Help - Search - Members - Calendar
Full Version: [cerpen] Dusta atas nama Cinta
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
1sty
Haaaayyyyy.. udah lama banget 1sty nggak ngisi di thread ROMAN ini. Udah 2 tahun lebih ya? Waaawww.. nah, hari ini 1sty bawa oleh2 buat bluefamers semuwanya, sebagai salam kangen 1sty buat kalian.

Sebagai pengantar, cerpen ini 1sty buat sebagai "hadiah" ulang tahun temen yang sama-sama penulis. Nah, sebulan terakhir ini beliau mengundang kami--yang ada di komunitas penulis, untuk ikutan kompetisi cerpen yang dia gelar. Nah, sebagai partisipasi, 1sty ngirim tulisan ini. Mudah-mudahan pada suka.

Ohya, parental advisory nih, ada explicit content-nya. hehe.. BigGrin.gif

Enjoy!

===================================================
Dusta Atas Nama Cinta


Apa yang akan kamu lakukan, jika ternyata dirimu berdiri di pihak yang salah? Apa yang akan kamu lakukan, jika segala yang kamu percayai ternyata adalah sebuah kebohongan besar? Really, what would you do, if the one who was wrong is you?

Sebagai pengacara, Aida seringkali mengalami dilema seperti ini. Dari sekian ratus klien yang pernah ia bela di depan pengadilan, hanya sedikit saja yang ada pada posisi benar. Seperti kliennya yang satu ini, Karin, gadis berusia 20 tahun yang duduk di kursi pesakitan karena terlibat kasus narkoba. Karin bukan pengedar, tapi kristal psikotropika seberat 0,5 gram yang ditemukan polisi di tasnya dalam razia beberapa bulan sebelumnya, membuat Karin harus menghadapi tuntutan penjara seumur hidup.

Sebenarnya, narkoba bukan kasus favorit Aida. Ia cukup trauma dengan tuntutan hukuman mati terhadap sejumlah klien narkoba di awal karirnya dulu. Aida pun bersumpah, tidak akan pernah lagi menangani kasus serupa. Namun, Karin adalah sahabat Sasha, anak tunggalnya.

“Ma, satu kali ini saja, Ma. Tolong Karin,” bujuk Sasha waktu itu.

“Tapi, Karin memang pemakai, Sha. Mama nggak mau membela pemakai narkoba!” tegas Aida. Sedetik kemudian ia agak menyesal mengatakan hal itu, demi melihat Sasha terisak.

“Mama tega! Mama tega!! Karin itu sahabatku sejak SMP, Ma. Bukannya dia juga sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Mama? Makanya, bantu Karin, Ma, bantu aku. Buktikan ke aku bahwa Mama benar-benar salah satu pengacara terbaik di kota ini,” Sasha mulai larut dalam tangis.

Aida menghela nafas berat. Ia berpikir keras. Ia tak habis pikir, mengapa Sasha terlihat begitu panik? Setahu Aida, anaknya adalah seorang gadis tangguh dan mandiri. “Kok kamu kayaknya sedih banget dengan peristiwa ini? Waktu papamu wafat enam tahun lalu, kamu nggak sesedih ini?”

“Ma, waktu papa meninggal, Karin ada di samping aku terus, menghibur aku. Sekarang gimana aku nggak sedih melihat dia menghadapi kasus ini sendirian? Aku tahu, Karin bukan pemakai, dia dijebak orang, Ma!”
suara Sasha meninggi di sela-sela isak.

Sejurus kemudian, Aida teringat Karin yang berpembawaan tenang itu. Ia sendiri agak tidak percaya jika Karin adalah pengguna narkoba. Atau tepatnya, tidak ingin percaya. Karena, jika Karin pengguna, artinya Sasha pun bisa tertular. “Jangan-jangan kamu pakai juga, Sha?”

“Hah! Maksud Mama, aku pakai narkoba? Sama sekali enggak, Ma! Mama kok mengira begitu sih?”
sinar mata Sasha tampak terluka.

“Maaf ya, soalnya Mama takut aja, kalau Karin ternyata beneran pemakai, Mama takut kamu juga terpengaruh,” Aida merangkul bahu anaknya.

“Nggak dong, Ma. Kan aku udah bilang, Karin dijebak, dia bukan pemakai. Makanya Mama harus percaya,” Sasha menatap Aida lekat-lekat, dengan sorot berharap banyak.

