Help - Search - Members - Calendar
Full Version: cinta terajut petaka bagian 3 dan bagian 4
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
eroge
bagian 2:
Inge cemas melihat perubahan pada diri Grace apalagi setelah tahu pertemuan dengan Adi yang menjadi penyebabnya. Apa sebenarnya yang dirasakan Grace usai berjumpa mantan pacarnya?




Grace memandangi kotak kecil di tangannya. Ia membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin platina bermata sederet lima berlian kembar. Sebuah cincin pertunangan yang mewah. Raymond yang memberikannya sepulangnya mereka dari jalan-jalan. Saat Grace hendak turun dari mobil, tangan Raymond menahannya. Grace sedikit bingung. Bukankah Raymond sudah menciumnya?

“Aku mau bicara sebentar,” ujar Raymond dengan pelan.

Grace menatap Raymond dengan heran. Tidak biasanya Raymond seserius ini. Apalagi ia tampak begitu tegang. Ia menggenggam tangan Grace sambil menatap mata kekasihnya dalam-dalam seperti sedang mencari sebutir mutiara yang terjatuh di dasar kolam.

“Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu.”

“Ya, aku tahu.”

Raymond terdiam sejenak. Ia seperti menunggu sesuatu, tapi Grace tetap diam. Gadis itu malah menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Kau ingat kan kalau dua bulan lagi aku pindah ke Singapura?”

Grace mengangguk. Tentu saja gadis ini ingat. Sejak bulan lalu Raymond sudah sering mengatakan begitu proyek yang dipimpinnya selesai, ia akan ditransfer ke Singapura. Ia bekerja sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang konstruksi kilang minyak dan gas lepas pantai.

“Sayang, maukah kau menjadi istriku? Aku mau kau jadi ibu bagi anak-anakku.”

Grace ternganga. Mulutnya menganga makin lebar dan matanya melotot melihat setelah melihat cincin itu.

“Mas,… aku… eh… aku…,” ujar Grace tergagap.

Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Yang terlintas di benaknya hanyalah, “Astaga! Cincin ini norak sekali! Sepertinya ukurannya juga terlalu besar. Bagaimana aku bisa memakainya?”

“Aku tahu pernikahan mungkin terlalu cepat dan tidak ada waktu untuk mempersiapkannya. Tapi kita bisa bertunangan dulu baru mempersiapkan pernikahan dengan matang. Keluarga kita juga sudah setuju. Bagaimana?”

Grace tampak gelisah. Keluarganya sudah setuju, tapi ia sama sekali tidak tahu apa-apa.

“Ng… Aku… Boleh aku minta waktu sehari untuk berpikir dulu, Mas?”

Raymond tampak sedikit kecewa namun masih bisa tersenyum.

“Boleh. Tentu saja boleh.”

Grace menghela napas lega.

“Terima kasih, Mas. Aku akan memberi jawaban secepatnya.”

Raymond membelai rambut kekasihnya dengan lembut sambil berujar, “Kau kaget sekali, ya?”

Grace mengangguk sambil tersipu malu.

“Tapi kau suka cincinnya kan?”

Melihat Grace mengangguk-angguk dengan getol, Raymond tersenyum bahagia. Dalam hati ia menertawakan nasehat Mamanya.

“Pilih yang solitaire saja dan ukuran berliannya yang kecil. Bukannya Mama menyuruhmu pelit, tapi Grace kan agak tomboy dan dia kurang suka memakai perhiasan. Buktinya tiap hari dia hanya memakai anting-anting seupil. Kalau kau memberinya cincin yang menyolok nanti malah tidak dipakainya.”

Sekarang Grace mencoba cincin itu di jari manis kirinya. Benar, ukurannya sedikit longgar. Ia menggeleng pelan lalu mencopot cincin itu dan mengembalikannya ke dalam kotak. Grace menghembuskan napas panjang sambil memejamkan matanya. Ia teringat bagaimana Mama sudah menunggunya di balik pintu dengan wajah bahagia.

“Selamat, ya!” ujar Mama sambil mencium kedua belah pipi putrinya dengan penuh semangat.

