Help - Search - Members - Calendar
Full Version: PARENTING
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Love, Sex, and Marriage > Love and Marriage
Pages: 1, 2
shashmily
Psikologi Anak


Jika anak dibesarkan dgn celaan,
Ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dgn permusuhan,
Ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dgn cemoohan,
Ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dgn penghinaan,
Ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dgn toleransi,
Ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dgn dorongan,
Ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dgn pujian,
Ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dgn perlakuan baik,
Ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dgn rasa aman,
Ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dgn dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dgn kasih sayang dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam
kehidupan




Kalo repost delete aja ya... Peace.gif Peace.gif
panak leak
kalo agar si anak bisa mandiri

harus diajarkan versi apa kk?
Davinsahan
Nice info, thanks ya bu..
persibaing
waaah teng kyu, berharga banget tipsnya, skali lagi teng kyu....
The Hide
nice info, gw juga ada bukunya.. thanks buat threadnya...
allfree
jadi motivasi tuk ngurus anak ne.
buditag
makasih, besarkan anak memang susah - susah gampang, kita yang harus pandai-pandai menjadi orang tua
alunk
keep posting sista...i like that !! try on my litlle bee..
Danu_Murphy
bro and sis ... keknya di sini belum ada TS yang secara khusus membahas masalah parenting ya , padahal khan seru2 tuh ... wa sendiri hingga saat ini TS ini di buat belum punya dede' nih , jadi harapan ane ntar kalo udah punya dede, bisa segera lari ke sini dan baca2 infonya disini ,dan semoga ini juga bisa berguna bagia orang tua dan pemerhati masalah parenting.

om mods .. kalo sudah ada topik serupa tolong di merged ya ... tks .. Hug.gif Kiss.gif

oia kalo ada temen2 lain yang punya kontribusi materi yang bagus mengenai parenting monggo di share ya , dan keknya bagus deh pake spoiler gitu ... oke ane mulai ya ..


Ajari anak menulisClick to open spoiler!


Ajari Anak Menulis Dengan Tangan



Meski saat ini masyarakat bergerak menuju jeman keyboard, anak-anak masih perlu untuk belajar menulis menggunakan tangan. Menulis tangan jauh dari sekadar meletakkan huruf di atas kertas. Itu adalah satu kunci penting dari belajar membaca dan berkomunikasi. Bahkan fakta menurut para ahli, mengembangkan kemampuan menulis menguatkan kemampuan membaca dan begitu pula sebaliknya. Untuk dapat membaca dengan baik, anak-anak perlu memahami huruf serta bunyi yang ditimbulkan serta bagaimana bunyi itu keluar bila huruf-huruf dirangkai menjadi kata. Belajar untuk menulis huruf juga merupakan hal penting dalam memahami hal tersebut.

Menulis tangan penting, sebab anak-anak selalu diminta menggunakannya setiap saat di sekolah taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Anak yang terbiasa dengan tulisan otomatis dari keyboard akan kesulitan saat menulis atau mengerjakan tes, atau menyelesaikan tugas sekolah. Hal ini dapat ditebak, justru akan mempengaruhi rasa percaya diri dan keberadaan diri mereka di sekolah nanti.

Salah satu cara penting membantu anak mengembangkan kemampuan baca-tulis mereka adalah membuat mereka mempraktekan. Begitu anak anda mampu mengeja (kira-kira pada usia 1 tahun bagi kasus umum) tawarkanlah crayon lunak, atau spidol warna-warni dengan kertas besar dan biarkan ia bereksperimen.

Ketika anak anda semakin tumbuh, ciptakan ruang khusus seni dengan banyak kertas berwarna-warni dan berbagai macam perlatan seni seperti spidol, crayon, pastel, pensil warna, cat warna dan kuas. Anda bahkan dapat mendorong anak anda untuk menulis dan menggambar ketika anda sedang diluar rumah, dengan cara menyiapkan kapur, cat warna serta seember kecil air, kuas untuk mengecak "trotoar" anda. Semakin sering anak menggunakan tanggan mereka, mereka akan mengembangkan otot, kemampuan, dan kordinasi yang diperlukan untuk menulis huruf.

Begitu anak anda masuk sekolah dan mulai melakukan praktek menulis di sana, sebagai orang tua sebaiknya tetap lanjutkan menemukan cara-cara baru untuk mempraktekan di rumah. Seperti menyarankan anak menulis nota ucapan terimakasih untuk keluarga atau teman. Minta mereka menuliskan daftar belanja atau resep. Belilah buku atau gunakan journal serta sarankan anak anda menghabiskan waktu di akhir hari untuk menulis di dalamnya.

Jika tulisan tangan anak anda tetap terlihat acak-acakan dan sulit dibaca bahkan setelah mengikuti instruksi formal dari sekolah cobalah beberapa tips berikut,

* Bantu anak anda untuk menulis dengan perlahan. Banyak anak kesulitan menulis karena mereka mencoba untuk melakukan dengan cepat. Beri semangat pada anak dengan memberi waktu menuliskan bentuk huruf dengan hati-hati dan benar.
*

Terangkan kesalahan yang dibuat oleh anak. Ajari mereka menggunakan penghapus.
* Terapkan cara menulis formasi huruf dengan benar. Cara menulis A tentu tidak dengan cara menarik garis tengah terlebih dulu. Coba untuk mencari tahu dari guru-guru si anak bagaimana ia seharusnya menulis huruf dengan benar, dan dorong anak anda untuk mempraktekan menulis dengan pola tersebut. Menggunakan kertas bergaris akan sangat membantu
* Pastikan anak memegan pensil dalam posisi benar saat menulis. Idealnya anak anda harus menggunakan dengan pegangan tripod-ala-tiga jari. Pensil harus berada di dekat ujung ibu jari dipegang bersama telunjuk dan jari tengah. Pensil plastik dengan pegangan solid ala kantoran mungkin membantu bila anak anda kesulitan memegang pensil dengan benar.
* Latih anak denan banyak kata. Anda dapat melakukan itu dengan sesi membaca bersama, menunjuk kata di sekeliling (seperti tanda jalan, label produk, papan nama) dan menggantungkan contoh-contoh karya tulisan anak anda di berbagai tempat dalam rumah.


Sangat penting bagi semua anak, bahkan bagi mereka yang kesulitan untuk menulis, untuk tetap mempraktekkan menulis dengan tangan. Tentu saja anda boleh mengajarkan anak kemampuan mengetik, bahkan di usia bocah. Namun, kecuali ada rekomendasi terapi ahli tumbuh kembang anak, anak-anak tak seharusnya menggunakan komputer dengan keyboard untuk mengerjakan tugas sekolah saat teman-teman mereka menyelesaikan dengan tulisan tangan.

Anak-anak berkembang dengan percepatan berbeda, seperti halnya orang dewasa, hasil tulisan tangan bisa bermacam-macam di antara mereka. Beberapa anak memiliki kesulitan lebih besar mempelajari huruf-huruf, sementara yang lain mungkin kesulitan menulis rapi, atau menulis dengan gaya. Kadang beberapa masalah dalam menulis bisa menjadi pertanda masalah lain seperti kesulitan atau kelambatan dalam belajar.

Jika demikian, baru saatnya orang tua membawa anak untuk diperiksa oleh ahli tumbuh kembang anak. Cara ini bisa memastikan apakah anak anda benar-benar membutuhkan terapi atau panduan khusus, atau sekadar latihan tambahan di rumah.

Bagaimanapun belajar membaca dan menulis adalah salah satu kunci sukses di sekolah dan dalam kehidupan lebih luas. Ada baiknya beri waktu khusus membaca bagi anak, atau menghabiskan sebagian waktu dalam sehari untuk menulis surat kepada nenek si kecil. Ketika anda menulis bersama anak anda, anda telah membantu si kecil mengembangkan kemampuan penting mereka./parents.org/itz
sumber : http://www.republika.co.id/berita/39679/Aj...s_Dengan_Tangan



[Close]
mas ponidi
bagus bro danu .. ijin nyimak .. update terus ( saia bookmark )
salam pesuna Hug.gif
soébektié
huuuuu mantap....... kalo punya anak mau aku ajarin nulis dulu ahhh...

makasih mas danu Peace.gif

emang jibrut lom bisa nulis yah HeHe.gif
Danu_Murphy
cetak pribadi tangguhClick to open spoiler!

Cetak Pribadi Tangguh Dengan Sepak Bola



QUOTE
Mendidik anak menjadi pribadi yang tangguh tidak hanya cukup dengan nasihat dan nilai kehidupan secara verbal. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda satu sama lainnya, maka orang tua harus jeli melihat kemampuan anak agar bisa diarahkan pada hal yang lebih positif.

Bayak cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendapatkan anak dengan kemampuan baik membantu anak menjadi pribadi yang tangguh. Salah satunya dengan permainan sepak bola. Olah raga yang digemari oleh masyarakat mulai bawah hingga atas di seluruh belahan dunia ini dapat mengajari anak menjadi lebih tangguh.

Pelatih sepak bola anak dari klub sepak bola Soccer Schools Indonesia (SSI) Arsenal , Marco G Paulo mengatakan perkembangan jiwa anak didiknya setelah mengikuti latihan sepak bola mengalami perubahan yang signifikan.

"Saya punya anak didik yang sangat terjaga kebersihannya dan di keluarganya pun sangat dijaga sekali. Anak tersebut pada awal latihan tidak pernah mau duduk di rumput. Ketika diberi tahu bahwa bermain bola tidak boleh takut kotor akhirnya anak tersebut tidak pernah lagi takut untuk duduk di rumput," papar pria yang akrab disapa Paulo. Pembentukan mental sangat terlihat disini imbuhnya.

Selain itu Paulo mengatakan sepak bola tidak hanya mampu membentuk anak menjadi anak-anak berani dan rendah hati tapi juga melatih mereka untuk bersosialisasi dengan baik. Dalam sepak bola, menurut Paulo kerja sama tim sangat diperlukan untuk mencapai kemenangan. Dengan begitu mereka harus mengenal teman-temannya dengan baik. Hal ini juga membantu anak untuk tidak manja, bergerak cepat dan tanggap.

"Mereka harus berjuang bersama, tidak saling bergantung tapi bekerja sama. selain itu stretegi juga sangat diperlukan," ungkapnya.

Ditegaskan oleh Paulo bahwa sepak bola bukan sekedar lapangan dan bermain tapi pelajaran hidup yang sangat berharga. Para pemain dididik untuk displin, sportif dan berjuang keras. Sportif dalam sepak bola dijelaskan oleh Paulo tidak sekedar menerima kekalahan dan berujung pada satu kata yaitu 'nasib', sportif dalam sepak bola berarti menerima kekalahan dengan bijaksana.

"Ketika kalah, tidak lantas sampai pada ujung sebuah penerimaan tapi menjadi awal kerja keras lagi. itulah yang dimaksud dengan winning spirit," imbuh pria yang gemar sepak bola sejak kecil ini.

Dengan bermain sepak bola kemenangan memang tujuan tapi lebih dari itu Paulo mengatakan sepak bola dapat membuat orang menjadi bijaksana dan cerdas dan berfikir dan bersikap. Terbiasa dilapangan dan ditempa dengan berbagai bentuk latihan, lapangan ternyata tidak hanya mencetak pemain profesional tapi juga pribadi yang tangguh./cr1/itz

sumber : http://www.republika.co.id/berita/36616/Ce...ngan_Sepak_Bola



[Close]

semoga berguna .. Peace.gif
Danu_Murphy
cermati dan jauhkanClick to open spoiler!

Cermati dan Jauhkan Anak Dari Stress


Sebagai orang tua, pernahkan memperhatikan buah hati terlihat gelisah, tidak punya nafsu makan atau kurang konsentrasi? Kondisi itu terjadi karena anak mengalami stres. Stres tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak pun sangat mungkin terkena stress atau tekanan mental lain

Pencetus stres pada anak bisa jadi ada pada orang tua. Orang tua sering kali tidak mengerti akan keinginan buah hatinya. Hal itu lah yang kerap membuat anak-anak menjadi stres karena si bocah merasakan ada singgungan dengan orang tua. Tentunya kondisi ini bisa berbahaya bagi pertumbuhan mereka.

Reaksi seseorang terhadap stres berbeda-beda. Namun ada beberapa yang bisa diamati, seperti yang telah diungkapkan di atas. Tapi orang tua juga harus lebih cermat ketika anak menjadi cengeng dan mudah marah. Bahkan, bayi yang mengalami stres dapat meninggal dunia.

Pengamat anak Seto Mulyadi mengatakan anak lebih rentan mengalami stres dibandingkan orang dewasa. ”Justru anak-anak lebih rentan terhadap stres karena mereka masih belum bisa menangani perasaan tertekan. Tidak seperti orang dewasa,” ucap lelaki yang akrab disapa Kak Seto saat menghadiri diskusi kesehatan di Jakarta, pekan lalu.

Anak-anak, menurut dia, bisa mengalami stres dari kegiatan sehari-harinya. Banyaknya tugas yang harus dikerjakan setelah pulang sekolah, atau beratnya beban yang diberikan pihak sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar anak bisa jadi salah satu faktor pencetus stres pada anak. Selain itu tuntutan orangtua untuk selalu jadi nomor satu di kelas juga bisa membuat anak merasa tertekan.

”Zaman sekarang, anak sekolah tidak lagi membawa tas, tetapi membawa ’koper’. Pulang banyak PR (pekerjaan rumah),akhirnya anak teler,” ujar pria kelahiran 28 Agustus 1951 ini.

Kak Seto menyebutkan, pihak sekolah boleh saja memberikan tugas, tapi tidak dalam porsi berlebihan. Sarannya untuk para guru yang ingin menjadikan anak muridnya berprestasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anak. Jangan dipaksakan, tegas Kak Seto.

”Mungkin saja prestasi mereka bagus, tetapi belum tentu dengan moralnya,” imbuhnya.

Itu belum termasuk kondisi lingkungan sekolah. Kak Seto memaparkan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukan di lingkungan sekolah sekitar 60% anak murid pernah dibentak tenaga pengajarnya. Padahal, lanjut dia, proses pembelajaran yang efektif adalah belajar dengan cara menyenangkan. Tidak dengan cara membentak yang justru bisa membuat anak makin tertekan.

"Yang perlu diimbau di sini ialah para tenaga pengajar. Guru diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kurikulum yang dibuat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tanpa membebani anak didik.Tentunya dengan ide yang kreatif dan menyenangkan," bebernya.

Intinya, ditegaskan Kak Seto, adalah kurikulum harus menyesuaikan kondisi anak atau kurikulum untuk anak, bukan anak untuk kurikulum. Banyak paradigma keliru beredar di masyarakat tentang bagaimana mendidik anak.

Begitu juga tentang disiplin, ketika orang tua mendidik anak dengan disiplin tinggi masih saja banyak yang keliru. Banyak disiplin berada 'di ujung rotan'. Padahal, mendidik anak tidak dengan mulut dan tangan, tapi dengan hati.

”Stres juga sangat mungkin ditimbulkan dari keluarga yang tidak harmonis. Kondisi tak harmonis ini bisa diakibatkan dari adanya komunikasi yang sangat tidak baik di dalamnya,” kata Kak Seto. Anak memikirkan bagaimana keadaan keluarganya atau bisa saja diledek teman sepermainnya. Rasa tertekan jelas menimbulkan dampak negatif pada anak, baik secara fisik maupun psikis.

Kak Seto meminta para orangtua supaya segera mengubah pola asuhnya apabila anak sudah terlihat stres dalam menjalani rutinitas kesehariannya. Atau bisa juga dengan mengubah suasana lingkungan anak.

”Segera ubah keadaan. Contohnya, jika keadaan rumah sedang dalam kondisi kurang kondusif dan membuat anak makin pusing berada di rumah, karena ribut misalnya, yang sebaiknya dilakukan adalah coba ajak anak pindah ke tempat lain untuk sementara waktu. Di rumah neneknya mungkin,”saran Kak Seto.

Dengan kata lain, ciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan untuk menghindari stres. Jika anak terlihat senang dengan kegiatan mereka, maka orangtua berkewajiban mengembangkannya. Bisa jadi hal tersebut menjadi alternatif mereka untuk menghilangkan stres.

Stres yang dikelola dengan baik akan membuat anak terpacu atau tertantang untuk menghadapinya. Kak Seto mencontohkan saat menghadapi ujian. Jika orangtua dan orang sekelilingnya membantu dan menjelaskan kepada anak bahwa kegiatan belajar mampu mendongkrak prestasi, mereka aka berusaha mencapai hasil lebih baik lagi.

