betra
Feb 26 2009, 06:02 PM
Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata lana. Ada sebersit takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. Dia yang baru . Aku yang usang.
Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.
Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai sakit rasanya. Bibirnya bergetar resah, mengantisipasi. Begitu terdengar nada sambung nanti, Lana siap berekspresi layaknya pose untuk berfoto yang terakhir kali. Kata “apa kabar” akan meluncur dengan semangat penghabisan mentari sore sebelum dipadamkan ma;am. Lalu ia lancarkan sepaket basa-basi dalam urutan yang tepat, seperti yang selalu dilatihkannya dalam hati sebelum lelap tidur, agar percakapan mereka tercatat sejarah sebagai yang paling mengasyikkan.
Lalu perasaan itu. Rasa rindu yang akan ia ungkap hati-hati, dicicil sehingga tidak terasa picisan. Rasa sayang dikemas dalam kiasan seperti membungkus puteri dalam gaun pesta lalu dilepas anggun ke lantai dansa. Cantik mengundang tapi membuat segan. Semua itu telah dilatihkannya berhari-hari. Bertahun-tahun.
Dua angka sebelum digit terakhir. Jarinya tertahan oleh detik yang tahu-tahu beku. Detik yang tahu-tahu melebar dan membentangkan dua puluh tiga tahun perkawanan. Dia selalu memuja Lana, begitu kata semua orang. Tapi mereka tidak bisa bersama karena alasan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Kamu itu bajaj bermesin BMW, begitu lana mengungkapkan padanya saat didesak.
Lana kenal banyak BMW bermesin bajaj, dan semua itu habis ia hina-hina. Untuk benar-benar bersanding sebagai pacar lana, seseorang harus jadi mobil mewah Eropa luar dalam. Lana yang unik dan glamor. Kamu cukup jadi kacung intelektualku saja, kata Lana padanya. Mereka berdua lantas tertawa-tawa, mereka suka perumpamaan itu, sekalipun hatinya patah setiap kali kata “kacung” terlontar dari bibir Lana yang menguncup menggemaskan.
Dia ingin jadi pendekar sakti, seorang master, ilmuwan kaya raya yang menciptakan temuan-temuan hebat untuk memajukan umat manusia. Lana ingin jadi anggota dari kelompok ultraelit yang memperoleh teknologi dari makhluk Mars untuk membangun koloni rahasia di bulan. Mereka percaya teori konspirasi dan secara berkala bertukar informasi yang dikarang sendiri. Tak ada orang lain yang mampu menghibur lana sebegitu sempurna, memuaskan rasa humornya, menjajal daya khayalnya.
Masa kuliah mereka habiskan di tempat berbeda. Dia kuliah di UI dan untuk itu terpaksa menumpang di dapur pamannya di Lenteng Agung karena beliau beranak delapan dan itulah satu-satunya tempat yang masih muat digelari kasur. Lana kuliah di USC yang mengharuskannya tinggal di Los Angeles. Sama-sama “L.A”, baru kalau diuraikan perbedaan kelasnya terlihat, canda mereka selalu. Namun ada kalanya persamaan insignifikan itu, akasara L dan A, menjadi satu-satunya penghibur kala kangen mereka tak lagi terbendung.
Lana tidak menyelesaikan kuliahnya di USC, dan itu tidak masalah. Bisnis keluarganya terlalu banyak untuk menunggu sebuah gelar kesarjanaan. Lain halnya dengan dia yang mencicil gelar demi gelar, mengetuk banyak pintu demi beasiswa, lalu kembali berjuang meniti karier akademis yang terjal, yang tak akan pernah membuatnya sekaya raya Lana.
Saat dia menjadi dosen, hidup sederhana dalam rumah cicilan tipe 36 di perumahan milik universitas yang sebagian masih rawa-rawa, Lana membantunya pindahan, bahkan menginap dan ikut tidur di atas tikar. Pendar-pendar televisi pemberiannya menyemarakkan dinding polos yang tak berhias. Lana tidak punya kolini di bulan, tapi penghasilannya lebih dari cukup untuk menghadiahkan televisi.
Lana tinggal seminggu di rumah itu. Setelah kita mencoba hidup 24 jam x 7 hari dengan seseorangdan tidak merasa bosan maka orang itu bisa kita nikahi, Lana berteori. Mendengar ucapan Lana, ia tertawa sampai berurai air mata, diikuti Lana sampai tercekik-cekik. Saya tidak mungkin menikahi kamu, ia berceletuk di ujung tawanya. Barulah Lana sadar mereka berdua tertawa karena alasan yang berbeda.
Satu hari dia bilang kalau dia punya pacar. baru seminggu. Seorang gadis tingkat akhir yang lugu, kaku, dan tidak seru. Tidak percaya UFO, tidak suka Kho Ping Hoo, dan tidak peduli ada tidaknya konspirasi global selama nasi tersaji di meja makan keluarganya setiap hari, selama adzan masih berkumandang loma kali sehari. Kenapa kamu bisa suka, Lana bertanya. Karena dia mau sama saya, ia menjawab. Lana spontan tertawa, keras dan lama. Ia hanya tersenyum dan menunggu tawa Lana usai. Saya akan menikah, lanjutnya saat hening. Bagaimana kamu bisa menikahi orang yang baru kamu kenal, yang tak seru, yang tak bisa menghargai keunikan pikiranmu, yang tak bisa kamu ajak bercanda dan berkhayal semalam suntuk, cecar Lana yang mulai marah karena percakapan itu makin tidak lucu.
Dia diam, menatap Lana dengan lelah. Dia jemu menanti yang tak pasti. Dia jenuh menjadi pihak yang tak berdaya. manusia mana yang tidak, pikir Lana. Namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Keadaan mereka terlampau jauh berbeda. Terkadang Lana berpikir keajaibanlah yang melahirkan manusia satu itu. Bagaimana mungkin lingkungan serba kekurangan, kolot, konservatif, ortodoks, kampungan, dan segala ajektif yang menandakan sindrom klaustrofobik sosial, mampu menghadirkan dia yang sebegitu canggih dan gila. Seolah dia terbelah dalam dua dunia: dunianya bersama Lana, dan bersama sisa dunia tanpa Lana.
Lana ingat saat terakhir kali nomor itu tertera di layar ponselnya: Besok saya lamaran. Doakan, ya. Lana tergeli sendiri, apa yang harus didoakan? Hidup berjalan sesuai kontrak yang disepakati antar-roh sebelum terlahir jadi daging ke dunia. Apa pun yang terjadi bukanlah keberuntungan atau kesialan, melainkan eksekusi kontrak belaka. Jadi, apakah seseorang bisa dibilang sial kalau sebenarnya kesialan itu direncanakan? Lana tambah stres saat pertama kali mendengar konsep itu di retret antistres.
Akhirnya Lanatak tahan lagi, menelepon membabi buta: Saya mohon, jangan pergi melamar ke sana. Kalau kamu menikah, saya akan jadi orang paling kesepian di dunia. Kalau perlu saya yang melamar ke orang tua kamu. Jangan bohongi diri kamu. Cuma saya yang mengerti siapa sebetulnya kamu…
Ia memotong, dingin, seolah disusupi roh asing yang tak Lana kenal: Selama ini kamu Cuma mengenalku dalam versi yang kamu mau. Aku begitu karena kamu. Kamu tidak pernah tahu siapa diriku sebenarnya.
Lana menggeleng. Tidak mungkin. Barangkali ia salah sambung. Perjanjian macam apa ini? Benarkah ini roh yang sama, teman sebangkunya sejak SMA, yang selalu berkata mereka adalah sejiwa terbelah dua, soulmate? Lana menutup telepon. Aku ditipu. Breach of contract.
Anaknya yang paling besar sudah mau SD, mereka masih tinggal di rumah yang sama. Lana tahu itu dari seorang alumni. Dan kamu belum menikah? Temannya itu bertanya, hati-hati. Lana menggeleng ringan dengan ekspresi yang bikin iri. Ada kemerdekaan di sana, penerimaan, dan keberanian untuk menjadi beda. Sejak dulu memang Cuma Lana yang punya itu semua, temannya membatin. Bergaul dengan Lana seperti hanyut dalam air sejuk, tapi kesejukan itu lama-lama menjadi dingin yang mengintimidasi. Temannya pun permisi pergi, meninggalkan Lana yang kehilangan belahan jiwanya pada reuni akbar, pada saat jiwa-jiwa yang terpisah seharusnya kembali bertemu.
Digit terakhir. Jatuh pada angka nol. Jempol Lana gemetar seolah dibebani bergunung-gunung sampah batin yang dikoleksinya sepanjang hayat. Hatinya lalu mengukur dan menimbang: akankah aku bertambah tenang bila berhasil membuktikan pada diriku, pada dia, pada dunia, kalau aku baik-baik saja?
Satu percakapan telepon akan membuktikannya. Satu dosis kejujuran sebelum Lana pergi meracuni tubuh dengan kemoterapi-racun yang berbohong jadi obat.
Jempol itu melayang di atas nol. Kejujuranlah obat sejati.
Suara sintetik bernada tinggi menggema di ruang tunggu yang lengang. Tombol terakahir dipencet sudah. Aku mencintaimu. Tidak akan berubah.
