Help - Search - Members - Calendar
Full Version: TODDLERS & CHILDREN SERIES
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Love, Sex, and Marriage > Love and Marriage
Davinsahan
Hi all..
Kita sharingkan pengetahuan dan pengalaman kita seputar dunia anak disini ya..
Bagaimana kita memperlakukan, mendidik, memahami, menyiasati, dll...
segala perilaku dan kebiasaan anak-anak kita...

Kalau bro & sis ada sumber yang sekiranya bermanfaat buat kita semua,
silakan sharing disini..

Aturannya simpel aja kok :
1. Pake tag spoiler
supaya kita bisa cepat mengetahui sebuah informasi udah ada atau belum...
2. Cantumkan sumbernya secara singkat (cukup situsnya saja)

Belajar Membaca vs Menumbuhkan Minat BacaClick to open spoiler!
QUOTE
Belajar Membaca vs Menumbuhkan Minat Baca


Membaca, bisa jadi menjadi momok bagi Anda yang memiliki anak yang sedang bersiap memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar atau SD. Kebanyakan sekolah mensyaratkan anak lulus serangkaian tes akademik, salah satunya adalah membaca. Hal ini berlaku terutama untuk sekolah-sekolah favorit dimana jumlah peminat jauh melebihi kapasitas yang tersedia, misalnya di SD Negeri Percontohan.

Seakan menjawab kekhawatiran orang tua, sekarang ini banyak ditawarkan produk dan kursus yang seolah mengamini bahwa proses pembelajaran membaca sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Kursus membaca yang menjamur menyediakan kelas untuk anak usia 2 - 3 tahun. Alat bantu yang ditawarkan diklaim bisa digunakan bahkan sejak bayi. Bahkan lebih meluas lagi, kemampuan membaca sejak dini ini dikaitkan dengan kecerdasan anak. Seolah ada kaitan langsung bahwa jika seorang anak bisa membaca lebih cepat dari usia yang seharusnya, maka anak tersebut lebih cerdas dari anak-anak lain di kelompok usianya. Akhirnya, banyak alat bantu dan metoda ditawarkan dengan mengklaim bisa menstimulasi kecerdasan anak atau membentuk anak menjadi cerdas.

SEBETULNYA, KAPAN KEMAMPUAN MEMBACA HARUS DIKUASAI OLEH SEORANG ANAK ? SEBERAPA PENTING PENGAJARAN MEMBACA DILAKUKAN SEDINI MUNGKIN ?


Menurut Judith Hudson, developmental psychologist yang mengasuh kolom “Expert Answers” di www.babycenter.com, anak biasanya belum benar-benar membaca sebelum usia 5 atau 6 tahun. Ia berpendapat, sebelum usia itu, pada kebanyakan anak belum terbentuk jaringan syaraf yang memungkinkan anak untuk menerjemahkan huruf dan menyatukannya menjadi sebuah kata. Memang ada beberapa anak yang mampu membaca lebih cepat dari usia itu, tetapi hal ini terjadi begitu saja, bukan karena mereka mempelajarinya lewat metode atau instruksi langsung.

Karena itu, membebani anak dengan suatu metode atau instruksi langsung yang diluar kemampuannya, bisa jadi membuat anak menjadi frustasi. Apalagi bila kemudian kita menambahkan label negatif pada anak tersebut, seperti bodoh (karena anak tidak juga mampu menguasai materi pelajaran membacanya) atau pemalas (karena anak enggan atau bahkan takut untuk mencoba lagi).

Lalu apakah anak yang “terlambat” belajar membaca, adalah anak yang tidak cerdas dan tidak akan menjadi sosok yang berhasil di kemudian hari ? Mengutip sebuah buku berjudul Right Brained Children in a Left Brained World tidak ada jaminan seseorang yang lebih dahulu bisa membaca akan lebih sukses di masa depan daripada mereka yang terlambat.

Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca. Albert Einstein, George S. Patton, William Butler Yeats adalah contoh orang-orang yang terlambat membaca, tetapi toh menjadi tokoh terkemuka di masa dewasa mereka.

JADI APA SEHARUSNYA YANG LEBIH TEPAT UNTUK DILAKUKAN ?

Kunci persiapan membaca adalah melalui instruksi tak langsung. Salah satu caranya adalah mengenalkan anak dengan buku dan membuat mereka tertarik dengan ceritanya. Tugas Anda adalah mengenalkan buku sebagai sesuatu yang penting dan mengasyikkan. Cara terbaik untuk menunaikan tugas ini, adalah dengan membacakan cerita pada anak. Cara ini bisa dimulai sejak anak berusia 6 bulan, bayi biasanya menyenangi buku dengan gambar dan sedikit tulisan. Anak usia 1 – 2 tahun tertarik dengan pengulangan dan kata berirama. Anak usia 2 – 3 tahun mulai menyukai cerita dengan kalimat pendek dan sederhana. Usahakan Anda memegang buku dengan posisi yang memudahkan anak melihat dan menunjuk hal-hal yang menarik hatinya.

Buku alfabet dapat membantu anak prasekolah untuk mengenali huruf dan kebanyakan anak dapat mengenali namanya saat ia berumur 3 tahun. Anak dapat pula diajarkan untuk mengenali lambang dan logo yang mereka lihat disekitar mereka. Minta ia untuk menunjuk lambang atau merk eskrim favoritnya, ini adalah langkah penting dari persiapan membaca : ia akan mengerti bahwa kata tertentu mewakili suatu benda.

Berikut ini adalah rangkuman keterampilan yang harus dikuasai anak sebagai persiapan belajar membaca (dikutip dari Nakita) :

1. Keterampilan Mengenali Bunyi
Anak dapat membedakan bunyi lafal kata, misal ”dadah”, ”mama”, ”papa”, dan sebagainya. Kemampuan ini biasanya mulai muncul di usia bayi.

2. Keterampilan Mengenali Benda
Orangtua bisa menstimulasi dengan mengenalkan benda-benda yang ada di sekitar anak. Umumnya dimulai di usia bayi.

3. Keterampilan Mengenal Bentuk
Di usia batita anak sudah dapat dikenalkan pada konsep bentuk yang nantinya diperlukan dalam pengenalan huruf, seperti, bentuk bulat, kotak, lurus, segitiga, oval, dan sebagainya.

4. Keterampilan Mengenal Simbol / Lambang
Setelah anak mengenal konsep bentuk, kenalkanlah berbagai simbol, misal: lingkaran yang dikelilingi garis tegak lurus sebagai matahari, tokoh dongeng favorit, dsb.

5. Keterampilan Mengasosiasi
Anak mampu mengenal bentuk huruf / tulisan dan bunyi.

6. Keterampilan Mengenal Huruf dan Suku Kata
Ketika anak mampu mengenal huruf dan suku kata untuk menggabungkannya menjadi kata, maka dia dapat dikatakan siap membaca.
Jadi, pada anak usia dini yang utama bukanlah mengajarinya bisa membaca, tapi bagaimana cara kita untuk menumbuhkan minat baca buah hati kita. Untuk dapat mencintai kegiatan membaca, maka anak perlu memahami apa yang dibacanya. Jadi, membaca bukan hanya sekedar mampu melafalkan tulisan saja.

Kegiatan membaca buku merupakan kegiatan kognitif yang mencakup proses penyerapan pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan terbiasa melakukan kegiatan itu, pengetahuan, imajinasi, dan krativitas anak terbuka lebar. Tidak berlebihan jika buku disebut sebagai jendela dunia sekaligus investasi masa depan. Anak boleh membaca buku apa saja selama isinya membawa nilai – nilai kebaikan. Jangan lupa, sifat pembelajar adalah salah satu kunci sukses di masa depan.

BAGAIMANA MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA ANAK ?

· Jadilah role model atau tokoh panutan bagi anak
Bagaimana Anda dapat mengharapkan anak menjadi pencinta buku, kalau ia melihat orangtuanya hampir tidak pernah menyentuh buku ? Ingatlah bahwa anak adalah peniru ulung. Ia dengan serta merta akan meniru aktivitas apapun yang Anda lakukan dengan penuh semangat dan kecintaan.

· Tumbuhkan atmosfir cinta buku di rumah
Anda dapat membuat perpustakaan pribadi di rumah. Rumah Anda tidak besar ? Jangan khawatir, cukup relakan satu pojok yang nyaman untuk meletakkan satu rak penuh buku. Atau sediakan rak kecil khusus bagi si kecil untuk menyimpan koleksi pribadinya. Jadikan acara ke toko buku sebagai salah satu agenda akhir minggu keluarga. Atau Anda bisa membacakan cerita sebagai salah satu ritual sebelum tidur si kecil.

· Be Creative !
Saat Anda membacakan cerita untuk anak, jangan malu dan ragu untuk bertingkah seru dan konyol sekalipun. Hidupkanlah cerita yang Anda bacakan. Kalau perlu, berdandanlah dengan kostum buatan sendiri. Si kecil dijamin akan menyukai aktivitas ini.

· Jangan memaksakan kehendak
Bisa jadi, seseru apapun aktivititas yang Anda rancang untuk kegiatan membaca, ternyata si kecil lebih tertarik untuk bermain dengan koleksi mainannya ketimbang melirik buku yang baru Anda belikan untuknya. Jangan paksa dia. Berikan ia kebebasan untuk memilih. Atau biarkan ia memilih buku yang sesuai dengan keinginannya. Walaupun menurut Anda cerita singa yang lepas dari Kebun Binatang jauh lebih menarik dari cerita ikan yang berenang di sungai, bisa jadi si kecil memiliki sudut pandang dan imajinasi yang berbeda dengan Anda.

· Istimewakan posisi buku di mata anak
Katakan kalimat seperti, ”Aduh, rajinnya anak Mama…” bila Anda melihat si kecil tengah asyik memegang buku (Anda kan tidak akan mengatakan hal yang sama bila mendapati si kecil asyik dengan mainannya, misalnya). Atau, jadikan buku sebagai hadiah, reward, atau permintaan kategori istimewa. Seperti dikatakan Shahnaz Haque dalam wawancaranya dengan Inspired Kids,” Mainan belum tentu dikabulkan, tetapi buku selalu boleh.” Dengan demikian, ia menempatkan buku pada posisi yang istimewa.

· Ajak anak untuk menemukan ”dunia lain” melalui buku
Bacakan buku tentang tempat-tempat asyik yang belum pernah dikunjungi anak. Atau buku tentang benda atau binatang yang hanya bisa dilihat di buku. Katakan, ”Hm… untung kita baca buku ini ya… Kita bisa tahu ada tempat/benda/binatang yang seasyik/seunik/selucu ini……”

Menumbuhkan minat baca pada anak, ternyata tidak hanya berguna untuk menyiapkan anak belajar membaca. Tetapi juga berguna untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku dan ilmu.

Anak yang cinta buku, cinta ilmu, diharapkan akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas untuk menghadapi tantangan hidupnya di dunia yang semakin keras. Bukankah ini jauh lebih berguna daripada ”sekedar” membentuk anak cerdas ?

[b]Sumber : beingmom.org


[Close]

Well, tuntutan masa depan yang makin kompetitif memang mengharuskan kita untuk menyiapkan generasi berikutnya dari keluarga kita, khususnya anak supaya nantinya bisa berkompetisi dan menjadi pemenang. Dan siapa sih orangtua yang gak pengin anaknya jadi smart..

Namun juga perlu disadari bahwa anak bukanlah robot, yang bisa dengan mudah mencerna segala perintah kita, terutama menterjemahkan keinginan dan obsesi kita untuk menyiapkan si anak menjadi seperti yang kita harapkan...

Nah, kalau pengalaman gw begini...
Gw emang sengaja tidak memforsir anak buat belajar, ngalir aja, dan justru dari situ, ternyata anak gw yang mempunyai ketertarikan untuk belajar karena seperti yang disebutkan di referensi atas tadi, gw sengaja mengkondisikan si anak untuk "cinta buku", dengan memfasilitasi, antara lain, bikin perpustakaan kecil2an, dengan koleksi buku2 yang menarik biarpun tidak seberapa banyak...
Anak gw pun sekarang jadi seneng sama yang namanya buku..

Saat si kecil main komputer-pun, ibunya nemenin sambil membaca buku...
Kalau mulai keliatan gak konsen ber-komputer, ibunya juga berusaha mengalihkan, "Wuiihh, ini loh nak, ibu punya huruf C bagus sekali!"
Juga ada jadwal rutin untuk mempelajari buku..

Gw, kalau lagi senggang dan istri secara interaktif, kadangkala menerjemahkan apa yang ada di buku cerita secara interaktif dan juga melibatkan si kecil dalam peran tersebut..
Anak gw dengan sukacita juga akhirnya sangat interested dengan kegiatan tersebut...