”Stres yang baik adalah stres yang ’sehat’,dan itu bisa dilakukan anak apabila kita mengajarkan mereka bagaimana cara mengelola stres yang baik,” pungkas Kak Seto./cr2/itz

sumber : http://www.republika.co.id/berita/33847/Ce...nak_Dari_Stress


[Close]


semoga berguna Peace.gif
Danu_Murphy
Bakat tersembunyiClick to open spoiler!

Bakat Tersembunyi Rentan Luput Perhatian



Sesi kelas dimulai–dan meskipun hampir setiap orang tua tidak menyadari, jutaan pelajar di usia awal sekolah diseleksi, dites, dan dipilih demi upaya menemukan mereka yang membutuhkan dukungan pendidikan bakat agar lebih berkembang.

Yang terjadi, anak-anak dengan kemampuan lebih dianggap sama dengan yang lain dan sudah seharusnya mampu mengikuti setiap program yang diberikan. Sehingga banyak anak-anak cermerlang kita menjadi bosan, frustasi, dan bahkan berubah secara sosial dan akademis. Padahal bisa jadi mereka membutuhkan program khusus untuk belajar dengan kurikulum sesuai percepatan mereka, dan berhubungan ''kawan setingkat'' yang mungkin memiliki ketertarikan sama

Ketika sekolah melakukan tugas luar biasa untuk menemukan anak-anak hebat dengan metode pemindaian seperti rekomendasi guru dan tes IQ, orang tua jangan lantas tergantung sepenuhnya terhadap sekolah dan hasil pengetesan. Catat selalu dalam pikiran, jika program pelatihan guru hanya memberi sedikit--jika ada--pengajaran terhadap anak berbakat lebih.

Sebaliknya tak sedikit pula anak dengan kemampuan lebih yang tidak mencapai prestasi tinggi di kelas, dengan prestasi biasa, atau yang tak begitu bagus dalam hasil tes. Anak-anak semacam ini bisa jadi memiliki masalah dalam fokus, perhatian, kemampuan organisasi yang lemah, atau sederhana, tidak cocok dengan gaya pengajaran di kelas. Sehingga mereka dipantau berlebihan sebagai anak tertinggal, dan luput ketika datang waktunya seleksi atau program pemilihan anak berbakat.

Cerita seperti ini bukan hal baru. Faktanya, beberapa pengamat tumbuh kembang anak memperkirakan, mayoritas anak berkemampuan di sekolah sering tidak teridentifikasi. Itu mungkin bukan tragedi besar bagi si anak, tapi bisa jadi sebaliknya bila mereka benar-benar membutuhkan program khusus untuk mendukung mereka berhasil melalui proses pendidikannya.

Sebuah cerita dituturkan oleh David Palmer, seorang doktor psikologi pendidikan dalam artikel Parenting Journals. Seorang bocah lelaki tinggal di Arizona dites privat atas permintaan ibunya yang prihatin karena nilai-nilai sang anak di kelas semakin turun. Si anak juga kerap berkonflik dengan guru, menjadi semakin tidak tertarik ke sekolah. Dalam hubungan sosial ia pun sering diejek dan intimidasi secara fisik oleh teman-temannya--sebab mereka semakin senang melihat sikap reaksi berlebihan si bocah saat diprovokasi.

Akhirnya orang tua mempertimbangkan home-schooling, sejak anak mereka semakin sulit dan sulit untuk keluar pintu rumah, berangkat ke sekolah--yang dianggap si anak siksaan.

Sekolah tidak pernah mengetes anak tersebut untuk mengetahui bakat dan kelebihan. Apapun bentuk pemindaian luput dilakukan padanya. Kemungkinan sang anak tidak cocok dengan kompetisi meraih prestasi tinggi, kerjasama, citra anak manis, yang kerap dijadikan pertimbangan para guru ketika membuat rekomendasi untuk penyeleksian anak berbakat. Tapi faktanya, ketika sang anak dites IQ terpisah oleh orang tuanya, angka yang keluar 160, jelas menunjukkan anak tersebut memiliki tingkat kelebihan di luar kebiasaan.

Masalah si anak di sekolah sebenarnya bukan hal baru dalam kasus anak-anak lebih. Akhirnya si anak dites dengan metoda lebih cocok dan ditempatkan di program alternatif, dimana masalah akademis dan sosial dapat dihindari. Pada intinya, orang tua dan guru perlu menjalin pemahaman terhadap permasalah setiap murid dan berkolaborasi dalam prespektif lebih luas dengan solusi.

Karena tak jarang sekolah luput melihat seorang siswa berbakat yang sangat butuh program khusus. Pandangan orang tua sangat pun penting dan dibutuhkan. Semakin banyak pengetahuan yang dimilki orang tua, semakin baik posisi orang tua untuk berkolaborasi dengan sekolah demi memastikan potensi dan kebutuhan sang anak tidak luput dari perhatian./it

sumber : http://www.republika.co.id/berita/29427/Ba...Luput_Perhatian


[Close]


semoga memberi inspirasi ... Peace.gif
zili
ketika anak suka ngomong jorok


Ngomong jorok saat balita sebenarnya normal. Tapi ada kiatnya supaya orangtua tidak malu dan salah tingkah.

"Ma, tadi Andi ngompol di sekolah. t*t*tnya bocor ya, Ma?" Rena (5 tahun), tertawa saat menceritakan hal itu ke Asti, mamanya. Asti syok. Kok si kecil bisa ngomong seperti itu?
"Sayang, t*t*t itu salah satu bagian tubuh. Jangan dibikin lelucon, ya?"

Besoknya, di atas taksi, sepulang dari belanja di mal, tiba-tiba Rena nyeletuk ke pak supir taksi. "t*t*t itu salah satu bagian tubuh. Jangan dibikin lelucon ya?"
"Aduh, rasanya saya maluuu... sekali sama pak supir taksi itu," Asti menceritakan pengalamannya.

Dimulai saat usia 3-4 tahun, anak-anak akan mulai berbicara tentang bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi, fungsinya, serta 'produk' yang dihasilkannya. Buat mereka, menyenangkan rasanya bercakap-cakap tentang hal yang menjurus jorok atau tabu (bathroom talk). Ketika anak-anak berbagi cemilan berbentuk hewan, mereka nyengir dan bilang, "Eee... beruangnya pupup!" Atau ketika sedang bermain boneka Barbie, mereka menyentuh dadanya dan bilang "Nenen, nenen..." sambil tertawa-tawa.

Meski bagi mereka menyenangkan, namun lebih menyenangkan lagi kalau mereka bisa membuat orangtuanya salah tingkah dan salah memberi tanggapan terhadap lelucon itu. Makin nervous si orangtua ketika mendengar kata-kata itu, makin ingin si kecil mengucapkan kata-kata itu.

Ngomong jorok pada anak sebenarnya universal, dan merupakan cara anak untuk memahami bagian-bagian tubuh. "Ini sebenarnya wajar, karena mereka kan juga berurusan dengan itu setiap hari," kata Timothy Jay, Ph.D., profesor psikologi dan penulis buku What To Do When Your Kids Talk Dirty.

Tidak mengejutkan, 'omongan toilet' ini muncul ketika anak mulai kita ajari menggunakan toliet sendiri. Jika kemudian anak mulai mengatakan 'pupup' dan ia melihat kita menutup hidung, nyengir, atau merasa jijik, si kecil akan menangkap pesan tersamar itu dan mulai menggunakannya. Ditambah lagi, di masa ini anak memang tengah mulai bereksperimen dengan penggunaan kata-kata.

"Apapun kata-kata yang digunakan orangtua saat melatih anak memakai toilet, adalah kata-kata yang akan anak gunakan saat mereka bermain boneka, di sekolah, dan juga di tempat umum," kata Peter Montminy, Ph.D., psikolog dan direktur Midstep Child Development Center di State College, Philadelphia, AS.

Rumitnya lagi, di masa ini anak-anak juga dalam masa perkembangan alaminya untuk ingin tahu tentang perbedaan jenis kelamin dan bagaimana organ tubuh bekerja. Mereka mencoba mencari tahun mengapa anak laki-laki punya penis dan anak perempuan punya vagina. Jadi orangtua mesti hati-hati, jangan asal melarang anak berkata-kata seperti itu.

"Jika orangtua merasa tidak nyaman berbicara tentang masalah ini dengan anak," Dr. Jay memperingatkan, "si kecil akan membicarakan ini dengan teman-temannya." Jika teman-temannya tertawa ketika si kecil ngomong jorok, si kecil pun merasa diterima teman-temannya. Akibatnya, ia akan makin sering menggunakan kata-kata itu.

Menurut Dr. Jay, lebih baik orangtua menggunakan lima pendekatan berikut:

1. Tetaplah Kalem

Jangan langsung bilang, 'Kita tidak berbicara seperti itu di rumah', sebab si anak kemudian akan menekan perasaannya dan tekanan itu akan dimunculkan di tempat lain. Disarankan, orangtua mendorong anak untuk berpikir bahwa penis atau vagina adalah kata yang baik, netral, yang dapat digunakan di rumah untuk menjelaskan bagian tubuh tertentu. Namun bukan sebagai lelucon.

2. Buat Gangguan

Salah satu caranya adalah mengalihkan pembicaraam. Misalnya, "Mama tahu kamu suka kata-kata itu. Sekarang kamu mandi sore, ya." Atau, kenalkan permainan baru. Jika si kecil ingin membuat lelucon jorok, sarankan ia membuat lelucon yang bukan mengenai bagian-bagian tubuh pribadi.

3. Tinggalkan Saja

Si balita dan temannya mungkin sedang cekikikan setelah mengucapkan kata-kata jorok itu. Jika anda merasa tidak nyaman, tinggalkan saja. Kuncinya adalah menghindari 'peperangan', yang hanya akan membuat masalah jadi besar.

Seringkali sulit dihindarkan -dan memalukan- saat anak mengeluarkan kata-kata joroknya di tempat umum, misalnya waktu belanja di mal. Jika orang lain yang mendengarnya merasa terganggu oleh ulah si kecil, katakan dengan senyum bahwa ini adalah tahapan normal dalam perkembangan anak.

4. Tetapkan Batasan

Kalau orangtua bisa menetapkan aturan untuk waktu tidur, menonton tv, mengapa tidak menetapkan aturan tentang lelucon jorok? Berikut ini cara menjelaskan ke anak mana yang boleh dan mana yang tidak:

* Boleh saja, bilang ke ibu atau ayah tentang bagian tubuh yang pribadi, tapi tidak boleh mengatakannya saat di tempat umum.

* Boleh saja, ingin tahu perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan, tapi tidak boleh meminta kepada guru musik kamu untuk menjelaskannya.

* Kamu tidak boleh berkata seperti itu di waktu makan bersama. Pergi dulu ke kamarmu, bilang di sana, baru kamu kembali lagi ke kursi makanmu.

Dengan cara seperti ini, orangtua tak hanya menetapkan batas, tapi juga mengajari anak mengenai konteks. Yakni, ada waktu dan tempat tertentu di mana anak mesti bersikap dan berperilaku berbeda.

5. Sabar

Umumnya balita masih kesulitan mengontrol impuls mereka sampai berusia 5 atau 6 tahun. Di usia ini, baru mereka mulai mengembangkan kesadaran dan menyerap aturan yang kita berikan. Mereka mulai tertarik untuk belajar dan membaca, dan mulai meninggalkan lelucon jorok. Jika belum sampai ke tahap ini, orangtua disarankan menahan diri. "Itu cuma suatu tahap perkembangam anak," kata Dr. Jay. "Kalau orangtua bisa mengabaikannya, kebiasan itu akan hilang."TG/Child

Sumber: Tabloid Ibu Anak
zili
brho danu..td ane sdh posting tt parenting...moga berguna...n moga ente cptdpt dede'(..dari istri yang syah tentunya..he3x.._)
lam kompak
Danu_Murphy
floor timeClick to open spoiler!

Floor Time, Siasat Interaksi Orangtua Sibuk

Metode floor time dapat mendekatkan hubungan orangtua anak dengan cara menghabiskan waktu bersama untuk bermain sekitar 20-30 menit tanpa henti.


JAKARTA-- Asupan nutrisi dan stimulasi yang tepat yang diberikan sedini mungkin akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Hal itu juga terkait erat terhadap perkembangan otak yang berpengaruh pada kecerdasan anak.

Jika Anda orangtua bekerja, salah satu masalah yang kerap menghadang minimnya waktu bersama sang buah hati. Ditambah suasana hati yang tidak baik di tempat kerja, kerap kali terbawa sampai di rumah sehingga membuat waktu yang sempit semakin tak efektif dalam membangun hubungan orangtua-anak.

Konsultan tumbuh kembang anak, Soedjatmiko SpA(K), MSi mengatakan tumbuh kembang seorang anak ditandai dengan pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development). Pertumbuhan meliputi pertumbuhan fisik seperti berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala, dan status gizi. Sedangkan perkembangan meliputi kemampuan bahasa, motorik halus dan kasar, personal sosial dan kemampuan kognitif.

Stimulasi sangat memegang peranan penting dalam memaksimalkan kecerdasan otak, lanjut Soedjatmiko. Stimulasi diperlukan agar hubungan antar sel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang. "Perlu diingat bahwa sinaps akan menghilang spontan jika tidak digunakan," tegasnya.

Salah satu metode yang dipakai untuk menyiasati adanya kebersamaan yang berkualitas disaat waktu yang tersedia amat sempit adalah floor time yaitu konsep orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama selama kurang lebih 20-30 menit tanpa berhenti, untuk berinteraksi dan bermain.

"Floor time dapat memberi manfaat untuk kedekatan emosi, memperbaiki komunikasi dan sebagai wadah mencurahkan perasaan dan gagasan," jelas Soedjatmiko.

Konsep floor time memiliki sasaran adanya keterlibatan orang tua, komunikasi dua arah, saling pengertian dan membangun alur berpikir anak yang melibatkan perasaan dan kasih sayang.

Fontera Brands Indonesia, perusahaan pengolahan susu multinasional mendukung pemberian nutrisi dan stimulasi dengan menyediakan program Anmum Learning Express yang menitikberatkan pada metode floor time.

Mengenai nutrisi yang dibutuhkan anak, Ahli nutrisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dwi Putro Widodo menuturkan, perkembangan otak bayi setelah dilahirkan lebih penting dalam menentukan IQ anak di kemudian hari dibandingkan dengan ketika dalam kandungan.

Untuk itu orang tua harus bijak dalam memberikan asupan nutrisi kepada anaknya mengingat setelah lahir otak bayi akan berkembang dengan sangat pesat dan kurang gizi yang berat akan menyebabkan kerusakan otak secara permanen.

"Penambahan nutrisi terhadap bayi akan memberi efek positif bila diberikan sedini mungkin, yaitu mulai umur 6-18 bulan. Kekurangan gizi pada anak dapat menyebabkan kurangnya serabut syaraf atau mielin dan gangguan fungsi neutransmitter atau bahan kimia otak," papar Dwi pada seminar kesehatan 'Pentingnya Nutrisi dan Stimulasi pada Kecerdasan Anak' di Jakarta beberapa waktu lalu.

Otak merupakan pusat perkembangan tumbuh kembang anak. Saat dilahirkan, setiap bayi memiliki 100 miliyar sel otak, namun belum semua sel otak tersebut terhubung dengan sempurna. Pemberian nutrisi yang cukup akan mengoptimalkan hubungan antar sel.

Nutrisi terpenting yang dibutuhkan bayi untuk pertumbuhan dan Perkembangan otaknya pada usia dua tahun pertama adalah air susu ibu (ASI). Selain mengandung semua unsur nutrisi yang dibutuhkan bayi, tutur Dwi, proses menyusui yang tepat juga merupakan stimulasi pertumbungan dan perkembangan otak yang sempurna bagi bayi. (cr1/ri)

sumber : http://www.republika.co.id/berita/28310/Fl..._Orangtua_Sibuk



[Close]


semoga memberi inspirasi ... Peace.gif
Danu_Murphy
QUOTE (zili @ Mar 26 2009, 10:15 AM) *
brho danu..td ane sdh posting tt parenting...moga berguna...n moga ente cptdpt dede'(..dari istri yang syah tentunya..he3x.._)
lam kompak


trimakasur brader ... HeHe.gif
btw ya jelas lah ... dari istri yang sah .. axehead.png
Danu_Murphy
wah bagus nih ...
bagus nih di baca artikelnya ... supaya tau bahwa sebenarnyanya anak2 tuh bisa aja di ajarin spy ndak omong jorok .. HeHe.gif
zili
broo..kalo mau cepet dpt dede' loe mesti brnti ngerokok, cukup tidur n jangan strezz..

trust me, its work..loh
Danu_Murphy
Memuji , baik atau buruk ?Click to open spoiler!

