sea_man
Feb 10 2009, 09:34 AM
Bahan utama pucung gabus adalah ikan gabus. Ikan gabus disajikan dalam potongan-potongan ikan pada umumnya, seperti kepala, badan, atau ekor. Ikan gabus yang sudah digoreng, lalu dicemplungkan ke dalam kuah hitam akibat dari pucung (Pangium edule reinw) ibu-ibu ahli dapur mengenal bumbu tersebut dengan nama kluwek.
Sebagai tambahan, bumbu dalam kuah tersebut adalah kemiri, bawang merah, bawang putih, cabe merah, jahe, kunyit dan daun salam. Semua bumbu diulek lalu ditumis kemudian dimasukan ke dalam air. Ikan dimasak hingga lunak. Sekilas tampilan kuahnya mirip dengan rawon.
Meskipun menu special, pucung gabus tidak dihadirkan dalam acara-acara perhelatan seperti pesta perkawinan atau khitanan. Hal itu disebabkan stok ikan gabus yang terbatas. Ikan ini tidak dibudidayakan dan hidup di rawa-rawa. Karena sulit didapat, harga sekilo ikan gabus pun menjadi mahal, ikan gabus ukuran kecil sampai sedang antara Rp25.000 sampai Rp35.000 per kilo nya.
Sedangkan ikan gabus ukuran besar harganya bias mencapai Rp50.000. Ukuran ikan gabus yang besar biasanya dalam sekilo hanya satu sampai dua ekor ikan. Bandingkan dengan harga ikan darat lainnya seperti gurame yang setiap kilonya berharga antara Rp20.000 sampai dengan Rp28.000. Karena tidak dijual di supermarket, untuk mendapatkan ikan gabus harus memesan terlebih dahulu pada tukang sayur keliling. Di pasar tradisional pun kehadiran ikan gabus sulit ditebak. Kadang ada, tetapi lebih sering tidak ada.
Di masa lalu, menu pucung gabus jadi menu khusus pada perhelatan atau jamuan penting, dan menjadi penarik selera. Pada saat ini gabus pucung dihadirkan pada acara kumpul keluarga, atau menyambut tamu khusus yang tidak berjumlah besar. Semangkuk gabus pucung, meninggalkan macam-macam rasa di lidah. Ada gurih, sedikit asin, pedas, dan sangat kentara campuran berbagai macam bumbu dapur di dalam kuahnya. Ni Mehk.
Selain di sebagai hidangan rumahan, sejak lama gabus pucung telah dihadirkan di rumah-rumah makan khas Bekasi. Meskipun dapat dikatakan di Bekasi sekarang, memang masih agak jarang. Di antara yang sedikit itu ialah warung gabus Bu Lukman di Buaran depan GOR Bekasi, samping mesjid Al Barkah di Alun-alun Bekasi, samping SD Bani Saleh di jalan Kartini, kemudian di jalan Pahlawan.
Source : Blog Bekasi Heritage
sea_man
Feb 10 2009, 09:35 AM
Pondok Gabus Lukman, Warung Khas Betawi yang Tetap Eksis (1)
Andalkan Sayur Gabus, Langganannya Pejabat dan Pengusaha
Oleh Deny Iskandar, Indo.Pos edisi Bekasi Raya, Sabtu, 24 Maret 2007
Bagi sebagian kalangan, bekerja dan tinggal di Kota Bekasi rasanya belum lengkap sebelum mencicipi hidangan khas Betawi di Pondok Lukman. Apa saja yang ditawarkan rumah kaman ini. Berikut liputnnya.
Di tengah kepungan bisnis makanan cepat saji yang makin marak, tidak membuat lesu pengusasa masakan khas daerah. Masakan khas Betawi di Pondok Gabus Lukman, misalnya, termasuk yang masih eksis hingga saat ini.
Rumah makan sederhana yang berlokasi di Jalan Sudirman KM 28, Bekasi Barat itu masih setia melayani pecinta masakan Betawi.Mulai dari semur jengkol, pecak lele, lalap-lalapan, ikan mujair goreng,ikan mas goreng dan aneka sayuran racikan Betawi tersedia di sini. Satu yang menjadi ciri khas pondok makan ini adalah Sayur Gabusnya yang sedap dan kental dengan bumbu rempah-rempahnya.
Maka, tidak heran kendati sudah berdiri sejak 30 tahun lalu, rumah makan yang dikelola oleh pasutri (pasangan suami istri) Lukman-Mpok Suhermas itu menjadi langganan berbagai kalangan yang rindu akan maakan Betawi, utamanya Sayur Gabus. Bahkan, pondok makan ini bisa dibilang tempat makan favorit sejumlah pejabat dan pengusaha di Kota Patriot.
Coba saja Anda kunjugi lokasi ini di saat jam makan siang. Deretan kendaraan berpelat merah dan antrean pegawai berseragam PNS mudah ditemui di sini. Mpok Suhermas yang akrab disapa Mpok Mas, tampak ramah melayani para konsumennya. “Si sinimemang terkenal dengan Sayur Gabusnya. Mereka yang ke sini pasti mau nyicipin Gabusnya,” ujarnya.
