Yihaa! Aray melonjak kesenangan. Hari ini gajinya keluar. Setelah seminggu belakangan menahan diri untuk berhura-hura, akhirnya yang dinantikan datang juga. Ini adalah gaji pertamanya sejak ia diangkat resmi sebagai karyawan tetap PT.Gonjang Ganjing Persada. Setelah tiga bulan penuh tercatat sebagai calon karyawan, mulai sebulan silam Aray syah diaku menjadi karyawan tetap.
Bisa dibilang gaji ini merupakan yang terbesar dalam sejarah hidup pemuda itu. Tak pernah terbayang dalam angannya ia akan punya gaji sebesar ini. Di zaman krismon, zaman kurs dolar melumbang-lambung tidak tentu. Tiba-tiba saja seperti kejatuhan durian Aray mendapat pekerjaan layak di perusahaan swasta, cabang sebuah perusahaan multinasional yang punya jaringan di seantero dunia.
Pemuda kurus kerempeng itu seolah tak sabar meraup seluruh isi ATM-nya. Sekarang sudah tidak model pembayaran gaji dengan sistem amplop. Yang ada sistem transfer. Terlihat wajah Aray berharap cemas. Keringat membasahi keringat, menembus kemeja putih garis-garisnya. Maklum, untuk mencapai ATM ini ia mesti sedikit berlari kecil. Setelah tiba pun ia harus bersabar antri di antara orang lain yang ingin menarik rekening. Ini kan tanggal tua, waktu dimana sebagian besar karyawan swasta mengambil gaji.
Sejenak Aray bisa menikmati belaian AC. Perlahan keringat sebesar jagung menyurut barang sekejap. Selama dalam antrian, gegap gempita angan-angan Aray membumbung.
Aku mau makan enak. Bosan makan di warteg terus.
Terbayang renyahnya ayam goreng a la Kolonel Sanders. Digigit, kriuk! Hangat, krispi. Gigi menembus dagingnya yang gurih lagi lezat. Tidak lupa dicocol saos sambel pedas manis. Nyam nyam. Gigi Aray gemeletuk sendiri seolah paha ayam itu sudah ada di mulut saja. Belum lagi kentang goreng hangat. Terbayang rentetat iklan semua makanan cepat saji di televisi. Terngiang suara Kris Dayanti melantunkan jingel iklan sebuah warung waralaba terkenal. Uahhh! Perut dan lidah Aray mengerjap-ngerjap minta segera diisi. Padahal antrian masih lumayan panjang. Satu, dua, tiga, empat. Empat orang lagi tiba giliran Aray.
Apa saja yang dilakukan mereka dalam mesin ATM? Mengapa begitu lama? Apa mereka semua ini gatek alias gagap teknologi benak Aray. Ini semua akibat ia sudah tak sabar lagi ingin segera menyerbu warung waralaba yang terkenal dengan ayam goreng kolonel. Tidak, tidak. Masakan Italia lebih menggoda kini. Sebuah piza ukuran besar dengan asap mengepul di atas terlihat jelas di hadapan Aray. Piza itu memanggil-manggil namanya.
Makan, makanlah aku. Aku hangat, nikmat, lezat!
Kemudian piza berganti menjadi spageti dengan tumpahan daging cacah di permukaan, ditambah parutan keju parmesan. Semua hidangan lezat tadi pernah disantap Aray dalam acara ulang tahun seorang teman. Gratisan. Sebab gajinya dulu tidak cukup untuk bisa berhura-hura menikmati kemewahan makanan.
Tapi hari ini, tunggu pembalasanku!
Satu lagi, ya Aray bisa melihat jelas tinggal satu lagi antrean menuju mesin ATM. Kini kesabarannya sudah nyaris habis. Ingin ia meloncati ibu di depan ini. Hup! Habis perkara sudah. Lalu ia bisa bebas mengeruk seluruh pundi gaji.
Akhirnya....oh akhirnya! Tiba juga ia di depan mesin ATM. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Begitu ibu gemuk tadi keluar, tanpa buang waktu Aray langsung menyeruak ke dalam. Ditekan tombol-tombol ATM dengan cepat dan tangkas. Matanya hijau melihat jumlah saldo yang tertera. Tut...tut...tut. Tidak lama, terdengar suara lembaran limapuluh ribuah berdesakkan keluar. Aray menarik. Secepat kilat dimasukan ke dompet. Tidak perlu dihitung, toh uangku cukup banyak. Kalaupun kurang satu, tentu masih banyak persedian. Lagipula ini kan komputer, sangat kecil kemungkinan melakukan kesalahan.
