gue akan sangat berterimakasih bila kalian mau memberi tanggapan.
CINTA TERAJUT PETAKA
Adi memandangi gadis yang duduk di hadapannya sambil menekan rasa rindu yang menerobos dinding hatinya yang retak. Ia mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas lututnya. Ia tidak berani menaruh kedua tangannya di atas meja karena takut akan lepas kendali menyentuh, membelai dan memeluk tubuh sang gadis.
Grace adalah nama gadis ini. Sejak pertemuan mereka sepuluh menit yang lalu, Adi terus menyebut namanya dalam hati. Sekelumit rasa marah ikut mengalir keluar membonceng rasa rindu. Namun rasa bersalah dan malu yang menyusul keluar langsung membunuh rasa marah itu.
Adi memang pantas marah. Bukan kepada Grace, tapi pada dirinya sendiri. Bukan Grace yang menusuk dan merobek hatinya, tapi dirinya sendiri. Ia sadar kalau hati Grace juga terluka bahkan bisa jadi lebih tercabik darinya.
Rasa gugup mulai menyebar ke seluruh sistem syaraf dalam tubuhnya. Tangannya sedingin es dan lidahnya kelu. Ia mulai menyesali kebodohan dirinya. Seharusnya belasan menit yang lalu ia membalik badan dan terbang menjauh, tapi ia malah membatu di tempat seakan-akan yang berdiri di hadapannya adalah Medusa yang sedang tersenyum padanya. Padahal saat itu Grace sedang memunggunginya.
Adi ingat bagaimana toko buku silat di lantai semi dasar ITC Kuningan yang dikunjunginya tadi sedang dipenuhi tujuh pengunjung berusia lanjut. Tanpa malu para tokoh tua persilatan itu mendehem-dehem sambil menonton ia yang terus berdiri memandangi punggung Grace selama dua menit penuh.
Padahal pengunjung berjenis kelamin perempuan sangat langka, apalagi yang masih berusia muda. Gadis yang datang ke toko buku silat itu biasanya menemani pacar atau ayahnya. Hanya gadis pelahap buku apa saja seperti Grace yang datang ke sana sendirian. Dan dulu ia sendiri yang mengenalkan Grace pada dunia persilatan.
“Tapi bagaimana aku bisa tahu dia itu Grace kalau penampilannya begitu berbeda?” begitu Adi membela dirinya sendiri.
Adi memandangi Grace yang duduk di depannya. Gadis itu sedang termangu. Mata sipitnya tampak menerawang sementara jari-jari lentiknya terus memutar-mutar sedotan jus apel melawan arah jarum jam.
“Dia lebih cantik dari dua tahun yang lalu. Apa karena rambutnya dicat cokelat atau karena ia memakai make-up atau karena aku rindu padanya?”
Adi merasa benci pada dirinya sendiri. Mengapa ia tidak punya nyali untuk menghadapi Grace? Sampai detik ini ia belum mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya. Saat Grace menoleh dan menatapnya dengan mata membelalak, ia juga ikut membelalak. Saat Grace menyapanya dengan ragu, ia hanya bisa meringis. Saat Grace mengajaknya mengobrol di foodcourt Mal Ambassador untuk mengobrol, ia hanya bisa mengangguk-angguk seperti dakocan.
“Aku ini benar-benar idiot,” keluh Adi dalam hati.
Padahal ia sama sekali bukan idiot. Sejak SD sampai SMA, ia selalu menjadi juara pertama di kelasnya. Hampir tiap tahun ia menjadi juara umum. Semasa kuliah Ilmu Komputer di sebuah Universitas Negeri terkemuka, ia nyaris selalu mendapat nilai A sehingga lulus dengan IPK tertinggi. Setelah itu ia lulus Magister Manajemen di almamater yang sama dengan IPK tertinggi pula. Tapi sekarang otaknya yang encer membeku. Ia tidak tahu apa yang sudah membuat otaknya mendadak karatan. Apakah rasa bersalah atau rasa malu.
Sebenarnya ia hendak bertanya ‘Bagaimana kabarmu?’, tapi ia merasa takut. Bagaimana bila Grace menjawab ‘Menurutmu bagaimana?’ dengan dingin atau ‘Tidak baik.’ dengan ketus? Namun jawaban yang paling tidak ingin didengarnya adalah ‘Baik-baik saja.’. Karena ia merasa dirinya tidak baik dan ia tidak percaya sekaligus tidak rela kalau Grace benar-benar baik. Harga dirinya sebagai lelaki terluka bila hati gadis yang ditinggalkannya sama sekali tidak hancur karena merindukan dirinya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Grace tiba-tiba.
Adi memaksakan diri untuk menjawab, “Lumayanlah.”
Adi langsung terdiam begitu melihat Grace tersenyum kecil. Ia langsung sibuk menganalisa apakah itu senyuman sinis atau senyuman mengejek atau senyuman tulus. Grace menatapnya dengan pandangan menunggu namun ia tetap diam. Ia sedang asyik menjelajah database senyuman mantan gadisnya untuk mencari jawaban yang memuaskan hatinya.
