Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Kejahatan Bankir
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Academia > Science and Technology > Social Science
utong
Uang dalam sebuah masyarakat ibarat darah di dalam tubuh manusia. Kelebihan atau kekurangannya akan menyebabkan tekanan tinggi dan rendah (inflasi dan deflasi).

Kalau orang biasa ditanya berapa banyak uang beredar yang sepantasnya ada dalam sebuah masyarakat, jawaban logisnya adalah tergantung berapa banyak BARANG DAN JASA yang sanggup diperdagangkan oleh komunitas tersebut dalam perdagangan sehari-hari mereka.

Tetapi siapa sebenarnya yang menentukan jumlah uang beredar, dan bagaimana uang diedarkan?

Karena uang hanyalah medium pertukaran barang dan jasa di dalam komunitas tersebut, untuk melayani masyarakat tersebut, logisnya adalah tak seorangpun yang berhak mengambil keuntungan dari pengadaan uang. Orang yang berproduksi pantas mendapatkan uang, dan orang yang tidak berproduksi tidak mendapatkan apa-apa.

Petani menghasilkan hasil tani, nelayan mencari ikan dan hasil laut, penenun kain membuat pakaian, tukang masak mengolah hasil tani menjadi makanan, tukang kayu membuat bangunan dan perkakas rumah, orang-orang terdidik menjadi guru di sekolah, dll. Semua orang mengerjakan dan memberikan kontribusi ke masyarakat sesuai kemampuannya. Uang harusnya diciptakan OLEH komunitas tersebut UNTUK melayani komunitas tersebut.

Tetapi kemudian sekelompok kecil anggota komunitas tersebut, yang diberkati dengan daya pikir yang lebih tajam, sekaligus keserakahan yang tak terhingga, memahami bahwa mereka bisa TIDAK memberikan kontribusi apapun tetapi memiliki segala-galanya di masyarakat tersebut. Kelompok ini adalah "Pengada (Pencipta) Medium Uang."

Kalau demi memiliki uang dan menghindari sistem bartel yang merepotkan, masyarakat tersebut rela MEMINJAM uang kepada kelompok tersebut, maka masyarakat ini secara de facto telah menjadi budak abadi dari kelompok pencipta uang itu.

Misalkan : masyarakat ini terdiri dari 100 penduduk. Ada yang jadi petani, nelayan, tukang kayu, penenun kain, tukang masak, penambang, guru dll.

Kemudian sang Pencipta Uang, katakanlah seorang penambang emas, berhasil membujuk masyarakat tersebut untuk menggunakan koin emas buatannya sebagai medium pertukaran (uang). Semua orang membeli emas darinya, dan sebagai gantinya memberikan barang / jasa tertentu kepadanya. Yang lain, karena tidak memiliki barang, akhirnya harus meminjam kepada tukang emas tersebut.

Bila tukang emas ini meminjamkan 1000 koin emas dan menagih 5% bunga kepada masyarakat ini, maka tanpa menggunakan hukum bunga-berbunga sekalipun, dalam waktu 20 tahun tukang emas ini akan memiliki semua koin emas dia kembali, dan masyarakat ini masih tetap berhutang 1000 koin emas kepadanya.

Saat itu, tak satu pun koin beredar di masyarakat, sehingga tidak mungkin masyarakat tersebut sanggup membayar. Tentu saja, dalam prakteknya, memasuki tahun ke-2 sekalipun tukang emas tersebut sudah harus meminjamkan koin emasnya kepada anggota masyarakat ini, tukang emas ini tidak ingin bunga yang dia terima membuat suplai uang di masyarakat menurun, karena nantinya skema ini akan terbongkar.

Penurunan suplai uang di komunitas manapun selalu menciptakan resesi / depresi ekonomi. Agar sistem ini tidak gagal, komunitas tersebut harus terus mengajukan pinjaman baru, agar saat bunga / cicilan pokok pinjaman lama dibayarkan, suplai uang di komunitas tersebut tidak berkurang.

Tidak masalah medium apa yang Anda gunakan sebagai uang, selama sang pencipta uang adalah pemilik medium uang (bukannya masyarakat itu sendiri) dan berhak menagih bunga atas pinjamannya, masyarakat ini tidak akan pernah sanggup melepaskan diri dari perbudakan bunga, siklus inflasi dan resesi.