Aida menghela nafas panjang. Ia balik menatap anaknya lembut. Aida sadar, Sasha sudah tumbuh menjadi gadis beranjak dewasa yang jelita. Kulit putih bersih, rambut coklat kemerahan alami, dan bola mata bulat berwarna madu menambah kecantikan Sasha. Ia bersinar seperti matahari, sesuai dengan sifatnya yang ceria dan heboh. Mendadak Aida merindukan seseorang, tapi pikiran itu segera ia tepis.

Sungguh Aida mengembalikan senyum Sasha dan ia akan melakukan apa saja—hal mustahil sekalipun—demi membuat anaknya itu bahagia. “Iya Mama percaya. Ya sudah, Mama akan bantu Karin.”

“Bener, Ma? Beneran? Horeeeee!”
Sasha memeluk Aida erat-erat. Matanya masih sembab, tapi Sasha tampak sangat bahagia dengan jawaban Aida tadi.

***


Sasha makin sering mengunjungi Karin yang ditahan di markas polres setempat. Sesekali Aida juga menemui Karin untuk berkonsultasi dan mengumpulkan data guna proses pengadilan. Setiap kali Aida tiba di tahanan, Sasha pasti sudah duluan ada. Aida sempat merasa janggal dengan perhatian Sasha yang begitu besar terhadap Karin. ‘Ah, Karin memang sahabatnya sih,’ Aida menepis keheranannya.

Apalagi, hasil konsultasi menyimpulkan, Karin memang dijebak temannya yang lain. Tapi, apa boleh buat, barang bukti ada di dalam tas Karin. Mau tidak mau, ia harus mempertanggungjawabkannya. Aida akan berusaha keras dan mengerahkan kemampuannya, seperti biasa.

Aida dikenal sebagai pengacara yang memiliki rekor bagus, terutama untuk kasus pidana. Tapi, Aida lebih sering membela klien bersalah dibandingkan klien yang tidak bersalah. Apa mau dikata, biasanya klien bersalah lebih mampu membayar tinggi.. Meski begitu, bukan berarti di dalam hati Aida tidak berontak, jika klien yang ia bela dibebaskan atau dijatuhi hukuman yang jauh lebih ringan daripada tuntutan.

“Hey, it’s not your fault if you were good,” begitu komentar teman-teman Aida sesama advokat di firma. Ya, mungkin Aida memang sebagus itu. Buktinya, banyak klien yang khusus meminta agar Aida yang menangani kasus mereka. Padahal, masih banyak pengacara lain yang lebih muda dan berkualitas di firmanya.

“Tapi, darling, hanya kau satu-satunya pengacara yang bisa menaklukkan Hakim Rocky Sitohang,” kata bos Aida, setiap kali ia keberatan menerima kasus besar. “Ayolah, klien kita ini berani bayar tinggi, darling. Ini baik untuk kau, dan baik untuk kelangsungan firma juga.” Jika sang bos sudah bicara seperti itu, artinya Aida hanya bisa menarik nafas dan menyanggupi.

Ia jadi sedikit menyesal karena telah berhasil “membelokkan” hukuman kliennya dari tuntutan seumur hidup jadi hanya penjara 1,5 tahun saja. Padahal saat itu hakim yang dihadapinya adalah Rocky Sitohang, seorang hakim “killer” di pengadilan negeri, bahkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Hakim Rocky kondang dengan ketegasannya. Pamornya sangat disegani oleh para jaksa, kalangan advokat, bahkan sesama hakim sekalipun. Dia tidak segan menjatuhkan hukuman mati bagi terdakwa yang terbukti sebagai bandar narkoba. Dia tidak segan menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi terdakwa yang terbukti melakukan korupsi. Hakim Rocky sangat membenci koruptor dan pemadat. Menurutnya, penyimpangan moral semacam itu harus dibabat habis hingga ke akar-akarnya.

Diam-diam Aida mengagumi Hakim Rocky, meski secara pribadi ia tidak mengenalnya. Sebaliknya, Aida mengaku segan jika harus berhadapan langsung dengan Hakim Rocky, walau hanya sekadar berbincang di luar profesi. Aida masih agak trauma dengan ucapan Hakim Rocky usai putusan kasus korupsi yang ditangani Aida dan timnya.

Waktu itu performa Aida begitu bagus. Aida juga selalu bisa menghadirkan klien tanpa pernah satu kali pun memberi alasan sakit. “Anda harus kuat. Kalau Anda beralasan sakit, kesannya Anda sengaja menunda dan mengulur waktu proses peradilan. Hakim Rocky, sebagai Ketua Majelis di sidang kasus kita, tidak suka itu,” pesan Aida kepada kliennya. Jadi, meski sempat stres, klien Aida selalu hadir dalam persidangan yang berlangsung selama berbulan-bulan itu.