“Kalau aku baik-baik saja,” ujar Grace dengan tenang.
Wajah Adi memerah karena malu. Saking malunya karena lupa berbasa-basi, ia tidak merasa ciut mendengar kata ‘baik-baik saja’ yang keluar dari mulut Grace.
“Kau tadi ingin membeli buku apa?” tanya Adi buru-buru untuk menutupi rasa malunya.
“Oh, dua seri terbaru Pendekar Empat Alis, tapi belum ada. Kalau kau?”
“Aku sedang mencari apakah ada karya Ku Lung terbaru, termasuk dua buku itu,” sahut Adi sambil melap keringat di dahi dengan tangannya.
“Kau pasti habis berjalan jauh sampai berkeringat begitu. Dari mana?” tanya Grace sambil menyodorkan tissue.
Secara otomatis tangan Adi langsung terulur untuk mengambil tissue itu. Saat melap keringat di lehernya, ia baru tersadar. Wajahnya langsung memerah lagi namun Grace sepertinya tidak ambil peduli.
Adi mendehem pelan lalu menjawab, “Dari bundaran seberang.”
Grace tersenyum lagi.
“Kau masih mirip Elizabeth Bennet, gila jalan kaki.”
“Siapa?” tanya Adi dengan bingung.
“Tokoh utama Pride and Prejudice.”
“Wah, jangan samakan aku dengan tokoh chicklit jaman baheula itu dong,” protes Adi sambil nyengir.
Grace tertawa hingga matanya tinggal segaris. Tiba-tiba saja kebekuan diantara mereka mulai mencair.
“Mungkin cuma kau direktur di Jakarta yang lebih memilih berkeringat jalan kaki daripada naik mobil atau motor.”
“Kalau kau bilang begitu seakan-akan aku keliling Jakarta berjalan kaki,” ujar Adi sambil tertawa.
“Masih ogah beli mobil? Beli motor dong. Masa kau masih memakai alasan tidak mau direpotkan soal parkir dan helm?”
“Apa kau lupa kalau aku ini pelit?”
“Kau bukan orang yang pelit, tapi sederhana,” bantah Grace sambil tersenyum.
“Apa bukan pelit namanya kalau memakai alasan berjalan kaki untuk berolahraga padahal sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan uang untuk pergi ke gym? Aneh, kau masih juga suka kutipu,” goda Adi sambil nyengir.
Grace terkekeh. Adi tersenyum memandanginya.
“Sekarang kulitmu lebih putih, pasti kau tidak pernah berpanas-panas berjalan kaki lagi, ya.”
“Jalan kaki sendirian kan tidak enak, Di.”
Mereka terdiam sejenak mengenang bagaimana mereka dulu berjalan bergandengan di bawah terik matahari dan di tengah hembusan debu dan asap knalpot Jakarta. Adi tak pernah lupa pada wajah Grace yang selalu berkeringat di bawah topi baseball. Rambutnya yang hitam panjang selalu dikuncir ekor kuda memamerkan leher jenjangnya yang lengket.
Grace menyeruput jusnya lalu bertanya, “Bagaimana usahamu? Lancar?”
Adi tersenyum hambar sebelum menjawab, “Aku sedang berpikir untuk menjualnya.”
“Mengapa? Bukankah klien-klienmu perusahaan besar?” tanya Grace dengan kaget.
“Ya sih, tapi semakin besar mereka makin birokratis. Mereka sering menunda-nunda pembayaran. Salah satu dari mereka malah sengaja tidak mau membayar tagihan terakhir.”
“Lho, mereka tidak bisa seenaknya begitu dong. Kan ada kontrak kerja. Berapa nilai tagihannya?”
“Enam puluh lima juta. Alasan mereka, pihak asing yang membeli perusahaan mereka tidak ingin memakai sistem yang kami buat. Sesudah enam bulan dilempar ke sana-kemari seperti bola pingpong, aku terpaksa datang dengan membawa pengacara. Pengacara yang kupakai juga bukan dari biro hukum terkenal. Mereka tidak mau mengurusi jumlah uang sekecil itu lagipula aku tak mampu membayar ongkos mereka. Jadi aku menggunakan konsultan hukum almamater kita,” sahut Adi dengan datar.
“Lalu?”
“Kami berhasil mendapat tiga puluh lima juta dikurangi tiga juta untuk pengacara. Mungkin seharusnya aku memakai jasa debt collector,” tukas Adi dengan getir.
Grace tampak prihatin.
“Makanya akhir-akhir ini, aku lebih memilih nilai kontrak di bawah seratus juta. Proyek cepat selesai dan tagihan lancar.”
“Kalau begitu mengapa kau masih ingin menjualnya?”