Dengan kantong tebal Aray jalan melenggang. Memang gajinya tak langsung digasak semua. Tapi seumur hidup baru sekali inilah ia mengantungi begitu banyak uang. Satu juta rupiah. Wow. Kini ia bisa berbuat apa saja. Bagi kebanyakan orang kelas menengah ke atas, satu juta rupiah bukan apa-apa. Terlebih buat yang terlahir dari keluarga kaya. Lain dengan Aray. Dia tidak masuk dalam kategori mereka. Bapaknya cuma buruh kasar. Ibu pun hanya tukang jahit yang bisa sedikit merasa kaya kalau menjelang hari raya saja. Sejak SMA Aray mesti banting tulang ikut mencari nafkah. Kuliah pun bisa didapat berkat dapat beasiswa ditambah hasil kerja serabutan.
Jadi bisa dibayangkan betapa riang gembira hati Aray begitu tahu gaji barunya cukup memuaskan. Ia tahu pasti hendak diapakan gaji pertama ini. Menyenangkan orang tua? Mungkin. Ah, nanti sajalah. Mentraktir adik-adik? Kan, itu sudah sering dilakukan sejak dulu walau dengan uang ala kadarnya. Mentraktir teman-teman? Ah, boro-boro teman, keluarga saja dikesampingkan dulu, apalagi teman! Yang penting sekarang adalah memuaskan hasrat untuk diri sendiri.
Panas terik mentara di siang bolong tidak terasa menyiksa Aray. Padahal di waktu lain pemuda itu sering menyumpahserapahi matahari. Dengan dompet setebal ini Aray merasa segala kondisi alam cukup ramah padanya. Jangankan sengatan matahari, dibakar api membara pun pasti tidak terasa kalau punya uang di kantong. Luar biasa pengaruh kertas berharga satu ini.
Bahkan Aray sudah merasa seperti seorang jutawan. Puih! Persetan semua orang di sekelilingku! Sesekali menjadi congkak dan sombong tidak apa kan? Sebab ia sudah cukup muak melihat orang berduit bersikap sombong kepadanya. Yap! Ia ingat betul bagaimana rasanya menjadi orang tak punya di masa lalu. Setiap pandangan orang dari atas mobil mewah selalu dirasa begitu menghina.
Hup! Ia melompat ke dalam sebuah bis patas AC. Sempat tadi ia ingin naik taksi. Tapi patas AC atau taksi sama-sama ber-AC. Tujuannya jelas, pusat perbelanjaan Blok M. Di sana nanti ia akan berfoya-foya. Nonton bioskop, makan enak, belanja, putar-putar sampai kaki pegal. Sampai uang ludes!
Dalam bis ia bersandar tenang. Bisa dihitung dengan jari berapa kali ia naik kendaraan umum ini. Kalau tidak terdesak betul karena takut terlambat masuk kerja, ia tidak mau naik patas AC. Itu cerita dulu. Zaman belum punya gaji sebesar sekarang. Mulai kini ia akan sering merasakan nikmatnya kendaraan ini.
Capai aku berurusan dengan metro mini atau kopaja murahan. Berdesakkan berdiri seperti ikan dendeng. Wiuh! Selamat tinggal, kopaja dan metro mini. Barangkali akan jarang-jarang aku bertemu kalian nanti.
Sedang asyik menghayal ke restoran mana ia mau makan nati, mendadak Aray dikejutkan oleh suara sekeras halilintar.
“Selamat siang, Bapak Ibu sekalian! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh! Salam sejahtera bagi yang beragama lain! Saya di sini akan membacakan satu atau dua puisi untuk menghibur perjalanan ini...berikut puisi karangan anak jalanan..."
Sudah hapal Aray dengan prolog semacam itu. Tidak di kopaja, tidak di patas AC. Tetap saja ia harus dipertemukan oleh pengamen jalanan. Jarang ia memberi mereka. Hanya di saat-saat tertentu kalau sedang ada uang saja ia rela melemparkan seratus duaratu rupiah ke kantong plastik para pengamen itu. Kini?
Oh, terima kasih banyak! Aku mau nikmati kekayaanku seorang diri saja hari ini. Rasanya bukan aku saja orang berduit yang bersikap pelit di dunia. Jadi tidak ada salahnya kan kalau menambah jumlah deretan orang pelit dan belagu itu sekali-sekali? Begitu pikiran terlintas di benak Aray.
