Adi kembali patah hati. karena dia harus sekali lagi merelakan kepergian Grace. namun gadis yang hendak memulai babak baru dalam hidupnya itu ditimpa malapetaka yang mungkin melahap jiwanya...
Ignas tampak letih. Wajahnya pucat dan kedua tangannya gemetar. Ia masih mencium bau darah meski kaus yang dipakainya bersih tanpa noda darah setetes pun. Ia tidak berani memejamkan matanya karena pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya pasti langsung terbayang.
Segera setelah mendengar teriakan Grace, Ignas terbangun dan keluar kamar sambil membawa tongkat baseball-nya. Dilihatnya dua orang keluar dari kamar Grace. Ia berlari mengejar mereka sambil terus berteriak ‘Rampok!’. Ia berhasil menggebuk punggung salah seorang dari mereka.
“Biar Papa yang jaga dia. Kau susul yang lain,” ujar Papa yang menyusulnya dengan suara terengah-engah.
Papa langsung menggebuk perampok yang terkapar itu dengan sandalnya lalu menginjak-injaknya dengan gemas. Ignas terus berlari keluar mengejar perampok satunya. Dilihatnya penjahat itu sedang melompati pagar. Dengan lantang Ignas kembali berteriak, “RAMPOK!!” Dalam waktu singkat para satpam komplek berdatangan dan meringkus perampok itu.
Ia baru saja hendak berlari keluar pagar untuk ikut menghajar perampok itu saat terdengar teriakan memilukan. Suara Mama! Ignas segera kembali masuk ke dalam rumah. Ia melihat Papa sedang tergopoh-gopoh menaiki tangga dan Mbok Yem sedang mengikat perampok yang terkapar dengan segulung tali rafia.
Ignas buru-buru mengikuti Papa masuk ke dalam kamar Grace. Apa yang dilihatnya lebih buruk dari mimpi terburuk selama hidupnya hingga ia berharap semuanya hanya mimpi. Papa sedang berusaha mengangkat Grace yang terkapar berlumuran darah di atas ranjang. Tubuh adiknya nyaris telanjang dan sebatang gagang obeng mencuat di atas perut bagian bawah.
Sekujur tubuh Ignas gemetar dan tongkat baseball terjatuh dari tangannya. Ia membungkuk dan muntah. Ia nyaris memuntahi tubuh Mama yang tergeletak di dekat pintu kamar.
“Bantu Papa, Nas!” teriak Papa sambil membungkus tubuh putri tunggalnya dengan seprai. “Telepon ambulans!”
Otak Ignas mendadak kosong. Ia tidak tahu harus melakukan yang mana lebih dulu. Ignas berjalan terhuyung keluar kamar adiknya dengan limbung. Rasanya ia ingin mengikuti jejak Mama, pingsan di tempat. Tapi ia harus kuat demi adiknya. Ya Tuhan! Apakah Grace masih hidup?
“Kau bantu angkat adikmu dulu!” bentak Papa.
Dengan terpaksa ia masuk ke dalam kamar yang berbau anyir.
“Kau di bagian kepala,” perintah Papa.
Sebenarnya Ignas ingin memprotes Papa. Kedua tangannya gemetar, apalagi kakinya. Bagaimana kalau ia sampai menjatuhkan tubuh Grace? Tapi Papa sepertinya tidak peduli meski bisa melihat wajah putranya sepucat hantu dalam serial sinetron mistik.
Untung saja Pak RT dengan beberapa tetangga dan satpam muncul. Akhirnya mereka yang membopong tubuh Grace sementara Ignas hanya berdiri terpaku dengan sekujur tubuh bermandikan keringat dingin.
“Kau jaga Mama,” ujar Papa saat melewatinya.
Ignas segera menghampiri Mama yang sudah dibaringkan di sofa. Entah siapa yang sudah menyingkirkan Mama dari ambang pintu. Ia merasa sangat tolol. Ia tidak bisa menolong adiknya yang sekarat, kalah gesit dengan Papa yang sering digodanya karena perutnya sudah menggelambir. Ia bahkan tidak tahu nomor telepon ambulans.
Rasa frustasi yang menumpuk mendadak meledak. Ia meraung dan menghampiri perampok yang terikat erat mirip kepompong di lantai. Tanpa ba-bi-bu, ia segera menghajar wajah perampok itu dengan tinju dan tendangan sampai bonyok dan berdarah-darah. Para satpam dan tetangga yang hadir hanya memandanginya. Namun ketika ia mulai menendangi kemaluan bajingan itu dengan kalap, mereka mulai menariknya menjauh.
“Sudah, Nas. Sudah,” ujar Pak Pur, tetangga sebelah rumah.
Ignas menangis. Tangisannya lebih mirip lolongan. Mbok Yem ikut menangis. Inah, pembantu yang masih kinyis-kinyis itu malah sudah menangis sejak tadi.
“Mas.”
Suara panggilan dan sentuhan di lengannya segera menyadarkannya. Ignas menoleh. Dilihatnya Inge sedang menatapnya dengan wajah pucat.
“Mas Alex dan Benny sudah datang. Daniel sudah berangkat dari Bandung. Mamamu pingsan lagi. Mbak Danti dan Rieke yang menjaganya. O, ya, Romo Seno juga sudah datang.”