Memuji, Baik atau Buruk?

MOTIVASI: Jadikan pujian untuk memotivasi anak berbuat lebih baik. Ajarkan juga dia menghargai hasil karyanya sendiri, tidak hanya sekedar ingin memperolah pujian belaka.


Orantua dan pengajar, kerap kali menggunakan pujian untuk mendorong minat anak atau siswanya. Namun, sadarkan Anda, pujian yang terlalu sering dilontarkan pada anak justru bisa berdampak buruk?

Konsultan pendidikan High/Scope Foundation USA, Julie Wigton mengatakan, anak yang sering diberikan pujian akan tumbuh menjadi seorang yang "gila" akan pujian atau praise junkies.

"Pujian yang sering dilontarkan pada anak akan membuat anak menjadi tidak berkembang, tidak kreatif karena apa yang mereka kerjakan hanya untuk mendapatkan pujian atau melakukannya demi seseorang yang memberikan pujian," paparnya di Jakarta, Rabu (21/1).

Seringkali seorang guru di dalam kelas berkata, "Bagus sekali warna hijau untuk rumput yang kamu gambar". Menurut Julie ungkapan tersebut justru akan mematikan kreativitas anak itu atau anak yang lainnya, karena tidak mustahil yang lain pun akan "Bu, rumput aku juga hijau" atau "aku juga mewarnai rumput dengan warna hijau".

Hal itu dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian dari sang guru, sebelumnya telah memberikan pujian pada anak yang mewarnai rumput dengan warna hijau.

Dari sisi anak, pujian yang diberikan akan membuat anak mengulangi hal yang sama yang dianggap bagus oleh guru. Sehingga anak tidak berani untuk mencoba hal yang lain dan baru karena khawatir tidak akan mendapat pujian lagi.

"Yang terpenting adalah bagaimana anak mengekspresikan ide mereka. Bukan penilaian yang diberikan guru," ungkap Julie.

Dampak negatif dari pujian adalah anak menjadi tergantung pada duru, orang tua atau dewasa lainnya.

"Anak jadi selalu meminta penilaian pada orang dewasa, apakah gambar saya bagus, dengan kata lain apakah gambar saya sudah sesuai dengan keinginan ibu? padahal kreatifitas anak tidak boleh dibatasi," papar Antarina S.F Amir, Ketua High/Scope Indonesia.

Antarina menambahkan, dengan adanya pujian maka anak cenderung tidak mampu untuk memberikan penilaian sendiri terhadap karyanya. Mereka tidak bisa berkata atau menilai apapun karena penilaian sudah ada di tangan guru atau orang tua.

Dampak yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika penilaian guru terhadap karya anak dengan sebuah ungkapan, maka hal tersebut akan menciptakan sekolah pabrik.

"Guru berkata, 'bagus', 'pintar', 'perkerjaan yang baik sekali' terhadap satu anak maka tidak dapat dipungkiri anak lainnya akan berlaku sama karena anak cenderung takut mengambil resiko berbeda, takut tidak mendapat 'bintang' dari guru," ungkap Antarina.

Penelitian yang dilakukan High/Scope Foundation, karya anak yang dibebaskan dalam berkreasi hasilnya lebih baik daripada mereka yang mealakukannya untuk mendapatkan pujian.

Pujian memang bukan sesuatu yang haram, justru baik untuk menghargai hasil kerja anak namun yang terpenting dapat mendukung anak untuk menjadi lebih baik. Strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong anak untuk bisa menggambarkan usaha, ide dan karya mereka.

Gunakan ungkapan yang menyatakan bahwa karya anak itu bagus atau benar dengan ungkapan yang spesifik bukan dengan penghakiman bagus, baik atau benar.

"Jika terbiasa dengan berkata, 'Bagus, kamu memberi warna hijau untuk rumpu, cobalah untuk merubah dengan 'ceritakan bagaimana kamu bisa merwarnainya? Dengan begitu anak akan berani untuk menceritakan kenapa rumput berwarna hijau atau dapat memberi warna lain sesuai dengan imajinasi dan kreatifitas mereka," papar Julie.

Bagus atau buruk pekerjaan anak berilah dorongan padanya, bukan pujian atau celaan. dengan begitu anak dapat bisa menghargai pekerjaannya sendiri. Selain itu anak juga dapat berkembang sesuai dengan usianya.

Jika orangtua dan guru tidak ingin generasi muda Indonesia tercetak dengan 'cetakan' yang sama, maka bisa memulail dari sekarang untuk melahirkan generasi Indonesia yang mandiri dan kreatif dengan pujian yang dapat memotivasi. (cr1/ri)

sumber : http://www.republika.co.id/berita/27455/Me...Baik_atau_Buruk


[Close]


semoga memberi inspirasi Peace.gif
Danu_Murphy
QUOTE (zili @ Mar 26 2009, 10:31 AM) *
broo..kalo mau cepet dpt dede' loe mesti brnti ngerokok, cukup tidur n jangan strezz..

trust me, its work..loh


udah bro . BigGrin.gif kecuali yang stress ntu masih belum bisa ... tuntutan kerjaan sih .. HeHe.gif
btw tks for infonya .. Hug.gif
zili
ha3x..iya... mesti itu biar ngga niru2 bapaknya...tiap hari ngomong jorok,,bacaannya humor jorok pula
zili
biar kita ngga strez broo..kita harus usahain nyaman dan tenag dalamkokdisi apapun....
dan ini perlu latihan brho..
kalo udah mulai suntuk...berhenti sejenak..ambil nafas panjang..n usahain tenang...atau banyak2mengingat ALLAH...karena hanya dengan mengingat ALLLAH makahati menjadi tenang...

--bukan maksud menggurui,,kadang2 gw sendiri suka lupa,he3x...muncul deh dua tanduk dikepala--

Danu_Murphy
QUOTE (zili @ Mar 26 2009, 10:49 AM) *
biar kita ngga strez broo..kita harus usahain nyaman dan tenag dalamkokdisi apapun....
dan ini perlu latihan brho..
kalo udah mulai suntuk...berhenti sejenak..ambil nafas panjang..n usahain tenang...atau banyak2mengingat ALLAH...karena hanya dengan mengingat ALLLAH makahati menjadi tenang...

--bukan maksud menggurui,,kadang2 gw sendiri suka lupa,he3x...muncul deh dua tanduk dikepala--


wah tks banget di ingatkan lagi ... makasih brader ....
ane akan coba cara ini ...
Danu_Murphy
Hormati remajaClick to open spoiler!

Hormati Remaja Layaknya Pribadi Utuh

BINGUNG: Berbagai perubahan fisik dan psikologis, seringkali membuat remaja bingung pada masa puber. Orangtua sebaiknya mendampingi dan siap menjawab saat anak bertanya.



Menginjak usia remaja awal, keberadaan anak sering kali membuat orang tua khawatir. Maklum periode ini adalah masa transisi cepat pada metamorfosis dalam hidup. Anak-anak umumnya berkaca pada ajaran yang diberikan pada orang tua, tapi di usia remaja yang terjadi bisa jauh berbeda. Ini adalah saat bagi orang tua mulai menganggap anak laiknya individu beserta hak-haknya yang melekat.

Perbedaan anak dengan orang tua tak sekedar perlu ditoleransi malahan perlu didorong. Kepedulian besar orang tua akan mempengaruhi perilaku anak-anak remaja hingga kedepan nanti.

Perubahan

Usia remaja adalah masa yang memiliki keunikan sendiri. Ini bukanlah periode pembentukan akurasi pada seorang individu. Tahap ini bisa dimulai bahkan pada usia 7 atau bahkan 6 tahun. Tapi pada umumnya masa ini dimulai saat di usia 13 tahun.


Tahap ini bukan hanya ditandai perubahan emosi tapi juga fisik, termasuk alat-alat reproduksi. Jelas, perubahan tersebut adalah alami bagi siklus manusia. Sebagai anak lelaki dan perempuan, tumbuh dengan cara berbeda, ayah dan ibu harus lah benar-benar memegang tanggung jawab mengarahkan dan membantu anak-anak bila muncul kebingungan yang kerap menemani saat proses perubahan berlangsung.

Privasi

Seorang anak remaja tiba-tiba menjadi sangat peduli dan ingin tahu terhadap dirinya terutama tubuhnya. Itulah mengapa mereka membutuhkan ruang dan waktu pribadi untuk berefleksi. Jika orang tua dapat memenuhi kebutuhan ini, sediakan kamar terpisah untuk anak. Namun bila tidak mulai pisahkan kamar tidur anak lelaki dengan anak perempuan. Adab Islam mengajarkan untuk mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan harus segera diajarkan dengan disiplin pada tahap ini.

Setiap anak berbeda.

Tidak semua anak tumbuh dengan cara sama. Beberapa melalui masa kanak-kanak dengan damai, dalam tahapan mulus, sementara yang lain melewati penuh masa sulit. Orang tua tidak seharusnya bereaksi berlebihan dengan anak yang memiliki masa sulit dalam tahap remajanya.

Setiap perubahan dramatis dalam kehidupan di setiap tingkatan usia ialah sulit, dan harus disikapi dengan sesuai. Lagi pula itu adalah pengalaman hidup, dan orang tak mampu mengubah hidupnya ke bentuk lain. Orang tua berpengalaman dan perhatian sudah seharusnya menyadari jika mereka ialah cara positif paling ampuh untuk mendidik anak. Kebijakan penghargaan dan sanksi yang terbuka jika diterapkan dalam konteks tepat dengan ketulusan dan kejujuran, mampu membawa anak ke arah lebih baik. Tidak ada aturan pasti dalam urusan keluarga. Bagaimanapun ada beberapa panduan yang terbukti membuahkan hasil dalam menghadapi remaja.

* Bagi peran pembuat keputusan: Remaja kerap mengeluarkan ide cemerlang. Di saat yang sama, memasukkan mereka dalam proses pembuatan keputusan akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan dihargai, sekaligus membuat mereka menjadi bagian dari keputusan itu
* Jaga konsistensi : Orang tua tak seharusya menuruti mood gampang berubah. Itu akan membuat remaja semakin bingung, atau lebih membahayakan, akan dianggap hal biasa dalam hubungan orang tua terhadap anak, dan mereka pun meniru.
* Miliki prinsip tegas : Pendidikan yang berhasil membentuk remaja bergantung pada lingkungan keluarga yang menawarkan kebebasan dan kelenturan. Bagaimanapun, kehidupan muslim dipandu oleh prinsip dan nilai-nilai mendasar Islam. Jangan lepaskan nilai-nilai itu.
* Berbicara dan Jelaskan : Orang tua jangan bersikap bossy, terutama dengan remaja. Jika perlu, orang tua malah seharusnya melakukan kerja ekstra untuk berbicara dan menjelaskan segala sesuatu. Jika anak merasa didorong telalu keras akan timbul jarak dengan orang tua. Itu hanya akan menambah buruk hubungan di masa depan.
* Negosiasi dan menawar : Kemungkinan ada situasi dimana orang tua harus bernegosiasi dengan anak mereka untuk hasil lebih baik. Hanya karena orang tua adalah orang tua, tidak berarti mereka selalu benar.
* Beri anak ruang: Remaja kerap kali membutuhkan ruang untuk mengatasi kemarahan, depresi, dan frustasi. Orang tua tidak harus selalu mengganggu mereka dan justru membiarkan mereka sendiri untuk beberapa saat.
* Buat acara keluarga berkala: Perasaan loyal dan dekat terhadap keluarga sangat penting. Itu akan meningkatkan kepedulian anak bila mereka terlibat penuh dalam urusan keluarga. Acara keluarga menciptakan kesempatan melakukan diskusi bebas atau topik apapun di bawah matahari. Penyatuan keluarga akan mudah terbentuk lewat cara ini.
* Libatkan anak dalam aktivitas Islami: Banyak kegiatan Islami di luar seperti kelompok pengajian, dan remaja masjid. Remaja harus didorong untuk aktif terlibat dalam organisasi semacam itu. Ini adalah salah satu cara orang tua mendidik anak untuk seimbang antara kehidupan dan tanggung jawab di dalam keluarga, diri sendiri, masyarakat sosial sekaligus kegiatan keagamaan.
* Jangan lupa rekreasi: Islam tak hanya mengajarkan bekerja keras tetapi juga menjaga hati tetap tenang, salah satunya dengan rekreasi. Rasul s.a.w pun menganjurkan untuk berekreasi, (diriwayatkan Sunan al Diyami) “Hiburlah hati, karena jika hati terlampau lelah, orang pun akan buta,” Berkuda, panahan, dan berenang dulu pun menjadi kegemaran Rasul s.a.w. Tentu tak harus seperti itu, melakukan permainan menyenangkan, latihan olah tubuh sangat dianjurkan dalam Islam. Kebugaran tubuh dan mental sangat diperlukan untuk membentuk kepercayaan diri dan hal penting untuk melakukan kerja bermanfaat.

Namun di atas itu semua mintalah selalu petunjuk dan pertolongan Allah semata. Dalam Al Qur’an pun telah dituturkan, bahkan sekelas Nabi Nuh a.s tak mampu mencegah anaknya dari perbuatan durhaka. Memberi dukungan dan panduan tak putus-putus pada anak adalah esensi utama orang tua yang beriman./ummah.com/it
sumber : http://www.republika.co.id/berita/30969/Ho...ya_Pribadi_Utuh


[Close]


semoga memberi inspirasi Peace.gif
Danu_Murphy
bilan anak sulitClick to open spoiler!

Bila Anak Sulit Diam dan Fokus

Kenali perilaku aktif anak. Tak semua anak hiperaktif penderita ADHD memiliki kecerdasan lemah


Orang tua kerap tertekan ketika menerima surat dari sekolah menyatakan jika anak mereka ''tak mau mendengarkan guru'' atau '' sulit dikendailkan dan menyebabkan masalah". Satu alasan paling masuk akal untuk jenis perilaku ini adalah Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Meski anak dengan ADHS ingin menjadi siswa yang baik, perilaku impulsif mereka dan ketakmampuan menaruh perhatian pada tempatnya akan mempengaruhi proses belajar di kelas. Guru, orang tua, dan bahkan teman memahami, jika si anak memiliki ''selip perilaku'' atau "berbeda", hanya saja mereka tak mampu mengartikulasikan dengan tepat apa yang salah.

Gejala hiperaktif dalam ADHD bisa jadi termasuk berlarian, atau memanjat berlebihan pada anak kecil, atau perilaku menunjukkan sulit lelah dan nervous untuk anak lebih tua. Tentu itu sangat kontras bila dibanding aktivitas setinggi apapun anak normal. Hiperaktifitas pada intinya adalah perilaku minim terorganisir, tak menentu, dan tanpa tujuan tertentu. ADHD cenderung menimpa pada anak lelaki ketimbang perempuan dengan rasio sepuluh banding satu.

Seorang anak dengan ADHD biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti susah mengorganisasi dan memperlihatkan sikap ia tidak mendengar instruksi, fokus mudah terpecah, ceroboh, kerap melakukan kesalahan impulsif, sering dipanggil di dalam kelas, susah menunggu gilirannya bila dalam situasi kelompok, gagal mengikuti permintaan orang tua, tak mampu memainkan permainan selama yang dimainkan anak seusianya.

Tanpa tindakan dan terapi yang tepat, anak mungkin akan gagal dalam sekolah, dan teman-teman pun akan kesulitan karena si anak kurang dalam hal kerjasama dan melakukan aktivitas sosial. Begitupun soal jati diri, si anak lebih banyak memiliki kegagalan daripada sukses yang mengundang kritik dari keluarga dan guru yang tidak mengenali masalah kesehatannya.

Jika itu terjadi pada anak anda, jangan segan untuk membawanya ke ahli atau psikiatri tumbuh kembang anak. Itu bukan berarti anak anda memiliki kelainan mental. Jangan merasa minder dan tertekan, sebab bila itu dirasakan sang anak, ia akan merasa lebih tersudut dan lebih tertekan lagi.