Jadi dipejamkan matanya. Melambungkan lamunan setinggi bintang di langit. Selamat tinggal derita. Selamat tinggal kemiskinan. Satu, dua, tiga orang pengamen sama sekali tidak Aray acuhkan. Jangankan memberi, melirikpun tidak.
Aku sudah terlalu lekat dengan kemiskinan. Hari ini, cukup hari ininsaja aku mau lepas darinya. Kupikir Tuhan pun akan memaklumi. Amin.;
Tidak terasa sudah sampai Blok M. Aray inget betul, dulu-dulu ia ke Blok M bukan untuk menghamburkan uang, justru mengkais rejeki. Ia pernah juga mengamen, berjual koran, dan semua pekerjaan tidak jelas lain. Blok M yang sejak dulu identik dengan ajang rekreasi dan mejeng kawula muda, tidak demikian bagi Aray. Dulu Blok M merupakan tempat pergulatan hidup mencari sekeping dua keping rupiah.
Begitu menjejakkan kaki di terminal, Aray mencium bau suasana yang tak lagi asing. Masih seperti dulu. Persis. Hanya bedanya kini, ia adalah Aray dengan uang satu juta rupiah di kantong. Bukan lagi Aray yang harus mengais-ngais
Maafkan aku, terminal. Kini aku sudah tak tahan harus berlama-lama memanaskan diri di dalammu. Aku harus segera mendinginkan kepala ini ke ruangan dingin ber-AC di pertokoan mewah sebrang sana.
Perjalanan menuju Blok M Plaza terasa begitu jauh. Ia harus rela berdesakkan dengan orang lalu lalang di jembatan penyeberangan. Bau keringat bercampur baur. Rasanya ia sudah hapal berul dengan penderitaan macam ini. Tapi kali ini ia merasa sungguh tersiksa luar biasa.
Aku? Yang punya uang tebal ini harus ikut berdesakkan dengan orang-orang ini? Bagaimana kalau ada copet nanti? Bagaimana kalau tiba-tiba dompetku sudah berganti posisi di tangan orang? Kalau aku orang kaya sungguhan tidak apa. Hilang dompet masih ada rekening di bank. Nah aku? Di bank cuma tinggal separuh gaji.
Tengah bersungut begitu, mata Aray tertohok pada pemandangan menjijikan. Seorang lelaki tua dengan sekujur kulit tubuh penuh luka menganga. Tangan kirinya tidak bertelapak. Nanah meleleh dari celah luka menganga bercampur darah setengah kering. Dagingnya membelalak merah muda. Lalat dengan rakus menjilati bau amis yang keluar. Tangan kanannya tidak berjari . Masih ada sepotong jempol terkelupas. Wajah lelaki itu tak kalah seram. Hidungnya gumpil, berlubang besar menganga. Lkebih mirip hidung tengkorak daripada manusia. Sungguh sebuah pemandangan luar biasa menjijikan. Entah mengapa ada manusia dibiarkan Tuhan hidup dalam keadaan sedemikian sengsara dan mengerikan.
Dia menyorongkan telapak tangannya yang hancur itu ke arah Aray. Memohon beberapa rupiah. Tapi pemuda itu sudah terlalu jijik dibuat. Jangankan mengeluarkan seratus rupiah, melihat saja mau muntah rasanya. Sedang terperangah sejenak, mendadak tubuh besar menabraknya. Bruk! Aray terpental ke atas tubuh pengemis itu. Tanpa sengaja ia mencium wajah hancur lelaki tua yang ternyata penderita lepra. Uh, luar biasa baunya. Anak gembel yang seminggu tidak mandi masih lebih wangi rasanya!
Waktu Aray tak sengaja jatuh ke pangkuan pengemis lepra tersebut, sempat dilihat daging jempolnya yang tinggal sepotong lepas. Pluk! Jatuh ke tanah. Si bapak tua hanya menyeringai. Menganga lagi sebuah luka baru yang sudah kering. Aray menyumpahserapahi nasibnya dalam hati.
“Maaf Pak, maaf!” Aray segera bangkit. Si bapak tua hanya diam saja. Aray bergegas pergi agar bisa segera melupakan pengalaman menjijikan barusan.
