua, berharap diatas sana ada kehidupan normal yang dapat kujumpai. Dengan terengah-engah berlari sejadinya,tiba-tiba aku menabrak sesuatu. Seorang gadis kecil tertabrak olehku ditangga, lalu tak beberapa lama kemudian ia menangis yang tangisannya sungguh menyayat hati siapa saja yang mendengarnya, karena merasa bersalah membuatnya menjadi menangis kucoba membantunya berdiri. Saat itu juga jantungku seolah berhenti berdetak, darah didalam tubuhku terasa berhenti mengalir, kulihat wajahnya penuh darah, menetas membasahi tangga sekolah kami. Pada wajah anak kecil itu tampak seperti bekas cakaran harimau berada dikedua belah pipinya. Aku menjerit histeris, dengan refleks kudorong tubuh gadis kecil itu tak memperdulikan lagi apa yang akan terjadi padanya, perasaanku sudah kacau balau. dengan sisa tenaga yang kupunya aku mencoba terus berlari menuju lantai dua.
Aku berdiam sejenak sesampainya di lantai atas mencoba mengatur kembali nafas, dilantai atas ini terasa hening tiada seorangpun disini tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan seolah diriku sedang berada di planet mars. Dengan sedikit ragu-ragu kulangkahkan kakiku menuju kearah kelasku, didepan kelas 4a aku menoleh kedalam ruangan itu, tak hilang rasa terkejutku ditambah adegan Ibu Alwie Mengacungkan Pedang yang bersimbah darah segar di depan murid-muridnya. Aku tak kuasa menahan ini semua berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi, aku berlari menuju keruang kelasku mungkin disana akan ada keajaiban yang kudapatkan. Bukan keajaiban yang kudapatkan, didepan pintu kelasku sudah berdiri Ibu Ani wali kelas kami dengan mata melotot menatapku, tiba-tiba saja mata sebelah kanannya berdarah dan kulihat keluar sedikit demi sedikit dan akhirnya jatuh kelantai, aku tak tahu apa yang mesti harus aku perbuat, dengan cepatnya Bu Ani begerak lari ke arahku dengan hanya memakai satu mata untuk melihatku, dengan refleks yang cepat aku berlari murid-murid didalam kelasku keluar ruangan mengikuti si pemimpin mengejarku, ternyata Bu Alwi sudah berada di depanku, aku tak mau berhenti kuterus berlari selama tenagaku masih ada. Ku berlari di sebelah kirinya mencoba meloloskan diri, tiba-tiba ia mengayunkan pedangnya ke arahku, aku mencoba menghindar tapi naas tangan kananku kena sabetan pedangnya, darahpun mengucur dari lenganku pedihnya menusuk hingga ke ulu hati. Aku tak memusingkan luka ditanganku dan terus berlari menurunin tangga. Sesampainya dibawah orang-orang yang tadinya hanya diam mematung kini mulai bergerak menyerbuku, untung aku dapat lolos dari kejarn mereka. Aku ingin cepat-cepat keluar dari sekolah ini berharap diluar sana ada orang yang akan menolongku. Tetapi ini sungguh tidak sesuai dengan keinginanku karena pagar sudah ditutup dan Pak Parjo sudah berdiri didepannya memegang sabit ala malaikat maut pencabut nyawa. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang tak ingin aku memilihnya didepanku ada Pak Parjo di belakangku Para Guru dan Murid-murid yang mungkin sudah hilang akal sehatnya, seandainya saja aku bias terbang, pasti dengan mudah aku dapat kabur dari pilihan ini. Menangis sejadi-jadinya hanya itu yang bisa kuperbuat. Pak Parjo menangkapku tanpa ampun dia menghujamkan pukulannya kearah perutku, nasi goreng sarapan pagi buatan ibuku seakan ingin keluar kembali. Kemudian tangan kananku dipegang oleh Bu Alwi dan tangan Kiriku di pegang oleh pak Muhtar guru matematika kami, kedua tanganku ditarik seakan mau disalib, pak Parjo mengangkat tinggi-tinggi sabitnya dan ingin menghujamkan kearah dadaku. Aku berteriak sekeras kerasnya, ia mulai mengayunkan sabitnya kearah dadaku.
