Help - Search - Members - Calendar
Full Version: cinta terajut petaka bagian 1 dan bagian 2
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
eroge
cerber ini asli produk sel-sel kelabu otak gue. ceritanya tentang kekuatan cinta yang ternyata tidak kunjung pudar meski petaka melanda. panjangnya sekitar 5-6 bagian.
gue akan sangat berterimakasih bila kalian mau memberi tanggapan.





CINTA TERAJUT PETAKA



Adi memandangi gadis yang duduk di hadapannya sambil menekan rasa rindu yang menerobos dinding hatinya yang retak. Ia mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas lututnya. Ia tidak berani menaruh kedua tangannya di atas meja karena takut akan lepas kendali menyentuh, membelai dan memeluk tubuh sang gadis.

Grace adalah nama gadis ini. Sejak pertemuan mereka sepuluh menit yang lalu, Adi terus menyebut namanya dalam hati. Sekelumit rasa marah ikut mengalir keluar membonceng rasa rindu. Namun rasa bersalah dan malu yang menyusul keluar langsung membunuh rasa marah itu.

Adi memang pantas marah. Bukan kepada Grace, tapi pada dirinya sendiri. Bukan Grace yang menusuk dan merobek hatinya, tapi dirinya sendiri. Ia sadar kalau hati Grace juga terluka bahkan bisa jadi lebih tercabik darinya.

Rasa gugup mulai menyebar ke seluruh sistem syaraf dalam tubuhnya. Tangannya sedingin es dan lidahnya kelu. Ia mulai menyesali kebodohan dirinya. Seharusnya belasan menit yang lalu ia membalik badan dan terbang menjauh, tapi ia malah membatu di tempat seakan-akan yang berdiri di hadapannya adalah Medusa yang sedang tersenyum padanya. Padahal saat itu Grace sedang memunggunginya.

Adi ingat bagaimana toko buku silat di lantai semi dasar ITC Kuningan yang dikunjunginya tadi sedang dipenuhi tujuh pengunjung berusia lanjut. Tanpa malu para tokoh tua persilatan itu mendehem-dehem sambil menonton ia yang terus berdiri memandangi punggung Grace selama dua menit penuh.

Padahal pengunjung berjenis kelamin perempuan sangat langka, apalagi yang masih berusia muda. Gadis yang datang ke toko buku silat itu biasanya menemani pacar atau ayahnya. Hanya gadis pelahap buku apa saja seperti Grace yang datang ke sana sendirian. Dan dulu ia sendiri yang mengenalkan Grace pada dunia persilatan.

“Tapi bagaimana aku bisa tahu dia itu Grace kalau penampilannya begitu berbeda?” begitu Adi membela dirinya sendiri.

Adi memandangi Grace yang duduk di depannya. Gadis itu sedang termangu. Mata sipitnya tampak menerawang sementara jari-jari lentiknya terus memutar-mutar sedotan jus apel melawan arah jarum jam.

“Dia lebih cantik dari dua tahun yang lalu. Apa karena rambutnya dicat cokelat atau karena ia memakai make-up atau karena aku rindu padanya?”

Adi merasa benci pada dirinya sendiri. Mengapa ia tidak punya nyali untuk menghadapi Grace? Sampai detik ini ia belum mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya. Saat Grace menoleh dan menatapnya dengan mata membelalak, ia juga ikut membelalak. Saat Grace menyapanya dengan ragu, ia hanya bisa meringis. Saat Grace mengajaknya mengobrol di foodcourt Mal Ambassador untuk mengobrol, ia hanya bisa mengangguk-angguk seperti dakocan.

“Aku ini benar-benar idiot,” keluh Adi dalam hati.

Padahal ia sama sekali bukan idiot. Sejak SD sampai SMA, ia selalu menjadi juara pertama di kelasnya. Hampir tiap tahun ia menjadi juara umum. Semasa kuliah Ilmu Komputer di sebuah Universitas Negeri terkemuka, ia nyaris selalu mendapat nilai A sehingga lulus dengan IPK tertinggi. Setelah itu ia lulus Magister Manajemen di almamater yang sama dengan IPK tertinggi pula. Tapi sekarang otaknya yang encer membeku. Ia tidak tahu apa yang sudah membuat otaknya mendadak karatan. Apakah rasa bersalah atau rasa malu.