Sampai di plaza, Aray segera masuk ke toilet. Dicuci dan dibasuh segenap bagian tubuh yang tersentuh badan bapak tadi. Ia pernah dengar kalau lepra bisa menular. Hii!!! Jangan pernah semua keturunanku terkena penyakit kutukan itu! Dosa apa aku? Aku harus memeriksakan diri secepatnya sebelum virus menjijikan itu menggerogoti tubuhku!
Tidak cukup sekali. Dua, tiga bahkan empat kali Aray mencuci tangan, leher, lengan dan wajah yang diduga bersentuhan dengan bapak lepra tadi. Sampai sabun cair di wastafel habis kering tak bersisa. Setelah merasa bersih, pemuda itu melangkah keluar.
Tanpa terasa perutnya sudah bermain orkes keroncongan minta diisi. Memang sejak tadi sebenarnya ia sudah lapar sekali. Namun kecelakaan naas dengan pengemis lepra barusan membuat selera makan hilang sama sekali. Kini perlahan nafsu makannya kembali tumbuh. Apalagi dilihat dalam plaza banyak jejeran restoran waralaba. Baunya hmmmm sungguh menggoda! Mulai dari piza, hamburger, ayam goreng, spageti, bakmi goreng, nasi goreng petai sampai empek-empek dan bakso tenis. Semua menggoda perut Aray. Bingung juga memutuskan mau makan apa. Hari ini nampaknya semua jenis makanan bisa masuk ke mulut Aray. Sebab hari inilah untuk pertama kali dalam hidup, pemuda yang berasal dari keluarga pas-pasan tersebut punya kantong tebal!
Secara reflek kaki Aray berjalan menuju sebuah restoran Italia. Berdesain interior indah, lengkap dengan pemain biola dan piano. Mirip betul dengan suasanan Italia sungguhan. Belum lagi rangkaian bunga -yang Aray tidak tahu namanya- memenuhi semua ruangan. Ia disambut hormat oleh seorang pelayan berdasi kupu-kupu mirip pinguin. Lalu dipersilakan duduk. Sebuah buku menu dalam bahasa Inggris terhampar di hadapan. Aray bingung. Tak tahu mana yang paling enak. Yang jelas terlihat adalah angka-angka rupiah. Tidak ada yang murah. Semua di atas limapuluhribu rupiah.
Pasti ini restoran kelas atas. Pasti semua makanannya enak semua! Ah, harga segitu tak ada arti buatku! Kecil!
Jadilah pemuda itu memilih beberapa jenis makanan Italia yang namanya sudah pernah didengar. Ia yakin betul bahwa dengan harga begitu mahal tidak mungkin akan mengecewakan. Saat menunggu hidangan disajikan, pemain biola di depan sana melantunkan lagu-lagu klasik sendu. Lagu yang tidak pernah dikenal Aray dengan baik. Ia hanya sempat mendengarnya satu dua kali lewat mini compo orang atau teman. Sejauh ini dirinya merasa baik-baik saja. Bisa pas menyesuaikan diri dengan suasana kelas atas di sekitar. Tidak terlalu memalukan.
Ah, ternyata hanya sebegini saja gaya hidup orang kaya. Aku masih bisa merasa nyaman, sangat nyaman malah. Persetan teori kelas borjuis dan ploretar. Aku sudah menjadi bagian dari kelas atas itu.
Dan tibalah saatnya makanan dihidangkan. Bau menyengat hidung. Aneka ragam menu dipesan Aray tidak tanggung-tanggung. Tiga jenis makanan utama, piza, spageti dan lasagna. Ditambah salad, brusceta dan fetucini. Minumnya chocolate milk shake dan cola. Kini Aray merasa seperti raja diraja. Siap menerkam semua makanan di hadapannya. Rasa lapar yang ditahan sejak tadi sudah tak bisa kompromi. Dengan tangkas diportongnya piza, lalu dimasukan ke dalam mulut besarnya. Baru sekali kunyah entah kenapa di mata tiba-tiba terbayang luka di tangan dan kaki pengemis lepra tadi. Nanahnya di sekitar luka meleleh memnyemburkan bau anyir luar biasa. Dan bau itu tercium di sini, di resotran Italia elit ini!