“Brak” kurasakan kepalaku sakit sekali sepertinya terbentur semen lantai kamarku saat aku terjatuh dari tempat tidur, coba kuraba dan terasa ada sedikit benjolan kecil dikeningku. Nafasku masih terengah-engah seakan habis lari marathon 10 kilometer jauhnya, badanku dipenuhi oleh keringat dan bajuku basah oleh keringatku sendiri. Aku tak percaya dengan apa yang barusan aku alami, kucubit tanganku sendiri menyakinkan bahwa aku sekarang berada didunia nyata ataukah sedang bermimpi. Dan ternyata terasa sakit berarti ini memang dunia nyata dan kejadian mengerikan itu hanyalah mimpi. Masih terngiang-ngiang mimpi yang membuatku hamper mati ketakutan, kucoba tenangkan hatiku kuatur nafasku dan beristigfar. Setelah agak tenang kucoba buang jauh-jauh mimpi yang baru kualami dan tak akan ku mengingatnya lagi biarlah terkubur dialamnya sana, dan tak ada sedikitpun niat untuk menceritakan pada siapapun tentang mimpi buruk ini bahkan pada orang tuaku sendiri atau sahabat karibku.
Wahai mimpi yang kelam
Bersama lautlah engkau tenggelam
Bersama anginlah engkau terbang
Bersama malamlah engkau hilang
Wahai mimpi yang kejam
Jangan buat fikiranku runyam
Jangan buat hatiku tak tentram
Karena kau buatan syetan
Dua menit lamanya kuterduduk dilantai, lalu aku bangkit menuju ke kamar mandi yang berada di belakang rumah, membasuh mukaku dengan air bersih kurasakan kesejukan, kedamaian masuk melalui pori-pori muka mengalir mengikuti aliran darah menuju ke hati membinasakan ketakutan yang bersemayam didalamnya. Setelah menggosok gigi kuberanjak pergi dari kamar mandi menuju kamar tidur kembali, sekarang tempat tidur dari kayu yang hanya dilapisi tikar terbuat dari pandan terlihat jelas didepanku. Kurapikan tikarnya kembali yang sudah tak beraturan, sarung yang entah berapa tahun usianya sebagai selimut dan pelindung di saat dinginnya malam dan berfungsi juga sebagai perisai dari serangan nyamuk- nyamuk yang haus akan darah itu kulipat baik-baik kutaruh diatas sebuah bantal Made in IBU Tercinta, ibu mengumpulkan kapas-kapas yang berjatuhan dari pohon karena sudah waktunya lepas dari rumahnya, mereka berjatuhan tertiup angin. Pohon kapas itu terlatak disamping rumah, entah berapa lamanya ibu mengumpulkan kapas itu sehingga bisa dibuat sebuah bantal, lalu ibu memasukkan kapas-kapas tersebut kedalam sebuah karung bekas tepung terigu yang ayah peroleh dari sebuah tempat sampah. Ibu menjahitnya sedemikian rupa dan terlihat sangat rapi tidak kalah dari sebuah mesin jahit. Begitulah proses terjadinya sebuah bantal Made in IBU Tercinta ini, dengan adanya ide, dengan adanya kreafitas, dan dengan tiadanya uang yang cukup untuk membeli sebuah bantal.
Kamar berukuran 2x2 ini tanpa ada hiasan dinding kecuali hanya lubang-lubang menganga menandakan sebuah penderitaan dari dinding-dinding kayu yang malang. Membinasakan harapan dan impian mereka untuk berhenti memikul beban yang sudah lama di embank, berharap akan adanya generasi penerus untuk menggantikan pekerjaan mereka. Tapi apalah daya sang pemilik rumah untuk makan saja harus menghutang apalagi untuk menggantinya dengan sebuah rumah tembok, biarlah terlihat usang asal masih bisa digunakan sebagai tempat tinggal, masih banyak saudara kita diluaran sana yang tidak mempunyai tempat tinggal, tiduran hanya beralaskan karon di emperan took yang apabila sudah pagi diusir para penjaga tokonya, mungkin begitu pemikiran sang pemilik rumah.
