Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Salim Pergi
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Cafe > Fresh News > Ekonomi dan Bisnis
monarkihans
Ketika Salim "Meninggalkan" Indonesia

Sudono Salim (Antara/Ali Anwar)Bisnis telekomunikasi sudah dikuasai. Jalan tol dan air minum telah dirambah. Sektor properti sudah pula dimasuki. Penambangan emas, perak, dan tembaga pun tak luput dari penaklukan. Begitu pula sektor kelistrikan. Berbagai industri strategis itu belakangan menjadi target pengembangan bisnis Grup Salim di Filipina. Mereka kini menjadi konglomerat penting di negeri Gloria Macapagal Arroyo itu.

Melalui Philippine Long Distance Telephone (PLTD), Salim membeli 20% saham Manila Electric Co alias Meralco pada awal Maret lalu. Saham itu diambil alih dari tangan keluarga Lopez, konglomerat Filipina. Keluarga Lopez mendirikan pabrik setrum itu pada 1962.

Meralco sempat diambil alih pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos dan dikembalikan kepada keluarga Lopez setelah Marcos tumbang pada 1986. Meralco adalah penyedia listrik untuk kota Manila. Jumlah pelanggannya kini mencapai 4,5 juta orang.

Untuk mendapatkan 20% saham Meralco, keluarga Salim mesti bersaing dengan keluarga Soriano, konglomerat Filipina, pemilik San Miguel Corp. Sebelumnya, Salim menguasai 10,17% saham perusahaan lstrik tersebut. Dengan begitu, kini total kepemilikan Salim di Meralco menjadi 30,17%.

Total investasi yang dikeluarkan untuk membeli saham Meralco itu adalah US$ 629 juta atau sekitar Rp 7,2 trilyun. Kini ada tiga pemegang saham besar di Meralco, yakni keluarga Salim, keluarga Lopez (14%), dan San Miguel (27%).

Toh, Salim belum puas. "Kami sangat terbuka bagi siapa pun pemegang saham yang ingin menjual sahamnya. Jika ada yang menawarkan kepada kami, akan kami beli," kata Managing Director dan CEO First Pacific, Manuel V. Pangilinan, seperti dikutip Manila Standard Today. First Pacific adalah induk seluruh perusahaan keluarga Salim di berbagai negara. " Strategi korporasi kami adalah menjadi pengendali di perusahaan dengan jumlah investasi signifikan," Pangilinan, yang juga Chairman PLTD, menambahkan.

First Pacific, kata Pangilinan, akan menambah saham di Meralco melalui Metro Pacific Investment Corporation (MPIC). Penguasaan mayoritas saham di Meralco itu akan memudahkan keluarga Salim untuk menyinergikan dua bisnis besar di Filipina. Jaringan kabel listrik Meralco bisa dimanfaatkan untuk layanan wired broadband (internet)-nya PLTD. Demikian pula jaringan jaringan fiber optic milik anak usaha Meralco.

Sinergi PLTD dan Meralco ini akan makin mengukuhkan PLTD sebagai jawara telekomunikasi di Filipina. PLTD memiliki 14 anak usaha yang melayani layanan telepon nirkabel, fixed line (telepon tetap), dan teknologi informasi.

***

Ambisi Grup Salim menjadi pemegang saham mayoritas Meralco adalah sebuah contoh bagaimana keluarga Salim benar-benar ingin menekuni bisnis di Filipina. Sejumlah proyek strategis telah lebih dulu dicaplok. Adalah MPIC, perusahaan investasi Salim di Filipina, yang kebagian tugas melakukan pekerjaan itu. Misalnya, akhir tahun lalu MPIC membeli First Philippine Infrastructure Inc (FPII) dari tangan keluarga Lopez.

FPII adalah pemegang 67,1% saham Manila Tollways Corporation, perusahaan pengelola jalan tol North Luzon Expressways. MPIC kemudian mengubah nama FPII menjadi Metro Pacific Tollways. Nilai investasinya adalah US$ 250,24 juta atau sekitar Rp 2,8 trilyun. Pada akhir Januari lalu, Metro Pacific dan Philippine National Railways sepakat untuk membuat studi kelayakan mengenai pembuatan jalur penghubung antara North Luzon Expressway dan South Luzon Expressway, dengan jalan dan jalur kereta. Jalur penghubung ini akan melintasi Metro Manila.

Sebelumnya, MPIC berhasil menguasai 84% saham Mayniland Water Service Inc. Di sini, MPIC berkongsi dengan DMCI Holding Inc. Mayniland melayani kebutuhan air minum untuk 6 juta warga di bagian barat Manila. Di sektor properti dan jasa layana kesehatan, MPIC juga gencar melebarkan sayap usaha. Proyek properti Metro Pacific berada di bawah perusahaan bernama Landco Pacific.

Proyek properti itu, antara lain, Peninsula de Punta Fuego, Terrazas de Punta Fuego, Amara en Terrazas, Playa Calatagan, Leisure Farms, dan Ponderosa Leisure Farms. Sedangkan investasi di bidang jasa layanan kesehatan ditempuh dengan membeli 33,45% saham Makati Medical Center senilai US$ 12,55 juta. Di luar itu, juga menjadi pengelola Cardinal Santos Medical Center, yang dimiliki Roman Catholic Archdiocese, Manila. Metro Pacific menjajaki pula untuk membeli beberapa rumah sakit, antaralain Cebu Medical Centre.