Sebenarnya ia hendak bertanya ‘Bagaimana kabarmu?’, tapi ia merasa takut. Bagaimana bila Grace menjawab ‘Menurutmu bagaimana?’ dengan dingin atau ‘Tidak baik.’ dengan ketus? Namun jawaban yang paling tidak ingin didengarnya adalah ‘Baik-baik saja.’. Karena ia merasa dirinya tidak baik dan ia tidak percaya sekaligus tidak rela kalau Grace benar-benar baik. Harga dirinya sebagai lelaki terluka bila hati gadis yang ditinggalkannya sama sekali tidak hancur karena merindukan dirinya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Grace tiba-tiba.

Adi memaksakan diri untuk menjawab, “Lumayanlah.”

Adi langsung terdiam begitu melihat Grace tersenyum kecil. Ia langsung sibuk menganalisa apakah itu senyuman sinis atau senyuman mengejek atau senyuman tulus. Grace menatapnya dengan pandangan menunggu namun ia tetap diam. Ia sedang asyik menjelajah database senyuman mantan gadisnya untuk mencari jawaban yang memuaskan hatinya.

“Kalau aku baik-baik saja,” ujar Grace dengan tenang.

Wajah Adi memerah karena malu. Saking malunya karena lupa berbasa-basi, ia tidak merasa ciut mendengar kata ‘baik-baik saja’ yang keluar dari mulut Grace.

“Kau tadi ingin membeli buku apa?” tanya Adi buru-buru untuk menutupi rasa malunya.

“Oh, dua seri terbaru Pendekar Empat Alis, tapi belum ada. Kalau kau?”

“Aku sedang mencari apakah ada karya Ku Lung terbaru, termasuk dua buku itu,” sahut Adi sambil melap keringat di dahi dengan tangannya.

“Kau pasti habis berjalan jauh sampai berkeringat begitu. Dari mana?” tanya Grace sambil menyodorkan tissue.

Secara otomatis tangan Adi langsung terulur untuk mengambil tissue itu. Saat melap keringat di lehernya, ia baru tersadar. Wajahnya langsung memerah lagi namun Grace sepertinya tidak ambil peduli.

Adi mendehem pelan lalu menjawab, “Dari bundaran seberang.”

Grace tersenyum lagi.

“Kau masih mirip Elizabeth Bennet, gila jalan kaki.”

“Siapa?” tanya Adi dengan bingung.

“Tokoh utama Pride and Prejudice.”

“Wah, jangan samakan aku dengan tokoh chicklit jaman baheula itu dong,” protes Adi sambil nyengir.

Grace tertawa hingga matanya tinggal segaris. Tiba-tiba saja kebekuan diantara mereka mulai mencair.

“Mungkin cuma kau direktur di Jakarta yang lebih memilih berkeringat jalan kaki daripada naik mobil atau motor.”

“Kalau kau bilang begitu seakan-akan aku keliling Jakarta berjalan kaki,” ujar Adi sambil tertawa.

“Masih ogah beli mobil? Beli motor dong. Masa kau masih memakai alasan tidak mau direpotkan soal parkir dan helm?”

“Apa kau lupa kalau aku ini pelit?”

“Kau bukan orang yang pelit, tapi sederhana,” bantah Grace sambil tersenyum.

“Apa bukan pelit namanya kalau memakai alasan berjalan kaki untuk berolahraga padahal sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan uang untuk pergi ke gym? Aneh, kau masih juga suka kutipu,” goda Adi sambil nyengir.

Grace terkekeh. Adi tersenyum memandanginya.

“Sekarang kulitmu lebih putih, pasti kau tidak pernah berpanas-panas berjalan kaki lagi, ya.”

“Jalan kaki sendirian kan tidak enak, Di.”

