Help - Search - Members - Calendar
Full Version: cinta terajut petaka bagian 5 dan bagian 6
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
eroge
bagian 4:
Adi kembali patah hati. karena dia harus sekali lagi merelakan kepergian Grace. namun gadis yang hendak memulai babak baru dalam hidupnya itu ditimpa malapetaka yang mungkin melahap jiwanya...



Ignas tampak letih. Wajahnya pucat dan kedua tangannya gemetar. Ia masih mencium bau darah meski kaus yang dipakainya bersih tanpa noda darah setetes pun. Ia tidak berani memejamkan matanya karena pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya pasti langsung terbayang.

Segera setelah mendengar teriakan Grace, Ignas terbangun dan keluar kamar sambil membawa tongkat baseball-nya. Dilihatnya dua orang keluar dari kamar Grace. Ia berlari mengejar mereka sambil terus berteriak ‘Rampok!’. Ia berhasil menggebuk punggung salah seorang dari mereka.

“Biar Papa yang jaga dia. Kau susul yang lain,” ujar Papa yang menyusulnya dengan suara terengah-engah.

Papa langsung menggebuk perampok yang terkapar itu dengan sandalnya lalu menginjak-injaknya dengan gemas. Ignas terus berlari keluar mengejar perampok satunya. Dilihatnya penjahat itu sedang melompati pagar. Dengan lantang Ignas kembali berteriak, “RAMPOK!!” Dalam waktu singkat para satpam komplek berdatangan dan meringkus perampok itu.

Ia baru saja hendak berlari keluar pagar untuk ikut menghajar perampok itu saat terdengar teriakan memilukan. Suara Mama! Ignas segera kembali masuk ke dalam rumah. Ia melihat Papa sedang tergopoh-gopoh menaiki tangga dan Mbok Yem sedang mengikat perampok yang terkapar dengan segulung tali rafia.

Ignas buru-buru mengikuti Papa masuk ke dalam kamar Grace. Apa yang dilihatnya lebih buruk dari mimpi terburuk selama hidupnya hingga ia berharap semuanya hanya mimpi. Papa sedang berusaha mengangkat Grace yang terkapar berlumuran darah di atas ranjang. Tubuh adiknya nyaris telanjang dan sebatang gagang obeng mencuat di atas perut bagian bawah.

Sekujur tubuh Ignas gemetar dan tongkat baseball terjatuh dari tangannya. Ia membungkuk dan muntah. Ia nyaris memuntahi tubuh Mama yang tergeletak di dekat pintu kamar.

“Bantu Papa, Nas!” teriak Papa sambil membungkus tubuh putri tunggalnya dengan seprai. “Telepon ambulans!”

Otak Ignas mendadak kosong. Ia tidak tahu harus melakukan yang mana lebih dulu. Ignas berjalan terhuyung keluar kamar adiknya dengan limbung. Rasanya ia ingin mengikuti jejak Mama, pingsan di tempat. Tapi ia harus kuat demi adiknya. Ya Tuhan! Apakah Grace masih hidup?

“Kau bantu angkat adikmu dulu!” bentak Papa.

Dengan terpaksa ia masuk ke dalam kamar yang berbau anyir.

“Kau di bagian kepala,” perintah Papa.

Sebenarnya Ignas ingin memprotes Papa. Kedua tangannya gemetar, apalagi kakinya. Bagaimana kalau ia sampai menjatuhkan tubuh Grace? Tapi Papa sepertinya tidak peduli meski bisa melihat wajah putranya sepucat hantu dalam serial sinetron mistik.

Untung saja Pak RT dengan beberapa tetangga dan satpam muncul. Akhirnya mereka yang membopong tubuh Grace sementara Ignas hanya berdiri terpaku dengan sekujur tubuh bermandikan keringat dingin.

“Kau jaga Mama,” ujar Papa saat melewatinya.

Ignas segera menghampiri Mama yang sudah dibaringkan di sofa. Entah siapa yang sudah menyingkirkan Mama dari ambang pintu. Ia merasa sangat tolol. Ia tidak bisa menolong adiknya yang sekarat, kalah gesit dengan Papa yang sering digodanya karena perutnya sudah menggelambir. Ia bahkan tidak tahu nomor telepon ambulans.

Rasa frustasi yang menumpuk mendadak meledak. Ia meraung dan menghampiri perampok yang terikat erat mirip kepompong di lantai. Tanpa ba-bi-bu, ia segera menghajar wajah perampok itu dengan tinju dan tendangan sampai bonyok dan berdarah-darah. Para satpam dan tetangga yang hadir hanya memandanginya. Namun ketika ia mulai menendangi kemaluan bajingan itu dengan kalap, mereka mulai menariknya menjauh.