Kubuka jendela kamarku, dan terasa hawa sejuk memasuki kamarku menjelajahi setiap inci ruang kamarku tanpa ada yang luput. Kuhirup dalam-dalam udara pagi yang menyegarkan ini dan akhirnya kulepaskan perlahan-lahan menimbulkan efek bahwa hidup ini menyenangkan walau kadang tidak sesuai kenyataan. Biarpun kamarku hanya kecil dan mempunyai ukuran tidak lebih dari 2x2 meter tapi keberadaan sebuah jendela tidak boleh diabaikan. Karena dengan adanya jendela maka ada pertukaran dari kemualan menjadi kesejukan, sebagai jalan penerang disaat siang sehingga tidak menimbulkan pengap di dalam kamar, dan mungkin masih banyak lagi yang tidak bisa di gapai oleh pikiran seorang anak berumur 11 tahun.
Aku beranjak pergi meninggalkan kamarku, setelah melewati pintu kamarku disitulah terdapat sebuah ruang dengan 4 buah kursi mengelilingi 1 buah meja tertata rapi, ruang ini berfungsi sebagai ruang tamu apabila suatu waktu ada orang yang ingin berkunjung, meskipun jarang sekali ada orang yang mau bertamu. Di sisi lain ruang ini berfungsi sebagai ruang makan, karena tidak ada ruang lagi untuk dijadikan ruang makan. Biasanya kami makan bersama saat malam hari saja, karena saat itulah keluarga kami kumpul. Kudekati kursi tesebut , tangan kananku meraih kursi dan menariknya keluar perlahan aku duduk diatasnya agar tak terdengar suara jeritan darinya, kursi tua yang malang kini engkau telah berbunyi, tapi maafkanlah kami karena kami tak sanggup menggantimu dengan yang lebih muda dan kami tak cukup punya uang untuk membuatmu pensiun. Entah sudah berapa tahun umurnya, asalkan dia masih kuat menopang tubuh kami dan tidak hancur karena berat badan kami mungkin selama itu kami tak akan menyingkirkannya. Teko plastic diatas meja kini terpampang didepanku ditemani sebuah gelas plastic berwarna hijau lumut disampingnya, alasan ibu lebih memilih gelas plastic daripada gelas kaca selain harganya lebih murah, katanya kalau gelas kaca jatuh dari atas meja kemungkinan besar akan pecah sedangkan gelas plastic apabila dijatuhkan dari gedung tingkat 100 pun tidak akan pecah, begitulah ia memberikan alasannya kepadaku saat iseng aku tanyakan kenapa dirumah kami hanya ada gelas plastic saja.
Kutuangkan air putih yang berada di teko ke dalam gelas, lalu teguk demi seteguk aku meminumnya, kurasakan dinginnya air saat melewati tenggorokan. Hanya segelas air putih ini yang kami jadikan sarapan pagi, tanpa roti tawar dilapisi selai beraneka rasa, tanpa nasi goreng dengan telur setengah masak, dan tanpa buah-buahan yang banyak mengandung vitamin. Apabila sedang bernasib baik atau dapat dikatakan sedang mempunyai uang lebih maka ibu akan membeli singkong/ubi kayu dari pasar pagi dan menggorengnya untuk sarapan pagi kami, tapi saat ini harga minyak sayur begitu tinggi hingga mencekik leher para orang-orang miskin, kalau sudah begini ibu hanya akan merebus singkong itu, karena dengan merebus maka tidak diperlukan minyak sayur. Benar bukan???
Dinding diruang ini tanpa hiasan, kecuali hanya beberapa foto dan jam dinding bundar serta kalender tahunan. Tepat dibawah jam dinding bundar itu terdapat sebuah foto dimana sepasang pengantin berada didalamnya, foto kenangan dimana ayah dan ibuku melangsungkan pernikahan 12 tahun yang lalu. Mereka tampak begitu bahagia, apakah lebih bahagia daripada saat ini??? Hanya mereka yang tahu, disisi kanan foto pengantin kedua orangtuaku terdapat fotoku saat aku masih mencoba untuk belajar berjalan, mungkin kedua orang tuaku sangat bahagia melihat anak pertamanya belajar berjalan sehingga mereka memanggil tukang foto untuk mengabadikan momen bersejarah itu. Sedangkan disisi kiri foto pengantin kedua orangtuaku terdapat foto dengan bingkai plastic tampak sudah lusuh, pada foto itu masih tampak jelas seorang anak berseragam merah putih ditengah kedua orang dewasa mereka saling bergandengan, senyum partanda kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka. Foto itu mengingatkanku pada hari bersejarah dimana pertama kalinya aku mengenakan pakaian merah-putih dan pertama kalinya aku akan menginjakkan kakiku disekolah dasar.