Ugh! Seketika rasa mual melanda perut Aray. Mau tidak mau piza di mulut harus segera dikeluarkan dengan baik-baik kalau tidak mau malu dilihat orang banyak. Ditangkupkan kedua tangan untuk menampung muntahan piza tadi. Yakh! Sungguh menjijikan. Aray mengendus-enduskan hidung. Bau anyir tidak tercium. Memang tidak ada bau itu. Dilihat semua orang asyik-asyik saja menyantap makanan. Dicoba suapan kedua untuk masuk ke mulut. Baru beberapa kunyahan, lagi-lagi mual di perut tak bisa ditahan. Terbayang bagaimana lalat menggerayangi permukaan koreng berbalut nanah mencair. Luar bisa! Belum pernah seumur hidup Aray dibayangi perasaan menjijikan semacam ini. Kembali potongan piza di mulut terlontar keluar tak sengaja. Beberapa pasang mata mulai memperhatikan dengan pandangan kesal. Merusak nafsu makan saja ulah orang ini!
Perasaan Aray jadi kalang kabut. Serba salah. Di satu sisi ingin ia menyalahkan pihak restoran yang dicurigai menaruh sesuatu dalam piza. Di lain sisi ia menyalahkan diri sendiri yang over sensitif terhadap bayangan penderita lepra tadi. Di sisi satu lagi ia malu pada orang sekitar. Akhirnya setelah membayar bill yang membuat matanya terbelalak karena jumlahnya tidak sedikit, Aray keluar dari restoran Italia itu. Ia hanya menenggak beberapa teguk cola .
Keluar dari restoran, Aray menyumpahserapahi diri sendiri. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan tadi, dua ratus ribu rupiah lebih! Hanya untuk menikmati hidangan tak keruan yang tidak bisa masuk ke perut! Bahkan dinikmati pun tidak. Berjalan di antara jajaran restoran , mulai dari yang waralaba hingga ke rumah makan lokal biasa, membuat ingatannya kembali ke rasa lapar. Memang sejak tadi pagi perutnya belum tersentuh makanan berat. Tadi pagi ia cuma makan satu potong pisang goreng dan segelas the manis cair. Jam makan siang di kantor Aray hanya sempat menyikat habis semangkok bakso. Semestinya petang ini saatnya ia membalas dendam pada segala rasa lapar yang ada.
Aroma masakan dari berbagai penjuru rumah makan membuat perut Aray kian menggejolak. Ditambah dengan pemandangan betapa orang-orang begitu lahap memangsa makanan. Andai saja bayangan menjijika si lepra sialan tadi tidak menghantuyi, tentu kini ia sudah kenyang. Tanpa ba bi bu lagi ia masuk ke sembarang restoran. Ia sudah tidak peduli jenis makanan apa yang akan dimakannya nanti. Yang pendting bisa untk ganjal perut, titik.
Ternyata Aray memasuki sebuah restoran Jepang. Begitu duduk, pelayan menawarkan menu. Kembali semua terdiri atas nama-nama asing yang sama sekali atas dikenal. Tapi Aray tak peduli,lalu dipesannya menu paling mahal dengan harapan bisa memenuhi selera. Ia yakin, makanan mahal berarti makanan lezat. Asal saja hiiii! Bergidik Aray membayangkan bagaimana jemari pengemis tadi nyaris putus digerogoti kuman lepra.
Dan pesanan pun datanglah. Pelayan menyodorkan sepiring besar aneka irisan ikan. Ada yang kemerahan, ada yang putih. Sama sekali tak menarik selera Aray. Begitu pelayan pergi, Aray mengendusi sajian itu. Berbau jeruk nipis dan ikan mentah! Tapi dilihat orang sekitarnya begitu lahap memangsa makanan aneh serupa. Ia tak mau kalah set. Diambil seiris ikan tadi, disorongkannya ke dalam mulut. Sekali gigit, terasa masam. Dua kali gigit, masam agak manis. Gigitan ketiga baru terasa betapa amis ikan itu. Gigitan keempat, rasa mual melanda perut. Bau amis koreng lepra mendadak memenuhi nafas. Aray merasa yang di mulutnya sekarang adalah potongan jempol yang putus milik si pengemis. Amisnya luar biasa. Anyir. Seperti sekumpulan nanah kering menyeruak di sela-sela geraham. Dan kini perutnya tak tahan lagi. Uuuugh! Uaaaaggh! Menyemburlah seisi mulut Aray. Restoran yang semua hiruk pikuk tiba-tiba hening. Semua mata mengarah ke meja Aray.