Tombol merah yang Lana pilih menghapus kesembilan digit angka pada layar ponsel yang menyala biru. Seorang perempuan berseragam menghampirinya, “Bapak Maulana, mari saya antar ke pesawat.”
Lana tidak terburu-buru. Tangannya bergerak pelan dan khidmat. Pesawat itu pasti mau menunggu seorang pesakitan untuk melipat dan menyimpan secari kertas ke dalam dompet, sebagaimana kertas itu sudah terlipat dan menunggu bertahun-tahun di tempat sama. Lalu Lana beringsut hati-hati ke kursi roda yang dibawakan khusus untuknya.
“Tidak apa-apa, Pak?” petugas itu bertanya saat melihat mata Lana.
Lana tersenyum tipis, ringan, ekspresi yang memancing rasa iri. Ada kejujuran di sana, kepasrahan, dan keberanian untuk menjadi beda. Namun ada juga bulatan air menyerupai angka nol yang menyembul di pelupuk mata. Lana menghancurkan bulatan itu dengan punggung tangan, “Tidak apa-apa.”
djoedjoer berboedi loehoer
Apr 20 2009, 07:14 PM
SIKAT GIGI
Pujangga itu melongokkan kepala dari jendela mobil tanpa takut kepalanya tersambar kendaraan nakal yang kadang menyalip dari kiri, tetap menatap langit yang berantakan oleh bintang lalu ribut sendire. Ia selalu histeris akan hal-hal yang tak kumengerti.
Setelah kami berdua duduk di atas rumput, dengan tabah ia menjelaskan. “Coba lihat. Langit begitu hitam sampai batasnya dengan bumi hilang. Akibatnya, bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Indah, kan?”
Ia pun dianugerahi kemampuan untuk menjelaskan segalanya dengan tepat, rasional, dan masih kedengaran cantik. Itulah satu-satunya cara agar aku mampu mengerti keindahan yang ditangkap matanya. Aku bukan pujangga dan tak pernah bisa bermetafora. Monokrom dan kurang dimensi, katanya selalu tentang diriku. Praktis dan realistis, begitu aku menerjemahkannya.
Dengan segenap rasio dan akal, aku mencintai perempuan di sampingku itu. Egi, yang telah lama kukenal, teman baikku, sosok yang kubanggakan dan kukagumi. Ia mampu berpanjang lebar menjelaskan cinta dan adieksistensinya pada aku yang tak pernah mau repot menganalisis. Yang kutahu, aku peduli padanya, tidak pernah bosan seharian bersamanya, dan yakin bahwa kami dapat bekerja sama membina apa pun, termasuk rumah tangga. Itulah aplikasi substansi berjudul “cinta” bagiku. Cukup sekian. Egi juga tahu itu.
“Kamu kedinginan?” tanyaku sambil siap-siap mebuka jaket.
Mendengarnya, Egi yang hanya memakai cardigan tipis menjadi sadar akan dinginnya cuaca. Ia pasti telah hanyut jauh dalam dunianya sendiri. Di sana jiwanya barangkali dihangatkan, lalu merembet hingga ke kulit.
Dalam balutan jaketku Egi meringkuk. Sorot matanya masih melayang-layang. Aku tahu apa yang ia lamunkan, apalagi setelah mendengar helaan nafasnya, tapi enggan aku bertanya. Buat apa mengungkit sesuatu yang hanya membuat pikiranku terganggu.
Tak lama kemudian kami kembali ke Jakarta.
“Sudah lama kita tidak ke puncak lagi,” ujar Egi yang melenggang dengan sikat gigi di tangan. “Terakhir kapan, ya?”
“Enam minggu yang lalu? Waktu langit dan bumi jadi satu itu.”
Egi menatapku lucu. “Kamu punya ingatan hebat, tapi kamu mengucapkannya sama datar dengan bilang 1+1=2…”
Suara sikat beradu dengan gigi menggema dari kamar mandi. Aku pun kembali membaca dengan kaki berselonjor di sofa panjang. Egi selalu lama bila menyikat gigi.
Tiba-tiba suara gosokan itu berhenti. Malam yang hening membuatku menjadi awas akan perubahan yang terjadi. Dari pantulan kaca, kulihat pintu kamar mandi terbuka dan Egi tengah mematung dengan mulut penuh busa.
“Egi, kenapa?”
Terdengar suara berkumur. Keran dimatikan.
“Tio, saya pulang, ya.” Lunglai ia menghampiriku.
“Kamu di sini aja. Besok pagi saya antar pulang. Saya malas keluar lagi,” kataku sambil menguap. Tak perlu berbasa-basi dengan Egi. Kami sudah cukup dewasa dan cukup dekat untuk tidak lagi canggung kalau Egi terpaksa menginap di tempat tidurku, bangun pagi dan sarapan bersama, lantas aku mengantar dia pulang atau ke tempat kerjanya. Egi bahkan menginventaris sebuah sikat gigi di sini.
Mata itu bersaput air. “Saya merasa tidak karuan,” gumamnya pelan.
Rasa bersalah menggigitku. Sikap terlampau kritis pada Egi dan air nmatanya seringkali mendorongku untuk menginjeksikan logika yang kupikir perlu, yang malah membuatnya tambah sedih dan menganggap aku tak bisa atau tak suka menolongnya. Pantas jika ia memilih pulang daripada meledakkan tangisnya di depanku.
“Silakan kamu menangis selama menangis selama mungkin. Saya janji akan diam.” Aku tersenyum dan menariknya duduk di sampingku, kembali membaca.
“Tio…” panggilnya setelah lama mematung. “Saya suka sekali menyikat gigi. Mau tahu kenapa?”
Ingin kulontarkan jawaban spontan seperti “supaya gigi tidak bolong”, atau “afeksi berlebihan pada rasa odol”, tapi kuputuskan untuk diam.
‘Waktu saya menyikat gigi, sata tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Dunia saya mendadak sempit… Cuma gigi, busa, dan sikat. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tio, tapi berarti banyak.”
Aku tahu apa yang kau maksud, wahai Egi, pujanggaku sayang. Cukup lama aku terlatih membaca makna-makna tersirat dalam kalimatnya, walaupun belum cukup lama untuk mengerti alasan di balik itu semua, misalnya, buat apa ia pelihara luka hati yang Cuma bikin matanya berair?
Aku menatapnya iba. Egi dengan pipi basah, tangisannya yang tak pernah bersuara, dan linangan itu menderas ketika aku menutup bukuku, memilih untuk merangkulnya.
“Kamu… pasti sebenarnya… sudah ingin ngomel-ngomel,” ia berbisik susah payah.
Kutepuk-tepuk bahunya, “Saya tetap tidak mengerti. Tapi semuanya terserah kamu.”
Saat seperti ini selalu membuatku berpikir, jangan-jangan aku yang terlahir cacat. Ada satu bahasa di semesta ini yang tidak terikut ke dalam paket genetikku, makanya aku selalu gagal mengerti. Padahal seorang ahlinya ada sangat dekat di sini, Egi, guru besar bahasa aneh itu. Bahasa dari planet tempat cinta punya logika serta hukum sendiri.
Aku dikutuk selamanya menjadi makhluk ekstra-terestrial.
Ulang tahunnya yang ke-27. Setelah bersenang-senang bersama serombongan teman, kini kami kembali berdua. Mata yang menerawang jauh, kaki yang meringkuk, nafas yang mulai ditarik-ulur. Demikianlah Egi, bahkan pada hari seistimewa ini.
Keheningan selalu membawanya ke perbatasan yang sama, batas antara dunia tempat kami ada dan dunia yang tak mengikutkanku serta. Tak pula ada yang bisa menahannya menyebrang pergi.
“Ini… hadiah untuk kamu.” Aku menjegal langkah terakhirnya sebelum menginjak antah berantah itu.
Egi terkejut melihat kotak di depan mukanya. “Sejak kapan kamu kasih kado segala?”
“Usia 27 itu usia penting,” jawabku sekenanya.
Tawanya semringah ketika tahu apa isi kotak itu.
Aku sibuk menjelaskan. “Sikat gigi elektronik. Bergaransi, watt kecil, antiplak, sikatnya banyak dan masing-masing beda fungsi. Seri ini punya kemasan khusus buat travelling, cukup kecil untuk kamu bawa-bawa di dalam tas. Ini buku panduannya…”
“Tio,” potongnya geli seraya menahan tanganku, “saya tahu kamu itu manusia praktis yang pasti memilih hadiah seperti ini, tapi… kenapa sikat gigi?”
Kutatap kedua mata itu, hanya untuk menjemput kegugupan yang membuatku gelagapan, “Soalnya… ehm, soalnya…” kubersihkan tenggorokan, mengusir jauh-jauh keparat yang menghambat lidah, melirik dan mendapatkan Egi tengah tersenyum menunggu jawabanku. Senyuman yang melonjakkan listrik di jaringan otak. Senyuman yang meyakinkanku bahwa dunia ini cukup indah tanpa perlu lagi surga. Senyuman yang membuatku berkecukupan.