Jadi, mulai pembacaan dakwaan dari oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Aida yang sudah mempersiapkan kliennya dengan baik, langsung menyambut dengan eksepsi (tanggapan terhadap pembacaan dakwaan). Kemudian tanggapan JPU terhadap eksepsi, segera disusul dengan tanggapan atas tanggapan JPU. Pada putusan sela, Majelis Hakim menyatakan menerima eksepsi yang diajukan terdakwa, sehingga sidang dilanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu pembuktian, yang menghadirkan saksi ahli, saksi meringankan, saksi memberatkan, pengajuan barang bukti, serta mengambil keterangan terdakwa.

Umumnya, tahap pemeriksaan membutuhkan waktu cukup panjang, namun Aida berhasil membuat suasana sidang yang sangat interaktif, lugas, namun berkualitas. Tidak jarang saksi ahli dan saksi perkara tergagap dengan pertanyaan-pertanyaan yang agresif dan lihai dalam berkata-kata, menimbulkan kesan bahwa bukti yang didapatkan ternyata berseberangan dengan kasus kliennya. Bahkan, Hakim Rocky sempat tertegun dengan jawaban-jawaban terdakwa yang lugas dan tegas, namun penuh rasa hormat. Biasanya, terdakwa memasang tampang memelas di hadapan meja hijau hakim. Namun, hal itu tidak berlaku bagi klien Aida. Tentu saja, Aida sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, hingga ke cara berbicara kepada hakim.

Sesi pemeriksaan berakhir, Aida mengajak JPU agar dapat segera menyiapkan tuntutan atau requisitoir dalam waktu kurang dari seminggu. Untungnya hal itu ditanggapi positif oleh JPU. Maka, ketika requisitoir usai dibacakan, Aida mengatakan kepada hakim bahwa tim Penasihat Hukum (PH) terdakwa sudah siap dengan pledooi atau pembelaan, dan hanya meminta reses (istirahat) selama dua jam kemudian melanjutkan sidang. Lagi-lagi, ini membuat Hakim Rocky manggut-manggut kagum dengan kesigapan Aida dan timnya.

Minggu berikutnya, JPU membacakan replik—tanggapan JPU atas pledooi. Sama seperti sebelumnya, Aida meyakinkan sidang bahwa timnya sudah siap dengan duplik—tanggapan PH terhadap replik JPU.

“Sebentar, ini seperti naik roller coaster saja, cepat sekali. Apa Anda sedang mengejar target?” tegur Hakim Rocky.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, kami tidak sedang mengejar target, Yang Mulia. Semata kami hendak menunjukkan kepada sidang bahwa kami tim yang solid dan sigap. Di luar itu semua, kami yakin atas ketidakbersalahan klien kami,” jawab Aida diplomatis dan penuh hormat. Hakim Rocky hanya tersenyum tipis, lalu mempersilakan tim PH membacakan duplik.

Puncaknya, Aida berhasil meyakinkan sidang bahwa pasal tuntutan JPU tidak relevan dengan fakta yang ada. Menurut Aida, bukti-bukti yang dibawa JPU kurang lengkap dan tidak cukup untuk menjerat kliennya ke balik jeruji sesuai tuntutan jaksa.

Aida sempat pesimis dengan pembelaan tersebut, tapi ternyata Hakim Rocky berpendapat sama. Pada sidang pembacaan putusan (vonis), kliennya “hanya” dikenakan tuntutan lebih sekunder, pasal 55 dan pasal 56 KUHP tentang turut serta—bukan pelaku utama seperti yang dituduhkan JPU dalam tuntutan primer dan sekundernya. Klien Aida divonis penjara 1,5 tahun, dikurangi masa tahanan, dan denda sebesar Rp150 juta. Jumlah yang kecil dibandingkan penggelapan yang sebenarnya klien Aida lakukan.

Mendengar putusan majelis itu JPU langsung menyatakan naik banding. “Lain kali, susunlah dakwaan dan tuntutan secara lebih cermat dengan bukti yang relevan!” jawab Hakim Rocky dengan wajah memerah, menahan marah. Ketiga jaksa yang bertindak sebagai tim JPU, hanya bisa menunduk di meja mereka yang terletak di sebelah kanan meja hakim. Tak ayal, puluhan wartawan pengadilan yang sejak pagi mengikuti sidang putusan, dengan cepat berkerumun mewawancarai klien Aida dan JPU.

