Suatu hari, kamu berencana mau liburan kerumah kakekmu yang tinggal didesa. Kamu mau liburan kesana untuk menghabiskan sisa libur kuliah kamu yang tinggal dua minggu lagi. Setelah semuanya siap, kamu berangkat sendiri tanpa teman. Dalam perjalanan, kamu banyak melihat hal-hal yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Pohon-pohon yang berjejer rapi seperti orang berbaris, lalu sawah-sawah dan perkebunan yang hijau, yang melingkar-lingkar seperti ular, pemandangan gunung-gunung dan bukit dikejauhan.
Sebenarnya perjalanan kerumah kakek kamu hanya memakan waktu kurang lebih lima jam. Tapi bis yang kamu tumpangi mengalami gangguan teknis berupa kerusakan pada stir. Stirnya patah dan karena itu perjalanan ditunda hingga dua jam untuk menunggu stir yang baru dan ahli mekaniknya datang. Dalam masa menunggu, kamu mungkin akan melakukan beberapa hal berikut: Membaca, mendengarkan mp3 dari hp, main game dari PSP (Playstation Portable) atau mungkin tidur-tiduran. Nyatanya kamu hanya bisa melakukan hal yang terakhir karena kamu lupa membawa novel detektif kesukaan kamu, batere hp kamu tinggal dua dan UMD (Universal Media Disc) game dibelakang PSP kamu ternyata UMD game memasak adek perempuanmu yang bandel, bukannya UMD game PES (Pro Evolution Soccer) kesukaan kamu.
Akhirnya kamu yang awalnya hanya ingin tidur-tiduran malah tidur beneran. Kamu nggak tau berapa lama kamu tidur karena suara deru mesin bis membuat kamu mendadak bangun.
Rasa kesal dan marah dalam diri kamu belum sepenuhnya hilang. Penyebabnya gara-gara bis yang mogok tadi. Udah githu, adek perempuan kamu yang bandel thu nggak bilang-bilang lagi minjem PSP kamu. Padahal ibu dah beliin dia NDS (Nintendo Dual Screen). Disamping itu, HP kamu lupa kamu isi ulang karena kamunya buru-buru berangkat dan juga akibat suara mesin bis yang membuat kamu terbangun mendadak semakin mempertebal rasa jengkel dan marah kamu.
Kamu tiba dirumah kakek pukul delapan malam. Semua perasaan marah dan kesal kamu sirna begitu kamu bertemu dengan kakek dan nenek kamu. Pertemuan ini untuk pertama kalinya terjadi setelah tujuh tahun yang lalu. Tujuh tahun yang menyiksa bagi keluarga besar kamu. Semua perasaan yang ada sekarang hanyalah perasaan bahagia dan haru karena bisa bertemu kembali. Kakek dan nenek kamu menyambut dengan riang gembira. Kakek kamu bertanya mengapa ayah kamu nggak ikut. Ayah kamu merupakan anak dari kakek kamu. Kamu bilang kalau ayah nggak bisa ikut karena dia ada meeting di luar daerah. Jadinya nggak bisa nemenin kamu. Selain mereka, kamu juga disambut oleh ponakan-ponakan kamu yang masih imut-imut dan lucu. Perasaan bahagia kamu semakin bertambah. Dan karena mereka berdua terlalu imut dan lucu hingga kamu nggak tahan untuk cubit-cubit dan cium pipi mereka. Dua ponakan kamu merupakan anak dari Om dan Tante kamu. Tante kamu merupakan adik dari ayah kamu. Mereka datang berkunjung selain untuk menengok keadaan kakek dan nenek, juga untuk menjaga mereka karena Om dan Tante kamu berencana akan menetap.
Suasana bahagia terasa sekali ketika makan malam. Keceriaan dan tingkah laku dua ponakan kamu membuat semua orang terhibur. Karena terlalu capek, kamu memilih langsung tidur ketimbang ngobrol dengan kakek dan nenek serta Om dan Tante kamu. Saat itu nggak ada yang kamu pikirkan kecuali kamu merasa sangat senang dan bahagia. Apakah selamanya akan selalu begitu?