“Sudah, Nas. Sudah,” ujar Pak Pur, tetangga sebelah rumah.

Ignas menangis. Tangisannya lebih mirip lolongan. Mbok Yem ikut menangis. Inah, pembantu yang masih kinyis-kinyis itu malah sudah menangis sejak tadi.

“Mas.”

Suara panggilan dan sentuhan di lengannya segera menyadarkannya. Ignas menoleh. Dilihatnya Inge sedang menatapnya dengan wajah pucat.

“Mas Alex dan Benny sudah datang. Daniel sudah berangkat dari Bandung. Mamamu pingsan lagi. Mbak Danti dan Rieke yang menjaganya. O, ya, Romo Seno juga sudah datang.”

Ignas memalingkan wajahnya. Dilihatnya kedua ipar dan beberapa saudaranya sibuk mengurusi Mama. Di ujung ruangan tampak Romo Seno yang sedang berbicara dengan Papa dan kakak-adiknya. Yang mereka bicarakan pasti soal kapan sakramen perminyakan akan diberikan. Inge yang menghubungi mereka semua. Entah apa jadinya kalau tidak ada Inge karena Papa sibuk mengurus Grace dan Mama, sementara ia sibuk dengan polisi dan wartawan.

“Akan kubunuh dua bajingan itu! Akan kubunuh mereka!”

Ignas menoleh dan melihat Raymond sedang berteriak-teriak kalap setengah meratap. Ignas tidak ikut mencoba menenangkan sahabatnya karena ia sendiri ingin membunuh dua jahanam itu. Ulah Raymond sempat terekam oleh kamera salah satu stasiun televisi.

Ignas tidak pernah membayangkan pada suatu ketika adiknya akan menjadi tokoh utama dalam berita kriminal di koran-koran dan acara kriminal di televisi. Ia seperti anggota keluarga lainnya juga tidak pernah mengira kalau Ujo, tukang kebun keliling yang disewa Mama untuk merapikan kebun tiap seminggu sekali itu yang menjadi dalangnya. Ujo adalah perampok yang sempat berlari keluar pagar. Ia mengetahui soal cincin itu dari Inah. Sekarang Inah ikut dibawa ke kantor polisi untuk diselidiki apakah ia terlibat dalam perampokan sadis yang gagal itu.

“Operasinya lama sekali,” gumam Inge dengan gelisah.

Sudah dua jam lebih Grace masuk ruang operasi. Satu jam yang lalu perawat meminta mereka yang mempunyai golongan darah O atau B untuk menyumbangkan darahnya. Grace kehilangan berliter-liter darah. Ignas belum pernah melihat darah berceceran sebanyak itu selama hidupnya. Begitu bayangan adiknya yang terkapar di tengah kubangan darah terlintas di benaknya, ia kembali merasa mual.

* * *


“Kalau makan jangan sambil melamun.”

Adi menoleh dan menatap Mamanya sambil tersenyum kecil.

“Kau makan sedikit sekali. Ayo, tambah lagi,” ujar Mama. “Ini kan ayam goreng kecap kesukaanmu.”

“Nanti lagi deh. Untuk makan malam saja.”

Entah mengapa, sudah dua hari ini Adi merasa tidak mempunyai nafsu makan. Mama menatap wajah putra tunggalnya dengan khawatir.

“Kau sakit, ya? Sejak kemarin kau kelihatan lesu. Kau susah tidur lagi?”

Adi mengangguk sambil menghabiskan makan siangnya tanpa semangat.

“Ada masalah di kantormu?”

Adi menggeleng sambil tersenyum hambar.

Mama terdiam sejenak lalu berujar, “Mama rasa sudah waktunya kau beli rumah. Mobil juga, paling tidak motor. Buat apa kau kerja susah-payah kalau semua hasilnya hanya untuk ditabung? Kau terlalu pelit. Makanya tidak ada gadis yang tertarik padamu. Mana ada gadis sekarang yang mau pacaran naik-turun angkot dan bis kecuali…”

Kata-kata Mama mendadak terputus dengan nada mengambang begitu melihat perubahan wajah putranya. Adi tampak muram.

“Jangan pikirkan dia lagi,” tukas Mama sambil menatap Adi dengan tajam.

“Empat hari lagi dia mau tunangan,” ujar Adi dengan pelan.

“Baguslah. Kalian memang tidak cocok.”

