http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/02/...usan.orang.demo
Laporan wartawan Kompas Iwan Santosa
Lurah Hamili Warga, Ratusan Orang Demo

QUOTE
JAKARTA, SELASA — Irwansyah, Lurah Kelurahan Angke Indah, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, didemo ratusan warganya karena menghamili Suhesti alias Eneng (16), warga RT 02 RW 10.
Para warga yang berdemo ini menuntut agar Irwansyah dicopot dari jabatannya. "Biar diselesaikan secara kekeluargaan kami tetap menuntut dia mundur dari jabatan," kata Ugi, Ketua RT 04 RW 11.
Saat ini anggota dewan kelurahan bernama Karna sedang menemui Camat untuk menyampaikan aspirasi warga. Sementara itu, Wakil Lurah Angke Indah Djaharuddin mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan tuntutan warga pada kecamatan.
"Untuk persoalan warga yang hamil, diharapkan dapat diselesaikan secara kekeluargaan, sedangkan tuntutan pencopotan lurah, itu merupakan kewenangan pimpinan," ujar Djaharuddin.
Sampai saat ini keberadaan Irwansyah yang sudah dua tahun menjabat lurah itu tidak diketahui.
Iwan Santosa
Para warga yang berdemo ini menuntut agar Irwansyah dicopot dari jabatannya. "Biar diselesaikan secara kekeluargaan kami tetap menuntut dia mundur dari jabatan," kata Ugi, Ketua RT 04 RW 11.
Saat ini anggota dewan kelurahan bernama Karna sedang menemui Camat untuk menyampaikan aspirasi warga. Sementara itu, Wakil Lurah Angke Indah Djaharuddin mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan tuntutan warga pada kecamatan.
"Untuk persoalan warga yang hamil, diharapkan dapat diselesaikan secara kekeluargaan, sedangkan tuntutan pencopotan lurah, itu merupakan kewenangan pimpinan," ujar Djaharuddin.
Sampai saat ini keberadaan Irwansyah yang sudah dua tahun menjabat lurah itu tidak diketahui.
Iwan Santosa
Source: Kompas.com Rabu, 3 Desember 2008 | 07:51 WIB
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/03/...oyan.Daun.Muda..
Pak Lurah yang Doyan Daun Muda

Warta Kota/Tos
Lurah Angke, Tambora, Jakarta Barat, mengurung diri di kantornya ketika warga berunjuk rasa menuntut lurah tersebut bertanggung jawab atas kehamilan seorang gadis warga Angke, Selasa (2/12).
QUOTE
KEMISKINAN diduga menjadi penyebab Hes merelakan kegadisannya direnggut oleh Pak Lurah. Iming-iming uang yang dijanjikan membuat gadis ini tak bisa mempertahankan kehormatannya.
Selama ini Hes dikenal sebagai anak pendiam. Dia jarang bergaul dengan rekan sebayanya. ”Anaknya tertutup sekali. Jarang bergaul. Kalau keluar rumah juga tidak pernah cerita apa-apa,” kata Megi, rekan Hes.
Megi mengatakan, Hes tidak pernah meminta sesuatu yang mewah kepada orangtuanya. Bahkan, untuk mendapatkan keinginannya, Hes harus bekerja. ”Sebenarnya anaknya sangat prihatin, kok bisa ya dia sampai begitu,” kata Megi.
Hes adalah anak ketiga dari seorang janda tua yang bekerja serabutan. Hes dan keluarganya tinggal di sebuah rumah yang nyaris roboh. Atap rumah Hes telah miring ke kiri karena sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki. Kehidupan keluarga Hes yang di bawah garis kemiskinan membuat banyak tetangganya yang meminta bantuan Hes untuk membawakan belanjaan dari pasar.
Hes tak pernah menolak permintaan seperti itu. Keluarga Hes termasuk keluarga penerima bantuan langsung tunai (BLT) dan beras miskin. Kehidupan keluarga ini berada di bawah garis kemiskinan setelah ayah Hes meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Namun, kemiskinan yang dialami pemilik wajah manis berkulit sawo matang ini ter-nyata dimanfaatkan oleh seorang muncikari untuk meraup keuntungan sendiri. Muncikari itu lalu menjebak dan memaksa Hes untuk menjual keperawanannya kepada seorang pejabat bejat.
Rekan-rekan Hes sama sekali tidak menyalahkan Hes. Mereka mengatakan, hal ini bisa terjadi karena ada orang yang merayunya. ”Dia sering keluar rumah diajak Mbak Ita. Saya tidak tahu ke mana mereka kalau pergi. Mbak Ita itu dulunya kerja di sebuah tempat hiburan malam,” kata Nur, rekan Hes lainnya.
Beberapa tokoh masyarakat Kelurahan Angke sangat menyesalkan Lurah Angke, Irw, yang berbuat tak pantas terhadap warganya sendiri. ”Apalagi, dia itu orang yang tidak punya. Seharusnya lurah menolongnya bukan memanfaatkannya,” kata H Arsad, tokoh masyarakat Angke.
Menurut Arsad, Hes tidak akan melakukan tindakan itu kalau tidak ada orang yang merayu dan memaksanya. ”Bagaimana mungkin Hes bisa kenal dengan Pak Lurah. Bikin KTP saja belum pernah. Ngapain dia datang ke kelurahan?” katanya.