“Saya tidak pernah mengerti dunia dalam lamunan kamu,” kata-kata itu akhirnya meluncur keluar, “pengharapan yang kamu punya, dan kekuatan macam apa yang sanggup menahan kamu begitu lama di sana. Tapi kalau memang sikat gigi itu tiket yang bisa membawa kamu pulang, saya ingin kamu semakin lama menyikat gigi, semakin asyik, sampai moga-moga lupa berhenti. Karena berarti kamu lebih lama lagi di sini, di dunia yang saya mengerti. Satu-satunya tempat saya eksis buat kamu.”
Ia terperangah. Bahunya bergerak. Menjauh.
“Egi… jangan…” bisikku waswas.
“Kamu tahu perasaan saya, dan saya tidak pernah mau membahas soal ini lagi.”
“Tapi beginilah kenyataannya, saya tidak pernah berubah dari bertahun-tahun yang lalu… kamu tahu itu…”
“Kamu sahabat saya… sahabat terbaik…” Ia makin menjauh. Bersiap menutup diri.
“Sampai kapan kamu terus mengharapkan dia?!” Tak tahan aku berseru. “Orang yang tidak pernah ada saat kamu paling membutuhkan dukungan, orang yang mungkin memikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh waktu yang kamu habiskan buat melamunkan dia, orang yang tidak tahu kalau kamu bahkan harus menyikat gigi demi melepaskan dia barang tiga menit dari pikiran kamu?”
“Dia ingin datang. Biar itu cuma dalam hati. Dan dia akan menjemput saya, pada kesempatan pertama yang dia punya. Saya bisa merasakan kalau dia selalu memikirkan saya.”
“Kapan kamu akan bangun?” keluhku letih.
Tegas kepalanya menggeleng. “Ini namanya cinta sejati. Satu hal yang tidak pernah kamu tahu.”
djoedjoer berboedi loehoer
Apr 20 2009, 07:23 PM
Seharusnya ada pepatah bijak yang berbunyi: “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan”. Sekalipun ganjil terdengar, tapi itu penting. Pepatah bukan sekadar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus lagi tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Dibutuhkan seorang Hera yang mencari Herman.
Gadis berumur 13 tahun itu favorit semua orang, termasuk aku, sekalipun dia bukan adikku kandung melainkan adik sahabatku. Hera yang manis dan manut. Tak ada pergolakan berarti dalam hidup remaja belasan tahun yang taat pada orang tua, negara, dan agama.
Sampai satu sore kami bicara-bicara tentang Herman Felany di teras rumahnya; filmnya yang baru kami tonton; kumisnya yang mengagumkan; yang mengilhamiku beserta seluruh teman abangnya membuat kompetisi untuk dulu-duluan menumbuhkan kumis menyerupai Herman. Hera, yang cuma menontoni kami bicara, dengan polos tahu-tahu berujar, dia belum pernah punya teman bernama Herman. Teman-teman abangnya yang lain tidak mengindahkan, kecuali aku. Kusempatkan berbisik di kupingnya: Pasti ada di sekolah, kamu cari saja.
Seminggu kemudian Hera kembali padaku dan melaporkan bahwa ternyata tidak ada yang bernama Herman di sekolahnya, bahkan guru-guru sekalipun. Aku cukup tersentak. Ratusan siswa, puluhan guru, tidak ada yang bernama Herman? Budi banyak, Ahmad banyak, bahkan Ludwig juga ada, tapi tidak Herman. Aku jadi tersadar, aku juga tidak punya kenalan bernama Herman.
Hera melebarkan sayap, mencari Herman di lingkungan rumah. Ia mendatangi Pak RT dan Pak Lurah. Tetap tidak ada Herman atau Pak Herman atau Dik Herman. Aku menawarkan RT dan kelurahanku, kami berdua mencari, dan tetap tidak kami temukan Herman. Hera mulai mencari tahu ke sanak saudaranya, teman-temannya, adakah yang kenal seseorang bernama Herman? Ajaibnya, tidak ada. beberapa orang memiliki unsur Herman atau ke-“herman-herman”-an dalam namanya: Feri Hermansyah, Dudi Hermanto, Indra Hermadi, Hermawan Adi, tapi Hera tak terpuaskan. Ia menginginkan seorang Herman sejati.
Tentu tak setiap hari kami disibukkan oleh pencarian Herman. Waktu berlalu, dan Hera sudah siap lulus SMA. Hera, yang ingin jadi dokter anak, berpamitan akan kuliah di Jakarta. Semoga bertemu Herman! Demikian ucapan terakhirku sebelum Hera naik ke gerbong kereta.
Beberapa tahun kemudian anak pertamaku lahir. Baru saja kukhayalkan kunjungan kami ke Dokter Hera yang cakap, tiba-tiba kudengar kabar Hera drop out. Ternyata si anak sempurna itu sudah berubah jadi manusia biasa. Katanya, Hera terkenal suka gonta-ganti pasangan. Satu kali, ia kena batunya. Hera hamil di luar nikah. Ironisnya, pengetahuannya sebagai calon dokter gagal menuntunnya untuk berbuat masuk akal. Karena takut diamuk, Hera ke dukun. Perutnya digilas dan digerus. Tak ada janin yang keluar, hanya darah dan kerusakan permanen di rahim. Hera sakit keras lalu terpaksa pulang.
Lama Hera mendekam seperti tahanan rumah. Wajah manisnya berubah pahit sekian lama. Ia lantas dikirim ke beberapa pesantren. Baru setelah ia dinilai sembuh luar-dalam-lahir-batin, Hera diizinkan untuk punya cita-cita. Dan Hera memilih terbang. Aku menemuinya saat ia pamit mau pendidikan pramugari. Supaya ketemu Herman di angkasa? Aku bercanda. Hera tertawa, entah itu berarti iya, atau tidak, atau menertawakanku. Seakan-akan pertanyaan tadi langsung mengklarifikasikanku ke dalam kantong sampah bernama “masa lalu” yang ingin ditinggalkannya secepat mungkin.
Pada pertemuan kami berikut, Hera sudah berseragam pramugari sungguhan. Cantik sekali. Mau terbang sampai kapan, kapan ada niat menikah, tanyaku. Hera tersenyum setengah mendengus sambil menggeleng kenes, seolah merespons pertanyaan sekonyol “adakah garam yang tak asin?”. Aku mengartikannya sebagai “tidak”. Hera telah bermetamorfosis menjadi perempuan modern yang tak terjangkau ukuran sosialku.
“Sudah ketemu Herman?” tanyaku lagi. Kembali Hera tertawa lepas. Ia lalu bercerita, sejak tahunan lalu ia sudah stop mencari, apalagi menyusuri daftar nama, karena bukan itu yang ia mau. Hera ingin langsung bertemu dengan seseorang, menjabat tangannya, lalu orang itu berkata: Herman. Kamu membuat pencarian ini tambah susah, kataku. Lebih alami lebih seru, jawabnya mantap. Dan tetap ia meninggalkan nomor telepon, kalau-kalau alam menentukan akulah yang menemukan Herman untuknya.
Tentu tidak kupikirkan Herman setiap saat. Lebih sering aku berpikir tentang Hera. Sahabatku bercerita kalau adik perempuannya itu menjalin hubungan dengan pak pilot yang sudah beranak lima. Namanya Herman? Aku bertanya, karena kalau iya, rasanya aku bisa sedikit maklum. Bukan, namanya Bajuri. Pak pilot Bajuri ini sebentar lagi akan menceraikan istrinya demi hidup tentram dengan Hera. Tak ada yang memberi restu-termasuk aku, karena nama orang itu Bajuri, bukan Herman.
Semakin sering aku berpikir tentang Hera. Kabarnya, ia keguguran kandungan dua kali, dan akhirnya mogok hamil sama sekali. Tak lama, pak pilot dan Hera bercerai-atau putus cinta saja, tidak kutahu pasti. Hera, yang sudah berkorban pindah ke maskapai lain, tahu-tahu kehilangan pekerjaan karena perusahaannya gulung tikar. lalu Hera sekarang di mana? Aku bertanya pada sahabatku. Di Jakarta, tidak pulang-pulang, mungkin malu, dia sudah tidak pernah sowan dengan bapak-ibu sejak kumpul kebo sama pilot gaek itu, demikian sahabatku menjawab. Biarkan saja, katanya, nasib sialnya itu gara-gara tidak diberi restu.
Tak kusangka, justru akulah yang harus menemui Hera duluan. Sebenarnya keluarga Hera tahu dia di mana, tapi pura-pura tidak tahu. Hera berdagang kain batik dari pintu ke pintu, sesekali menyambi menjadi sales barang elektronik. Mukanya lelah dan cahaya matanya lenyap diisap kecewa. Saat kutemui, Hera menghabiskan satu jam hanya untuk menangis, dan berjam-jamu ntuk berkesah dan berkeluh. Lama tak ada yang mendengarkannya. Hera bilang, ia kecewa dengan hidup. Hidup tidak adil. Hidup itu kejam. Hidup itu ini, hidup itu itu…sampai kosa katanya habis. Barulah aku berkesempatan bicara, bahwa telah kutemukan Herman untuknya.