Mataku kini tertuju pada sebuah jam dinding bundar, disana terlihat sebuah jarum jam berukuran sedang berwarna hitam menunjuk angka 11 sedangkan sipendek, gemuk, hitam lagi, menunjuk angka 7, kalau perangai simerah kerempeng panjang ini sulit ditebak. Saat mulut mengatakan menunjuk angka 9 ternyata dia sudah berada di angka 10, dan begitu juga saat mengatakan menunjuk angka 10 dia sudah berada pada angka 11, begitulah seterusnya dia sangat cepat sekali berubah. Mungkin kita harus mengatakan angka yang berada di depannya, baru bisa tepat walaupun sebentar lagi dia akan pergi meninggalkan angka itu.
sebentar lagi jam menunjukkan pukul 07.00 wib karena hari minggu, hari dimana pelajar tidak melakukan rutinitasnya untuk belajar. Maka aku masih bisa bersantai dirumah, walaupun rutinitas belajar libur tetapi aktivitasku untuk membantu orang tua, atau hanya sekedar mencari uang untuk jajan tetap berlaku. Tak ada kata libur untuk bekerja, kalau masih ingin dapur kami mengepul, kalau masih ingin perut kami terisi dan kalau tidak ingin mati karena kelaparan. Memang sungguh ironis disaat anak-anak lain sedang asik menikmati film-film favorit mereka ditelivisi, melihat sang jagoan memberantas kejahatan, menegakkan panji-panji kebenaran. Disaat anak-anak lain berkumpul bersama keluarganya menikmati liburan dengan pergi ke tempat-tempat wisata, mengagumi keindahan alam buatan sang pencipta. Disana anak-anak manja yang merengek meminta dibelikan barang-barang yang mahal kepada orang tuanya, tanpa berfikir panjang mereka pergi ke mall-mall dam memanjakan sibuah hati. Tetapi disudut lain kami anak-anak miskin harus melawan teriknya matahari, menghirup asap-asap pembuangan dari kendaraan mewah mereka, harus bermandikan dengan keringat sendiri. Hanya untuk membeli sebuah roti, hanya untuk membeli mainan murahan yang sudah beberapa bulan kami inginkan sampai terbawa kedalam mimpi. Tetapi kami mencoba untuk selalu tabah dengan semua ini, kami selalu mencoba tidak mengeluh dengan keadaan kami. Meski kami harus mencoba berfikir lebih dewasa dari umur kami yang sebenarnya
SI PEMURAH HATI
Sang mentari sinarilah kami
Dengan sinar penerang hati
Agar hati kami jadi berseri
Melangkah Kedepan dengan pasti
Angin pagi datanglah kesini
Berikanlah kesejukan dihati
Agar kami ini dapat mengerti
Hidup tak semudah orang bermimpi
Burung kecil hinggaplah kemari
Bersama kami ikutlah bernyanyi
Bernyanyilah dengan senang hati
Menghancurkan kegundahan dihati
Angin bertiup perlahan menyapa kulitku dengan lembut, disertai kicauan burung memberikan rasa tentram dihati, kurasakan kicauannya sangat merdu tidak kalah dari penyanyi tembang kenangan yang suaranya bisa menghipnotis para pendengar untuk turut larut ke dalam suasana lagu itu. Walaupun kenyataannya suara burung itu hanya begitu-begitu saja dengan pengulangan berulang-ulang, kalau boleh dibilang jauh dari kesan adanya seni. tidak seperti si beo yang bisa menirukan suara majikannya atau jadi pahlawan saat rumah sang tuan dimasuki para pencuri bodoh yang tidak bisa membedakan antara suara burung dengan suara majikannya. Dan juga tidak seindah burung cendrawasih dengan segala kecantikannya membuat ia menjadi salah satu burung yang dilindungi. Tapi hanya suara burung liar yang hinggap di atas pohon kapas ini yang dapat kunikmati suaranya, ketika orang-orang mendengarkan lagu favorit mereka masuk jajaran 10 besar tangga lagu MTV pada tv plasma dengan ukuran super besar, ketika para anak orang kaya itu memutar lagu cadas pada dvd player mereka dengan sound system mahal yang dibeli langsung dari luar negeri, dengan tidak menghiraukan bahwa mereka hidup bertetangga dengan seenaknya membuat volume paling maksimal yang memiawakkan hati mereka.