Memang, kadang anak dengan sindrom ADHD diikuti dengan tingkat kecerdasan yang rendah, tapi itu tak berlaku untuk semua penderita ADHD. Seorang anak dengan ADHD pun masih memiliki peluang tak kalahbesar dengan anak normal. Michael Phelps, perenang internasional Amerika Serikat adalah salah satu contoh penderita ADHD. Peraih 14 medali emas Olimpiade Beijing ini mampu mengatasi kekurangannya menjadi kelebihan. Begitu pula acara TV , Extreem Makeover, Home Edition, digagas oleh, Ty Pennington, seorang penderita ADHD yang mampu mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

Riset terhadap ADHD telah banyak didokumentasikan, dan pengobatan akan sangat membantu. Dengan bertemu dengan ahli tumbuh kembang orang tua dapat belajar bagaimana bisa mengatasi permasalahan dengan anak mereka. Tentu terapi menyeluruh dan evaluasi terus-menerus tak boleh lepas dari dukungan lingkungan sekitar, juga para guru. Lebih dari itu orang tua harus percaya dan meyakini bila sang anak mampu mengatasi kekurangannya./parent.net/additudemag/kimink.ppn/it

sumber : http://www.republika.co.id/berita/29233/Bi..._Diam_dan_Fokus


[Close]


semoga memberi pencerahan .. Peace.gif
The Contractor
bravo... Applause.gif
ahirnya muncul juga trit parenting Hug.gif
@sam : thx ma bro...
ahirnya kumplit juga trit yang bahas masalah kehamilan sampe cara mendidik anak
The Contractor
topik yang bagus bro Hug.gif
anak gw (3 taon 2 bulan) juga dah mulai ikut2an ngomong gituan. Tetangga depan rumah gw kalo ngomelin anaknya suka bawa "barang" lakinya axehead.png
Danu_Murphy
insya allah om TC kita update terus
kalo om TC ada materi yang di anggap bagus monggo di share aja om TC ... chaong.gif
bayanganhitam
like father like son bro. kudu dr kita sendiri yg kasih contoh sama anak2 kita. anyway good postin'
JOYRIDER
makanya dr kecil kita ajarin supaya berbicara dengan baik dan benar hehehe

thanks infonya brader
Danu_Murphy
Anak pertamaClick to open spoiler!

Anak Pertama Serba Pertama?


JAKARTA - Melihat mata bening anak pertama, setiap wanita yang menjadi ibu pertama kalinya menyadari jika mereka diberi anugerah makhluk cantik, cerdas, dengan banyak kemampuan yang pernah ada. Kehadiran anak pertama bagi orang tua--terutama yang berambisi besar dalam pendidikan--evolusi sang anak menjadi perhatian utama dari hari-ke hari.

Setiap orang tua, yang mungkin mengalami pengalaman serupa, mungkin tidak mengejutkan jika sebuah penelitian mengungkapkan jika orang tua dari kelas pekerja menengah memberi perhatian lebih besar kepada anak pertama dari adik-adiknya. Bagaimana tidak? Membayar diri sendiri, orang tua memiliki misi besar dan rencana untuk membawa si pembaharu mungil agar menjadi pribadi yang paling cermelang dan berharap mereka adalah berkah.

Hanya waktu dan perkembangan anak yang akhirnya meruntuhkan harapkan itu. Bagi sebagian orang tua, kadang membutuhkan waktu 18 tahun untuk menemukan jika anak pertama mereka hanyalah satu dari anggota manusia lain, tak lebih. Banyak orang tua tak percaya atau kecewa saat mengetahui anak mereka gagal masuk universitas top, paling bergengsi di negaranya, atau mengalami kegagalan-kegagalan lain.

Hasil mengejutkan muncul dalam riset yang dilakukan Universitas College, London. Kesimpulan para ahli peneliti, anak-anak lahir pertama mendapat kemudahan dari tindakan berlebihan orang-tua yang "buta" dan itulah yang membentuk mereka.

David Lawson dan Professor Ruth Mace, yang melakukan studi terhadap 1.400 keluarga, menunjukkan adanya kemiripan proses pendidikan anak pertama dengan kebijakan warisan aristokrat di mana pemenang mengambil segalanya, menyisakan saudara muda dengan hanya pilihan pada Tentara, Gereja, pernikahan dan karir seadanya.

Lawson dan Mace membicarakan "Ketidakberuntungan lahir berikut", dan "kekurangan" dalam perawatan orang tua. Anak tertua kadang memiliki tes IQ lebih tinggi karen mereka menghabiskan banyak waktu memiliki percakapan dewasa berharga dengan orang tua.Sebagai hasil, mereka sering menjadi anak berprestasi dengan pencapaian tinggi, namun di sisi lain mereka menyimpan kelelahan dari beban harapan orang tua. Depresi, sulit mengungkapkan, dan rasa kegagalan menggerogoti menjadi harga mahal untuk membayar perhatian tak seimbang itu.

Tak jarang si anak mengembangkan sikap penentangan untuk berhadapan dengan situasi tesebut. Malas, bahkan menolak pergi ke sekolah, tak ingin terlibat semua organisasi dan aktivitas. Bila demikian tentu orang tua harus mulai mengubah cara pengasuhan dan melihat anak mereka pun seperti anak lain yang memiliki ketertarikan sendiri, dapat salah, dapat berhasil, namun mungkin juga gagal.

Orang tua harus menerima apa yang ingin anak lakukan dan apa yang anak inginkan terlepas dari mimpi besar orang tua. Cassandra Jardine, ahli tumbuh kembang anak sekaligus pengasuh rubrik parenting di Daily Telegraph, Inggris menuturkan, ia pun dulu begitu menekankan mimpi besarnya pada si anak pertama. Hingga muncul resistensi dari sang anak, barulah kesadaran bahwa sang anak memiliki hak untuk menikmati dunianya timbul.

Bahkan suatu hari, si sulung tersebut mengatakan pada Cassandra jika ia bisa memilih ia ingin terlahir bukan sebagai anak pertama. "Lucunya orang tua lebih baik pada pengasuhan pada anak berikut," ujar Cassandra.

Cara paling bijaksana adalah selalu menanyakan pada setiap anak, termasuk anak pertama opini mereka tanpa menghiraukan pendapat anggota keluarga lain yang lebih muda. Ketika orang tua mulai tidak menunjukkan rasa khawatir berlebih, justru--menurut penelitian-- anak-anak mereka menunjukkan bakat terbaiknya. Semakin anak-anak merasa nyaman dan bahagia, hasil sekolah mereka pun jauh dari nilai buruk, dan mereka tetap dapat melakukan banyak hal yang mereka inginkan. Itu jelas merupakan berkah bagi orang tua./telegraph/itz

sumber : http://ng.republika.co.id/berita/32546/Ana...a_Serba_Pertama


[Close]


semoga bermanfaat Peace.gif
Danu_Murphy
Musywarah sehatClick to open spoiler!

Musyawarah Sehat Didik Anak Bertoleransi


Hubungan gender di Islam bukanlah berdasar kompetisi antar lelaki-perempuan seperti yang diusung masyarakat Barat saat ini. Sebaliknya hubungan lelaki dan perempuan lebih didasarkan kerjasama (Quran:4:32)

Dalam konteks keluarga, suami adalah pemimpin (Qawwam) sebagaimana dinyatakan oleh Tuhan. Hanya saja kepemimpinan—seperti halnya kepemimpinan dalam Islam—itu pun dibatasi oleh Al Qur’an dan ajaran Nabi, dan juga, di lain pihak juga dibatasi oleh Shura, atau konsultasi/diskusi mutual - amruhum shura bainahum (Quran 42:38)

Shura di dalam ayat tersebut disebutkan langsung oleh Allah sebagai salah satu karateristik esensial para penyembahnya, bersama dengan ibadah dan bersikap adil. Dengan demikian keluarga Muslim, seperti halnya institusi Muslim, formal, maupun informal sudah semestinya mengadopsi Shura, atau bermusyawarah. Nilai-nilai ini pun sebaiknya ditanamakan pada anak sejak kecil.

Dengan mengajak si kecil berdialog dan bermusyawarah, memberi pendapat, tak hanya melatih anak toleransi, menghargai orang lain, tapi juga menekan dan mengendalikan ego. Selain itu musyawarah akan mendidik anak berani mengeluarkan pendapatnya dengan benar, tidak kasar, namun tetap berhati-hati.

Manfaat bagi anak-anak lelaki, mereka pun akan lebih menghargai saudara perempuannya, dan anak perempuan pun tak merasa inferior tanpa kehilangan kesopanan.

Tapi tentunya saat si kecil diajak ikut bermusyawarah, orang dewasa pun harus mencontohkan sikap bermusyawarah yang baik, seperti awali musyawarah dengan menyebut Asma Allah, serta Shalawat kepada Rasul.

Hindari bersikap defensif, ngotot, dan sarkastik terhadap anggota keluarga, sebaliknya selalu jaga sikap rasional dan beralasan. Saat anggota keluarga lain berbicara sangat disarankan mendengar baik-baik dan menghormati. Di atas itu semua, selalu ingat, bahwa pendapat kita bukanlah yang terbaik, dan setiap bermusyawarah kita harus siap mengorbankan pandangan kita bila tidak diterima sebagian besar anggota keluarga.

Saat mengkritik pun ada sopan santun yang mesti diperhatikan. Awal sebelum melontarkan kritik, periksa baik-baik niat kita, apakah untuk menyerang pihak lain, demi kepuasan ego, ataukah benar-benar untuk memberi masukan konstruktif bagi pihak lain.

Pilih kata yang tepat dan waktu yang tepat. Tentu jangan keluarkan kritikan saat debat panas berlangsung, serta selalu diingat, kesimpulan kita pun belum juga benar. Hindari debat kusir dengan anggota keluarga saat musyawarah. Tujuan diskusi bersama adalah untuk mencari yang solusi paling optimal yang bermanfaat. Sehingga tahu kapan berhenti sangat bijak, untuk tidak menyeret debat berkepanjangan tanpa tujuan.

Sang anak yang melihat bagaimana diskusi antar orang dewasa yang sehat, berdasar argumen kuat dan pertimbangan rasional, pun akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama.

Lalu bagaimana mendorong anak-anak untuk belajar berkomunikasi tepat dan berpartisipasi dalam musyawarah? Ketika mereka masih sangat muda, biasakan mereka mengungkapkan aktivitas seharian dan perasaan mereka terhadap anda.

Musyawarah adalah pilihan mencerminkan karateristik Mukmi (Quran 42:38). Tanamkan itu sejak dini. Misal mengajaknya dalam diskusi keluarga. Bila masih terlalu kecil, anda bisa memberinya kertas dan pena untuk mencatat topik-topik dalam diskusi. Usai musyawarah anda dapat melakukan diskusi terpisah tentang pertemuan tadi dan menggali pandangannnya.

Jadikan anak anda peserta penuh dalam setiap musyawarah keluarga baik formal maupun nonformal, kecuali bila isu harus dibincangkan antara ibu dan ayah saja.

Anak-anak sangat gemar bertanya. Salah satu cara menjawab pertanyaan mereka ialah mengajukan pertanyan balik “Kalau menurut kamu sendiri seperti apa?”. Ketimbang memberi solusi dan pandangan, akan lebih baik bila mengajak anak berpikir pula. Contoh lain pertanyaan ialah “Bagaimana menurutmu ini harus diatasi?”

Jangan bedakan pula cara komunikasi dengan anak adopsi. Beri mereka porsi kesempatan sama besar untuk mengungkapkan pikirannya dan berperan dalam keluarga. Hindari TV , radio, dan komputer berlebihan. Itu hanya akan membuat anak jauh dari orang tua.

Sisi humor pun jangan ditahan. Tertawa tidak akan menurunkan wibawa atau menyabotase pelajaran yang diberikan pada anak, justru terkadang itu akan meningkatkan kemampuan komunikasi. Hormati selalu opini anak, dengan mendengar perkataan mereka tanpa mental menghakimi dan mengkritik. Terakhir jangan lupa beri penghargaan bila sang anak mengelurkan ide cemerlang./ zawaj.com/it

sumber :http://ng.republika.co.id/berita/29971/Musyawarah_Sehat_Didik_Anak_Bertoleransi


[Close]


semoga bermanfaat Peace.gif
Danu_Murphy
Anak bertengkarClick to open spoiler!

Anak Bertengkar, Orang Tua Tak Perlu Reaktif


Bill Cosby pernah berkata, "Anda tidak benar-benar menjadi orang tua hingga memiliki anak kedua," Orang tua dengan satu anak mungkin agak sulit memahami ini. Sementara mereka dengan dua anak atau bahkan lebih, akan cepat menangkap maksud kalimat Bill. Pemeran The Cosby Show itu merujuk pada pertengkaran, percekcokan, yang relatif berlangsung terus menerus antar saudara kandung

Tidak bisa dipungkiri, memiliki lebih dari satu anak memberikan kesempatan bagi mereka belajar banyak hal. Anak bisa belajar berbagi, bagaimana menjadi teman, mencintai dan berjalan bersama, juga bekerja sama dalam hubungan kakak dan adik. Ada banyak hal positif dalam kehidupan keluarga dengan lebih satu anak, meski bisa jadi ada orang tua yang berseloroh, "Tidak dalam keluarga saya,"

Pertengkaran yang kerap muncul di antara saudara kandung memang menjadi salah satu frustasi utama bagi orang tua. Sehingga tak heran, reaksi tipikal orang tua terhadap pertengkaran, salah satunya ialah berteriak, "Diam!" atau "Kalian membuat pusing!" atau mengancam, mengabaikan perasaan negatif anak yang sedang muncul, dan menentukan pemecahan solusi untuk anak secara sepihak. Semua reaksi itu, bisa ditebak, malah menjadi bahan bakar bagi pertengkaran lebih lanjut.

Salah satu kiat yang ditulis oleh positiveparenting.com, ketimbang bereaksi terhadap pertengkaran, orang tua lebih baik bersikap pro aktif, yakni berdiri di luar tanpa mental dan sikap menghakimi. Kadang anak membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu sendiri. Oran tua dapat mengajari cara bernegosiasi setelah periode tenang kemudian. Ajari anak untuk berkata, "Saya akan beri kami ini untuk itu," Ini setidaknya membantu mereka belajar win-win solution, atau semua sama-sama dapat. Kemampuan ini sangat diperlukan saat anak-anak kembali bersitegang hingga di masa depan mereka kelak.

Hal lain yang dapat dilakukan orang tua ialah menunjukkan kepercayaan jika anak-anak mereka dapat menyelesaikan sendiri. Salah satu contoh ucapkanlah, "Saya lihat ada dua anak dengan satu boneka, dan saya percaya kalian dapat mengatur sendiri berdua sehingga kalian sama-sama senang saat bermain,". Tentu nyatakan kalimat itu dengan aura keyakinan dan tinggalkan ruangan. Anda akan terkejut bagaimana mereka saling berbagi.

Atau bisa juga orang tua merunduk ke level anak-anak, dan dengan penuh kasih sayang meminta barang yang menjadi pokok pertengkaran atau menenangkan mereka. Sering kali anak-anak akan memberikan mainan yang diperebutkan. Awalnya Carol DeVeny, pemilik pusat pengasuhan anak sehari ,skeptis dengan cara ini. Setelah dilakukan, ia menuturkan dua bocah balita itu pun berhenti berkelahi, dan memberikan mainan pada Carol seraya berkata, "Kami akan berbagi mama,". Mendengar itu Carol pun sampai menitikkan air mata.

Terakhir, orang tua mesti mengingat untuk mengakui dan menerima bentuk emosi. Segala bentuk perasaan itu boleh, tapi tidak semua aksi dan tindakan diperbolehkan. Orang tua bisa saja berkata, "Kamu marah dengan kakakmu karena ia merusakkan truk mu. Kamu bisa katakan itu dengan kata-kata, tidak dengan pukulan,". Catat selalu, perasaan buruk perlu dikeluarkan sebelum orang beralih ke perasaan lebih baik, dan ajarkan anak untuk melakukan.