Barangkali itu kabar baik pertama yang pernah ia terima selama bertahun-tahun. Tanpa berpikir, Hera ikut menemui teman mertuaku yang bernama Ny. Herman. suaminyalah yang bernama Herman. Tulen, tanpa campuran “to”, “syah”, atau yang lainnya. Ditemukan secara alami, sesuai pesanan. Bukan lihat buku telepon, atau daftar kelurahan.
Namun Ny. Herman yang kutemui sebulanan lalu sudah berubah. Tak lagi ceriwis dan murah senyum. Pak Herman baru saja meninggal seminggu lalu. Pergi meninggalkan istri yang tak punya siapa-siapa lagi di dunia, pergi meninggalkan Hera tanpa sempat berjabat tangan dan berkata: Herman. Ny. Herman menangis, Hera menangis, dan aku ikut murung. Seolah ada 2 janda yang ditinggal mati.
Sepulang dari sana, aku tak banyak bicara, hanya sekali sebelum kami berpisah: Bahkan untuk menemukan seorang Herman buatmu, saya gagal.
Hera menunduk, dan hampir berbisik kudengar ia berkata: Abang, dari aku kecil dulu, cuma Abang yang selalu peduli padaku. Dan aku selalu sayang sama Abang, tapi Abang seperti buta. Tolong jangan lagi mencarikan Herman. Jangan lagi bertanya soal Herman. Karena sebetulnya aku tidak butuh Herman. Aku butuh orang seperti Abang.
Aku tidak langsung paham arti ucapannya, tapi tanganku refleks menjauh ketika Hera meraih jemariku. Sepertinya ada yang salah. Ia selalu kukenang sebagai Hera yang mencari Herman. Bukan mencari aku. Segalanya salah hari itu. Kakiku berjalan cepat meninggalkannya, yang lamat-lamat kudengar memanggil namaku.
Sejak hari itu, aku berusaha berhenti memikirkan Hera. Tidak gampang, sungguh. Aku begitu terbiasa memikirkannya. Saat Herman Felany sesekali muncul di televisi, atau kubaca nama Herman di surat kabar, atau bersentuhan dengan segala yang berhubungan dengan Hera, maka kudengar lagi suaranya sore itu, memanggil namaku. Dan betapa pun punggung ini ingin berbalik, aku tahu lebih baik untuk terus berjalan. Terus berjalan.
Kini, sering aku bertanya, akankah segalanya berbeda, jika hari itu aku memilih menghadapi Hera dan isi hatinya? Bila aku terus berusaha mencarikan Herman sekalipun bukan itu sesungguhnya yang ia cari? Bila aku berani mengakui bahwa pencarian Herman adalah alasanku untuk sekadar menemuinya?
Seratus hari. Kuselipkan cetakan surat Yasin itu ke dalam tas. Bersalaman dengan sahabatku dan keluarganya seolah untuk yang terakhir kali. Karena rasa-rasanya aku tidak akan kuat kembali lagi. Setiap malam selama seratus hari terakhir mataku basah, sejak mendengar kabar duka dari sahabatku tentang Hera yang satu hari pergi dan tak kembali.
Teman Hera yang bersamanya terakhir kali bercerita bahwa dia dan Hera didatangi seorang pria yang tertarik pada wajah Hera dan menawarkannya jadi model iklan. Hera sama sekali tidak tertarik, ia terima kartu nama yang diberikan pria itu dengan sebelah mata. Namun setelah beberapa lama, Hera seperti tersadar akan sesuatu. Tepatnya, ketika benar-benar membaca kartu nama tadi. Ia berlari mengejar pria itu, dan tak pernah kembali. Jasad Hera ditemukan 2 hari kemudian, tersangkut di tengah jurang. Dibuang dari mobil bernomor polisi Surabaya, demikian keterangan seorang saksi mata. Kubaca berita itu di pojok halaman depan sebuah koran merah.
Sahabatku bahkan sempat menunjukkan kartu nama yang menjadi petunjuk lenyapnya Hera. Saat kubaca nama yang tertera di sana, seketika aku dapat merasakan kaki Hera yang berlari, sekuat tenaga, mengejar satu-satunya impian yang terwujud dalam hidupnya yang bergelimang kecewa, mengajak pemilik kartu nama itu berkenalan sekali lagi. Demi mendengar sepotong nama disebut: Herman.
Kubayangkan wajah cantik itu berseri.
Herman Suherman.
Kebahagian Hera pasti berlipat dengan ditemukannya seorang Herman kuadrat, tanpa tahu bahwa satu Herman menggenapinya, tetapi dua dapat membunuhnya.
Aku juga tak tahu itu. Tidak ada yang tahu. Tak ada pepatah yang bisa jadi pemandu. Karena setidaknya, bila kudapatkan seorang Herman terlebih dahulu, Hera masih bernyawa. Ia mungkin ada di rumah ini, menemaniku melewati hari tua. Hingga tak perlu lagi aku berandai-andai tentang apa jadinya hidup memiliki dua cinta. Satu menggenapi, tetapi adakah dua akan membunuhku? Aku tak akan pernah tahu.
djoedjoer berboedi loehoer
Apr 20 2009, 07:25 PM
Surat yang tak Pernah Sampai
Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam…tentang dia.
Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.
Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya-dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan-bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila-berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala…dan itulah tujuan kalian.
Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka… tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.
Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.
Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.
Kamu takut.
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata “sejarah” mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hisup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-atahu meledakkanmu-entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan Cuma maskot untuk disembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini. Hingga akhirnya…
Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?).
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
Dan hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yanh gagu karena habis daya.
sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.
atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata “jangan” yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.
Ketika surat itu tiba di titiknya yangt terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.
Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, bintang selatan… yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.
Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.
djoedjoer berboedi loehoer
Apr 20 2009, 07:26 PM
Selagi Kau Lelap
Sekarang pukul 01.30 pagi di tempatmu. Kulit wajahmu pasti sedang terlipat di antara kerutan sarung bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk di sis kanan, karena engkau tidur terlungkup dengan muka menghadap ke sisi kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari di bawah bantal?
Aku selalu ingin mencuri waktumu. menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk ke dalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang terbaring.
Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh.Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000
Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…
Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas. Rolex tak mampu berikan itu.
Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tidak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.
Sekarang pukul 02.30 di tempatmu. Tak terasa sudah satu jam aku di sini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa kutambahkan satuan rupiah, atau atau lebih lagi, dolar, di belakangnya. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segala-segalanya di tengah-tengah. sensai ilahi. Tidak dolar, tidak juga yen, mampu menyajikannya.
Aku tak pernah terlalu keadaan tempat tidurmu.Bkan aku yang sering ada di situ. Entah siapa. Mungkin Cuma guling dan bantal-bantal ekstra. Terkadang benda- benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing dengannya. Aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling… sudah. Stop. Aku tak sanggup melanjutkan. Membayangkannya saja ngeri. Apa rasanya dipeluk dan didekap tanpa pretensi? Itulah surga. Dan manusia perlu beribadah jungkir-balik untuk mendapatkannya?
Kini, izinkan aku tidur. Menyusulmu ke alam abstrak di mana segalanya bisa bertemu. pastikan kau ada di sana, tidak terbangun karena ingin pipis, atau mimpi buruk. Tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin kubicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang… tak ada yang tak bisa kita lakukan, bukan? Tapi kalau boleh memilih satu: akun ingin mimpi tidur di sebelahmu. Ada tanganku di bawah bantal, tempat jemarimu menggapai-gapai.
Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti, ada aku di sana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa “selamat pagi”.
djoedjoer berboedi loehoer
Apr 20 2009, 07:27 PM
Rico de Coro
Aku lahir di dalam meja kayu antik yang penuh ukiran. Meja bulat berlapis kaca itulah tempat persinggahan ibuku yang terakhir. Untung Ibu sempat melekatkan telurku di antara lekuk ukiran sebelum wafat disemprot Baygon. Kalau tidak , aku tak akan mengalami kisah ajaib ini.
Aku jatuh cinta. Dan itu merupakan masalah besar bagiku, dan bagi bangsaku. Gadis yang kucintai adalah seorang manusia remaja berparas manis dengan nama yang manis pula: Sarah.
Rambutnya sebahu, sedikit ikal, kulitnya cerah dan wangi. Dialah manusia yang paling baik di rumah yang kutumpangi ini. Namun, bagi bangsaku, dia tak lebih dari seorang pembunuh.
Padahal aku tahu pasti, Sarah tidak mungkin membunuh. Sering aku mendengar dia berbicara pada setiap orang: “Kalau saya melihat kecoak, biar dari jarak lima meter, bukan dia yang lari, tapi saya yang ngacir duluan!” lalu matanya membelalak. Indah sekali.
Memang demikian yang terjadi. Selama ini oknum-oknum yang sering memburu kami hanyalah Bi Ipah, Tante dan Om Haryanto (pemilik rumah ini), David dan Natalia (kakak-kakaknya Sarah). Sarah sendiri tidak pernah berani berurusan dengan kami. Setiap kali mendekati kerajaan yang terletak di dapur, dia selalu minta ditemani.
Aku semakin yakin, sebenarnya dia sayang padaku. Setiap kali dilihatnya aku bertengger di lemari piring, Sarah hanya tertegun, kemudian berlari keluar. Dia tak ingin menyakitiku.