Pihak yang paling berkepentingan agar emas menjadi medium pertukaran uang, bisa Anda yakin bahwa dia pasti memiliki banyak emas yang ingin dia jual atau pinjamkan. Inilah satu-satunya motivasi dia untuk mempromosikan emas sebagai uang.

Karena kemampuan komunitas tersebut untuk berhutang ada batasnya, dan akibat bunga pinjaman yang harus mereka bayarkan, sebagian anggota komunitas tersebut pun jatuh miskin pada tahun-tahun pembayaran berikutnya. Manusia, sebagai makluk sosial, menyadari bahwa anggota masyarakat yang tidak beruntung ini tidak bisa dibiarkan begitu saja dan perlu dibantu. Maka diciptakanlah sebuah institusi sederhana untuk membantu mereka, yaitu Pemerintah, yang juga akan berfungsi untuk mengatur hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak.

Tetapi, karena dari tahun ke tahun semakin banyak uang yang diperlukan untuk membantu anggota masyarakat yang tidak beruntung ini, skala pemerintah dan uang yang diperlukan untuk membiayai mereka pun terus bertambah besar.

Pemerintah, yang didirikan untuk menjadi penolong, perlahan-lahan justru berubah menjadi penodong. Jangan lupa, anggota pemerintah pun orang-orang biasa yang perlu makan dan memiliki kebutuhan lainnya. Jadi, sebelum uang yang dikumpulkan masyarakat untuk membantu orang miskin ini digunakan, sebagian uang tersebut pun masuk ke kantong anggota pemerintah terlebih dahulu.

Semakin besar jumlah orang miskin yang perlu dibantu, semakin besar skala pemerintah di komunitas tersebut. Semakin banyak usaha yang jatuh bangkrut, semakin sering juga pemeritah mengambil alih usaha-usaha tersebut, dan semakin banyak uang juga yang perlu dibayar anggota komunitas yang masih produktif dan belum bangkrut (*pajak). Suatu ketika, saat uang yang sanggup dikumpulkan dari masyarakat yang masih produktif pun tidak mencukupi lagi, pemerintah, sebagai sebuah institusi, pun mulai mengajukan pinjaman kepada si pencipta uang (dalam contoh di atas, si tukang emas)

(*Pajak : bedakan pajak yang ditarik untuk membantu orang miskin, pembangunan infrastruktur, gaji anggota pemerintah, Vs pajak untuk membayar cicilan hutang pemerintah. Kalau Anda mengira pajak yang Anda bayarkan setiap bulan semuanya digunakan untuk membantu orang miskin di Indonesia, memperbaiki jalan, sekolah, tempat ibadah dll, sebaiknya Anda mengecek dengan mata sendiri betapa besarnya anggaran pemerintah yang digunakan untuk membayar cicilan hutang & pokok kepada bankir internasional.)

Pemerintah, akhirnya pun terpojok untuk terus memaksa rakyatnya membayar lebih banyak lagi tagihan pajak, bea ini bea itu, pungutan jinak, pungutan liar, dll. Sekarang posisinya menjadi Pemerintah Vs Rakyat.

Orang-orang yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah pun mulai membuat kelompok (partai) baru, seolah-olah mereka bisa menyelesaikan masalah, mengembalikan skala pemerintah ke skala yang lebih kecil, dan mengurangi pajak dan pungutan kepada masyarakat produktif mereka.

Puluhan partai didirikan untuk berdebat satu sama lain, tetapi tak seorang pun yang bersedia mendebat asal usul uang mereka, tak seorang pun membicarakan si tukang emas. Mungkin memang itulah fungsi utama sistem demokrasi, agar si tukang emas lebih gampang mempertahankan kekuasaan. Bagaimanapun, jauh lebih gampang menyuap beberapa ratus anggota parlemen dibanding menyuap mayoritas rakyat di suatu negara.

Keadaan dari tahun ke tahun bertambah kacau, jumlah orang miskin terus bertambah dari generasi ke generasi. Anak-anak muda mulai khawatir akan masa depan mereka, dan tak mengerti mengapa generasi ini tampaknya lebih miskin dibanding generasi sebelumnya, dan kelihatannya anak-anak mereka sendiri akan lebih miskin dibanding mereka sendiri saat ini.