Itu sharing dari gw... ayo yang lain??
Davinsahan
Obesitas pada Anak-anakClick to open spoiler!
QUOTE
Obesitas pada Anak-anak


Saat ini kegemukan (overweight) dan obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan yang mendunia bagi anak-anak dan orang dewasa. Tahun 1998, WHO menyatakan obesitas sudah dalam dalam tingkat epidemik yang kalau dibiarkan akan menjadi obesitas global. Menurut data WHO pada awal tahun 2000an, sekitar 1 miliar orang mengalami kegemukan dan 30% diantaranya megalami kegemukan berlebihan atau obesitas.

Di Amerika Serikat, menurut Asosiasi Obesitas Amerika, angka obesitas pada anak-anak dan remaja terus meningkat. Di Indonesia, prevalensi obesitas pada anak-anak sudah meningkat menjadi 20% pada tahun 2003 dari sekitar 5-6% pada tahun 1989.

Secara umum, kegemukan dan obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Namun, kebanyakan hal ini berlaku pada irang dewasa. Belum ada kesepakatan dalam hal definisi kegemukan dan obesitas pada anak-anak. Sebagian menggunakan tabel Body Mass Index (BMI) yang sudah dimodifikasi berdasarkan usia untuk mengukur kegemukan dan obesitas pada anak-anak. Sebagian berpendapat bahwa anak-anak yang memiliki kelebihan berat badan diatas 20% berat badan rata-rata anak sehat pada usia tersebut sudah termasuk obesitas. Sebagian lagi mengukur obesitas berdasarkan persentase lemak tubuh diatas 25% untuk anak laki-laki dan diatas 32% untuk anak perempuan.

Sebagian besar kegemukan dan obesitas adalah karena makan berlebihan. Hal ini tergolong dalam obesitas primer. Sisanya, disebabkan karena penyakit atau gangguan hormonal atau kelainan genetis yang tergolong dalam obesitas sekunder.

Ciri-ciri anak yang mengalami obesitas :

* Wajah membulat.
* Pipi tembem.
* Dagu rangkap.
* Leher relatif pendek.
* Dada membusung, dengan payudara yang membesar karena mengandung jaringan lemak
* Perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat.
* Kedua tungkai umumnya berbentuk X, dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan. Akibatnya, timbullah lecet.
* Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi dalam jaringan lemak (burried penis).

Peningkatan kasus obesitas pada anak-anak disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, diantaranya :

1. Faktor Keturunan
Anak memiliki orang tua atau saudara yang gemuk/ obesitas mempunyai kemungkinan sangat besar untuk menjadi obesitas juga. Namun, faktor genetik saja tidak menyebabkan obesitas. Obesitas baru terjadi jika si anak makan lebih banyak kalori daripada yang bisa dihabiskan oleh tubuhnya.
2. Kebiasaan makan
Anak-anak jaman sekarang lebih banyak makan makanan instan, makanan cepat saji, minuman yang mengandung tinggi gula serta makanan cemilan yang sudah diproses yang tinggi kalori dan lemak namun rendah vitamin lainnya dibandingkan makanan sehat dan segar seperti sayur dan buah-buahan. Pola makan yang menyebabkan obesitas adalah makan tidak pada saat lapar dan makan sambil menonton TV atau mengerjakan sesuatu seperti pekerjaan rumah atau membaca.
3. Status Sosial Ekonomi
Berkaitan dengan gaya hidup, sikap, dan perilaku. Di Indonesia, orang cenderung salah kaprah mengasosiasikan gemuk adalah baik. Anak harus gemuk, montok, baru dibilang anak yagn sehat. Kalau anak tidak gemuk, seolah-olah hal tersebut merupakan kegagalan dari si ibu yang notabene penyandang tugas pengasuhan anak. Jadi tujuan makan bergeser dari memenuhi kebutuhan anak ke menjadikan anak gemuk. Timbullah cara-cara instan seperti mengkonsumsi susu khusus bahkan mengkonsumsi makanan cair sebagai pengganti susu atau sarapan.
4. Penurunan Aktivitas Fisik
Kecanggihan tekonologi seperti televisi dan komputer menyebabkan banyak anak-anak terpaku di depannya sehingga kurang melakukan permainan yang melibatkan kegiatan fisik seperti bermain sepeda. Menonton televisi bukan hanya menghabiskan kalori yang sangat sedikit, tetapi bahkan menambah kalori karena makan cemilan selagi nonton. Kondisi keamanan yang kurang menjamin sehingga banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya bermain keluar rumah melakukan kegiatan olahraga atau bermain di lapangan. Ruang yang terbatas di sekolah menyebabkan banyak sekolah yang tidak memiliki lapangan bermain yang memadai bagi murid-muridnya untuk melakukan kegiatan fisik.

Ada berbagai cara untuk mengukur kegemukan dan obesitas pada anak-anak yaitu:

1. Menggunakan grafik pertumbuhan.
Cara termudah adalah dengan membandingkan tinggi dan berat badan si anak dan membandingkannya dengan grafik pertumbuhan. Namun tabel ini tidak memperhitungkan karakteristik individual anak karena dapat memberi kesan yang salah mengenai pertumbuhan si anak sepertimisalnya menjelang laju pacu tumbuh (growth spurt), umumnya anak-anak akan mengalami pertambahan berat badan yang cukup banyak.
2. Persentase Lemak tubuh.
Persentase lemak tubuh merupakan indikator yang paling tepat untuk obesitas. Anak laki-laki yang memiliki persentase lemak tubuh diatas 25% dan anak perempuan diatas 32% termasuk golongan obesitas. Pengukuran persentase lemak tubuh ini dilakukan melalui pengukuran tebal lipatan kulit yang termasuk sulit karena harus dilakukan oleh ahli yang berpengalaman.
3. Indeks Massa Tubuh.
Indeks Massa Tubuh atau IMT dihitung dari berat badan dibagi dengan tinggi tubuh kwadrat (kg/m2). IMT ini biasanya hanya digunakan untuk mengidentifikasi obesitas pada dewasa, bukan pada anak-anak. Untuk anak-anak, Center for Disease Control and Prevention mengeluarkan grafik BMI berdasarkan usia dan jenis kelamin. Berdasarkan grafik ini, seorang anak dikategorikan kegemukan atau memiliki resiko obesitas jika berada pada persentil 85 dan sudah mengalami obesitas jika berada pada persentil 95 dan diatasnya.

Berikut langkah untuk menghitung IMT pada anak-anak :
Kalikan berat badan anak dalam pound dengan 705
Bagilah dengan tinggi badan anak dalam inci
Bagi lagi hasilnya dengan tinggi badan anak dalam inci

4. Ukuran lingkar pinggang.
Besar lingkar pinggang pada anak-anak atau remaja berkaitan erat dengan kemungkinan menderita penyakit dibetes melitus tipe 2 dan penyakit komplikasi dari sindrom metabolisme (darah tinggi, kolesterol tinggi, serangan jantung, stroke, kerusakan hati dan ginjal). Mereka yang beresiko tinggi adalah yang berada diatas persentil 90 dari semua usia dan jenis kelamin.

BEBERAPA DAMPAK DARI OBESITAS PADA ANAK-ANAK :

* Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti pembesaran jantung atau peningkatan tekanan darah.
* Gangguan metabolisme glukosa. Misalnya, intoleransi glukosa.
* Gangguan kedudukan dan pertumbuhan tulang, berupa kaki pengkor atau tergelincirnya bagian sambungan tulang paha (terutama pada anak laki-laki) serta pertumbuhan tulang yang harus menahan beban yang lebih berat dari yang semestinya.
* Asma dan gangguan pernapasan seperti sleep apnea.
* Ketidaknormalan pertumbuhan
* Gangguan kulit, khususnya di daerah lipatan, akibat sering bergesekan.
* Gangguan mata; seperti penglihatan ganda, terlalu sensitif terhadap cahaya, dan batas pandangannya jadi lebih sempit.
* Gangguan fungsi hati
* Masalah psikososial seperti rendah diri, depresi dan menarik diri dari lingkungan misalnya karena diolok-olok temannya.

TATA LAKSANA PENANGANAN OBESITAS PADA ANAK-ANAK

1. Pengaturan Diet

* Belajarlah mengenai kebutuhan nutrisi pada anak-anak. Berkonsultasilah pada ahli gizi sehingga bisa didapat tatanan diet yang tepat
* Atur kalori yang masuk dan sesuaikan dengan kebutuhan anak. Diet pada anak bukan untuk menurunkan berat badan tetapi lebih pada menghentikan atau memperlambat laju pertambahan berat badan sehingga si anak dapat tumbuh sesuai dengan berat badannya secara bertahap. Namun jika obesitas sudah berlebihan dan berat badan anak harus diturunkan, berkonsultasilah pada dokter atau ahli gizi anak agak penurunan berat badan tidak sampai mengganggu pertumbuhan anak.
* Gali motivasi anak dan dapatkan kesepakatan bersama.
* Biasakan anak mengomsumsi makanan berserat, seperti sayuran dan buah-buahan
* Kurangi asupan kalori dari makanan tambahan berkalori tinggi seperti es krim, cokelat, atau minuman ringan

2. Pengaturan kegiatan fisik

* Mulai dengan membatasi nonton TV dan bermain computer.
* Dorong anak untuk melakukan kegiatan fisik yang membakar kalori dan menggunakan berbagai kelompok otot yang berbeda misalnya main lari-larian, berenang, main sepeda, main sepatu roda. Kegiatan fisik yang bagus akan menaikkan kecepatan detak jantung dan mengeluarkan keringat secukupnya. Anak-anak tidak boleh sampai terlalu capai atau terlalu berkeringat bahkan sampai kehabisan napas.
* Jangan lupa untuk minum air putih untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat.
* Ajak anak untuk terlibat dalam kegiatan olahraga di sekolah atau di sekitar rumah.

3. Modifikasi kebiasaan makan
Orang tua perlu mengembangkan kebiasaan makan yang baik untuk membantu anak-anaknya memiliki berat badan yang sehat misalnya dengan :

* Jangan memberi makan di luar jam makan yang seharusnya
* Jangan memburu-buru waktu makan. Orang cenderung makan lebih banyak jika terburu-buru.
* Jangan gunakan makanan sebagai hadiah atau reward.
* Jangan gunakan makanan penutup sebagai hadiah jika menghabiskan makanan
* Jangan makan di restoran cepat saji lebih dari 1 kali seminggu.
* Pastikan bahwa makanan yang dibeli di luar rumah seperti di kantin sekolah memiliki gizi seimbang
* Berikan air putih jika anak-anak haus. Hindari minuman berkarbonasi dan minuman yang manis.

BAGAIMANA MENCEGAH OBESITAS PADA ANAK-ANAK?

1.Mulai dengan ASI Eksklusif
Pencegahan kegemukan bisa dimulai dari pemberian ASI secara eksklusif. Sebab pemberian ASI tidak akan membuat asupan susu si kecil menjadi berlebihan. Sementara itu, jika balita diberi susu formula, orang tua cenderung akan memaksa menghabiskan semua susu yang sudah ada dalam botol.
2. Makanan sehat yang seimbang
Biasakan anak mengonsumsi makanan berserat, seperti sayur dan buah-buahan.
3. Ubah kebiasaan makan
Batasi kebiasaan makan diluar rumah, terutama bila yang dikonsumsi makanan jenis cepat saji. Beri porsi yang kecil untuk anak saat mengkonsumsi makanan cepat saji. Hindari asupan kalori tambahan dalam jumlah besar dengan mengonsumsi es krim atau minuman ringan setelah makan.
4. Lakukan kegiatan fisik
Biasakan anak melakukan kegiatan fisik diluar sekolah selama 20-30 menit per hari.

Source : beingmom.org


[Close]

Well, sebaiknya kita jangan menanam bibit masalah yang akan sangat merugikan di masa depan anak kita..
Kadangkala kalau kita ngeliat anak yang gemuk, kita seolah surprise! Wow.. anak bapak/ibu gemuk sekali! ngegemesin...
Padahal kasihan si anak, ya mungkin ada juga yang memang punya pendapat.. mumpung si kecil doyan makan... ntar kalo gak mau makan juga repot sendiri...

Tetapi kalau hal ini jadi kebiasaan, kita akan susah sekali menghentikan..
Gak ada yang salah kok kalau kita memulai untuk mencoba hal baik, yaitu mengatur pola dan kebiasaan makan, yang penting nutrisi dan gizi terpenuhi.. tentunya diimbangi dengan cara-cara yang sudah disebutkan diatas...

Semoga membantu tumbuh kembang anak anda..