Pada sebuah kursi panjang tepat dibawah pohon kapas yang rindang disamping rumah aku duduk menikmati udara pagi, menikmati indahnya kicauan burung-burung. Kursi panjang ini dibuat oleh ayah untuk tempat berteduh pada saat siang hari dimana ayah akan pulang kerumah mengisi perut karena sejak pagi belum terisi apa-apa kecuali air putih saja. Kami memilih berteduh dibawah pohon disebabkan didalam rumah apabila siang disaat hari cerah terasa sekali panasnya bagaikan direbus didalam kuali. Rumah dengan atap terbuat seng yang sudah berkaratan ini tanpa plafon untuk sedikit meredam panas yang ditimbulkan oleh sinar matahari. Bisa-bisa kami bagaikan udang rebus yang telah masak apabila tetap nekat berada didalam rumah.
Disaat duduk santai menikmati udara pagi, aku dikejutkan suara berisik berasal dari belakang rumah. Terdengar suara langkah kaki orang berlari seakan seperti seorang pencuri spesialis pakaian dalam wanita yang mengendap-endap mencoba mengambilnya dari jemuran, tapi sialnya ketahuan oleh sipemiliknya dan diteriaki maling lalu di uber orang sekampung mencoba untuk mendapatkannya secara hidup-hidup ataupun setengah hidup yang kemudian rencananya akan diarak keliling kampung tanpa pakaian alias telanjang.
Ternyata bukan pencuri spesialis pakaian dalam wanita seperti yang kufikirkan melainkan seseorang yang aku kenal, tetapi apakah seseorang yang aku kenal ini sekarang sudah berganti profesi menjadi Pencuri spesialis pakain dalam wanita? ini yang belum aku ketahui. Walaupun masih berjarak puluhan meter dirinya dariku, dari kejauhan aku sudah mengenalnya dengan warna hitam menyelimuti seluruh kulitnya hanya menyisakan sedikit warna putih pada bagian giginya dengan ciri khas larinya layaknya seorang atlet professional yang ingin mendapatkan medali penghargaan ditambah lagi dengan pakaiannya yang sering ia kenakan sampai sampai aku merasa bosan melihat kaos oblong favoritnya itu, kaos yang dulunya berwarna merah kini mulai pudar karena seringnya dicuci, dan bagian bawah tubuhnya ditutupi oleh celana pendek ala para pesepakbola yang harganya cukup murah meriah, Plus topi warna hijau menutupi kepalanya. Dari ciri-cirinya itulah aku mengenalinya, dia adalah Anton Sutrisno.
Anton Sutrisno nama lengkapnya, panggilan sehari harinya Anton atau biasanya aku hanya memanggil dia Ton saja, kedua orang tuanya berasal dari suku jawa, mereka berdua berasal dari sebuah desa yang sama di daerah jawa tengah. Ayahnya anak seorang kepala desa atau biasa dipanggil lurah di desanya tersebut, sedangkan ibunya hanya anak seorang penggarap sawah saja, yang menumpangkan hidupnya dari penghasilan mengurusi sawah orang-orang yang dianggap berada di desanya, tanpa ia mempunyai sawah sendiri. Si pak lurah ini tidak setuju saat tahu anak semata wayangnya berhubungan dengan seorang gadis dari keluarga miskin, katanya bisa jatuh martabatnya sebagai seorang lurah. Karena cinta yang membuat seseorang lupa segalanya, mereka tetap menikah walau tanpa restu orang tuanya, mungkin ia sudah tidak peduli dengan cap sebagai anak durhaka dan mungkin dia tidak peduli bagaimana sedihnya orangtuanya saat ia memutuskan untuk kabur dari rumah. Dengan uang yang pas-pasan ia meninggalkan desanya merantau ke daerah Sumatra mencoba menggapai impian mereka untuk hidup bersama. Begitulah katanya pada suatu hari saat mengisahkan cerita tentang orangtuanya kepadaku.
