part 4
daun-daun oak yang meniduri pekaranganmu,
masih terbisu walau angin-angin bersiulan,
begitu pula dengan perapian di sudutmu,
masih menghangatkan mantel kesunyian
seperti saat kita melempar kerikil ke langit,
tak ada lubang di atas sana,
untuk meneruskan doa-doa pagi
atau menerbangkan khayalan tentang bintang merona.
salju-salju tipis melumuri ingatanku
akan sebuah pondok kecil,
bernama mimpi.
kau membuka tawa bersama sebotol anggur
dari lemari berlacikan dua wajah,
menghadap dan membelakangi selatan.
akan kubiarkan seluruh embun di pucuk cemara itu,
membasahi tiap helai rambutku,
hingga jejak-jejak jemarimu hanyut
menyentuh tanah dan meresap ke bumi
nisan yang dungu!
hanya terbujur kaku, tanpa gerik sedikitpun,
atau teriakan rindu untuk kedatangan ku.
bahkan, nama mun pun tak tertulis benar disana,
hanya tiga huruf yang tertinggal,
bye
*eiger