Salam
AnakNaga
oh..iya..wa bisa sharing pengalaman kalo yang ini,
anak gw sebenarnya belum masuk usia yang bisa membaca (2 tahun sekian bulan), tapi sudah hapal alfabet dan mampu menunjukkan huruf atau angka apapun yang diminta, sebenarnya saya heran sendiri, kenapa itu anak bisa seperti itu? faktor turunan? HeHe.gif (narsis mode ON!), tapi setelah saya perhatikan ternyata anak saya itu suka mengikuti kebiasaan saya sebelum tidur, pasti baca buku dulu, terus sedikit dongeng (dibacain dongeng maxutnya), dari situ dia mungkin mulai belajar mengapresiasi buku, soalnya perbendaharaan kata dan jenis hewan yang diketahuinya cukup beragam (darimana coba dia tahu hewan yang namanya armadillo, kalo bukan gara2 sering nanya2 gambar hewan di bukunya), nah sejak saya tahu bahwa anak saya lebih suka buku daripada boneka (dia cewek), jadi setiap ada kesempatan pasti saya belikan buku bergambar+teks, sekarang gayanya kalo membaca/melihat buku sudah kayak anak kuliahan yang mo ujian besok! LOL.gif
Davinsahan
QUOTE (AnakNaga @ Nov 14 2008, 03:56 PM) *
...belum masuk usia yang bisa membaca (2 tahun sekian bulan), tapi sudah hapal alfabet dan mampu menunjukkan huruf atau angka
- suka mengikuti kebiasaan saya sebelum tidur, pasti baca buku dulu, terus sedikit dongeng
- pasti saya belikan buku bergambar+teks, -
- gayanya kalo membaca/melihat buku sudah kayak anak kuliahan yang mo ujian besok!
wah, hebat juga anak bro.. thumbsup_anim.gif
Hmm, perkembangan pengetahuan orang tua masa kini, yang berdampak terhadap kepedulian mengkonsumsi nutrisi melahirkan generasi yang sering bikin kita geleng2 kepala dan takjub HeHe.gif
tapi pengamatan gw, biasanya seiring bertambahnya umur, pengetahuan dan juga rasa keingintahuan si anak, kemampuan itu sedikit menurun... berganti dan bertambah dengan kemampuan lain..

Terbukti pada anak gw, dulu waktu seumuran anak bro,
dia juga udah tahu alfabet a-z, begitu dia umur 3 tahun (sekarang),
kaya males2an kalo ditanya alfabet dan angka...cuman dia sekarang lumayan bisa maen komputer...
ya paling tidak gerakin cursor kemana aja, dan prosedur matiin/hidupin komputer udah lancar.. BigGrin.gif

Salam

Artikel berikutnya...
Mengintai Bahaya Tersembunyi Dalam RumahClick to open spoiler!
QUOTE
Mengintai Bahaya Tersembunyi Dalam Rumah


Jika Anda pikir jalan terbaik untuk melindungi si kecil dari kuman penyakit adalah menjaganya untuk tetap berada di dalam rumah, Anda perlu berpikir ulang. Karena ternyata, beberapa area di dalam rumah justru adalah tempat bersarangnya berbagai bakteri dan allergen penyebab penyakit. Mau tahu area apa sajakah itu?

Ruang Keluarga

Bisa dibilang area ini adalah area favorit bagi kebanyakan keluarga, karena di sinilah semua anggota keluarga biasa berkumpul untuk sekedar mengobrol, bersenda gurau, menonton, atau melakukan aktivitas keluarga lainnya. Namun tahukah Anda justru pada area favorit ini ada potensi bahaya bagi si kecil?

1. Karpet
Si kecil pasti suka bermain di sini, karena lantai yang dialasi karpet biasanya memang lebih empuk sehingga bisa meredam risiko sakit karena terjatuh akibat aktifitas anak yang ingin bergerak ke sana ke mari. Namun, jangan pikir area ini sepenuhnya aman. Baik karpet yang masih baru maupun lama, sama berisikonya dalam menyebarkan penyakit kepada anak dan keluarga. Karpet yang masih baru Anda beli dapat menyebarkan bau bahan kimia yang dapat menggangu kesehatan. Sementara karpet yang sudah lama atau yang sudah sering dipakai, berpotensi menyimpan banyak debu dan tunagu yang dapat memicu alergi. Karena itu, jika Anda menyingkirkan karpet dari dalam rumah berarti Anda membuang 90 persen debu dan tungau dari rumah Anda. Kalaupun Anda memang harus memiliki karpet di dalam rumah, pastikan, Anda memilih karpet yang tipis. Waspadai juga karpet yang pernah ?kontak? dengan kaki, sepatu atau hewan peliharaan. Karena itu artinya, kemungkinan serangga, tungau, kutu hewan juga bersarang di situ.

Tips

- Untuk meminimalisir pemicu alergi (allergen) pada karpet, pastikan Anda membersihkan karpet menggunakan mesin penyedot debu setidak satu hingga dua kali dalam seminggu.
- Agar hasilnya maksimal, gunakanlah penyedot debu berkualitas tinggi yang memiliki filter high efficiency particulate air (HEPA) karena dapat menyerap setidaknya 99,97 persen partikel berukuran 0,3 mikron
- Atau, bisa juga Anda meminta jasa pembersih profesional untuk membersihkan karpet Anda.

2. Sofa
Sofa atau kursi yang terbuat dari material kain juga rentan menyimpan debu dan tungau yang dapat menyebabkan si kecil alergi. Supaya lebih aman untuknya, mengganti sofa dan kursi dengan yang berbahan dasar kayu atau kulit, dan plastik dapat menjadi pilihan bijaksana.

Tips
- Jaga kebersihan sofa dan kursi dengan membersihkannya dan menyedot debu yang menempel sekali seminggu.
- Setiap 6 bulan sekali, serahkan sofa dan kursi Anda ke tangan professional untuk dibersihkan secara cermat.

3. Tirai
Asap, debu dan bahan polutan lain sangat mudah melekat pada tirai penutup jendela atau pintu ini. Semua materi tersebut sangat potensial menjadi pemicu alergi.

Tips
- Pastikan tirai di rumah Anda dicuci secara teratur.
- Pilihlah tirai dari bahan kain yang mudah dicuci daripada krey yang lebih mudah menyimpan debu dan lebih sulit dibersihkan.
- Apabila Anda memang harus memilili krey untuk tirai jendela, pilihlah krey yang terbuat dari material yang mudah dibersihkan dari debu, misalnya krey dari kayu atau bamboo.

Kamar Tidur

Ruang paling nyaman yang menjadi tempat beristirahat juga bermain si kecil ini ternyata juga menyimpan potensi bahaya yang dapat menyebabkan si kecil mengalami asma atau eksim.

1. Tempat tidur
Kamar tidur si kecil bisa saja menjadi tempat paling berbahaya di rumah karena merupakan tempat yang paling banyak mengandung tungau dari seluruh bagian di dalam rumah. Tungau hidup dengan memakan sel-sel kulit manusia yang mati, yang biasanya paling banyak terdapat di seprai, kasur dan bantal. *Dr. Mustopo Widjaya* dari Klinik Asma dan Alergi Indrajana menyebutkan, tungau menjadi penyebab paling banyak kasus alergi pada anak di Indonesia, baik pada masalah pilek alergi, asma atau sebagian kecil di kulit. ?Hal ini bisa terjadi karena tungau hidup di daerah yang lembap dan udaranya cenderung panas,? kata Mustopo.

Tips
- Minimalisir debu dan tungau di tempat tidur dengan sesering mungkin menyinari kamar dengan sinar matahari atau membersihkannya dengan penghisap debu.
- Jika memungkinkan, pilihlah tempat tidur, seprai dan kasur yang anti allergen.
- Meski harganya lebih mahal, seprai dan bedcover yang anti tungau dapat menjadi investasi yang berharga bagi kesehatan si kecil.
- Untuk mengurangi risiko alergi, tutupi kasur dengan plastik dengan membuat lubang-lubang sebagai ventilasi kasur.
- Gantilah seprai seminggu sekali.
- Gantilah kasur atau gunakan jasa profesional untuk mencuci kasur setiap dua tahun sekali.
- Gantilah bantal dengan yang baru setiap tahun.
- Pilihlah bantal yang terbuat dari busa bukan kapuk.

2. Boneka atau Soft Toys
Hati-hati, boneka atau soft toys yang terlihat lucu dan menjadi favorit si kecil bisa saja menjadi penyebab si kecil mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Sebabnya, mainan-mainan tersebut telah menjadi sarang debu dan tungau yang menyebabkan si kecil menjadi alergi.

Tips
- Jauhkan mainan-mainan seperti boneka dan sejenisnya dari tempat tidur si kecil.
- Gantilah mainan-mainan tersebut dengan jenis mainan yang mudah dibersihkan.

3. Air Conditioner
Meski AC dapat membatasi pertumbuhan tungau dan jamur, tetapi hal itu tak akan efektif jika mesin pendingin ruangan ini tidak dibersihkan secara teratur. Sebaliknya bakteri dan jamur justru dapat tumbuh subur di situ. Karena biasanya, jamur dapat tumbuh dengan subur di tempat yang lembab seperti di kamar mandi atau tempat yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik seperti kamar tidur.

Tips
- Pastikan Anda membersihkan AC di kamar tidur secara terartur, setidaknya 3 bulan sekali.
- Jika ada kerusakan pada pipa atau selangnya, segeralah perbaiki.

Dapur

Selayaknya tempat diproduksinya makanan untuk seluruh isi keluarga ini menjadi tempat yang paling bersih dan higienis. Namun, ternyata tak luput dari potensi bahaya yang dapat mengancam si kecil.

1. Kecoa
Meski sudah menjaga dapur tetap bersih, tetapi sepertinya serangga yang satu ini tetap saja ada. Hati-hati jika si kecil senang mengeksplorasi ke dapur, karena mungkin, masih sisa pembuangan kecoa yang masih tertinggal. Dibandingkan dengan jenis alergen lainnya, sisa pembuangan kecoa ini termasuk sangat potensial menyebabkan alergi.

Tips
- Kalau tak mampu melakukannya sendiri, mintalah jasa profesional untuk membersihkan kecoa dari rumah Anda.
- Setelah dibersihkan, tutup semua celah yang mungkin menjadi jalan masuk bagi kecoa ke dalam rumah agar perkembangbiakannya tidak berlanjut.
- Jangan simpan kardus dan koran bekas karena dapat menjadi tempat kecoa berkembang biak.

2. Bakteri Salmonella
Proses memasak yang tidak hygienis dapat menyebabkan bakteri salmonela masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Bakteri salmonela dapat menyebabkan diare, muntah dan demam yang dapat menyebabkan dehidrasi yang tentunya dapat membahayakan anak, terutama bayi.

Tips
- Bersihkan dapur setiap kali habis memasak dengan air dan deterjen atau desinfektan untuk mencegah timbulnya bakteri dan jamur.
- Cuci tangan setiap kali Anda mengolah bahan makanan yang berbeda untuk mencegah penyebaran bakteri dari satu bahan makanan ke bahan makanan yang lain.
- Bersihkan kulkas secara teratur.

Kamar Mandi

Meski area ini adalah area untuk bersih-bersih, tetapi tempat ini juga potensial menyimpan bahaya tersembunyi. Di mana sajakah itu?

1. Tirai kamar mandi
Kelembaban di kamar mandi sangat potensial menjadi tempat tumbuhnya jamur dan lumut. Dibandingkan tempat lainnya, tirai kamar mandi termasuk yang paling rentan karena hampir selalu basah dan lembab.

Tips
- Untuk menyiasatinya, cobalah untuk selalu melebarkan secara sempurna tirai kamar mandi setiap kali habis digunakan. Hal ini berguna untuk memastikan semua air yang tersisa menetes ke bawah dan tirai bisa mengering.
- Bersihkanlah tirai dari bahan vinyl dengan desinfektan untuk membersihkan jamur atau lumut yang menempel.
- Jangan ragu untuk mengganti tirai kamar mandi jika Anda melihat jamur telah tumbuh di sana.

2. Lantai dan Tembok
Hindari risiko alergi pada si kecil akibat spora jamur yang terdapat di dalam kamar mandi yang biasanya tumbuh di lantai atau dinding kamar mandi.

Tips
- Bersihkan lantai dan dinding kamar mandi secara teratur dengan menggunakan desinfektan.
- Cat tembok kamar mandi dengan cat anti jamur atau lapisi dengan keramik.
- Meski sedikit merepotkan, mengeringkan tembok kamar mandi setiap habis mandi dapat menjadi cara yang efktif untuk menghindari dinding menjadi lembab.