“Ma, aku…”

Belum sempat Grace menyelesaikan kata-katanya, Papa sudah menyusul memeluknya dengan erat. Disusul Inge yang tiba-tiba muncul dan memeluknya sambil tertawa kegirangan.

Lalu Ignas menyalaminya sambil tersenyum lebar dan berujar, “Wah, aku keduluan adikku lagi deh.”

Tanpa malu Inge langsung menggelayut di lengan Ignas dengan manja. Mbok Yem, pembantu yang sudah setia mengikuti keluarga mereka selama tiga puluh tujuh tahun sudah bersiap memeluk Grace dengan mata berkaca-kaca. Namun Grace segera mencegahnya.

“Dengar dulu semuanya. Aku belum menjawab lamarannya.”

Kontan wajah semua orang berubah menjadi kecewa. Mbok Yem batal meler dan mengerutkan keningnya sehingga kerut di dahinya makin berlipat.

“Mengapa belum?” tanya Mama setengah memprotes.

“Apa yang harus kau pikirkan lagi?” tanya Papa dengan bingung.

“Apa sih kekurangan Raymond?” tanya Ignas dengan heran.

Inge tidak berkata apa-apa, tapi matanya menatap mata Grace dengan pandangan menuduh. Grace seperti mendengar ia berteriak, “Kau pasti masih memikirkan si brengsek itu kan?!”

Grace merasa bersyukur karena kedua kakaknya yang lain, Mas Alex dan Mas Benny tidak tinggal bersama mereka lagi. Daniel, adiknya sedang kuliah di Bandung. Ia tidak sanggup bila harus menghadapi mereka semua sendirian.

“Aku butuh waktu untuk berpikir.”

Grace hanya sempat mengucapkan satu kalimat itu karena seisi rumah langsung memprotesnya lagi.

Grace memandangi foto Raymond di atas meja. Kekasihnya tidak mirip dengan King Kong lagi sejak mengganti kacamata tebalnya dengan softlens dan menguruskan badannya. Telunjuk Grace yang lentik membelai foto Raymond. Wajahnya yang tampan tampak tersenyum padanya. Raymond yang selalu setia menghibur dan mendengarkan curahan kekecewaannya pada Adi. Sampai sekarang ia tidak mengerti mengapa Adi mendadak menjauhinya. Bahkan saat Adi diwisuda S2, ia tidak diajak ikut menghadirinya. Bukankah kehadiran kekasih sangat penting di saat wisuda?

Puncak hancurnya hati Grace saat Adi mendadak membatalkan hadir dalam acara wisudanya. Seluruh keluarga yang sudah siap berangkat menjadi kebingungan melihat Grace yang cantik dalam balutan kebaya menangis tersedu-sedu. Papa-Mama, kakak-kakak dan adiknya mencoba membujuknya berhenti menangis, tapi tidak satu pun yang berhasil.

Grace ingat bagaimana Raymond yang kebetulan sedang menginap di rumahnya mendadak memeluk dan mengeringkan air mata di pipinya di depan seluruh anggota keluarganya tanpa malu dan ragu. Mereka semua termasuk ia sendiri sangat terkejut kecuali Ignas. Seingatnya, Ignas tersenyum merestui tindakan Raymond. Belakangan Grace baru tahu kalau kehadiran Raymond sudah diatur oleh Ignas. Sehari setelah wisuda, Grace langsung memutuskan hubungan dengan Adi yang menerima tanpa banyak protes.

“Ya, kurasa memang itu yang terbaik untukmu,” ujar Adi dengan pelan.

Sejujurnya Grace berharap Adi akan menolak, minta maaf, berjanji tidak akan mengecewakannya lagi dan memperjuangkan cinta mereka dengan sekuat tenaga. Tapi Adi diam saja. Memberinya ciuman terakhir pun tidak.

Grace termenung sambil memeluk dirinya sendiri. Lengan kekar dan dada bidang Raymond memang memberi rasa aman, tapi sepertinya belum bisa menandingi rasa hangat yang diberikan lengan dan dada Adi yang kurus liat. Ciuman Raymond terasa lembut dan manis, tidak seperti ciuman Adi. Rasanya…

Grace terkesiap.

“Mengapa aku memikirkannya lagi?”

