Help - Search - Members - Calendar
Full Version: cinta terajut petaka bagian 7 dan bagian 8
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
eroge
bagian 6:
Grace akhirnya sadar juga namun akankah pertunangan dengan Raymond berlanjut ke pelaminan? lalu bagaimana dengan Adi?



Grace menoleh dan menatap Raymond dengan serius. Lalu ia melepaskan cincin yang dipakainya dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.

“Aku akan baik-baik saja. Mas tidak usah khawatir,” ujar Grace sambil menaruh kotak itu ke dalam tangan Raymond.

Kata-kata itu diucapkan Grace dengan penuh kepasrahan dan ketabahan. Matanya menatap Raymond dengan tenang sedangkan mata Raymond malah mulai digenangi air mata.

“Sayang…”

Tangan Grace terangkat pelan untuk menghentikan Raymond bicara.

“Ini yang terbaik untuk kita semua.”

Raymond mulai menangis. Kata-kata Papanya kembali berkumandang di telinganya.

“Dia gadis yang baik dan dari keluarga baik-baik juga, tapi dia tidak bisa memberimu anak. Kau anak laki-laki kami satu-satunya. Kau harus punya anak laki-laki yang akan meneruskan nama keluarga.”

“Papamu tidak bermaksud jahat,” timpal Mamanya. “Ini semua demi kebaikanmu. Kau tidak mungkin menghabiskan seluruh hidupmu untuk merawatnya.”

“Tapi Grace pasti akan sembuh. Dan aku mencintainya.”

“Kau bisa belajar mencintai gadis lain. Lagipula kedua orang-tuanya juga mengerti keputusan kami,” ujar Mama.

“Papa-Mama sudah membicarakan hal ini kepada mereka??” seru Raymond dengan kaget.

“Mereka sangat mengerti. Mereka bisa membayangkan bila mereka sendiri berada dalam posisi kami,” sahut Papa.

Raymond tercengang lalu berkata, “Tapi Grace bahkan belum keluar dari rumah-sakit. Bagaimana Papa-Mama bisa setega itu?”

“Kami ingin kau pergi ke Singapura dengan tenang,” sahut Mama.

“Lalu bagaimana dengan dia?”

“Dia anak yang baik. Pasti akan ada laki-laki lain yang bersedia menjadi suaminya.”

“Aku juga bersedia.”

“Tidak, Mond. Kau tidak bisa,” ujar Mama dengan lembut.

Jari-jari lentik Grace menghapus air mata di pipi Raymond dengan perlahan. Raymond menangkap kedua tangannya dan menciuminya sambil menangis.

* * *


“Kantormu lumayan juga.”

Adi tersenyum sopan sambil berujar, “Ah, Mas bisa saja.”

Ia memperhatikan Ignas yang sedang memandangi kantornya yang sempit dengan penuh minat. Meski bertanya-tanya apa tujuan kedatangan Ignas yang mendadak, tapi ia diam saja. Ia tahu nantinya Ignas juga akan bicara.

“Mengapa kau tidak pernah datang menjenguk Grace lagi sejak dia sadar?” tanya Ignas tiba-tiba sambil menatapnya dengan penasaran.

Adi terdiam sejenak. Sebulan sudah berlalu sejak Grace sadar.

“Yang penting bagiku dia sudah sadar,” jawab Adi sambil tersenyum tipis.

“Jadi kau sudah tidak peduli lagi padanya?”

“Dia kan sudah punya orang lain yang sangat peduli padanya,” sahut Adi dengan datar.

Ignas menghela napas lalu berkata, “Tidak lagi. Apa Inge tidak pernah memberitahumu?”

“Soal apa? Dia hanya bilang kondisi Grace membaik dan minggu lalu sudah pulang ke rumah.”

“Rupanya dia takut salah omong lagi. Pertunangan mereka dibatalkan, Di. Tidak akan ada pertunangan.”

Adi begitu terkejut hingga ternganga.

“Aku tidak pernah menyangka sahabatku sendiri tega meninggalkan adikku dalam keadaan seperti itu. Biarpun aku tahu dia terpaksa menuruti kemauan orang-tuanya,” keluh Ignas.

“Lalu bagaimana dengan Grace?” tanya Adi dengan khawatir.