Mereka terdiam sejenak mengenang bagaimana mereka dulu berjalan bergandengan di bawah terik matahari dan di tengah hembusan debu dan asap knalpot Jakarta. Adi tak pernah lupa pada wajah Grace yang selalu berkeringat di bawah topi baseball. Rambutnya yang hitam panjang selalu dikuncir ekor kuda memamerkan leher jenjangnya yang lengket.

Grace menyeruput jusnya lalu bertanya, “Bagaimana usahamu? Lancar?”

Adi tersenyum hambar sebelum menjawab, “Aku sedang berpikir untuk menjualnya.”

“Mengapa? Bukankah klien-klienmu perusahaan besar?” tanya Grace dengan kaget.

“Ya sih, tapi semakin besar mereka makin birokratis. Mereka sering menunda-nunda pembayaran. Salah satu dari mereka malah sengaja tidak mau membayar tagihan terakhir.”

“Lho, mereka tidak bisa seenaknya begitu dong. Kan ada kontrak kerja. Berapa nilai tagihannya?”

“Enam puluh lima juta. Alasan mereka, pihak asing yang membeli perusahaan mereka tidak ingin memakai sistem yang kami buat. Sesudah enam bulan dilempar ke sana-kemari seperti bola pingpong, aku terpaksa datang dengan membawa pengacara. Pengacara yang kupakai juga bukan dari biro hukum terkenal. Mereka tidak mau mengurusi jumlah uang sekecil itu lagipula aku tak mampu membayar ongkos mereka. Jadi aku menggunakan konsultan hukum almamater kita,” sahut Adi dengan datar.

“Lalu?”

“Kami berhasil mendapat tiga puluh lima juta dikurangi tiga juta untuk pengacara. Mungkin seharusnya aku memakai jasa debt collector,” tukas Adi dengan getir.

Grace tampak prihatin.

“Makanya akhir-akhir ini, aku lebih memilih nilai kontrak di bawah seratus juta. Proyek cepat selesai dan tagihan lancar.”

“Kalau begitu mengapa kau masih ingin menjualnya?”

“Aku kekurangan orang. Usaha konsultan teknologi informasi itu susah dijalankan sendirian. Aku tidak bisa menangani pemasaran sekaligus mengatur anak buah. Satu setengah tahun yang lalu Didit keluar. Dia ditawari klien menjadi manajer divisi teknologi informasi. Kalau biasanya programmer kami yang dibajak sekarang malah salah satu direkturnya. Sedangkan Oki memilih melanjutkan usaha keluarganya. Sekarang dia jadi juragan bakpao,” ujar Adi sambil tertawa.

Grace ikut tertawa meski sorot matanya tampak sedih.

“Wah, aku jadi malu. Baru ketemu sudah banyak mengeluh. Kau sendiri bagaimana?” tanya Adi.

“Delapan bulan yang lalu aku pindah kerja. Sekarang aku sekantor dengan Inge di Kuningan, masih di bagian pajak. Kau masih ingat Inge kan?”

Inge adalah teman akrab Grace semasa kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi di UI dulu. Secara terang-terangan Inge menunjukkan sikap tidak bersahabat dengan Adi. Ia tidak pernah rela dan tidak bisa menerima sahabatnya menjadi pacar Adi.

“Dia pasti masih membenciku, ya,” ujar Adi sambil tersenyum.

“Sedikit. Sekarang dia jadi pacar…”

Kata-kata Grace terputus saat ponsel Adi berdering. Semenit kemudian ponsel Grace juga ikut berdering. Mereka bicara dengan ponsel masing-masing sambil sesekali saling melirik. Grace selesai bicara lebih dulu.

“Sudah hampir jam tujuh. Aku harus pulang sekarang,” ujar Grace begitu Adi selesai bicara dengan ponselnya.

“Aku juga harus kembali ke kantor.”

“Jam segini kau masih kembali ke kantor? Sekarang sudah jam tujuh, kapan kau pulang?”

“Nanti, jam sembilan,” sahut Adi sambil berdiri.

Keduanya berjalan beriringan. Adi memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya supaya tangannya tidak menggandeng atau merangkul Grace.

“Kau tidak berubah, Di.”

“Tahu dari mana?”

“Buktinya ponselmu masih yang dulu.”

