bagian 8:
Adi berada dalam dilema, Mama tak kunjung merestui cintanya pada Grace sedangkan Grace sendiri terus menjauh darinya. Bagaimana akhir kisah cinta Adi?
Grace berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Wajahnya pucat dan sorot matanya tampak muram. Kemarin sore ia kembali dilarikan ke rumah sakit setelah tidak sadarkan diri di kamar mandi. Yang terakhir diingatnya adalah warna air seninya yang merah. Ia tahu itu darah.
Kata Mama, suhu tubuhnya mencapai empat puluh satu derajat Celcius sampai ia mengalami kejang-kejang. Menurut dokter, kandung kemihnya mengalami infeksi.
“Grace, kau sedang memikirkan apa?” tanya Mama dengan lembut. “Apa perutmu masih sakit?”
Grace menggeleng perlahan tanpa menoleh.
“Kau masih kesal pada Mama, ya?”
“Apa kalian begitu takut melihatku kesepian sehingga harus memanfaatkan Adi untuk menemaniku?”
Mama menggenggam dan mengusap tangan putrinya yang membara.
“Dia yang menawarkan diri, kami tidak pernah memanfaatkan dia. Kami malah membantunya dengan tulus. Adi itu orang yang baik dan dia sangat mencintaimu.”
Grace mendengus sinis. “Mengapa baru sekarang Mama bilang kalau dia baik? Bukankah dulu Papa-Mama bilang dia tidak pantas bagiku? Dulu kalian juga bilang kalau dia hanya berniat menguras harta kita?”
Wajah Mama memerah.
“Mama minta maaf kalau selama ini kami tidak berlaku adil pada Adi. Kami sadar kami sudah melakukan kesalahan, tapi sekarang kami sudah berubah. Kami merestui hubungan kalian.”
“Hubungan apa? Antara dia dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa.”
“Lho, bukankah kau masih mencintai dia?”
“Apa aku pernah bilang begitu?”
“Grace, Adi sangat setia padamu. Bayangkan, dia terus menunggumu. Kami percaya dia pasti bisa membuatmu bahagia. Dia yang terbaik bagimu.”
“Lalu bagaimana dengan dia? Dia juga berhak mendapat yang terbaik. Mas Raymond anak laki-laki satu-satunya, tapi Adi anak tunggal. Mentang-mentang dia bukan orang kaya, lalu Papa-Mama mengorbankan dia. Apa Papa-Mama pernah berpikir bagaimana rasanya berada di posisi Mamanya? Apa Papa-Mama akan setuju bila anak tunggal kalian mendapat istri yang tidak bisa memberinya anak, istri yang sakit-sakitan dan terus ketakutan di malam hari?” tukas Grace dengan suara bergetar menahan marah dan kecewa.
Mama menghela napas dan memandangi putrinya dengan sedih.
“Mengapa Papa memberi dia uang?” tanya Grace penuh selidik.
“Kau tahu dari mana?”
“Tidak penting aku tahu dari mana. Berapa?”
“Adi yang bilang? Aku pikir dia tidak ingin kau tahu.”
“Berapa, Ma?” tanya Grace dengan tidak sabar.
“Seratus juta.”
“Jadi hanya sejumlah itu nilai Adi di mata kalian?”
“Grace! Jangan bicara sembarangan! Kami sama sekali tidak pernah mempunyai niat sekotor itu!” seru Mama dengan marah. Mama menghela napas untuk menenangkan diri. “Maaf, Mama tidak berniat memarahimu, tapi kau salah sangka. Kami hanya…”
Kata-kata Mama terputus saat pintu kamar terbuka. Ia bangkit untuk melihat siapa yang datang. Sementara Grace memejamkan mata sambil berharap saat membuka mata, ia sudah berada di tempat lain yang menyenangkan.
Di mana tempat yang menyenangkan, yang bisa membuatnya tenang? Toko buku dan perpustakaan adalah tempat favorit Grace untuk menyepi namun kini tidak lagi. Karena kedua empat itu hanya mengingatkannya pada Adi. Ia tidak pernah bisa melupakan bagaimana mereka menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku untuk membaca buku dan majalah tanpa membeli. Atau bagaimana Adi berbisik-bisik di dalam perpustakaan kampus saat mengajaknya pacaran.
Semalaman Adi menjaganya. Grace sengaja membaca buku untuk menghindari tatapan mata Adi. Buku yang dipilihnya Totto-chan yang sudah delapan belas kali dibacanya tanpa bosan.
“Kau hanya berpura-pura membaca,” ejek Adi sambil tertawa.