Jangan juga terlalu bersih!

Meski rumah harus dijaga tetap bersih tetapi ternyata rumah yang terlalu bersih pun tidak sepenuhnya baik bagi anak karena dapat membuatnya cenderung rentan terhadap alergi. Studi berdasarkan hipotesis alergi menunjukkan bahwa lingkungan yang sangat steril dapat memicu kejadian alergi yang lebih tinggi.

Mengenai hal itu Dr. Nia Kurniati SpA, dari bagian Alergi Imunilogi berkomentar, "Sebelumnya orang memang berpendapat bahwa hipotesis higiene berperanan dalam menentukan banyaknya penyebab alergi atau tidak. Karena itu, muncul pendapat bahwa rumah tidak boleh kotor sekali, tetapi juga tidak boleh terlalu bersih." Menurut Nia, lingkungan yang terlalu bersih, dan tidak ada alergennya, membuat tubuh menjadi tidak mengenali sama sekali bahan asing itu. Secara teori, jika sekiranya kemudian terekspos dengan alergen di usia berikutnya, tubuh bisa langsung membentuk antibodi alergi. Padahal, tambahnya jika masih ada sedikit paparan alergen, maka tubuh tetap membuat antibodi yang justru bersifat protektif terhadap alergi. "Tetapi ini sedang diperdebatkan lagi di kalangan ilmuwan alergi," Nia menambahkan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Nia juga menyebutkan bahwa banyak penelitian yang berusaha membuktikan ekspos pada alergen bisa mempengaruhi orang yang memiliki bakat alergi. "Terhadap kucing misalnya. Kucing dalam jumlah banyak akan membuat kita bisa hidup bersama kucing tanpa ada gejala alergi," terang Nia. Untuk saat ini, hal ini masih dapat diterima, karena belum ada penelitian lain yang lebih baik.

Karena itu, ada baiknya orangtua menjaga kebersihan dan higienitas rumahnya dalam batas yang wajar. Bersih, tetapi tidak terlalu bersih atau pun terlalu steril. "Prinsipnya rumah harus memenuhi syarat higienitas dan sanitasi tertentu agar kita sehat. Namun, ini tidak berarti harus steril sekali," kata Nia. Karena meskipun tidak sempurna, tambah Nia, "Teori membiarkan rumah sedikit kotor akan merangsang toleransi terhadap alergi, tetap bisa digunakan sampai saat ini."

Namun hal ini tidak berlaku pada anak yang memang terbukti mengalami alergi. Untuk kasus ini, menurut Nia, tidak ada lagi upaya memaparkan anak pada alergen supaya anak menjadi toleran terhadap penyebab alerginya. "Yang ada adalah penghindaran--penghindaran supaya tidak ada lagi serangan alergi," katanya menjelaskan. Sementara menjaga rumah untuk tidak terlalu steril adalah upaya untuk membuat tubuh menjadi toleran terhadap bahan penyebab alergi tertentu.

Apakah si kecil alergi?

Sekitar 13 - 27% batita menurut Nia pernah mengalami alergi. "Ini tergantung populasi anaknya berada dimana. Kalau di kota umumnya lebih tinggi," katanya. Menurut Nia, pada bayi biasanya alergi disebabkan oleh makanan. Tetapi dengan bertambahnya umur, penyebab lingkungan seperti debu, binatang, kapuk, dan lain-lain justru lebih utama. Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh timnya, Nia mengatakan, tungau dan debu adalah penyebab tersering alergi, baik pada masalah pilek alergi, asma atau sebagian kecil di kulit. "Dan ini bisa mengenai umur muda sekali pun, misalnya umur 3 bulan dengan eksim kulit karena debu," tambahnya.

Sekilas anak alergi tak kelihatan secara jelas, karena anak yang mengalami alergi umumnya penampilannya seperti anak normal. Namun jika dilihat lebih jauh, menurut Nia, anak penderita aksim alergi, kulitnya cenderung kering seperti orangtua, atau bersisik. Lain halnya dengan penderita pilek alergi. "Penderita pilek alergi, paling sering terdengar bersin di pagi hari atau bersin bila berhadapan dengan penyebab alerginya, atau bernapas melalui mulut. Anak yang menderita asma selain batuk juga seringkali napas berbunyi ngik-ngik atau mengeluh sesak," Nia menjelaskan.

Untuk semua gejala alergi yang sudah dipastikan oleh dokter, Nia mengatakan, langkah utama yang perlu dilakukan adalah mengenali penyebab alerginya, "Tentu saja bila memungkinkan," katanya. Setelah dikenali, tambahnya maka bahan tersebut perlu dihindari sebaik-baiknya. Bila dinilai berat, "Dokter kadang-kadang memberi juga obat alergi," Nia menambahkan.

Sumber : inspirekidsmagazine.com


[Close]

Wah..wah.. ternyata gawat juga isi rumah kita ya BigGrin.gif
Kalo gw emang beberapa dari yang disebutkan diatas udah dijalanin...
ya dalam skala minimal BigGrin.gif
Davinsahan
5 Modal Penting Anak Sukses BelajarClick to open spoiler!

QUOTE

5 Modal Penting Anak Sukses Belajar

Secara naluriah semua anak memiliki keingintahuan besar yang kemudian bisa membuatnya ingin mempelajari sesuatu.
Namun, dalam proses belajar selanjutnya anak juga membutuhkan kemampuan pribadi maupun faktor pendorong daya belajarnya.

Terdapat beberapa modal penting yang harus dimiliki anak agar dia dapat memahami dan menguasai hal yang dipelajari, yaitu memiliki kemampuan untuk teratur dalam rutinitas (order), konsentrasi, koordinasi, kemandirian, dan karakter yang baik.

Semua modal ini kendati secara alamiah dimiliki anak, tetapi guru dan orangtua harus tetap melatihnya. Semuanya harus terbentuk secara bersamaan sejak dini, terutama untuk menunjang kemampuan anak melakukan proses belajar saat masuk SD.
Bagi anak usia 0-6 tahun melatihnya untuk mengembangkan konsentrasinya dalam belajar merupakan hal yang utama. Bila anak tidak bisa berkonsentrasi, maka dapat menghilangkan keinginannya untuk mau dan mencintai belajar. Semua penanaman nilai ini guna mendorong pembentukan good work habit pada anak.

Konsentrasi
Hal pertama yang bisa membuat seorang anak belajar adalah semangat belajar.
Dan semangat belajar akan tumbuh bila anak mampu memberikan konsentrasinya secara penuh dalam proses pembelajaran tersebut. Hal inilah yang mengembangkan kecintaan anak untuk melakukan order, koordinasi dan kemandirian yang diimbangi pembentukan karakter.

Adalah salah bila menganggap saat paling tepat membentuk konsentrasi anak itu adalah setelah dia masuk SD.
Justru saat usia 0-6 tahun dia sudah memiliki modal-modal penting sebagai persiapan proses belajar yang sistematis.
Kebiasaan anak untuk menunjang pencapaian akademik maupun kebutuhan sosialisasinya ini harus dibentuk dan dilatih sejak dini. Jangan berharap berasal dari anak saja. Saat anak sedang asyik melakukan sesuatu, sebaiknya jangan menginterupsinya supaya jaringan sel-sel otak yang tengah membentuk konsentrasi tak pecah, sehingga rentang konsentrasi jadi pendek.
Baru bila ia selesai ajukan pertanyaan untuk mengembangkan kreativitasnya.

Pembiasaan (order)
Mengembangkan /order/ pada anak yaitu mengembangkan keteraturan sebagai kegiatan rutin anak.
Contoh, mengajarkan anak merapikan kembali seluruh perlengkapan yang ia gunakan untuk bermain dan belajar.
Anak harus diajarkan dan dilatih memiliki kebiasaan kerja dengan baik lewat pembiasaan yang rutin dilakukan tiap hari.
Dalam hal ini adalah melakukan kondisi pembiasaan anak untuk melakukan keteraturan dalam rutinitas.
Hal ini tentu saja dilakukan dengan metode dan suasana belajar yang menyenangkan tanpa mematikan potensi kreativitas anak.

Pembiasaan ini juga bisa dilakukan dengan mengajarkan anak melakukan suatu pekerjaan. Karena dengan melakukan suatu pekerjaan artinya anak itu sudah otomatis mendidik dirinya sendiri. Misal, adanya aturan di kelas untuk meletakkan perlengkapan menggambar dan mainan balok di raknya masing-masing tiap hari. Di baskom ada terigu dan air, kalau kita suruh dia bawa baskom kemeja, saat berdiri, jalan, kordinasi kaki, tangan mata dan otomatis sel otak bekerja bentuk konsentrasi tak tumpah.

Koordinasi
Koordinasi perlu diajarkan kepada anak agar anak mampu me-manage segala hal yang ia pelajari dengan baik.
Kemampuan anak untuk menggerakkan gross motorik kasarnya secara bersamaan. Misalnya, mintalah anak untuk memindahkan baki dari satu tempat ke tempat yang lain dengan gelas kaca berisi air. Jika tidak oleng, itu baik. Sebaliknya, anak yang lemah dalam koordinasi, biasanya mudah menabrak.

Kemandirian
Nilai-nilai kemandirian merupakan hal yang perlu ditanamkan pada anak agar dia tidak takut untuk belajar dan memiliki rasa tanggungjawab terhadap hal yang telah ia pelajari. Membuat tangan anak yang senantiasa bekerja dengan alat dapat membentuk konsentrasi dan kemandirian pada anak. Untuk itu perlu kerjasama yang baik antara sekolah dan orangtua.
Misalnya, bila orangtua tengah mencuci piring di rumah dan anak ingin ikut serta, jangan dilarang. Sebaiknya persilahkan anak ikut membantu dengan hanya memberikan satu piring pada mereka. Dalam proses mencuci piring ini ada order, konsentrasi, koordinasi dan kemandirian yang telah dipelajari anak. Anak belajar untuk menaruh kembali piring di tempatnya. Anak juga belajar untuk berkonsentrasi dan berkoordinasi dalam mengusap spons dan sabun serta membilasnya hingga bersih.

Karakter
Nilai lain yang bisa diajarkan dari mencuci piring adalah pembentukan moral yang baik pada anak. Ajarkan pada anak untuk memisahkan sisa nasi dan bungkus plastik makanan dalam tempat sampah berbeda. Ajarkan padanya tentang pengetahuan daur ulang dan penanaman moral cinta lingkungan.

Orangtua dan guru tak boleh membatasi gerak dan naluri alami yang dimiliki anak ini agar keingintahuan dan kebutuhannya terpenuhi dan terpuaskan. Pada saat menaiki atau menuruni tangga, anak sedang membentuk dirinya. Ia membentuk daya konsentrasinya dengan kegiatan yang berulang-ulang dan daya konsentrasi ini terbentuk karena anak tahu kapasitas kemampuannya untuk melakukan kegiatan tersebut. Selain itu, anak juga belajar tentang keteraturan dan koordinasi mata, tangan dan kaki dengan melangkah menaiki anak tangga satu persatu. Anak juga membentuk rasa percaya diri dan harga dirinya. Ada kepuasan tersendiri yang tidak dapat diukur bila ia mampu melakukan kegiatan itu sendiri. Anak juga belajar menjadi mandiri. Otomatis bila dapat menaiki dan menuruni tangga dengan sempurna ia tidak merepotkan orang lain.

Sebagai orangtua, Anda juga dapat membantu anak untuk belajar sesuatu step by step / satu demi satu. Hal ini akan membantu anak untuk membentuk konsentrasi dalam belajar dengan selalu memberikan kegiatan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Anak-anak akan hilang rasa ketertarikannya ketika suatu pembelajaran terlalu sulit atau terlalu mudah bagi anak.

Ajarkan anak cara mengerjakan sesuatu dengan benar daripada kemudian sibuk mengoreksi kesalahan mereka. Jika perlu, orangtua dan guru harus selalu siap menunjukkan cara yang benar berulang-ulang sampai yakin anak mengerti apa yang harus dilakukan. Cobalah untuk membentuk self discipline dengan contoh, motivasi dan alasan-alasan yang dapat diterima oleh anak.

Tanamkan rasa percaya orangtua kepada anak. Yakinkan diri bahwa anak juga mampu melakukan dan belajar secara sendiri. Hilangkan perasaan under estimate pada anak. Bila perlu larang diri Anda untuk membantu anak mengerjakan sesuatu, tapi berilah kesempatan pada anak untuk membuktikan diri bahwa mereka mampu.
Misalnya, beranikan diri anak dan orangtua untuk mampu memegang barang pecah belah sendiri, tanpa kuatir akan pecah. Berilah anak gelas atau piring dari kaca, bukan dari melamin atau plastik. Dengan demikian anak akan belajar untuk bersikap hati-hati dan memiliki rasa tanggung jawab dalam kemandiriannya.