“Anehnya dia tenang-tenang saja, tapi kami khawatir dia memendam kesedihan. Sampai sekarang dia bahkan tidak pernah membicarakan kejadian itu pada kami. Untungnya dia masih mau diajak ke psikiater.”

Adi tahu yang dimaksud ‘kejadian itu’ adalah kejadian pada malam nahas itu.

“Sekarang dia tidur di kamar lain, bekas kamar Mas Alex. Dia tidur ditemani Mbok Yem. Aku sendiri jadi sering susah tidur dan paranoid. Hampir tiap tengah malam aku memeriksa semua jendela dan pintu. Aku bahkan tidak berani masuk ke kamar tidur Grace yang lama. Rasanya aku masih mencium bau darah di sana.”

Adi menatap Ignas dengan prihatin.

Ignas tertawa getir lalu berujar, “Mungkin aku juga perlu ke psikiater, ya. Di, kau mau datang menjenguknya kan?”

“Mas minta aku menggantikan posisi Raymond?”

Ignas terdiam. Dia tampak malu dan menyesal.

“Aku minta maaf. Kalau kau merasa marah dan tersinggung, aku bisa mengerti. Ini semua salahku. Dulu aku yang memaksamu untuk menjauhinya. Aku juga sudah menghinamu dengan kasar. Kupikir Grace akan lebih baik bersama Raymond. Ternyata tidak,” ujarnya dengan pahit.

“Mas tidak sepenuhnya salah. Lagipula bukan hanya Mas yang tidak setuju dengan hubungan kami. Aku sendiri juga salah. Kalau aku benar-benar mencintainya seharusnya aku tidak melepaskannya begitu saja.”

“Kalau kau masih mencintainya, tolong jenguk dia. Dia membutuhkanmu, Di.”

* * *


Adi memandangi Grace yang duduk di sampingnya. Gadis itu sedang mendongak menatap awan putih yang berarak di langit biru. Dalam balutan daster warna pink bertali spaghetti, ia tampak kurus dan ringkih. Meski demikian di mata Adi, Grace adalah bunga tercantik di taman belakang rumah ini.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Adi.

“Ya beginilah. Siapa yang memintamu untuk datang? Mas Ignas?”

“Kau tidak boleh curiga begitu. Apa aku tidak boleh datang menjengukmu?”

Grace mengalihkan pandangan ke deretan pot bunga Euphorbia yang berjajar di depan kolam ikan, di sebelah kiri kursi taman yang mereka duduki.

“Mengapa baru sekarang kau datang?”

“Aku tidak ingin mengganggu kalian. Aku baru tahu kalau dia…”

“Maksudmu Raymond meninggalkanku? Jadi kau datang karena kasihan padaku? Aku tidak perlu dikasihani,” ujar Grace dengan datar.

“Mengapa tidak?”

“Karena aku baik-baik saja,” sahut Grace dengan dingin.

“Apa kau yakin?“

“Maksudmu apa?” tanyanya sambil menatap mata Adi dengan tajam. “Kau pikir aku harus terus menangisi pertunanganku yang gagal dan rahimku yang sudah tidak ada lagi? Apa kau datang karena ingin jadi pahlawan? Sudah terlambat, Di.”

Meski terkejut melihat kemarahan Grace, Adi tersenyum.

“Mana ada pahlawan yang badannya garing begini. Apa aku tidak boleh menemanimu?”

“Untuk apa? Sebenarnya apa maumu, Di?” tanya Grace dengan curiga.

“Aku berharap kita bisa seperti dulu lagi. Aku masih mencintaimu,” ujar Adi dengan lembut sambil menggenggam tangan Grace.

Namun Grace segera menarik tangannya.

“Kau pikir aku ini orang macam apa??” semburnya dengan marah. “Baru sebulan pertunanganku putus lalu sekarang aku kembali lagi padamu? Apa kau lupa kalau kau sendiri yang berkali-kali bilang kalau kita lebih baik tidak bersama? Sejak kapan kau tidak punya pendirian?”

Adi menatap Grace dengan sedih.

“Aku minta maaf. Aku memang payah. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”

“Kau jangan pura-pura bodoh. Kapan kau kehilanganku? Aku tidak pernah menghilang. Kau yang menghilang dan menyingkirkanku jauh-jauh,” ujar Grace sambil menuding Adi.