Polisi, tentara, yang seharusnya ada untuk melindungi rakyatnya, suatu ketika akan digunakan oleh si tukang emas sebagai senjata untuk melawan rakyatnya. Ironisnya, si tukang emas ini bahkan tidak perlu repot-repot menggaji polisi dan tentara. Gaji mereka dibayar oleh pajak rakyat yang mereka tindas.

Tahun depan Indonesia akan kembali menyelenggarkan Pemilu. Kalau tidak ada kejutan, lagi-lagi puluhan partai politik akan berdebat dan menyanyikan janji-janji manis kepada orang-orang yang ingin percaya. Dan lagi-lagi tak sebuah partai pun yang akan menyinggung si tukang emas saat ini, BANK (mulai dari Bank Sentral, dan kemudian ke Bank-Bank Komersial yang menciptakan mayoritas uang beredar di negara ini).

Kita masih berada dalam perbudakan bunga bank, tidak berubah sejak sebelum merdeka. Dan bank-bank komersial pun masih tetap mempraktekkan fractional reserve banking, tidak berubah sejak ratusan tahun lalu.

Kontrol atas kredit masih di tangan bankir, bukan di tangan rakyat. Jadi... Nothing is going to change, nothing!

Tahun depan, saat pinjaman tak terbayar rakyat USA memuncak, konsumsi mereka akan menurun tajam. Ketika mereka berhenti konsumsi, toko-toko distributor utama di Amerika akan mengurangi order ke pabrik-pabrik di Asia dan Eropa. Kurangnya order kemudian diikuti dengan PHK masal di Asia dan Eropa, dan kemudian toko-toko retail di Asia dan Eropa pun akan mulai jatuh bangkrut dan tidak bisa membayar pinjaman ke bank-bank komerisial lokal mereka.

Hanya orang-orang (& perusahaan) yang paling sedikiti dibiayai oleh hutanglah yang bisa keluar dari krisis kali ini. Sisanya akan jatuh bangkrut dan aset mereka akan diambilalih para bankir. 2-3 tahun ke depan, para "tukang emas" akan menikmati sensasi konsolidasi mereka, bisnis-bisnis akan jatuh ke lebih sedikit tangan, kompetisi akan berkurang (termasuk bisnis perbankan). Mimpi mereka untuk meMONOPOLI semua aset semakin mendekati kenyataan. "Last Man Standing."

Di sisi lain, orang-orang miskin terus bertambah. Anak-anak tidak sanggup sekolah, orang yang masih memiliki pekerjaan pun mulai berpikir untuk korupsi lebih banyak karena gaji tidak mencukupi, sebagian lagi mencari solusi lewat perjudian, prostitusi, perdagangan obat terlarang, dan hubungan internal keluarga juga memburuk. Hubungan antar orang di masyarakat pun tidak bertambah baik, orang-orang sibuk memikirkan bagaimana mereka harus makan, tak ada lagi waktu untuk bersosialisasi secara suka rela, kemunafikan pun bertambah... Kriminalitas akan meningkat tajam, dan tak banyak yang bisa dilakukan.

Percayakah Anda?
Bila Anda tidak menghentikan sistem ini sekarang, bila Anda tidak mengekspos kejahatan perbankan sekarang, maka akan tiba suatu hari.. di mana saat Anda mempertaruhkan nyawa Anda sekalipun, Anda tidak akan punya peluang lagi untuk menang. Semua aset, utilitas umum, militer, media, pendidikan, kepolisian, konglomerasi pertanian, perkebunan, pertambangan, gudang nasional makanan dan distribusinya, semuanya sudah dalam genggaman "tukang emas".

Mulailah bercerita, "Silence is Acceptance."

Source : http://pohonbodhi.blogspot.com/2008/10/ban...pemerintah.html
samir
makanya bro
dalam agama gwa (islam) dilarang namanya bunga berbunga
kecuali di halaman rumah atau taman
somasonic
mmm... bicara masalah ini tergantung perspektif. Kalo kita hanya bisa liat dari sisi negatif ya jadinya begitu ceritanya : Bank dibilang jahat lah--- ha ha. Sebenarnya gw jadi pgn ketawa.. sebegitu desperate-kah ama yang namanya Bank???