Adi tersenyum sambil meraba ponsel Nokia miliknya yang masih hitam-putih dan monophonic di dalam saku celana kanannya.

“Bahkan dering ponselmu masih lagu yang sama.”

Grace menggumamkan lagu Ni Yao Te Ai, soundtrack Meteor Garden.

“Meteor Garden sudah lewat, Di.”

“Biarin. Aku suka lagunya.”

“Selalu mengingatkanku padamu,” tambah Adi dalam hati.

“Model rambutmu tidak berubah. Kau juga masih kurus dan seputih dulu.”

“Ubanku tambah banyak,” bantah Adi.

Grace melirik rambut jabrik di atas kepala Adi.

“Ah, siapa bilang? Paling masih satu banding delapan.”

Adi tertawa. Hanya Grace yang pernah menghitung jumlah uban dalam seratus helai rambutnya.

“Sekarang kau tinggal di mana?” tanya Grace.

“Masih di rumah kontrakan dulu. Hanya beda satu gang dengan kantorku jadi aku bisa makan siang di rumah. Kau masih ingat tempatnya kan?”

Adi segera menyesali kalimat terakhirnya. Untuk apa ia berkata begitu? Apa ia masih berharap Grace muncul di sana?

Mereka berdua terus berjalan menuju pintu utama.

“Kau parkir mobil di mana?” tanya Adi.

“Oh, aku dijemput pacarku.”

Wajah Adi mengejang sekejap lalu ia tersenyum. Sementara Grace menatapnya dengan seksama seperti ingin melihat reaksinya.

“Dia pasti lebih baik dariku, ya.”

“Kau kenal dia. Dia Mas Raymond, teman Mas Ignas.”

Adi mencoba mengingat-ingat. Grace mempunyai tiga kakak laki-laki dan satu adik laki-laki. Ignas adalah kakak keduanya. Lalu Raymond itu yang mana? Seingat Adi, Ignas sering keluyuran dengan tiga temannya. Apakah ia temannya yang suka pamer mobil baru karena bapaknya juragan showroom mobil mewah itu? Atau playboy anak dokter bedah jantung beken di Jakarta?

Bukan, pasti bukan. Grace tidak pernah suka dengan tukang pamer kekayaan dan playboy. Lagipula Ignas juga tidak akan rela adik kesayangannya dipacari dua temannya yang brengsek itu. Kalau begitu jangan-jangan Raymond itu anak pasangan pengacara yang tubuhnya tinggi gempal dan berkacamata.

“Si King Kong itu?” tanya Adi dengan ragu.

“Iya, tapi sekarang dia sudah bukan King Kong lagi. Kau pasti pangling kalau melihatnya. Nah, kebetulan dia sudah sampai,” ujar Grace sambil menunjuk mobil Toyota Yaris hitam mengkilap yang berhenti di depan mereka.

Jendela mobil terbuka dan mata Adi terbelalak.

bersambung...

behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
GingerAle
Hehehe... sip sip, sis...

Layak untuk ditunggu lanjutannya.
Eh, kira2 nih bakal penuh gelak tawa apa penuh derai airmata nih?

BigGrin.gif
(Apa jangan2 ternyata ini cerber yang 'berdarah-darah' lagi, tapi salah tempat posting? Hihihihihihihihi)
eroge
waks, ini asli romantis lho, jeung Love.gif
tp ada berdarah2 dikit juga siy...
Eric Mathews
Duh...

Koq mutus ceritanya disitu, padahal udah mulai asyik...

Ok deh, ditunggu kelajutannya sist....
sankdëшa
weleh... keputus hiks sad.gif

Applause.gif Applause.gif

mantep nih bude BigGrin.gif

ditunggu ya sambungannya smile.gif
eroge
bagian 1:
Adi tak bisa berhenti membodohi diri sendiri setelah kali itu tak berhasil menghindar dari Grace-mantan kekasihnya. Apakah Grace yang sudah mempunyai pacar baru juga merasa gonjang-ganjing setelah pertemuan yang tak disengaja dan tak direncanakan itu?