“Dulu kupikir itu yang terbaik bagimu, ternyata aku salah. Sekarang aku…”

“Kau mau apa? Mengapa semua orang selalu ingin mengaturku? Hanya aku sendiri yang tahu apa yang terbaik untukku. Dan itu bukan kau,” ujar Grace dengan ketus sambil berdiri.

“Grace, dengarkan aku dulu,” ujar Adi sambil menarik tangan Grace dengan mantap sehingga Grace jatuh terduduk tepat di sampingnya.

Pundak mereka saling bersentuhan dan rambut Grace yang wangi menyapu wajah Adi. Dalam sekejap Adi sudah memeluk dan menciumnya.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku benci kau!” seru Grace sambil meronta dan memukuli dada Adi.

Tapi Adi malah mempererat pelukannya sambil berbisik, “Kau boleh membenciku, tapi jangan berhenti mencintaiku.”

“Sayang sekali aku sudah berhenti mencintaimu. Kau bukan apa-apa lagi bagiku. Aku membencimu,” tukas Grace dengan suara bergetar.

“Sekarang kau yang pura-pura bodoh. Aku tahu kau masih mencintaiku. Soal closure itu hanya omong kosong.”

Suara Adi juga ikut bergetar. Ia tidak menuntut jawaban dari Grace karena tahu gadis itu tidak mampu menjawab. Adi bisa merasakan pipi dan pundak kirinya basah oleh air mata Grace. Air matanya juga membasahi pipi dan pundak kiri Grace. Semua perasaan yang berkecamuk dalam hatinya meleleh keluar bersama air matanya.

“Kau tidak bisa seenaknya datang dan pergi seperti ini,” isak Garce sambil meronta dan memukuli dada Adi dengan lemah.

“Maafkan aku. Aku tidak akan menghilang lagi. Aku janji. Kau harus percaya padaku, ya,” sahut Adi sambil menempelkan pipinya yang basah ke pipi Grace.

Grace hanya diam. Akhirnya ia berhenti meronta, tapi tidak berhenti menangis meski tanpa suara sehingga tubuh ringkihnya berguncang. Adi terus memeluknya dengan erat seakan takut Grace tiba-tiba lenyap. Adi tidak peduli bila mereka berdua menjadi tontonan seisi rumah. Baru sepuluh menit kemudian Adi melepaskan libatan lengannya.

“Kau mau memaafkanku kan?” tanyanya sambil mengusap pipi Grace dengan lembut. “Kita…”

Namun Grace mendorong tubuh Adi sekuat tenaga.

“Kau bodoh! Tidak akan ada ‘kita’ lagi!” seru gadis itu sebelum berlari meninggalkan Adi.


bersambung...


behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
Eric Mathews
Waduh...
Radhianwahyu
lanjut dong bro
kentang nih
kena setengah
sankdëшa
weleh, tumben bude postingnya siang2 BigGrin.gif

kirain malem baru bisa baca, seperti biasanya HeHe.gif

ditunggu lanjutannya ya, bude.

ntar malem kan BigGrin.gif
eroge
weks, kemarin gue posting bagian 6 juga siang dey. dan mostingnya sehari cukup 1 ajah, biar penasaran wink.gif

tp gue kan udah protes ma panggilan bude itu Waiting.gif
Bounty Hunter
QUOTE (Eric Mathews @ Oct 19 2008, 12:08 PM) *
Waduh...

ikutan...waduh

njelimet'

alur berubah. konflik bertambah

jadi tambah penasaran BigGrin.gif
Gen-O
posting lagi dunks ^^

ceritanya bikin penasaran nih ....

cerita bikin ane penasaran pengen tau kelanjutannya seperti apa ^^

apple_juice
Shocked.gif Shocked.gif kok jadi gitu ???

wealah....ne si mbak yu yg bikin cerita mang pinter bgt dah bikin penasaran.

lanjut mbak yuuu....




apple_juice monyet.gif
eroge
bagian 7:
Grace yang tidak jadi menikah dengan Raymond menolak kehadiran Adi kembali dalam hatinya. Akankah Adi menyerah begitu saja? Dan bagaimana tanggapan Mama Adi?



