Inge cemas melihat perubahan pada diri Grace apalagi setelah tahu pertemuan dengan Adi yang menjadi penyebabnya. Apa sebenarnya yang dirasakan Grace usai berjumpa mantan pacarnya?
Grace memandangi kotak kecil di tangannya. Ia membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin platina bermata sederet lima berlian kembar. Sebuah cincin pertunangan yang mewah. Raymond yang memberikannya sepulangnya mereka dari jalan-jalan. Saat Grace hendak turun dari mobil, tangan Raymond menahannya. Grace sedikit bingung. Bukankah Raymond sudah menciumnya?
“Aku mau bicara sebentar,” ujar Raymond dengan pelan.
Grace menatap Raymond dengan heran. Tidak biasanya Raymond seserius ini. Apalagi ia tampak begitu tegang. Ia menggenggam tangan Grace sambil menatap mata kekasihnya dalam-dalam seperti sedang mencari sebutir mutiara yang terjatuh di dasar kolam.
“Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu.”
“Ya, aku tahu.”
Raymond terdiam sejenak. Ia seperti menunggu sesuatu, tapi Grace tetap diam. Gadis itu malah menatapnya dengan pandangan bertanya.
“Kau ingat kan kalau dua bulan lagi aku pindah ke Singapura?”
Grace mengangguk. Tentu saja gadis ini ingat. Sejak bulan lalu Raymond sudah sering mengatakan begitu proyek yang dipimpinnya selesai, ia akan ditransfer ke Singapura. Ia bekerja sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang konstruksi kilang minyak dan gas lepas pantai.
“Sayang, maukah kau menjadi istriku? Aku mau kau jadi ibu bagi anak-anakku.”
Grace ternganga. Mulutnya menganga makin lebar dan matanya melotot melihat setelah melihat cincin itu.
“Mas,… aku… eh… aku…,” ujar Grace tergagap.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Yang terlintas di benaknya hanyalah, “Astaga! Cincin ini norak sekali! Sepertinya ukurannya juga terlalu besar. Bagaimana aku bisa memakainya?”
“Aku tahu pernikahan mungkin terlalu cepat dan tidak ada waktu untuk mempersiapkannya. Tapi kita bisa bertunangan dulu baru mempersiapkan pernikahan dengan matang. Keluarga kita juga sudah setuju. Bagaimana?”
Grace tampak gelisah. Keluarganya sudah setuju, tapi ia sama sekali tidak tahu apa-apa.
“Ng… Aku… Boleh aku minta waktu sehari untuk berpikir dulu, Mas?”
Raymond tampak sedikit kecewa namun masih bisa tersenyum.
“Boleh. Tentu saja boleh.”
Grace menghela napas lega.
“Terima kasih, Mas. Aku akan memberi jawaban secepatnya.”
Raymond membelai rambut kekasihnya dengan lembut sambil berujar, “Kau kaget sekali, ya?”
Grace mengangguk sambil tersipu malu.
“Tapi kau suka cincinnya kan?”
Melihat Grace mengangguk-angguk dengan getol, Raymond tersenyum bahagia. Dalam hati ia menertawakan nasehat Mamanya.
“Pilih yang solitaire saja dan ukuran berliannya yang kecil. Bukannya Mama menyuruhmu pelit, tapi Grace kan agak tomboy dan dia kurang suka memakai perhiasan. Buktinya tiap hari dia hanya memakai anting-anting seupil. Kalau kau memberinya cincin yang menyolok nanti malah tidak dipakainya.”
Sekarang Grace mencoba cincin itu di jari manis kirinya. Benar, ukurannya sedikit longgar. Ia menggeleng pelan lalu mencopot cincin itu dan mengembalikannya ke dalam kotak. Grace menghembuskan napas panjang sambil memejamkan matanya. Ia teringat bagaimana Mama sudah menunggunya di balik pintu dengan wajah bahagia.
“Selamat, ya!” ujar Mama sambil mencium kedua belah pipi putrinya dengan penuh semangat.
“Ma, aku…”
Belum sempat Grace menyelesaikan kata-katanya, Papa sudah menyusul memeluknya dengan erat. Disusul Inge yang tiba-tiba muncul dan memeluknya sambil tertawa kegirangan.
Lalu Ignas menyalaminya sambil tersenyum lebar dan berujar, “Wah, aku keduluan adikku lagi deh.”
Tanpa malu Inge langsung menggelayut di lengan Ignas dengan manja. Mbok Yem, pembantu yang sudah setia mengikuti keluarga mereka selama tiga puluh tujuh tahun sudah bersiap memeluk Grace dengan mata berkaca-kaca. Namun Grace segera mencegahnya.
“Dengar dulu semuanya. Aku belum menjawab lamarannya.”
Kontan wajah semua orang berubah menjadi kecewa. Mbok Yem batal meler dan mengerutkan keningnya sehingga kerut di dahinya makin berlipat.
“Mengapa belum?” tanya Mama setengah memprotes.
“Apa yang harus kau pikirkan lagi?” tanya Papa dengan bingung.