Luar biasa malunya pemuda yang baruy saja naik gaji itu. Ia berlari ke toilet. Di sana dipuaskan bermuntah-muntah-ria. Kini perutnya serasa diaduk-aduk topan badai.Seluruh persendian tubuh lemas. Seperti orang yang baru saja dikeroyok massa karena mencopet, Aray berjalan lunglai. Ia tetap harus membayar hidangan tadi. Seratus ribu rupiah lebih! Semula manejer restoran minta maaf dan menanyakan apa ada yang salah dengan makanan yang dihidangkan. Aray berkata baik-baik saja. Karena itu, ia harus membayar lunas. Sebab kesalahan bukan terletak pada pihak rumah makan.
Dengan rasa kesal Aray keluar. Hari ini uangnya sudah ludes beberapa ratus ribu rupiah tanpa sedikit pun kesenangan. Jangankan kesenangan,justru penderitaan bertubi-tubi. Ia jadi muak dengan suasana plaza yang semula begitu nampak indah. Tanpa banyak bicara ia berjalan pulang.
Lebih baik aku pulang saja. Makan di warteg Minah seperti biasa. Barangkali memang perutku tidak cocok dengan makanan orang kaya.
Sesampai di warteg langganan dekat rumah kontrakan, Aray memesan menu kesukaannya: nasi dengan semur jengkol dan ikan teri kacang disambel. Biasanya menu seperti itu ludes tandas di perutnya dalam tempo kurang dari 10 menit.
Sendokan pertama, Aray menikmati betul. Tengah asyik mengunyah makanan sehari-harinya, mendadak saja tercium bau anyir entah darimana. Aray kesal. Ia celingukan kian kemari mencari asal muasal bau tak sedap.
"Minah! Bau dari mana sih ini?"
Yang dipanggil Minah mengernyitkan dahi, mencoba mengendusi bau yang dimaksud Aray. Merasa tidak mencium sesuatu yang aneh, Minah menggeleng. Pengunjung warteg lain memandangi Aray dengan mata kurang suka. Aray jadi bingung.
Apa yang salah dengan penciumanku?Sejak tadi kalau makan selalu muncul bau aneh-aneh yang menusnahkan nafsu makanku! Sialan! Kenapa hari ini aku tidak boleh menikmati makanan enak sama sekali?
Dipaksakan untuk menelan yang sudah ada di mulut.Tidak mungkin memuntahkannya. Minah dan pengunjung lain akan benar-benar marah. Tapi apa daya, baru beberapa bagian tertelan, rasa mual dan bau amis luar biasa itu kembali menyerang. Terbayang lengkap bagaimana darah serta nanah di atas luka menganga si pengemis lepra tadi. Kini potongan daging itu berada di mulutnya! Dan semur jengkol yang biasanya begitu kenyal lezat gurih seolah berubah jadi irisan jempol berdarah-darah yang amis dan bau! Tanpa bisa ditahan lagi Aray memuntahkan seluruh isi mulut. Huuuaaggh! Huuaaaaaggh! Nasi, kunyahan jengkol dan teri berhamburan di atas meja. Tak terlukiskan perasaan Aray. Ia menghambur lari karena malu.
Sampai di rumah kontrakan, diteguknya segelas air. Pengalamannya hari ini benar-benar di luar dugaan. Di tiga tempat ia mencoba makan, tak satupun bisa sukses masuk ke perut. Terlintas pikiran untuk ke dokter. Barangkali ia memang sakit parah. Mungkin ada yang tidak beres dengan perutnya. Lalu ia bersiap keklinik 24 jam terdekat.
"Tidak ada yang salah dengan kesehatan Bapak," jelas dokter setelah habis-habisan memeriksa seluruh tubuh Aray.
"Maag saya? Lever? Jantung? Saraf? Ginjal? Otak?"
Dokter hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia tobat betul dengan pasien satu ini.Sedari tadi tidak percaya dengan diagnosa.
"Lantas kenapa saya sama sekali tidak bisa makan?Sejak sore tadi sudah tiga tempat makan saya coba, tidak sesendok pun bisa saya telan!"
"Barangkali ada sesuatu yang mengganjal pikiran Bapak.Apa Bapak sedang dalam persoalan besar? Depresi? Kalau itu masalahnya, saya bisa merekomendasikan ke psikiater," ujar dokter mencoba menahan kesabaran.