Sebaliknya ketika orang tua bereaksi terhadap pertengkaran dengan kekerasan, mereka justru--dengan tidak cerdas--menjadikan saudara sebagai musuh. Lagi pula di masa depan, generasi muda lebih membutuhkan kemampuan bernegosiasi dan bekerjasama dalam urusan pekerjaan maupun pribadi. Orang tua dapat mengawali mengajarkan skill penting itu sejak usia anak-anak, dan berpikir perbedaan luar biasa yang dapat mereka raih dalam hidup mereka./it
sumber : http://ng.republika.co.id/berita/20395/Ana...k_Perlu_Reaktif


[Close]


semoga memberi inspirasi .. Peace.gif
Danu_Murphy
orang tua berperanClick to open spoiler!

Orangtua Berperan Tentukan Pola Makan Anak




Jika Anda melihat anak-anak Anda senang mengonsumsi makanan berkalori tinggi seperti junk food, ada baiknya Anda kembali melihat pola makan Anda sendiri.

Menurut sebuah penelitian, kecenderungan sebagian orang terhadap makanan kalori tinggi bisa jadi karena pengaruh genetik.

Peneliti asal Inggris melaporkan, anak-anak yang dengan gen tertentu memakan lebih banyak makanan yang dibutuhkan. artinya, lebih banyak asupan kalori. Namun, para peneliti tidak menemukan perbedaan dalam metabolisme anak dengan gen yang berbeda dan tidak.

"Penelitian itu menunjukkan, orang dengan gen tertentu mungkin cenderung untuk lebih banyak makan makanan tidak sehat dan makanan yang menggemukkan," ujar peneliti senior Colin Palmer sekaligus Chairman of pharmacogenomics Biomedical Research Institute di University of Dundee.

"Saya tekankan hal itu merupakan ciri, bukan sesuatu yang mutlak," katanya.

Direktur Klinis weight management and wellness center di Children's Hospital of Pittsburgh/University of Pittsburgh Medical Center, Dr Goutham Rao, mengatakan penemuan itu membuahkan harapan karena mereka tidak menemukan adanya perbedaan metabolisme.

"Cara gen mempengaruhi obesitas melalui perilaku dibandingkan melalui metabolisme. Hal itu yang kemudian dapat dikoreksi. Kabar baiknya, banyak anak yang memiliki gen tersebut namun tidak kelebihan berat badan," ujar Rao.

Lebih dari 16% dari anak-anak Amerika Serikat mengalami obesitas, menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Sejalan dengan pertumbuhan mereka, statistik semakin menakutkan. Sebanyak 35% dari orang dewasa mengalami obesitas, menurut CDC.

Rao menuturkan, penemuan tersebut mungkin tidak akan mengubat cara makan dan gaya hidup sehat yaitu makan makanan sehat dan olahraga teratur. Tapi, penemuan itu juga mendorong hipotesa penyebab semakin meningkatnya obesitas pada anak-anak beberapa tahun terakhir.

"Kemungkinan karena semakin mudah didapat dan menyebarnya makanan protein dan lemak tinggi, yang disajikan dengan porsi besar sehingga dibawa dalam gen," terangnya.

Dia menambahkan, salah satu pesan penting dari penelitian yaitu lebih baik mencegah.

"Jika Anda memiliki anak, yang gemuk atau tidak, jika dia sering mencari junk food, sebaiknya Anda ikut andil. Yang penting adalah kontrol proporsi. Jika Anda ingin melarangnya sama sekali, yang diterima oleh anak justru karena ada sesuatu yang istimewa dalam makanan tersebut sehingga mereka makan berlebihan saat memiliki kesempatan," paparnya. (healthday/ri)


sumber : http://ng.republika.co.id/berita/19836/Ora...Pola_Makan_Anak


[Close]


semoga memberi pencerahan .. Peace.gif
Danu_Murphy
Asperger , gangguan anak antisosialClick to open spoiler!

Asperger, Gangguan Anak Antisosial


Autisme seakan-akan jadi momok menakutkan bagi banyak orang tua. Tidak heran, karena jumlah angka penderitanya di seluruh dunia terus meningkat, termasuk di Indonesia. Meskipun belum ada angka pasti yang menyebutkan penderita autis di Indonesia.

Nyatanya tidak hanya penderitanya saja yang bertambah, kini varian autisme juga semakin banyak diketahui. Sindrom asperger merupakan salah satu varian autisme yang lebih ringan dibandingkan kasus autisme klasik.

Gangguan Asperger berasal dari nama Hans Asperger, seorang dokter spesialis anak asal kota Wina, Austria. Pada tahun 1940, Asperger ialah orang pertama yang menggambarkan pola perilaku khusus pada pasien-pasiennya, terutama pasien laki-laki.

Asperger memperhatikan, meskipun anak laki-laki tersebut memiliki tingkat intelegensia yang normal serta kemampuan bahasa yang baik, namun mereka memiliki kekurangan dalam kemampuan bersosialisasi. Umumnya mereka tidak mampu berkomunikasi secara efektif serta kemampuan koordinasi yang kurang baik.

Sindrom asperger banyak disebut sebagai varian dari autisme yang lebih ringan. Para ahli mengatakan, pada penderita sindrom asperger memiliki kondisi struktural otak secara keseluruhan lebih baik dibandingkan pada penderita autisme.

Menurut Clinical Assistant Professor of Pediatrics Jefferson Medical College Philadelphia, Susan B. Stine, MD karakter dari anak-anak yang mengalami sindrom asperger ialah kurangnya kemampuan berinteraksi sosial, pola bicara yang tidak biasa dan tingkah laku khusus lainnya.

Kemudian, anak-anak dengan sindrom asperger biasanya sangat sulit untuk menampilkan ekspresi di wajahnya serta sulit untuk membaca bahasa tubuh pada orang lain.

“Mereka kemungkinan juga merasa nyaman dengan rutinitas tertentu yang harus dilakukan setiap hari serta sensitif terhadap stimulasi sensori tertentu, misalnya mereka akan tertanggu oleh nyala lampu redup yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain. Bisa saja mereka menutup kuping agar tidak dapat mendengarkan suara di sekitarnya atau mereka mungkin lebih memilih pakaian dari bahan-bahan tertentu saja,” jelas Stine.

Selain itu, tambah Stine, ciri dari anak yang mengalami sindrom asperger adalah terlambatnya kemampuan motorik, ceroboh, minat yang terbatas dan perhatian berlebihan terhadap kegiatan tertentu.

Hal senada diungkapkan oleh dokter spesialis anak konsultan Neurologi, dr Hardiono D Pusponegoro, Sp.A(K). Dia memaparkan, sindroma asperger adalah gangguan perkembangan dengan gejala berupa gangguan dalam bersosialisasi, sulit menerima perubahan, suka melakukan hal yang sama berulang-ulang, serta terobsesi dan sibuk sendiri dengan aktivitas yang menarik perhatian.

“Umumnya, tingkat kecerdasan si kecil baik atau bahkan lebih tinggi dari anak normal. Selain itu, biasanya ia tidak mengalami keterlambatan bicara,” kata Hardiono.

Jika dilihat secara sekilas, lanjutnya, anak tersebut tidak berbeda dengan anak yang pintar dan kreatif. Hanya saja, anak tersebut biasanya memiliki satu minat tertentu saja untuk dikerjakannya.

Memang secara keseluruhan anak-anak yang mengalami gangguan sindrom asperger mampu melakukan kegiatan sehari-hari, namun terlihat sebagai pribadi yang kurang bersosialisasi sehingga sering dinilai sebagai pribadi eksentrik oleh orang lain.

Menurut Stine, jika penderita sindrom asperger beranjak dewasa, biasanya mereka akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan empati kepada orang lain serta tetap kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain.

“Pada ahli mengatakan bahwa penderita sindrom asperger biasanya akan menetap seumur hidup. Namun, gejala tersebut dapat dikurangi dan diperbaiki dalam kurun waktu tertentu terutama deteksi dini sindrom asperger akan sangat membantu,” pungkasnya.

Gangguan sindrom asperger pada umumnya akan terus mengikuti perkembangan usia seseorang. Meski tidak membahayakan jiwa, namun gangguan itu bisa membuat anak takut berada di keramaian dan membuat anak depresi.

Ciri yang menonjol pada anak asperger adalah mereka tidak bisa membaca kode-kode atau ekspresi wajah seseorang. Karena ketidakmampuannya itu, anak asperger dijauhi teman-temannya.

"Biasanya mereka jadi anak yang antisosial, sulit berinteraksi dengan orang lain," kata Hardiono.

Ketika anak asperger tidak mempunyai teman, lalu tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghadapi sebuah situasi, dia akan merasa putus asa dan akhirnya depresi.

Sesuai dengan perkembangan otak, kalau kelainan itu diketahui lebih dini, maka bisa distimulasi atau diberi obat agar berkembang ke arah yang baik.

Namun, kalau sudah terlambat deteksinya, yaitu sudah berusia lima atau enam tahun, maka sulit penanganannya karena perkembangan otak sudah berhenti. Pada umur lima tahun, bagian otak yang disebut sinaps-sambungan antar saraf di mana bahan kimia serotonin bekerja-akan berhenti.

Kini teknik-teknik terapi sudah jauh lebih maju dan fasilitas sudah banyak. Hardiono menuturkan, salah satu terapi yang bisa dilakukan adalah dengan mengajak si anak bermain. Stimulasi ini diketahui memperbaiki sinaps dan meningkatkan kadar serotonin.

Menurut Hardiono, anak asperger masih bisa diterapi, terutama dalam hal kemampuan bersosialisasi. Pasalnya, kemampuan mereka bersosialisasi sangat kurang.

"Cara terapi yang paling baik adalah mengajarkan anak bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Terapi dalam bentuk peer group akan lebih baik lagi," paparnya.

Anak asperger biasanya memiliki kecerdasan yang tinggi, maka orangtua akan dengan mudah mengajarkan emosi sosial. Misalnya, mengajarkan bagaimana harus bersikap jika menghadapi situasi tertentu.

R. Kaan Ozbayrak,MD, Assistant Professor of Psychiatry University of Massachusetts Medical School menambahkan, beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak penderita sindrom asperger. Terapi atau pengobatan yang dilakukan juga harus disesuaikan.

Secara umum Ozbayrak mengatakan, anak-anak penderita sindrom asperger akan banyak terbantu oleh orangtua yang memahami dan mampu membantunya. Kemudian, mereka juga membutuhkan pendidikan yang diperuntukan khusus bagi kebutuhannya. Selain itu, anak memerlukan latihan kemampuan untuk bersosialisasi serta terapi wicara.

"Terapi sensori integrasi juga dapat berguna bagi anak-anak yang masih kecil untuk meminimalisir kondisinya yang terlalu sensitif. Sementara itu, untuk anak-anak yang lebih tua dapat mendapatkan terapi kognitif atau psikoterapi,” papar Ozbayrak. (ri)


sumber : http://ng.republika.co.id/berita/19041/Asp...Anak_Antisosial


[Close]


semoga memberi pencerahan .. Peace.gif
Danu_Murphy
Anak tak perlu jadiClick to open spoiler!

Anak Tak Perlu Jadi Korban Perceraian


Terkadang perceraian adalah satu-satunya jalan bagi orangtua untuk dapat terus menjalani kehidupan sesuai yang mereka inginkan. Namun apapun alasannya, perceraian selalu menimbulkan akibat buruk pada anak. Meskipun dalam kasus tertentu dianggap alternatif terbaik daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan pernikahan yang buruk.

Umumnya, orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian dibandingkan anak-anak mereka. Pasalnya, sebelum perceraian didahului dengan proses berpikir dan pertimbangan yang panjang. Sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik.

Tidak demikian halnya dengan anak-anak. Mereka tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja ayah tidak lagi pulang ke rumah, atau ibu pergi dari rumah, atau tiba-tiba bersama ibu atau ayah pindah ke rumah baru.

Pada masa ini, anak juga diharuskan memulai beradaptasi dengan perubahan hidupnya yang baru. Hal-hal yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orangtuanya bercerai adalah tidak aman, tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi, sedih dan kesepian, marah, kehilangan, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai.

Perasaan-perasaan tersebut, oleh anak dapat termanifestasi dalam bentuk perilaku beragam seperti suka mengamuk, menjadi kasar, dan tindakan agresif lainnya. Sebaliknya, anak dapat berubah drastis menjadi pendiam, tidak lagi ceria, tidak suka bergaul, sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi di sekolah cenderung menurun.

Sangat penting terjalin komunikasi antara kedua orangtua dan anak mengenai situasi itu. Orangtua kadang menganggap anak masih terlalu kecil untuk memahami perceraian, padahal perasaan anak yang sensitif tetap saja merasakan perubahan tersebut.

Meskipun anak mengalami perpisahan orangtua ketika masih kecil namun memori tersebut dapat bertahan hingga ia tumbuh dewasa. Apalagi, jika anak tersebut semakin mengerti mengenai arti keluarga. Maka, dia semakin merasakan kekecewaan seiring bertambahnya usia.

Anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang pemarah, agresif, penakut nantinya. Bahkan, ekstrimnya dia tidak akan mau berkeluarga karena trauma.

Orangtua yang harus mendahului berkomunikasi dengan anak untuk membantunya beradapatasi dengan keadaan yang baru. Jangan sampai anak merasa kesepian dan kebingungan tanpa bimbingan, terutama tanpa perhatian dan kasih sayang ayah dan ibunya. (ri)

Tips

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orangtua agar anak dapat segera beradaptasi dengan perceraian yang terpaksa dilakukan, antara lain:

* Begitu perceraian sudah menjadi rencana orangtua, segeralah memberi tahu anak akan terjadi perubahan dalam hidupnya.,Anak tidak lagi tinggal bersama mama dan papa, tapi hanya dengan salah satunya.
* Jelaskan kepada anak tentang perceraian tersebut. Jangan menganggap anak sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, jelaskan dengan menggunakan bahasa sederhana.
* Tekankan kepada anak, perceraian yang terjadi bukan salahnya. Di luar perubahan yang terjadi karena perceraian, usahakan agar sisi-sisi lain dan kegiatan rutin sehari-hari si anak tidak berubah. Misalnya, tetap mengantar anak ke sekolah atau mengajak pergi jalan-jalan.
* Anak perlu selalu diyakinkan, sekalipun orangtua bercerai tapi mereka tetap mencintai anak. Hal itu penting dilakukan terutama dari orangtua yang pergi. Lakukan dengan cara berkunjung, menelepon, mengirim surat atau kartu. Buatlah anak tahu bahwa dirinya selalu diingat dan ada di hati orangtuanya.
* Orangtua yang pergi, meyakinkan anak kalau dia menyetujui anak tinggal dengan orangtua yang tinggal, dan menyemangati anak agar menyukai tinggal bersama orangtuanya itu.
* Orangtua yang tinggal bersama anak, memperbolehkan anak bertemu dengan orangtua yang pergi, meyakinkan anak, dia menyetujui pertemuan tersebut dan menyemangati anak untuk menyukai pertemuan tersebut. Kedua orangtua, merancang rencana pertemuan yang rutin, pasti, terprediksi dan konsisten antara anakdan orangtua yang pergi.
* Saat anak sudah mulai beradaptasi dengan perceraian, jadwal pertemuan bisa dibuat dengan fleksibel. Penting buat anak untuk tetap bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.
* Tidak menempatkan anak di tengah-tengah konflik. Misalnya dengan menjadikan anak sebagai pembawa pesan antar-kedua orangtua, menyuruh anak berbohong kepada salah satu orangtua, menyuruh anak untukmemihak pada satu orangtua saja.
* Tetap mengasuh anak bersama-sama dengan mengenyampingkan perselisihan. (ri)


sumber : http://ng.republika.co.id/berita/16893/Ana...rban_Perceraian


[Close]


semoga memberi pencerahan Peace.gif
Danu_Murphy
jangan sepelekan bullyingClick to open spoiler!

Jangan Sepelekan Bullying

PAHAMI: Sebagai orangtua, Anda perlu memahami bullying termasuk cara mencegah dan mengatasinya. Dikhawatirkan hal itu dapat mempengaruhi masa depan anak, baik pelaku maupun korban.


Pernahkan Anda mendengar istilah bullying? Istilah itu dapat diartikan melecehkan atau melakukan tindakan kekerasan baik secara fisik ataupun verbal kepada orang lain. Umumnya dilakukan kepada orang yang lebih kecil, lemah atau lebih muda.

Nyatanya prilaku bullying itu tidak dapat disepelekan, terutama di tingkat anak-anak. Jika dibiarkan tanpa pertolongan, masa depan pelaku dan korban bullying bakal terpengaruh.

