demi mendengar suaramu
aku asingkan seisi bumi
demi mendapat nasihatmu
aku sibakkan cakrawala
aku hamparkan permadani surga
kala itu telah berlalu
beriringan mesra dengan masa
sang kekasih yang berkehendak
tak kuasa engkau menolak
beranjak menuju singgasana
bulir embun tak lagi sejuk kurasa
hembusan bayu terasa hambar
ketika fajar menjelang
kabar itupun datang
mentari pun enggan menampakkan diri
hilang sudah separuh jiwaku
pelukis indah suasana kalbu
jika senja itu tiada
hendak kemana mentari berkalam
dan siapa penuntun bulan mengarungi malam
hanya do'a pengantar rasa
ketika jiwa tak bersinggasana
fajar tak lagi memancarkan kehangatan
senja tak lagi mengantar ke peraduan
karena yang ada hanya gelapnya malam
(fajar, 20 Feb '09)
==================================================================
maafkan aku wahai ibu
aku merasa terkurung
dalam lipatan sendu
sementara hati yang koyak
masih berusaha aku rajut
meski dengan benang usang
yang kini mulai kusut
bahtera tak lagi miliki pantai
terombang-ambing tak tentu arah
hanya berusaha kembali ke tepi
membangun kembali pelabuhan hati
berharap semua cerah kembali
kepadamu ibu semua harap
hanya bagimu bunda semua cita
namun mendadak semua sirna
cita dan harapanku sia-sia
karna engkau tak lagi disini
maafkan anakmu ibu
tak sempat aku jumpai dirimu
untuk sekedar menatap wajahmu
bahkan mengantar ke peraduan terakhirmu
hanyalah do'a sebagai darma baktiku
(didlm pesawat diatas laut jawa, 20 Feb '09)