Grace hanya melirik Adi sekejap lalu mendengus dengan sebal.
“Kalau kau benar-benar sedang membaca, kau tidak akan melirikku. Mendengarku bicara saja tidak. Coba kulihat bab apa yang sedang kau baca,” ujar Adi sambil mengambil buku itu dari tangan Grace.
“Ah, Gerbong Perpustakaan. Seharusnya saat ini matamu berbinar-binar dan kau tertawa geli karena cerita putri yang doyan kentut itu,” ujar Adi sambil terkekeh.
Grace berusaha menahan senyum yang hampir terbentuk di bibirnya. Tak lama kemudian ia menjadi gelisah meski Adi tidak mengatakan apa-apa lagi. Adi hanya menggengam tangannya sambil memandanginya. Namun Grace merasa basah kuyup oleh luapan rasa cinta yang memancur dari mata Adi.
Akhirnya Grace pura-pura menguap dan memasang wajah mengantuk. Tak lama kemudian ia pura-pura mendengkur. Ia terus berpura-pura tidur saat tangan Adi membelai rambut dan mengusap pipinya dengan perlahan. Tiap sentuhan hangat tangan Adi membuat jantungnya berdegup kencang.
“Aku percaya sang putri akan membukakan pintu dan menyilakan si pemuda masuk. Aku akan terus menunggumu,” bisik Adi sebelum mencium dahi Grace dengan lembut.
“Kau akan jauh lebih baik tanpaku, bodoh,” batin Grace.
“Grace, ada tamu,” ujar Mama membuyarkan bayangan wajah Adi dari benak Grace.
Grace diam saja. Ia sedang tidak berminat berbasa-basi dengan tamu.
“Tidak apa-apa. Mungkin dia sedang tidur,” ujar sang tamu.
Grace mengenali suara itu.
“Ah, tidak. Barusan kami masih mengobrol kok. Nah, matanya terbuka juga kan? Kau ini bagaimana sih? Masa Mamanya Adi datang kau diam saja.”
“Tante? Mengapa Tante datang?” seru Grace dengan kaget.
“Mengapa kau tidak sopan seperti itu?” tegur Mama.
“Wah, apa aku tidak boleh datang?” tanya Mama Adi dengan heran.
“Bukan. Maksudku seharusnya Tante tidak perlu repot-repot datang kemari. Apa Mama yang meminta Tante datang?” tanya Grace dengan curiga.
“Kau jangan menuduh Mama yang bukan-bukan,” bantah Mama.
“Bukan Mamamu yang menyuruh, tapi Adi. Kelihatannya kau tidak senang melihat Tante datang, ya? Padahal sudah lama kita tidak ketemu.”
“Bukan begitu. Maksudku…”
“Grace tentu saja senang. Benar kan?” tukas Mama sambil memelototi Grace.
Grace menghela napas dengan kesal lalu berujar, “Ma, boleh kami bicara berdua saja?”
Mama Adi menatap sepasang ibu-anak ini dengan heran. Sementara Mama Grace tampak terkejut kemudian menghela napas.
“Kau memang keras kepala. Baiklah, Mama tunggu di luar.”
“Tapi…”
“Tidak apa-apa, Mbak. Kalian berdua memang harus bicara,” ujar Mama Grace sambil menepuk pundak Mama Adi dengan akrab.
Mama Adi tampak rikuh hingga wajahnya memerah.
“Sepuluh menit cukup kan?” tanya Mama pada Grace.
Grace mengangguk.
Segera setelah terdengar bunyi pintu tertutup Mama Adi menukas, “Sebenarnya sudah lama Tante ingin bicara berdua denganmu. Tante mau minta tolong, Grace. Kau bisa kan me… Eh, mengapa kau menangis?”
“Aku minta maaf, Tante,” isak Grace.
“Untuk apa?”
“Aku sudah membuat Tante susah. Gara-gara aku, Adi jadi berubah. Seharusnya dia tidak menerima uang Papa. Aku tidak akan membiarkan mereka memaksa kalian berkorban untukku. Tante tidak usah takut pada mereka. Aku yang akan melunasi hutang Adi pada Papa. Jadi dia tidak perlu membalas budi pada mereka. Dia cukup membayar hutang padaku saja,” ujar Grace terbata-bata.
Wajah Mama Adi tampak muram dan bibirnya menipis.
“Jadi kau pikir dia berubah menjadi mata duitan?”