Mama Adi mengawasi anak semata wayangnya yang sedang mengaduk-aduk lemari bukunya. Ia tahu Adi sedang mencari buku untuk Grace.

“Kau pasti mau pergi ke rumahnya lagi kan?” tanya Mama dengan curiga.

Adi mengangguk. Mama menghela napas.

Adi menoleh dan berkata, “Mama tidak usah khawatir. Sekarang mereka tidak menolakku lagi. Mereka menerimaku dengan baik.”

“Itu karena sekarang situasinya berubah. Sekarang kau dibutuhkan mereka. Apa kau tidak sadar kalau kau hanya dimanfaatkan mereka?”

“Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa bersamanya lagi,” sahut Adi sambil memalingkan wajahnya dan kembali berkutat buku-bukunya. “Mereka juga ingin berkenalan dengan Mama. Jadi kapan-kapan aku akan mengajak Mama ke sana.”

“Mama tidak mau,” sahut Mama dengan tegas. “Lagipula dia tidak mau menemuimu lagi. Apa kau harus terus mengemis perhatiannya? Mama heran mengapa dia jual mahal begitu? Seharusnya dia yang mengemis-ngemis padamu. Di, kau hanya membuang-buang waktumu untuk gadis seperti dia.”

“Aku mau menikahinya,” ujar Adi tanpa menatap mata Mama.

Jantung Mama hampir berhenti berdetak mendengarnya.

“Hah? Apa kau sudah gila??” seru Mama dengan mata mendelik.

“Aku mencintainya, Ma.”

“Tapi dia tidak mencintaimu lagi.”

“Dia masih mencintaiku,” bantah Adi.

“Tahu dari mana?”

“Aku tahu biarpun dia berkali-kali menolak lamaranku, tapi aku tidak akan menyerah. Dia pasti akan menikah denganku.”

Mama mengeluh lalu berkata, “Lupakan dia dan cari gadis lain.”

“Aku tidak mau gadis lain. Aku cuma mau dia.”

“Kau kan belum mencoba mencintai gadis lain.”

“Tidak ada gadis lain seperti dirinya, Ma. Aku tidak mengerti mengapa Mama tidak pernah suka pada Grace. Dia sangat baik dan tidak sombong.”

“Tapi keluarganya kan tidak begitu. Keluarga kita dan mereka bagai langit dan bumi. Dan tidak pantas keluarga laki-laki di bawah keluarga perempuan. Mama tidak mau nantinya kau dilecehkan mereka. Mama tidak mau kau menjadi korban DKI – Di bawah Ketiak Istri!” seru Mama dengan sengit.

“Tapi Grace tidak seperti itu.”

“Dengar, Di. Kau sayang Mama kan?”

Adi menghela napas sambil menatap mata Mama.

“Aku sayang Mama, tapi aku juga mencintainya,” sahutnya dengan tegas.

“Mengapa kau jadi bodoh begini? Dulu kau sudah mengambil keputusan yang benar dengan meninggalkannya. Mengapa sekarang kau mau kembali lagi padanya? Dia tidak akan bisa memberimu anak, Di. Kau anak Mama satu-satunya. Apa kau tidak ingin membuat Mama bahagia? Mama ingin seperti teman-teman Mama lainnya, menghabiskan waktu dengan bermain bersama cucu.”

“Bisa saja aku mandul.”

“Adi! Jangan bicara sembarangan begitu!” seru Mama dengan marah.

“Tapi bisa jadi kan? Kalau Mama mau cucu, kami bisa mengadopsi. Mama malah bisa ikut memilih seperti apa cucu yang Mama mau. Mau laki-laki atau perempuan, mau yang kulitnya putih atau gelap, mau yang matanya sipit atau besar, mau yang kurus atau gemuk, mau yang rambutnya lurus atau ikal. Semuanya bisa dipilih. Bahkan Mama bisa punya cucu bule,” sahut Adi dengan cuek.

“Ngawur! Eh, yang kau maksud dengan ’Kami’ itu siapa?”

“Aku dan Grace,” sahut Adi dengan mantap.

“Aduh, Di! Jangan bermimpi bisa menikahinya! Mama tidak setuju!”