“…You fill my heart with gladness… take away all my sadness… Ease my troubles that’s what you do…”

Inge menyanyikan lagu Have I Told You Lately That I Love You dengan sumbang sambil memandangi ponsel mungilnya. Ia selalu menyanyikan lagu ini kapan dan di mana pun ia berada tiap kali pacar barunya meneleponnya. Sebenarnya ia bukan penggemar Rod Stewart namun berkat sang pacar, sekarang ia tergila-gila pada playboy sepuh berambut jabrik itu.

Mendadak senandungnya terhenti dan ia segera berdiri dan melongok ke balik partisi. Dilihatnya Grace sedang duduk menatap layar monitor komputer tanpa bergerak. Pandangan matanya tampak kosong.

Inge langsung menghampiri dan mencolek pundak Grace dengan mantap bak pendekar silat yang sedang membebaskan totokan jalan darah hingga tubuh langsing sahabatnya sedikit berayun.

“Suaramu lama-lama bagus juga,” ujar Grace dengan nada mengambang.

Inge melongo. Meski tahu Grace sangat susah untuk dikagetkan apalagi sampai melontarkan kata-kata latah tentang jeroan laki-laki, tapi ia tidak pernah menyangka Grace akan memuji suaranya. Karena selama ini Grace selalu protes tiap kali mendengar ia menyanyikan lagu wajibnya.

“Siapa yang sudah membuat otakmu koslet begini?” tanya Inge dengan curiga sambil menarik kursinya ke samping kursi Grace.

Grace memutar kursinya dan menatap sahabatnya lalu berkata dengan tenang, “Kemarin sore aku bertemu Adi di ITC Kuningan.”

Inge melongo lagi namun hanya sekejap.

“Lalu dia pasti kabur lagi kan?” tuduhnya dengan sengit.

“Tidak. Kami mengobrol selama setengah jam.”

“Ah, kau bohong. Selama ini dia kan selalu menghindarimu mana berani dia mengoceh sampai setengah jam.”

“Tidak,” bantah Grace sambil menggeleng dengan getol. “Dia juga bertemu dengan Mas Raymond.”

Mata besar Inge hampir melejit keluar dari rongga matanya.

“Raymond juga bertemu dengan si brengsek itu?” serunya.

“Jangan panggil dia brengsek,” ujar Grace dengan sedikit cemberut.

“Tapi dia memang brengsek. Apa kata Raymond?”

“Dia heran melihat Adi sama sekali tidak berubah.”

“Jadi dia masih kurus, beruban dan dekil?”

“Dia tidak dekil,” bantah Grace lagi.

Inge menatap sahabatnya dengan tajam.

“Mengapa kau masih membelanya? Apa kau sudah lupa kalau dulu dia menyia-nyiakanmu begitu saja?”

“Tapi aku yang minta putus bukan dia.”

“Itu sudah sepantasnya. Masa kau mau terus menunggui dia?”

Grace diam saja dengan bibir merengut.

“Apa anak mami itu masih tinggal bersama mamanya yang galak?” tanya Inge dengan sinis.

“Aku lupa tanya, tapi dia bukan anak mami,” sahut Grace dengan jengkel.

Inge menghela napas lalu berkata dengan tegas, “Raymond itu baik.”

“Aku juga tahu itu.”

“Baguslah.”

Keduanya terdiam dan Grace memutar balik kursinya menghadap monitor komputer. Lalu ia meng-input beberapa jurnal pajak dengan kecepatan tinggi. Inge menarik kursi berodanya kembali ke kubikelnya.

Inge menggelengkan kepalanya. Sejak dulu ia tidak pernah bisa mengerti mengapa Grace bisa jatuh cinta pada Adi. Bayangan laki-laki kurus yang mencangklong ransel kumal dengan wajah persegi dan rambut ubanan jabrik mampir di benaknya.