Di bidang pertambangan, Grup Salim memiliki konsesi tambang emas, perak, dan tembaga. Lokasinya di Padcal, Tuba, Provinsi Benquet, Pulau Luzon. Pada akhir 2007, cadangan bijih tambangnya 323,3 juta ton. Setelah diolah, menghasilkan 878,8 juta kilogram konsentrat tembaga, 157,7 juta gram emas, dan 173, 7 juta gram konsentrat perak. Padkal adalah satu-satunya tambang emas dan perak yang masih berproduksi di Filipina. Konsesi tambang lainnya ada di Bulawan, Negros Occidental, dan Pulau Negros. Juga ada di Boyongan dan Diplahan.

***

Kelompok usaha Salim dibangun oleh Sudono Salim. Ia bernama asli Liem Sioe Liong dan biasa dipanggil koleganya dengan sapaan Om Liem. Om Liem lahir pada 16 Juli 1916 di Fujian, Cina. Ia masuk ke Indonesia ketika berusia 21 tahun. Kini ia lebih sering berdiam di Singapura. Om Liem menyerahkan kendali kerajaan bisnis Grup Salim kepada anaknya, Anthony Salim, sejak 1999. Sudono Salim berlaku sebagai chairman kehormatan dan penasihat direksi.

Anthoni kini menjabat sebagai Chairman First Pacific. Perusahaan inilah yang menaungi seluruh perusahaan milik keluarga Salim. Nama-nama dari Indonesia yang menjadi pengurus First Pacific, antara lain, Sudwikatmono sebagai penasihat direksi, serta Ibrahim Risjad, Sutanto Djuhar, dan Teddy Djuhar Benny S. Santoso sebagai executive non-direksi.

Bisnis Salim di Indonesia boleh dibilang mengalami penyusutan sejak krisis ekonomi 1997. Kelompok Salim juga terlilit utang kepada pemerintah Rp 52,7 trilyun. Untuk membayar utang itu, Salim menyerahkan 147 perusahaannya kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Bisnis Salim di Indonesia pun mulai redup.

Sejak itu, Salim lebih suka mengembangkan bisnisnya di luar Indonesia. Sejumlah negara dilirik, mulai Filipina hingga India. Filipina tercatat sebagai negara yang "disukai" Salim. Sekitar US$ 2,5 milyar dialirkan ke Filipina. Investasi baru yang ditanam Salim di Indonesia tak sebesar itu. Indonesia yang menjadi cikal bakal bisnis Salim seakan "ditinggalkan".

***

Biarpun 147 perusahaannya diserahkan kepada negara untuk menutup utang ke pemerintah, Salim masih punya satu aset yang sangat bernilai di sini. Aset itu adalah Indofood Sukses Makmur. Indofood membawahkan empat grup usaha. Mereka adalah grup produk konsumer bermerek (mi instan, bumbu penyedap makanan, makanan ringan, nutrisi, dan makanan khusus), Grup Bogasari (penguasa tepung terigu di Indonesia), grup distribusi (Indomarco), dan grup agrobisnis (Indofood Agri Resources).

Di antara empat grup usaha di bawah Indofood itu, aliran investasi baru paling banyak di grup agrobisnis. Ada dua perusahaan di bawahnya, yakni Salim Ivomas Pratama dan PP London Sumatera Plantations. Salim mengakuisisi 54,6% saham London Sumatera pada 2007 senilai kurang lebih Rp 8,4 trilyun.

Sebelum krisis 1997 mendera negeri ini, Salim adalah salah satu "raja sawit" Indonesia. Namun kemudian ia harus rela menyerahkan 220.000 hektare kebun sawitnya ke BPPN. Kebun sawit itu adalah bagian dari 147 perusahaan yang dipakai untuk membayar utang kepada pemerintah. Lahan kepala sawit eks Salim itu kemudian dibeli Guthrie, Malaysia, senilai US$ 368 juta.

Kehilangan kebun sawit tak membuat Salim ogah menerjuni bisnis sawit lagi. Ia justru tergolong agresif untuk kembali ke bisnis sawit. Kini Salim menguasai 165.853 kebun sawit. Di luar itu, ia juga memiliki 25.691 hektare kebun karet, kakao, dan teh. Pada saat ini, Salim pun masih memiliki 214.975 hektare lahan perkebunan siap tanam. Selain sawit, grup agroindustrinya, antara lain, menghasilkan minyak goreng dan margarin.

Jejaring usaha di Indonesia selama ini menjadi penyumbang duit terbesar buat Grup Salim (First Pacific). Namun, sejak 2007, peran Indofood itu disalip PLTD. Jejaring usaha Salim di Filipina memberi kontribusi paling besar untuk Grup Salim. Ini berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni yang dirilis First Pacific untuk tahun 2007 dan 2008.

Pada 30 Juni 2007, sumbangan keuntungan dari PLTD mencapai US$ 84,6 juta. Sedangkan Indofood menyetor US$ 20,2 juta. Begitu pula hingga pertengahan 2008, PLTD menghasilkan keuntungan bersih US$ 106,9 juta dan Indofood menyumbang US$ 50,6 juta. Sedangkan setoran uang dari MPIC mencapai US$ 1,1 juta.

Irwan Andri Atmanto
[Ekonomi, Gatra Nomor 20 Beredar Kamis, 26 Maret 2009]
takasuke
Wah hebat y
vcjvcj
gede bener bisnisnya....
lari ke filipin barangkali udah gak ada pak harto...hehe
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.