Adi terdiam sejenak lalu berkata dengan pelan, “Kalau dulu aku tidak meninggalkannya mungkin dia tidak perlu menderita begitu. Mungkin sekarang kami sudah memberi Mama cucu.”

“Jadi sekarang kau ingin menikahinya karena merasa bersalah?”

* * *


Grace duduk di depan jendela kamarnya. Tangannya memegang sebuah amplop tebal. Dari Adi, kata Mama. Grace menghela napas dengan panjang. Mendadak keluarganya menerima Adi dengan sangat baik. Kalau saja hal ini terjadi tiga-empat tahun yang lalu, ia pasti akan merasa sangat bahagia. Tapi sekarang, ia malah merasa curiga dan sedih.

Apalagi setelah tanpa sengaja ia melihat Papa memberi selembar cek pada Adi. Ia tidak tahu berapa besar jumlahnya dan untuk apa. Ia tahu Adi bukan tipe orang yang mau dibeli dengan uang, tapi dalam keadaan terdesak mungkin saja ia menjadi berubah.

Grace mendesah lalu membuka amplop itu. Isinya empat lembar surat berisi tulisan tangan Adi yang rapi.


Hai, Grace.

Apa kau begitu membenciku sehingga tidak mau menemuiku lagi? Tidakkah kau rindu padaku? Aku rindu sekali padamu. Aku rindu berjalan-jalan bersamamu mencari buku-buku seperti dulu. Kau masih ingat kan bagaimana kita berjalan menyusuri jalan Kwitang dari Toko Gunung Agung di samping kali sampai lapak-lapak di tikungan Kwitang. Lalu kita mampir untuk makan es krim di Baltic. Kau selalu makan es krim nougat.

Kadang bila perut kita sudah menyanyi dengan keras, kita pergi ke warung nasi kapau di seberang dan makan sampai kekenyangan meski baru pukul empat sore. Dan sesudahnya kau selalu bertanya bila makan pagi digabung dengan makan siang dinamakan brunch, lalu apa istilahnya bila makan siang digabung dengan makan malam. Lunner?

Maaf, kali ini aku tidak membawakanmu buku. Aku tidak tahu buku apa lagi yang baik untuk kau baca. Aku tidak berani merekomendasikan buku silat. Terlalu banyak kekerasan di dalamnya. Jadi aku mengarang cerita untukmu. Sebenarnya lebih mirip dongeng pengantar tidur. Semoga kau menyukainya.

Di sebuah negeri antah-berantah hidup seorang pemuda jelata. Wajahnya tidak tampan, tubuhnya kurus dan rambutnya ubanan. Meski tampak kumal, tapi dia baik hati. Suatu hari dia terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis cantik yang sedang membaca buku. Bukan karena kulit seputih pualam atau mata secemerlang bintang atau rambut selembut sutra sang gadis, tapi karena sang gadis tampak begitu tenggelam dalam dunia yang sedang dibacanya.


“Kau sedang membaca Primary Colors di pinggir lapangan basket yang ramai. Di sebelahmu duduk Inge yang sedang mengoceh dengan penuh semangat. Tapi kau sama sekali tidak terganggu dan terus membaca dengan konsentrasi penuh. Saat itu aku tahu kalau kau sejenis denganku. Pelahap buku,” kata-kata Adi saat mengajaknya pacaran dulu kembali terngiang di telinga Grace.

Dengan nekat si pemuda itu mendekati sang gadis dan menyatakan cintanya. Tanpa disangka sang gadis juga mencintainya. Belakangan dia baru mengetahui kalau kekasihnya adalah seorang puteri. Terkadang dia tidak bisa mempercayai betapa beruntungnya mempunyai kekasih yang begitu cantik. Bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Sang putri tidak sombong, bahkan merelakan diri ikut menjadi lusuh dan dekil. Berdua mereka bertualang menyusuri jalan-jalan berdebu yang dipenuhi kerikil tajam.

Mendadak tanah di depan mereka merekah dan hanya menyisakan sepotong jalan kecil. Ujung jalan itu tidak terlihat, tertelan kabut tebal. Tapi keduanya tidak gentar dan terus berjalan bergandengan tangan melewati jalan yang mirip jembatan rapuh untuk menyeberangi jurang yang luas dan dalam.