Ayah tak pernah mau mengerti. Posisinya memang sulit. Sebagai seorang raja, dia memiliki beban berat. Ayah berharap aku menggantikan posisinya kelak, lengkap dengan kharisma yang tak mungkin kumiliki.
Ayah adalah kecoak ningrat yang tiada duanya. Ia [erpaduan kecoak hutan yang besar dan kuat dengan kecoak rumahan yang pintar. Dulu Ayahku berurbanisasi dari hutan ke kota dengan cara bersembunyi di balik sayur yang diangkut ke pasar induk. Entah bagaimana caranya sampai ia terbawa ke rumah ini.
Masa kecilnya dihabiskan di lubang dekat televisi, karena itulah dia pintar, berbudaya, dan punya wawasan luas. Dia mempelajari semuanya dari kotak listrik warna—warni itu.
Ayahku jugalah yang memberikan nama bagi kami semua, sehingga kami tidak sama dengan kecoak-kecoak selokan yang suka muncul dari lubang kamar mandi. “Kecoak WC itu tidak beradab. Mereka masih hidup di zaman primitif saat kecoak tidak punya identitas. Apalagi bau badan mereka yang… puah! Mana tahan!” katanya selalu. Ayah percaya bau badan kami lebih wangi. Setidaknya kami bergelut di sisa makanan, bukan di hasil akhirnya.
Ayah menamai dirinya sendiri HUNTER. Diadaptasi dari tokoh jagoan film favoritnya dulu. Bagi Ayah, nama itu gagah betul.
Perbendaharaan nama Ayah banyak dan bagus-bagus, ada Renegade, Dimension, Marimar, Bella Vista, Laurier, Glade, dan lain-lain. Semuanya diambilnya dari televisi. kecuali aku. Namaku memiliki sejarah yang lain daripada yang lain.
Tadinya aku mau dinamai Tak Tik Boom. Ayah bilang nama itu sangat cocok untuk kecoak, lucu tapi juga kedengaran cerdik dan taktis. Cocok untuk seekaor calon raja. Tapi begitu aku mendengar sebuah nama yang terucap dari mulut Sarah pujaanku, segalanya berubah.
Waktu itu, Bi Ipah sedang memberi makan sepasang ikan arwana kesayangan Om Haryanto, dan makanan itu berupa seekor… (maaf) kecoak. Syukur aku tak mengenalinya. Dia seekor kecoak apes yang tertangkap di kamar mandi.
Tontonan itu sebenarnya tabu untuk dilihat oleh sesama kecoak. Bawa sial, katanya. Bisa-bisa kita ikut berumur pendek. Namun saat itu aku tak sanggup menahan diri, sebab Sarah-ku ada di sana, tertawa-tawa manis di pinggir akuarium.
Masa itu tampaknya musim kawin bangsa ikan. Kata Ayah, kedua ikan arwana bisa saling membunuh kalau disatukan dalam satu akuarium. Tapi angin cinta dan perdamaian memang sedang bertiup. Kedua ikan yang kalau melihat bayangan sensiri bisa gila karena ingin mencabik-cabik, sekarang malah… pacaran! Kelakuan mereka primitif betul.
“Yuk, kita kasih nama semuanya,” kata Sarah pada David dan Natalia yang juga ikut menonton. Aku terharu. Betapa miripnya Sarah dengan Ayah.
Gadis cantik itu berpikir sejenak lalu berseru, “Kita pakai saja nama anak-anak kompleks!”
“Setuju! Setuju! David dan Natalia menyahuti semangat. Otak-otak nakal mereka langsung giat berputar.
“Ikan Arwananya kita kasih nama Michael dan Meiti!”
“Makanan-makanannya juga, dong. Bagaimana kalau kelabangnya kita kasih nama Anto!” usl David dengan berbinar-binar, teringat musuh sejak kecilnya, Anto Suwiryo, anak RT 5 yang selalu licik bermain gundu tapi tak bisa dilawan karena badannya besar.
“Kodoknya… Indra!”
Tante Haryanto yang numpang lewat juga ikut-ikutan. “Kalau corone jenenge opo?”
Sarah yang sedari tadi diam tiba-tiba bersuara, “Coronya… Rico! Lucu, kan? Rico de Coro!” ujarnya dengan mimik menggemaskan.
R-I-C-O… Rico… nama yang sungguh indah!
“Da-dah, Rico.” Sarah mengucap lirih sambil melambaikan tangan. Bi Ipah pun melepaskan kumis kecoak malang yang langsung hilang disikat arwana kelaparan itu. Entah si Michael atau si Meiti. Aku tak lagi peduli. Yang ada di pikiranku hanya nama itu… bayangkan, Sarah memberi nama pada seekor kecoak jelata!
Sebut aku penjiplak, plagiator, dan sebagainya, tapi aku tak mungkin membiarkan nama yang terlontar dari buah hatiku hilang bersama nyawa kecoak tak jelas. Biarlah aku yang mewarisi nama Rico de Coro, mulai detik itu sampai selama-lamanya.
Pada suatu malam, terjadi rapat besar di lemari gas LPG. Di sanalah istana kediaman Ayah, aku, dan ibu tiriku. Tempat itu memang paling nyaman dari semua pelosok dapur. Paling lembab, gelap, dan jarang diusik.
Aku dan adik-adik tiriku tengah memandangi Ayah yang berbicara berapi-api di depan mimbar.
“Ini sudah keterlaluan!” serunya penuh amarah. “Petruk, coba beritahu yang lain!” perintahnya pada petruk, asisten pribadi sekaligus Sekretaris Kerajaan.
Petruk berdehem sejenak. “Tadi pagi, ada musibah yang menimpa salah seekor warga kita… Lala Pita.” Suara Petruk bergetar, menyiratkan duka yang dalam.
Khalayak langsung ribut. Aku ikut terperanjat mendengarnya. Lala Pita adalah kecoak albino yang manis, usianya kira-kira sebaya denganku. Dan kami tahu benar berapa puluh kecoak jantan yang saling bersaing untuk mengawini Pita. Sebelum bertemu Sarah aku juga pernah sedikit naksir.
“Bagaimana dia bisa mati?!” jerit Komo, salah seorang fans berat Pita.
Petruk seperti tak sanggup bercerita, tapi dia berusaha menguatkan diri. “David… anak itu… anak itu menangkap Pita. Dia tidak membunuhnya sekaligus… tapi, dia menjeratnya dengan sebuah sisir, dan kemudian… me… menyimpulkan kedua sungutnya, se… sehingga…” Petruk terpaksa berhenti dulu untuk menenangkan hati.
Semua langsung tercekat ngeri. Sungutnya disimpul? Bagi para kecoak, itu sama saja dengan siksa alam kubur. Seratus kali lebih baik diinjak atau disemprot, daripada disakiyi seperti itu.
‘pita sepertinya sungguh tersiksa. Beberapa dari kita menemukannya sudah tak bernyawa, tapi itu pun sudah terlambat… kawanan semut sudah mengarak-araknya pergi…” Petruk sampai tersedak.
Saat itu aku benar-benar benci pada David , teganya dia menghabisi nyawa Pita seperti itu. Malangnya lagi, kecoak rupawan itu berakhir menjadi santapan para semut hina.
Rakyat hiruk-pikuk. Ibu-ibu saling berpelukan dan tersedu-sedan. Para pemuda pun mengutuki David habis-habisan dengan segala sumpah serapah untuk menggerayangi sampai mampus, mengencinginya sampai bengkak-bengkak.
Ayah kelihatan berpikir keras. Ia lalu bangkit dan berkata, “Mulai sekarang kita berlakukan lagi jam siang!” Suaranya menggelegar dan membungkam mulut semuanya.
“Tidak ada lagi kecoak yang boleh berkeliaran sebelum pukul enam sore. Tidak ada lagi yang boleh iseng-iseng menampakkan diri untuk menakut-nakuti Sarah. Semuanya harus bersembunyi sampai aku menemukan cara untuk membalas dendam!”
Tak lama, pertemuan itu bubar. Suasana istana muram durja. Aku ngeri melihat Ayah. Saat-saat seperti ini selalu memunculkan sisi kecoak hutannya yang sangar. Dia mondar-mandir, kadang-kadang mengembangkan sayapnya yang kokoh dan terbang dari tembok satu ke tembok lainnya.
Aku berusaha sedapat mungkin untuk tidak memperlihatkan diri, bersembunyi di balik wajan atau panci. Persoalan cintaku pada Sarah akan membuatnya semakin gila.
Kengerian semakin melanda Kerajaan.
Jam siang yang sudah diberlakukan ternyata tidak berdampak seampuh yang kami kira. Perburuan terhadap warga oleh oknum-oknum keluarga Haryanto berjalan tanpa ampun, tak kenal siang atau malam.
Biasanya, hanya sebagian dari kami yang lengah saja yang tertangkap. Namun sekarang mereka sudah dengan beringas mengobrak-abrik laci-laci tempat keluarga-keluarga kami tinggal, dan semuanya berakhir di perut sepasang ikan arwana
kalimantan yang sedang kasmaran.