Ignas memalingkan wajahnya. Dilihatnya kedua ipar dan beberapa saudaranya sibuk mengurusi Mama. Di ujung ruangan tampak Romo Seno yang sedang berbicara dengan Papa dan kakak-adiknya. Yang mereka bicarakan pasti soal kapan sakramen perminyakan akan diberikan. Inge yang menghubungi mereka semua. Entah apa jadinya kalau tidak ada Inge karena Papa sibuk mengurus Grace dan Mama, sementara ia sibuk dengan polisi dan wartawan.
“Akan kubunuh dua bajingan itu! Akan kubunuh mereka!”
Ignas menoleh dan melihat Raymond sedang berteriak-teriak kalap setengah meratap. Ignas tidak ikut mencoba menenangkan sahabatnya karena ia sendiri ingin membunuh dua jahanam itu. Ulah Raymond sempat terekam oleh kamera salah satu stasiun televisi.
Ignas tidak pernah membayangkan pada suatu ketika adiknya akan menjadi tokoh utama dalam berita kriminal di koran-koran dan acara kriminal di televisi. Ia seperti anggota keluarga lainnya juga tidak pernah mengira kalau Ujo, tukang kebun keliling yang disewa Mama untuk merapikan kebun tiap seminggu sekali itu yang menjadi dalangnya. Ujo adalah perampok yang sempat berlari keluar pagar. Ia mengetahui soal cincin itu dari Inah. Sekarang Inah ikut dibawa ke kantor polisi untuk diselidiki apakah ia terlibat dalam perampokan sadis yang gagal itu.
“Operasinya lama sekali,” gumam Inge dengan gelisah.
Sudah dua jam lebih Grace masuk ruang operasi. Satu jam yang lalu perawat meminta mereka yang mempunyai golongan darah O atau B untuk menyumbangkan darahnya. Grace kehilangan berliter-liter darah. Ignas belum pernah melihat darah berceceran sebanyak itu selama hidupnya. Begitu bayangan adiknya yang terkapar di tengah kubangan darah terlintas di benaknya, ia kembali merasa mual.
* * *
“Kalau makan jangan sambil melamun.”
Adi menoleh dan menatap Mamanya sambil tersenyum kecil.
“Kau makan sedikit sekali. Ayo, tambah lagi,” ujar Mama. “Ini kan ayam goreng kecap kesukaanmu.”
“Nanti lagi deh. Untuk makan malam saja.”
Entah mengapa, sudah dua hari ini Adi merasa tidak mempunyai nafsu makan. Mama menatap wajah putra tunggalnya dengan khawatir.
“Kau sakit, ya? Sejak kemarin kau kelihatan lesu. Kau susah tidur lagi?”
Adi mengangguk sambil menghabiskan makan siangnya tanpa semangat.
“Ada masalah di kantormu?”
Adi menggeleng sambil tersenyum hambar.
Mama terdiam sejenak lalu berujar, “Mama rasa sudah waktunya kau beli rumah. Mobil juga, paling tidak motor. Buat apa kau kerja susah-payah kalau semua hasilnya hanya untuk ditabung? Kau terlalu pelit. Makanya tidak ada gadis yang tertarik padamu. Mana ada gadis sekarang yang mau pacaran naik-turun angkot dan bis kecuali…”
Kata-kata Mama mendadak terputus dengan nada mengambang begitu melihat perubahan wajah putranya. Adi tampak muram.
“Jangan pikirkan dia lagi,” tukas Mama sambil menatap Adi dengan tajam.
“Empat hari lagi dia mau tunangan,” ujar Adi dengan pelan.
“Baguslah. Kalian memang tidak cocok.”
Adi menghela napas dengan sedih. Mamanya sama seperti Inge, keluarga Grace dan orang-orang lainnya. Mereka semua berpendapat kalau dirinya dan Grace tidak sepadan dan begitu berbeda. Rasa ngilu mulai menyerang hatinya.
“Aku kembali ke kantor, Ma.”
“Ya, hati-hati di jalan. Jangan pulang malam lagi, ya.”
Adi hanya mengangguk-angguk. Ia berjalan kaki menuju kantornya sambil melamun. Ia tidak tahu apa yang lebih membuatnya gelisah sehingga sulit tidur, Grace atau masalah pekerjaan.
Ia tidak pernah menceritakan masalah pekerjaan pada Mama. Ia tidak ingin membuat Mamanya ikut merasa cemas. Selama enam bulan terakhir ini bisnisnya goyah. Proyek-proyek yang ada sudah hampir selesai sementara proyek baru belum ada. Padahal proses mencari klien membutuhkan waktu yang tidak singkat. Presentasi dan rapat yang berkali-kali belum tentu berhasil memenangkan hati calon klien.
Tiap bulan ia selalu bingung memikirkan apakah aliran dana yang masuk cukup untuk membayar seluruh biaya operasional. Seluruh biaya operasional bulan ini masih bisa tertutupi, tapi bagaimana dengan bulan depan? Belum lagi kontrak ruko harus diperpanjang selama tiga tahun sekaligus dan biayanya naik dua puluh persen.
“Ada tamu, Pak,” ujar Haswin begitu Adi masuk. Office boy ini mendehem sejenak sebelum melanjutkan sambil tersenyum nakal, “Perempuan.”
“Dari mana?” tanya Adi tanpa senyum.
“Katanya, dia teman lama Bapak.”
Adi mengerutkan keningnya. Seingatnya ia tidak punya janji untuk bertemu dengan teman lama di kantor. Lagipula ia sudah lama tidak bertemu dengan teman lama yang berjenis kelamin perempuan. Jangan-jangan…
bersambung...
behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192