Peristiwa ini, kata Arsad, bisa merusak masa depan Hes. ”Sejak kejadian ini diketahui orang banyak, Hes tak mau lagi ke sekolah. Dia juga terus mengurung diri. Kalau Pak Lurah tak mau tanggung jawab, siapa yang akan mengurusinya?” katanya.
Cecep, warga lainnya, juga menyesalkan tindakan Lurah Irw. Dia mengatakan, lurah yang tinggal di Durikosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, ini harus langsung diganti. ”Dia tidak pantas jadi lurah. Apalagi, dia disebut-sebut pernah melakukan hal seperti ini juga terhadap anak di bawah umur lain,” katanya.
Cecep mengatakan, beberapa rekannya yang tinggal di Kelurahan Kalianyar, Tambora, menceritakan bahwa Irw juga melakukan perbuatan tak terpuji terhadap seorang gadis warga Kalianyar. ”Kejadiannya beberapa tahun lalu. Karena ketahuan berbuat seperti itu, dia lalu dimutasi ke Angke. Sampai di sini malah begitu lagi,” katanya.
Irw menjabat Lurah Angke sejak Desember 2006. Sebelumnya, dia pernah menjadi lurah di beberapa tempat. Irw berperawakan sedang dan memakai kacamata. Dia berkarier di lingkungan pegawai negeri setelah lulus dari STPDN (sekarang IPDN) belasan tahun lalu.
TOS
Selama ini Hes dikenal sebagai anak pendiam. Dia jarang bergaul dengan rekan sebayanya. ”Anaknya tertutup sekali. Jarang bergaul. Kalau keluar rumah juga tidak pernah cerita apa-apa,” kata Megi, rekan Hes.
Megi mengatakan, Hes tidak pernah meminta sesuatu yang mewah kepada orangtuanya. Bahkan, untuk mendapatkan keinginannya, Hes harus bekerja. ”Sebenarnya anaknya sangat prihatin, kok bisa ya dia sampai begitu,” kata Megi.
Hes adalah anak ketiga dari seorang janda tua yang bekerja serabutan. Hes dan keluarganya tinggal di sebuah rumah yang nyaris roboh. Atap rumah Hes telah miring ke kiri karena sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki. Kehidupan keluarga Hes yang di bawah garis kemiskinan membuat banyak tetangganya yang meminta bantuan Hes untuk membawakan belanjaan dari pasar.
Hes tak pernah menolak permintaan seperti itu. Keluarga Hes termasuk keluarga penerima bantuan langsung tunai (BLT) dan beras miskin. Kehidupan keluarga ini berada di bawah garis kemiskinan setelah ayah Hes meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Namun, kemiskinan yang dialami pemilik wajah manis berkulit sawo matang ini ter-nyata dimanfaatkan oleh seorang muncikari untuk meraup keuntungan sendiri. Muncikari itu lalu menjebak dan memaksa Hes untuk menjual keperawanannya kepada seorang pejabat bejat.
Rekan-rekan Hes sama sekali tidak menyalahkan Hes. Mereka mengatakan, hal ini bisa terjadi karena ada orang yang merayunya. ”Dia sering keluar rumah diajak Mbak Ita. Saya tidak tahu ke mana mereka kalau pergi. Mbak Ita itu dulunya kerja di sebuah tempat hiburan malam,” kata Nur, rekan Hes lainnya.
Beberapa tokoh masyarakat Kelurahan Angke sangat menyesalkan Lurah Angke, Irw, yang berbuat tak pantas terhadap warganya sendiri. ”Apalagi, dia itu orang yang tidak punya. Seharusnya lurah menolongnya bukan memanfaatkannya,” kata H Arsad, tokoh masyarakat Angke.
Menurut Arsad, Hes tidak akan melakukan tindakan itu kalau tidak ada orang yang merayu dan memaksanya. ”Bagaimana mungkin Hes bisa kenal dengan Pak Lurah. Bikin KTP saja belum pernah. Ngapain dia datang ke kelurahan?” katanya.
Peristiwa ini, kata Arsad, bisa merusak masa depan Hes. ”Sejak kejadian ini diketahui orang banyak, Hes tak mau lagi ke sekolah. Dia juga terus mengurung diri. Kalau Pak Lurah tak mau tanggung jawab, siapa yang akan mengurusinya?” katanya.
Cecep, warga lainnya, juga menyesalkan tindakan Lurah Irw. Dia mengatakan, lurah yang tinggal di Durikosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, ini harus langsung diganti. ”Dia tidak pantas jadi lurah. Apalagi, dia disebut-sebut pernah melakukan hal seperti ini juga terhadap anak di bawah umur lain,” katanya.
Cecep mengatakan, beberapa rekannya yang tinggal di Kelurahan Kalianyar, Tambora, menceritakan bahwa Irw juga melakukan perbuatan tak terpuji terhadap seorang gadis warga Kalianyar. ”Kejadiannya beberapa tahun lalu. Karena ketahuan berbuat seperti itu, dia lalu dimutasi ke Angke. Sampai di sini malah begitu lagi,” katanya.
Irw menjabat Lurah Angke sejak Desember 2006. Sebelumnya, dia pernah menjadi lurah di beberapa tempat. Irw berperawakan sedang dan memakai kacamata. Dia berkarier di lingkungan pegawai negeri setelah lulus dari STPDN (sekarang IPDN) belasan tahun lalu.
TOS