Adi menghela napas dengan sedih. Mamanya sama seperti Inge, keluarga Grace dan orang-orang lainnya. Mereka semua berpendapat kalau dirinya dan Grace tidak sepadan dan begitu berbeda. Rasa ngilu mulai menyerang hatinya.

“Aku kembali ke kantor, Ma.”

“Ya, hati-hati di jalan. Jangan pulang malam lagi, ya.”

Adi hanya mengangguk-angguk. Ia berjalan kaki menuju kantornya sambil melamun. Ia tidak tahu apa yang lebih membuatnya gelisah sehingga sulit tidur, Grace atau masalah pekerjaan.

Ia tidak pernah menceritakan masalah pekerjaan pada Mama. Ia tidak ingin membuat Mamanya ikut merasa cemas. Selama enam bulan terakhir ini bisnisnya goyah. Proyek-proyek yang ada sudah hampir selesai sementara proyek baru belum ada. Padahal proses mencari klien membutuhkan waktu yang tidak singkat. Presentasi dan rapat yang berkali-kali belum tentu berhasil memenangkan hati calon klien.

Tiap bulan ia selalu bingung memikirkan apakah aliran dana yang masuk cukup untuk membayar seluruh biaya operasional. Seluruh biaya operasional bulan ini masih bisa tertutupi, tapi bagaimana dengan bulan depan? Belum lagi kontrak ruko harus diperpanjang selama tiga tahun sekaligus dan biayanya naik dua puluh persen.

“Ada tamu, Pak,” ujar Haswin begitu Adi masuk. Office boy ini mendehem sejenak sebelum melanjutkan sambil tersenyum nakal, “Perempuan.”

“Dari mana?” tanya Adi tanpa senyum.

“Katanya, dia teman lama Bapak.”

Adi mengerutkan keningnya. Seingatnya ia tidak punya janji untuk bertemu dengan teman lama di kantor. Lagipula ia sudah lama tidak bertemu dengan teman lama yang berjenis kelamin perempuan. Jangan-jangan…


bersambung...


behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
Bounty Hunter
kasian y grace crying_anim.gif mudah2an selamat Praying.gif

tapi siapa y tamu adi Thinking.gif apakah dia yg bakalan menjadi tokoh kunci dalam kisah ini Thinking.gif

mari kita tunggu bersama BigGrin.gif
sankdëшa
penasaran juga nih HeHe.gif

duduk manis BigGrin.gif

ditunggu lanjutannya ya, bude HeHe.gif Peace.gif
eroge
bagian 5:
Adi seperti mendapat firasat buruk di saat Grace sedang berjuang keras mempertahankan nyawanya. bisakah Grace selamat dan bertemu dengan Adi lagi?



“Dia menunggu di ruang rapat, Pak,” ujar Haswin sebelum ditanya.

Tanpa membuang waktu, Adi langsung menuju ruang rapat. Hanya seorang gadis yang diharapkannya muncul di kantor dekil ini. Namun raut wajahnya berubah menjadi kecewa begitu ia membuka pintu. Yang berada di dalam bukan Grace melainkan Inge.

“Adi, aku Inge. Kau masih ingat denganku kan?,” tanya Inge.

Bagaimana Adi bisa melupakan salah satu musuhnya? Wajah Inge tidak berubah, tapi ia tampak pucat dan letih.

“Masih. Tumben kau main kemari. Kantormu butuh konsultan…”

Adi berhenti bicara melihat mata Inge berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Firasat buruk langsung merajai hati Adi.

“Ada apa? Apa Grace punya masalah?” tanya Adi dengan cemas.

Adi tidak tahu mengapa ia langsung menanyakan tentang Grace. Namun Inge mengangguk dan mulai bercerita.

* * *


“Aku minta maaf,” ujar Inge yang kesekian kalinya. “Aku hanya ingin Grace cepat sadar.”

Ignas menghela napas lalu berujar, “Tapi seharusnya kau bilang dulu pada kami. Bagaimana bisa kau tidak memikirkan perasaan Raymond?”

Inge hanya bisa menunduk. Ia sudah melihat reaksi Raymond. Lelaki itu langsung tampak tegang begitu Adi muncul. Meski tidak mengucapkan satu patah kata pun, semua orang tahu kalau Raymond tidak menyukai kehadiran Adi.

“Sudahlah. Jangan marahi dia terus, Nas. Papa bisa mengerti maksud baik Inge. Kita memang harus mencoba segala cara. Yang penting Grace cepat sadar.”

Inge menatap Papa Grace dengan pandangan penuh terima kasih.

“Apa kau yakin dia bisa membuat Grace sadar?” tanya Mama Grace.

“Aku juga tidak tahu, Tante,” jawab Inge dengan nada menyesal.

