Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Bensin Masih Surplus Rp 100 M, Harga Tetap
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Cafe > Fresh News > Ekonomi dan Bisnis
PuJaNggA90m
Source: Jawapos.com Jum'at, 13 Maret 2009
http://www.jawapos.com/halaman/index.php?a...l&nid=56982


Bensin Masih Surplus Rp 100 M, Harga Tetap


JAKARTA - Fluktuasi harga minyak dunia membuat pemerintah berhati-hati menentukan harga BBM bersubsidi. Mendekati tanggal 15 yang merupakan evaluasi bulanan harga BBM, pemerintah mengisyaratkan tak ada perubahan kebijakan.

''Harga minyak dunia memang fluktuatif. Sempat naik, terus turun, terus naik lagi. Jadi kalau kita lihat, harga (BBM bersubsidi) masih di sekitar situlah,'' ujar Dirjen Migas Departemen ESDM Evita H. Legowo di Kantor Departemen ESDM kemarin (12/3).

Saat ditanya apakah berarti tidak ada perubahan harga, Evita menjawab diplomatis. ''Sekarang kondisinya kan naik turun, masih fluktuatif. Terjemahkan sendiri,'' katanya. Soal apakah ada peluang harga BBM kembali diturunkan, Evita menyebut hal itu sulit diwujudkan. ''Susah, kecenderungannya kan (harga minyak) malah naik,'' jawabnya.

Menurut dia, harga patokan minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) yang pada Januari-Februari 2009 berkisar USD 35-USD 38 per barel saat ini sudah merangkak ke USD 44 per barel. Meski begitu, Evita mengakui dengan harga Rp 4.500 per liter, pemerintah masih meraup surplus Rp 100 miliar dari penjualan premium sepanjang Februari. ''Ini bukan untung lho ya, hanya selisih positif,'' jelasnya.

Keuntungan penjualan BBM bersubsidi itulah yang sering disorot kalangan DPR dan menjadi alasan untuk mendesak pemerintah agar kembali menurunkan harga BBM. Sebenarnya, sejak Desember 2008 pemerintah meraup surplus dari penjualan BBM bersubsidi. Berdasar data Departemen Keuangan, pada Desember 2008 pemerintah memperoleh pendapatan bersih dari penjualan premium Rp l,24 triliun.

Rinciannya, periode 1-14 Desember (saat harga premium susut menjadi Rp 5.500 per liter) surplus Rp 0,99 triliun. Periode berikutnya, pada 15-20 Desember (saat harga diturunkan jadi Rp 5.000 per liter), keuntungan bersih pemerintah Rp 0,25 triliun. Dengan begitu, total pendapatan bersih penjualan premium sepanjang Desember Rp 1,24 triliun. Angka itu belum termasuk surplus pada periode 21-31 Desember yang masih diaudit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).

Surplus yang diperoleh pemerintah pada Januari 2009 naik dibanding Desember 2008 menjadi Rp 2,06 triliun. Rinciannya, surplus periode 1-14 Januari 2009 senilai Rp 0,98 triliun. Lalu periode 15-31 Januari 2009, saat harga premium diturunkan menjadi Rp 4.500 per liter, pemerintah meraup Rp 1,09 triliun.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah tak akan menaikkan harga BBM bersubsidi, meski ada sinyal harga minyak cenderung melesat. ''Sebab, besaran keuntungan penjualan premium bisa dipakai untuk menutupi defisit,'' ujarnya.

Karena itu, pemerintah meminta semua pihak tidak hanya melihat besaran surplus Rp 3,3 triliun yang didapat pemerintah dari hasil penjualan premium antara Desember 2008-Januari 2009. ''Jangan dilihat surplusnya yang terjadi 1-2 bulan, tapi ke depan akan defisit terus. Sebab, sekarang harga sudah naik kembali,'' jelasnya.

Saat ini pemerintah masih menggunakan asumsi kurs Rp 11 ribu per USD. Padahal, nilai tukar merambat naik di atas Rp 12 ribu per USD. ''Sekarang harga keekonomian premium Rp 5.422 per liter. Tapi itu bukan harga final, masih berkembang terus. Pokoknya, kami umumkan tanggal 15 setiap bulan,'' paparnya.
djmonid
ya memang begitu lah.. apa lagi mau pemilu.. ga kan juga harga bensin dinaekin..
tommykid
hmm...politik dagang sapi...
monarkihans
pemerintah mungkin punya pertimbangan lain.. asal jagan pertimbangan politik deh.
congming
kepentingan politik selalu berada diatas kepentingan rakyat..
rakyat makin susah... elite politik bersenang2 sendiri didunianya...
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.