Nilai-nilai untuk melatih anak menjadi mandiri:

Berikan anak kesempatan memilih
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan orang lain akan malas melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila anak terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih membuat keputusan sendiri bagi dirinya.

Hargailah setiap usaha anak
Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang dihadapinya. Orangtua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Beri kesempatan pada anak untuk mencoba dan tak langsung turun tangan membantu membukakannya. Kesempatan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal lainnya.

Hindari membombardir pertanyaan pada anak dalam waktu seketika
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orangtua dapat diartikan sebagai sikap terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan seperti,
Belajar apa saja di sekolah??,
Kenapa seragamnya kotor?
Pasti kamu berkelahi lagi di sekolah!? dan seterusnya.

Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek.
Halo anak ibu sudah pulang sekolah!?
Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus ditanya.

Jangan langsung menjawab pertanyaan anak
Meskipun salah satu tugas orangtua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar pada anak, namun sebaiknya tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan itu dulu. Tugas orangtua adalah mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau anak benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah.

Ciptakan alternatif untuk anak
Ajarkan pada anak bahwa selalu ada seribu jalan menuju Roma atau tak ada rotan akar pun jadi. Latih anak untuk selalu memiliki multi planning, sehingga bila rencana A gagal, maka selalu ada rencana B dan seterusnya. Ekspose anak dengan berbagai situasi dan kondisi serta pengetahuan agar dia punya wawasan luas untuk mendukungnya mengambil alternatif lain.

Source : inspirekidsmagazine.com


[Close]
Semoga bermanfaat bagi tumbuh kembang anak anda...
Davinsahan
Papan PesanClick to open spoiler!

QUOTE
Papan Pesan


Salah satu cara mengajarkan balita Anda membaca adalah dengan melalui permainan. Seoranga anak akan belajar dengan lebih semangat bila ia merasa senang. Karena itu, sebagai orang tua kita harus mencari cara kreatif untuk mengajarnya.

Permainan yang mudah untuk membantu mengajar si Kecil membaca adalah “Papan Pesan”. Caranya, Anda bisa menaruh white board kecil di kamar anak Anda, bila tidak ada white board, Anda bisa menggantinya dengan nampan yang terbuat dari besi, ikatkan ujungnya dengan tali raffia dan gantungkan di dinding, cukup rendah untuk si kecil.

Kemudian, tempelkan alfabet magnet di white board atau nampan tersebut, dan mulai tinggalkan pesan untuk si kecil. Pastikan pesannya yang mudah dibaca atau ditebak seperti: “Mari makan” atau “Mandi yuk”. Minta si Kecil untuk pelan-pelan mengejanya, dan saat ia berhasil membacanya, minta ia untuk meninggalkan jawabannya di papan pesan tersebut.

Permainan ini sangat mudah tetapi si Kecil pasti akan menyukainya, dan tanpa Anda sadari, ia akan mulai bisa membaca sedini mungkin.

source : nakita


[Close]

Davinsahan
KAKAKKU IDOLAKUClick to open spoiler!

QUOTE
KAKAKKU IDOLAKU


Kakak adalah tokoh yang meninggalkan kesan dalam pada diri si adik. Mengapa demikian?

Mulai usia 3 tahunan, anak melihat keluarga sebagai model identifikasinya. Salah satunya adalah kakak. Bagi adik, sang kakak yang sudah lebih mandiri dan memiliki kemampuan lebih daripadanya sangatlah berkesan dan istimewa.

Adanya kesan ini memang berkaitan dengan ciri khas masa usia prasekolah. Ia menganggap segala hal (stimulus) di sekelilingnya menarik untuk diketahui lebih jauh. Dari situlah dorongan untuk meniru dan mencontoh sikap serta perilaku kakak datang. Usia prasekolah pun merupakan masa dimulainya kesadaran gender. Oleh karenanya, modeling menjadi lebih kental terjadi antara adik dengan kakak yang berjenis kelamin sama. Namun begitu, tidak tertutup kemungkinan adik mengidentifikasi perilaku dan sikap kakak yang berbeda jenis kelamin jika mereka memiliki kedekatan.

Tinggal bagaimana orangtua menyikapinya. Beritahukan pada si kecil mana perilaku yang boleh ditiru atau sebaiknya tidak. Selanjutnya alihkan peniruan dan identifikasi anak pada model yang tepat. Kalau si adik laki-laki dan kakaknya perempuan, beri tahu mengapa ia tidak sepantasnya memakai rok, dan mengapa ia harus memakai busana seperti ayah.

BERLANJUT SAMPAI DEWASA

Pengidolaan ini bisa terus berlanjut sampai dewasa, jika kesan yang diterima si adik sangat membekas dalam dirinya. Namun umumnya, pengidolaan ini akan semakin memudar seiring dengan bertambahnya usia si adik. Toh, lingkungan sosial anak bertambah luas, tak hanya sebatas keluarga di rumah saja, tapi ada teman, guru, dan publik figur di media. Dengan begitu anak punya banyak pembanding. Pengidolaan adik terhadap kakak juga bisa saja berubah atau tak terjadi jika sikap si kakak tidak mendukungnya. Wajar saja, kan, kalau kakak protes karena merasa risih akibat si adik selalu meniru gayanya.

PERSAINGAN ANTARSAUDARA

Sikap penolakan tersebut memang dapat membuat hubungan adik-kakak jadi kurang baik. Jika tidak disikapi secara bijaksana oleh orangtua, misalnya orangtua kurang tanggap terhadap keluhan kakak, maka situasi ini bisa menjadi bibit terjadinya sibling rivalry (persaingan antarsaudara) di kemudian hari.

Munculnya bibit-bibit persaingan tampak dalam bentuk rasa iri antara kakak dan adik terutama kalau usia mereka tidak terpaut jauh, hanya 1-2 tahun saja. Orangtua harus dapat menjembatani hubungan tak mulus kakak-adik agar persaingan di antara mereka tak berlanjut hingga dewasa.

Pengidolaan adik terhadap kakak, selain memiliki nilai positif, juga bisa berdampak negatif. Apa saja? Simak berikut ini!

* NILAI PLUS:

- Memberi stimulasi bagi perkembangan anak.

Dengan meniru perilaku kakak, pengetahuan, kemauan dan keterampilan adik pun menjadi terstimulasi. Contoh, melihat kakak bermain bola; adik ingin meniru. Tentu saja ini baik untuk kematangan motorik, pengenalan konsep arah dan bentuk serta rasa percaya diri juga kemandirian adik.

- Membentuk pola sikap dan perilaku positif.

Perilaku dan sikap kakak yang positif dapat berpengaruh pada adik yang mencontohnya. Misal, tentang sopan santun. Jika kakak memberi salam pada orangtua saat pergi sekolah, maka adik pun akan melakukan hal yang sama.

- Mempererat ikatan emosi di antara saudara.

Seringnya melakukan kegiatan bersama-sama, maka keterikatan dan kelekatan antarpribadi dapat terbentuk. Hubungan yang tercipta membuat keduanya bertambah erat.

* NILAI MINUS:

- Terpengaruh perilaku negatif kakak.

Jika si kakak sehari-hari menampilkan sikap kasar, agresif, suka teriak-teriak, dan sebagainya, tentu saja peniruan sikap dan perilaku tersebut menjadi nilai minus untuk adik.

- Menimbulkan kerenggangan dalam hubungan kakak-adik.

Hal ini dapat terjadi apabila ada penolakan atau keberatan dari kakak akan sikap adik yang selalu menirunya. Umpama, adik pasti ingin juga main komputer di saat yang sama ketika kakaknya menyalakan komputer. Akibatnya, kakak sebal atau tak mau dekat-dekat dengan adiknya. Jika pola ini sering terjadi dan orangtua kurang tanggap menyikapi perasaan kakak, lama-kelamaan kakak menganggap adik sebagai musuhnya.

- Inisiatif jadi kurang berkembang.

Hal itu terjadi kalau orangtua kurang memberi kesempatan pada adik untuk berani menampilkan sikapnya sendiri. Membiarkan si adik "terlena" dengan keinginannya untuk selalu sama dengan kakak akan membuatnya tidak terbiasa punya pilihan sendiri.

SIKAP TERBAIK ORANGTUA

* Memperlakukan dengan adil kakak dan adik.

Misalnya, dalam memuji, berikan pujian yang proporsional kepada keduanya. "Kakak pintar, deh, kemarin bisa bangun pagi sendiri. Adik juga pintar, kok. Tadi makannya banyak dan bisa habis. Mama senang sekali punya anak-anak yang pintar." Cara seperti ini akan menumbuhkan keyakinan pada si adik bahwa ia punya kemampuan sendiri yang tak selalu sama dengan orang lain atau kakaknya, sehingga ia pun tak akan mengekor kakaknya.

* Tidak membanding-bandingkan antara kakak dan adik.

Kadangkala orangtua tanpa disadari membandingkan sikap/perilaku/penam-pilan kakak dengan si adik. Hal ini akan memengaruhi sikap orangtua dalam memperlakukan keduanya berbeda. Maka itu penting bagi orangtua untuk dapat menerima kekurangan dan kelebihan setiap anak. Juga, membantu mengembangkan mana yang jadi ciri masing-masing anak. Anak pun akhirnya akan menerima dirinya sendiri, menerima bahwa dirinya adalah pribadi yang tak sama dengan kakaknya.

* Memberi dukungan pada anak jika menampilkan perilaku positif yang dicontoh dari kakaknya.

Bila si kecil ingin meniru sikap-sikap si kakak yang positif, sebaiknya berikan motivasi. Contoh, ketika si kecil ingin memakai seragam sekolah seperti kakaknya, katakan bahwa nanti pun adik akan bersekolah seperti kakaknya.

* Memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan inisiatif dan kemandiriannya agar tidak "terjebak" pada peniruan semata.

Pujian dan dukungan dari orangtua dapat menumbuhkan keyakinan pada anak bahwa ia mempunyai kemampuan sendiri.

* Diberi pengertian bersama.

Jika terjadi hubungan yang tak baik antara kakak-adik, bantu mereka menyelesaikannya. Beri penjelasan mengenai sikap-sikap apa yang diharapkan dan bagaimana mereka dapat menerapkannya; mana yang baik dan buruk, dan mana yang boleh dan tidak.

* Membimbing dan mengarahkan.

Bila kakak memberikan contoh sikap yang tak baik, orangtua hendaknya membimbing agar si kakak bisa menjadi contoh yang baik bagi adiknya. Sebaliknya, jika si adik yang berlebihan ingin meniru atau mengekor si kakak, maka orangtua juga harus membimbing si kecil untuk mau menunggu giliran setelah kakak, tidak berebut, sambil juga dikenalkan bahwa setiap orang punya perbedaan satu sama lain.

source : tabloid-nakita.com


[Close]
Davinsahan
Jari-jari mungil yang terampilClick to open spoiler!

QUOTE
Jari-jari mungil yang terampil


Terampil gunakan jari dan tangan

Apakah si kecil Anda di rumah sudah terampil menggunakan jari dan tangannya? Jika belum, Anda bisa lebih sering mengajaknya melakukan berbagai aktivitas berikut:

* Main Play-Doh. Ajak anak membuat bola dengan menggunakan telapak tangan; membuat bola kecil seperti kacang dengan ujung jari; atau menggunting Play-Doh yang dipipihkan dengan gunting plastik.
* Merobek koran bekas. Robek dari atas ke bawah sampai kecil-kecil lalu remas menjadi bola-bola.
* Main semprotan. Berikan alat penyemprot (bottle spray) berisi air pada anak dan biarkan ia membantu Anda menyirami tanaman atau membersihkan kaca.
* Mencapit benda. Ajak anak mencapit benda seperti makaroni, kancing dan minta anak untuk memindahkan benda dari satu wadah ke wadah lain menggunakan pencapit. Anda bisa memberinya pencapit kue yang tersedia di rumah Anda.
* Mengocok dadu. Pasti anak Anda suka diajak main lempar dadu yang sebelumnya dikocok dulu dengan cara mengatupkan kedua tangannya.
* Bermain dengan obeng kecil. Alat elektronik yang sudah rusak di rumah bisa ikut jadi alat bantu. Biarkan si kecil mencoba ‘memperbaikinya’ dengan senjata obengnya.


1 tahun

* Membenturkan dua kubus yang dipegang kedua tangannya.
* Menunjuk benda dengan telunjuk.
* Mengambil benda dengan pencapit.
* Mulai coba-coba mencoret .
* Memegang cangkir dan minum dari cangkir dengan tumpah sedikit .