Tidak ingin terlibat, Aida segera menyelinap keluar ruang sidang utama itu. Ia berpikir, biar atasannya saja yang diwawancarai wartawan. Saat itulah Hakim Rocky menghampirinya dan berkata, “Anda pengacara yang bagus, tapi Anda membela orang yang salah.” Kemudian hakim paruh baya itu meninggalkan Aida yang masih tertegun. Ucapan tersebut dirasa Aida bagai petir di siang bolong. Perutnya mendadak mulas.

“Rocky kesal, ya, sama kau?” tegur sang bos. Aida memaksa tersenyum. “Pasti lah dia kesal. Selama karir dia sebagai hakim, baru kau ini satu-satunya pengacara yang sanggup memutar tuntutan sejauh ini. Kau benar-benar sudah menggulingkan si Rocky, like rolling a rock. Aaah, kalau begitu, aku akan juluki kau sebagai Lady Rock ‘n Roll,” bos Aida terbahak. Mata Aida terbelalak, tapi itu tidak menghentikan sang bos untuk terus memamerkan julukan baru Aida kepada semua klien dan rekan sesama advokat.

Sejujurnya, Aida tidak suka popularitas. Ia sadar sudah tidak muda lagi, jadi jika namanya terus berkibar, artinya kesempatan beristirahat dan menghabiskan waktu lebih banyak bersama Sasha akan lebih tipis. Dalam kehidupan pribadi, Aida justru merasa seringkali kalah kasus. Banyak yang sudah ia korbankan untuk karir pengacaranya ini, misalnya saja Aida terlewat momen kelulusan Sasha dari SD ke SMP, karena saat itu ia harus keluar kota selama beberapa minggu untuk mengurus satu kasus.

Aida juga tidak ada saat Sasha masuk rumah sakit selama dua minggu, karena sakit demam berdarah. Pada momen yang kritis itu, Aida masih berada di Singapura, lagi-lagi menangani kasus besar. Untunglah, almarhum suami Aida, seorang ayah yang baik. Dialah yang selalu ada setiap Sasha membutuhkan orangtuanya.

Sasha sendiri tampaknya sudah bosan memprotes ketidakhadiran Aida. Mau tidak mau, ia harus menerima kenyataan bahwa ibunya adalah wanita dengan karir bersinar yang selalu dicari orang. Untuk itu, Sasha merasa perlu Aida membuktikan diri, dengan membela orang Karin, sahabat yang sangat dicintainya.

***


“Ma, apa nggak ada cara supaya Karin dikenakan tahanan rumah aja?” tanya Sasha saat menjenguk Karin siang itu

“Duh, kalau kasus narkoba susah, Sha.. Kemungkinan untuk bisa tahanan rumah kecil banget. Maklum, Negara kita galak sama kasus narkoba.”

“Tapi, Karin kan gak bersalah, Ma,”
desak Sasha.

“Iya, mungkin Karin emang gak bersalah, tapi Negara mana mau tahu, Sha? Percaya deh, pokoknya Mama melakukan semaksimal mungkin untuk Karin,” tegas Aida. Sasha cemberut.

“Udah nggak apa-apa, Sha. Aku baik-baik aja kok di sini. Terima kasih sama Mama Aida, aku pindah dari sel polres ke sel polda yang lebih layak ini,” ujar Karin terdengar tegar. Sasha langsung menggenggam tangan Karin erat-erat.

Aida tersenyum. Ia jadi teringat saat Karin dan Sasha masih SMP. Mereka selalu sekelas sejak kelas 1 SMP, dan terus bersama sampai SMA. Bahkan, keduanya masuk ke perguruan tinggi dan sharing tempat kos yang sama. Karin sudah biasa menginap di rumah, atau Sasha menginap di rumah Karin. Aida merasa sayang terhadap Karin, apalagi mengetahui keadaan keluarga Karin yang kurang harmonis, makanya ia tidak keberatan dipanggil “mama” oleh Karin. Sasha sendiri menyatakan bahagia bisa bersahabat dengan Karin, serasa memiliki saudara kandung, katanya.

“Karin, besok sidang pledooi, kamu siap kan? Jangan sampe sakit ya? Nanti Sasha menyiapkan baju putih untuk ke sidang,” ujar Aida membuyarkan lamunan.

