Selasa 28 Oktober 2008, Jam: 7:05:00
Selingkuh sama tetangga itu memang enak, tapi dibacok pedang oleh suami, juga lebih “enak”. Dan begitulah peruntungan Nunik, 35, dari Tuban (Jatim). Baru saja gemrobyos (berkeringat) kecapekan melayani Jumangin, 40, di atas ranjang, tahu-tahu betttt......,kepala dan tangannya somplak dibacok suaminya yang kalap.
Enak memang orang selingkuh, begitu kata pakar permesuman. Soal rasa memang sama saja, tapi deg-degan dan ngos-ngosan menjadi bumbunya perbutanan penganut setan. Deg-degan karena takut-takut ketahuan oleh pihak berwajib (baca: suami), ngos-ngosan karena semua dikerjakan dengan tergesa-gesa. Ibarat sinetron, jenis yang kejar tayangnglah, sebab setan-setan sudah menunggu sepak terjang dua anak manusia yang sudah berhasil dijerumuskannya di lembah yang hina.
Begitu juga rupanya perasaan Jumangin, ketika harus mendekati bini Bandi, 38, yang memang cantik mempesona itu. Sadar akan perilakunya yang salah, setiap mau bicara dengan Ny. Nunik, dia pastilah gugup. Mau ngomong lima keluar hanya dua. Tapi bini Bandi yang termasuk janma limpat seprapat tamat (orang pandai tahu maksud orang) dia segera mafhum akan aspirasi urusan bawah tetangganya di Desa Klamber Kecamatan Plumpang. “Ngajak selingkuh, siapa takut?”, begitu reaksi Nunik.
Utuk tatanan umum dan etika agama, jelas sikap bini Bandi ini sangat mengejutkan. Mana mungkin, diajak hubungan intim oleh lelaki yang bukan suaminya, kok mau saja. Lha mbok lihat kisah Dewi Sinta di dunia perwayangan. Biarpun Dasamuka adalah konglomerat dari Alengka, dia tak mau meladeni nafsu raja angkara murka. Sebab cintanya memang hanya untuk Prabu Ramawijaya. Meski suaminya menderita selama dalam pembuangan di hutan, dia tetap setia menjaga “aset”-nya untukl suami tercinta.
Tapi jangan salah, Ny. Nunik ini memang bukan tipe wanita setia, jika tak mau disebut perempuan gatel. Ketika Jumangin cengengas-cengenges mendekati dirinya, dia memberi peluang dan semangat untuk lebih maju. Kata Nunik, kalau cinta ya ngomong saja jangan hanya gendulak-gendulik (setengah ragu), jadi apa tidak. “Hidup adalah perbuatan, bukan hanya isyarat dan kata-kata,” nasihat Nunik main caplok saja, tanpa permisi dulu kepada Ketua Umum PAN.
Ke sononya tentu saja jadi lebih muda. Nunik yang tak puas dengan pelayanan suami, berulangkali mengundang Jumangin ke kamarnya. Lalu keduanya pun menuntaskan gairah-gairah malam sebagai makhluk lelaki dan perepuan. Mereka tak bisa membedakan lagi mana yang halal dan mana pula yang haram. Ibarat mobil, yang penting bisa “ngetap olie”, tak peduli perbuatan itu akan merusak rumahtangga pihak lain.
Akan tetapi, betapapun keduanya sangat rapi membungkus bangkai, lama-lama ketahuan juga. Beberapa hari lalu, pas Bandi pulang piket lebih gasik dari biasanya, dia melihat dengan mata kepala sendiri istrinya yang bugil ditindih lelaki tetangganya. Dia mencoba menghajar Bandi yang sangat dikenalnya tersebut, tapi sayang keburu kabur. Sebagai sasaran amuk, akhirnya pedang itu pun dibacokkan saja pada istrinya yang jadi biang masalah. “Rasain. Aku kerja banting tulang, masak kamu banting-bantingan sama lelaki lain.” maki Bandi. Malam itu istrinya dilarikan ke rumahsakit, sementara Bandi ditangkap polisi Polres Tuban.
Nyesel hati Bandi, tapi juha mangkel.
(JP/Gunarso TS)
............Untung si bandi lolos kalo gak judulnya di atas jadi laen nich