Apa yang menarik dari Adi? Pakaiannya lusuh. Bau keringat bercampur bau polusi jalan selalu menyertainya. Sorot matanya tidak tajam menikam yang mampu melumerkan hati gadis dalam sekejap seperti tokoh-tokoh utama dalam chicklit yang sering dibaca Inge. Melainkan tenang, tapi tidak menghanyutkan. Hidungnya tidak begitu mancung. Bentuk bibirnya biasa saja, tidak seksi. Senyumnya memang ramah dan tawanya renyah, tapi tidak meninggalkan kesan mendalam. Pokoknya tidak ada yang istimewa dari wujud Adi kecuali kulitnya yang putih, tidak memerah atau kecokelatan meski terus terpanggang sinar matahari.

Menurut Inge satu-satunya kelebihan Adi adalah otaknya yang cerdas. Tidak ada seorang pun yang menyangkal hal itu. Aneh juga. Bagaimana anak dari keluarga miskin bisa memiliki otak yang bergizi tinggi. Inge sering menduga apakah Grace begitu memuja Adi karena mengagumi kejeniusannya?

Ingatan Inge melayang mundur ke enam tahun yang lalu. Waktu itu ia dan Grace sudah duduk di semester tujuh.

Mereka sedang mendiskusikan skripsi di dalam kamarnya saat Grace tiba-tiba bertanya, “Kau ingat dengan Adi?”

“Dosen muda Ilmu Komputer yang kumal yang nekat mengajakmu kenalan di perpustakaan?”

“Ya, memang dia.”

Lalu Grace terdiam dengan wajah bersemu merah.

“Lalu?” tanya Inge tidak sabar.

“Kami pacaran,” ujar Grace malu-malu.

Inge melotot lalu berseru, “Sejak kapan??”

“Sejak kemarin sore.”

“Apa kau sudah gila? Mengapa tidak menanyakan dulu padaku?”

“Lho, kan aku yang mau pacaran bukan kau.”

“Tapi kok mau-maunya kau jadi pacar orang miskin? Dia kan tidak punya motor boro-boro mobil.”

“Kami bisa berjalan kaki atau naik kendaraan umum.”

“Yang benar saja. Paling dia nebeng mobilmu,” ejek Inge.

“Tidak. Dia merasa tidak nyaman kalau aku yang menyetir mobil. Soalnya dia tidak bisa menyetir.”

Inge ternganga.

“Dia kan miskin,” ulang Inge. “Cina miskin.”

“Apa masalahnya? Toh mataku juga sipit, mirip orang Cina. Lagipula kami seiman,” sahut Grace dengan enteng.

“Kalau begitu mengapa kau tidak pacaran dengan orang Cina kaya yang seiman saja?”

Wajah Grace berubah masam.

“Aku tidak suka kau rasis begini,” protesnya.

“Sorry, tapi apa yang kau lihat dari dia sih?” tanya Inge dengan heran.

“Dia baik dan pintar,” sahut Grace sambil tersenyum lembut.

Matanya berbinar-binar bahagia dan senyum terus mengembang menghiasi wajah lonjongnya. Grace tidak peduli meski Inge terus menjabarkan segudang perbedaan diantara dirinya dan Adi. Ia malah menceritakan kehidupan Adi yang dirasanya sangat menarik.

“Dia orang paling mandiri yang pernah aku kenal, Nge. Biarpun dia anak tunggal, tapi dia tidak semanja pacar-pacarku yang dulu. Sejak kecil dia sudah belajar mencari nafkah sendiri karena papanya meninggal waktu dia berumur delapan tahun. Selama SD-SMP dia pernah berjualan kue-kue bikinan dan es mambo bikinan Mamanya di sekolah. Dia juga pernah berjualan kembang api dan petasan. Bahkan jadi bandar togel pun pernah.”

Mata Inge membelalak ngeri. Astaga! Manusia macam apa sebenarnya Adi ini? Bagaimana Grace bisa jatuh cinta padanya?

“Waktu masih kecil dia tinggal di Panjang, Lampung. Kalau sedang tidak punya uang, dia diajak orang-tuanya memunguti remis di dekat pelabuhan untuk lauk makan. Asyik, ya.”

Inge tidak habis pikir di mana asyiknya kehidupan yang dijalani Adi. Menurutnya, hidup miskin itu sangat mengerikan. Inge sangat penasaran bagaimana cara Adi menceritakannya pada Grace karena gadis itu menganggap pengalaman hidup kekasihnya yang menyedihkan sebagai petualangan eksotik.