Pelaku bullying cenderung lebih mudah terperosok ke kehidupan kelam pelaku tindak kriminal. ''Korban kemungkinan besar akan terus merasa rendah diri hingga dewasa kelak,'' ucap Diena Haryana, ketua Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa).

Mengingat seriusnya dampak bullying, terhadap korban serta pelaku, aksi tak terpuji itu mesti dicegah sejak dini. Orang tua harus mengetahui jenis-jenis tindakan yang termasuk bullying. ''Mereka juga mesti paham bagaimana mencegah dan menghadapi bullying,'' imbuh Diena.

Penembakan mahasiswa di kampus Virginia Tech, Amerika Serikat, merupakan contoh bullying yang paling ekstrem. Pelaku rupanya tertekan secara mental dan melampiaskannya dengan tembakan membabi buta ke arah teman-temannya.

''Dia kemudian memilih mati untuk mengakhiri penderitaan hidupnya,'' ujar Dr Amy Huneck, ahli intervensi bullying.

Kasus-kasus ekstrem juga pernah menimpa bocah-bocah malang di Indonesia. Tekanan mental akibat terlampau sering menunggak SPP, ledekan teman yang berkelanjutan menyangkut profesi orang tua, serta ocehan bernada menghina seputar postur tubuh membuat sejumlah anak putus asa dan mencoba bunuh diri.

''Untuk itu, bullying yang terutama yang terjadi di lingkungan sekolah mesti dicegah,'' sebut Diena.

Sejak kasus penganiayaan praja IPDN terkuak, definisi bullying makin terngiang di telinga masyarakat. Tetapi, itu tak mewakili bullying secara keseluruhan. ''Kekerasan verbal seperti memaki, menggosip, mengejek, dan memfitnah juga merupakan wujud bullying,'' paparnya. (rei/ri)

Tips Menangkis Bullying

* Untuk mencegah bullying Ketua harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Prof Dr Arief Rachman MPd menyarankan, orangtua memperkenalkan pemahaman agama sejak dini kepada anak. Anak juga mesti mendapatkan kesempatan untuk menjalani aktivitas yang menyenangkan. ''Bullying bisa dihindari jika anak lekat dengan budaya,'' ujar Arief Rachman.
* Setiap anak harus memiliki kemahiran menangkis celaan dengan santai, tanpaperlu terpancing emosi. Dengan begitu, pelakubullying tak mendapatkan celah untuk meneruskan aksinya.
* Untuk pelaku bullying, mereka harus dibangkitkan kesadarannya dan belajar berempati. Sebab, bullying paling sering terjadi lantaran pelakunya tak kuasa menerima perbedaan. Mereka puas jika merasa lebih berkuasa dan berhasilmembuat korbannya tak berkutik.
* Bullying atau bukan sejatinya tergantung presepsiorang yang menjadi target. Meski begitu, bullyingtak bisa didiamkan. Apalagi, bullying terbukti berpengaruh terhadap naiknya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademis, dan tindakan bunuhdiri pada orang dewasa maupun anak.
* Bullying juga menurunkan skor hasil tes IQ dan kemampuan analisis siswa, serta menumbuhkan perasaan kurang berarti. Para korban yang mengalaminya harus dibangkitkan kepercayaan dirinya dengan pendampingan dan menggali terus menggali potensi diri. (rei/ri)

sumber : http://ng.republika.co.id/berita/16099/Jan...elekan_Bullying


[Close]


semoga memberi pencerahan .. Peace.gif
Danu_Murphy
belajar matematika bisa menyenangkanClick to open spoiler!

Belajar Matematika Bisa Menyenangkan

BERMAIN: Belajar matematika dan ilmu pengetahuan alam lain tak perlu harus selalu serius. Ajak anak belajar melalui permainan yang menyenangkan untuk membuat anak menyukai pelajaran itu.


Bagi sebagian anak, pelajaran matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan sesuatu yang menakutkan. Hal itu dapat mempengaruhi minat anak untuk mengeksplorasi mata pelajaran yang sangat bermanfaat mengembangkan daya analitis.

Meskipun setiap anak memiliki minat yang berbeda-beda namun alangkah baiknya jika orang tua secara kreatif mengarahkan agar anak tidak terlarut dalam ketakutan berlebih terhadap matematika dan IPA.

"Masalahnya lebih kepada cara orang tua mengarahkan anak agar matematika tidak menakutkan," ujar Presiden Direktur Mathematics Education clinic sekaligus Ketua Dewan Juri Olimpiade Matematika Pentas Kreasi Anak Indonesia (PKAI), Ridwan Saputra kepada Republika Online ketika ditemui dalam konfrensi pers acara PKAI di Jakarta, Rabu (19/11).

Padahal, kata Ridwan, memperkenalkan matematika itu mudah. Dia mencontohkan, orang tua dapat mengenalkan matematika dengan media permainan.

"Misalnya tambah-kurang,kali-bagi dapat disesuaikan dengan cerita kehidupan," katanya.

Dia mencontohkan, ketika memasuki parki maka orangtua dapat mengajak anak menghitung jumlah mobil yang keluar dan masuk dengan menggunakan kalimat masuk yang diartikan bertambah dan pergi yang bearti berkurang.

Dia sendiri, kurang menyetujui pelajaran matematika di sekolah-sekolah yang hanya mengajarkan berhitung bukan berpikir.

Dalam kesempatan tersebut, Ridwan juga mengungkap cara mengatasi masalah rasa malas yang sering menghinggapi anak saat mempelajari matematika.

"Kemalasan anak mempelajari matematika dapat ditanggulangi orang tua dan guru dengan membawa anak ke arah berpikir terlebih dahulu. Yang lebih mudah sekali lagi, menghubungkan matematika dengan kehidupan dan permainan," tuturnya.

Ridwan memberikan tips untuk membuat anak dengan mudah mempelajari matematika." Ajak anak mencintai matematika, belajar yang rutin, guru yang mengajari juga harus benar, dan bermain" ungkapnya. (cr2/ri)

sumber : http://ng.republika.co.id/berita/15302/Bel...sa_Menyenangkan


[Close]


semoga menjadi pencerahan .. Peace.gif
Danu_Murphy
Menjadi lebih dekatClick to open spoiler!


Sevisi, Sehati!

gambar sekedar ilustrasi


Kekompakan ayah dan ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak amat penting. Tanpa itu, anak-anak akan bingung, atau bersikap semaunya.

Tiap Wilda menyuruh Via (9 tahun) membereskan buku-buku atau kamarnya sendiri, selalu saja Priyanto -- suaminya - turun tangan membantu. “Kasihan, Ma. Via kan banyak pe-er...,” begitu selalu alasannya. Wilda jadi bingung menerapkan disiplin kepada putri pertamanya itu. Wilda juga agak kesal kepada Priyanto, karena cara-cara Priyanto ‘melindungi’ Via membuat dirinya ‘tak populer’ di mata putri mereka.

Lain Wilda dan Priyanto, lain Linda dan Wawan. Yang disebut belakangan baru saja bertengkar hebat. Gara-garanya, mereka tak sepakat apakah putra mereka Bintang (4 tahun) boleh main PS sampai jam 9 malam, atau harus segera tidur karena besok harus bangun pagi untuk pergi sekolah? Wawan menilai, selama ini Bintang jika terlambat tidur pasti sulit bangun pagi. Dan ujung-ujungnya biasanya tidak pergi ke sekolah. Itulah sebabnya Wawan marah melihat Bintang masih bermain PS saat ia pulang kantor pukul 21.00. Apalagi bocah itu mengaku ‘dibolehkan sama Bunda’.

Tim Unik
Keluarga adalah sebuah tim yang unik, di mana ayah dan ibu di dalam tim tersebut harus ‘sevisi dan sehati’. Ibarat pilot dan co-pilot dalam pesawat. Namanya pilot dan co-pilot, tentu saja mereka seia-sekata menentukan arah perjalanan pesawat. Tak mungkin pilot ingin menerbangkan pesawat ke Medan, sedangkan co-pilot ingin ke Surabaya. Mereka juga harus sepakat soal timing – penentuan waktu -- keberangkatan pesawat. Bisa kacau jika pilot sudah siap terbang, tapi co-pilot masih di rumah – belum mandi!

Saking uniknya suatu keluarga, tak ada keluarga lain yang sanggup meniru cara keluarga tersebut mengelola timnya. Bahkan kita tak akan sanggup meniru cara orang tua kita mengelola keluarganya dulu. Jadi, daripada menghabiskan waktu untuk ‘meniru-niru’ keluarga lain (suami istri kerap tergoda untuk meniru cara-cara keluarga masing-masing), lebih baik kita dan pasangan menetapkan bersama hal-hal mendasar dalam keluarga bentukan kita berdua. Taruhlah soal pendidikan anak. Jangan sampai, misalnya, ayah mati-matian mengarahkan si buyung jadi pemain sepak bola, sementara ibu benci setengah mati pada permainan yang berkaitan dengan bola. Atau, ibu ingin putrinya menempuh pendidikan tinggi, sementara ayah menganggap anak perempuan tak perlu sekolah tinggi karena akhirnya akan ke dapur juga (kuno amat ya...).

Nilai Kekompakan
Anak tak senang kalau tahu ayah-ibu mereka tak punya visi yang sama tentang bagaimana keluarga akan dikelola. Anak akan bingung -- dan mereka tak suka dibuat bingung. Bukan berarti anak-anak tak menghargai perdebatan dan diskusi di dalam keluarga (apalagi anak zaman sekarang yang tak bakal mau jika hanya disuruh-suruh begitu saja tanpa boleh bertanya). Mereka hanya ingin keluarga (terutama ayah-ibu) yang kompak, yang akan ‘menjaga’ keluarga mereka.

Pernah ada adegan menarik dalam sebuah film. Sepasang suami istri, yang sedang dalam proses perceraian, punya anak gadis berumur delapan tahun. Anak itu minta izin menindik telinganya. Awalnya kedua orang tuanya tampak ragu, tapi akhirnya mengizinkan. Namun ketika si anak merembet minta diizinkan menindik lidah, serentak kedua orang tuanya berteriak, “NOOO!!!” Tak diduga, anak itu dengan tenangnya hanya mengatakan, “Good, akhirnya kalian berdua punya satu hal yang disepakati...” Pelajaran yang bisa kita petik dari adegan di atas: kekompakan orang tua lebih berharga daripada sebuah izin yang membingungkan.

Coparenting
Elizabeth Sharp dan Sara Gable dari Human Development and Family Studies University of Missouri, Columbia, pernah melakukan studi mengenai perkawinan, pengasuhan dan perkembangan anak. Hasilnya mereka tuangkan dalam Parenting: Success Requires A Team Effort. Tulisan itu menyoroti pentingnya coparenting dalam kehidupan anak. Coparenting adalah bagaimana orang tua bersepakat dalam cara membesarkan anak-anak, serta berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan anak-anak mereka. Bolehlah kita menyebutnya ‘kemitraan’ dalam membesarkan dan mengasuh anak. Apapun kondisi orang tua – serumah atau terpisah (misalnya, karena perceraian) – kemitraan tetap memainkan peranan penting dalam kehidupan anak-anak mereka.

Kemitraan yang dibutuhkan anak adalah kemitraan yang saling mendukung (supportive coparenting). Artinya, anak-anak menerima pesan yang sama dari kedua orang tuanya setiap saat. ‘Kesamaan pesan’ itu mulai hal-hal kecil dan rutin -- misalnya kapan anak harus pergi tidur, apakah anak batita boleh main dekat-dekat mesin cuci, dll. – sampai hal-hal besar seperti menentukan jenis pendidikan dan penanaman nilai-nilai moral.

Al-Istanbuli dalam bukunya Parenting Guide mengatakan, perselisihan paham antara ayah dan ibu (non-supportive coparenting) dalam mendidik anak akan melemahkan fungsi keduanya sebagai orang tua, dan membuka peluang bagi anak untuk berbuat semaunya. Anak amat pandai memanipulasi situasi jika orang tua tak sepakat soal cara mendidik anak. Mereka bisa mengambil keuntungan dari perselisihan orang tua.

Sementara itu, sikap mengkritik, bertahan, sarkastik, atau justru pasif terhadap suami atau istri, hanya akan membuat orang tua terlihat tak pernah punya kata sepakat di mata anak. Maka, hindarkanlah! PG
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jika Belum Kompak...
Banyak ayah dan ibu yang tak sepakat dalam berbagai hal, sehingga di antara mereka sering timbul konflik yang membingungkan anak. Konflik ini harus segera diatasi agar anak tak semakin bingung, atau malah berbuat semaunya. Inilah saran-saran Sharp dan Gable, jika dalam keseharian ayah dan ibu belum kompak dan masih sering terlibat konflik:

1. Berkomunikasilah dengan jelas dan tak menyudutkan. Gunakan pernyataan “Saya” (misalnya, “Saya rasa...” atau “Saya tersinggung oleh...”) ketimbang pernyataan yang dimulai dengan “Kamu” (misalnya, “Kamu melukai saya”).
2. Dengarkan dengan sabar. Saat suami atau istri menumpahkan perasaan atau mengutarakan pandangannya, simak baik-baik. Jangan memikirkan ucapan untuk menyanggahnya.

3. Ciptakan iklim pengertian dan saling menghargai. Tiap kali ada konflik, cobalah melihat dari sisi lain atau perspektif yang berbeda. Siapa tahu ada titik temu.

4. Berusaha tetap tenang. Jika salah satu mulai jengkel, sebaiknya hentikan dulu pembicaraan. Lakukan cara apa saja untuk menenangkan diri -- ambil nafas dalam-dalam, merendahkan posisi tubuh (misalnya: tadinya berdiri, lalu duduk) -- sampai tenang kembali.

5. Berusaha tetap fokus pada sumber konflik saat itu. Godaan untuk memperlebar masalah kadang begitu besar (misalnya, mengait-ngaitkan dengan masalah lain, atau mengungkit-ungkit masalah yang sudah lewat). Tahanlah godaan ini dengan tidak membahas hal-hal lain.


sumber : http://www.parentsguide.co.id/dsp_content....&eyear=2008


[Close]


semoga memberi inspiri Peace.gif
Danu_Murphy
Kendalikan perilakuClick to open spoiler!

Kendalikan Perilaku Bossy Anak


"Ambilin minum mbak!" teriak Ruli pada mbak Yem yang setiap hari mengasuhnya. Padahal tempat air minum dengan tempat Ruli berdiri tidak jauh. Artinya Ruli bisa mengambil air minum sendiri, tapi malas dan minta dilayani. Mbak Yem pun dengan cekatan memenuhi permintaan "majikan" kecilnya. Ternyata tidak hanya air minum saja, semua keperluan Ruli, mbak Yem siap sedia memenuhinya.

Perilaku seperti itu tidak hanya dimiliki oleh Ruli saja. Banyak anak usia sekolah dasar senang menyuruh pembantunya bahkan ada beberapa yang seenaknya memerintah teman-temannya untuk melakukan beberapa hal.

Kecenderungan bossy atau suka memerintah sebenarnya umum dialami anak usia kurang lebih enam tahun. Psiokolog anak dari RSUD Cengkareng, Roslina Verauli, M.Psi mengatakan pada usia ini anak ingin menunjukkan superioritas atau keakuannya dengan cara menyuruh orang lain melakukan apa yang diinginkannya.

"Pada usia seperti itu anak memang sedang terbentuk identitas keakuannya. Namun intensitas bossy seorang anak akan berbeda satu dengan yang lainnya," kata Vera panggilan akrab Roslina Verauli.

lebih lanjut Vera menjelaskan intensitas ke'bossy'an anak dipengaruhi oleh dua hal yakni gen dan lingkungan. Gen atau temperamen bawaan diwarisi sejak lahir. Anak terlahir dengan watak keras. Sifat bossy anak harus dikelola secara baik agar saat dewasa nanti sifat ini bisa menjadi aset orang tua. Namun sifat bossy anak dapat menjadi ekstrim jika lingkungan justru membuat anak semakin menjadi dengan ke'bossy'annya.

Vera mengatakan lingkungan dapat memupuk anak menjadi bossy. "Faktor lingkungan akan memberikan pengaruh yang kuat pada terbentuknya perilaku anak. Dan keluarga adalah faktor terbesar," papar vera.

Perilaku orang tua yang bossy pada pembantu atau pengasuh akan mudah ditiru anak. Vera menegaskan anak adalah peniru ulung apalagi jika yang menjadi model perilakunya adalah orang yang diidolakan anak. Apalagi bila orang tua biasa 'mengistimewakan' anak seperti membiasakan anak dilayani oleh pengasuh atau pembantunya.