“Iya, Ma. Terima kasih, ya,” Karin tersenyum manis.

“Ya sudah, Mama pulang ya. Kamu masih mau di sini, Sha?”

“Iya Ma, nanti aku ke kampus dulu, nyerahin revisi skripsiku,”
jawab Sasha tanpa melihat ke arah ibunya. Sasha terus memandangi Karin, yang juga balas memandanginya.

Aida melihat lemparan tatapan hangat dan lembut di antara keduanya. ‘Mungkin ini cara Sasha menguatkan hati sahabatnya,’ Aida membatin. Namun, Aida tidak dapat membohongi diri, perutnya terasa berpilin hebat. Kepalanya pening seperti terhantam balok kayu. Ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang selama ini tidak pernah dihiraukannya. Sesuatu yang sempat mampir di jiwanya, tapi telah diusirnya jauh-jauh.

“Kenapa, Ma?” tiba-tiba Sasha sudah berdiri di hadapan Aida.

“Eh.. Nggak apa-apa. Udah ya,” Aida bergegas keluar dari markas polda.

Di tempat parkir, Aida tidak langsung men-starter mobilnya. Ia merasa gelisah. Pikirannya berkecamuk dan dipenuhi kepingan-kepingan pertanyaan. Kepalanya terisi analisis-analisis tertentu yang ia sendiri sulit menerimanya. Benaknya buntu dan lidahnya sontak kelu. Ingatan Aida melayang pada suatu kejadian di masa mudanya.

Waktu itu Aida belum genap berusia 22 tahun. Ia baru menyelesaikan kuliah hukum S-1 di sebuah universitas negeri di Bandung dan mendapat kabar bahwa pengajuan beasiswa untuk melanjutkan ke Program Pascasarjana Ilmu Hukum, diterima. Tidak hanya itu, pamannya yang juga seorang advokat, mengajak Aida bergabung di firmanya. Merasa girang, Aida menguras setengah dari tabungan seumur hidupnya untuk berlibur ke luar negeri. Aida merasa pantas memberikan apresiasi untuk dirinya sendiri, atas segala kerja kerasnya selama ini.

Aida memilih berlibur ke Copenhagen, Denmark, tempat Damian—kakak sulungnya—berada. Semuanya begitu sempurna, karena bertepatan dengan musim semi. Aida akan tinggal di sana selama satu bulan. Dalam kurun waktu tersebut, Aida menyempatkan diri berkeliling ke negara-negara tetangga Denmark, seperti Norwegia, Swedia, Jerman, bahkan Inggris raya.

Saat hendak memulai rangkaian perjalanannya, Damian berkeras agar Aida tidak berangkat sendirian, melainkan ditemani orang kepercayaan Damian. “Aku bisa jalan sendiri kok, Kak! Aku udah besar kan,” protes Aida. Ia merasa kurang nyaman jika harus bepergian bersama seseorang yang belum dikenalnya.

“Not grown enough to travel around Europe, you’re not!” sanggah Damian.

“But, I don’t even know him!” Aida masih berusaha memprotes.

“You will! You will.. soon enough! Eren itu sahabat sejatiku, aku percaya padanya. Makanya, aku mempercayakan adik kesayanganku kepadanya, untuk dikawal jalan-jalan. Dia tahu seluk beluk Eropa, sampai ke daerah-daerah Bronx-nya, jadi kamu nggak usah kuatir nyasar,” Damian tidak mempedulikan protes Aida.

Aida mendengus keras. Hatinya dongkol, “Tadinya aku ke sini untuk jalan-jalan sendiri, supaya bisa bebas mau ngapain aja, ini malah harus memanggil pengasuh segala, ah, sebal!”

“Bebas? Memangnya kamu mau sebebas apa? Bebas tanpa aturan? Mana ada di dunia ini tempat yang nggak ada aturannya? Kalau mau tempat yang nggak ada aturannya, ke hutan aja sana,”
kata Damian sambil tertawa.

Tak lama kemudian, lelaki yang bernama Eren itu tiba di apartemen Damian. Woww.. ternyata Eren ganteng juga. Postur tubuh atletis, tinggi 187 cm, rambut dark blonde, mata hijau kecoklatan, kulit putih kemerah-merahan, wajah lembut terhias rambut halus di sepanjang dagu, senyum cerah dengan barisan gigi yang sangat rapi dan bersih. Eren bagai seorang pangeran dari negeri dongeng. Hanya saja, well, lelaki blasteran Turkish dan Danish ini terlalu gemulai.