Ya itu namanya opini... semua bisa berpendapat. Gw cuma gak stuju aja sama isi opini di atas.
Isinya gak detail, apalagi buat orang yang awam sama cara kerja bank. Buat gw isinya jadi menjerumuskan.

Apa Bluefamers pernah denger nama Muhammad Yunus.. (peraih nobel 2006). Beliau pendiri Grameen Bank (maap kalo salah eja), yang ngasih pinjaman ke warga Bangladesh yang miskin dengan tujuan untuk mengeluarkan mereka dari garis kemiskinan. Apa bisa tujuan mulia dan beresiko kerugian tsb bisa disebut kejahatan?

Kalo mungkin yang bisa disebut jahat sih lembaga keuangan yang ilegal gak ikut LPS dsb.. yang akhirnya bawa lari uang nasabahnya. Banyak khan yang gitu? Itu jahat menurut gw.

Kalo soal bunga bank, opini gw wajar ada untuk pembiayaan operasional dll. Kalo gak ada lebih dari pinjaman gimana caranya bank bisa hidup? Kredit itu solusi buat zaman kyk gini.

Ibaratkan aja kredit motor yg harganya 10 jt dibayar cicilan selama 3 tahun. Misalkan total harga motor kalo kredit jadi 13 jt. Nah lebih 3 juta ibaratkan aja ungkapan terima kasih buat leasing. Soalnya kalo kita bayar 10 juta sekaligus belum tentu sanggup. kalo gak ada sistem kyk gini gak kebayang harus nabung berapa tahun buat beli motor?????

Nah cara kerja pinjaman perbankan juga menurut gw gak jauh beda. Pinjaman juga setau gw variatif bisa dari 5 jt ampe bermiliar-miliar. Yang pasti kalo perbankan biasanya targetnya itu adalah usaha yang produktif. Dan orang2 yang diberi pinjaman juga harus sesuai dengan kriteria dan syarat dari banknya itu sendiri. Kalo yang terjerat hutang bank itu coz dia gak bisa menempatkan dana yang dia dapat dari bank dengan efektif. Lagian buat apa bank ngasih pinjaman kalo usaha seseorang gak maju dan jadi bangkrut? Ini namanya kredit macet, dan hal ini merupakan kerugian negara. Ya artinya kerugian kita semua. Apa untungnya agunan yang disita bank dari peminjam coz nilai agunan yang peminjam punya biasanya gak senilai dengan hutang yang dia punya ke bank. Setau gw ketika suatu bank ngasih pinjaman, misalkan 100 jt, Bank tsb juga harus siap merugi sebesar paling nggak 100 jt kalo si peminjam gak sanggup bayar (lebih jelasnya orang bank pasti lebih tau).

Kita cuma harus berpikir sederhana gak usah ribet. Itu opini simple gw. Cheers Peace.gif
savatriava
sederhananya : nyang jelas kalo buat usaha kalo nggak utang ya nggak maju.Justru uang bank itu jadi menguntungkan kita karena kita bisa dapet untung dari utangan tersebut.caranya ya buat usaha yang produktif nyang bisa ngasilin duit buat bayar angsuran tapi masih ada sisa buat keuntungan kita. bukan begitu bro? malah gue kalo sistim perbankan bagi hasil gue kagak percaya.soalnya bank nyang kayak gini mau kalo untung dibagi, kalo rugi kagak mau. ya sama aja ambil bunganya. cuman beda istilah aja. ya kan??
b4rb4r
hehe, , ikut nimbrung neh, , simpel yah? mm,, gk sesimpel itu bos, , misal uang yang beredar 1000, yang jadi hutang 500, bunga 10%, mm,, sehingga uang yang harus ada seharusnya 1050. bukankah ini penggandaan uang? jika prodyuksi real yang dihasilkan cuma 1000. maka harga otomatis akan naik, karena tadina yang hargana tiap produksi 1 (1000 {uang beredar real/seharusnya} dibagi jumlah produksi yang ada 1000) menjadi naik 1,05 (1050 jumlah uang yg seharusnya plus bunga dibagi jumlah produksi yang real). hmm,, okelah jikalau produksi bisa ngimbangi jumlah tingkat bungana, , tapi setau saya, , tingkat produksi atau sebut saja sumber daya alam terbatas. dan kita tau sendiri, bunga/penggandaan uang sangat cepat, dan hampir tidak mungkin tingkat produksi mengimbangi penggandaan tersebut. mm,, ambil kasus nyata, , resep IMF saat krisis ekonomi dunia untuk indonesia yaitu meningkatkan tingkat suku bunga bank, dengan dalih agar dana dalam negri tidak lari keluar negeri, , dan tetangga kita malaysia menolak resep itu, , mereka malah menurunkan suku bunga bank, dan kita lihat hasilnya, , hehehe, , sejarah membuktikan. . mm masih ada lagi sih, , sistem FRR dan lupa namana satu lagi, , haha,, sistem penggandaan uang yang gila, , rasakan aja sendiri manusia2 dikota2 yang sudah menganut sistem semacam ini dan sudah terbiasa dengan manusia2 desa yang jauh dari sistem ini atau dengan kata lain kurang kental dengan sistem ini, ,
somasonic
Ada benernya juga apa yang dibilang savatriava, kalo di Indonesia ini bagi hasil ama bunga bank kayaknya cuma beda di istilah. Tapi pada prinsipnya---berdasarkan informasi tmn gw yg kerja di salah satu bank syariah-- yang membedakan adalah pada sistem syariah, bagi hasil (bunga bank) berdasar pada kesepakatan antara bank dan nasabahnya (prakteknya sih gw juga ga ngerti). Sedangkan pada bank konvensional nasabahnya lebih dituntut untuk mengikuti aturan dari pihak bank saja.