* * *


Suara empuk Susan Wong bersaing dengan bunyi kipas angin yang mendengung. Mengingat betapa pelitnya Adi, dapat dipastikan CD yang mengalun dari laptop di hadapannya bukan Audiophile original melainkan asli bajakan yang dibelinya di Mal Mangga Dua.

Adi meregangkan kedua lengannya, membunyikan sendi-sendi ruas jari tangan dan lehernya, lalu memijati pundak hingga kelingking kanannya yang pegal. Ia terlalu lama memakai mouse dan posisi mejanya terlalu tinggi sehingga siku dan kelingking kanannya terasa sedikit ngilu.

Sebenarnya hatinya juga ngilu. Sejak bertemu lagi dengan Grace empat hari yang lalu, wajah gadis itu terus terbayang di matanya. Untuk melupakannya, ia makin menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Kebetulan pekerjaannya memang menumpuk. Seperti hari ini misalnya. Biarpun sekarang malam minggu, tapi ia malah lembur seharian di kantor mempersiapkan bahan presentasi untuk hari Senin.

Ia memejamkan matanya yang lelah. Omelan Mamanya saat makan malam tadi kembali berkumandang di telinganya.

“Kapan kau mau pacaran lagi? Mau sampai kapan kau terus begini? Teman-teman sekolahmu dulu semuanya sudah menikah. Kapan giliranmu? Umurmu sudah tiga puluh satu. Kapan Mama punya cucu? Kau memang harus Mama carikan pacar. Kalau menunggumu, bisa-bisa Mama keburu mati.”

Wajah Grace terbayang lagi di matanya. Adi mendesah dan membuka matanya. Mendadak ponselnya berdering. Sederet nomor ponsel yang tidak dikenalnya muncul di layar ponselnya.

“Halo,” ujarnya dengan ragu.


bersambung...


behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
Eric Mathews
Ditunggu Lanjutannya sist...
eroge
bagian 3:
Pertemuan tak disengaja dengan Adi tampaknya membuat Grace ragu dan tak langsung mengiyakan ajakan tunangan dari Raymond. Sementara itu dapatkah Adi meredakan rasa ngilu di hatinya?




“Adi?”

Jantungnya langsung berdegup kencang.

“Grace?” tanyanya dengan sedikit parau.

“Ya. Kau belum tidur kan?”

“Belum. Kau sendiri?” tanya Adi setelah melirik angka 11:40 PM di sudut kanan bawah laptop-nya.

Grace tertawa lalu berkata, “Kalau aku sudah tidur ya tidak bisa bicara begini dong.” Ia menghela napas lalu melanjutkan, “Aku mau bertanya sesuatu.”

“Apa?” tanya Adi yang makin dag-dig-dug.

“Mengapa dulu kau melepaskanku begitu saja?”

Adi terkejut sampai tidak mampu berkata apa-apa.

“Apa karena keluargaku? Apa mereka mengatakan sesuatu padamu? Atau karena Mamamu? Atau memang aku penyebabnya?”

“Untuk apa kau menanyakannya lagi? Bukankah dulu aku sudah pernah berkata kalau hubungan ini tidak punya prospek.”

“Hubungan kita bukan proyek, Di. Memulainya saja tidak pakai tender dan presentasi.”

“Grace… Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini? Bukankan kita sudah sepakat mengakhiri hubungan dengan baik-baik.”

“Apanya yang baik-baik kalau kau terus menghindariku. Kau tidak pernah membalas telepon dan SMS dariku. Aku tahu sebenarnya kau ingin kabur waktu kita bertemu di toko buku itu. Kau mirip kelinci yang tersudut dan tidak bisa melarikan diri karena di hidungnya sudah menempel moncong laras senapan.”

Adi tertawa dengan kaku.

“Benar-benar perumpamaan yang jelek.”

“I need closure, Di.”

Adi terdiam. Jantungnya yang berdetak cepat mendadak seakan berhenti.

“Kau pasti mau menikah,” ujar Adi dengan suara bergetar.

Grace tidak menyahut. Adi menghela napas dengan perlahan untuk menenangkan hatinya yang serasa ingin pecah.

“Apa King Kong itu benar-benar mencintaimu?”