Perilaku bossy jika dibiarkan saja akan merugikan diri anak. Umumnya anak yang bossy tidak disukai teman-temannya. Vera mengatakan sebenarnya sifat bossy bisa menjadi aset untuk membentuk perilaku pemimpin (leadership) karena perilaku ini merupakan cerminan kepribadian yang kuat.

"Anak-anak bossy biasanya menonjol diantara teman-temannya dan cenderung menjadi pemimpin. Tentunya hal ini menjadi kebanggaan bagi orang tua," katanya. Pengembangan konsep diri anak bossy jika dikelola dengan baik juga dapat membuat anak menjadi mandiri dan tidak mudah terpengaruh orang lain.

Hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mengelola sifat bossy anak adalah dengan memberikan anak kepastian dan pilihan yang bertanggung jawab. Anak bossy cenderung pembantah dan mau menang sendiri. Saat menginginkan sesuatu, anak berwatak seperti ini menuntut harus dipenuhi. Untuk mengendalikan, orang tua yang cermat dapat mengajukan beberapa syarat yang dapat dipertanggungjawabkan oleh keduabelah pihak.

Selain itu pengawasan aktivitas sosial anak adalah penting. Orang tua bisa memberikan arahan yang baik jika anak menunjukan perilaku bossy-nya. Jika anak masih ngotot orang tua bisa meninggalkan untuk beberapa saat.

"Saat anak teguh pada keinginannya orang tua bisa meninggalkannya beberapa saat. Cukup setengah sampai satu menit saja. Jika ditinggal lama-lama dalam kondisi seperti ini anak mungkin saja frustasi," ungkap Vera.

Akan lebih baik jika orang tua memusatkan diri pada prilaku bossy dan membatu anak untuk mengelola sifat bossy agar menjadi perilaku yang baik. Dalam hal ini orang tua perlu berkomunikasi dengan baik dan terbuka. Sehingga sifat bossy anak dapat terkendali dan menjadi aset yang menguntungkan saat dewasa./cr1/itz


sumber : http://www.republika.co.id/berita/40379/Ke...laku_Bossy_Anak


[Close]


semoga memberi inspirasi Peace.gif
Danu_Murphy
kok ngumpetClick to open spoiler!

Kok Ngumpet, ayo salaman dong!


Sebagai orangtua, pernahkah mengalami si kecil beringsut dibelakang Anda ketika menemui seseorang yang baru dikenal? Atau menolak bersalaman, bahkan dengan wajah yang sudah dikenal seperti Kakek atau Nenek? Meskipun terkadang menjengkelkan, Anda tak perlu khawatir hal itu akan berubah sejalan dengan perkembangan waktu.

Hal itu biasa terjadi pada saat anak berusia delapan bulan. Sebagian besar bayi yang mulanya suka mengoceh dengan gembira bisa berubah menjadi anak yang melekat secara berlebihan, memilih bersembunyi dari pandangan orang-orang yang tidak dilihatnya setiap hari.

Perilaku tersebut disebabkan ketegangan terhadap hal asing (stranger anxiety). Meskipun hal itu terdengar suatu peyimpangan yang mengkhawatirkan, namun prilaku ini merupakan hal normal dari perkembangan balita.

Spesialis anak ternama sekaligus penulis buku Touchpoints, Dr. T. Berry Brazelton memaparkan, ketegangan terhadap hal asing menandakan adanya perkembangan intelektual yang pesat. Pada saat anak pada usia delapan bulan, tiba-tiba dia memahami ada perbedaan antara ibunya dengan kakak perempuannya atau ayah dengan kakak laki-lakinya atau orang lain yang sangat dekat.

Hal itu bagaikan membuka pemahaman bagi anak, ”sekarang aku bisa membedakan”. Tentu saja hal itu menjadi sangat penting bagi mereka, saat Paman atau Kakek atau Nenek datang untuk mengunjungi, maka si kecil akan melihat perbedaannya kemudian dianggap sebagai ketegangan terhadap orang asing.

Saat orangtua menyadari anaknya mengalami hal tersebut, maka akan semakin mudah diatasi.

”Dibandingkan melihat hal ini secara negatif, maka orangtua dapat mengatakan kepada orang lain untuk tidak terlalu cepat mendekati anaknya. Sebaiknya menunggu dan membiarkan ia datang dengan sendirinya. Hal itu merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dari anak berusia delapan bulan,” terang Brazelton.

Sejalan dengan perkembangannya, maka anak akan semakin percaya diri, perilaku melekat berlebihan yang ditandai dengan ketegangan saat bertemu orang lain akan berlalu. Sementara itu, orangtua dapat memberikan pelukan dan waktu yang lebih untuk si kecil beradaptasi dengan wajah baru. (ri)

sumber : http://www.republika.co.id/berita/26664/Ko...yo_salaman_dong


[Close]


semoga memberi pencerahan Peace.gif
Danu_Murphy
stop kebiasaan mengisap jariClick to open spoiler!

Stop Kebiasaan Mengisap Jari

TEGANG: Anak usia bawah lima tahun (balita) biasanye mengisap ibu jari untuk mengusir ketegangan dan membuatnya nyaman. Hentikan kebiasaan itu jika anak sudah berusia diatas empat tahun.


Banyak anak-anak yang memiliki kebiasaan mengisap ibu jari atau jempol tangan. Lebih dari sepertiga bayi mengisap jempol dalam tahun pertama kehidupannya. Sekitar 15 persen dari anak-anak akan melanjutkan kebiasaan itu hingga usia lima tahun.

Anak usia bawah lima tahun (balita) umumnya mengisap jempol saat merasa lelah, takut, bosan, sakit, atau mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang baru.

Contohnya, saat ia harus masuk ke tempat penitipan anak atau kelompok bermain untuk pertama kalinya atau sedang dalam perjalanan yang memakan waktu lama. Mengisap ibu jari juga biasa dilakukan saat anak hendak tidur malam atau terbangun di tengah malam.Bagi anak, kebiasaan itu bisa membuatnya tenang.

Namun, sebenarnya hal tersebut dapat memicu masalah pada kondisi mulut dan gigi, terutama jika mereka masih melakukannya setelah usianya lebih dari empat tahun,

Sebagian besar anak tidak berhenti dengan sendirinya. Kebiasaan mengisap jempol berkepanjangan dapat diartikan sebagai pertanda dari masalah perilaku seperti depresi atau ketegangan.

Biasanya ketika mereka berusia 6-8 tahun atau saat mulai masuk sekolah. Juga, dengan meningkatnya tekanan teman sebaya, anak-anak lebih dapat mengontrol perilakunya itu. Namun, ada baiknya jika orangtua membantu menghentikan kebiasaan tersebut sebelum usia empat tahun.

Yang perlu diingat kata-kata kasar, mengolok-olok atau memberi hukuman bukan cara efektif untuk membantu anak. Sebaliknya, kebiasaan itu bisa bertambah parah. Menghukum juga bukan cara yang efektif untuk menghilangkan kebiasaan mengisap jari.

Ada beberapa saran dari US National Library of Medicine untuk membantu anak Anda menghentikan kebiasaan tersebut:

* Tanya dokter anak Anda mengenai kemungkinan menggunakan pelidung ibu jari.
* Oleskan sesuatu yang pahit di jari anak Anda. Di Indonesia, ibu-ibu biasa menggunakan kunyit atau brotowali Tapi, pastikan untuk selalu mengecek dengan dokter anak Anda untuk memastikan keamanannya.
* Buat perjanjian dengan anak Anda. Jika dia setuju untuk menghentikan kebiasaannya, tawarkan hadiah.
* Berikan pujian dan perhatian jika Anda melihat anak Anda tidak lagi mengisap jarinya.
* Jika gigi anak Anda sudah terlanjut terkena efek mengisap jari, konsultasi dengan dokter gigi anak untuk memperbaikinya. (healthday/ri)

sumber : http://www.republika.co.id/berita/25589/St...n_Mengisap_Jari


[Close]


semoga memberi pencerahan Peace.gif
The Contractor
^^
^^
Ponakan gw (anak kakak ipar) ampe sekarang ga bisa lepas dari kebiasaan ini, padahal sekarang dah kelas 1 SD.
ijin copas ma bro Peace.gif
Riko_Mr.ON
Bener2 bermanfaat bro...
Danu_Murphy
tambahin lagi ach ... infona ..

Ciptakan suasana baca si kecilClick to open spoiler!

Ciptakan Suasana Baca Bagi Si Kecil

MEMBACA BERSAMA: Biasakan si kecil untuk membaca dan beri waktu khusus untuk membaca bersama dengan orang tua


Rumah yang diisi buku-buku bacan adalah satu cara baik mendidik anak menjadi antusias dan lancar dalam membaca. Lalu buku macam apa yang harusnya anda punya? Tanyalah kepada si kecil anda, apa minat dan ketertarikan mereka. Jika anak-anak terlalu muda untuk memilih, anda bisa mengisi perpustakaan rumah anda dengan buku-buku yang masuk segala golongan usia anak.

Ada beberapa tips untuk membantu orang tua, pertama masukkan berbagai variasi pilihan buku bagi anak. Koleksi pula buku-buku papan atau buku dengan kaca dan tekstur berbeda-beda untuk balita. Sementara anak lebih dua akan menikmati berbagai macam fiksi, nonfiksi, puisi termasuk kamus dan berbagai macam buku referensi lain.

Anak-anak sebenarnya dapat memahami cerita, namun kadang tak bisa dilakukan bila mereka membacanya sendiri. Jika ada buku menarik yang menantang anak anda, cobalah dengan membaca bersama. Anak-anak lebih muda dapat melihat ilustrasi dan gambar-gambar untuk memahami dan menanyakan beberapa hal ketika mereka membaca.

Dan juga, jangan batasi materi bacaan hanya seputar buku. Anak-anak bisa jadi dapat menikmati, majalah, buku audio, kartu pos dari saudara, album foto, koran, komik, bahkan internet. Meski tentunya orang tua harus selalu mengawasi keamanan isi bacaan yang sesuai usia anak-anak.

Pilihlah materi bacaan yang mudah dibawa. Simpanlah buku-buku berbobot dengan mainan agar anak muda mengeksplorasi. Buku-buku dekat meja dan kursi tinggi sangat membantu mengalihkan perhatian anak kecil di saat yang tepat. Buku plastik pun dapat dibawa ke kamar mandi. Simpan pula buku-buku dekat kursi yang nyaman atau sofa dimana anda dapat memeluk anak anda setelah acara makan dan tidur siang.

Untuk menciptakan suasana berbeda, bila perlu, ciptakan ruang khusus untuk membaca, terutama bila ruang di rumah anda mengijinkan. Ketika anak-anak tumbuh, tetap taruh-taruh buku sesuai usia dan majalah di raknya sehingga mereka mampu meraih bacaan favorit di rumah. Buat rak dapat terlihat dan aturlah buku sebaik mungkin sesuai kategorisasi. Tempatkan beberapa buku dengan cover menghadap depan sehingga mudah dilihat. Letakkan keranjang berisi buku-buku atau majalah di dekat tempat favorit mereka saat duduk. Sebagai orang tua ada baiknya membuat pojok membaca yang nyaman serta mendorong anak-anak menggunakannya dengan menjadwalkan "waktu pojok-membaca" setiap hari.

Pastikan area membaca memiliki cukup penerangan. Agar tak bosan ubahlah materi bacaan, menambah buku-buku sesuai musim, merotasi tatanan buku dalam rak, memasukkan buku-buku yang berkaitan dengan minat anak atau pelajaran di sekolah. Sangat menarik lagi bila pojok-membaca diberi hiasan hasil karya si anak. Jangan lupa pula taruh pemutar musik di dekat koleksi buku audio anda.

Salah satu cara mendorong anak gemar membaca iala mengajak mereka menulis. Biasakan mereka menulis, bisa dengan membuat pusat seni dan menulis kecil dalam rumah di mana anak merasa nyaman berkreasi membuat tulisan, puisi, poster dan sebagainya. Anak-anak selalu menyukai membaca hasil tulisan yang mereka buat atau membagi karya mereka dengan keluarga dan teman.

Kiat lain tak kalah penting adalah pikirkan tentang atmosfer. Beri waktu pad anak untuk diam beberapa saat setiap hari untuk membaca atau menulis. Batasi kebiasaan menghabiskan waktu di depan layar--termasuk TV, komputer, video games--demi memastikan mereka memiliki waktu untuk membaca.

Membacalah bersama dengan anak anda. Ini tak ada salahnya, justru kebiasaan ini akan semakin melekat, sebab anak menganggap itu adalah kebiasaan keluarga. Tawarkan ia membaca dengan suara keras, atau minta anak anda membacakan topik menarik dari majalah favoritnya. Buatlah kebiasaan berkumpul untuk kegiatan membaca dan berbagi waktu sunyi bersama-sama./parents.org/itz


sumber : http://www.republika.co.id/berita/38652/Ci...a_Bagi_Si_Kecil


[Close]


semoga memberi inspirasi .. Peace.gif
Danu_Murphy
Saatnya si kecil masuk TKClick to open spoiler!


Saatnya Si Kecil Masuk TK




Menjelang tahun ajaran baru seperti saat ini, biasanya orangtua bersiap-siap mencarikan sekolah untuk si kecil. “Pinginnya sih mencari play group dan TK yang terbaik untuk si kecil,” ujar Destia.

Semua orangtua pasti ingin seperti Destia, sebisa mungkin memasukkan anaknya di sekolah dengan mutu pendidikan yang terbaik. Sebab dasar dari perkembangan anak-anak terbentuk ketika mereka duduk di bangku play group atau TK. Salah pendidikan di jenjang pendidikan ini kelak bisa berakibat fatal. Mampukah si kecil beradaptasi dengan lingkungan formalnya yang baru?

Agar tak bingung, semoga panduan berikut ini bisa membantu Anda:

Pertama
Anda boleh pilih-pilih play group atau TK sebanyak mungkin, bahkan jangan segan untuk melakukan trial class. Kemudian bandingan masing-masing play group atau TK tersebut. Bagaimana fasilitasnya, pengalaman pengajarnya, dan pola pengajarannya.

Fasilitas di sini maksudnya adalah fasilitas bermain yang bisa menstimulasi motorik halus, motorik kasar dan sosialisasi bagi si anak. Sedangkan untuk pengalaman guru, pastikan masing-masing guru maksimal meng-handle empat anak. Serta satu kelas hanya berisi tak lebih dari 20 anak. Mengapa harus pilih pengajarnya yang berpengalaman?

Sebab guru inilah yang kelak ikut berperan dalam membentuk pribadi si anak. Dari sekian anak berusia di bawah tiga tahun, si guru harus bisa sabar tak hanya mengajari namun juga menghandle emosi serta karakteristik anak yang berbeda-beda.

Kedua
Lama belajar juga harus diperhatikan. Sebab, kemampuan efektif belajar anak play group atau TK maksimal hanya sampai 30 menit. Pilih play group atau TK yang memberikan selingan bermain pada saat anak belajar lebih dari setengah jam.

Ada juga orangtua, yang dengan berbagai pertimbangan menginginkan anaknya langsung masuk TK tanpa harus Play group. Nah, agar si kecil siap masuk sekolah, berikut ketrampilan dasar yang dimilikinya:

1. Pastikan si kecil sudah bisa menyebut namanya sendiri, alamat rumah dan nomor telpon rumah.
2. Meski belum fasih, tapi ia sudah bisa memakai dan melepas baju sendiri. Terutama baju yang berkancing depan.
3. Bisa pipis dan mencuci tangannya sendiri.
4. Senang bermain bersama teman sebaya.
5. Sudah memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak.
6. Tidak minder dan mempunyai perasaan positif terhadap diri sendiri.
7. Si kecil sangat senang ketika diajak berbicara mengenai rencana sekolahnya.

Sebagai orangtua, Andapun harus memiliki persiapan sebelum mengantarkan anak ke sekolah pertamanya. Apa sajakah?

1.Saat pencarian sekolah, usahakan si kecil ikur agar ia merasakan suasana sekolah.
2. Perkenalkan anak buku-buku bacaan yang cocok untuk usianya.
3. Setiap hari tambahkan pengetahuannya misalnya mengenalkan nama benda-benda.
4. Mulai batasi waktunya untuk menonton televisi.
5. Batasi waktu menonton televisi. Mulai latih anak untuk belajar bangun pagi atau dengan jam yang telah Anda berdua sepakati. Demikian juga dengan waktu tidurnya.
6.