Selama tinggal disana, kamu diajak keliling oleh anak buah kakek kamu ketempat-tempat yang asyik dan menyenangkan, yang nggak akan pernah bisa kamu temukan dikota. Pemandangan air terjun, danau dan gunung merupakan pemandangan yang mengagumkan bagi kamu yang terbiasan melihat gedung-gedung pencakar langit. Air terjun itu berasal dari pegunungan yang nggak begitu jauh dari tempat itu dan terasa dingin ketika kaki kamu menyentuh airnya. Kamu awalnya nggak mau mandi, tapi karena dipaksa akhirnya kamu mau mandi juga. Kamu hanya sebentar mandi karena nggak tahan dengan dinginnya air terjun itu. Setelah mengeringkan badan kamu, kamu lalu diajak ke danau yang agak jauh dari air terjun itu. Jalan menuju danau itu ternyata sampai masuk hutan. Anak buah kakek kamu menjelaskan kalau jalan yang kamu dan yang lain lalui adalah satu-satunya jalan menuju danau itu dan nggak jalan lain. Kamu lalu bertanya apakah pernah ada yang tersesat karena mencoba mencari danau itu dan dia menjawab belum ada. Cara dia menjawab membuat nggak yakin. Setiba didanau, pemandangannya sungguh nggak bisa terukirkan dengan kata-kata, begitu fantastik dan aneh.
Bentuknya tidak seperti kebanyakan danau yang mungkin pernah kamu lihat di TV atau difilm- film. Danau itu seperti kawah, tapi bukan seperti kawah kebanyakan gunung. Dan air yang terdapat dalam danau itu tiba-tiba berputar membentuk seperti angin topan, lalu kemudian tenang kembali, seperti tidak terjadi apa-apa. Perubahan itu begitu cepat dan membuat anak buah kakek kamu dan yang lain terkejut. Kamu bertanya ada apa. Tidak ada jawaban selama beberapa saat. Sepertinya mereka masih sedikit kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Lalu anak buah kakek kamu menjelaskan kalau peristiwa itu belum pernah terjadi sebelumnya. Sekilas kamu melihat tatapan aneh anak buah kamu yang masih terus memandang danau itu, lalu ke arah kamu. Dan kemudian dia tersenyum dan mengatakan sebaiknya kamu dan yang lain kembali. Kamu kembali ketika menjelang sore karena kamu perginya agak siang. Pemandangan langit sore selalu membuat kamu tertarik dan penasaran. Kamu seperti merasa ada sesuatu yang disembunyikan dilangit-langit jingga itu. Sesuatu yang seperti titik cahaya melintas dilangit jauh dan kemudian menghilang. Kamu hanya sempet melihatnya sekilas.
Sekembalinya dari danau, kamu pergi kebelakang rumah untuk mengambil handuk dan juga sekalian meletakkan pakaian kamu yang basah ditempat tumpukan cucian yang belum dicuci. Waktu hampir malam ketika kamu masuk kekamar mandi karena tadi kamu mesti menunggu dua ponakan kamu mandi duluan. Malamnya, sehabis makan malam, kamu duduk diteras depan bareng kakek dan Om kamu. Kakek kamu banyak bercerita tentang hal-hal aneh yang sering terjadi belakangan ini di desa. Misalnya suara gemuruh yang terdengar didanau setiap beberapa malam sekali, seakan-akan ada batu yang besar yang dijatuhkan kedalam danau itu. Waktu kamu bertanya tentang bentuk danau yang aneh itu, jawaban kakek kamu tidak memuaskan kamu. Kamu merasa ada yang disembunyikan oleh kakek kamu dan dia tidak ingin ada siapapun yang tau, bahkan mungkin cucu kesayangannya juga tidak boleh tau.
