QUOTE (herdi_pro @ Dec 25 2009, 05:27 PM)

QUOTE (JIZZUS @ Dec 25 2009, 12:47 PM)

Tapi, mengapa prinsip egoisme tanpa adanya kejahatan pada orang lain diasosiasikan dengan 'neraka' yang menurut kepercayaan agama itu adalah tempat penghukuman orang2 jahat?
'Tuhan' dalam cerita ini benar2 tidak konsisten dengan apa yang dia bilang tentang 'konsep neraka'.
Sebetulnya prinsip egoisme juga diajarkan dalam agama.
Dlm ajaran salah satu agama malah dianjurkan untk menolong diri sndiri terlebih dahulu, baru kemudian menolong orang2 paling dekat, lalu berikutnya menolong orng lain yang agak jauh.
Jadi memang Penguasa langit menganjurkan untk egoisme dulu,,,menolong diri sndiri terlebih dahulu.
Tapi egoisme ini ada batasnya. yaitu disaat kita sudah selamat dan cukup, maka egoisme mulai diturunkan perlahan2...
Orng yang egois terus disaat dirinya sudah berkecukupan, akan dicap jahat oleh Tuhan, walaupun secara 'kasat mata' dia tdk merugikan orng lain...Mengapa begitu?
begini logikanya :
Seorang manusia tdk bisa hidup tanpa orng lain.
Orng kaya tdk bisa hidup sebagai orng kaya yang nyaman hidupnya sekarang tanpa pembantu rmh tangga, tanpa tukang tambal ban, tukang sampah, polisi, guru SD nya wkt dia kecil dahulu,,,,dll
Memang betul, semua itu sudah ada imbalannya,,,ban mobil bocor, ditambal tkng tambal ban dan orng kaya tersebut membayar tkng tambal ban itu,,impas!
pembantu melayani orng kaya itu dan telah dibayar jg gaji bulanannya,,,,impas!
Tapi tanpa kita sadari, sebetulnya yang kita angap impas itu tdk selalu betul2 impas,,,!Contoh yang sering terjadi adalah guru. Sudah sepadankah bayaran kita kpd seorang guru...?
Kalau belum sepadan artinya guru itu telah menolong kita. Disitu ada kerelaan dari seorang guru.
Pmbntu Rmh tangga di indonesia ini banyak yang kerja hampir 24 jam minus tdr mlm.
Emangnya gaji pembantu udh sepadan dengan kerjaannya yang mulittasking dan allround?
Kalau belum sepadan, berarti orng kaya itu telah ditolong oleh pembantu itu,,,jadi blm impas!
Jika belum impas, berarti ada yang dirugikan bukan,,,?ini hukum matematika
Bayangkan apa jadinya sistem sosial kita kalau semua orng hanya berprisip egoisme dan menuntut impas 100%?
Tampaknya, - sekali lg tampaknya - egoisme sepertinya tidak merugikan orng lain,,,tapi kalau diteliti lebih lanjut, sebetulnya merugikan, malah egoisme bisa merusak seluruh tatanan sosial manusia.
Makanya egoisme dicap jahat oleh sang Penguasa Langit
Jadi Tuhan masih konsisten dengan konsep neraka
Oh, prinsip tolong menolong itu benar. Dilihat dari sistem sosial biologi, kelompok2 hewan/manusia yang mau berkorban buat sesamanya akan membantu kelangsungan hidup kelompok tersebut. Dan secara prinsip orang yang mau berkorban untuk kelangsungan hidup kelompok itu berbuat 'terpuji'. Sebaliknya, kelompok yang isinya orang2 yang hanya mau mementingkan diri sendiri akan punah. Prinsip ini, namun,
tidak datang dari mulut 'tuhan'/agama. Jika demikian, sudah ada banyak sekali dinosaurus2, reptil2 & hewan2 liar punah yang terpanggang di neraka karena 'keegoisan' ini.
Karena prinsip ini tidak datang dari 'tuhan', dia tidak berhak untuk membuat peraturan menjebloskan mahluk2 'egois' tersebut ke neraka.
Jika kita berbicara tentang untung, rugi dan digabungkan dengan prinsip neraka dari 'tuhan', saya juga kasih contoh:
Seorang ibu yang sakit masih mau menyusui bayinya adalah seorang yang terpuji tapi dia merasa 'dirugikan' karena jelaslah dia bisa menggunakan gizi itu untuk kesembuhannya. Tetapi malah diberikan pada bayinya yang lapar. Sebaliknya, bayi tersebut bertindak egois karena dia lapar tapi masih mau merugikan ibunya yang mungkin akan meninggal karena gizinya habis diminum bayi.
Jika 'tuhan' benar2 konsisten dengan prinsip diatas, bayi tersebut adalah jahat dan harusnya dibakar garing di neraka. 'Tuhan' yang membuat sesuatu seperti diatas tidak pantas disembah. Untungnya dengan 'keegoisan' bayi ini, bayi ini bisa hidup dan keturunan sang ibu bisa diteruskan. Inilah alasan sang ibu yang terdalam untuk rela berkorban. Ini bisa dibilang sistem timbal balik.
Sekarang kita masuk ke prinsip gaji bulanan yang tidak layak bagi guru atau pembantu. Prinsip ini jauh lebih kompleks dari prinsip hewan2 di hutan. Jika Anda bekerja keras untuk mengumpulkan kekayaan, Anda mempunyai uang sangat banyak. Tapi Anda tidak mau menaikan gaji pembantu Anda namun, pembantu Anda bisa hidup makan cukup dengan gaji minimum. Menurut prinsip matematika, dia memang dirugikan, tapi apakah Anda berbuat salah?
Anda berkonsentrasi pada kelangsungan hidup Anda dan anak2 Anda dengan mengumpulkan kekayaan dan menurut saya itu tindakan terpuji. Kelangsungan hidup pembantu Anda atau guru Anda adalah urusan rumah tangga mereka. Berbeda dengan hewan2 di hutan, tidak berbagi makanan bisa mengakibatkan kehancuran dalam kelompok dan akhirnya diri sendiri, tidak berbagi harta pada orang lain atau menaikan gaji tidak mengakibatkan kehancuran dalam hidup Anda. Hewan2 secara tidak langsung 'diharuskan' untuk berbagi, untuk manusia, peraturan ini bisa dibuat lebih longgar karna teknologi dsb. Manusia bisa melawan prinsip seleksi alam yang hewan2 di hutan tidak.
'Tuhan' dan agama mengancam kita untuk berbagi harta yang sudah kita dapatkan secara mati2an pada orang yang membutuhkan. Jika tidak, Anda akan dilimpahkan kemalangan dan setelah mati, dibakar di neraka. Saya mendukung tindakan berderma dan berbagi pada sesama yang membutuhkan dengan alasan menolong, tanpa harus diancam. Sebaliknya, orang2 yang melakukan penyumbangan dengan harapan lain (imbalan di 'surga' dan tidak masuk neraka) adalah menurut saya, adalah orang yang tidak terpuji.