QUOTE (paijo edan @ Dec 7 2008, 04:06 AM)

rasis tuh gimana yach, secara umum emang bisa dibilang mirip SARA, tapi jika dikaji lebih dalam segala sesuatu yang ada dalam diri seseorang secara fisik. jadi kalau kita tidak suka bentuk mata yang sipit kita asumsikan chinese, kalu kulit hitam kita asumsikan negro, kalo rambut pirang kita asumsikan bule itu rasis, tapi pada kenyataannya bukan seperti itu. dulu gw sbelum maju skripsi tentang racism Ku Klux Klan gw dihajar mentah2 ma dosen gw (anak sas ing ugm pasti tau pak Bernandus hidayat AKA pak dayat salah satu dosen fave gw nich) dijelasin panjang lebar tentang ras, rasis dan rasisme. tp gw lupa dah jadul bgt. yang paling gw inget tuh satu pertanyaan dari dosen gw itu "kamu seorang rasis bukan?" spontan gw bilang GAK tapi ketika pertanyaan berlanjut "Mbel, misalnya kamu dijak nikah sama negro yang item njleketeg, mau ga? terlepas dari masalah cinta lho ini, mau ga? setelah gw pikir-pikir........mmmmmmmmmmm bener juga, pasti ada dalam diri kita sifat rasis, entah kita sadar atau tidak......
soryyyyyyy, IMHO kalo gw ngerasa bahwa gw nggak naksir cewek negro karena gw anggap dia nggak cantik dalam pandangan gw itu bukan rasis bro. itu masalah selera. nggak bakal juga cewek negro itu naksir gw yang pendek tambun kaya gw, dibandingkan cowok dari rasnya yang biasanya atletis/tinggi/kekar.
gw kria untuk hal ini salah satu hal yang bisa dipersalahkan adalah media massa yang membombardir kita dengan cara mendoktrin kriteria cewek cantik, sehingga cowok2 dari berbagai latar belakang sara bergeser mood dan trendnya menjadi apa2 ayng lebih sering diekspos media. misalnya bahwa wanita cantik itu adalah ayng berambut lurus, berleher jenjang, berkulit kuning langsat seperti di iklan produk pelembab, sampo dan sejenisnya. demikian pula dengan kriteria lelaki ideal-perkasa dll. sepaham saya kriteria keceantikan itu berbeda dari masa ke masa dari tempat ke tempat. saya pernah mbaca tentang sebuah lukisan kuno dengan obyek penari wanita jawa rekaan seniman eropa/belanda yang belum pernah ke jawa di masa itu. artikel itu seih tentang lukisan. tapi bisa dilihat dari lukisan itu kalo penggambran tubuh wanita jawa itu seperti gambaran tubuh wanita eropa dalam lukisan2 kuno di msa itu juga. sebagai contoh distorsi dari penggambaran kecantikan yang lain adalah ketika sebuah kisah berlatar belakang masa lalu difilmkan, coba deh lihat film love of the last empress, apakah permaisuri itu cantiknya kaya bintang film hngkong jaman sekarang? ato ada nilai kecantikan kecantikan masa lalu yang trend dan dimiliki dia? di masa cina kuno, gadis kecil dipaksa memakai sepatu keramik agar pertumbuhan kakinya terhambat sehingga tetap kecil, kaki perempuan yang mungil mempunyai nilai eksotisme yang besar. demikianlah jadi ada di daerah2 tertentu yang menganggap perempuan cantik itu adalah yang pinggulnya besar (lambang kesuburan), ato yang lehernya panjang( yang dipakein gelang2) ato apapun, sesuai adat dan kebiasaan yang berkembang dimasa itu di tempat itu
nah jadi rasis itu kalo gw sampe nganggep negro itu adalah subordinat dari ras gw, bahwa ras gw
selalu dan
pasti lebih baik dari ras dia, ato ras dia
pasti dan
selalu lebih jelek dari ras gw. tapi kalo gw nggak naksir karena tampangnya rasnya masalahnya nggak akan lebih berat dari kenyataan bahwa gw nggak doyan masakan sunda, bali dll.
kata kuncinya adalah
selalu dan pasti, misal: 'saya biasanya benar', kalo gw merasa opini gw itu itu bener itu tidak salah, tapi kalo slalu bener dan pasti bener, maka gw udah puny bakat2 sombong sebagai cikal bakal rasisme
ya kalo mo contoh rasisme jaman sekarang yang masih terjadi itu yang dilakukan zionisme israel terhadap palestina
dan dunia, dalam doktrinnya emereka menganggap bahwa selain ras mereka adalah
ghayyim bukan manusia.
anyway gw mesti menekankan bahwa gw membedakan yahudi sebagai agama,israel sebagai negara, dan zionosme sebagai ideologi, yang saya maksud disini adalah ideologinya
gitu deh.
peace