Semakin lama jalan kecil itu semakin menyempit, akhirnya retak dan runtuh, menyisakan kepingan-kepingan yang terserak. Untuk melewatinya mereka harus melompatinya dengan hati-hati. Si pemuda melepaskan tangan kekasihnya dan melompat lebih dulu. Baru tiga lompatan, ia berhenti. Merasa jalan yang harus ditempuh terlalu berbahaya, ia membujuk sang putri untuk kembali pulang.

“Aku akan menyusulmu,” ujar si pemuda.

Namun dia tidak pernah menyusulnya. Dia tetap berdiri di tempat sambil memandangi punggung kekasihnya lenyap ditelan kabut. Saat sang putri berteriak-teriak memanggil namanya, dia tetap diam, pura-pura tidak mendengarnya.

“Kalau kau tidak datang menyusulku sekarang juga, aku tidak akan menunggumu lagi,” demikian ujar sang putri mengultimatum si pemuda.

“Mungkin itu yang terbaik bagi kita,” sahut si pemuda dengan hati retak.

Si pemuda yang tolol dan pengecut itu terus berdiri di sana. Entah apa yang ditunggunya karena dia tidak mempunyai nyali untuk menyusul sang putri. Dari angin yang berhembus, dia mengetahui kalau sang putri sudah menemukan seorang pangeran tampan sebagai pengganti dirinya. Hatinya yang retak pun hancur berantakan.

Saat si pemuda sedang memunguti kepingan-kepingan hatinya, tiba-tiba dia mendengar kabar kalau nyawa sang putri dalam bahaya karena telah dilukai dua ekor ular berbisa. Tanpa ragu dia langsung menyeberang menyusul sang putri. Begitu melihat sang putri selamat dari luka parah, dia memutuskan untuk pergi. Dia merasa tidak mampu bersaing dengan sang pangeran tampan.

Namun karena sang putri sudah kehilangan sebuah mestika, sang pangeran pun pergi meninggalkannya. Dalam kedukaan sang putri mengucilkan diri dalam menara istana yang tinggi. Dia bahkan menolak bertemu si pemuda yang kembali untuk menemuinya. Si pemuda terus menantinya dengan setia.

“Pergilah. Aku tidak bisa memberi apa-apa bagimu,” usir sang putri.

“Aku tidak ingin apa-apa darimu. Aku hanya ingin kau memaafkanku dan membiarkanku menemanimu selamanya,” sahut si pemuda dengan penuh harap.

Apakah sang putri akan membukakan pintu dan menyilakannya masuk?


bersambung...


behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
sankdëшa
tuh kan yg lain juga penasaran BigGrin.gif

ditunggu mbak lanjutannya, belum bisa komentar banyak HeHe.gif

baca dari awal lagi .. ah HeHe.gif
Bounty Hunter
walah.....kepenggal lagi Cry.gif

lagi larut2nya dalam isi surat adi..eh, bersambung BigGrin.gif

sip thumbsup_anim.gif pergolakan perasaan dalam satu kata "kasihan" Thinking.gif

eniwei, mudah2an sang putri tidak mengunci pintunya, apalgi pe pake gembok segala HeHe.gif
Gen-O
halah .....

gua pikir udah tamat .....

ternyata masih ada sambungannya......

kalo ini cerita based on true story...... udah mirip kayak sinetron2 indonesia......

lanjutaannnyaa dunksss....
apple_juice
wealah mbak yukk... LMAO.gif

kirain gak bersambung crying_anim.gif , teryata kita2 disuruh nunggu lagi crying_anim.gif

tapi bravo deh buat sist satu ini.. ditunggu yah..


eroge
lha, kan udah dibilangin kalo semuanya ada 9 bagian.

@genocide : masa kayak sinetron siy...
A n d j a c K
bike.gifbike.gifbike.gifbike.gifbike.gif
A n d j a c K
next maning ...
bike.gif
kyo_sHy
Penasaran., lanjut lagi aaahhhhh.....
kyo_sHy
Hmmm qute abisss...!!!
backmine
Jaaaaa... Mas Ray the king n the kongditolak.. Cacian deh..

Ko makin seru ya..

Selanjutnya.. daydreaming.gif


bike.gif
backmine
Whew.gif.. Tinggal satu lagi..

Selesaikan sekarang juga .. bike.gif
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.