“Kau pikir keluargamu setuju kau pacaran dengan anak tukang jahit?”

Papa Grace adalah salah satu petinggi di Pertamina. Sementara Mamanya pengusaha catering.

“Mengapa harus tidak setuju? Dia kan bukan maling atau koruptor,” sahut Grace dengan nada tidak peduli.

Inge tertegun. Ia tidak mengerti mengapa Grace menjadi mirip mahasiswa-mahasiswa yang gila demo itu? Sejak kapan sahabatnya menjadi idealis begini? Padahal mereka sudah sepakat tentang kriteria calon suami yang baik. Calon suami? Ya, karena pacaran harus serius, bukan hanya untuk bersenang-senang saja apalagi main-main.

Kriteria pertama, calon suami yang baik harus seiman, mencintai calon istrinya dengan setulus hati dan bertanggungjawab. Setulus hati artinya setia sampai mati apapun yang terjadi. Bertanggungjawab artinya mampu mencukupi kebutuhan keluarga lahir-batin. Intinya, ia harus mapan dan kaya. Nah, Adi sudah tidak memenuhi kriteria pertama poin terakhir.

Kedua, calon suami jangan sampai mempermalukan calon istri. Artinya, tidak terlibat kegiatan kriminal seperti judi dan narkoba. Selain itu wajah harus tampan dan penampilan rapi-wangi, tapi otak juga harus berfungsi dengan baik. Adi juga gagal memenuhi kriteria kedua ini meski mutu otaknya di atas rata-rata.

Nyatanya cinta tidak bisa diatur menurut skenario dan Grace sudah mabuk cinta berat pada Adi. Ia selalu memamerkan segala sesuatu tentang pacarnya dengan detail pada Inge yang jelas-jelas menolak mendengarkannya.

“Adi begini… Adi begitu. Aku bosan!” seru Inge dengan jengkel. “Eh, mengapa kau tidak memanggilnya Mas? Dia kan lebih tua tiga tahun darimu. Ah, seharusnya kau panggil dia Koko.”

“Dia yang tidak mau dipanggil begitu. Menurutnya panggilan Mas dan sebagainya itu membuatnya tua,” sahut Grace sambil tersenyum.

Inge sangat membenci Adi karena telah merebut sahabatnya. Semua waktu Grace habis untuk Adi dan buku-buku yang dibeli mereka dari lapak-lapak di pinggir jalan Kwitang atau pasar Senin.

“Kami dapat diskon tiga puluh persen, Nge,” ujar Grace dengan bangga sambil memamerkan berbagai novel dan buku-buku kuliah yang habis dibelinya.

Inge merasa ngeri melihat begitu drastis perubahan yang terjadi pada diri Grace. Grace memang agak tomboy karena sejak kecil dikelilingi saudara-saudaranya yang semuanya laki-laki. Ia lebih suka musik rock daripada pop dan lebih suka memakai celana jeans daripada rok mini. Tapi ia masih rajin ke salon untuk memanjakan kulit dan rambutnya yang panjang.

Namun sejak berpacaran dengan Adi, Grace menjadi ikut-ikutan lusuh, berkeringat dan jarang memakai make-up. Kulit putih mulusnya mulai menggelap dan kusam. Rambutnya yang indah menjadi kering karena selalu dikuncir dan terbakar panas matahari.

“Aku tidak suka dia,” ujar Inge pada suatu saat.

“Aku malah suka sekali padanya,” sahut Grace dengan ringan. “Adi baru saja mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di UI.”

Inge sering muak melihat Grace dan Adi memamerkan kemesraan mereka. Ke mana pun mereka pergi selalu bergandengan tangan atau berangkulan. Tapi Inge tidak pernah mendengar Grace menceritakan rayuan mesra berbunga-bunga yang keluar dari mulut Adi.

“Adi hanya bilang mencintaiku pada saat mengajakku pacaran dan di hari ulang-tahun jadian kami,” jawab Grace ketika ditanya.