Satu hal lagi, ternyata Eren adalah seorang lelaki homoseksual. “Idih, pantesan aja ditawarin ke aku, secara dia nggak akan nafsu sama aku!” Aida bersungut.

Damian terbahak, “Bukannya begitu, kali aja dengan jalan-jalan bareng kamu, kelainan seksnya sembuh. Kamu kan cantik, siapa tahu dia nanti jatuh cinta sama kamu.”

Entah asal bicara atau memang benar-benar doa yang Damian ucapkan itu. Dalam waktu singkat, Aida langsung merasa cocok dan nyaman bersama Eren. Tampaknya Eren juga merasakan perasaan serupa. Dan, yang jelas, menghabiskan waktu selama sebulan penuh bersama-sama, menimbulkan getaran yang lain di dalam jiwa mereka masing-masing. Tanpa disadari, keduanya saling jatuh cinta.

Eren sendiri merasa takjub dengan kemampuannya jatuh cinta pada seorang perempuan. Apalagi, perempuan itu adik kesayangan sahabatnya. “I’m trully amazed. Never in my life have I ever dream to fall in love with a woman!” bisik Eren, pada suatu malam romantis di kafe kecil di daerah Reading, Inggris.

“And I’ve never dream to fall in love with a foreign gay guy, especially to my own brother’s best friend,” balas Aida sambil menyandarkan kepalanya di bahu Eren.

“Well, in this case, I guess it’s dream that came upon us,” kata Eren lagi, lebih lembut. Ia menatap Aida lekat-lekat. Dada Aida terasa digempur jutaan lebah yang hendak memberontak dari sarangnya. Aida merasa tenggelam dan larut di dalam telaga keemasan bola mata Eren yang penuh cinta.

“I feel the universe twisting around in your eyes, Eren. And, damn, I want to immense myself into them!” desah Aida. Hasratnya meletup saat Eren mendekatkan bibirnya lalu mengulum bibir Aida, seakan sedang menghirup madu langsung dari bunga. Begitu lembut, lunak dan hangat.

Jika diibaratkan musik, lagu yang diciptakan Eren di partitur hati Aida adalah sebuah serenada cinta yang mengalun dan membuatnya merasa terbang ke langit ke tujuh. Belum pernah Aida merasakan sensasi sehebat ini. Ciuman Eren terasa jauh lebih dahsyat daripada ciuman Edu.

Sesaat Aida terkesiap, ia teringat Edu, tunangannya. Tapi, suasana dan harum tubuh Eren kembali memabukkan jiwanya. Malam itu keperawanan Aida ditembus hunjaman panah cinta Eren. Untuk 20 hari ke depan, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di ranjang daripada berkeliling kota yang mereka singgahi.

Sepulangnya ke Indonesia, Aida berusaha meneruskan kisah cintanya dengan Eren melalui surat elektronik dan chat. Namun, Aida tak mampu memberitahukan Eren tentang hari pernikahannya dengan Edu sudah di depan mata. Keindahan perasaan antara Aida dengan Eren berangsur mengendur.

“Kamu sama Eren pacaran?” tanya Damian, sehari sebelum pernikahan Aida.

“Ng.. Ng… Nggak sih. Kenapa?” Aida tergagap. Ia memalingkan muka dan berpura-pura bercermin, mematut-matut diri dalam gaun pengantinnya.

“Kok Eren nggak tahu soal pernikahanmu? Begitu dia tahu aku akan pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahanmu, dia nggak pernah muncul lagi di apartemenku, bahkan nggak membalas teleponku,” Damian menatap penuh selidik.

“Mungkin kaget aja kali. Aku emang sama sekali nggak pernah cerita ke dia. Aku pikir, nggak penting dong cerita, secara baru kenal,” Aida terpaksa berdusta.

“Oh.. Aku sempet berharap kamu dan Eren pacaran. Karena, itu artinya Eren sembuh beneran kan?” Damian tersenyum simpul.

“Kalau aku dan Eren pacaran, Edu mau di kemanain?” Aida mencibir, menutupi perasaan. Padahal, di dalam hati, Aida merasa hancur. Ia bisa membayangkan betapa sedihnya Eren. Dan, mungkin juga gara-gara dirinya, Eren tidak percaya lagi pada wanita. Ini artinya, Aida hanya memperparah keadaan. Aida menyesal, tapi entah apa yang harus disesali. Ingin menyalahkan seseorang, tapi siapa yang patut disalahkan selain diri sendiri?