Meski kamu tau jawaban kakek kamu nggak memuaskan, kamu tetap menerimanya karena kamu tau mungkin aja kakek kamu telah membuat perjanjian yang mungkin isinya salah satu adalah larangan untuk memberi tau siapapun. Ketika Om kamu menceritakan peristiwa tadi siang mengenai air topan itu, ekspresi wajah kakek kamu sulit ditebak. Dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa melainkan tetap tenang dan sepertinya kejadian itu sudah biasa baginya. Kakek kamu meminta kamu untuk mengambilkan dia segelas air hangat dan madu didapur. Kamu pergi ke dapur dan mengambilkan apa yang kakek kamu pinta. Letaknya dilemari dapur sebelah kiri kata kakek kamu sedikit berteriak sewaktu kamu bertanya dimana madunya. Kamu kembali dari dapur dengan membawa apa yang dia pinta.
Suara jangkrik terdengar dikejauhan, ditingkahi suara yang kodok yang bernyanyi menghibur mungkin istrinya atau mungkin anak-anaknya. Malam semakin larut, angin dingin malam serasa menusuk dan membuat kamu sedikit menggigil. Melihat hal itu, kakek kamu menyuruh kamu untuk tidur karena hawa dingin itu nanti bisa menyebabkan kamu sakit karena kamunya belum terbiasa dengan hawa dingin desa itu. Kamu menuruti perintah kakekmu dan masuk kedalam menuju kamarmu. Kamu merebahkan diri setelah sebelumnya menyikat gigi. Suara seperti yang diceritakan kakek kamu kembali terdengar, tapi kamu hanya sekilas mendengarnya karena rasa kantuk yang menyerang kamu.
Hutan itu sangat gelap ketika malam datang. Tidak ada apapun yang bisa dilihat kecuali kegelapan yang nyata, bahkan juga ketika sesosok mahkluk muncul mendadak ditengah-tengah jalan setapak menuju danau itu. Penampilannya begitu sempurna, dibalut dengan pakaian hitam-hitam hingga siapapun tidak akan bisa melihatnya, bahkan mungkin burung hantu sekalipun akan tertipu. Dia mengendap-ngendap menuju danau itu. Entah untuk apa dia mengendap-ngendap seperti itu, karena apapun tindakan berisik yang mungkin dia lakukan, orang-orang desa sudah pasti tidak akan mendengarnya. Tapi rupanya dia mempunyai pertimbangan lain mengenai hal itu. Dia tiba di danau lebih cepat dari yang diperkirakan. Sosok itu berdiri dipinggiran danau cukup lama. Dia sepertinya menunggu sesuatu, mungkin peristiwa air topan itu. Tapi apa yang dia lakukan di lima menit berikutnya sunggu diluar dugaan. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya, lebih tepat dari dalam kantongnya sesuatu yang mungkin mirip tali, melemparnya keatas dan kemudian sosok itu melompat masuk ke dalam danau diikuti oleh sebuah benda besar hitam yang berada diatas danau yang ketika menyentuh permukaan danau menimbulkan gemuruh keras dan menyebabkan air danau itu berputar keatas seperti membentuk angin topan dan kemudian air danau itu kembali tenang seperti tidak ada kejadian apa-apa!
Kamu kembali kekota tiga hari sebelum perkuliahan dimulai. Kakek dan nenek kamu merasa sedih harus berpisah dengan kamu. Tapi kamu menyakinkan mereka kalau ini hanya perpisahan sementara. Kamu lalu mencium tangan kakek dan nenek kamu, nggak lupa juga mencium tangan Om dan Tante kamu. Dan tentu aja kamu nggak lupa untuk mencium ponakan-ponakan kamu yang imut dan lucu. Saat itu, sesuatu melintas dalam kepala kamu. Bayangan-bayangan samar keramaian. Kamu nggak tau bayangan apa itu. Perasaan kamu mulai nggak enak. Tapi kamu berhasil menepis perasaan negatif itu. Hari itu kamu terlalu bahagia, jadi nggak ada waktu untuk perasaan-perasaan negatif yang nggak jelas. Bunyi klakson bis menyadarkan kamu. Setelah mengucapkan beberapa patah kata perpisahan, kamu meninggalkan mereka dalam rasa rindu yang bergulung-gulung seperti gelombang lautan.
