Grace akhirnya sadar juga namun akankah pertunangan dengan Raymond berlanjut ke pelaminan? lalu bagaimana dengan Adi?
Grace menoleh dan menatap Raymond dengan serius. Lalu ia melepaskan cincin yang dipakainya dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.
“Aku akan baik-baik saja. Mas tidak usah khawatir,” ujar Grace sambil menaruh kotak itu ke dalam tangan Raymond.
Kata-kata itu diucapkan Grace dengan penuh kepasrahan dan ketabahan. Matanya menatap Raymond dengan tenang sedangkan mata Raymond malah mulai digenangi air mata.
“Sayang…”
Tangan Grace terangkat pelan untuk menghentikan Raymond bicara.
“Ini yang terbaik untuk kita semua.”
Raymond mulai menangis. Kata-kata Papanya kembali berkumandang di telinganya.
“Dia gadis yang baik dan dari keluarga baik-baik juga, tapi dia tidak bisa memberimu anak. Kau anak laki-laki kami satu-satunya. Kau harus punya anak laki-laki yang akan meneruskan nama keluarga.”
“Papamu tidak bermaksud jahat,” timpal Mamanya. “Ini semua demi kebaikanmu. Kau tidak mungkin menghabiskan seluruh hidupmu untuk merawatnya.”
“Tapi Grace pasti akan sembuh. Dan aku mencintainya.”
“Kau bisa belajar mencintai gadis lain. Lagipula kedua orang-tuanya juga mengerti keputusan kami,” ujar Mama.
“Papa-Mama sudah membicarakan hal ini kepada mereka??” seru Raymond dengan kaget.
“Mereka sangat mengerti. Mereka bisa membayangkan bila mereka sendiri berada dalam posisi kami,” sahut Papa.
Raymond tercengang lalu berkata, “Tapi Grace bahkan belum keluar dari rumah-sakit. Bagaimana Papa-Mama bisa setega itu?”
“Kami ingin kau pergi ke Singapura dengan tenang,” sahut Mama.
“Lalu bagaimana dengan dia?”
“Dia anak yang baik. Pasti akan ada laki-laki lain yang bersedia menjadi suaminya.”
“Aku juga bersedia.”
“Tidak, Mond. Kau tidak bisa,” ujar Mama dengan lembut.
Jari-jari lentik Grace menghapus air mata di pipi Raymond dengan perlahan. Raymond menangkap kedua tangannya dan menciuminya sambil menangis.
* * *
“Kantormu lumayan juga.”
Adi tersenyum sopan sambil berujar, “Ah, Mas bisa saja.”
Ia memperhatikan Ignas yang sedang memandangi kantornya yang sempit dengan penuh minat. Meski bertanya-tanya apa tujuan kedatangan Ignas yang mendadak, tapi ia diam saja. Ia tahu nantinya Ignas juga akan bicara.
“Mengapa kau tidak pernah datang menjenguk Grace lagi sejak dia sadar?” tanya Ignas tiba-tiba sambil menatapnya dengan penasaran.
Adi terdiam sejenak. Sebulan sudah berlalu sejak Grace sadar.
“Yang penting bagiku dia sudah sadar,” jawab Adi sambil tersenyum tipis.
“Jadi kau sudah tidak peduli lagi padanya?”
“Dia kan sudah punya orang lain yang sangat peduli padanya,” sahut Adi dengan datar.
Ignas menghela napas lalu berkata, “Tidak lagi. Apa Inge tidak pernah memberitahumu?”
“Soal apa? Dia hanya bilang kondisi Grace membaik dan minggu lalu sudah pulang ke rumah.”
“Rupanya dia takut salah omong lagi. Pertunangan mereka dibatalkan, Di. Tidak akan ada pertunangan.”
Adi begitu terkejut hingga ternganga.
“Aku tidak pernah menyangka sahabatku sendiri tega meninggalkan adikku dalam keadaan seperti itu. Biarpun aku tahu dia terpaksa menuruti kemauan orang-tuanya,” keluh Ignas.
“Lalu bagaimana dengan Grace?” tanya Adi dengan khawatir.
“Anehnya dia tenang-tenang saja, tapi kami khawatir dia memendam kesedihan. Sampai sekarang dia bahkan tidak pernah membicarakan kejadian itu pada kami. Untungnya dia masih mau diajak ke psikiater.”
Adi tahu yang dimaksud ‘kejadian itu’ adalah kejadian pada malam nahas itu.
“Sekarang dia tidur di kamar lain, bekas kamar Mas Alex. Dia tidur ditemani Mbok Yem. Aku sendiri jadi sering susah tidur dan paranoid. Hampir tiap tengah malam aku memeriksa semua jendela dan pintu. Aku bahkan tidak berani masuk ke kamar tidur Grace yang lama. Rasanya aku masih mencium bau darah di sana.”
Adi menatap Ignas dengan prihatin.
Ignas tertawa getir lalu berujar, “Mungkin aku juga perlu ke psikiater, ya. Di, kau mau datang menjenguknya kan?”
“Mas minta aku menggantikan posisi Raymond?”
Ignas terdiam. Dia tampak malu dan menyesal.
“Aku minta maaf. Kalau kau merasa marah dan tersinggung, aku bisa mengerti. Ini semua salahku. Dulu aku yang memaksamu untuk menjauhinya. Aku juga sudah menghinamu dengan kasar. Kupikir Grace akan lebih baik bersama Raymond. Ternyata tidak,” ujarnya dengan pahit.