Aida mempunyai alasan kenapa ia tidak dapat menceritakan hal sebenarnya. Siapa yang percaya jika Aida mengatakan dirinya betulan jatuh cinta pada Eren, yang baru dikenalnya beberapa hari itu. Sedangkan Edu, adalah pacar Aida sejak SMA. Apa yang harus dilakukannya?

Ketika Sasha lahir enam bulan kemudian, berdalih prematur, barulah Damian menyadari cerita yang sebenarnya.

“You bee-otch! Ternyata kamu dan Eren beneran pacaran di belakangku ya!” tegur Damian lewat telepon. Suaranya terdengar menahan marah. “How come you didn’t tell me?”

“I can’t.. Kakak tahu kan, kenapa aku nggak bisa bilang,”
jawab Aida lemah. Ia terisak. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, ia benar-benar menangis.

“Kalau waktu itu kamu kasih tahu aku, we’ll find a way, Sis!” suara Damian melunak. “You know I never liked your husband!”

“Tapi, Edu lelaki yang baik, Kak. Aku juga nggak bisa menyakitinya,” kata Aida.

“Jadi Eren yang dikorbankan, begitu ya?” tanya Damian dingin. Aida merasa menggigil mendengarnya.

“No! Nggak, Kak.. Aku juga nggak nyangka bisa jatuh cinta sama Eren. Aku lebih nggak nyangka lagi kalau Eren juga jatuh cinta sama aku. Too good to be true,” jawab Aida lemas.

“But, it’s true, Sis! Kamu membuat sahabatku merasakan cinta hetero.. Ah..” Damian menghela nafas.

“Kak, aku mencintai Eren. Sungguh-sungguh mencintai Eren. Aku sudah menyerahkan seluruh hatiku kepada Eren. Mungkin ini sudah terlambat, but please, tell him. He deserves to know that,” Aida berbisik.

Lama Damian tidak menjawab. Lalu, “I trust you, Sis. Dan, Sasha..? Is she....?”

“Yes...”

“Seriously?”

“I’m dead serious!”
jawab Aida tegas, seraya memandang Sasha bayi di pelukannya. Bayi yang luar biasa cantik, berambut kuning madu.

Aida menghela nafas. Sampai sekarang, ia masih sering merindukan Eren, tapi itu semua dipendamnya dalam-dalam. Hingga wafatnya, Edu tidak pernah mempertanyakan mengapa Sasha terlihat seperti bayi indo. Setahu Aida, Edu malah bersyukur dan menganggap kecantikan Sasha diturunkan dari Aida. Lelaki sebaik itu, bagaimana Aida bisa menyakitinya?

Tanpa Aida tahu, Edu sudah menyadari kehadiran lelaki lain dalam hidup Aida. Ia mencari tahu dan mendapati nama Eren. Meski begitu, Edu tidak pernah bertanya apa-apa kepada Aida. Edu takut, Aida lebih memilih Eren, lalu meninggalkannya sendirian. Edu sadar, telah menyandera Aida dalam penjara cintanya, tapi Edu tidak sanggup kehilangan Aida dan Sasha. Itulah alasan Edu memilih diam dan menutup mata, hingga ajal menjemputnya.

Jadi, apakah Sasha membawa gen menyimpang dari ayah biologisnya? Sungguh, Aida tidak ingin memikirkannya. Ia men-starter mobil RX-8-nya dan keluar dari pelataran parkir.

***


Kadang Tuhan “bercanda” dengan hamba-Nya, termasuk mencandai ketakutan manusia. Seringkali manusia dikonfrontasi pada ketakutannya itu. Dan, tampaknya Aida harus menghadapi ketakutannya yang terakhir.

Pagi itu, Jumat, pukul 6, Aida tiba di kos Sasha. Aida berniat mengajak Sasha dan Karin untuk menghabiskan akhir pekan di Bali, sekaligus merayakan bebasnya Karin dari masa tahanan pidana. Seperti sudah diduga sebelumnya, Aida sukses meloloskan Karin dari lubang jarum. Tuntutan seumur hidup yang mengancam Karin dalam kasus kepemilikan psikotropika, berhasil “ditekan” melalui pembelaan Aida yang tangguh. Hingga akhirnya, majelis hakim memutus hukuman 1,5 tahun saja untuk Karin.