Perjalanan pulang terasa menyenangkan buat kamu. Bis yang kamu tumpangi melaju dengan kecepatan standar. Cuaca begitu cerah, meski banyak awan berserakan dilangit. Tapi kamu nggak peduli karena kamu sudah cukup puas masih bisa melihat pemandangan yang membuat suasana hati menjadi tenang. Baru satu jam berlalu, kamu mulai mengantuk. Kamu nggak bisa menahan mulut kamu yang terus-menerus menguap. Kamu mulai mengatur posisi duduk agar terasa nyaman, menselonjorkan kaki, lalu menyenderkan kepala kamu dikursi. Semua itu kamu lakukan agar kamu merasa nyaman. Mata kamu sedikit demi sedikit meredu, seperti lampu yang mau mati, perlahan mulai menutup dan akhirnya kamu tertidur, mungkin untuk selamanya…
Suara petir yang memiawakkan telinga membuatmu terbangun. Kamu merasa sedikit pusing akibat kamu tidurnya hanya sebentar. Untuk mengurangi rasa pusing, kamu memandang keluar. Langit yang tadinya cerah sekarang nggak ada lagi, digantikan langit yang penuh dengan gumpalan awan yang terus menyatu. Lampus bis mulai dinyalakan karena suasananya yang seperti malam hari, seakan-akan malam memutuskan untuk tiba lebih cepat. Perasaan nggak enak itu datang lagi. Bayangan-bayangan samar keramaian kembali muncul di benak kamu. Terkadang bayangan itu hilang, digantikan bayangan sebuah tempat yang kamu tidak ketahui. Kamu berusaha menepis pikiran-pikiran aneh itu dan berusaha untuk mengingat hal-hal yang menyenangkan. Tiba-tiba jantung kamu berdegub kencang.
Tetes-tetes hujan perlahan mulai turun membahasi bumi. Semakin lama semakin banyak. Hujan deras yang turun menyebabkan bis melaju lebih pelan karena pandangan akan menjadi terbatas nantinya akibat kabut yang berasal dari air hujan yang turun. Kamu merasakan sesuatu yang aneh kalau perjalanan ini akan terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya. Kamu nggak tau bagaimana kamu mengetahuinya, begitu saja muncul dari dalam kepala kamu. Kamu memandang kembali keluar jendela, memandang hujan yang turun seperti tirai jendela, sementara tangan kamu sibuk menggambar di kaca jendela, sebuah lingkaran dengan huruf V dan W didalamnya. Gambar itu tidak berarti apa-apa bagi kamu karena sebenarnya huruf V dan W itu dua huruf pertama dari dua temen kamu di kampus. Benarkan begitu...?
Perjalanan menuju kota tingga tiga jam lagi. Kamu mulai merasa bosan dan berharap bisa cepat sampai dirumah. Cuaca semakin gelap akibat hujan deras yang terus meningkat volumenya. Pandangan kamu menerawang ke langit gelap diluar dan setitik cahaya putih yang tiba-tiba muncul dilangit akan menarik perhatian siapapun yang melihatnya, termasuk kamu. Kamu sedikit terkejut karena rasanya kamu pernah melihat titik cahaya itu sekali. Merasa penasaran, kamu terus memperhatikan. Titik cahaya itu bergerak naik dengan pelan ke atas, seperti bergeraknya pesawat antariksa yang akan meninggalkan bumi. Titik cahaya itu semakin lama semakin terang dan terlihat dengan jelas ditengah derasnya hujan. Awalnya kamu berpikir itu semua khayalan hingga kamu menyadari kalau bukan kamu aja yang melihat cahaya terang itu. Hampir semua penumpang bis menyaksikan peristiwa langka itu, tidak ketinggalan si sopir bis.
