kalo gw malah melihat tetralogi LP berbeda dengan brader dan sis sekalian, menurut gw buku yang paling natural adalah sang pemimpi, karena kenapa, hanya buku itu yang mendekati kehidupan nyata, sedangkan buku2 yang lain kebanyakan menjual mimpi. seperti laskar pelangi, disana pembaca akan tercengang2 dengan kepandaian olah prosa "Ikal", pada bab2 awal, bukankah disana yang digunakan sudut pandang ikal yang seorang murid SD, terlalu over menurut gw pribadi dan terlihat aneh
contohnya saja, masa iya seorang anak SD yang hafal hampir semua nama latin tumbuh2an, mengerti teori relativitas, dan percepatan cahaya tetapi ngga kenal sama rhoma irama, bahkan lambang garuda pun dibilang burung aneh yang selalu menoleh kekanan.
oke lah itu semua untuk menciptakan dramatisasi kata, tapi tetap menurut gw over, kenapa ga sedari awal cerita yg dipakai sudut pandang ikal dewasa menggunakan plot maju mundur misalnya..
trus buku ke2 "Sang Pemimpi" dari ke empat buku LP jujur ini yang paling gw suka, emang ga terlalu dalam, tapi pendekatan ke kehidupan nyata lebih terasa disini, menceritakan tentang kenakalan ikal. arai dan teman2nya. terlihat lebih natural dan ga dibuat2, tapi disini justru mengecewakan bagi pembaca yang meyukai roman, karena disang pemimpi, kata2nya ga terlalu bersayap dan ceritanya juga ga njelimet
buku ke3 edensor....terlalu tinggi, agak sukar dijangkau pikiran pembaca...pengalaman arai dan ikal dari mulai mendapat beasiswa, keluar negeri, menemui orang2 asing, mencoba keliling eropa dengan cara backpacked....terasa terlalu menjual mimpi...
buku ke4 maryamah karpov...down gw setelah baca buku ini...memang kelihaian ikal merangkai kata2 disini masih terasa jelas, saat dia menulis filosofi ayam jujur sampai gw ketawa cekikikan sendiri. tapi selebihnya gw kecewa setelah setengah buku gw baca, disaat perundingan dengan tambok, gw pikir bakal ada pertempuran seru, karena dari awal diceritakan tambok itu sangat jahat,tapi ternyata malah selesai hanya dengan memberikan uang

trus emosi pembaca jelas tambah turun setelah berkutat dengan keseruan cerita mencari aling tiba2 kok malah balik ke ikal cabut gigi...ending menggantung bikin gw berpikir jangan2 setelah maryamah karpov akan ada buku lanjutan LP, tapi dibikin berdiri sendiri.
dan satu lagi, ga ada kolerasi antara judul Maryamah Karpov dan isi cerita, gw sempat bingung siapa sebenernya maryamah karpov, ternyata dia adalah ibunda nurmi, masih ingat bibi maryamah (sang pemimpi),dan itupun namanya cuma disebut sekali atau 2 kali di novel itu, sedangkan nama karpov diambil dari nama permainan catur rusia, karena kebetulan bibi maryamah lihai bermain catur.
pelajaran moral buat penulis2 lain, jangan pernah melempar cover dan judul novel terlebih dulu sebelum ceritanya dibikin

wew panjang bener dah...jadi kaya review