Fenomena ini menjadi tanda tanya besar bagi semuanya, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekati ruang kerja Om Haryanto, tempat dia dan istrinya berdiskusi masalah rumah tangga.
Ternyata mereka sedang dibelit masalah keuangan, semuanya dibahas, termasuk anggaran makan ikan arwana.
“Bayangkan, berapa duit yang harus keluar kalau kita kasih mereka kelabang setiap hari? Satu kelabang saja sudah gopek! Kodok juga mahal. Ikan kecil mereka nggak doyan lagi. Terus, ikannya ada dua! Makan mereka sebulan sudah sama dengan uang jajan si Sarah.” Tante Haryanto mulai berargumentasi, “sudah deh, Pi, kita jual saja ikannya…”
Om Haryanto dengan keras menolak. “Aku sayang sekali sama ikan-ikan itu. Kau kan tahu, mereka sudah kupelihara dari kecil. Mereka tidak boleh kelaparan, apa pun caranya! Biarlah, sementara mereka dikasih makan kecoak saja.”
“Ah, papi, kecoak mana adagizinya! Jorok lagi. Lagian berapa puluh yang harus kita tangkap, sementara ikan-ikan itu kelaparan melulu? Aku jijik cari-cari kecoak tiap hari di dapur,” rajuk Tante Haryanto.
“Suruh saja si Ipah atau David yang cari. Pokoknya ikan-ikan itu tidak boleh dijual!” Om Haryanto mengultimatum.
Jelaslah jawaban misteri pembantaian selama ini.
Buru-buru aku menyelinap menuju dapur, melaporkan informasi tersebut pada Petruk yang langsung pergo melapor pada Ayah.
Di luar dugaan kami, Ayah malah naik pitam. “Kurang ajar! Mereka pikir kita kecoak-kecoak murahan, apa?!” teriaknya seketika. “Kalau Cuma mengganjal perut ikan-ikan bodoh itu, kenapa mereka tidak pilih kecoak got yang sama-sama tidak punya otak?! Kita kan bangsa berbudaya, beradab. Sudah sepatutnya nyawa kita dihargai lebih dari sekadar makana ikan,” lanjutnya lagi. Badannya yang besar kian mengembang. “Kita akan buktikan kalau kita tidak sama dengan kecoak-kecoak lain!”
Tiba-tiba kudengar ia meneriakkan namaku. “RICOOO!”
Tubuhku langsung kaku. Tapi kuberanikan diri untuk mendongak sedikit demi sedikit. Pasti Ayah akan mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Dan benar saja.
“Kamu… otakmu juga ada di got! Persis kecoak WC! Bagaimana mungkin kamu bisa tergila-gila dengan manusia pembunuh itu…”
“Dia bukan pembunuh! Dia belum pernah menyakiti satu kecoak pun!” bantahku, spontan. Keberanian dari panci mana ini? Bisa-bisanya aku menentang Hunter Sang Raja.
“Masih berani-beraninya kamu bela dia? Dia memang tidak melakukannya secara langsung, tapi berapa ratus kali orang-orang di rumah ini membunuh kita gara-gara dia? Anak manja yang Cuma bisa “aduh-aduh-tolong-tolong”. Dia pikir kita ini genderuwo, apa?”
Sederet kalimat pembelaan sudah siap meluncur keluar. Tapi kulihat ibu tiriku memberi kode-kode supaya aku tidak membantah.
“Daripada kamu memikirkan cinta butamu itu, lebih baik kamu pikirkan nasib bangsa yang kelak akan ada di tanganmu. Jangan sampai kamu membuat wargamu menjadi calon makanan ikan, dan bagi bibit-bibit ikan yang akan lahir dan kelak akan mengganyang bangsa kita!” serunya menyala-nyala, terbakar semangat nasionalisme sampai gosong. Setiap kali mendengar Ayah bicara begitu, aku merasa lelah.
“Coba cari sendok dan berkacalah di sana!” bentak Ayah lagi. “Lihat dirimu. Kita ini kecoak! Di mata manusia, kita selamanya hitam, kecil, jelek, bau!”
Kali ini kata-katanya menamparku telak.
“Dan kalau itu juga yang jadi pendapatmu, maka kamu kecoak gadungan. Mungkin kamu anak manusia yang dikutuk jadi kecoak. Tapi kalau kamu bisa melihat bayanganmu sebagai makhluk yang gagah, tampan, dan punya arti… barulah kamu kecoak sejati. Dan pantas menjadi penggantiku.” Suara Ayah terus menurun, tertekan. Seperti menahan tangis.
Mendadak aku jadi sedih, baru sekarang kudengar Ayah sebegitu kecewa. Tak sanggup lagi kulihat sosoknya yang pergi menjauh. Namun masih kurasakan sakit tamparan kata-katanya… hitam, kecil, jelek, bau. Perlahan-lahan aku beringsut mendekati tutup panci yang mengkilap dan melihat bayanganku di sana.
Ingin aku menjerit ketika kusadari kebenaran kata-katanya. Tak ku lihat bayangan makhluk tampan dan gagah. Yang ada hanyalah serangga pipih bersungut panjang-hitam, kecil, jelek, bau.
Kerajaan kami sudah berubah total. Malapetaka ini sudah mencapai puncaknya. Populasi warga sudah menyusut hampir sepertiga. Jalanan semakin sepi dan rumah-rumah terlihat lengang. Tak ada lagi pesta pora tengah malam, tak ada arisan ibu-ibu gosip, atau kawanan kecoak kecil yang bermain bebas.
Hari-hariku berubah menjadi serangkaian nelangsa. Aku tak dapat memandangi Sarah sebebas dulu. Dan yang gilanya, kejadian ini malah membuat cinta dan pengharapanku semakun dalam, membuatku terjebak dalam mimpi-mimpi absurd, misalnya, berubah menjadi manusia.
Pada suatu siang, ketika baru terbangun dari mimpi-mimpi gila itu, aku menyadari ada beberapa kecoak bercakap-cakap.
“Yang mulia, itu gagasan yang sangat hebat. Tapi apakah mungkin berhasil? Mungkinkah manusia-manusia itu mengerti?”
“Percayalah Truk, itu satu-satunya jalan supaya mereka dapat ganjaran.”
“Tapi bagaimana caranya kita berkomunikasi dengan dia?””Gerak-geriknya sudah kupelajari. Biarpun sedikit aneh, tapi kupikir banyak kesamaannya dengan bahasa kita. Aku yakin kita bisa berkomunikasi.”
Aku segera tahu. Itu suara Ayah dan Petruk. Tiba-tiba kudengar suara kecoak betina. Ibu tiriku, Vinolia atau Mami Vin, panggilan akrabnya.
“Hunter, kupikir itu salah,” dengan lembut ia angkat bicara. “Aku tidak mengerti kenapa kamu berpikir sekonyol itu. Aturan kita tidak sama dengan aturan mereka. Kita tidak perlu membalas dendam pada siapa pun. Sudah pasti yang kuatlah yamg menang. Dan apalah arti serangga seperti kita dibandingkan makhluk sepintar manusia.”
Ayah berkeras. “Sampai kapan kita mau diperlakukan seperti in? Sampai kapan mental kita tetap bertahan sebagai hewan busuk yang bisa dibasmi begitu saja? Apa kamu tidak ingin melihat sesamamu maju? Kecoak sudah ada di muka Bumi sebelum manusia, dan kita akan terus ada sekalipun semua manusia punah! Jadi, siapa yang lebih kuat?”
Mami Vin melengos. “Kamu terlalu lama hidup bersama televisi,” katanya ketus, “anakmu sendiri kamu petuahi agar jadi kecoak sejati, padahal pikiranmu sudah sama dengan manusia.”
Ayah sepertinya sudah ingin meledak, tapi rasa hormatnya pada Mami Vin membuatnya bungkam. Dialihkannyalah perhatiannya pada Petruk. “Kita tetap jalankan rencana…”
Tentunya Petruk manut. Ia segan pada Hunter lebih dari apa pun.
“Besok kita akan menemuinya,” tandas Ayah. “Aku yang akan berbicara langsung. Tolong siapkan beberapa serdadu kuat untuk ikut pergi. Bagaimanapun dia masih harus kita anggap berbahaya, sampai kita betul-betul tahu…”
Mereka berdua terus berbicara sambil berjalan keluar istana, tak dapat lagi kutangkap pembicaraan mereka. Yang jelas, rencana itu besar dan… berbahaya.
Dari balik tirai, aku asyik mengamati Sarah yang tengah tertidur pulas. Kusembunyikan kedua sungut ini rapi-rapi setiap kali mengunjungi kamarnya, karena perjalanan ini berbahaya sekali.
Kamar Srah dilengkapi obat nyamuk listrik yang cukup bikin kami sempoyongan, dan yang lebih ngeri lagi, perangkap-perangkap khusus kecoak. Keluarganyalah yang sengaja menaruh ruang-ruang eksekusi itu supaya mereka tidak usah repot dipanggil tengah malam untuk memburu kami.
Tiba-tiba Natalia menyeruak masuk, membongkar-bongkar, mengobrak-abrik sana-sini.
“Sebenarnya, apa yang kamu cari?” tanya Dvid yang membuntutinya dari tadi.