Lalu mereka semua terdiam sambil memandangi Raymond yang berdiri di depan kaca jendela kamar Grace. Ia berdiri tegap dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia mengawasi gerak-gerik Adi tanpa kedip. Papa Grace berjalan menghampiri Raymond. Ignas dan Inge menyusul.

“Maafkan aku, Mas,” ujar Inge dengan pelan.

Raymond hanya mengangguk dengan wajah kaku. Tatapan mata bekas King Kong ini tidak pernah lepas dari Adi, seperti anjing pemburu yang sedang mengintai seekor kelinci. Inge bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Raymond bila Adi nekat menggenggam tangan atau membelai pipi Grace. Mungkin Raymond akan langsung menerobos masuk dan mencincang lelaki kurus itu. Tapi Adi sama sekali tidak menyentuh tubuh mantan gadisnya yang ditancapi segudang selang. Sepertinya ia tahu sedang diawasi begitu banyak orang meski matanya sama sekali tidak melirik ke arah jendela.

Inge mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Semua orang tampak lelah. Sudah dua hari mereka berjaga-jaga di sini. Mendadak sebuah pertanyaan muncul dalam dirinya. Bagaimana bila Grace tidak sadar dalam jangka waktu dekat atau bahkan tidak akan sadar selamanya? Inge menggeleng untuk mengenyahkan pikiran buruk itu dari dalam kepalanya. Grace harus bisa sadar. Harus!

Tapi apa yang terjadi bila Grace sadar? Apakah situasinya akan lebih baik? Orang sering berkata ‘lebih baik mati daripada menderita’, tapi ada juga yang berkata ‘yang penting masih hidup’. Lalu hidup macam apa yang akan dijalani Grace? Apa jadinya bila Grace tahu kalau ia tidak akan bisa mempunyai anak? Rahimnya tidak bisa diselamatkan lagi oleh dokter. Inge bergidik ngeri saat membayangkan rahim yang perawan itu koyak dan terinfeksi oleh ujung obeng yang kotor dan karatan bercampur dengan darah menstruasi dan air seni yang merembes dari kandung kemih yang bocor.

Inge memperhatikan Raymond. Apa lelaki kekar itu masih akan mempertahankan cintanya pada Grace? Apakah pertunangan itu akan tetap dilanjutkan? Raymond adalah anak laki-laki satu-satunya. Kedua adiknya perempuan. Apakah orang-tuanya yang priyayi itu akan…

Lamunan Inge terputus begitu melihat Adi keluar dari kamar Grace. Semua mata tertuju padanya. Dengan langkah pelan ia menghampiri mereka berempat. Wajahnya tampak berduka dan matanya basah. Inge bahkan merasa Adi kelihatan lima tahun lebih tua dari lima belas menit sebelumnya.

“Terima kasih sudah mengijinkanku menemui Grace,” ujar Adi dengan suara parau. “Aku minta maaf kalau kedatanganku membuat kalian tidak nyaman, tapi kumohon jangan marahi Inge.” Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Grace… dia orang yang kuat… Dia tidak akan menyerah begitu saja.”

Inge menatap Adi dengan penuh minat. Tiba-tiba saja ia mengerti mengapa Grace bisa jatuh cinta pada laki-laki yang sering dihinanya selama ini.

* * *


Adi berlari-lari menyusuri koridor rumah-sakit. Tengah malam baru saja lewat saat Inge menelepon dan menyuruhnya segera datang. Adi segera memesan taksi dan membangunkan Acih, pembantunya.

“Kau mau pergi ke mana?” tanya Mama yang ikut terbangun dengan cemas.

“Ke rumah-sakit. Grace sudah sadar,” jawab Adi dengan wajah berseri-seri.

Wajah Mama langsung berubah menjadi muram dan bibirnya menipis.

“Kau kan bisa menjenguknya besok pagi.”

“Tidak. Harus sekarang juga. Wah, kebetulan taksinya sudah datang. Aku pergi dulu, Ma. Jangan menungguku pulang, ya.”

“Adi! Tunggu du…”

Namun Adi sudah berlari keluar dan melompat ke dalam taksi. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan. Akhirnya Grace selamat setelah empat hari koma.

“Inge! Bagaimana dia?” tanya Adi dengan napas terengah-engah.

Inge tersenyum gembira dan menjawab, “Dia bisa mengenali kami. Kau tunggu sebentar, ya. Nanti kuberitahu kalau giliranmu sudah tiba.”

Adi hanya mengangguk sambil mengatur napasnya. Ia tidak keberatan harus menunggu asal bisa melihat Grace sadar. Ia lalu menyapa keluarga Grace dengan sopan. Tapi begitu melihat Raymond, seketika hatinya terasa ngilu.