“Maaf, Tante. Bukannya aku menuduh Adi mata duitan, tapi…”
“Uang itu pinjaman, bukan gratis. Adi juga sudah mulai mencicilnya. Aku tidak mengerti mengapa dia begitu tergila-gila padamu. Dia merasa tidak cukup baik untukmu, tapi kau yang tidak pantas untuknya. Sudah menuduhnya yang bukan-bukan, kau juga terus menyiksanya dan memperlakukan dia seperti pengemis. Aku rasa sejak dulu kau memang tidak pernah mencintai dia,” tuduh Mama Adi dengan kesal.
“Maaf, aku tidak tahu kalau itu hanya pinjaman. Adi… dia tidak memberitahuku. Papa-Mama juga,” sahut Grace tergagap dengan wajah merah. Melihat Mama Adi tampak marah, ia buru-buru melanjutkan, “Tapi aku mencintai dia, Tante. Sejak dulu aku tidak pernah berhenti mencintai dia.”
“Kalau begitu mengapa kau mau menikah dengan orang lain?”
“Karena kupikir dia tidak mencintaiku lagi,” sahut Grace dengan pelan.
“Kalau sekarang bagaimana? Apa kau mau kembali pada Adi?”
Nada suara Mama Adi yang judes membuat Grace merasa ciut.
“Sekarang…”
Suara Grace menghilang dan ia menggeleng.
“Kenapa? Apa benar kau tidak ingin kembali padanya?” desak Mama Adi.
“Tidak ada masa depan bagi kami. Aku tidak akan bisa memberinya anak, aku tidak akan bisa memberi Tante cucu. Aku tidak tahu harus bolak-balik ke rumah sakit berapa kali lagi. Aku hanya akan membebani kalian seumur hidup. Karena itu aku mohon Tante mau menasehatinya supaya melupakanku. Dia orang yang sangat baik, pasti akan ada gadis lain yang lebih baik dariku yang bisa mencintainya. Aku tidak mau dia terus menungguku,” ujar Grace dengan suara bergetar.
Mama Adi menghela napas.
“Mengapa dulu kau mau berpacaran dengannya? Seharusnya dulu kau menolaknya. Kau kan tahu keluarga kita jauh berbeda. Kami tak bisa mengimbangi keluargamu. Kau hanya memberi Adi harapan kosong,” keluh Mama Adi.
“Maafkan aku, Tante,” ujar Grace setengah berbisik.
“Tante tidak tahu harus bagaimana lagi. Kali ini Adi tidak mau mendengarkan kata-kata Tante. Dia tidak akan menyerah sampai kau mau menikah dengannya.”
“Mungkin dia akan bisa melupakanku kalau aku pindah keluar kota atau keluar negeri,” ujar Grace dengan pelan.
Mama Adi mengangguk-angguk.
“Ya, cara itu bisa saja berhasil. Adi tak akan mungkin menyusulmu, tapi…”
“Tante tidak usah khawatir soal uang itu.”
“Soal uang urusan belakangan. Tante khawatir Adi akan terus menunggumu. Sejak putus denganmu dulu saja, ia tidak mau pacaran lagi. Apalagi kalau nanti kau meninggalkannya untuk yang kedua kalinya. Tante tidak mau anak Tante satu-satunya menjadi bujang lapuk. Dia anak yang baik dan pintar. Dia hanya kurang beruntung karena dilahirkan di keluarga miskin.”
“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Grace dengan nada putus asa.
Mama Adi terdiam sejenak sambil memandangi Grace.
“Kita sama-sama ingin Adi bahagia kan?”
“Ya, Tante,” sahut Grace sambil mengangguk setuju.
“Aku mau anakku mendapat gadis yang bisa mencintainya dengan tulus.”
“Ya, kita harus mencarikan gadis yang baik untuknya.”
“Tidak perlu. Aku sudah menemukannya.”
“Di mana?”
“Dengar Grace, sekarang kau harus memaafkan Adi karena dulu sudah meninggalkanmu. Kau juga harus mencintai dia sebaik mungkin. Aku memang ingin sekali punya cucu, tapi kebahagiaan Adi lebih penting dan hanya kau yang bisa membuatnya bahagia. Jadi aku tidak akan memaafkanmu kalau dia sampai menderita lagi,” ujar Mama Adi dengan sungguh-sungguh.
“Tante…”
Hanya itu yang keluar dari mulut Grace karena tenggorokannya tercekat. Ia hanya bisa menatap perempuan paruh-baya di hadapannya dengan penuh haru.
Mama Adi tersenyum lalu berkata dengan lembut, “Mulai sekarang kau harus belajar memanggilku Mama.”
behind the scene: http://www.bluefame.com/index.php?autocom=...p;showentry=192