Sebenarnya gw salut ama sistem perbankan syariah. Begini pengalaman gw buka rekening tabungan di M*****i Syariah. Ternyata misalnya kita dikenakan biaya adm sebesar Rp 1000, kita juga dapat keuntungan bagi hasil sebesar Rp 1000. Paham kan kesimpulannya? Nah setelah itu gw baru sadar mereka ambil keuntungan bukan dari simpanan nasabah, tapi dari fasilitas yg diperoleh nasabah seperti ATM dll. Jadi mungkin sebesar apapun atau sekecil apapun simpanan nasabah mereka hanya ambil keuntungan dari biaya fasilitas. Berhubung gw waktu buka rek gak minta ATM, Customer Service mereka ngotot spy gw pake ATM. Sampai2 mereka nelpon ngasih informasi bahwa mereka sdh salah mengaktifkan fasilitas ATM di rek gw, dan nyaranin buat pake faslitas ATM. Jelas gw sewot coz gw gak butuh ATM. Akhirnya mereka nyerah, dan rekening gw bebas biaya ATM. Setelah 1-2 bulan gw cek buku tabungan, gw baru sadar dan maklum kenapa mereka ngotot spy gw pake fasilitas ATM. Mereka gak dapet keuntungan dari tabungan gw. Maaf jd curhat . . . --dan sedikit offtopic mungin--

Nah, kayaknya semua bank syariah lain pendapatannya gak jauh beda sama bank yg udah gw ceritain. Tapi dari pandangan awam dan pengalaman gw... mungkin sistem perbankan ini yang lebih menguntungkan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
dark_knight13
kesimpulannya : ada juga kan orang2 yang ga punya utang pada siapapun??
klo yang itu masuk golongan mana?
bukannya klo ga ada uang(alat tukar) orang akan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya
masa kita kembali lagi ke sistem barter seperti jaman dulu
no offense. cuma ngeluarin pendapat aja^^
robbyyangganteng
whew, rasanya gw pernha baca beginian di brosur yang jualan koin emas dinar.

anyway, rasanya emang bener yang pegang uang bertai yang kuasa, sialnya amerika yang dolarnya dijadikan standar internasional, yang bikin uangnya buakn pemerintah, tapi swasta.
pastinya mereka bakal kalankabut kalo mesti bayar komoditi pake uang beneran (uang emas) karena yang mereka punya cuma uang kertas (yang sebenarnya ngak bernilai) dan hitungan2 jumlah uangnya dalam bentuk digital-yang sebenrnya nggak pernah ada-sebagai keuntungan bisnis uang.

@ dartknight:kayaknya bakal lebih baik kalo jumlah uang yang beredar di sebuah negara nggak lebih bsesar dari jumlah riil kekayaan negara itu. jadi tetap seperti barter istilahnya, tapi diwakili dengan 'uang yang bener2 ada nilainya'
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.