“Bagaimana aku bisa lupa kalau dia sudah menjadi milik orang lain?”

Adi memaksakan diri tersenyum dan mendekati Raymond.

“Selamat, Mas,” ujarnya sambil menyalami Raymond.

“Terima kasih,” sahut Raymond dengan santun.

Begitu tangan mereka terlepas, Adi seakan bisa mendengar helaan napas lega dari semua orang yang berada di sekitar mereka.

“Apa mereka berharap kami saling bunuh demi Grace?”

Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya gilirannya tiba juga. Dengan perasaan yang meluap-luap, Adi berjalan mendekati ranjang di mana Grace berbaring. Gadis itu tampak sangat lemah dan pucat.

“Hai Grace,” sapa Adi sambil tersenyum dengan penuh haru.

Mata Grace yang setengah terbuka memandangi Adi tanpa ekspresi selama tiga detik. Lalu mata itu terpejam dan terdengar dengkuran halus.

* * *


Raymond membelai pipi Grace yang tirus dengan lembut. Wajahnya tampak damai, sudah tidak pucat membiru lagi. Dua pertiga selang ditubuhnya sudah dicabut. Di dalam kamar ini hanya ada mereka berdua. Papa Grace sudah meminta kepada semua orang agar tidak mengganggu mereka berdua. Raymond merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kotak itu berisi cincin tunangan Grace. Seharusnya dua hari yang lalu mereka bertunangan.

Raymond segera mendongak begitu mendengar bunyi gemerisik pelan. Dilihatnya Grace sedang memandanginya. Rupanya gadis itu sudah terbangun. Raymond tersenyum sambil menggenggam tangan Grace. Ia ingin mengatakan kata-kata manis yang menghibur namun ia tidak dapat menemukan satu kata pun. Hatinya terasa berat. Tanpa banyak kata, ia menyodorkan kotak itu pada Grace.

Grace menatap kotak kecil di tangannya dengan termangu.

“Hari ini tanggal berapa?” tanyanya.

“Enam belas,” sahut Raymond.

“Hmm. Kapan Mas berangkat?”

“Tanggal dua puluh delapan.”

“Berapa lama di Singapura?”

“Mungkin tiga tahun.”

Grace menarik tangan kirinya dari genggaman Raymond. Ia membuka kotak itu, mengambil cincin di dalamnya dan memakainya di jari manis kirinya. Kali ini ukuran cincin itu sudah pas. Raymond hanya diam memandanginya.


bersambung...


behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
sankdëшa
ditunggu lanjutannya ya bude smile.gif

bener2 bagus ceritanya + bikin penasaran BigGrin.gif
Eric Mathews
I'm Waiting...
Radhianwahyu
mmmmm.....koq penasaran ya gw???
raymond.....raymond
eroge
gue emang suka bikin orang penasaran HeHe.gif .
tp maap ya, salah ngitung wkt bagi cerber ini. bukan 5-6 bagian tp 9 bagian. sabar ya, bentar lagi juga nyampe ending kok smile.gif .
Bounty Hunter
QUOTE
Mata Grace yang setengah terbuka memandangi Adi tanpa ekspresi selama tiga detik. Lalu mata itu terpejam dan terdengar dengkuran halus.

kok gw dadi merinding yach BigGrin.gif

sippp masrkosipp BigGrin.gif
Danu_Murphy
mbak...ndak minta tolong ama mod apa....biar di gabung smw cerbernya.....
biar enak gitu lho mbacanya.....

eroge
minta tolong ama mods... ehm, mas Cassa, bijimana ya enaknya?
Cassa
hmmmmm.... ok gini.... untuk sementara cerber akan ane pinned dulu... biar pada gampang cari n bacanya... Peace.gif
eroge
biarpun ini solusi sementara tp... nt baik banget.
bunch of thx ya mas cassa. smile.gif
A n d j a c K
ga bisa komen neh...
lanjut dulu ah...
bike.gif
A n d j a c K
top mar gotop..
lanjut.. bike.gif
kyo_sHy
Kwacian Grace., pasti sakit...
Lanjut lgi ah.,
kyo_sHy
Ajjjiiiippp...
Lanjut Sis.,
backmine
Arrghhh... Waiting.gif
Lagi seru2 baca dipanggil bozz..

Jadi ga konsen,, ntar ane sambung bulek ya.. BigGrin.gif
backmine
Mpe bingung mo comment apalagi..

Lanjut dulu aja deh BigGrin.gif
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.