“Ya.”

“Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”

“Baik.”

“Sudah punya rumah dan mobil sendiri?”

“Sudah.”

“Karirnya bagus dan gajinya besar?”

“Ya.”

“Kalau begitu apa masalahnya? Apa kau minta restuku? Tentu saja aku merestuimu. Kau harus mendapat yang terbaik dan King Kong itu jauh lebih baik dariku.”

“Dia mau membawaku pindah ke Singapura.”

Lalu hening. Yang terdengar hanya suara Susan Wong.

I wish you health but more than wealth
I wish you love

My breaking heart and I agree
that you and I could never be
So with my best, my very best
I set you free

Adi ingin bertanya, “Apa kau masih mencintaiku?”. Tapi ia takut mendengar jawabannya. Jawaban “Masih” dan “Tidak” sama-sama terdengar menyakitkan.

“Kapan kau menikah?”

“Tanggalnya belum ditentukan. Kami akan bertunangan dulu. Nanti kukirimi kau undangan. Kau pasti datang kan?”

“Apa benar kau menginginkanku datang? Dan apa aku sanggup untuk datang?” batin Adi.

“Tentu saja aku pasti datang,” sahutnya.

* * *


Sudah satu jam lamanya Grace merubah-ubah posisi tidurnya. Akhirnya dengan kesal ia menendang selimut dan duduk mencangkung di tengah ranjang. Ia melihat jam weker yang menyala dalam gelap. Sudah pukul dua lewat dua puluh.

Ia meringis saat bagian perut bawahnya mendadak kram. Hari kedua menstruasi adalah puncak penderitaan bulanannya. Migrain, gerah, perut panas-dingin dan darah yang keluar sangat banyak. Tapi dua hari berikutnya, hanya flek yang tampak di pembalut yang dipakainya. Dan di hari kelima selesailah sudah, bulan pun pergi.

Grace bangkit dari ranjang dan berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah tersaruk-saruk. Saat hendak membuka pintu kamar mandi di sebelah kamarnya, ia berhenti. Ia merasa mendengar bunyi pelan yang mencurigakan.

Ia melihat ke sekelilingnya. Lantai dua tampak gelap gulita, begitu juga lantai satu. Ia memutuskan untuk membangunkan Ignas. Ia tidak berani memeriksa seisi rumah besar ini sendirian.

Namun baru tiga langkah menuju kamar kakaknya yang berada di ujung lantai dua, mendadak dua sosok bayangan muncul di ujung tangga. Ia langsung gugup. Ia ingin berteriak ‘Tolong!!’ sekuat mungkin, tapi tenggorokannya tercekat. Tanpa pikir panjang ia berlari kembali masuk ke dalam kamarnya.

Sebuah langkah yang bodoh karena dua sosok itu langsung berlari menyusulnya. Sebelum Grace sempat menutup pintu, mereka sudah menangkap tangannya dan membekap mulutnya. Salah seorang dari mereka mendorongnya ke atas ranjang dan seorang lainnya menyoroti wajahnya dengan senter.

Grace ketakutan setengah mati setelah penjahat yang membekapnya melepaskan mulutnya hanya untuk mengacungkan sebilah obeng panjang yang ujungnya sudah dikikir hingga tipis dan setajam pisau di depan matanya.

“Kalau kau berani berteriak akan kutusuk matamu,” desisnya dengan suara serak.

Grace hanya bisa gemetar ketakutan saat penjahat bersuara serak itu menggerayangi tubuhnya, menyibak kausnya dan memelorotkan celana pendek dan celana dalamnya. Pada saat ini rasanya ia ingin mati saja daripada keperawanannya direnggut secara paksa. Tapi ia tidak berani menyongsong maut dengan mata berlubang.

“Jangan, jangan… Kalian boleh ambil apa saja, tapi jangan…”

Namun si penjahat sudah mulai menindihnya.

“Apa yang kau lakukan?” desis perampok satunya. “Ikat dia dulu. Kau kan bisa menyikatnya belakangan. Sekarang bantu aku.”

“Dia jatahku. Sialan, dia ngompol.”