18 bulan

* Membangun menara dengan 3 balok.
* Semakin sering corat-coret.
* Makan dengan sendok.
* Membuka kaus kaki sendiri.
* Melepas dan memakai topi sendiri.

2 tahun

* Membuat lingkaran dan garis horisontal meski belum sempurna.
* Membangun menara dengan 6 balok.
* Memegang krayon dengan telunjuk dan ibu jari.
* Meronce dengan manik besar.
* Menggunting.
* Makan dengan sendok atau garpu.
* Memegang cangkir dengan satu tangan.
* Melorotkan celana sendiri.
* Membuka kancing besar sendiri

source : parenting.co.id


[Close]
The Contractor
ikut nambahin ya om @Davin Peace.gif

Alergi Penyebab Utama Asma pada AnakClick to open spoiler!

Alergi Penyebab Utama Asma pada Anak


Saat ini alergi merupakan salah satu faktor penting penyebab berkembangnya penyakit asma. Terbukti, 75%-90% anak dengan asma di dunia mengidap alergi.

"Oleh karena itu, pengendalian lingkungan harus dilakukan untuk setiap anak asma," kata dr Rina Triasih, pada seminar Diagnosis dan Tata Laksana Asma pada Anak di RS Cakra Husada, Klaten (Jateng), kemarin.

Untuk itu, lanjut Rina, menghindari asap rokok juga merupakan rekomendasi penting dari bagian pengendalian lingkungan. Dianjurkan pula keluarga yang memiliki anak dengan asma tidak memelihara binatang berbulu, seperti kucing, anjing, dan burung.

Satu hal penting yang juga perlu mendapat perhatian dari kalangan orang tua, menurut spesialis anak dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Gadjah Mada/RS dr Sardjito, Yogyakarta, ini adalah perbaikan ventilasi ruangan dan penghindaran kelembaban kamar. Kondisi ruangan yang sehat itu mutlak dijaga, terutama bagi keluarga dengan anak asma yang sensitif terhadap debu rumah dan tungaunya.

"Perlu diingat, anak asma acapkali menderita rinitis alergika atau sinusitis yang membuat asma sulit dikendalikan. Deteksi dan diagnosis kedua kelainan itu, yang diikuti dengan terapi adekuat akan memperbaiki gejala asma anak," ujar Rina Triasih.

Kurangnya pengetahuan tentang asma dan tata laksananya, tambah Rina, berpengaruh terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas penyakit tersebut. Hal ini bukan saja terjadi pada pasien dan keluarganya, tapi juga pada tenaga kesehatan, bahkan dokternya.

Sebab, banyak dokter tidak mengikuti perkembangan dan perubahan konsep tentang asma dan tata laksananya. Lebih jauh lagi mereka tidak mempunyai keterampilan praktis penggunaan alat-alat inhalasi. Sehingga, bahkan, ada dokter yang sampai melarang pasien yang sudah menggunakannya.

"Di banyak tempat di dunia, baik negara berkembang maupun negara maju, asma anak masih banyak yang underdiagnosed dan undertreatment," tegasnya.

Dengan demikian, lanjut Rina, pendidikan asma sangat perlu dilakukan terhadap tenaga kesehatan, pasien, dan keluarganya serta guru sekolah. Selain kemitraan keluarga dan gurunya, keterlibatan unsur lain juga penting, misalnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan media massa.

Menurut dia, media massa dapat berperan konstruktif dalam menyebarkan informasi tentang asma dan penanggulangannya kepada masyarakat luas. Sedangkan peran orang tua dalam penanggulangan asma anak cukup penting dibandingkan peran orang lain termasuk dokter. (JS/V-4)

Sumber: Media Indonesia


[Close]


buat para orang tua yang perokok, hindarkanlah merokok di dekat anak kita agar anak kita terhindar dari alergi penyebab asma pada anak Peace.gif
The Contractor
Penyebab anak susah makan dan cara mengatasinya

Penyebab anak susah makan dan cara mengatasinyaClick to open spoiler!

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya


Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya :
1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Menu makan saat bayi (> 6 bl) yg itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk spt makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dg menu yg sama tiap hari dan disajikan dg campur aduk, pasti akan malas makan.

Begitu juga dg pengenalan makanan kasar.
Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat
menu makan anak min. selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan bervariasi. Spt kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dg roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb.

Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dg lauk pauknya. Hias dg aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu.
2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan, sehingga
anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan.
Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu
makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.
3. Minum susu terlalu banyak
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan “dewa” yang bisa menggantikan makanan utama spt nasi, sayur & lauk pauknya. Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur & buah.
Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2
gelas sehari. Mulailah melatih anak dg berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua.
4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yg dilakukan ortunya ygmempengaruhi perilaku makan anak. Mis. anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang malas makan (ex. diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri.

Perilaku makan yang kurang pas juga spt kebiasaan ortu ketika menenangkan anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan & susah makan.
Tips :
Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia dapat dari lingk sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan. Feeding is about learning.
5. Munculnya sikap negativistik è fase normal yg dilewati tiap anak.
Pada usia >2 th, anak sering “membangkang”/ tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang “gak mau”, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik.

Sikap negativistik merupakan fase normal yg dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk “independent”. Jadi batita umumnya ditandai dengan “AKU”, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya “power”.

Nah banyak ortu yg gak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yg mengancam anaknya bahkan memukul. Cara2 tsb harus dihindari.

Justru semakin anak pd usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya). Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

Tips : Pahami kondisi anak dg baik. Jadilah ortu yg otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yg baik dg anak. Bersabarlah menghadapi anak. Kan rumah adalah “madrasah” pertama & utama bagi anak.
5. Anak sedang sakit / sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan krn anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan “cerewet”, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak kalau gakmau makan. Beri makanan ringan yg padat kalori, spt makaroni skutel, dsb.

Yg jelas dan perlu diingat baik2 oleh tiap ortu adalah

Seberapapun anak gak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan ! Selama mentalnya sehat.

Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.

Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yg baik, terus belajar menjadi ortu & memahami kondisi anak, dan bersabar.
Diambil dari artikel :
· Majalah Intisari : “Anak Sulit Makan? Kurangi Susu! “.
· Kompas Media : “MENGENAL SELERA MAKAN ANAK” (http://www.kompas.com/wanita/news/0408/10/185144.htm)
· Artikel “Anak Makan Salah Ortu” (http://www.indomedia.com/intisari/1998/agustus/ogah.htm)
· Keepkidshealthy.com : “Feeding Your Toddler”
(http://www.keepkidshealthy.com/toddler/feeding_your_toddler.html)
· British Columbia Ministry of children and families : “Feeding your toddler with love and good food”
· Keepkidshealthy.com : “Food Guide Pyramid”


[Close]


semoga bermanfaat Peace.gif
cyber_sex
aku lagi ada masalah sedikit nih...
anakku yang umurnya baru 1 tahun...susahhh sekali untuk tidur....

untuk tidur siang, hanya satu kali... jam 12 siang..

trus, untuk tidur malamnya.. sampai larut malam.. kadang sampai jam 10 blm tidur...
kalau dipaksa juga enggak bisa.

dia juga aktif banget, enggak bisa diam..
maunya jalan2 atau main2...

aku sendiri kadang kasihan n khawatir kalau2 tubuhnya kecapekan..
gimana solusinya..??
Danu_Murphy
ikut nambahin infonya ya ...

Bantu si sulungClick to open spoiler!


Bantu Si Sulung Menerima Adik Bayi




"Adik baru, ibu dan ayah bukan lagi milikku seorang" Pemikiran berbagi ibu dan ayah dengan kehadiran adik bayi laki-laki atau perempuan dapat menggangu bagi anak kecil. Terlebih bila sang anak telah mendapatkan perhatian penuh orang tua beberapa lama.
Sang anak, tak terelakkan pasti mengalami emosi campur aduk bagaimana hidupnya akan berubah saat adik bayi datang ke rumah. Perhatian ibu berubah, perhatian ayah pula, bahkan bisa jadi perhatian keluarga besar lain, nenek, kakek, paman pun berubah.

Waktu yang terbaik untuk memberitahu anak jika tentang kabar menggembirakan menurut Freshteh Farahan, ahli tumbuh kembang anak di AS, ialah ketika perut ibu semakin kentara membesar, atau sekitar usia kehamilan 4-5 bulan. Jika orang tua memberi tahu lebih awal, waktu menunggu bisa jadi terlalu lama bagi si kecil anda. Namun jika anda menunda terlalu lama, si bocah tak akan memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan gagasan ada tambahan anggota keluarga baru dalam rumah.

Ada banyak cara yang dapat anda persiapkan bagi si sulung untuk kedatangan adik bayinya seperti:
• Menerapkan peran barunya sebagai saudara tertua dengan mengajak si sulung memanggil "adik kecil atau adik perempuan" ketimbang "bayi baru atau bayi ibu"
• Melibatkan si sulung dalam persiapan kelahiran bayi dengan mengijinkan ia terlibat dalam pemilihan nama babi atau baju-baju dan pernak-pernik untuk mendekorasi tempat tidur dan kamar bayi. Selain itu anda dapat pula mengajak putra atau putri pertama anda mengepak baju-baju untuk dibawa ke rumah sakit.
• Ajak anak anda dan biarkan ia bersama saat pemeriksaan kehamilan sehingga ia dapat mendengar detak jantung atau gambar adik bayinya selama USG.
• Baca buku-buku dan sodorkan buku terkait menjadi seorang kakak tertua saat kedatangan saudara kandungnya.
Ketika anda di rumah sakit, pastikan selalu berkomunikasi dan berhubungan dengan anak anda sesering mungkin. Itu akan memastikan si anak jika semua berjalan baik-baik dan anda akan pulang ke rumah sesegera mungkin.
Saat ia berkunjung ke rumah sakit, pastikan adik bayi berada dalam posisi aman, hingga memungkinan anda memberi pelukan besar kepada anak pertama anda, dan si sulung juga mampu menyentuh adik bayi. Anda bisa memberi kaos atau tulisan di dada berwarna-warni berbunyi “Hi, I'm the big brother” untuk menimbulkan kesan pada si sulung anda jika ia sedang berkomunikasi dan menyapa adik kecilnya./itz

sumber : http://www.republika.co.id/berita/37192/Ba...erima_Adik_Bayi


[Close]


semoga berguna ... Peace.gif
The Contractor
wewww... ini yang gw cari2..
bentar lagi (insya Allah April) Anak gw punya ade. dah lama wa cari2 artikel kek gini
@sam : thx ma bro..... muachhh.. HeHe.gif
Danu_Murphy
Amin ... ma bro ...
selamat ya ... Hug.gif
ntar wa tambahin lagi dah ... sekalian ngeramein ni TS yang sangat bermanfaat ...
Danu_Murphy
Dengarkan sang AnakClick to open spoiler!


Dengarkan! Latih Anak Sungguh-Sungguh Hirau.




JAKARTA - Tak mau mendengarkan, atau cuek, adalah salah satu perhatian utama yang diungkapkan para orang tua saat ini terhadap anak-anak balita dan anak-anak usia sekolah. Orang tua sering kali berkomentar mereka harus mengulang permintaan beberapa kali atau meninggikan suara demi mendapat perhatian anak-anak.

Padahal sedikit perubahan dalam cara orang tua mengontrol perilaku anak-anak mereka dapat membuat perubahan besar. Salah satu yang disarankan oleh Thomas M. Reimers, ahli tumbuh kembang anak dan masalah keluarga dari Amerika Serikat (AS) ialah menggunakan analogi lampu hijau, merah, dan kuning lalu-lintas dengan tepat untuk menegaskan aturan maupun mengantarkan pesan kepada anak-anak anda.

Apakah itu lampu kuning atau merah?

Orang tua, andalah pengantar pesan--pengatur lampu lalu-lintas bagi anak-anak anda. Lampu lalu-lintas sesungguhnya di jalan dapat diprediksi dengan tepat dari hijau, ke kuning, lalu merah. Bayangkan jika lampu lalu lintas berubah secara acak. Anda tidak akan pernah tahu kapan waktunya berhenti atau berjalan.

Begitupula sebaiknya orang tua, semakin tanda anda terprediksi oleh anak, maka perilaku anak pun dapat semakin terkendali. Ketika lampu anda menyala hijau, anak-anak dapat bermain dan melakukan urusan mereka. Namun lampu anda akan berubah kuning ketika anda mulai menyampaikan permintaan. Jika anak anda tidak mendengar atau mempedulikan, maka nyalakan lampu merah, peringatan atau konsekuensi yang segera datang bila anak terus mengabaikan. "Jika kamu tidak melakukan ini....itu yang akan terjadi,"

Semakin sikap anda konsisten dan terprediksi terhadap anak-anak yang tidak hirau dengan diikuti konsekuensi negatif, atau sikap peduli diikuti tindakan apresiasi positif, maka perilaku anak sebenarnya akan lebih peduli, hirau, dan terkendali.