Anton adalah anak pertama dari empat bersaudara dan dia anak laki-laki satu-satunya, ketiga adiknya semua berjenis kelamin perempuan. Anton kini berusia 11 tahun sama seperti diriku, tetapi aku lebih tua darinya hanya terpaut beberapa bulan saja. Dia kelas 5 SD sedangkan adiknya, Suyanti masih duduk dikelas 3 disekolah yang sama dengan dirinya. Suyanti anaknya sangat pendiam, sangat kontras sekali bila dibandingkan dengan Anton. Walaupun pendiam senyumnya selalu menghiasi setiap ia berpapasan dengan orang, apalagi bila jumpa orang tua yang ia kenal pasti Suyanti tidak lupa untuk menyapa. Sedangkan Rita, adik perempuan keduanya sekarang kelas 1, wajahnya manis mirip sekali dengan ibunya. dan si bungsu bernama lengkap Dewi Lestari belum sekolah karena usianya baru 2 tahun. Sebagai anak tertua dan anak laki-laki satu-satunya secara tidak langsung ia mempunyai beban yang cukup besar, gaji ayahnya sebagai montir di bengkel sederhana hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga yang berkewajiban mengurusi anak-anaknya. Dan kalaupun ada kelebihan uang dari gaji ayahnya pasti dengan cermat mereka kumpulkan untuk membeli pakaian.
Anton satu kelompok denganku saat kami beraksi dijalanan mencoba memberikan hiburan dengan suara kami, kami bergantian melakukan tugas. Bila aku yang mendapat giliran bernyanyi dengan sebuah alat musik terbuat dari tutup botol yang digepengkan dan disusun secara rapi pada sebuah batang kayu kecil menggunakan paku. Maka si anton bertugas menengadahkan topi kumuhnya pada orang-orang yang masih mau berbaik hati untuk membagi recehannya pada kami. begitu juga sebaliknya, bila giliran Anton bernyanyi aku yang menengadahkan topi kumalnya pada para tuan yang berada didalam mobil mewahnya. Walaupun suara kami tiada merdu sama sekali yang terdengar hanyalah suara fals, kami tetap bernyanyi dan kami yakin uang yang kami dapatkan adalah halal hukumnya. Karena kami bukan anak jalanan yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan uang dikerasnya kehidupan jalanan ini, banyak anak sebaya kami di ajari cara mencopet, banyak anak seusia kami diajari untuk mencuri, walaupun terkadang mereka terpaksa untuk melakukan itu.
Anton Sutrisno dengan segala kekurangan dan keterbatasannya tidak membuatnya putus asa dalam menghadapi kehidupan, dimana saat ini seseorang dengan mudahnya menghilangkan nyawanya sendiri dan bahkan tega juga menghilangkan nyawa buah hatinya hanya karena alasan kemiskinan, hanya dengan alasan itu mereka berani menenggelamkan buah hati mereka pada bak kamar mandi agar anak mereka tidak hidup dalam kemiskinan. dan parahnya lagi ada yang rela untuk gantung diri karena cinta ditolak, seakan cinta pada pujaan hati melebihi cintanya pada sang pencipta, apakah yang tertanam pada diri mereka sehingga begitu rapuhnya mereka.
Masih jelas terekam oleh memori ingatanku saat-saat kami berada di kelas 3, saat itu tanggal 9 januari menuju 1 bulan lagi adiknya Suyanti akan memperingati tanggal kelahirannya. Anton ingin sekali memberikan sesuatu hadiah pada adiknya dihari bahagianya kelak. Recehan demi recehan dia kumpulkan demi cita-citanya memberikan hadih pada adiknya, beberapa hari kulihat dia tidak membelanjakan uangnya, hanya mengandalkan sebotol air mineral yang dibawanya dari rumah sebagai pengisi perut.