Sejak hadir pada 1970 silam, ujar Mbok Mas, bumbu masakannya tidak berubah. Menurutnya tidak ada hal yang istimewa ari cita rasa masakan racikannya itu. “Bumbu-bumbunya biasa aja kok,” ujarnya meredah yang mengaku setiap hari sedikitnya melayani sekitar 100 orang pengunjung (bersambung).
sea_man
Feb 10 2009, 09:37 AM
Pondok Lukman Gabus, Warung Khas Betawi yang Tetap eksisi (2-Habis)
Sehari bisa menghabiskan 55 Kilo Ikan Gabus
Sayur gabus khas rumah makan Betawi ini begitu populer di kalangan warga. Aromanya yang khas dan kental dengan bumbu pucung menyebabkan sayur ini disebut sebagai Gabus Pucung.
Racikan bumbu Gabus Pucung ala Mpok Sehermas ini sangat berbeda dari masakan sejens lainnya. Mpok Mas sendiri mengaku bahan baku masakannya diperoleh langsung dari pasar-pasar tradisional di Kota Bekasi. “Yang pasti, bumbu pucung dan ikan gabusnya harus nomor satu,” katanya coba membuka rahasia masakannya.
Untuk mendapatkan cia rasa gabus yang sempurna, Mpok Mas menyebut kebiasaannya menggoreng lebih dulu ikan gabusnya. Sedangkan sayur dengan bumbu pucung. “Sayurnya dihitamkan dengan bumbu pucung. Sebelum dimasukkan ke dalam sayur ikan gabusnya digoreng dulu,” katanya.
Tidak cukup sampai di situ, untuk mereka yang menyukai rasa pedas, sayur gabus pucung diberikan lada secukupnya. Untuk memberi aroma wangi dalam sayur gabus, ditambahkan daun pandan dan seledri. “Rasanya Cuma itu doang bumbu-bumbunya. Saya juga heran banyak yang datang ke sini,” ujarnya yang mengaku dibantu enam orang pegawainya setiap hari.
Dalam sehari dia mengaku menghabiskan 55 kilogram gabus dengan harga satu porsi mencapai Rp. 20 ribu. Selain gabus pucug, Mpok Mas juga menyajikan masakan Betawi lainnya, seperti pecak lele, semur jengkol, ikan mujair goreng, dan ikan mas goreng.
Masakan itu, sambung Mpok Mas, disajikan dengan proses pebuatan yang sederhana. Dia mencontohkan, untuk pecak lele, bumbunya cukup dengan menggiling kacang tanah sebagai bumbu andalannya. “Pecak lele paling mudah bumbunya ketimbang yang lain,” katanya.
Sejumlah pengunjung yang ditemui Indo.Pos mengaku, sayur gabus pucung buatan Mpok Mas memang bercita rasa beda dari masakan sejenis lainnya. Seperti yang diutarakan Aisyah, 29 tahun, warga Pondok Gede yang sengaja menyambangi warung tersebut untuk menikmati gabus pucung. “Rasanya memang beda dari masakan gabus pucung lainnya,” ujar wanita yang menyempatkan diri mengunjungi warung ini seminggu sekali. Bagaimana dengan Anda?
Source : Blog Bekasi Heritage
Danu_Murphy
Feb 10 2009, 10:57 AM
wih bro..kalo ada gambarnya pasti lebih mantep tu ...
jadi kepengin neh ..
nanokiero
Feb 10 2009, 06:41 PM
ini dia gambar gabus pucung nya

sea_man
Feb 10 2009, 08:03 PM
Nah ntu dia pictnya (jadi malu keduluan nih), Thx my brader Nano,
@sam, ane tunggu kalo ke jakarta lagi yak langsung ke bekasi
Danu_Murphy
Feb 10 2009, 08:16 PM
hooh bro.. secara ane penggemar ikan gabus ...
FYI .. kalo disini namanya ikan haruan llho bro...
revenian
Feb 16 2009, 09:43 PM
Eh, ko Bekasi c?? Bknnya Gabus Pucung tuh andelannya Betawi yak??
sea_man
Feb 16 2009, 10:01 PM
Lha kapan Bekasi itu masuk betawi,
anyway di Jakarte ane sepertinya gak pernah mendengar gabus pucung
n setelah pindah ke bekasi gabus pucung ini begitu tenar dari utara, timur, selatan
maupun barat bekasi, gitu neng peace ach (gift-nya gak idup)
kalo gak percaya puter2 aja tuh jakarta pasti mereka warga jakarta akan asing dech dengarnya
nanokiero
Feb 16 2009, 10:40 PM
QUOTE (Bank_Ben @ Feb 16 2009, 10:01 PM)

Lha kapan Bekasi itu masuk betawi,
anyway di Jakarte ane sepertinya gak pernah mendengar gabus pucung
n setelah pindah ke bekasi gabus pucung ini begitu tenar dari utara, timur, selatan
maupun barat bekasi, gitu neng peace ach (gift-nya gak idup)
kalo gak percaya puter2 aja tuh jakarta pasti mereka warga jakarta akan asing dech dengarnya
yang bawa ke bekasi tuh orang betawi bank_ben...
pic yg gw temuin tu yg punya warung katanya orang betawi.....
cuma di jakarta jarang banget deh
v1can
Feb 19 2009, 02:43 AM
jadi pengen nyobain nih...duh jadi laper bro....ha8
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please
click here.