Anak-anak sangat menyukai waktu bersenang-senang dan ingin melakukan terus. Sekali orang tua meminta mereka untuk mengakhiri itu--atau yang dianggap anak mencegah mereka dari bersenang-senang--respon anak mungkin memiliki rentang dari merengek, protes, hingga melakukan aksi tantrum. Jika anak tahu perilaku rengekan mereka dapat mengubah ''nyala lampu'' orang tua, mereka akan terus menggunakan itu untuk mendapat apa yang mereka mau, hingga tak upaya itu tak lagi berhasil. Disinilah konsistensi orang tua diperlukan, agar anak mengerti betapa seriusnya perkataan orang tua.

Hijau ke Kuning ke Merah

Ketika lampu lalu-lintas bekerja dengan benar, waktu perpindahan dari nyala hijau ke kuning ke merah bisa diprediksi dengan baik. Jika anak melihat orang tua mereka bisa dipegang, dan konsisten, mereka tahu nyala lampu orang tua akan juga dipahami berubah dari hijau, artinya bebas, menjadi kuning ''sebuah instruksi muncul" hingga merah alias " jatuhnya konsekuensi".

Ini akan melatih anak-anak memutuskan kapan mereka dapat berhenti atau terus karena mereka sadar pilihan mereka pun mengarah pada konsekuensi yang terprediksi pula dari orang tua konsisten.

Lampu Menyala Kuning Terus

Beberapa orang tua kadang membuat berbagai permintaan, instruksi, atau bahkan ancaman diikuti ole berbagai peringatan, dengan konsekuensi yang sering kali tak terprediksi alias terlambat atau tidak pernah sama sekali. Sekali anak mengetahui jika 'nyala lampu' orang tua menyala kuning untuk periode lama, dan mungkin tak pernah berubah merah, maka mereka tak punya alasan untuk berhenti

Sikap tak tentu orang tua, mendorong anak menghiraukan orang tua atau menjadi pembantah. Orang tua yang akhirnya terlanjur kepentok dengan "lampu kuning" sering kali frustasi dan meledak, menjatuhkan konsekuensi yang lebih bersifat menghukum daripada seharusnya.

Sementara perilaku negatif anak meningkat dengan harapan dapat mengubah pendirian orang tua mereka. Jika anda menerapkan konsekuensi berkepanjangan yang tidak dapat anda pantau, seperti melarang anak tak berkativitas selain sekolah dan rumah berminggu-minggu, tanpa tindakan lebih lanjut, justru akan mengajarkan anak anda jika orang tua tidak benar-benar serius dengan ucapannya.

Hijau ke Merah

Ini yang perlu diwaspadai orang tua. Kadang orang tua membawa sikap otoritas--dapat diprediksi--hanya saja terlalu jauh. Melompat langsung pada hukuman, sikap ini dapat menyebabkan perilaku negatif anak menurun tapi secara temporer. Bagaimanapun, anak sering kali merespon karena ketakutan dan itu menyebabkan muncul perasaan tidak adil. Anak pun harus mendapat kesempatan untuk didengar oleh orang tua.

Memberi peringatan sangat membantu anak kesempatan berpikir terhadap keputusan apa yang akan mereka ambil, sebab mereka tahu konsekuensi spesifik apa yang akan diterima di setiap sikap yang mereka lakukan. Sikap orang tua pun akan membantu anak untuk mendengarkan orang tua, hingga kemudian berpikir dan bertindak dengan tanggung jawab, tentu itu tidak bisa didapat jika orang tua bersikap dengan tak tentu arah./itz

sumber : http://www.republika.co.id/berita/35616/De...h_Sungguh_Hirau



[Close]


semoga berguna ... Peace.gif
The Contractor
Cara Tepat Tangani Anak KejangClick to open spoiler!


Jangan pernah menyepelekan kejadian kejang pada anak. Penanganan yang tidak tepat dapat mempengaruhi tingkat kecerdasannya, apalagi sampai terlambat diobati. Anak bisa menderita penyakit epilepsi, bahkan keterbelakangan mental. Bila hal itu terjadi, Anda akan menyesal seumur hidup!

Sebelum kejang biasanya anak akan menderita demam yang tinggi sekitar 38 - 40 derajat Celcius. Pada saat demam ini, kekejangan yang terjadi, tergantung kekuatan tubuh si anak. Banyak anak demam tinggi dan kejang setelah melakukan imunisasi. Biasanya setelah imunisasi, dokter memberi resep obat penurun panas untuk segera diminumkan ke si kecil.

Kejang yang sering terjadi pada anak adalah kejang kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. Kejang semacam itu terjadi saat suhu tubuh meningkat. Kejang ini disebut kejang demam atau mengejangnya otot-otot pangkal tenggorok sebagai akibat menyempitnya jalan napas yang disebut kejang laring. Penyakit yang di manifestasikan kejang yaitu penyakit kejang demam, epilepsi atau tuberkolusis intrakranial atau orang awam menyebutnya TBC otak.

Kejang demam dapat berjalan singkat dan tidak berbahaya. Tapi bila kejang mencapai 15 menit dapat membahayakan si kecil, karena bisa menyebabkan kerusakan otak sehingga dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan bahkan bisa menyebabkan retardasi atau keterbelakangan mental. Kejang demam dialami 2-3 persen anak-anak.

Kejang demam terbagi dua, yaitu kejang demam yang sederhana dan kejang demam yang akibat penyakit lain atau gangguan dalam tengkorak kepala. Kejang sederhana dengan ciri-ciri menyerang anak usia 4 bulan sampai 4 tahun, kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit, kejang timbul dalam 16 jam demam pertama, frekuensi demam kurang dari 4 kali dalam setahun.

Kejang dapat timbul pula ketika si kecil menderita muntah dan diare. Kejang bisa pula timbul tanpa demam, yaitu disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, sakit lama yang menyebabkan gula darah rendah, asupan makan yang kurang, atau menderita kejang yang sudah lama dialami akibat epilepsi. Kejang akibat kelainan neurologis atau gangguan perkembangan, berlangsung lebih dari 15 menit.

Keturunan

Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada, karena si kecil berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.

Selain faktor keturunan, setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak dapat pula menyebabkan kejang. Bisa akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), gangguan elektrolit, gangguan metabolisme, gangguan peredarah darah, keracunan, alergi dan cacat bawaan.

Anak yang pernah menderita kejang demam, sebesar 50 persen berisiko terkena kejang demam kembali dalam setahun pertama setelah kejang. Anak yang menderita kejang demam kemudian diikuti dengan kejang tanpa demam berisiko lima kali lebih besar menderita retardasi mental.

Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan sang bayi atau anak terlalu tinggi. Dimana pada saat kejang badannya menjadi kaku, bola mata berbalik keatas, kondisi ini biasa disebut "step". Bila si kecil mengalami keadaan ini, segeralah bawa ke dokter atau rumah sakit yang terdekat. Karena jika keadaan kejang seperti ini dibiarkan terlalu lama, dapat menbahayakan si kecil.

Jangan mudah percaya bahwa minum kopi bisa menghindari dari kejang atau step. Secara medis, sebetulnya kopi tidak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan pada saat anak Anda mengalami kejang, yang akhirnya mengantarkan pada kematian.

Kasus kejang kopi ini pernah terjadi di Balikpapan, seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun yang mengalami sakit muntaber. Setelah diberi pengobatan di sebuah rumah sakit, kondisi bocah tersebut mulai membaik. Namun ketika sampai di rumah, bocah bernama A tersebut mengalami kejang-kejang.

Bermaksud menghentikan kejang si bocah, ibu bocah itu kemudian memberikan sesendok cairan kopi yang kebetulan ada didekatnya pada si A yang sedang kejang. Kejangnya bukan berkurang, seluruh badannya mengalami kejang semakin hebat dan selanjutnya A tidak bergerak lagi.

Cara penanganan masalah demam kejang pada anak, yang penting jangan panik. Kemudian, kompres bagian kening kepala dan ketiak si kecil dengan kain handuk dari air hangat agar panas cepat terserap. Lakukan hal ini berulang kali.

Kenakan pakaian yang longgar, dan hindari pakaian tebal pada si kecil. Usahakan pula kondisi kamar si kecil yang selalu nyaman agar rasa panas tubuh tidak bertambah. Bila panas tubuh tak kunjung mereda, secepat mungkin bawalah ke rumah sakit, klinik atau dokter terdekat.

Jangan melakukan pengkompresan dengan lap yang dingin, karena dapat menyebabkan korslet di otak --akan terjadi benturan kuat karena atara suhu panas tubuh si kecil dengan lap pres dingin. Kalau dinyatakan epilepsi, segera minum obat resep dokter secara teratur.

Sediakan obat anti kejang lewat dubur di rumah jika kejang membuat anak tidak mungkin meminum obat. Selain itu, sediakan pula obat penurun panas di rumah seperti parasetamol. (suara karya online)


[Close]


semoga bermanfaat Peace.gif
The Contractor
Buat para orang tua yang punya masalah atau ngerasa kesulitan waktu berkomunikasi sama anak, artikel dibawah ini mungkin bisa membantu. Semoga bermanfaat Peace.gif

10 Taktik Cara Berkomunikasi Dengan AnakClick to open spoiler!


Berikut 10 cara sederhana yang dapat Anda terapkan untuk memulai obrolan, membuat anak mau mendengar perkataan Anda, dan menceritakan pengalamannya.

1. Jadi pendengar yang baik
Bila anak ingin menceritakan sesuatu hal, hentikan kegiatan yang sedang Anda lakukan saat itu. Jika tidak, anak akan merasa tak dipedulikan dan mengangggap Anda tak punya waktu untuknya. Hindari pula memotong pembicaraannya. Biarkan anak mengungkapkan perasaan marah, ketakutan, kegembiraannya, atau sekadar berkomentar. Di lain waktu, giliran anak yang mendengarkan perkataan Anda dan tidak ada salahnya Anda curhat tentang topik yang sesuai untuk usianya. Menjadi pendengar yang baik serta perhatian yang Anda berikan merupakan pemberian yang terbaik bagi anak-anak.

Berikut ini contoh kata-kata yang memperlihatkan pad anak betapa Anda serius mendengarkan apa yang dikatakan atau diceritakannya:
* Oya, lalu?
* Mama mengerti.
* Wow!
* Wah, hebat sekali!
* Ya, Mama mengerti perasaan kamu.
* Teruskan uneg-uneg kamu, keluarkan apa yang kamu pendam.


2. Dua arah
Bila berbicara pada anak, beri mereka pilihan, bila memungkinkan. Biarkan mereka merasa sedang mengobrol dengan Anda, bukan sedang diatur. Ciptakan komunikasi dua arah, bukan komunikasi satu arah, dan bukan sikap mendikte.


3. Tenang, jujur
Hindari mengucapkan kata-kata yang tidak pantas sebagai ungkapan rasa marah dan frustrasi. Anak akan belajar menjadi pendengar yang baik dan percaya pada apa yang Anda katakan bila Anda berbicara dengan benar, jujur, dan tenang. Rasa percaya dan menghormati datang dari kejujuran dan ketulusan. Bila Anda tidak bersungguh-sungguh, jangan katakan hal yang tidak perlu Anda katakan.


4. Beri dukungan
Bila anak mempercayakan ceritanya pada Anda, mereka harus merasa lega, terinspirasi, merasakan dukungan Anda, dan bersemangat. Jangan buat mereka merasa bersalah atau kecewa. Bila anak datang kepada Anda dan menceritakan masalah yang dihadapinya, dengarkan dengan penuh perhatian dan beri dukungan melalui kata-kata semisal:
* Mama yakin kamu dapat mengatasinya.
* Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, termasuk masalah yang kamu hadapi.
* Pikirkan lagi matang-matang. Kamu harus betul-betul memahaminya.
* Mama ada di sini untuk membantumu.
* Mama pun dulu pernah mengalaminya waktu Mama seusia kamu.


5. Tempatkan diri
Usahakan untuk melepaskan atribut sebagai orangtua saat mendengarkan curhat anak dan cobalah menempatkan diri pada posisi anak. Pikir dan rasakan betapa sulitnya bagi anak untuk mengutarakan masalah yang dihadapinya dan pikirkan matang-matang sebelum memberi reaksi atau komentar.