“Aku kekurangan orang. Usaha konsultan teknologi informasi itu susah dijalankan sendirian. Aku tidak bisa menangani pemasaran sekaligus mengatur anak buah. Satu setengah tahun yang lalu Didit keluar. Dia ditawari klien menjadi manajer divisi teknologi informasi. Kalau biasanya programmer kami yang dibajak sekarang malah salah satu direkturnya. Sedangkan Oki memilih melanjutkan usaha keluarganya. Sekarang dia jadi juragan bakpao,” ujar Adi sambil tertawa.
Grace ikut tertawa meski sorot matanya tampak sedih.
“Wah, aku jadi malu. Baru ketemu sudah banyak mengeluh. Kau sendiri bagaimana?” tanya Adi.
“Delapan bulan yang lalu aku pindah kerja. Sekarang aku sekantor dengan Inge di Kuningan, masih di bagian pajak. Kau masih ingat Inge kan?”
Inge adalah teman akrab Grace semasa kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi di UI dulu. Secara terang-terangan Inge menunjukkan sikap tidak bersahabat dengan Adi. Ia tidak pernah rela dan tidak bisa menerima sahabatnya menjadi pacar Adi.
“Dia pasti masih membenciku, ya,” ujar Adi sambil tersenyum.
“Sedikit. Sekarang dia jadi pacar…”
Kata-kata Grace terputus saat ponsel Adi berdering. Semenit kemudian ponsel Grace juga ikut berdering. Mereka bicara dengan ponsel masing-masing sambil sesekali saling melirik. Grace selesai bicara lebih dulu.
“Sudah hampir jam tujuh. Aku harus pulang sekarang,” ujar Grace begitu Adi selesai bicara dengan ponselnya.
“Aku juga harus kembali ke kantor.”
“Jam segini kau masih kembali ke kantor? Sekarang sudah jam tujuh, kapan kau pulang?”
“Nanti, jam sembilan,” sahut Adi sambil berdiri.
Keduanya berjalan beriringan. Adi memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya supaya tangannya tidak menggandeng atau merangkul Grace.
“Kau tidak berubah, Di.”
“Tahu dari mana?”
“Buktinya ponselmu masih yang dulu.”
Adi tersenyum sambil meraba ponsel Nokia miliknya yang masih hitam-putih dan monophonic di dalam saku celana kanannya.
“Bahkan dering ponselmu masih lagu yang sama.”
Grace menggumamkan lagu Ni Yao Te Ai, soundtrack Meteor Garden.
“Meteor Garden sudah lewat, Di.”
“Biarin. Aku suka lagunya.”
“Selalu mengingatkanku padamu,” tambah Adi dalam hati.
“Model rambutmu tidak berubah. Kau juga masih kurus dan seputih dulu.”
“Ubanku tambah banyak,” bantah Adi.
Grace melirik rambut jabrik di atas kepala Adi.
“Ah, siapa bilang? Paling masih satu banding delapan.”
Adi tertawa. Hanya Grace yang pernah menghitung jumlah uban dalam seratus helai rambutnya.
“Sekarang kau tinggal di mana?” tanya Grace.
“Masih di rumah kontrakan dulu. Hanya beda satu gang dengan kantorku jadi aku bisa makan siang di rumah. Kau masih ingat tempatnya kan?”
Adi segera menyesali kalimat terakhirnya. Untuk apa ia berkata begitu? Apa ia masih berharap Grace muncul di sana?
Mereka berdua terus berjalan menuju pintu utama.
“Kau parkir mobil di mana?” tanya Adi.
“Oh, aku dijemput pacarku.”
Wajah Adi mengejang sekejap lalu ia tersenyum. Sementara Grace menatapnya dengan seksama seperti ingin melihat reaksinya.
“Dia pasti lebih baik dariku, ya.”
“Kau kenal dia. Dia Mas Raymond, teman Mas Ignas.”
Adi mencoba mengingat-ingat. Grace mempunyai tiga kakak laki-laki dan satu adik laki-laki. Ignas adalah kakak keduanya. Lalu Raymond itu yang mana? Seingat Adi, Ignas sering keluyuran dengan tiga temannya. Apakah ia temannya yang suka pamer mobil baru karena bapaknya juragan showroom mobil mewah itu? Atau playboy anak dokter bedah jantung beken di Jakarta?
Bukan, pasti bukan. Grace tidak pernah suka dengan tukang pamer kekayaan dan playboy. Lagipula Ignas juga tidak akan rela adik kesayangannya dipacari dua temannya yang brengsek itu. Kalau begitu jangan-jangan Raymond itu anak pasangan pengacara yang tubuhnya tinggi gempal dan berkacamata.
“Si King Kong itu?” tanya Adi dengan ragu.
“Iya, tapi sekarang dia sudah bukan King Kong lagi. Kau pasti pangling kalau melihatnya. Nah, kebetulan dia sudah sampai,” ujar Grace sambil menunjuk mobil Toyota Yaris hitam mengkilap yang berhenti di depan mereka.
Jendela mobil terbuka dan mata Adi terbelalak.
bersambung...
behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