Tepat dibawah lampu pengatur lalu lintas itu kami berdiri, kurasakan lelah yang amat sangat menyerang, siang itu matahari bersinar cerah seakan tak mau berkompromi dengan kita mencoba memaksakan keringat agar keluar dali kulit-kulit kami membasahi pakaian yang dikenakan.
“ Ton kita berteduh dulu yuk” ajakku padanya
“aku sudah capek” lanjutku memberi alasan atas pembenaran ajakanku
“okelah, dari pada nanti kamu pingsan he..he..” jawabnya dengan sedikit sindiran
“kita berteduh di halte bus itu aja, Rud” ajaknya sambil melangkah menuju halte tanpa terlebih dahulu menunggu jawaban persetujuan dariku. Dengan sedikit tergesa aku mengikutinya dari belakang.
“huh…disini terasa lebih baik daripada disana” kataku setelah sampai dihalte bus, sambil menghela nafas panjang.
“ ya iyalah rud, disini kan ada atapnya yang melindungi dari panasnya matahari. Kalau disana?” jawab anton sekaligus lengkap dengan alasannya dan memberikan pertanyaan serangan atas pernyataanku yang kuanggap pertanyaan yang enggak perlu mendapatkan jawaban.
“Rud bagusnya hadiah apa ya, yang harus aku kasih ke adikku?”
“emangnya udah dapet berapa uang yang kamu kumpulkan ?” tanyaku
“lima belas ribu”
“biasanya sieh anak cewek suka sama boneka, coba aja belikan dia boneka” saranku pada anton mengingat fakta yang ada.
“kalau begitu, hari minggu akhir bulan ini temani aku kepasar pagi ya. Siapa tau aja disana ada boneka yang bagus” ajaknya padaku sambil mempertimbangkan kondisi keuangan yang dia punya saat itu.
Setiap detik waktu berlalu begitu cepatnya, hari minggu pagi tanggal 27 januari tepat pukul 08.00 wib, anton sudah berada dibawah pohon disamping rumahku sambil menimang-nimang celengan berbentuk ayam jago terbuat dari tanah liat. Entah sudah berapa lama dia duduk disana menungguku, senyum cerianya menyambutku saat aku keluar dari rumah seakan tiada kekecewaan atas tindakan yang begitu lama menunggu.
“udah lama ton?”
“blom, sekitar lima belas menitan”
“maaf, aku baru selesai nyuci piring. Salah sendiri napa enggak manggil”
“Tadi aku dengar suara piring beradu waktu melewati belakang rumahmu, dan aku tahu itu kamu yang sedang menyuci piring. Soalnya tadi aku berpapasan dengan ibumu waktu dijalan”
“jadi ton pergi kepasar hari ini?” tanyaku saat teringat kata-katanya waktu meminta padaku menemani pergi kepasar pada minggu akhir bulan, dan aku yakin bahwa maksudnya dia kesini untuk itu.
Belum lagi dia menjawab aku sambung dengan pertanyaan lain,
“ton, ulang tahun suyanti kan masih lama. Kenapa ayam jagomu itu kamu bawa-bawa, mau langsung beli sekarang kadonya??”
“aku kan enggak tau rud harga boneka, makanya sekarang sepertinya saat yang tepat untuk mengakhiri hidup ayam jago tanah liat ini. Biar nanti aku bisa tau kekurangannya yang diperlukan untuk membeli boneka. Dengan sisa waktu yang enggak banyak ini semoga saja aku bisa mencari uang agar dapat menutupi kekurangannya”.
Dengan mata berbinar dan senyum yang khas menyelimutinya, Anton mengelus-elus ayam jago kesayangannya itu dan tidak beberapa lama.
“Prakkk”, terdengar bunyi yang ditimbulkan oleh ayam jago tersebut karena dibenturkan dengan keras oleh Anton pada kursi yang kami duduki. Terdengar pula gemerincing uang logam yang saling beradu.
“kelihatannya banyak ni ton??”, kataku saat melihat uang yang berserakan diatas kursi. Kubantu Anton mengumpulkannya dan memilah-milah menurut nominalnya, setelah terkumpul sesuai jenis dan nilai nominalnya, Anton mulai menghitung.