Cahaya terang itu tiba-tiba menghentikan gerakannya. Entah apa yang membuatnya tertahan dilangit hingga ia tidak terus naik dan menghilang. Kamu tidak tahu apa itu benda atau makhluk karena jaraknya yang cukup jauh hingga kamu nggak bisa melihat dengan jelas bentuknya. Cahaya terang itu masih bertahan dilangit dan sepertinya menunggu sesuatu. Cahaya terang itu kadang kerlap-kerlip, kadang lenyap tanpa bekas lalu kemudian muncul lagi secepat dia menghilang dan masih tetap bertahan tidak bergerak. Kamu dan semua orang dalam bis terpaku melihat cahaya terang itu dan juga si sopir bis yang konsentrasinya mulai terbagi antara melihat kedepan dan menengok kekanan untuk melihat. Kamu yang menyadari hal itu beberapa kali berteriak mengingatkan si sopir bis karena kamu duduk dikursi terdepan. Bunyi klakson bis yang lewat menyadarkan si sopir dan itu hanya sesaat.
Semua orang terlalu fokus pada cahaya terang itu hingga tidak menyadari bis yang mulai melaju kencang, termasuk diri kamu. Hujan seperti tiada henti-henti turun. Cahaya terang itu mulai meredup, menyebabkan ia terlihat samar-samar dan ia kembali menjadi titik cahaya. Beberapa penumpang sudah banyak yang tidak lagi melihat. Sebagian dari mereka ada yang tidur, sebagian lagi membaca koran, buku dan kesibukan-kesibukan yang lain. Si sopir juga mulai sepenuhnya konsentrasi. Hanya kamu yang masih tetap memperhatikan titik cahaya itu meski tidak begitu jelas kamu melihatnya dan kamu tidak punya alasan yang kuat mengapa kamu masih terus memperhatikan cahaya itu. Kamu seperti terhipnotis dan kemudian... Jantung kamu kembali berdegub kencang.
Sementara itu, laju bis semakin kencang. Getaran-getaran yang dihasilkan bis itu membuat kamu tersentak dan sadar kembali. Beberapa penumpang yang kaget mengeluarkan sumpah serapahnya dan berteriak mengatasi suara hujan meminta si sopir untuk sedikit lebih pelan. Si sopir tidak mendengarnya dan bis masih tetap melaju dengan kencang. Kamu kembali melihat keluar jendela dan terkejut karena titik cahaya itu lenyap!
Kamu mencoba mencari titik cahaya dan tau kalau itu tidak mungkin kamu lakukan dengan pandangan terbatas dari kaca jendela. Langit yang gelap dan mulai berkabut semakin mempersulit penglihatan kamu. Dari arah yang tidak terduga, mendadak muncul bis hitam yang melaju dengan kecepatan yang tidak terkendali. Sopir bis kamu yang kaget mencoba membanting stir kekanan jalan, tapi terlambat hingga tabrakan mau tak terhindarkan. Suara tubrukan dua bis itu ngeri dan menyeramkan. Bunyi kaca pecah, teriakan para penumpang, cahaya merah dan tangan dingin yang mencengkeram dan menarik lengan kamu adalah tiga hal yang kamu lihat, dengar dan rasakan sebelum semuanya berakhir.
Cahaya lembut sinar matahari membuat kamu terbangun. Mata kamu belum terbiasa dengan cahaya terang selama beberapa saat. Setelah semuanya terfokus, kamu mulai bertanya-tanya dalam hati kamu ada dimana. Apakah kamu sudah mati dan sekarang kamu lagi ada disurga. Dan kamu sadar kalau kamu belum mati dan tempat kamu sekarang bukanlah surga. Kalau begitu mengapa kamu bisa berada sendirin di padang rumput itu...?