6. Hindari hujanan pertanyaan
Usahakan agar tidak menguasai pembicaraan. Bila anak curhat dan merasa Anda terlalu cerewet atau kecewa dengan ceritanya, kemungkinan di lain waktu bila dia memiliki masalah, anak kapok menceritakannya ke Anda. Sebagai orangtua, tentu ada saatnya di mana harus membahas permasalahan yang dihadapi anak. Pastikan Anda membahas masalahnya dan tidak kmelenceng dari itu.


7. Tindaklanjuti
Usai ia curhat, tindaklanjuti. Hal ini akan membuat anak yakin, Anda peduli akan kesulitannya, mau membantu, sekaligus memberi kesempatan pada Anda untuk masuk ke dalam dunianya.


8. Luangkan waktu
Orangtua yang sibuk tidak selalu merupakan orangtua yang buruk. Lakukan segala sesuatu secara spontan, seperti pergi menonton bioskop ataupun berolahraga bersama. Tetap luangkan waktu, sedikit apa pun, untuk buah hati tercinta.


9. Minta maaf bila salah
Bila Anda mengatakan atau melakukan sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dikatakan/dilakukan, jangan ragu atau malu meminta maaf pada anak. Akui bahwa Anda pun hanya manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.


10. Cintai buah hati
Katakan pada anak (tanpa pernah merasa bosan), betapa Anda mencintainya dan tunjukkan lewat perlakuan yang penuh kasih. Beri ia perhatian, persis seperti saat ia masih bayi yang belum bisa apa-apa. Perlihatkan padanya, bagi Anda tidak ada yang lebih penting selain berada bersamanya.

Sumber : Tabloid Nova


[Close]
Danu_Murphy
Memahami kata-kataClick to open spoiler!

Memahami "Kata-kata" Bayi



Bagi ibu-ibu yang baru melahirkan terutama yang selalu kurang tidur, penemuan Priscilla Dunstan bisa jadi bagaikan keajaiban.

Ketika Priscilla berusia tiga tahun, orangtuanya menemukan dia memiliki kemampuan mengingat suara yang sangat menakjubkan. Pada usia empat tahun, Priscilla dapat mengingat konser Mozart yang dimainkan pada piano yang baru didengar satu kali dan memainkan ulang dengan tepat.

Priscilla mengaku bakatnya tersebut membantu dia mendengar "bahasa kedua" dari bahasa yang digunakan orang sehari-hari. Dia bisa mengetahui mood seseorang bahkan penyakit yang diderita melalui suara.

"Orang lain mungkin mendengar satu nada, tapi saya seakan mendengar keseluruhan simfoni," ujarnya.

Jadi ketika seseorang berbicara, maka dia dapat memperoleh informasi yang mungkin tidak bisa diperoleh orang lain.

Kemampuan mengenali bahasa kedua yang luar biasa itu ternyata bermanfaat ketika Priscilla memiliki bayi laki-laki, Tom.

"Bakat saya terhadap suara membuat saya mampu mengenali pola tertentu ketika dia menangis dan mengingat pola tersebut ketika kemudian dia menangis lagi. Saya kemudian menyadari, bayi berkata dalam bahasa yang sama," tutur Priscilla.

Setelah melakukan tes terhadap lebih dari 1.000 bayi di seluruh dunia, Priscilla mengatakan, ada lima bahasa global yang digunakan oleh bayi berusia 0-3 bulan. Tanpa mempertimbangkan ras dan kebudayaan.

Kata yang digunakan oleh bayi tersebut, sebenarnya adalah suara refleks. "Bayi di seluruh dunia memiliki refleks yang sama, sehingga mereka mengeluarkan kata yang sama," terangnya.

Jika orangtua tidak merespon refleks tersebut, maka bayi akan berhenti menggunakannya.

Priscilla menyarankan orangtua mendengar kata-kata yang diucapkan bayi sebelum menangis. Menurutnya, tidak ada suara bayi yang lebih sulit dari yang lain. Namun, setiap kata-kata bayi akan bervariasi. Priscilla juga mengatakan, sebagian bayi menggunakan kata yang sama lebih banyak dibandingkan yang lain.

Dia menuturkan, kata "neh" yang disuarakan bayi berarti lapar. Kemudian kata "owh" adalah tanda bayi mengantuk.

Sementara, kata "heh" berarti bayi merasa tidak nyaman. "Saat itu paling tepat Anda memeriksa keadaan sekeliling bayi atau mengganti popoknya yang basah," terang Priscilla.

Kata "eair" yang diucapkan bayi merupakan tanda dia sedang mengedan atau merasa ingin buang air besar (bab).

Terakhir, kata "eh" yang artinya ada angin di sekitar dada dan tenggorokan bayi. Menggendong bayi dalam keadaan tegak dan membuatnya sendawa adalah tindakan yang paling tepat.

Untuk memahami kata-kata tersebut lebih lanjut, Priscilla telah merilis DVD yang dapat membantu orangtua berkomunikasi dengan bayi mereka. (ri)


sumber : http://ng.republika.co.id/berita/18034/Mem..._Kata_kata_Bayi


[Close]


semoga menjadi pencerahan .. Peace.gif
The Contractor
Bermain Di Luar Cegah Rabun Jauh




Anak-anak yang lebih banyak beraktivitas di luar rumah jauh dari televisi lebih sedikit kemungkinannya menderita myopia.
Laporan terbaru dari para peneliti di Boston mengatakan bahwa anak yang mengalami myopia, atau tidak mampu melihat jarak jauh, lebih sedikit menghabiskan waktunya di luar rumah yaitu sekita 8,3 jam dibandingkan anak lainnya yang rata-rata menghabiskan waktu 12,6 jam. Selain itu, anak yang menderita myopia ternyata juga lebih lama menonton Tv yaitu sekitar 12,5 jam dibandingkan anak lainnya yaitu sekitar 8,4 jam.
Menurut para peneliti, hal ini terjadi karena lamanya menghabiskan waktu melihat jarak jauh dapat menghentikan perkembangan myopia. Paparan sinar matahari juga berpengaruh karena sinar matahari akan membuat pupil berkonstriksi menghasilkan fokus yang lebih dalam. Beberapa penelitian terdahulu menyatakan bahwa perkembangan myopia dihubungkan dengan kebiasaan terlalu banyak membaca buku. Namun, penelitian yang baru ini menyatakan tidak ada hubungan antara myopia dengan kebiasaan tersebut.

juy
info yang valid om...
kebetulan gue baru pny anak umur 5 bulan
The Contractor
^^
untuk bayi 0 s/d 1 tahun lebih lengkapnya di trit "BABY SERIES" bro, mudah2an bermanfaat Peace.gif
The Contractor
Mengenali Anak Autisme


Apakah autisme itu ?Click to open spoiler!

Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan , dan angka kejadian anak autisme masih terus meningkat diseluruh dunia. Saat ini sering timbul kekuatiran para orang tua jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim , apakah anak menderita autisme?, Marilah mengenal lebih dalam tentang Autisme pada anak----

Sering timbul kekuatiran jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim , apakah anak menderita autisme. Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan , angka kejadian di seluruh dunia terus meningkat. Banyak penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi dan bahkan sering mendapatkan diagnosa yang salah , atau bahkan terjadi overdiagnosis . hal tersebut tentu saja sangat merugikan anak.

Apakah autisme itu ?
Kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial , komunikasi , dan perilaku.

Kapan deteksi dini autisme pada anak ?
Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun , secara umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2 – 5 tahun.
Pada beberapa kasus aneh gejala terlihat pada masa sekolah.

Berdasarkan penelitian lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Beberapa tes untuk mendeteksi dini kecurigaan autisme hanya dapat dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas.

Waspadai gejala – gejala autisme

Gejala autisme berbeda – beda dalam kuantitas dan kualitas ,penyandang autisme infantil klasik mungkin memperlihatkan gejala dalam derajat yang berat , tetapi kelainan ringan hanya memperlihatkan sebagian gejala saja.

Kesulitan yang timbul, sebagian dari gejala tersebut dapat muncul pada anak normal, hanya dengan intensitas dan kualitas yang berbeda.


[Close]

Gejala autismeClick to open spoiler!

Gejala – gejala pada autisme mencakup ganggguan pada :
 1. gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal

• Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
• Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet
• Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
• Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
• Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian , nada , maupun kata – katanya tanpa mengerti artinya
• Kadang bicara monoton seperti robot
• Mimik muka datar
• Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat

 2. gangguan pada bidang interaksi sosial

• Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
• anak mengalami ketulian
• Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
• Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang
• Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
• Bila didekati untuk bermain justru menjauh
• Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
• Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun
• Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya


 3. gangguan pada bidang perilaku dan bermain

• Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang sampai berjam – jam
• Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh
• Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar
• Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana
• Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak
• Perilaku ritualistik sering terjadi
• Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat – lompat, berputar – putar, memukul benda berulang – ulang
• Dapat juga anak terlalu diam


 4.gangguan pada bidang perasaan dan emosi

• Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
• Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
• Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif


 5. gangguan dalam persepsi sensoris

• Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
• Bila mendengar suara keras langsung menutup mata
• Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan
• Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu

Apa yang sebaiknya anda lakukan?
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anda jika mencurigai adanya satu atau lebih gejala di atas pada anak anda. Tetapi jangan juga cepat – cepat mennyatakan anak anda sebagai penderita autisme.
Diagnosis akhir dan evaluasi keadaan anak sebaiknya ditangani oleh suatu tim dokter yang berpengalaman , terdiri dari ; dokter anak , ahli saraf anak, psikolog, ahli perkembangan anak, psikiater anak, ahli terapi wicara.
Tim tersebut bertanggung jawab dalam menegakan diagnosis dan memberi arahan mengenai kebutuhan unik dari masing – masing anak , termasuk bantuan interaksi sosial , bermain, perilaku dan komunikasi .
[sumber : www.infoibu.com]


[Close]

Penyebab autismeClick to open spoiler!

Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologis saja.
Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks.
Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak .
Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak , antara lain ; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus.


[Close]

Benarkah issu autisme dengan vaksinasi ?Click to open spoiler!

Berkembangnya issu autisme sebagai efek samping dari imunisasi menyebabkan kegelisahan dan keengganan ibu untuk melakukan imunisasi tertentu pada anaknya.
Benarkah issu tersebut?
Vaksin yang baik adalah vaksin yang dapat memberikan kekebalan yang tinggi tanpa efek samping ( aman 100%) . Akan tetapi sampai saat ini belum ada vaksin yang aman 100% , dengan kata lain tidak jarang terjadi reaksi yang tidak diinginkan .
Reaksi vaksinasi tersebut berhubungan dengan vaksin atau zat yang terkandung atau penyakit lain yang di derita sebelum vaksinasi.
Penggunaan merkuri dalam vaksin, dengan tujuan sebagai bahan pengawet, menjaga kestabilan vaksin, dan juga mencegah kontaminasi vaksin yang terbuka ( sebagai anti mikroba).
Thiomersal adalah suatu zat dengan kandungan merkuri 49,6% yang terdapat dalam pelarut vaksin.
Beberapa vaksin yang mengandung merkuri antara lain vaksin DPT,DT, Hib, dan vaksin hepatitis B (vaksin yang multi dose), vaksin yang mengandung kuman hidup tidak diberi merkuri (vaksin campak, MMR, BCG).

Ada beberapa pendapat kontroversi antara : yang mendukung merkuri / thiomersal dapat menyebabkan autisme , dan beberapa pendapat yang tidak mendukung .
WHO suatu badan kesehatan dunia dalam usahanya menjawab issu keamanan vaksin mendirikan Global Advisory Committee On Vaccine Safety (GAVCS) tahun 1999 dan dalam penelitian epidemiologisnya melaporkan tidak ada hubungan antara keterlambatan perkembangan , khususnya gangguan perkembangan saraf dengan pemberian vaksin.
Sampai saat ini tidak ada bukti toksisitas merkuri pada bayi , anak, dewasa yang terpapar thimerosal dalam vaksin, dan tidak ada cukup alasan untuk mengubah jadwal imunisasi dengan vaksin yang mengandung thinerosal. Karena itu WHO dalam anjuran imunisasi yang berkaitan dengan vaksin yang mengandung thimerosal tetap tidak berubah.


[Close]
Davinsahan
@contractor dan @danu. . Hug.gif
Thanks banget udah keep threadku yo, sangat bermanfaat buat keluarga2 muda Bluefamers thumbsup_anim.gif
The Contractor
^^
sama2 om Hug.gif
shiine
gw baru pengen punya anak.. sumpah deg2an. tapi thanks buat infonya yah
pacitanan
bagi bro2 yang punya batita/balita tolong jangan pake kasur yang langsung nempel di lantai....
mencegah flek pada paru2 si kecil...

ini pengalaman pribadi

semoga bermanfaat
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.