“Hasil percobaan di kampus. Yang bikin itu profesor Biologi yang agak edan,” Natalia memiringkan telunjuknya di dahi. Ketika sudah seperempat jam mencari dan tidak ketemu-ketemu, Natalia tambah pucat pasi.
“Percobaan apa?” rongrong David tak sabar.
Sekilas Natalia memandang Sarah yang masih tertidur. “Nanti saja, ada Sarah. Aku takut dia dengar.”
“Dia kan lagi tidur. Kalau kamu tidak bilang, aku tidak mau bantu mencari,” ancam David.
Walau ragu, Natalia mulai berbicara pelan-pelan. Kulihat mata David membelalak, sementara aku sendiri rasanya seperti digilas sepatu lars. Secepat kilat aku menyelinap kembali ke istana. Dan ternyata… akulah yang paling terlambat tahu.
Semua warga sudah mengetahui tentang kehadiran seekor makhluk aneh yang kini ditempatkan di bilik istana. Segera kukais-kais informasi, tapi berita yang beredar masih simpang-siur.
“Dia sungguh besaaar… menakutkan! Bentuknya seperti ratu semut, tapi lebih ngeri!”
“Makhluk itu seperti belalang lamban, kelihatannya bodoh.”
“Ular naga. Ya. Betul-betul seekor ular naga.”
Nekat, kurebos penjagaan istana untuk menemui Ayah. Dan lamgkahku serta merta terhenti ketika berhadapan dengan sosok teraneh yang pernah kulihat.
Makhluk itu seperti perpaduan kumbang, belalang, dan… kecoak. Warnanya coklat kusam, sungutnya pendek dan tebal, sayapnya kecil hingga nyaris tidak terlihat. Tapi yang membuat jijik adalah posisi tubuhnya yang aneh. Badannya sebesar Ayah tapi dengan posisi manusia duduk! Punggungnyamelengkung bagai bulan sabit. Kaki-kaki yang menopang posisi duduknya hanya sedikit dan lemah hingga ia bergerak sangat lamban. Bahkan hampir tak bergerak. Sementara kaki-kaki sisanya menengadah begitu saja seperti tanpa fungsi.
Dia memang kelihatan seperti monster besar yang bodoh, tapi ada satu kengerian yang membuatku tak mampu berkata-kata: di bawah sungut pendeknya, terdapat dua capit besar yang tajam berkilat! Mungkinkah… mungkinkah itu yang dibicarakan David dan Natalia tadi?
Ayah tampak sama sekali tak gentar berdekatan dengan monster itu. Ia malah memperkenalkannya padaku.
“Ah, Rico. Kenalkan, dia masih famili bangsa kita… Tuan Absurdo!”
Tuan Absurdo berkata terpatah-patah dengan rintihan yang mirip berkumur, “Grrroobll… Rhhheekhho, phaaangerraan mudzraaah…”
“Pangeran muda, maksudnya,” Ayah menerjemahkan dengan bangga. Seolah-olah ia telah belajar bahasa yang luar biasa.
Aku bergeming menatapnya. “Apa yang Ayah akan lakukan?”
Ayah tertawa kecil. “Tuan Absurdo ini akan bekerjasama dengan kita untuk memberi ganjaran pada manusia-manusia kejam itu,” dia menepuk badan Tuan Absurdo yang ternyata lembek seperi bantal, “hidupnya tidak panjang, karena itulah dia ingin menggunaka sisa usianya untuk hal yang berguna.”
Tuan Absurdo mengangguk-angguk pelan sambil terkekeh. “Hrgeeh… hrgeeh… hrgeeh…”
Aku memandanginya, antara mual dan iba. Namun rasa kasihankulah yang bertambah setelah mengetahui kisah malangnya.
Tuan Absurdo adalah kelinci percobaan yang dibuang dari laboratorium karena dianggap gagal, dan malah menjadi spesies yang membahayakan.
Asalnya ia adalah kecoak hutan yang dicoba untuk diinseminasikan dengan kumbang tanduk dan belalang. Struktur tubuhnya memang masih mengalami beberapa kekurangan, terutama pada kaki-kakinya yang lemah. Namun kesalahan fatal timbul pada kedua capit berukuran besar yang jadi mengandung racun. Dan dengan struktur ruas yang membuat badannya tengadah, capit-capit itu semakin berbahaya karena tidak dapat dikendalikan.
Tuan Absurdo diboyong oleh Natalia yang sok tahu di dalam sebuah plastik kresek, kemudian dengan sembrono terjatuh di muka dapur. Sapu Bi Ipah pun menyeretnya ke dekat tempat sampah.
Capit-capitnya yang tajam bergesekan dengan plastik tersebut sampai sobek, dan akhirnya ia dapat meloloskan diri keluar dengan susah payah. Beberapa warga lalu menemukannya dan melaporkan pada Ayah.
Awalnya aku tidak terlalu yakin pada Tuan Absurdo, tapi lama kelamaan aku menyadari bahwa di balik fisiknya yang mengerikan, dia memiliki hati yang tulus.
Aku jadi sering menemaninya bercakap-cakap pada malam hari, walau dituntut kesabaran tinggi untuk dapat mengerti ucapannya.
“Om Absurdo…”
“Yha… Rheekhoo…”
“Kalau Om memiliki capit yang berbahaya, kenapa Om tidak berusaha menyerang kecoak-kecoak yang menemukan Om waktu itu? Bagaimana Om tahu itu musuh atau bukan? Bukannya kita cenderung menjauhi yang bukan sesamanya?”
Tuan Absurdo terkekeh. “Ithruuu bethriuull… tzhrapiii…” dan dengan terbata-bata ia menjelaskan sesuatu yang membuatku bertambah iba.
Tuan Absurdo ternyata telah menyaksikan beberapa temannya yang sama-sama dijadikan monster dipaksa untuk menggunakan capitnya, yakni dengan memberikan rangsangan kuat agar racun itu termuntahkan keluar. Betapa pilu hatiku setelah tahu bahwa racun yang keluar nanti adalah seluruh cairan tubuhnya sendiri, sehingga Tuan Absurdo pasti akan mati sesudah melakukannya.
“Apakah racun itu sangat berbahaya, Om?”
Dia menggeleng. “Thrriiidhakz therlallruuu…” kemudian dijelaskannya bahwa racun itu hanya sejenis racun pelumpuh mangsa yang akan membuat mangsa itu tidak bisa bergerak. Tetapi pada manusia, racun itu memberi sensasi terbakar pada kulit dan kaku pada otot yang membuat orang itu pastinya sangat kesakitan.
Aku tertegun. Sepertinya aku dapat mereka-reka rencana Ayah kini. “Dan om akan melakukannya demi Ayah saya?”
Tuan Absurdo menggeleng lagi dan tampaknya ia tersenyum. “Thrriidaakz… tzhraapiii unthruukhuu…”
Hatiku dirembesi haru. Tuan Absurdo tidak kuat lebih lama tersiksa dengan keadaan tubuhnya yang tak sanggup beradaptasi dengan ekosistem, dan ia juga tak punya teman-teman spesies sejenis.
“Siapa yang akan Om sengat?”
“Dhraaarrviidz…”
Hari yang dinanti-nantikan seluruh warga kerajaan telah tiba. Subuh-subuh, dengan bantuan kawanan semut yang bersahabat, diboyonglah Tuan Absurdo ke dalam laci meja belajar David yang memang selalu dibiarkan setengah terbuka.
Setelah semua siap diatur, Ayah memberi salam terakhir untuk pahlawan perangnya. “Absurdo, atas nama Kerajaan Kecoak Dapur, aku mengucapkan terima kasih untuk pengorbanan yang tak terhingga ini,” dengan sungguh-sungguh Ayah berkata.
Tuan Absurdo mengangguk sembari menerbitkan senyum memelas, dan dengan lemah melambaikan kaki kecilnya. “Rheekhooo…” panggilnya padaku.
“Om Absurdo,” sahutku tercekat menahan sedih. Kupandangi wajah belalangnya yang lugu, dan kugapai-gapaikan sungutku untuk meraih kakinya yang melambai-lambai. Ia senang sekali menerima balasan itu, wajahnya yang ramah kian berseri. Rasanya tak sanggup lagi aku di sana. Kususul Mami Vin yang juga meninggalkan tempat prosesi.
“Ada apa dengan Hunter, apakah dia tidak mengerti bahwa semua usahanya ini sia-sia?” keluh ibu tiriku.
“Memangnya kenapa?”
“Dia pikir manusia akan mengerti aksinya, padahal kita hanya akan semakin dimusuhi dan dibasmi. Apalagi kalau ada dari anak mereka yang terluka. Hunter tidak mau terima kalau kita ini tak perlu balas dendam. Setiap makhluk sudah punya tugasnya masing-masing… ikan arwana, kita, keluarga Haryono… kenapa malah jadi dibuat perang?” Mami Vin menunduk semakin dalam. “Semua ini hanya akan mendatangkan duka, Rico.”
Sementara yang lain sibuk mempersiapkan diri untuk menyaksikan peristiwa monumental itu, aku memilih pergi ke kamar Sarah. Bersembunyi di balik tirai seperti biasa. Karena sesungguhnya hari ini adalah hari yang sangat istimewa.