“Dia tidak ngompol, goblok. Tapi mens,” tukas temannya dengan pelan setelah menyorotkan senternya sekilas pada tubuh Grace. “Sudahlah. Tanyakan di mana cincin tunangannya.”

Grace terpana. Siapa sebenarnya mereka? Ia merasa mengenali suara perampok yang menanyakan cincinnya.

“Di mana?”

“Ti… tidak ada.”

“Bohong! Di mana?” tanyanya sambil menampar Grace.

Grace merasakan darah di mulutnya.

“Cincin itu sedang ditukar karena ukurannya terlalu besar,” ujarnya sambil menangis ketakutan.

Kedua perampok itu saling pandang. Perampok satunya ikut menampar Grace dan bertanya lagi, tapi ia kembali memberi jawaban yang sama.

“Brengsek!” maki perampok dengan suara tertahan. “Sudah tidak bisa disikat, cincinnya juga tidak ada.”

Perampok bersuara serak itu sangat marah. Tanpa banyak kata lagi, ia kembali membekap mulut Grace lalu menghunjamkan obengnya. Grace memiawik namun suaranya tertahan. Matanya membelalak dan air mata segera menggenangi matanya hingga membanjiri wajahnya.

“Apa dia sudah mati?” tanya perampok satunya.

“Mungkin belum, tapi sebentar lagi sudah,” sahut si jahanam dengan dingin sambil menikam Grace lagi.

Kedua tangan Grace mencengkeram seprai untuk menahan sakit yang luar biasa. Napasnya mulai tersengal-sengal. Ia berusaha menghirup oksigen dengan susah-payah. Pandangan matanya mulai mengabur.

“Kita ke kamar orang-tuanya saja.”

Mata Grace yang sudah hampir terpejam mendadak terbuka. Jantungnya berdegup dengan kencang. Yang ada di pikirannya hanya satu. Jangan sampai Papa-Mama mengalami hal yang sama.

Dengan sisa-sisa tenaganya, ia berteriak sekuat mungkin, “Tolong!! Tolong!! Rampok!! Ram…”

Teriakan Grace berhenti saat perampok bersuara serak menempelengnya. Terdengar bunyi pintu dibuka dan kedua perampok itu lari tunggang-langgang meninggalkannya sendirian. Grace merasa tenaganya sudah habis mengalir keluar bersama darah dari dalam tubuhnya. Degup jantungnya melemah. Rasa dingin menjalar ke sekujur tubuhnya mulai dari ujung kaki.


bersambung...


behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
sankdëшa
sekali lagi bude HeHe.gif
numpang baca BigGrin.gif

nanggung mo komentar BigGrin.gif
sankdëшa
kasih Applause.gif dulu buat bude
sambil nunggu lanjutannya BigGrin.gif
Bounty Hunter
ambigu nih HeHe.gif

mau yg mana yach Thinking.gif


Bounty Hunter
set dah Shocked.gif alurnya udah mulai berdarah-darah nih

tensi sudah makin meningkat. sayang kepenggal axehead.png

lanjutannya pliss BigGrin.gif
irfan69
Laughing.gifLaughing.gif ngekeh gw baca na:))
irfan69
lanjut mang Laughing.gif
jalankusurga
cinta itu indah
jalankusurga
cinta itu mempesona
A n d j a c K
lanjut lagi ah.... bike.gif
A n d j a c K
lanjut lagi....
bike.gif
kyo_sHy
Next.......!!
kyo_sHy
Hmm..makin asik ja nih,. Lanjjjuuutttt...!!!
yang-yang
kok nggak di buat buku, bagus lho
eroge
QUOTE (yang-yang @ Jan 17 2009, 05:57 PM) *
kok nggak di buat buku, bagus lho

makasih pujiannya smile.gif
maunya sih dikembangin jadi novel, tapi belum sempat sih...
backmine
Haiya... Bersambung.. Waiting.gif

Untung sekuel selanjutnya dah ada.. Ntar ya bulek..

Nanggung bener2 pake banget amat sangad sekali..
backmine
NailBiting.gif tragis..

Applause.gif Applause.gif lagi buat bulek..

Menuju bab selanjutnya bike.gif
agus setiawahyudi
Nice Post Boz....
Lanjutkan!
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.