“Apa sih kekurangan Raymond?” tanya Ignas dengan heran.
Inge tidak berkata apa-apa, tapi matanya menatap mata Grace dengan pandangan menuduh. Grace seperti mendengar ia berteriak, “Kau pasti masih memikirkan si brengsek itu kan?!”
Grace merasa bersyukur karena kedua kakaknya yang lain, Mas Alex dan Mas Benny tidak tinggal bersama mereka lagi. Daniel, adiknya sedang kuliah di Bandung. Ia tidak sanggup bila harus menghadapi mereka semua sendirian.
“Aku butuh waktu untuk berpikir.”
Grace hanya sempat mengucapkan satu kalimat itu karena seisi rumah langsung memprotesnya lagi.
Grace memandangi foto Raymond di atas meja. Kekasihnya tidak mirip dengan King Kong lagi sejak mengganti kacamata tebalnya dengan softlens dan menguruskan badannya. Telunjuk Grace yang lentik membelai foto Raymond. Wajahnya yang tampan tampak tersenyum padanya. Raymond yang selalu setia menghibur dan mendengarkan curahan kekecewaannya pada Adi. Sampai sekarang ia tidak mengerti mengapa Adi mendadak menjauhinya. Bahkan saat Adi diwisuda S2, ia tidak diajak ikut menghadirinya. Bukankah kehadiran kekasih sangat penting di saat wisuda?
Puncak hancurnya hati Grace saat Adi mendadak membatalkan hadir dalam acara wisudanya. Seluruh keluarga yang sudah siap berangkat menjadi kebingungan melihat Grace yang cantik dalam balutan kebaya menangis tersedu-sedu. Papa-Mama, kakak-kakak dan adiknya mencoba membujuknya berhenti menangis, tapi tidak satu pun yang berhasil.
Grace ingat bagaimana Raymond yang kebetulan sedang menginap di rumahnya mendadak memeluk dan mengeringkan air mata di pipinya di depan seluruh anggota keluarganya tanpa malu dan ragu. Mereka semua termasuk ia sendiri sangat terkejut kecuali Ignas. Seingatnya, Ignas tersenyum merestui tindakan Raymond. Belakangan Grace baru tahu kalau kehadiran Raymond sudah diatur oleh Ignas. Sehari setelah wisuda, Grace langsung memutuskan hubungan dengan Adi yang menerima tanpa banyak protes.
“Ya, kurasa memang itu yang terbaik untukmu,” ujar Adi dengan pelan.
Sejujurnya Grace berharap Adi akan menolak, minta maaf, berjanji tidak akan mengecewakannya lagi dan memperjuangkan cinta mereka dengan sekuat tenaga. Tapi Adi diam saja. Memberinya ciuman terakhir pun tidak.
Grace termenung sambil memeluk dirinya sendiri. Lengan kekar dan dada bidang Raymond memang memberi rasa aman, tapi sepertinya belum bisa menandingi rasa hangat yang diberikan lengan dan dada Adi yang kurus liat. Ciuman Raymond terasa lembut dan manis, tidak seperti ciuman Adi. Rasanya…
Grace terkesiap.
“Mengapa aku memikirkannya lagi?”
* * *
Suara empuk Susan Wong bersaing dengan bunyi kipas angin yang mendengung. Mengingat betapa pelitnya Adi, dapat dipastikan CD yang mengalun dari laptop di hadapannya bukan Audiophile original melainkan asli bajakan yang dibelinya di Mal Mangga Dua.
Adi meregangkan kedua lengannya, membunyikan sendi-sendi ruas jari tangan dan lehernya, lalu memijati pundak hingga kelingking kanannya yang pegal. Ia terlalu lama memakai mouse dan posisi mejanya terlalu tinggi sehingga siku dan kelingking kanannya terasa sedikit ngilu.
Sebenarnya hatinya juga ngilu. Sejak bertemu lagi dengan Grace empat hari yang lalu, wajah gadis itu terus terbayang di matanya. Untuk melupakannya, ia makin menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Kebetulan pekerjaannya memang menumpuk. Seperti hari ini misalnya. Biarpun sekarang malam minggu, tapi ia malah lembur seharian di kantor mempersiapkan bahan presentasi untuk hari Senin.
Ia memejamkan matanya yang lelah. Omelan Mamanya saat makan malam tadi kembali berkumandang di telinganya.
“Kapan kau mau pacaran lagi? Mau sampai kapan kau terus begini? Teman-teman sekolahmu dulu semuanya sudah menikah. Kapan giliranmu? Umurmu sudah tiga puluh satu. Kapan Mama punya cucu? Kau memang harus Mama carikan pacar. Kalau menunggumu, bisa-bisa Mama keburu mati.”
Wajah Grace terbayang lagi di matanya. Adi mendesah dan membuka matanya. Mendadak ponselnya berdering. Sederet nomor ponsel yang tidak dikenalnya muncul di layar ponselnya.
“Halo,” ujarnya dengan ragu.
bersambung...
behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