Berarti baru dua kali. Inge mengeluh dan mulai berdoa novena pada Tuhan agar sahabatnya ini disadarkan dari cinta yang membabibuta.

bersambung...


behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
Eric Mathews
Ditunggu Lanjutannya sis...
Sy and Unknown
eh cc ku dah mulai nulis lagi.. HeHe.gif
dah dpt inspirasi baru yach ? Whistle.gif
virgin_hunter
si adi liat apaan tuh mlotot2? mantannya? emaknya? atau ngliat setan? HeHe.gif mari kita tggu klanjutannya>>>
GingerAle
QUOTE (eroge @ Oct 13 2008, 11:35 PM) *
waks, ini asli romantis lho, jeung Love.gif
tp ada berdarah2 dikit juga siy...


Hihihi, seru tuh Mbak...

Jadi pengen ngikut nulis cerita romantis nih... setelah nyelesein yang 'seru' aku coba deh...
(Ini yang 'seru' aja belom kelar2...hihihi)
eroge
@Eric Mathews: sabar, bro sampe dobel posting gitu-tapi kok beda 10 menit ya.
ternyata ente romantis juga ye BattingEyelashes.gif

@Sy and Unknown: halah. lu kan dah pernah gue kasih cerita ini. bijimana seeeh...
Sy and Unknown
QUOTE (eroge @ Oct 15 2008, 09:33 PM) *
@Sy and Unknown: halah. lu kan dah pernah gue kasih cerita ini. bijimana seeeh...


hehe, saya kan cm mau memotivasi cc-ku ini supaya menulis lagi
kalo kurang inspirasi-nya, tar malam gw nongkrongin loe ama suami loe ah di tempat biasa Whistle.gif
eroge
halah, lagi.
Rota Kurivaim
Bude Bagus Banget Love.gif Love.gif
Sambung Baca Lanjutannya Deh BigGrin.gif
sankdëшa
numpang baca2 dulu ya, bude HeHe.gif
Bounty Hunter
descriptive, kita bener2 seakan berada dalam cerita itu sendiri. salute smile.gif

td gw sempat merasa menjadi adi. tp grace siapa yach axehead.png

ignas itu dari kingkong bakalan menjadi apa daydreaming.gif

bike.gif menuju ke bagian 2 BigGrin.gif
Bounty Hunter
mmmmmm Thinking.gif

konflik udah mulai terasa

pertentangan antara nalar dan emosi

tanggapan dari pihak2 terdekat

lanjut baca dolo ah..bikin penasaran BigGrin.gif

bike.gif .......brmmmm...to vol 3 BigGrin.gif


A n d j a c K
wah kek nya gue telat ne....
lanjut ke bagian dua dulu ah...
Whistle.gif Whistle.gif Whistle.gif Whistle.gif Whistle.gif
A n d j a c K
ngikut ah...
lanjut...
bike.gifbike.gifbike.gifbike.gifbike.gifbike.gif
kyo_sHy
Ckkkckckckk...Lanjut ke bag dua deh.,
Hehehe..gw jga ktinggalan,.
kyo_sHy
Hmm...mulai asik Sis., lanjut lagi...!!
cokil7
wah, gwe ketinggalan,lanjut bagian 2
Horace
mohon di edit :
Saat Grace menggumamkan lagu dari F4. Adi Apa Grace yang menggumam?
eroge
QUOTE (Horace @ Feb 16 2009, 12:06 PM) *
mohon di edit :
Saat Grace menggumamkan lagu dari F4. Adi Apa Grace yang menggumam?

nggak ada yg perlu diedit wong maksud gue emang Grace yg menggumam.
Adi yg punya hp dgn ringtone lagu itu.
backmine
Laporan bulek .. BigGrin.gif
Bab 1 selesai.. Applause.gif

Lanjut menuju bab selanjutnya..
backmine
Makin seru nih.. BigGrin.gif

Dah mulai ada awan awan hayalan di kepala ane bulek.. daydreaming.gif

Lanjut meneh ke bab 3.. bike.gif
wu_neng
keren.....sambung lagi ah...
white lotus
kereen ni. walau ada rasisnya hehehehe
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.