Ajak si kecil memainkan permainan yang sesuai dengan usianya, dan ajak dia untuk belajar mematuhi aturan permainan tersebut. "Tidak ada tangisan, tidak ada marah dan tidak ada jeritan".

Demi pendidikan terbaik si kecil, sangat disarankan agar para orangtua untuk tak segan-segan untuk meluangkan waktu hunting informasi mengenai play group atau TK. Lebih baik ribet di depam daripada menyesal dikemudian hari bukan?

sumber : http://www.conectique.com/tips_solution/pa...article_id=6708


[Close]


semoga memberi pencerahan .. Peace.gif
shashmily
thanks banget om sam Hug.gif ,, udah lama g OL,,, shas baru tau....

shas tambahin ya... wink.gif

Tak Usah Panik Mendapati Anak "Masturbasi"




Wajar, kok, bila si kecil memainkan alat kelaminnya karena memang sedang fasenya. Tapi, tetap harus dicegah dan ditangani secara tepat.

Umumnya, orang tua langsung panik kala mendapati anak prasekolahnya memegang-megang atau memain-mainkan alat kelaminnya. Hingga, dimarahilah si anak. Padahal, seperti diungkap Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, Psi.MM, dari LPT UI, Jakarta, perilaku demikian wajar terjadi pada anak usia 3-6 tahun. "Anak usia ini memang suka bermain-main dengan alat genitalnya untuk mencapai kenikmatan. Sebab, pusat kenikmatan anak di usia ini berada di sekitar alat genitalnya, yang disebut fase phallic."

Lebih jauh dijelaskan Ratih, fase phallic merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Awalnya, dari usia 1-1,5 tahun, pusat kenikmatan anak berada di mulut, disebut fase oral. Itulah mengapa, di usia tersebut anak senang sekali memasukkan segala sesuatu ke mulut. Berikutnya, pada umur 1,5-3 tahun, anak berada pada fase anal; dia mulai menahan keinginan BAB-nya. Selanjutnya, anak mengalami fase phallic. "Fase ini biasanya akan berhenti sampai anak berumur 6 tahun."

HARUS DICEGAH
Jadi, tahapan ini merupakan fase yang normal, ya, Bu-Pak. Bukan berarti si kecil tengah melakukan masturbasi. Walau begitu, kita tak boleh membiarkan si kecil asyik memainkan alat kelaminnya. Sebab, terang Ratih, "Jika sudah menjadi kebiasaan, maka inilah yang dinamakan dengan masturbasi."

Untuk itu, kita harus mencegahnya. Namun, jangan lantas kita girap-girap alias panik; berteriak-teriak atau marah, bahkan memukuli anak kala melihatnya tengah memainkan alat kelaminnya. Cukup katakan dengan tenang kepadanya, "Kak, penisnya jangan dibuat mainan, nanti lecet, lo." Atau, "Jangan sering melakukan itu, ya, Kak, supaya vaginanya enggak lecet. Kalau lecet, nanti kalau mau pipis, sakit lo." Selanjutnya, alihkan perhatian anak. Pindahkan tangannya dari aktivitasnya itu, lalu beri mainan yang menarik minatnya. Bila perlu, ajak dan temani anak bermain, hingga ia lupa dengan aktivitasnya tadi.

Jika orang tua bekerja, pesan Ratih, sebaiknya pesankan kepada pengasuh agar melakukan hal yang sama. Minta si pengasuh untuk menegur dan mengingatkan anak kala kedapatan tengah melakukan aktivitas tersebut. Juga, minta dia sering mengajak anak bermain hingga anak lupa pada aktivitasnya itu.

TANGANI SECARA TEPAT
Yang jelas, dalam menyampaikan larangan kepada anak, jangan sampai menunjukkan rasa panik. Ingat, anak seusia itu punya rasa ingin tahu. Jika ia melihat respon dari orang tua atau lingkungannya demikian, anak akan merasa, "Ini ada apa, sih? Pasti ada yang menarik di sini." Maka dia akan terus melakukan aktivitas itu, bahkan akan jadi makin terfokus ke sana. Jadi, kebiasaan melakukan masturbasi bisa terjadi pada penanganan yang tak tepat.

Apalagi, anak sebenarnya memegang-megang alat kelaminnya tanpa berpikir panjang. "Pokoknya, enak dipegang. Lalu karena respon ibunya keliru, misal, jadi marah, histeris, atau anaknya dipukuli, tanpa sadar ini justru memacu anak untuk lebih sering memainkan alat genitalnya atau semacam mendapat stimulus. Mungkin ia melakukan kebiasaan tersebut dengan cara mencuri-curi."

Nah, karena merasa nikmat, anak akan melakukan itu secara terus-menerus. Bahkan bisa hingga masa pubertasnya. Pada masa pubertas, stimulasinya akan berbeda lagi. "Mungkin tadinya cuma geli-geli saja, begitu sudah remaja, akan ada fantasi seksual yang menyertai atau ada perilaku seksual tertentu yang menyertai."

Selain itu, karena mendapat stimulus terus, bisa terjadi penis si Buyung akan berdiri. "Bisa saja saat itu anak mendekat kepada ibunya dan menggosok-gosokkan penisnya kepada ibunya. Kalau ibunya lantas girap-girap atau 'heboh', anak bisa melakukan terus atau malah mencari objek lain." Lain hal jika si ibu memberitahu, "Kak, stop! Jangan begitu, dong. Tuh, lihat di televisi ada apa?" Atau, "Ayo kita bermain." Jadi perilaku anak yang distop.

Sebab, bagaimanapun, papar Ratih, yang namanya masturbasi seperti kecanduan narkoba. Ada levelnya. "Pertama cuma pegang-pegang, lalu makin lama makin berkembang menjadi advanced. Selanjutnya jadi makin canggih dengan tingkat kerumitan yang makin tinggi." Kalau ini menjadi kebiasaan, mungkin kelak alat genitalnya tak bisa berfungsi secara wajar saat akan berhubungan dengan istrinya. Namun bila penanganannya tepat, biasanya pada umur 6 tahun kebiasaan memegang-megang alat kelamin atau "masturbasi" ini akan hilang sendiri.

BEDA DENGAN ORANG DEWASA
Memang, reaksi spontan orang tua yang marah atau teriak, lebih karena ia belum tahu perilaku "seksual" anak-anak. Biasanya orang tua mengira perilaku seksual anak akan sama dengan perilaku orang dewasa. Padahal, pada masa kanak-kanak, anak masih makhluk aseksual karena ia belum mengalami pubertas.

Jadi, orientasi anak bukan seperti pada perilaku seksual orang dewasa. Keterangsanganya juga berbeda, walau anak bisa menikmati. "Jika pada orang dewasa, untuk mencapai kepuasan seksual menggunakan organ seksualnya dengan perilaku seksual. Maka pada anak, 'seksual'nya lebih pada kalau penisnya dipegang, disentuh, dan dielus. Itu menimbulkan rasa nikmat." Walaupun demikian, tak membuat anak ereksi. Ereksi pada anak yang berumur prasekolah jelas berbeda dengan orang dewasa. "Biasanya pada anak, ereksi akan muncul di pagi hari setelah bangun tidur, mau kencing atau setelah kencing." Namun sekali lagi, sekalipun fokusnya bukan pada seksual, tapi jangan pernah bosan mengingatkan anak untuk tak mempermainan alat genitalnya.


ADA beberapa cara agar anak tidak melakukan masturbasi di tempat umum.
1. Tetapkan batasan.
Jelaskan kepada anak bahwa aktivitas yang dilakukannya sangat pribadi, sama seperti mandi di kamar mandi atau pipis di toilet. Aktivitas tersebut sebaiknya hanya dilakukan di kamar tidur atau kamar mandi.

2. Alihkan.
Cobalah mengalihkan perhatian anak dengan aktivitas lain yang juga melibatkan tangannya. Jika belum berhasil, jelaskan kepada anak kalau aktivitas itu boleh dilakukan di kamar dan kamar mandi, dan jangan melakukannya saat orang sedang berada di sekelilingnya. Bila masih sulit, segera bawa anak ke kamarnya.

3. Abaikan masturbasi saat waktu tidur.
Minta pengasuh untuk merespon masturbasi yang dilakukan anak dengan mengalihkan perhatiannya. Sebaliknya, jika masturbasi dilakukan saat tidur, kita tak perlu menghiraukannya.

4. Jelaskan hal yang bersifat pribadi.
Anak usia dua tahun sudah bisa diberitahu bahwa sebagian tubuhnya adalah bersifat pribadi. Tidak ada seorang pun kecuali dirinya, orangtua, dan dokter yang boleh menyentuhnya.

5. Beri perhatian lebih.
Perbanyak pelukan dan bentuk perhatian lainnya dari orangtua terhadap anak. Bisa jadi, anak melakukan masturbasi karena kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Merangkul anak setiap saat dapat menghindarkan anak dari masturbasi.

6. Berikan mainan.
Berikan anak benda yang aman seperti boneka dan selimut yang bisa dibawa ke tempat umum. Sebab, bisa saja ia melakukan masturbasi untuk membuat dirinya nyaman dalam situasi yang tidak dikenali.

7. Beri reward.
Untuk anak yang mengalami keterlambatan perkembangan atau cacat mental yang mungkin tidak mudah memahami pentingnya alasan, tindakan positif bisa membantu. Contohnya, memberi “hadiah” berupa perlakuan khusus kepada anak jika tidak bermain dengan alat kelaminnya.

8. Jangan menghukum.
Anak sebaiknya tidak dihukum secara fisik, dibentak, maupun dimarahi karena melakukan masturbasi. Jangan pula menyebut masturbasi itu buruk, kotor, berdosa, apalagi sampai mengikat tangan anak. Semua hal itu justru akan membuat anak melawan dan mengalami hambatan seksual di kemudian hari.

kesimpulan dari shas,,, jadi,.. setiap anak dalam range umur 5-7 tahun, kebanyakan mereka sudah pernah mengalami orgasme,,,dan karena masa itu adalah masa phalic,, masa dimana alat genital sebagai pusat kenikmatan,, makanya si anak mengira bahwa apa yang dilakukannya nikmat dan ga membutuhkan orang lain untuk ngelakuinnya,,, dan itu berbeda dengan orang dewasa,, jadi sebagai orang tua,, tinggal bagaimana kita mengarahkan.. Peace.gif
The Contractor
ikut nambahin juga ya sis Peace.gif

Beberapa Tips Cara Mengendalikan Anak yang Suka Mengamuk


Penyebab anak mengamukClick to open spoiler!

Anak Anda suka mengamuk ?
Beberapa kondisi / kemungkinan yang membuat Anak mengamuk :

1. Anak merasa frustasi atas keterbatasan yang dimiliki dirinya seperti : bentuk tubuhnya yang masih kecil tidak memungkinkan untuk melakukan berbagai macam aktifitas yang diinginkan, seperti menjangkau tempat - tempat tinggi yang biasa digunakan oleh orang tuanya untuk meletakkan barang mainan yang paling disukainya atau, keinginannya untuk keluar dari box tempat dia biasa bermain / istrirahat karena mungkin dia melihat sesuatu benda yang cukup menarik perhatiannya di luar area box tersebut dan lain - lain

2. Anak merasa terancam / takut secara meluap - luap atas sesuatu hal seperti : takut ditinggal sendiri, takut terhadap sebuah benda / binatang / orang atau takut pada kegelapan dan sebagainya sehingga dia merasa sangat terpojok dan merasa sangat putus asa karena merasa tidak mampu menghadapinya sendiri tanpa didukung oleh salah satu atau kedua orang tua atau lingkungannya saat itu

3. Anak merasa kesal sekaligus marah karena keinginannya tidak terpenuhi secara tuntas oleh lingkungannya yang mungkin disebabkan karena kesulitan komunikasi antara keinginan si Anak dengan tanggapan yang didapatnya dari lingkungan sekitar dia beraktifitas, seperti : kemampuan berbicara yang masih belum sempurna, gerakan anggota tubuh yang masih belum terkoordinasi dengan baik dan sebagainya

Beberapa bentuk amukan Anak:
1. meronta - ronta
2. berlari - lari tak tentu arah
3. berguling - guling
4. berteriak
5. menangis dengan keras
6. melempar atau menarik
7. memukul
8. mengumpat
9. melukai dirinya sendiri dengan berbagai macam cara
10. dan lain - lain ... yang cenderung ke arah yang cukup mengkhawatirkan kita sebagai orang tuanya

Frekwensi amukan Anak dalam suatu kurun waktu tertentu misalnya dalam sehari, akan semakin menurun / sedikit dengan semakin bertambahnya usia Anak tersebut.
Biasanya, Anak yang memiliki karakter suka mengamuk tersebut memiliki keaktifan dan kecerdasan diatas rata - rata bagi anak seusianya karena "sebenarnya" dia sudah tahu apa yang dia inginkan tetapi terbentur oleh beberapa kondisi seperti yang telah disebutkan diatas.


[Close]

Cara mengatasinyaClick to open spoiler!

Beberapa saran yang mungkin bisa Anda gunakan dalam meredakan / menghadapi amukan Anak :
a. Jangan memarahinya, jangan membentaknya dan jangan menyakiti fisiknya seperti : mencubit, memukul atau menyentil atau yang lainnya. Kelak, Anak Anda akan meniru perlakuan Anda menjadi seorang pemarah yang mungkin akan lebih temperamental dibanding sifat orang tuanya. Ada kalanya Anak yang sudah mulai reda dari amukannya akan kembali mengamuk karena perlakuan kasar Anda (memarahinya dengan suara yang meninggi / memukul / mencubit).
Jadi, berusahalah tenang, selalu sabar dan selalu menggunakan akal sehat kita untuk menghadapinya seperti : dengan memberinya pemahaman atas hal yang terjadi lewat permainan kata - kata yang dikemas dengan lembut dan bijak tanpa perlu berdebat atau memaksakan kehendak kita terhadapnya. Karena pada saat Anak mengamuk, mereka tidak menggunakan akal sehat, hanya bisa mengamuk dan mengamuk lagi saja.

b. Jangan pernah membuat Anak merasa diberi hadiah atau merasa dihukum karena mengamuk. Begitu juga, agar jangan mengabulkan keinginan Anak karena ia mengamuk. Sebab Anak akan belajar / berpikir bahwa amukannya membawa kemenangan bagi dirinya yang akan mengakibatkan peningkatan kadar ke - egoisan Anak pada masa pertumbuhan selanjutnya.
Abaikan saja amukannya, biarkan dia mereda sendiri. Setelah itu, baru kita perjelas pokok permasalahannya, berikan solusi dan konsekwensinya atas tindakan dia barusan.

c. Memperkecil kemungkinan Anak untuk melukai diri sendiri atau orang lain atau merusak sesuatu. Karena pada saat mengamuk, Anak tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Dia juga sangat ketakutan dan bingung dengan amarahnya.
Beri sentuhan atau pelukan lembut dari arah belakang tubuh si Anak. Dan bila dia menolak / tidak mau dipeluk, maka jangan memaksa, biarkan dia menangis atau bergulingan atau duduk di lantai tapi, ... awasi ketat Anak Anda dan lingkungan sekitarnya, cegah secepatnya bila Anak hendak menyakiti dirinya sendiri seperti : memukul dirinya sendiri atau membenturkan kepala / bagian tubuh lainnya ke lantai atau dinding atau sebagainya yang kita anggap berbahaya. Dan singkirkan semua barang - barang di sekitarnya yang mungkin bisa membahayakan Anak Anda secepatnya.

d. Tidak perlu merasa malu menangani amukan Anak di depan umum. Banyak orang tua yang merasa malu jika anaknya mengamuk di tempat umum sehingga mereka akan segera menyogok Anaknya agar amukannya reda. Hal ini akan sangat merugikan, karena begitu Anak Anda belajar tentang situasi ini, dia akan selalu menggunakan amukannya sebagai senjata agar semua keinginannya dikabulkan. Jika ini terjadi, maka orang tua akan sulit mengendalikan keinginan Anak. Kelak, orang tua tersebut baru akan menyadari serta mengeluhkan sifat Anaknya yang menjadi amat manja, cengeng, galak, egois, banyak maunya dan rewel.

[sumber : www.jasaumum.com]


[Close]


Semoga bermanfaat Peace.gif
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.