“Mas tidak sepenuhnya salah. Lagipula bukan hanya Mas yang tidak setuju dengan hubungan kami. Aku sendiri juga salah. Kalau aku benar-benar mencintainya seharusnya aku tidak melepaskannya begitu saja.”
“Kalau kau masih mencintainya, tolong jenguk dia. Dia membutuhkanmu, Di.”
* * *
Adi memandangi Grace yang duduk di sampingnya. Gadis itu sedang mendongak menatap awan putih yang berarak di langit biru. Dalam balutan daster warna pink bertali spaghetti, ia tampak kurus dan ringkih. Meski demikian di mata Adi, Grace adalah bunga tercantik di taman belakang rumah ini.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Adi.
“Ya beginilah. Siapa yang memintamu untuk datang? Mas Ignas?”
“Kau tidak boleh curiga begitu. Apa aku tidak boleh datang menjengukmu?”
Grace mengalihkan pandangan ke deretan pot bunga Euphorbia yang berjajar di depan kolam ikan, di sebelah kiri kursi taman yang mereka duduki.
“Mengapa baru sekarang kau datang?”
“Aku tidak ingin mengganggu kalian. Aku baru tahu kalau dia…”
“Maksudmu Raymond meninggalkanku? Jadi kau datang karena kasihan padaku? Aku tidak perlu dikasihani,” ujar Grace dengan datar.
“Mengapa tidak?”
“Karena aku baik-baik saja,” sahut Grace dengan dingin.
“Apa kau yakin?“
“Maksudmu apa?” tanyanya sambil menatap mata Adi dengan tajam. “Kau pikir aku harus terus menangisi pertunanganku yang gagal dan rahimku yang sudah tidak ada lagi? Apa kau datang karena ingin jadi pahlawan? Sudah terlambat, Di.”
Meski terkejut melihat kemarahan Grace, Adi tersenyum.
“Mana ada pahlawan yang badannya garing begini. Apa aku tidak boleh menemanimu?”
“Untuk apa? Sebenarnya apa maumu, Di?” tanya Grace dengan curiga.
“Aku berharap kita bisa seperti dulu lagi. Aku masih mencintaimu,” ujar Adi dengan lembut sambil menggenggam tangan Grace.
Namun Grace segera menarik tangannya.
“Kau pikir aku ini orang macam apa??” semburnya dengan marah. “Baru sebulan pertunanganku putus lalu sekarang aku kembali lagi padamu? Apa kau lupa kalau kau sendiri yang berkali-kali bilang kalau kita lebih baik tidak bersama? Sejak kapan kau tidak punya pendirian?”
Adi menatap Grace dengan sedih.
“Aku minta maaf. Aku memang payah. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”
“Kau jangan pura-pura bodoh. Kapan kau kehilanganku? Aku tidak pernah menghilang. Kau yang menghilang dan menyingkirkanku jauh-jauh,” ujar Grace sambil menuding Adi.
“Dulu kupikir itu yang terbaik bagimu, ternyata aku salah. Sekarang aku…”
“Kau mau apa? Mengapa semua orang selalu ingin mengaturku? Hanya aku sendiri yang tahu apa yang terbaik untukku. Dan itu bukan kau,” ujar Grace dengan ketus sambil berdiri.
“Grace, dengarkan aku dulu,” ujar Adi sambil menarik tangan Grace dengan mantap sehingga Grace jatuh terduduk tepat di sampingnya.
Pundak mereka saling bersentuhan dan rambut Grace yang wangi menyapu wajah Adi. Dalam sekejap Adi sudah memeluk dan menciumnya.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku benci kau!” seru Grace sambil meronta dan memukuli dada Adi.
Tapi Adi malah mempererat pelukannya sambil berbisik, “Kau boleh membenciku, tapi jangan berhenti mencintaiku.”
“Sayang sekali aku sudah berhenti mencintaimu. Kau bukan apa-apa lagi bagiku. Aku membencimu,” tukas Grace dengan suara bergetar.
“Sekarang kau yang pura-pura bodoh. Aku tahu kau masih mencintaiku. Soal closure itu hanya omong kosong.”
Suara Adi juga ikut bergetar. Ia tidak menuntut jawaban dari Grace karena tahu gadis itu tidak mampu menjawab. Adi bisa merasakan pipi dan pundak kirinya basah oleh air mata Grace. Air matanya juga membasahi pipi dan pundak kiri Grace. Semua perasaan yang berkecamuk dalam hatinya meleleh keluar bersama air matanya.
“Kau tidak bisa seenaknya datang dan pergi seperti ini,” isak Garce sambil meronta dan memukuli dada Adi dengan lemah.
“Maafkan aku. Aku tidak akan menghilang lagi. Aku janji. Kau harus percaya padaku, ya,” sahut Adi sambil menempelkan pipinya yang basah ke pipi Grace.
Grace hanya diam. Akhirnya ia berhenti meronta, tapi tidak berhenti menangis meski tanpa suara sehingga tubuh ringkihnya berguncang. Adi terus memeluknya dengan erat seakan takut Grace tiba-tiba lenyap. Adi tidak peduli bila mereka berdua menjadi tontonan seisi rumah. Baru sepuluh menit kemudian Adi melepaskan libatan lengannya.
“Kau mau memaafkanku kan?” tanyanya sambil mengusap pipi Grace dengan lembut. “Kita…”
Namun Grace mendorong tubuh Adi sekuat tenaga.
“Kau bodoh! Tidak akan ada ‘kita’ lagi!” seru gadis itu sebelum berlari meninggalkan Adi.
bersambung...
behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192