“uang ribuannya ada 20 lembar, Rud.”
“yang lima ratusan ada 18 ton”. Sambutku saat selesai menghitung uang kertas bergambar orang utan itu.
“ratusannya ada 13 biji ni ton, jadi semuanya tigapuluh ribu tiga ratus rupiah, lumayan juga Rud.”
“Alhamdullilah” ucapan syukur keluar dari mulutnya.
“bentar ya ton, aku mau merebus air dulu” pintaku pada anton, saat aku ingat teko di atas meja sudah tiada berisi.
Dengan wajah yang cerah tidak seperti pakaian yang ia kenakan, anton mengangguk menandakan persetujuan dan pengabulan permintaanku.
Angin pagi masih berhembus saat aku dan anton meninggalkan rumah untuk menuju pasar pagi, aku tidak tahu secara pasti asal usul pemberian nama pasar tersebut mungkin saja dinamakan pasar pagi karena hanya buka pagi hari sampai menjelang siang kira-kira pukul 11.00 wib, dan setelah itu tiada lagi aktivitas jual beli di pasar tersebut. Kalau saja aktivitas jual beli dipasar tersebut dilakukan pada malam hari mungkin nama pasar itu tidak lagi menjadi pasar pagi, melainkan pasar malam atau bisa juga pasar Dracula karena seperti yang kulihat pada film di Televisi, Dracula hanya hidup dan berkeliaran pada malam hari sedangkan siang hari mereka tidur. Apabila ternyata mereka nekat untuk keluar pada siang hari mungkin karena Dracula itu masih Pemula, baru menjadi Dracula karena gigitan Dracula senior dan tentu tidak mengerti tata tertib per-Draculaan atau bisa juga Dracula yang pada malam harinya karena apes tidak mendapatkan darah segar, dan karena kelaparan itu sudah memuncaki ubun-ubun kepala mereka, maka Dracula itu tidak mengindahkan Tata terbib yang ada, jika itu yang terjadi maka bersiap-siaplah untuk Terbakar.
Jalan sempit yang kami lalui sudah sampai ujungnya, kini kami tepat berada di jalan beraspal yang dipenuhi oleh sesak kendaraan. Bila kami berjalan kearah kanan maka kami akan sampailah pada persimpangan, tempat kami biasanya mengamen. Ke arah kiri inilah yang harus kami tuju untuk sampai di pasar pagi, karena jarak pasar pagi dengan tempat yang kami pijak sekarang cukup jauh, kami memutuskan untuk naik oplet saja. Pasti kawan sudah mengenal rupa kendaraan yang bernama oplet ini? kalaupun kawan tidak mengenalnya, mungkin kawan sudah terlalu kaya.
Anton melambai-lambaikan tangannya untuk menarik perhatian si supir oplet, dan oplet itu mendekati kami.
“pasar pagi bang”, Anton mengatakan pada kernetnya tujuan kami. Dua Sejoli, Sang Sopir dan kernet oplet ini masih tampak muda, seandainya nasib berkata lain mereka mungkin pada saat ini mereka sedang duduk mendengarkan penjelasan dosen di bangku kuliahan, memperdebatkan sesuatu yang tidak seharusnya diperdebatkan, atau sekarang mereka sedang turun kejalan-jalan untuk berdemo menuntut para pejabat agar tidak korupsi dan menuntut agar pemerintah tidak menaikkan Harga Bahan Bakar MInyak (BBM), belum tentu juga para mahasiswa ini setelah selesai kuliahnya dan dengan nasib beruntungnya menjadi pejabat akan ingat dengan kata-kata mereka sendiri “Berantas Korupsi”. Tapi tidak apalah sekiranya masih ada yang mengingatkan para pejabat tersebut.
baru sampai segini aja yg berhasil aq buat,
tapi sepertinya aq males untuk melanjutkannya.
minta pendapat tmn2, menurut kamu novel ini bagus apa enggak???
klo banyak yg bilang bagus aq usahain untuk melanjutkan, tapi klo banyak yg bilang jelek ya udah aq stop aja.
ini novel yg pertama kali kucoba buat, buat nambah pengalaman dan ternyata nulis itu g' mudah.