"Tidak sama sekali.Justru hari ini saya sedang bergembira. Yah, anda tahu kan, Dok, ini hari gajian. Tidak mungkin kan saya punya problem dengan uang di kantong? Sejak dulu problem saya cuma uang dan uang, tidak lebih. Kini saya punya uang, jadi mustahil saya bermasalah," Aray ngotot tak ketulungan.
Dokter hanya bisa menghela napas. Ia menuliskan resep obat penenang sekedar untuk meredakan emosi pasiennya. Dan pergilah Aray dengan wajah tidak puas. Ia bersungut-sungut kesal menganggap si dokter terlalu bodoh, tidak becus.
Malam itu Aray mencoba memejamkan mata. Perutnya berkeruyuk-keruyuk tanpa henti. Jam sudah menunjuk pukul 12 malam tapi mata belum juga terserang kantuk. Setiap kali sang kantuk hendak menerjang mendadak saja bayangan menjijikan tentang koreng, luka, nanah serta darah dan bau anyir tubuh pengemis lepra menyerbu penglihatannya. Dan sesekali matanya nyaris hanyut dalam tidur, tiba-tiba masuk bayangan si lepra itu.
Oh Tidak! Apa salahku sampai pengemis tadi selalu bergentayangan dalam benakku? Apakah aku bersalah hanya karena merasa jijik? Rasanya, semua orang berhak jijik terhadap koreng dan nanah. Siapa yang tak jijik dengan luka menganga dikerumuni lalat? Apalagi kalau luka itu disodorkan ke wajah kita? Ah, kyai atau pendeta atau pastor paling suci di dunia ini pun pasti akan jijik dibuatnya!
Luar biasa kalang kabut Aray kali ini. Hingga menutupkan mata sedikit saja mampu mengundang sosok si pengemis lepra. Alhasil malam itu ia sama sekali tak tertidur. Ditambah dengan siksa rasa lapar luar biasa.
Sampai fajar menyingsing pemuda itu hanya membolak-balikan badan. Ia berpikir baru kali ini merasakan kejamnya neraka dunia. Lebih baik dirajam sejuta tombak atau dibunuh sekalian daripada harus menderita macam ini.
Pagi itu, pagi-pagi sekali ketika fajar masih menyingsing malu-malu, Aray beranjak dari kamar pengapnya. Segera ia berdandan seperti hendak ke kantor. Ada satu urusan uang harus segera ia tuntaskan. Ia ingat betul bagaimana pandangan si pengemis lepra saat tak sengaja ia menabrak dan terpaksa mengendus koreng busuknya. Mata kecil orang tua itu begitu tajam menatap. Matanya sendiri tidak kalaj tajam memandang jijik. Ya, ia ingat betul betapa si pengemis tua menaruh dendam terselubung.
Aku telah dimanterai! Dibacakan semacam mantera agar aku tidak doyan makan apa-apa. Aku harus kembali ke sana dan minta maaf pada si tua berkoreng itu!
Bergegas Aray menuju ke jembatan penyebrangan depan Blok M Plaza. Suasana masih lengang. Hanya beberapa orang saja memenuhi jalan. Tapi apa daya, si pengemis lepra tidak di tempat. Kebingungan Aray hendak bertanya pada siapa. Terpaksa ia mengobrak-abruik seluruh Blok M untuk mendapat sosok si pengemis kusta.
Dan tibalah ia di antara gerobak-gerobak bakso dagangan yang teronggok di ujung jalan buntu. Di situ terkapar sesosok tubuh berbalut kain bekas karung gandum. Bau busuk itu begitu menyengat dan tak asing. Aray hapal betul dengan bau menjijikan itu. Wajah pak tua penuh koreng terlihat pulas tertidur dibuai mimpi pagi. Aray merogoh dompet. Siambil selembar uang duapuluhribuan. Diletakannya ke dalam tas rombeng yang erat dipeluk sang pengemis.
Ampunilah kejijikanku yang luar biasa tempo hari. Aku tak bisa memberi banyak sebab aku juga bukan orang kaya. Hanya ini yang bisa kuberi untuk menebus rasa bersalah. Toloong cabut kutukanmu.
Begitu Aray bergumam perlahan. Lalu ditinggalkannya onggokan tubuh kering kerontang itu. Tiba-tiba saja Aray merasa sedemikian lapar. Sangat lapar. Tanpa ba bi bu ia langsung terduduk di sebuah bangku gerobak bubur ayam. Pagi itu, ia menghabiskan tiga mangkok bubur sekaligus!