Dan Jumat itu adalah hari ke-tiga sejak usainya masa tahanan Karin. Selama tiga hari itu pula, Sasha tidak muncul di rumah. Sasha mengaku ingin menemani Karin di tempat kos. “Karin kan baru bebas, Ma, masih adaptasi. Dan, dia perlu diurusi, terutama gizinya. Karin kurus banget, Ma, kasihan kan. Aku mau cekoki dia dengan makanan sampai gendut lagi. Terima kasih ya, Ma,” kata Sasha di hari bebasnya Karin. Aida mengangguk mengerti, apalagi Sasha memasang senyumnya yang paling manis, Aida luluh.

Namun, pagi itu, Aida bermaksud memberi kejutan. Ia turun dari mobil dengan menenteng dua rantang berisi bubur ayam favorit Sasha dan Karin. Setengah berjingkat, Aida menghampiri kamar Sasha. Ia mengintip dari jendela. Gelap. Apa Sasha masih tidur? Aida mengetuk pintu, pelan. Tidak ada jawaban. Lama-lama, ketukan pintu makin keras. Masih tidak ada jawaban. Apa Sasha keluar? Sepagi ini? Aida memperhatikan susunan sandal dan sepatu di samping pintu Sasha. Ada sepasang sandal yang tidak di tempatnya.

Tubuh Aida beranjak menjauhi pintu kamar Sasha. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu. Aida mengenali sandal Sasha. Ini kamar Karin. Apakah Sasha ada di kamar Karin? Tanpa sadar, Aida bukannya mengetuk, malah langsung membuka gagang pintu.

Cahaya di kamar Karin memang remang, tapi Aida dapat melihat jelas sosok Sasha dan Karin di atas ranjang. Keduanya tidak sedang tidur. Melainkan sedang bertindihan. Nafas kedua gadis itu memburu, sesekali mendesah, lalu terdengar bunyi bibir saling berkecup penuh nafsu. Aida terpaku. Badannya menolak bergerak. Ia merasa darahnya lenyap dan berkumpul di kepala. Aida merasa pusing hebat.

“Mama!” terdengar Sasha menjerit tertahan. Aida masih kaku di tempatnya berdiri. Ia hanya mampu memandang tubuh telanjang Sasha bergerak menyambar kimononya yang tergeletak di kursi, lalu berlari menghampiri Aida. Di sudut matanya, Aida melihat Karin panik menutupi tubuh bugilnya dengan selimut. Pandangan Aida mengabur. Bunyi terakhir yang ia dengar hanya nyaringnya dentang rantang jatuh ke lantai, lalu semua gelap.

***
peach a pie
ahahah! gud ..
Gen-O
ceritanya bagus ^^

ditunggu lanjutannya, bikin ane penasaran ^^

slam biru
1sty
ga ada lanjutannya ah... hehehehe...

nanti ane bikinin cerita sempalannya yaaa.. jadi biar trilogy gitu.. *halah* ;)
ampunkk
good... good... makasi smile.gif
Gen-O
aduh mana nih lanjuttannya ???

penulis nya mogok nulis yah ???

dewa cabul
@isty
Wow!!! ceritanya bagus niiiii....!!! Lagi dunk sis...plis deh aw... HeHe.gif
Nggantung banget Cry.gif
macus
haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh..... mantap......

smile_anim.gif smile_anim.gif smile_anim.gif speak_cool.gif speak_cool.gif speak_cool.gif suicide_anim.gif stun.gif suicide_anim.gif
chiie
keyen bgt euy.......... thumbsup_anim.gif crying_anim.gif .lanjutin dunx....... BigGrin.gif joged.gif joged.gif
goblek kebot
sumpah keren banget euy....makasi ya dah dipostingin.... wink.gif
cristofel tata
ditunggu part IInya..
jangan kelamaan ya.
dah gak sabar nie..
Bro Simz
Detil bercintanya gak di paprkan sis.. kayaknya menarik axehead.png bike.gif becanda BigGrin.gif

nice Story... bagus kayaknya kalo di jadiin pilem..
backmine
QUOTE (Bro Simz @ Jan 27 2010, 11:16 AM) *
Detil bercintanya gak di paprkan sis.. kayaknya menarik axehead.png bike.gif becanda BigGrin.gif
LMAO.gif LMAO.gif

Gara² baca comment jadi sedikit menghayal daydreaming.gif


Btw, cerita nya keren speak_cool.gif
Enak di baca nya
tisue
gila kereeen abiz!! jangan dilanjutin kak ntar malah jd gak seru lagi.
SALUT
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.