Sarah berulang tahun yang ke-15. Pagi ini ia tampak sangat cantik, mematut-matut dirinya dalam gaun putih untuk pesta kecilnya nanti malam.
Tante Haryanto yang lewat di depan pintu berceletuk, “Cantik sekali anak Mami, seperti putri.”
Sarah tertawa lepas. Dan ketika ibunya berlalu, ia berbicara sendiri pada cermin, “Masa seperti begini dibilang putri?”
Dia memang rendah hati. Betapa aku ingin ikut-ikutan berseru, kalau aku setuju seratus persen dengan Tante Haryanto. Sarah benar-benar seorang putri. Tercantik sejagat raya! Dan aku… akulah pangerannya! Pangeran Rico de Coro!
Nyaris aku lepas kendali dan menampakkan diri. Selintas bayanganku tertangkap di cermin itu. Bayangan Rico de Coro. Pangeran serangga yang hitam, kecil, jelek, dan bau. Mana mungkin aku bisa seputih dan sebersih gaun yang dikenakannya, atau cukup tampan untuk menjadikan kami pasangan yang serasi. Aku hanya makhluk bersungut yang tinggal di bagian terkotor di rumahnya, dengan kepala penuh impian konyil yang hanya membuat orang tuaku kecewa.
Kulihat Sarah terperanjat. Begitu pula aku yang kaget sendiri mendengar bunyi sayap bergetar menggesek tirai. Ternyata sayapku mulai dewasa, tak lama lagi aku akan bisa terbang seperti Ayah.
Sarah yang terlanjur takut buru-buru keluar. “David… Bi Ipah… Kak Lia… Mami…” ia langsung memanggil bala bantuan. Betapa menyesalnya aku sudah mengagetkan Sarah. Kususul dia diam-diam lewat jalur kabel di tembok.
“David… David! Tolong! Ada kecoak di kamarku!” Sarah mengguncang-guncangkan badan abangnya.
David terlonjak bangun. “Benar-benar kecoak?” tanyanya serius.
Natalia langsung menerobos masuk dan bertanya tegang, “Kecoak? Kecoak macam apa?”
Sarah memandangi mereka berdua, bingung bercampur curiga. “Memangnya, ada kecoak seperti apa lagi?”
“Sarah, coba ingat-ingat, warna kecoak yang kamu lihat bagaimana? Sungutnya panjang atau pendek? Terus, badannya kelihatan aneh, nggak?” Natalia berusaha bertanya setenang mungkin, tapi Sarah semakin ketakutan dibuatnya.
“Ada capitnya?” David menambahkan, kelepasan.
“Capit?!” Sarah tak sanggup lagi membayangkan betapa mengerikan makhluk yang ditanyakan kedua kakaknya. Sekujur tubuhnya gemetar seperti orang menggigil.
“Ada tidak?”
Sarah hanya bisa melongo memandangi David, pikirannya sudah kacau. “Tidak tahu, tidak jelas, tidak tahuuu!” teriaknya kalap
“Ayo, kita lihat sama-sama!” David bangkit berdiri dan bergegas. “Sarah, cepat ambil senter di laci mejaku!”
Seluruh tubuhku berdesir mendengarnya. Dengan kepanikan Sarah, akan semakin kuatlah rangsangan bagi Tuan Absurdo yang sudah menanti di dalam laci meja David.
Petruk, yang mendampingi Absurdo di dalam laci, mulai merasakan getaran-getaran mendekat. “Siap-siap, Absurdo. Sebentar lagi…”
Sarah menarik laci itu dengan graak-grusuk, jari-jarinya gemetar hebat.
Absurdo menarik nafas. Ia sudah siap sekarang.
Aku tak ingat apa-apa lagi selain putihnya gaun Sarah yang tak boleh dicemarkan air mata, dan tawa lepasnya yang tak kubiarkan berubah menjadi erangan kesakitan. Sayap mudaku bergerak dan bergerak secepat mungkin. Mendarat lebih cepat daripada jemari mungilnya. Dan, oh, wajah Tuan Absurdo terasa dekat sekali, menatapku tak percaya. Kudengar ia merintih halus, “Phaaangerraaan… muddzzraaahh…”
Badan Tuan Absurdo seketika mengempis. Tak ada lagi yang berarti selain kedua capit kokohnya yang telah merobek badanku. Kurasakan tubuhku mengembang oleh cairan racun yang kuisap. Tak ada nyeri, aku hanya mematung.
Sayup-sayup terdengar Sarah menjerit. “Itu kecoaknya… ITU!”
Secepat kilat David menyambar sendal jepit dan melibaskannya. pukulan itu memuncratkan sebagian isi tubuhku hingga mengotori lacinya.
“Aaah! Laciku… laciku!” teriak David panik. Dengan sapu lidi ia mencongkelku keluar, siap melibasku lagi.
“Tunggu!” teriak Natalia seraya menahan tangan David. Gadis itu membalikkan tubuhku dan dilihatnyalah sosok buronan yang selama ini dicari-carinya… Absurdo!
Natalia terpekik pelan. “Ini mutan yang kuceritakan itu. Dan kecoak ini… berarti kecoak ini…”
Entah kesaktian apa yang dikandung racun Tuan Absurdo, yang jelas tak kurasakan nyeri sama sekali walau tubuhku sudah remuk. Dan karena sebagian racun itu sudah keluar dari tubuhku yang rusak, perlahan aku merasakan kaki-kakiku lagi… menggerakkannya untuk sekali lagi mendekat pada Sarah… menatap wajah malaikatnya…
“David! Kecoaknya massih hidup!”
Itulah teriakan Sarah yang terakhir kali kudengar, sebelum riwayatku tamat di bawah sendal karet David yang memukulku berulang-ulang tanpa ampun. Dan untuk terakhir kalinya, hatiku menjerit dan berdoa, pada leluhur, dewa-dewi serangga, dan siapa pun di sana… izinkan aku menemui putri impianku. Sekali saja.
Natalia diam termangu. Matanya nanar memandangi tubuhku yang sudah tak terbentuk. “Tapi, kecoak itu yang sudah menyelamatkan kamu, Sarah.” bisiknya.
Sejenak kamar itu sunyi. Suara gusar David lalu mematahkan hening cipta mereka. “Kecoak tetap saja kecoak! Dia Cuma kebetulan terbang dan masuk laci. Dasar sial saja, makanya langsung menabrak mutan itu. Mati!” Ia lalu beranjak pergi untuk mengambil kain pel.
Sementara itu, Petruk yang berhasil lolos lari tunggang-langgang menuju Kerajaan. Ia pasti memilih ikut remuk dihantam sendal daripada menghadap Ayah.
Ketika sampai, ia menemukan Sang Raja, Hunter, tengah memandang hampa ke luar istana. Dulia yang berusaha ia taklukkan dan ia beri pelajaran.
“Yang Mulia… Pangeran muda kita…” di antara sedu sedannya Petruk mencoba berbicara. Namun Ayah sudah melihat semuanya.
Di bilik istana, Vinolia juga tengah menangisi nasibku. Menangisi semua kenangan dan semua mimpi yang selalu kuceritakan padanya. Mami Vin pasti tak mengira betapa besar cintaku pada Sarah sehingga aku rela memberikan nyawaku hanya agar gadis itu tidak disakiti. Aku rela melepaskan semua, termasuk tampuk Kerajaan Kecoak Dapur.
Aku merasakan diriku mengawang-awang. Tidak tahu apa bentuknya. Aku tak bisa lagi berbicara, tidak kepada diriku sekalipun. Tinggallah aku sebagai sebentuk kesadaran, sebuah permohonan, yang kini melayang-layang dalam dimensi nonmateri. Tidak ada waktu. Tidak ada ruang. Tidak ada wujud. Tidak ada pangeran serangga yang hitam, kecil, jelek, dan bau.
Kumasuki labirin pikiran Sarah dan melebur di sana.
“Kakak…”
Sayup-sayup kudengar suara merdunya memanggil Natalia yang baru saja bangun pagi.
“Kamu kenapa?” tanya Natalia bingung.
“Tadi malam aku mimpi jadi putri,” senyum Sarah mengembang, tersipu-sipu. “Aku bertemu dengan pangeran. Namanya Rico de Coro, lalu kami jalan-jalan, berdansa, dia cium pipiku dan bilang selamat ulang tahun.”
Sesuatu mengusik Natalia. Rico de Coro… nama yangtidak asing, tapi ia tak berhasil mengingat jelas, dan sepertinya tidak juga Sarah.
Tidak apa-apa. Aku bahagia. Misiku selesai.
Wujudku sebagai sebuah kesadaran akan segera berakhir. Sebentar lagi aku keluar dari labirin pikiran Sarah. Giliranku bergabung dengan roh-roh nenek moyang yang sudah lama menunggu… Ibu! Aku akan menemuinya, bercerita tentang masa kecilku tanpanya di dalam meja kayu.
betra
Jun 4 2009, 07:06 PM
silahkan buat yg tertarik mau baca
betra
Jul 16 2009, 05:37 PM
ada yg baca ga ya?
avant garde
Aug 26 2009, 10:02 PM
cerita2 berimajinasi yg bebas
bagus